Anda di halaman 1dari 17

Pembahasan Teori Sibernetik

1. Pengertian Belajar Menurut Teori Sibernetik

Teori sibernetik merupakan teori yang bisa dibilang baru dibandingkan


beberapa teori lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan pekembangan
teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan
informasi. Dengan mementingkan proses dari pada hasil belajar.

Bahwa proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses


penyajian informasi (encording), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage)
dan diakhiri dengan pengungkapan kembali informasi- informasi yang disimpan
dalam ingatan (retrieval).

2. Teori Pemrosesan Informasi

Dalam upya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran)


diterima, disandi, disimpan, dan dimunculkan kembali dari ingatan serta
dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model
pemrosesan informasi oleh pakar seperti Biehler dan Snowman (1986), Baine (
1986), dan Tennyson (1989). Teori- teori tersebut umumnya berpijak pada tiga
asumsi (Lusiana 1992) yaitu:

a. Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan
informasi di mana pada masing- masing tahapan dibutuhkan sejumlah
waktu tertentu.
b. Stimulus yang diproses melalui tahapan- tahapan tadi akan mengalami
perubahan bentuk maupun isinya.
c. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.

Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen struktur


dan pengatur alur pemrosesan informasi dipilah menjadi tiga (proses kontrol).
Komponen pemrosesan informasi dipilah menjadi tiga berdasarkan perbedaan
fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Sedangkan

“The First Grader” 1


proses kontrol diasumsikan sebagai strategi yang tersimpan di dalam ingatan dan
dapat digunakan setiap saat diperlukan.

a. Sensory Receptore (SR)

Merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR
informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam
waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dan berganti.

b. Working Memori ( WM)

Working memori diasumsikan seseorang atau individu mampu menangkap


informasi karena adanya perhatian dari individu sendiri. Pemberian perhatian
dipengarui oleh peran persepsi.

c. Long Term Memory

Long term Meory diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yag telah


dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, 3) bahwa sekali
informasi disimpan dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.

Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (1968) mengemukakan


bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi struktur kognitif yang telah
dimiliki individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan bahwa pengetahuan
ditata di dalam struktur kognitif secara hierarkis. Ini berarti, pengetahuan yang
lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat
mempermudah perolehan pengetahuan secara lebih rinci.

Bepijak pada kajian di atas, Reigeluth, Bunderson dan Merril (1997)


mengembangkan suatu strategi penataan isi atau materi palajaran yang berurusan
pada empat bidang masalah. Yaitu pemilihan (selection), penataan urutan (
sequecing), rangkuman ( summary), dan sintesis (synthesizing). Menurut mereka,

a) Jika isi mata pelajaran ditata dengan menggunakan urutan dari umum ke
rincian, maka isi atau materi pelajaran pada tingkat umum akan menjadi

“The First Grader” 2


kerangka untuk mengkaitkan isi-isi lain yang lebih rinci. Hal ini sesuai dengan
struktur representasi informasi dalam LTM.
b) Jika rangkuman diintegrasikan kedalam strategi penataan isi atau materi
pelajaran, maka ia berfungsi menunjukan kepada siswa informasi mana yang
perlu diberi perhatian disamping menghemat kapasitas WM.

Ada 7 komponen strategi teori elaborasi yang dikembangkan oleh reigeluth


dan Stein yang berpijak pada kajian tentang teori pemrosesan informasi (degeng,
1998), yaitu ;

1) Urutan elaborates
2) Urutan prasyarat belajar
3) Rangkuman
4) Sintesis
5) Analogi
6) Pengaktif strategi kognitif
7) Kontrol belajar

Sedangkan prinsip-prinsip yang mendasari model elaborasi meliputi;

a. Penyajian kerangka isi pelajaran (epitome)


b. Elaborasi secara bertahap
c. Bagian terpenting disajikan pertama kali
d. Cakupan optimal elaborasi
e. Penyajian pensintesis secara bertahap
f. Penyajian pensintesis
g. Tahapan pemberian rangkuman
Pengorganisasian isi atau materi pelajaran dengan model elaborasi dilihat
kesesuaiannya dengan psikologi kognitif (struktur kognitif) dan pemprosesan
informasi dapat dilihat sebagai berikut :
a. Urutan elaborasi dari umum ke rinci sesuai dengan karakteristik schemata
dalam ingatan manusia yang tersusun secara hirarkhis.

“The First Grader” 3


b. Epitome sebagai kerangka isi pelajaran sejalan dengan skemata yang
berfungsi untuk mengintegritasikan konstruk-konstruk ke dalam suatu unit
konseptual. Penyajian epitome pada awal pengajaran juga sesuai dengan
fungsi skemata sebagai kerangka untuk mengkaitkan informasi-informasi
yang lebih rinci.
c. Jenis-jenis hubungan antara konstruk yang dispesifikasi dalam model
elaborasi sesuai dengan representasi struktur pengetahuan dalam ingatan.

Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian


informasi, diikuti dengan penyimpanan informasi, dan di akhiri dengan
mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan

3. Teori Belajar Menurut Landa

Salah satu penganut aliran sibernatik adalah Landa. Ia membedakan ada 2


macam, yaitu :

1. Proses berpikir Algoritma, proses berpikir yang sistematis, tahap demi


tahap, linier, konvergen, lurus menuju kesatu target tertentu. Contoh:
kegiatan menelpon, menyalakan mesin mobil, dan lain- lain
2. Proses berpikir Heuristik, yaitu cara berpikir devergen, menuju ke
beberapa target tujuan sekaligus. Memahami suatu konsep yang
mengandung arti ganda dan penafsiran biasanya menuntut seseorang
untuk menggunakan cara berpikir heuristik. Contohnya operasi pemilihan
atribut geometri termasuk proses berpikir Heuristik.
4. Teori Belajar Menurut Pask dan Scott

Menurut mereka ada dua macam cara berpikir, yaitu cara berpikir serialis dan
dan cara berpikir wholist atau menyeluruh. Pendekatan serialis dikemukakannya
memiliki kesamaan dengan pendekatan alogaritmik. Namun apa yang dikatakan
sebagai cara berpikir menyeluruh (wholist) tidak sama dengan cara berpikir
heuristik. Bedanya cara berpikir menyeluruh adalah yang cenderung melompat ke
depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi. Sedangkan cara

“The First Grader” 4


berpikir heuristik yang dikemukakan oleh Landa adalah cara berpikir divergen
mengarah ke beberapa aspek sekaligus.

Teori sibernetik sebagai teori belajar sering kali di kritik karena lebih
menekankan pada sistem informasi yang dipelajari. Asumsi diatas
direfleksibelkan ke dalam suatu model belajar dan pembelajaran. Dari model ini
dikembangkan prinsip-prinsip belajar seperti:

a. Proses mental belajar terfokus pada pengetahuan yang bermakna.

b. Proses mental tersebut mampu menyandi informasi secara bermakna.

c. Proses mental bermuara pada pengorganisasian dan pengaktualisasian


informasi.

C. Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan Pembelajaran

Menurut Gagne, untuk mengurangi muatan memori kerja bentuk pengetahuan


yang dipelajari dapat berupa: proporsisi, produksi dan mental images. Teori
Gagne dan Briggs mempreskripsikan adanya: 1) Kapasitas belajar, 2) Peristiwa
pembelajaran, 3) Pengorganisasian/urutan pembelajaran. Mengenai kapasitas
belajar kaitannya dengan unjuk kerja durumuskan oleh Gagne sebagai berikut (
Degeng, 1989).
No. Kapabilitas Belajar Unjuk Kerja
1 Informasi verbal Menyatakan informasi
2 Keterampilan intelektual Menggunakan symbol untukberinteraksi
dengan lingkungan.
- Diskriminisasi Membedakan perangsangan yang
memiliki dimensi fisik yang berlainan.
- Konsep konkret Mengidentifikasi contoh-contoh konkret
- konsep abstrak Mengklasifikasi contoh-contoh dengan
menggunakan ungkapan verbal atau
definisi.

“The First Grader” 5


-kaidah Menunjukkan aplikasi suatu kaidah
-kaidah tingkat lebih tinggi Menggembangkan kaidah baru untuk
memecahkan masalah
3 Strategi kognitif Mengembangkan cara- cara baru untuk
memecahkan masalah. Mengunakan
berbagai cara untuk mengontrol proses
belajar dan/atau berpikir.
4 Sikap Memilih berperilaku dengan cara tertentu.
5 Keterampilan motorik Melakukan gerakan tubuh yang luwes,
cekatan, serta dengan urutan yang benar.

Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar adalah


proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Tahap-tahap ini dapat
dimudahkan dengan mengunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan
tertentu sebagai peristiwa pembelajaran ( the events of instruction), yang
memdreskripsikan kondisi belajar internal dan eksternal utama untuk kapabilitas
apapun. Sembilan tahap dalam peristiwa pembelajaran yang di asumsikan sebagai
cara- cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam
kegiatan belajar adalah :

1. Menarik perhatian
2. Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
3. Merangsang ingatan pada prasyarat belajar.
4. Menyajikan bahan perangsang
5. Memberikan bimbingan belajar
6. Mendorong unjuk kerja
7. Memberikan balikan informative
8. Menilai unjuk kerja
9. Meningkatkan retensi dan alih belajar.

“The First Grader” 6


Dalam mengorganisasikan pembelajaran perlu diperhitungkan ada tidaknya
prasyarat belajar untuk suatu kapabilitas, apakah siswa lebih memiliki prasyarat
belajar yang diperlukan. Ada prasyarat belajar utama, yang harus dikuasai siswa
dan ada prasyarat belajar pendukung yang dapat memudahkan belajar.
Pengorganisasian pembelajaran untuk kapabilitas belajar tertentu dijelaskan
sebagai berikut :

1. Pengorganisasian pembelajaran ranah keterampilan intelektual.


Menurut Gagne, prasyarat belajar utama dan keterkaitan satu dengan
lainnya digambarkan dalam hirarkhi belajar. Reigeluth membedakan
struktur belajar sebagai keterampilan tingkat yang lebih rendah ada di
bawahnya.
2. Pengorganisasian pembelajaran ranah informasi verbal.
Kemampuan ini menghendaki siswa untuk dapat mengintegrasikan fakta-
fakta ke dalam kerangka yang bermakna baginya.
3. Pengorganisasian pembelajaran ranah strategi kognitif. Kemampuan ini
banyak memerlukan keterampilan- keterampilan inelektual dan informasi
cara- cara memecahkan masalah.
4. Pengorganisasian pembelajaran ranah sikap.
Kemampuan sikap memperlukan prasyarat sejumlah informasi tentang
pilihan- pilihan tindakan yang tepat untuk situasi tertentu, juga strstegi
kognitif yang dapat membantu memecahkan konflik- konflik nilai pada
tahap pilihan.

“The First Grader” 7


Sinopsis Fim

“The First Grader”

Film the First Grader yang Disutradarai oleh Justin Chadwick menceritakan
seorang veteran Kenya yang ingin bersekolah walapun sudah berumur 84 tahun.
Ketika Seorang penyiar radio mengumumkan bahwa pemerintah Kenya
menawarkan pendidikan sekolah dasar gratis untuk semua orang.Maruge adalah
seorang penduduk desa berusia 84 tahun, mendengar ini dan memutuskan bahwa
dia ingin mendidik dirinya sendiri. Sesampainya di sekolah setempat, dengan
kliping surat kabar tentang perubahan kebijakan ini, dia bertemu dengan Jane,
kepala sekolah, dan mengungkapkan keinginannya untuk belajar. Rekannya
Alfred dalam usaha untuk menyingkirkannya, mengatakan kepadanya bahwa
semua murid membutuhkan dua pensil dan buku latihan.

Keesokan harinya, Maruge kembali, mengatakan pada Jane bahwa dia ingin
belajar membaca. Dia memiliki surat dari "Kantor Presiden" yang ingin dia
pahami. Dengan jengkel, dia mengatakan kepadanya bahwa sekolah tersebut
sudah memiliki terlalu banyak murid. Belakangan malam itu, dia mengatakan
pada suaminya Charles tentang Maruge. Dengan hati-hati atas posisinya sendiri,
bekerja sama dengan pemerintah di Nairobi, dia menyarankan agar dia melawan
pertempuran yang bisa dia dapatkan.

Setelah memotong celananya dan mengubahnya menjadi celana pendek,


Maruge kembali ke sekolah lagi. Sementara Jane memberitahu inspektur sekolah
Mr. Kipruto di telepon bahwa saat ini dia memiliki lima anak di sebuah meja, saat
Maruge muncul kembali, dia mengalah. Alfred enggan, namun Jane bersikap
menantang, mengklaim bahwa Kipruto bukanlah kepala sekolah. Membiarkan
Maruge masuk ke kelasnya, dia duduk di depannya setelah dia mengakui
penglihatannya tidak begitu bagus dan mulai mengajari dia, bagaimana cara
menulis alfabet. Terganggu oleh kenangan waktunya di Kenya pada tahun 1953,
saat dia bertengkar dengan Mau melawan Inggris, itu bahkan berdampak pada

“The First Grader” 8


Maruge di kelas, saat Alfred menegurnya karena tidak meraut agar pensilnya
tajam. Dibuat untuk mempertajamnya, dia terhenti saat dia mengingat saat Inggris
menyiksa dia dengan menggunakan pensil tajam yang di tusuk secara brutal ke
telinganya. Meminta maaf kepada Jane, mengatakan hal itu tidak akan terjadi lagi,
Maruge kemudian mendidik rekan-rekannya sesama murid, dengan sabar
menjelaskan tentang pertarungan untuk tanah yang dia dan Mau lainnya lakukan
dan mengajari mereka kata untuk 'kebebasan'.

Kebencian membebani pendidikan Maruge. Di rumah, orang-orang


berteriak bahwa dia harus menjauh dari sekolah, sementara di tempat bermain,
foto terselubung diambil darinya. Tak lama kemudian, cerita bahwa seorang tua
pergi ke sekolah tersiar di gelombang radio. Kipruto tiba, marah karena telah
melihat di media bahwa Maruge sedang menghadiri sekolahnya. Jane mengatakan
kepadanya bahwa Maruge berperang melawan Inggris. Dia kemudian belajar dari
Maruge bahwa tentara yang sama membunuh keluarganya. Putus asa untuk
menjaga Maruge di sekolah, Jane memanggil Charles, tapi dia menyarankannya
untuk tidak pergi ke kepala Kipruto. Dia sengaja mengabaikannya, mengunjungi
kepala dewan pendidikan untuk membela kasus Maruge. Protesnya jatuh di
telinga tuli dan Maruge dibuat untuk menghadiri pusat pendidikan orang dewasa,
di mana dia segera mendapati dirinya dikelilingi oleh orang-orang tanpa ambisi
untuk belajar. Dia pergi menemui Jane, mengatakan kepadanya bahwa dia harus
belajar membaca karena dia ingin bisa mengerti surat yang dia kirim. Menolak
untuk kembali ke pusat pendidikan orang dewasa, Maruge tetap harus
mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak. Namun Jane menawarkan
penangguhan hukuman sebagai asisten pengajarnya.

Saat ceritanya pecah, pers turun ke sekolah, mengelilingi Jane dan ingin
menanyai Maruge. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa kekuatannya ada di
dalam pena. Kendati demikian, kehadirannya di sekolah mulai menimbulkan
kemarahan di antara orang tua murid muda tersebut. Seorang ibu menghadapi
Jane, menuduhnya mencari ketenaran dan keberuntungan dari semua perhatian,
sementara ayah lain menyatakan kepada Alfred bahwa sekolah tersebut

“The First Grader” 9


menghabiskan terlalu banyak waktu di Maruge. Sekali lagi, Kipruto tiba dengan
sekolah dalam kekacauan, mengatakan kepada Jane bahwa murid istimewanya
tidak dapat tinggal dan rencana itu sedang terjadi bagi pemerintah untuk
mengkompensasi. Jane memutuskan untuk mengajar Maruge untuk membaca
sepulang sekolah selesai meski menerima telepon yang mengancam. Sebuah
delegasi politisi tiba di sekolah tersebut, dengan antusias untuk membagikan
publisitas gratis seputar Maruge, sementara diam-diam menuntut agar Jane
memotong uang mereka yang dia terima. Acara mulai berputar - orang-orang
menyerang sekolah dengan tongkat sementara Charles menerima telepon tanpa
nama, mengatakan bahwa istrinya sekarang berada di luar kendali. Jane segera
menerima surat bahwa dia akan dipindahkan ke sekolah 300 mil jauhnya. Charles
mengatakan kepadanya bahwa kejadian seputar Maruge merobeknya, menjelaskan
bahwa dia menerima telepon yang mengklaim bahwa dia telah tidak setia.

Jane menjelaskan kepada Maruge bahwa dia sedang dipindahkan, dan


kemudian melakukan perpisahan emosional dengan anak-anak, yang semuanya
membawa hadiahnya. Sementara itu, Kipruto memperkenalkan guru baru kelas
tersebut. anak-anak marah menutup gerbang sekolah dan melemparkan benda
seperti batu, sandal, gelas ke arahnya dan Kipruto. Sementara itu, Maruge pergi ke
Nairobi, menuju ke Kementerian Pendidikan, di mana dia menghadapi dewan
pengurus atas nama Jane, menunjukkan bekas luka yang dia dapatkan saat masih
muda yang disiksa oleh Inggris.

Jane kembali ke sekolah, di mana Maruge ada di sana untuk


menyambutnya kembali. Dia ingin dia membacakan suratnya kepadanya, yang
menjelaskan bahwa dia akan diberi kompensasi untuk waktu di kamp penjara.
Saat film ini berakhir, penyiar radio mengumumkan bahwa Maruge pemegang
Guinness Book of Records untuk orang tertua yang pergi ke sekolah dasar dan
diundang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“The First Grader” 10


Permasalahan dan Solusi yang Terjadi dalam Film

Serta Kaitannya dengan Teori – teori Belajar

Film dengan judul “The First Grader ini merupakan film yang disutradarai
oleh Justin Chadwick. Yang menceritakan tentang seorang vetaran Kenya
bernama Maruge yang ingin bersekolah walaupun sudah berumur 84 tahun.
Alasan yang membuatnya ingin bersekolah adalah karena ia memiliki sebuah
surat dari “Kantor Presiden” yang ingin ia pahami sendiri. Hingga ia mendengar
seorang penyiar radio mengumumkan bahwa pemerintah Kenya menawarkan
pendidikan sekolah dasar gratis untuk semua orang.

Adanya teknologi berupa radio, menjadi sebuah penghubung bagi Maruge


untuk bisa memenuhi tekadnya untuk belajar membaca. Hal ini berkaitan dengan
teori sibernetik. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan sistem informasi
yang berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi.
Ketika di masa mudanya ia menganggap bahwa belajar itu tidaklah penting,
namun perubahan zaman dan teknologi membuatnya sadar akan pentingnya
pendidikan. Dan berita dari radio tersebut juga merupakan slah satu faktor
pendukung yang membantu menguatkan tekadnya untuk belajar . Untuk membuat
dirinya bisa memahami isi surat tersebut ia memilih untuk bersekolah,meski harus
belajar bersama anak- anak yang umurnya sangat terlampau jauh darinya.

Sesampainya di sekolah, ia membawa kliping surat kabar yang berisi


kebijakan pemerintah tersebut. Ia pun bertemu dengan seorang Guru yang
bernama Jane. Kemudian mengutarakan maksudnya untuk bersekolah, namun
sayangnya ia di tolak dengan alasan sudah terlalu banyak murid d sekolah
tersebut. Penolakan pertama terjadi dikarenakan ia belum memiliki peralatan
seolah yang lengkap. Kemudian ia datang lagi dengan membawa peralatan yang
lengkap serta seragam yang serupa dengan anak- anak yang lain. Hingga pada
akhirnya ia datang lagi dan Jane memberikan izin kepadanya untuk bersekolah
bersama anak- anak. Hal ini dapat dikaitkan dengan teori kognitif, karena adanya

“The First Grader” 11


pengenalan setiap perilaku. Jane selalu terlihar berfikir, berusaha mengenali setiap
perilaku Maruge yang tak henti- hentinya datang ke sekolahnya.

Permasalahan lain yang dihadapi Maruge adalah keterbatasan yang ia miliki,


yaitu penglihatan dan pendengarannya. Bahkan hal tersebut sempat mengganggu
proses belajarnya. Saat Alfred menegurnya karena tidak meraut agar pensilnya
tajam. Ia pu bergegas meraut pensilnya, dia terhenti saat mengingat Inggris
menyiksanya dengan menggunakan pensil tajam yang di tusuk secara brutal ke
telinganya. Sontak ia berteriak dan kemudian berlari keluar, Jane pun
mengejarnya dan mencoba menanyakan dan memahami apa yang telah terjadi
pada muridnya.

Dalam hal ini persoalan yang dihadapi Maruge diatasi dengan hadirnya sosok
guru yang memberikan perhatian khusus padanya, serta memberikan kelas
tambahan agar ia tidak tertinggal dengan murid yang lain. Permasalahan ini dapat
dikaitkan dengan teori behavioristik. Karena, teori ini memaparkan bahwa dalam
proses belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku. Dalam hal ini
Maruge mengalami perubahan tingkah laku, dari yang awalnya belum bisa
membaca menjadi bisa membaca. Hal ini akibat dari stimulus yang diberikan guru
kepada muridnya yang berupa perhatian khusus dan cara guru mengajar yang
menyenangkan . Pemberian stimulus dapat berupa pertanyaan yang diajukan Jane.
Selain itu Jane juga memberikan penguatan yang berupa perhatian dan motivasi
dalam setiap pembelajarannya.

Usianya yang sudah tua juga membuatnya kesulitan dalam menjalani proses
pembelajaran dikelas. Namun kaena tekad yang kuat ia berhasil mewujudkan
keinginannya. Di balik keberhasilan Maruge dalam membaca dan menulis,
ternyata ada sosok guru yang hebat di belakangnya, ia bernama Jane. Sosok guru
yang tegas, pemberani dan sangat perhatian terhadap muridnya. Ia tidak
membedakan Maruge dengan siswa yang lain. Meskipun umurnya sangat terpaut
jauh dengan teman- teman di kelasnya.

“The First Grader” 12


Jane juga selalu mengutamakan proses belajar dari pada hasilnya, hal ini juga
dapat dikaitkan dengan teori sibernetik. Ia tidak pernah menyerah mengajarkan
maruge membaca dan menulis. Bahkan ia sampai harus menentang banyak orang
untuk membantu Maruge. Ia melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru dengan
sangat baik. Meskipun fitnah dan tuduhan datang kepadanya. Ia tetap terus
memperjuangkan maruge. Dalam hal ini sosok Jane merupakan seseorang yang
sesuai dengan teori humanis. Sosok jane yang perhatian pada apa yang mesti
dikuasai oleh individu, juga dpat dikategorikan dlam teori humanistik,

Cara gurunya mengajar pun menggunakan salah satu pendekatan yang


disampaikan oleh Landa. Beliau membagi kategori pendekatan menjadi dua.
Yaitu agloritmik dan heuristik. Namun Jane menggunakan pendekatan agloritmik.
Ia mengajarkan sesuatu kepada anak muridnya secara bertahap. Mulai dari huruf
a, dari mengenal huruf- huruf, mengeja, hingga bisa membacanya.

Kondisinya yang cenderung lamban dalam belajar, tentunya membuat dirinya


harus berfikir jauh lebih keras dari murid lainnya. Ini juga bisa dikategorikan
sebagai teori sibernetik, karena teori ini memandang manusia sebagai pengolah
informasi, pemikir dan pencipta. Posisi Maruge di sini adalah sebagai pemikir,
sedangkan gurunya sebagai pengolah informsi.

Adapun kondisi mental Maruge yang mengalami trauma akibat penyerangan


yang dilakukan oleh Inggirs di masa lalu sempat mengganggu proses belajarnya.
Ia berusaha melawan rasa takutnya hingga ia berani bangkit. Hal ini juga
berhubungan dengan teori sibernetik, karena dalam teori ini dikemukakan bahwa
belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan
merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu.
Hubungannya dengan teori ini adalah proses belajar Maruge yang saat itu berada
pada kondisinya yang mengalami trauma akibat kekejaman di masa lalu yang
bagitu menyedihkan. Dalam hal ini proses belajarnya dapat dikategorikan sebagai
sebuah proses belajar yang tidak dapat diamati secara langsung tanpa adanya
pendekatan yang intensif.

“The First Grader” 13


Namun dengan adanya sosok guru dengan karakter yang telah disebutkan
tadi, ia mampu memahami keadaan mental Maruge dengan melakukan
komunikasi untuk membantunya keluar dari masalah yang sedang ia hadapi.
Sosok guru seperti Jane juga dapat dikaitkan dengan teori humanis, karena teori
ini memaparkan tentang seseorang yang memanusiakan manusia.

Ketika masyarakat disekitar tahu bahwa ia ingin beresekolah di usianya yang


sudah menua, ia mendapatkan berbagai protes dan kecamaa dari warga sekitar,
terutama dari salah satu orang tua murid yang ada di sekolah tersebut. Namun ia
tak pernah menghiraukannya. Dalam hal in juga bisa dikategorikan sebagai teori
sibernetik. Karena sosok Maruge yang selalu mengutamkan proses, tanpa melihat
hasil akhirnya nanti akan seperti apa.

Saat berita tentang seorang kakek yang bersekolah telah tersebar, Menteri
pendidikan memberikan solusi supaya ia sekolah di tempat sekolah dewasa. Namun
baru sehari Maruge belajar di sana, ia sangat merasa tidak nyaman. Suasana kelas yang
riuh, ditambah guru yang acuh terhadap kondisi kelas yang ada,membuat Maruge
memutuskan untuk tidak datang lagi kesekolah tersebut. Dan ia sangat merindukan
suasana kelasny yag dulu, ia berharap agar bisa kembali di sekolah itu. Hal ini
berhubungan dengan teori revolusi sosio kultural, yang menjelaskan tentang
kemampuan membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar
sosial budaya dan sejarahnya.

Kaitannya adalah ada pada budaya dan sejarah yang dialami oleh Maruge di masa
yang lalu. Ia merupakan sosok yang tinggal di sebuaha desa dengan kondisi rumah yang
sederhana. Ia juga merupakan seorang veteran yang juga tahu bagaimana kekejaman
yang pernah terjadi dulu. Ia hanyalah seorang yang ingin berusaha memahami sesuatu
yang ia dapatkan dari masa lalu, yaitu memahami sebuah surat dari pemerintah. Dari
pemaparan jalan pikiran Maruge, bisa dipahami bahwa ia hanya ingin belajar membaca
di tempat sederhana, degan guru sederhana yang bisa dengan sabar mengajarinya. Dan
tempat itu ada pada sekolahnya yang dulu, bersama guru tercintanya Jane.

“The First Grader” 14


Dalam film ini kita juga dapat menghubungkannya dengan teori
konstruktivistik, karena dalam teori ini memaparka bahwa upaya membangun
sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa
depan yang dikehendaki. Seperti kemandirian, maksudnya ia mampu bertindak
sesuai dengan apa yang dinggapnya benar dan perlu. Dalam hal ini Maruge
menunjukkan kemandiriannya dengan memutuskan untuk bersekolah, padahal
masyarakat sekitar meremehkannya. Ia juga menunujukkan sifat tanggugjawabnya
dengan menerima segala resiko yang harus ia hadapi akibat dari keputusan yang
telah diambilnya. Ia juga tidak hanya berbuat baik pada dirinya sendiri namun
juga untuk orang lain. Selain itu teori ini juga merupakan sebuah usaha untuk
menjadikan manusia mampu memecahkan masalahnya sendiri.

“The First Grader” 15


Nilai yang Terkandung dalam Film

Kisah dalam film itu mengajarkan kita tentang makna hidup dan betapa
penting pendidikan untuk semua orang. Juga memberikan pesan bahwa kita
jangan pernah takut untuk becita- cita dan bermimpi. Mungkin akan terlihat sulit
atau bahakan tidak mungkin bagi seorang Maruge yang sudah berusia 84 tahun
untuk bisa membaca dan menulis. Terlebih dengan segala keterbatasan yang
dimilikinya, pendengaran yang terganggu akibat kekerasan yang dilakukan oleh
tentara Inggris di masa lalu, tubuh yang sudah tua renta, hingga ia harus berjalan
dengan bantuan tongkatnya. Selain itu traumatik masih tergiang di pikirannya,
hingga sepat membuat proses belajarnya terganggu.

Pelajaran lain yang dapat diambil dari sosok Maruge dalam film itu adalah, ia
tak pernah mengeluh atas segala kesulitan yang ia rasakan. Meksi banyak orang
yang meremehkannya, mengejeknya, namun ia tak pernah menjadikannya sebagai
sebuah derita. Ia memilih fokus pada tujuannya. Begitulah harusnya kita bertindak
dalam hidup. Untuk bermimpi memang harus banyak berkorban dan menerima
segala rintangan. Kita hanya perlu menatap ke depan untuk bisa raih mimpi itu.
Dan jangan hiraukan sesuatu yang dapat membuatmu kehilangan mimpi itu.

Setiap keputusan pasti ada resikonya, memutuskan berarti berani


bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi akibat keputusan itu. Seperti
Maruge yang menerima banyak pertentangan dri masyarakat akibat keputusannya
untuk bersekolah di usianya yang tua. Namun meski begitu, ia bisa membuktikan
bahwa ia mampu melakukan itu. Juga keputusan yang diambil Jane untuk terus
membantu Maruge, hingga ia harus menerima berbagai protes dan kecaman
bahkan fitnah perselingkuhan. Namun ia sadar, bahwa saat ia memutuskan untuk
menjadi seorang guru, itu artinya ia harus mengabdikan dirinya di dunia
pendidikan untuk membantu orang- orang yang membutuhkannya.

Sifat kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan oleh Maruge untuk
bisa bersekolah hingga ia bisa membaca dan menulis juga mrerupakan sebuah

“The First Grader” 16


pembelajaran yangberharga. Di umurnya yang tua, seseorang akan mengalami
kesulitan saat mereka belajar, namun dengan kerja kerasnya ia mampu.

Juga sifat jane yang pemberani, ia berani mengambil sebuah keputusan yang
bijaksana meskipun harus menentang atasanya. Ia berani dan tak pernah
menyerah untuk terus memperjuangkan Maruge. Selain itu sifatnya yang begitu
perhatian terhadap murid- muridnya, terlebih kepada Maruge. Ia berusaha untuk
memahami permasalahan yang dihadapi oleh muridnya dan mencoba membantu
untuk mencari solusinya. Ia juga merupakan sosok guru yang selalu bersikap adil
pada muridnya dan tidak membedda- bedakan muridnya yang satu dengan
lainnya. Seperti ia menganggap Maruge yang merupakan murid tertuanya dengan
anak- anak murid lain yang masih berumur 5 tahun.

Dan yang terakhir adalah sebuah untaian kata untuk kalian para pemuda.
Lihatlah ia, seorang Maruge yang tua renta dengan mimpi besarnya, ia mampu
bermimpi besar diumurnya yang sudah tua, dan mampu mewujudaknnya.
Harusnya kita sebagai kaum muda lebih berani bermimpi besar dan yakin mampu
mewujudkannya. Bayangkan saja seandainya Maruge memutuskan untuk tidak
bersekolah saat itu, apakah ia akan jadi seperti sekarang? Seseorang yang dikenal
banyak orang yang bisa berpidato di Gedung yang bahkan tak pernah ia sangka.

Mulailah bermimpi, dan bermimpilah setinggi mungkin. Dan yang terpenting


adalah harus yakin bahwa kalian pasti bisa raih mimpi itu. Karena untuk
bermimpi kita membutuhkan keberanian untuk mengambil resiko dan
tanggungjawab, sedangkan untuk mewujudkannya membutuhkan kemauan dan
kerja keras seta komimen untuk pantang menyerah.

“The First Grader” 17