Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ega Safitri

Nim : F1071171002

Kelas : 2-A

Mata Kuliah : Pengetahuan Lingkungan

PENURUNAN PRODUKTIVITAS PANGAN DI KOTA SINGKAWANG

Kondisi iklim di dunia selalu berubah, baik menurut ruang maupun waktu.
Perubahan iklim ini dapat dibedakan berdasarkan wilayahnya (ruang) yaitu
perubahan iklim secara lokal dan global. Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah
dalam bentuk siklus, baik secara harian, musiman, tahunan, maupun puluhan tahun.
Perubahan iklim adalah suatu perubahan unsur-unsur iklim yang memiliki
kecenderungan naik atau turun secara nyata. Perubahan iklim adalah perubahan
varisbel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara
berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50-100 tahun (inter
centenial).

Perubahan iklim menimbulkan pola curah hujan dan kejadian iklim ekstrem,
peningkatan suhu udara dan peningkatan muka air laut, yang dapat mempengaruhi
produksi pertanian dan kondisi sosial-ekonomi petani, sebagai subyek yang paling
penting dalam pembangunan pertanian.
Salah satunya di Kota
Singkawang merupakan daerah
primadona atau lumbung padi-
beras terbesar di wilayah
Kalimantan Barat (Kalbar).
Produksi gabah di Singkawang
terus meningkat dari tahun ke
tahun. Menurut BPS Kalbar peningkatan sudah terjadi sejak tahun 2009 hingga
2015, namun pada tahun 2014 produksi padi Kalbar menurun karena masyarakat
mengalihkan sawahnya jadi perkebunan sawit akibat kemarau yang membuat
masyarakat khawatir, sehingga mengalihkan sawahnya menjadi perkebunan sawit.
Data BPS, hasil produksi tahun 2013 dibanding tahun 2014 turun 5,15 persen, yakni
dari 1,4 juta ton jadi 1,3 juta ton.

Bahkan sekarang lahan


pertanian di jalan Demang Akub,
Kelurahan Sungai Rasau,
Kecamatan Singkawang Utara,
Kota Singkawang, Kalimantan
Barat, dijadikan sebagai tempat
pembangunan perumahan BTN, hal
ini dikarenakan masyarakat resah karena produksi padi yang menurun sehingga
dialih fungsikan. Dari hal tersebut lahan pertanian di Kota Singkawang jadi
berkurang khususnya di Kecamatan Singkawang Utara.

Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa dampak perubahan iklim yang
paling nyata pada sektor pertanian adalah kerusakan (degredasi) dan penurunan
kualitas sumberdaya lahan dan air, infrastruktur pertanian, penurunan produksi, dan
produktivitas tanaman pangan yang akan menghasilkan ancaman kerentanan dan
kerawanan terhadap ketahanan pangan dan bahkan kemiskinan.

Sumber:

Akhmad. Perubahan Iklim. http://akhmad113.blogspor.com

Asian Development Bank. 1994. Climate Change In Asia : Indonesian Country


Report On Social-Economic Impacts Of Climate Change And A National
Response Strategy. Regional Study.
Singkawang Lumbung Padi Kalbar.http://citraindonesia.com

Perubahan Iklim. http://www.academia.edu