Anda di halaman 1dari 4

Pada praktikum teknologi sediaan solid ini, memiliki tujuan utama agar

mahasiswa dapat melakukan studi preformulasi, merancang dan membuat bentuk


sediaan, evaluasi granul dan menguji mutu sediaan, dan merancang kemasan. Zat
aktif yang diberikan adalah Parasetamol, dengan sifat-sifatnya seperti tahan
terhadap panas, tahan terhadap air tetapi tidak memiliki sifat aliran yang baik.
Dengan melihat karakteristik dari Parasetamol ini dapat dibuat dengan metode
pembuatan tablet yakni granulasi basah. Granulasi basah dapat dilakukan jika zat
aktif tahan terhadap pemanasan dan air. Selain bahan aktif parasetamol maka
ditambahkan juga bahan eksipien yaitu dari amprotab sebagai penghancur, PVP
sebagai pengikat, laktosa sebagai pengisi, etanol 95% sebagai pelarut pengikat,
Mg stearat sebagai pelicin, dan Talk sebagai pelincir.

Metode granulasi basah dilakukan terlebih dahulu dengan penambahan


zat aktif (Parasetamol), zat pengisi (Laktosa), zat pengikat (PVP), serta
penambahan penghancur (Amprotab). Penambahan bahan pengisi laktosa ini
dimaksudkan untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak, bahan
pengikat berfungsi untuk meningkatkan kohesifitas antara partikel-partikel serbuk
dalam masa tablet yang diperlukan untuk meningkatkan kohesifitas antara
partikel-partikel serbuk dalam masa tablet yang diperlukan untuk pembuatan
granul dan kemudian untuk pembentukan massa menjadi kompak dan padat yang
disebut tablet, dan penghancur yang berfungsi untuk memudahkan hancurnya
tablet ketika berkontak dengan cairan saluran cerna.

Keempat bahan tersebut diaduk sampai homogen, kemudian ditambahakan


larutan PVP sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai terbentuk massa basah
yang sesuai untuk dibuat granul. Untuk larutan PVP, harus dimasukan semuanya
agar persentase pengikat sesuai dengan yang diinginkan. Massa granul kemudian
di ayak, pengayakan pada metode ini bertujuan untuk mencegah rasa kasar dari
sediaan yang disebabkan oleh bahan obat yang padat dan kasar, selain itu untuk
membentuk suatu campuran serbuk yang rata sehingga memiliki distribusi normal
dan diharapkan kandungan zat aktif dalam sediaan menjadi seragam. Massa
granul yang sudah diayak kemudian dikeringkan untuk mencegah
terjadinya binding dan sticking yang disebabkan masih adanya kandungan air di
dalam granul. Setelah kering granul diayak lagi untuk memperoleh granul dengan
ukuran yang sama rata dan ditambahkan bahan pelicin Talk dan Mg stearat yang
berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga untuk
mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Kemudian dicetak menjadi tablet
dengan mesin pencetak.

Sebelum proses pencetakan tablet, harus melakukan evaluasi granul terlebih


dahulu, evaluasi-evaluasi tersebut diantaranya yaitu :
1. Kecepatan Alir
Sifat alir granul memegang peranan penting dalam pembuatan tablet.
Evaluasi kecepatan alir garnul ini bertujuan untuk menjamin keseragaman
pengisian kedalam cetakan Faktor-faktor yang menentukan sifat alir
serbuk/granul adalah : kerapatan jenis, porositas, bentuk partikel, ukuran
partikel, kondisi percobaan dan kandungan lembab.
Dari hasil percobaan kecepatan alir granul adalah 12,5 g/sec, dimana v > 4
g/sec. Jadi kecepatan alir granul baik.

2. Pengukuran Bobot Jenis


Untuk pengukuran bobot jenis ini menggunakan piknometer. Dari hasil
percobaan, granul memiliki bobot jenis 1,66 g/mL dan 1,54 g/mL.

3. Kelembaban
Kadar air yang dihasilkan yaitu 2,95 %, yang berarti kadar air yang
dimilikinya kurang baik. Karena kadar air yang baik adalah 1-3%.

4. Kadar Mampat.
Kadar mampat menentukan apakah suatu granul memiliki sifat alir yang
baik atau tidak. Dari hasil percobaan granul pada ketukan ke 10 memiliki
%T 8%, ketukan ke 50 14,4%, dan ketukan ke 500 16%. %T harus <20%,
jika lebih besar maka granul sulit mengalir. Disimpulkan bahwa granul
mudah mengalir.
5. Kadar zat aktif dalam granul
Persyaratan kadar zat aktif tablet parasetamol menurut FI V adalah tablet
parasetamol mengandung tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari
110%. Dari hasil percobaan didapatkan %kadar untuk sampel 1 adalah
117,2% dan sampel 2 adalah 116,1%. Sehingga kadar parasetamol tidak
memnuhi persyaratan.

Setelah proses pencetakan tabet dselanjutnya ilakukan evalusi untuk sediaan


tablet, evaluasi tersebut diantaranya, yaitu :

1. Organoleptik
Uji organoleptis dilakukan dengan tujuan untuk penerimaan oleh konsumen.
Karena, secara visual tablet yang baik harus memiliki warna yang homogen
dan tidak mengandung pengotor. Evaluasi ini dilakukan dengan cara
pemeriksaan secara organoleptis meliputi warna, bau dan rasa.
Pada uji organoleptik dengan menggunakan panca indra, tablet
menunjukkan warna putih, rupa yang baik, halus, rata, sedikit mengkilat.
Memiliki bau khas seperti halnya obat, dan berasa pahit.
2. Keseragaman ukuran
Untuk diameter tablet yang dipersyaratkan dalam farmakope, tablet tidak
boleh lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Sehingga
dapat diketahui bahwa tablet yang diujikan memenuhi syarat karena
mempunyai diameter tablet (7,2 mm) lebih besar dari tebal tablet (3,24
mm).
3. Friabilitas
Kerapuhan (friabilitas) merupakan parameter yang digunakan untuk
mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya
sewaktu pengemasan dan pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator.
Tablet yang memenuhi syarat adalah tablet yang memiliki friabilitas < 1%.
Sedangkan hasil yang didapat dari pengujian 20 tablet yaitu lebih dari 1 %,
sehingga tablet tersebut tidak memenuhi syarat.
4. Kekerasan
Pada uji kekerasan tablet diperoleh rata-rata kekerasan tablet 17,3 kg/cm2.
Hal ini menunjukkan bahwa tablet tidak memenuhi persyaratan kekerasan
tablet karena kekerasan tablet besar yang baik antara 7 – 10 kg/cm2 dan
kekerasan tablet yang kecil 4-6 kg/cm2 . Kekerasan tablet akan sangat
berpengaruh terhadap waktu hancur dan disolusi dari tablet. Jika tablet
terlalu keras maka waktu hancur dan disolusinya meningkat, sehingga
pelepasan zat aktif tidak segera dan dikhawatirkan jika pelepasannya terlalu
lama dapat menyebabkan konsentrasi untuk mencapai efek terapi tidak
tercapai.

5. Waktu hancur

Agar komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diabsorpsi dalam saluran


pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam
cairan tubuh untuk dilarutkan. Tablet memenuhi syarat uji bila pada akhir
batas waktu seperti yang tertera dalam monografi, semua tablet hancur
sempurna. Tablet hancur jika tidak ada bagian tablet tertinggal di atas kasa
kecuali fragmen bahan pembantu. Menurut FI III, jika tidak dinyatakan lain,
waktu yang diperlukan untuk menghancurkan tablet tidak lebih dari 15
menit untuk tablet tidak bersalut. Waktu hancur dari percobaan 6 tablet
adalah 6 menit 15detik, sehingga memenuhi persyaratan.

6. Keragaman bobot
Jika rata-rata kadar tablet kurang dari 98,5% makan digunakan rumus
M=98,5% ( jika 𝑥̅ < 98,5%) maka NP(nilai penerimaan) = 98,5 - 𝑥̅ + ks.
Persen (%) rata-rata kadar dari sampel 1, 2 dan 3 adalah 93,625%, dan
didapatkan nilai NP adalah 30,727. sehingga tidak memenuhi persyarata
karena np > 15.