Anda di halaman 1dari 4

LINGKUNGAN HIDUP

Krisis Teluk Kendari


Oleh : M Djufri Rachim | 29-Aug-2009, 00:14:26 WIB

Teluk Kendari saat ini mengalami krisis. Saatnya penyelamatan dengan cara ekstrim, jika
tidak, maka sisa cairan teluk hari ini pun akan menjadi daratan.

KabarIndonesia - Teluk Kendari tak dapat dipisahkan dengan awal keberadaan Kota Kendari
yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini. Di teluk inilah semuanya berawal.
Tradisi lisan menyebutkan, nama Kendari berasal dari bahasa Tolaki, yakni kandai (tukong),
artinya alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk mendorong perahu di tempat yang
airnya dangkal. Di teluk Kendari inilah aktivitas transportasi laut penduduk menggunakan alat
kandai, selain menggunakan dayung dan layar. Kandai kemudian diabadikan menjadi nama
kampung, kini sudah menjadi Kelurahan Kandai yang berada di awal pusat Kota Kendari yang
terletak di wilayah Kecamatan Kendari (Kota Lama).

Letak geografis Kota Kendari ibarat wajan - tempat penggorengan. Di tengah-tengah terdapat
teluk, sementara di sisi utara, barat, selatan terdapat ketinggian. Di sisi utara ada pegunungan
Nipanipa, sementara di sisi selatan ada pegunungan Nanga-nanga. Demikian pula di sebelah
barat, Mandonga dan Wua-wua adalah pemukiman yang posisinya lebih tinggi. Sebutlah
contoh posisi Rumah Jabatan Gubernur Sultra di jalan La Ute, karena posisinya berada
di ketinggian, maka dapat melihat ke bawah, teluk, dengan jelas. Demikian pula dari sisi
ketinggian di sebelah utara dan selatan teluk tentunya. Karena posisi demikianlah sehingga
erosi yang terjadi dari sisi utara, barat dan selatan semuanya bermuara pada pusat teluk yang
pada gilirannya menyebabkan pendakangkalan Teluk Kendari. Laju pendakalan di Teluk
Kendari semakin memprihatinkan seiring pertambahan aktivitas manusia yang bermukim di
sekitarnya.

Dulu, waktu Teluk Kendari belum mengalami degradasi seperti sekarang, keberadaan ditinjau
dari sisi sosial ekonomi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya para nelayan
yang bisa mencari ikan dan biota laut lainnya. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang
selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi. Sayangnya, kondisi itu telah berubah fungsi, dari
tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar
dan fantastis, selain erosi yang terjadi secara alamiah. Hal ini sebagai konsekensi
perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari.

Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara menyebutkan, dalam
kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan di Teluk Kendari seluas 101,8 hektar dan
kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter. Luasan wilayah teluk ini menyusut dari
semula 1.186,2 hektar menjadi 1.084,4 hektar pada tahun 2000.

Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 152,08 hektar merupakan
penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 357.810,59 ton/ tahun. Selain itu, menurut
dokumentasi institusi teknis Dinas Kehutanan Provinsi Sultra, terdapat 10 hingga 18 sungai
yang bermuara di Teluk Kendari. Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi,
misalnya Sungai Benubenua (DAS) 21,00 Km2, Sungai Lahundape (DAS) 16,00 Km2, Sungai
Mandonga (DAS) 18,00 Km2 Sungai Sodoha (DAS) 20,00 Km2, Sungai Tipulu (DAS) 12,00 Km2
serta Sungai Wua-wua, Kemaraya, Anggoeya, dan Sungai Kampungsalo.

Sumbangsi sedimentasi juga datang dari aktivitas di dermaga yang ada dalam kawasan teluk.
Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan kapal pada teluk Kendari.
yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapal-kapal berskala besar setiap saat, termasuk
persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila yang melayanai kawasan timur Pulau Sulawesi. Ada
pula Pelabuhan Ferry penyeberangan dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan
Samudera dan Pelabuhan Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal
perikanan laut swasta. Dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogyanya bisa membaik,
namun Teluk Kendari tak lepas dari masalah.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Haluoleo telah memprediksi sedimentasi itu
sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga
sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/ tahun dengan laju pendangkalan
0,207 m/ tahun. Hal itu yang membuat kondisi Teluk Kendari semakin memprihatinkan.
Lembaga ini juga memperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang, kontur kedalaman 1,2
sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari
tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman
1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk
Kendari sisa seluas 18,8 hektar.

Aktivitas di sekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung maupun tidak
langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama aktivitas yang tidak
ramah lingkungan seperti penebangan kayu maupun anakan kayu di hutan, pertambangan
pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak maupun industri dan pertokoan.
Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal mangrove yang dulu masih luas kini
semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara lain pembukaan tambak, pembangunan
galangan kapal, pembangunan SPBU dan pembangunan kawasan pertokoan.

Setiap tahun terjadi pengurangan vegetasi mangrove secara drastis. Pada tahun 1960-an luas
vegetasi mangrove di sekitar Teluk Kendari mencapai 543,58 ha, tahun 1995 menurun hingga
tersisa 69,8 ha, dan tahun 2005 menurun lagi hingga tersisa tinggal 40%.

Pemerintah Provinsi Sultra tengah merancang sebuah program untuk menjadikan Teluk
Kendari sebagai tempat olah raga air kelas dunia. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sultra ditunjuk
untuk merancang program ini. Kepala Dinas PU Sultra Dody Djalante menjelaskan program ini
dilakukan bersamaan dengan dibangunnya dua mega proyek pada Teluk Kendari, yakni
jembatan penghubung (Kota Lama dengan Lapulu) dan masjid terapung di atas permukaan laut.

“Program ini akan kami wujudkan, demi menjadikan Teluk Kendari sebagai icon Sulawesi
Tenggara ke depan," ujarnya kepada wartawan belum lama.

Dody menjelaskan, sejak dimulainya pembangunan Pelabuhan Kontainer Bungkutoko, maka


rancangan menjadikan teluk Kendari sebagai tempat olah raga air kelas dunia mulai
digaungkan. Jika Pelabuhan Kontainer Bungkutoko rampung, maka lalu lintas kapal barang
sudah pasti tidak akan masuk Teluk Kendari.

"Inilah alasan mengapa Teluk Kendari bakal dijadikan olah raga air kelas dunia," jelasnya
seraya menambahkan, program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kendari.

Di luar itu Pemerintah Kota Kendari mempunyai kebijakan sendiri berupa pengerukan endapan
teluk dengan menyediakan anggaran sebesar Rp. 5 miliar lebih. Sayangnya hingga kini belum
ada aksi memadai, padahal sudah dianggarkan sejak setahun lalu. Hal ini menambah
kecurigaan pihak-pihak yang meragukan sejak awal akan program tersebut, seperti
diungkapkan Direktur Eksekutif LEpMIL – Sultra, M. Alim Nur bahwa proyek Pemkot itu tidak
akan optimal. (Baca juga: Pengerukan yang Sia-sia?)

Pemicu bertambahnya pendangkalan karena konversi kawasan hutan mangrove menjadi lahan
tambak. Selain itu, perkembangan pemukiman di sekitar teluk tidak terkontrol, serta belum
adanya kejelasan tata ruang dan rencana pengembangan wilayah pesisir Teluk Kendari.
Akibatnya, terjadinya tumpang tindih pemanfaatan kawasan pesisir untuk berbagai kegiatan
pembangunan. Masalah lain, adanya temuan pencemaran logam berat seperti Merkuri (Hg) dan
Cadmium (Cd) di sekitar Teluk Kendari dengan kadar tinggi sehingga mengganggu
kelangsungan biota laut, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Sesungguhnya perairan teluk memiliki luas sekitar 17,75 km2 dengan total panjang garis pantai
kurang lebih 85,85 km, berbentuk hampir seperti segitiga. Alur sempitnya tadi berada di bagian
timur, dan makin ke barat alurnya makin melebar. Pantai utara Teluk Kendari merupakan kaki
Gunung Nipanipa sehingga agak terjal. Sebaliknya di bagian barat dan selatan teluk merupakan
dataran rendah yang garis pantainya ditutup hutan bakau (mangrove), sehingga, kondisi
perairan Teluk Kendari yang terlindung oleh penyempitan alur masuk itu, relatif tenang.
Pergerakan arus bersifat lokal dan hanya sedikit dipengaruhi arus luar teluk. Arus yang
bergerak dari mulut dan ke dalam teluk dan sebaliknya pada saat terjadi pasang dan surut
berkecepatan sekitar 13 km/ jam.

Gelombang laut yang terjadi di kawasan Teluk Kendari umumnya bersumber dari tiupan angin
di kawasan perairan teluk itu. Gelombang besar terjadi di sekitar Pulau Bungkutoko dengan
ketinggian antara 1-1,5 meter pada bulan Juni-Agustus (musim timur) dan 0,5-1 meter pada
periode Desember-Januari (musim barat). Gelombang besar itu berasal dari Laut Banda dan
Samudra Pasifik. Sedangkan ketinggian gelombang di dalam teluk sendiri hanya berkisar rata-
rata 0,3 meter di segala cuaca.
Secara geologi, pada musim hujan warna air teluk agak keruh, terutama di muara-muara
sungai. Paling sedikit ada 12 sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk, antara lain yang
agak besar adalah Sungai Sadohoa, Wanggu, Kambu, dan Sungai Anggoeya. Jaringan sungai
dan anak sungai tersebut puluhan tahun silam masih berfungsi sebagai sarana transportasi
hingga ke pedalaman (pinggiran) kota.

Kebijakan pemerintah dan perilaku warga kota cenderung tidak memihak pada upaya
pelestarian Teluk Kendari. Penggunaan lahan yang tak terkendali, baik untuk permukiman dan
pertokoan maupun untuk pertanian menjadi sumber pendangkalan dan pencemaran teluk.

Warga kota yang berdiam di lereng gunung, baik penduduk lama maupun pendatang baru
dibiarkan merambah hutan untuk lokasi perumahan dan kebutuhan hidup lainnya. Secara
semena-mena juga para pemilik modal menggusur perbukitan di beberapa ruas jalan utama,
masih di kaki pegunungan Nipanipa, untuk kepentingan investasi di bidang properti yaitu
bisnis rumah toko (Ruko).

Tindakan tersebut merupakan salah satu penyebab pendangkalan teluk. Kerusakan hutan di
pegunungan Nipanipa sehingga menyebabkan terjadinya erosi yang membawa lumpur, pasir,
sampah dan limbah rumah tangga, serta berbagai material lainnya ke Teluk Kendari. Sisa-sisa
lumpur dan pasir dari kegiatan penggusuran bukit juga segera dihanyutkan banjir ke teluk
pada musim hujan. Selain itu kegiatan pemerintah sendiri yang mempercepat lajunya
sedimentasi adalah pembangunan jaringan jalan, terutama ruas-ruas jalan yang berlokasi di
bibir pantai teluk. Pembangunan jalan tersebut di awal dengan pengerukan rawa-rawa dan
empang milik penduduk. Lahan tersebut sebelumnya merupakan hutan bakau.

Sedangkan ekosistem mangrove untuk kepentingan permukiman, pertambakan, dan


pembangunan prasarana jalan lebih mempercepat proses pendangkalan Teluk Kendari. Luas
hutan bakau di pantai teluk pada tahun 1995 tercatat tinggal sekitar 69,85 hektar. Ini
menunjukkan, kesewenang-wenangan manusia terhadap alam memang tak terbendung, sebab
berdasarkan hasil penelitian tahun 1960 luas hutan bakau di teluk ini masih sekitar 543,58
hektar.

Sisa hutan bakau tersebut makin habis pula, akibat perluasan lahan tambak oleh warga kota.
Kawasan sabuk hijau (green belt) pun yang berfungsi sebagai penyangga telah berangsur lenyap
dan menjadi lahan tambak. Padahal sabuk hijau mutlak disediakan sebagai kawasan lindung
dalam rangka mempertahankan hutan mangrove.

Jalur lain yang menjadi kontributor penyusutan Teluk Kendari menjadi daratan adalah jaringan
sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk itu. Jaringan sungai tersebut membawa
lumpur, pasir, dan material lainnya ke teluk pada saat banjir di musim hujan.

Sebagian sungai di Kota Kendari telah menjadi sungai mati, dan baru berair serta banjir bila
musim hujan datang. Hal itu membuktikan parahnya kerusakan hutan di daerah tangkapan
hujan (catchment area) dalam ekosistem DAS (daerah aliran sungai). DAS terbesar di kawasan
teluk adalah DAS Wanggu dengan luas wilayah 32.389 hektar. Wilayah DAS ini membentang
dari pegunungan Boroboro, Wolasi hingga Teluk Kendari yang mencakup tiga kecamatan dalam
wilayah Kabupaten Konawe serta dua kecamatan di Kota Kendari sendiri. Karena itu
dibutuhkan kebijakan terpadu pemerintah kabupaten dan kota untuk memulihkan kerusakan
DAS tersebut.

Melihat krisis Teluk Kendari yang memprihatinkan sekarang sudah saatnya pemerintah daerah,
baik Pemkot maupun Pemprov, mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota
tersebut. Selain melakukan pengerukan, tak kalah penting adalah penanaman kembali pohon
bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat
tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak, maka jangan heran jika nama
Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita. Sepakat!(*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!!
Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Krisis+Teluk+Kendari&dn=20090828195523 /
19/04/18