Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Indonesia merupakan negara yang mempunyai 2 potensi besar, yaitu
potensi sumber daya alam dan potensi bencana. Ptensi bencana di indonesia
di sebabkan salah satunya karena iklim teropis di indonesia yang terdiri dari 2
musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.Kondisi iklim tersebut
mempunyai ciri perubahan cuaca yang cukup ektrim meliputi suhu, curah
hujan, dan arah angin. Kondisi tersebut di dukung oleh topografi wilayah
indonesia yang sangat hetrogen, mulai dari pegunungan hingga dataran
rendah. Selain itu, maupun kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh
konversi lahan sehingga meningkatkan kerawan bencana di wilayahy
tersebut, seperti banjir dan longsor lahan.
Secara sederhana, bencana dapat diartikan sebagai suatu fenomena
atau kejadian yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan,
gangguan keaamanan dan ketertiban masyarakat, serta kerugian
materialmaupun non material.Seiring dengan banyaknya bencana di indonesia
pemerintah republik indonesia mengeluarkan Undang-Undang nomor 24
tahun 2007 tentang Penanggulanga Bencana.
Bencana geologi atau bencana alam, secara awam merupkan tugas
utama ahli geologi dalam hal memberikan peringatan dini yang akurat kepada
masyarakat agar terhindar atau stidaknya meminimalisir bencana. Ini yang
belum maksimal di negara kita, walaupun penanganan bencan merupaka
tanggung awab bersama seluruh lapisan masyarakat, setiap anggota
masyarakat berpeluang mengetahui dan kontribusi dalam penanganan
bencana. Harus kita akui bahwa ahli geologilah yang paling tahu dibanding
masyrakat pada umumnya tentang bencan geologi.
Dari para ahli geologi di ketahui bahwa tatanan geologi indonesia
yang terletak di atas tigs lempeng tektonik, sealin memberikan sumber daya
kebumian (geo-resources) yang kaya, dan lingkungan bumi (geo-
environmeent) yang beraneka ragam,juga ancaman bahaya kebumian (geo-
hazars) yang sangat tinggi, baiok ragam maupun persebaranya. Besarnya
bahaya geologi indonesia dan tingginya frekuensi kejadian bencana yang di
akibatkannya merupakan bukti bahwa kita memang hidup di wilayah yang
rawan bencana.
Dalam literature-literature tentang mitigasi bencana dinyatakan bahwa
mitigasi (bencana) adalah bagian dari manajemen bencana(disater
management) atau manajemen darurat (emergency management). Manajemen
bencana meliputi : penyiapan, dukungan dan pembangunan kembali suatua
masayarakat yang terakena bencana alam (natural disaster) atau bencana
buatan (man-made disastes). Manajemen bencana adalah suatu proses yang
harus di selegarakan trus menerus oleh segenap pribadi,kelompok dan
komunitas dalam mengelola seluruh bahaya (hazards) melalui usaha usaha
meminimalkan akibat dari bencana yang mungkin timbul dari bahaya tersebut
(mitigasi).
Mitigasi adalah bagian atau salah satu tahap dalam penanganan
bencana. Tahap mitigasi dalam maknanya berarti kesiapsiagaan atau
kewaspadaan adalah cara murah dalam megurangi akibat bahaya-bahaya yang
dihadapi masyarakat dibandingkan deangan tindakan lainnya, seperti;
evakuasi, rehabilitasi dan rekontuksi. Mitigasi harus dilakukan baik secara
bersama-sama melalui agenda pemerintah, maupun sendiri-sendiri baik saat
dan paska kejadian, maupun sebelum kejadian. Karena itu, konsep mitigasi
dan tahap lainya dari manajemen bencana, serta irisan dan kesaling
keterkaitan di antara tahapan-tahapan tersebut perlu di pahami sebelumnya
oleh siapapun yang terlibat dalam penanganan bencana.Penilaian tersebut
berkenaan dengan aspek fisik bumi sebagai fokus perhatiannya di kenal
sebagai analisis geo-risk.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.3 TUJUAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Disaster

Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu


kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusuhan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Definisi bencana menurut UU
RI No.24 Tahun 2007).

Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh faktor


alam, non alam, dan manusia. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana
non alam, dan bencana sosial.

Pengertian bencana alam Kapmen Nomor 17/Kep/Menko/Kesra/x/95


adalah sebagai berikut, “Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam, manusia, dan/atau keduanya yang mengakibatkan
koran dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan,
kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum, serta menimbulkan gangguan
terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat”.

Menurut Asian Disaster Reduction Center (2003), bencana adalah


suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian
secara meluas dan dirasakan baik oleh masyarakat,berbagai material, dan
lingkungan (alam) dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan
manusia gunamengatasinya dengan sumber daya yang ada. Lebih lanjut,
menurut Parker (1992), bencana ialah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi
disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula didalamnya
merupakan imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respons dari
masyarakat, komunitas, individu,maupun lingkungan untuk memberikan
antusiasme yang bersifat luas.
Menurut WHO (2002), definisi bencana (disaster) adalah setiap
kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa
manusia, atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada
skala tertentu yang memerlukan repons dari luar masyarakat atau wilayah
yang terkena.

Menurut Departemen Kesehatan RI (2001), definisi bencana adalah


peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan
ekologi, kerugian kehidupan manusia, serta memburuknya kesehatan dan
pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa
dari pihak luar.

Sedangkan Heru Sri Haryanto (001: 35) mengemukakan bahwa


bencana adalah terjadinya kerusakan pada pola-pola kehidupan normal,
bersifat merugikan kehidupan manusia, struktur sosial, serta munculnya
kebutuhan masyarakat.

Menurut Coburn, A. W. dkk (1994) didalam UNDP mengemukakan


bahwa bencana alam adalah suatu kejadian atau serangkaian kejadian yang
memberikan akibat meningkatkan jumlah korban dan/atau kerusakan,
kerugian harta benda, infrastruktur, pelayanan-pelayanan penting, atau sarana
kehidupan pada satu skala yang berada diluar kapasitas normal.

Kejadian bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat


berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun
kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebh
dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.

2.2 Jenis - Jenis Bencana


Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara
lain:
2.2.1 Bencana Alam

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh


peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam
antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Jenis- Jenis Bencana Alam

Terdapat dua jenis bencana alam berdasarkan penyebab terjadinya,


yaitu bencana alam meteorologi dan bencana alam geologi.

2.2.1.1 Bencana Alam Meteorologis

Bencana alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan


dengan iklim. Bencana ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat
yang khusus, walaupun ada daerah daerah yang menderita banjir
musiman, kekeringan atau badai tropis (siklon, hurikan, dam taifun)
dikenal terjadi pada daerah-daerah tertentu. Bencana alam bersifat
meteorologi seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana alam
yang paling banyak terjadi di seluruh dunia, bahkan beberapa
diantaranya hanya terjadi di suatu wilayah dengan iklim tertentu.
Kekhawatiran terbesar pada abad modern adalah bencana yang
disebabkan oleh pemanasan global.

A. Banjir
1) Definisi

Biasanya banjir disebabkan oleh curah hujan yang


tinggi diatas normal, sehingga sistem pengaliran air yang
terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem
saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang
ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut
meluap.

2) Banjir dibagi menjadi beberapa :


a. Banjir bandang
Banjir bandang adalah banjir besar yang terjadi
secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat. Banjir
bandang biasanya terjadi hasil dari curah hujan berintensitas
tinggi dengan durasi pendek yang menyebabkan debit
sungai naik dengan cepat.
b. Banjir sungai
Banjir sungai disebabkan oleh curah hujan yang
terjadi di daerah aliran sungai secara luas dan berlangsung
lama. Selanjutnya air sungai yang ada meluap dan
menimbulkan banjir dan menggenangi daerah sekitarnya.
c. Banjir pantai
Banjir ini berkaitan dengan adanya siklon tropis dan
pasang surut air laut. Pada banjir ini air laut membanjiri
daratan karena satu atau kombinasi pengaruh-pengaruh dari
air pasang yang tinggi atau gelombang badai.
3) Proses Terjadinya Banjir
a. Proses Banjir Bandang

Air mengalir terhalang tumpukan pohon-pohon


yang longsor. Kemudian terbentuk bendungan karena air
tertahan oleh tumpukan pohon-pohon, lumpur, batu-batuan
dan cabang-cabang pohon menutup lobang dalam
bendungan. Air terus bertambah sehingga kumpulan air
semakin besar (terbentuk seperti danau), karena bendungan
pecah dan air meluap dan membawa pohon-pohon kayu ke
bawah tapi terhalang ditempat longsor lainnya, bendungan
yang berikutnya akan menjadi lebih besar. Kayu-kayu yang
longsor dan terhanyut air akan semakin menumpuk. Air
banjir membawa jutaan m3 kayu kebawah.
b. Banjir Sungai

Banjir sungai biasanya disebabkan oleh curah hujan


yang terjadi di daerah aliran sungai (DAS) secara luas dan
berlangsung lama. Selanjutnya air sungai yang ada akan
meluap dan menimbulkan banjir dan menggenangi daerah
sekitar. Tidak seperti banir bandang, banjir sungai biasanya
akan menjadi besar secara perlahan-lahan, dan sering sekali
merupakan banjir musiman dan bisa berlanjut sampai
berhari-hari atau berminggu-minggu.
c. Banjir Pantai

Banjir ini berkaitan dengan adanya badai siklon


tropis dan pasang surut air laut. Banjir besar yang terjadi
dari hujan sering diperburuk oleh gelombang badai yang
diakibatkan oleh angin yang terjadi di sepanjang pantai.
Pada banjir ini air laut membanjiri daratan karena satu atau
kombinasi pengaruh-pengaruh dari air pasang yang tinggi
atau gelombang badai.

B. Kekeringan
1) Definisi

Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan


yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan
hidup, pertanian kegiatan ekonomi dan lingkungan.
Kekeringan alamiah terjadi akibat curah hujan dibawah
normal, kekurangan pasokan komoditi ekonomi; kekeringan
antropogenik terjadi akibat ketidak-taatan pada aturan
tertentu (pola tanam, konservasi, kawasan tangkapan air).

2) Proses Terjadinya Kekeringan

2.2.1.2 Bencana Alam Geologis

Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di


permukaan bumi, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan
gunung meletus. Gempa bumi dan gunung meletus terjadi hanya di
sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau lantai
samudera.

A. Gempa
1) Definisi

Gempa bumi adalah peristiwa berguncangnya bumi


yang dapat disebabkan oleh tumbukan anatar lempeng
tektonik, akibat gunung berapi atau runtuhan batuan.

2) Gempa dibedakan menjadi beberapa kategori diantaranya :


a. Gempa berdasarkan lokasinya
a) Gempa bumi yang terjadi di darat
Gempa yang terjadi di darat karena adanya patahan atau
lipatan di darat.
b) Gempa bumi yang terjadi di laut
c) Gempa yang terjadi di darat karena adanya patahan atau
lipatan di laut dan biasanya menciptakan tsunami.
b. Gempa berdasarkan gelombangnya
a) Gempa berdasarkan gelombang primer
Gempa yang bersifat merambat dimana gelombang ini
berasal dari pusat gempa denga kecepatan 14 km/detik.
b) Gempa berdasarkan gelombang sekunder
c) Gempa yang bersifat merambat dimana gelombang ini
berasal dari pusat gempa dengan kecepatan 7 km/detik
lebih lambat dari gelombang primer.
c. Gempa berdasrkan penyebabnya
a) Gempa teknonik
Gempa tektonik terjadi karena bergesernya lempeng-
lempeng tektonik, baik mendekat atau menjauh.
b) Gempa vulkanik
Gempa jenis ini terjadi sebelum atau sesudah letusan
gunung api.
c) Gempa runtuhan
Gempa jenis ini terjadi karena adanya longsor.
d) Gempa akibat manusia
Gempa jenis ini terjadi karena penggunaan bahan
peledak yang menghancurkan gedung-gedung atau
gunung.
3) Proses Terjadinya Gempa

Lempengan-lempengan kerak bumi bergerak perlahan


saling bergesekan, menekan, dan mendesak bebatuan.
Akibatnya, tekanan bertambah besar. Jika tekanannya besar,
bebatuan di bawah tanah akan pecah dan terangkat. Pelepasan
tekanan ini merambatkan getaran yang menyebabkan gempa
bumi.

Beberapa gempa terbesar di dunia terjadi karena proses


subduksi. Dalam proses ini, terjadi tumbukan antara dua
lempeng dengan salah satu lempeng kerak bumi terdorong ke
bawah lempeng yang lain. Lempeng samudra di laut
menumpuk lempeng benua yang lebih tipis di darat. Lempeng
samudra yang jatuh dan bergesekan dengan lempeng yang
diatasnya, melelehkan kedua bagian lempeng. Tumbukan
menghasilkan gunung api dan menyebabkan gempa bumi.

4) Skala Gempa Menurut Richter

Magnitudo Keterangan Rata-Rata Tahun Klasifiikasi Umum

0 – 1,9 - 700.000 Goncangan Kecil


2 – 2,9 - 300.000 Goncangan Kecil
3 – 3,9 Kecil 40.000 Gempa Keras
4 – 4,9 Ringan 6.200 Gempa Merusak
5 – 5,9 Sedang 800 Gempa Destruktif
6 – 6,9 Kuat 120 Gempa Destruktif
7 – 7,9 Besar 18 Gempa Besar
8 – 8,9 Dahsyat 1 dalam 10-20 tahun Bencana Nasional

B. Tsunami
1) Definisi

Tsunami yakni gelombang laut dengan periode


panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar
laut (gempa tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran).
2) Proses Terjadinya Tsunami

Gempa bumi atau letusan gunung berapi yang terjadi


di bawah laut mengakibatkan terjadinya gerakan kerak bumi
ke atas dan kebawah kemudian menyebabkan dasar laut naik
dan turun secara tiba-tiba. Pergerakan naik dan turun dasar
laut ini seterusnya menggerakkan air laut, menciptakan
pergerakan gelombang yang kuat dan ketika gelombang ini
sampai di pantai atau daratan, kecepatan melambat dan
tumbuh menjadi tembok air yang tinggi.

Dilaut yang dalam ukuran gelombang tsunami agak


rendah, gelombang tampak seperti ombak biasa, tingginya
hanya sekitar satu meter dan lewat tanpa disadari oleh
kebanyakan nelayan. Namun ketika mencapai laut dangkal
gelombang tsunami tumbuh hingga tiga puluh meter. Dilaut
yang dalam gelombang tsunami dapat bergerak hingga 900
km/jam, tapi ketika mencapai laut dangkal dekat daratan ia
melambat. Pada kedalaman 15 meter kecepatannya bisa
menjadi 45 km/jam, kecepatan ini masih terlalu sukar bagi
orang-orang di pantai untuk dapat lari menyelamatkan diri.
Gelombang tersebut mendorong kedepan dengan berat
lautan di belakangnya. Ketika itu rumah dan bangunan roboh,
jalan hilang, kapal terlempar, jembatan putus, menusia dan
hewan terhempas dan tertarik ke laut dan semuanya yang
tidak tertanam kuat ditanah tercabut oleh tsunami tersebut.

Dapat disimpulkan tsunami terjadi karena adanya


gempa di dasar laut. Gerakan vertikal pada kerak bumi
menyebabkan dasar laut naik turun secara tiba tiba. Hal
tersebut mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang
berada diatasnya, sehingga terbentuklah gelombang air laut
dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di peraian dangkal,
gelombang air berubah ketinggian mencapai 30 meter.
Akhirnya gelombang yang sangat tinggi itu menerjang
daratan.

C. Letusan Gunung Api


1) Definisi

Gunung api merupakan lubang kepundan/rekahan


pada kerak bumi tempat keluarnya magma, gas atau
cairan lainnya ke permukaan. Bencana gunung meletus
disebabkan oleh aktifnya gunung berapi sehingga
menghasilkan erupsi. Gunung api dibedakan menjadi beberapa
bentuk diantaranya adalah gunung api kerucut, gunung api
maar dan gunung api perisai.

2) Secara kategori letusan gunung api dibagi menjadi 3 :


a. Erupsi Magma
Disebabkan tekanan gas di dalam perut bumi.
b. Letusan Freatomagma
Disebabkan adanya kontak antara magma dengan air
bawah permukaan atau formasi batuan yang banyak
mengandung air menghasilkan abu dan material vukanik
halus.
c. Letusan Freatik
Disebabkan adanya kontak air dengan magma yang
sebagian besar menghasilna gas atau uap air.

3) Proses Terjadinya Letusan Gunung Api

Letusan gunung berapi terjadi apabila magma naik


melintasi kerak bumi dan muncul diatas permukaan. Kejadian
ini dapat disertai dengan gempa. Magma yang mengalir keluar
permukaan bumi disebut larva. Gunung berapi terbentuk saat
pertama kali magma meletus ke permukaan. Tingkat
kekentalan magma mempengaruhi bentuk gunung dan jenis
letusan. Larva cair akan membentuk gunung yang agak datar
seperti perisai. Larva kental akan membentuk gunung kerucut.
Begitu terbentuk, gunung berapi akan terus meletus selama
masih banyak magma yang terkandung di dalamnya. Selang
waktu antara letusan mungkin membutuhkan waktu puluhan,
ratusan atau ribuan tahun.

Bahaya dari gunung berapi biasanya karena lontaran


berbagai material yang keluar dari dalam gunung berapi.
Masyarakat disekitar gunung merapi menyebut awan panas
mematikan yang keluar karena erupsi dengan nama Wedhus
Gembel.

4) Isyarat Gunung Berapi

Gunung berapi memiliki aktivitas yang dapat dipantau


sehingga letusan gunung berapi dapat diperkirakan waktunya.
Aktivitas gunung berapi terdiri dari beberapa tingkatan. Badan
vulkanologi membagi tingkatan aktivitas gunung berapi
menjadi 4 status sebagai :

Tingkat Isyarat Gunung Berapi di Indonesia


Status Makna Tindakan
Normal 1. Tidak ada gejala aktivitas tekanan 1. Pengamatan rutin
magma 2. Survei dan penyelidikan
2. Level aktivitas dasar
Waspada 1. Ada aktivitas apapun bentuknya 1. Penyuluhan dan sosialisasi
2. Terdapat kenaikan aktivitas diatas 2. Penilaian bahaya
level normal. 3. Pengecekan saran
3. Peningkatan aktivitas yang 4. Pelaksanaan piket terbatas
diakibatkan oleh aktivitas seistemik
dan kejadian vulkanis lainnya.
4. Sedikit perubahan aktivitas yang
diakibatkan oleh aktivitas magma,
tektonik, dan hidrotermal.
Siaga 1. Menandakan gunung berapi yang 1. Sosialisasi di wilayah
sedang bergerak ke arah letusan atau terancam
menimbulkan bencana. 2. Penyiapan sarana darurat
2. Peningkatan intensif kegiatan 3. Koordinasi harian
sistemik. 4. Piket penuh
3. Semua data menunjukkan bahwa
aktivitas dapat segera berlanjut ke
letusan atau menuju pada keadaan
yang dapat menimbulkan bencana.
4. Jika tren peningkatan berlanjut,
letusan dapat terjadi dalam waktu 2
minggu.
Awas 1. Menandakan gunung berapi yang 1. Wilayah yang terancam
segera atau sedang meletus atau ada bahaya dianjurkan untuk
keadaan kritis yang menimbulkan dikosongkan
bencana. 2. Koordinasi dilakukan
2. Letusan pembukaan dimulai dengan secara harian
abu dan asap. 3. Piket penuh
3. Letusan dapat terjadi dalam waktu 24
jam.

D. Tanah Longsor
1) Definisi

Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan


massa tanah atau batuan, ataupun pencampuran keduanya,
menuruni atau keluar lereng akibat dari tergangguanya
kestabilan tanah atau batuan penyusunan lereng tersebut.

2) Beberapa Jenis Longsor


a. Rayapan
Gerakan massa tanah atau batuan bergerak dengan
kecepatan lambat, kurang dari 1 meter/thun. Biasanya
terjadi pada lereng landau dan umunya tidak menimbulkan
korban jiwa tetapi merusak bangunan.
b. Luncuran
Jenis longsor ini biasanya terjadi pada lereng
dengan kemiringan 20o-40o, kecepatan gerakannya biasanya
mencapai 25m/menit.
c. Jatuhan
Sejumlah besar batuan atau materi lainnya bergerak
kebawah dengan cara jatuh. Kondisi ini yang paling umum
terjadi di sepanjang jalan dan pematang yang terjal atau
tebing yang curam.
d. Aliran
Campuran tanah, batuan dan air yang membentuk
suatu cairan kental. Aliran mulanya adalah endapan
longsoran dalam suatu lembah, kemudian karena
kemiringan ia meluncur dan berkembang sebagai masa
pekat yang menuruni lereng.

3) Gejala Tanah Longsor :


a. Muncul retakan – retakan di lereng yang sejajar dengan arah
tebing
b. Muncul mata air baru secara tiba – tiba
c. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan

4) Proses Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan gejala alam yang terjadi di


sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan
lereng satu kawasan, semakin besar kemungkinan terjadinya
longsor. Tanah longsor terjadi sebagai akibat perubahan-
perubahan, baik secara mendadak atau bertahap pada
komposisi, struktur, hidrologi, atau vegetasi pada satu lereng.
Luncuran tanah longsor akan semakin cepat sampai sekitar 30
meter/detik ketika :

a. Lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari


bagian utama gunung atau bukit.
b. Lapisan teratas bumi mulai meluncur deras pada lereng
dan mengambil momentum dalam luncuran tersebut.

E. Angin Topan
1) Definisi

Angin topan adalah pusaran angin kencang dengan


kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di
wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan,
kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan
khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan
tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang
yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar
dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem
tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20
Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai.

2) Proses Terjadinya Angin Topan

2.2.2 Bencana Non Alam

Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh


peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa
gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.
A. Kegagalan Teknologi

Kegagalan Teknologi adalah semua kejadian bencana


yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian,
kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi
atau industri.

B. Epidemi, Wabah dan Kejadian Luar Biasa

Merupakan ancaman yang diakibatkan oleh


menyebarnya penyakit menular yang berjangkit di suatu
daerah tertentu. Pada skala besar, epidemi atau wabah atau
Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat mengakibatkan
meningkatnya jumlah penderita penyakit dan korban jiwa.
Beberapa wabah penyakit yang pernah terjadi di Indonesia
dan sampai sekarang masih harus terus diwaspadai antara
lain demam berdarah, malaria, flu burung, anthraks, busung
lapar dan HIV/AIDS. Wabah penyakit pada umumnya sangat
sulit dibatasi penyebarannya, sehingga kejadian yang pada
awalnya merupakan kejadian lokal dalam waktu singkat bisa
menjadi bencana nasional yang banyak menimbulkan korban
jiwa. Kondisi lingkungan yang buruk, perubahan iklim, makanan
dan pola hidup masyarakat yang salah merupakan beberapa faktor
yang dapat memicu terjadinya bencana ini.

2.2.3 Bencana Sosial

Bencana social adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa


atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang
meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas
masyarakat, dan teror.

Sedangkan berdasarkan cakupan wilayah, bencana terdiri dari:


2.2.1 Bencana Lokal

Bencana ini biasanya memberikan dampak pada wilayah


sekitarnya yang berdekatan. Bencana terjadi pada sebuah gedung atau
bangunan-bangunan disekitarnya. Biasanya adalah karena akibat faktor
manusia seperti kebakaran, ledakan, terorisme, kebocoran bahan kimia
dan lainnya.

2.2.2 Bencana Regional

Jenis bencana ini memberikan dampak atau pengaruh pada area


geografis yang cukup luas, dan biasanya disebabkan oleh faktor alam,
seperti badai, banjir, letusan gunung, tornado dan lainnya.

Proses Terjadinya Bencana Alam

1) Tenaga Endogen

Sebagai makhluk Tuhan, kita percaya dan yakin bahwa Bumi


kita itu hidup dan diberi ruh oleh Allah, oleh karena itu bumi selalu
menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti pergerakan atau oleh
para ahli geologi disebut terjadinya proses pembentukan bumi.
Melalui pergerakan bumi maka akan membentuk diantaranya
gunung, palung di dasar samudra, retak, peyusutan daratan di bibir
pantai dan pergeseran letak gunung. Pergerakan bumi tersebut
menimbulkan energi endogen yang menghasilkan panas sehingga
terjadi gunung api yang bila sampai pada suatu titik tertentu akan
menyemburkan lava dan api bersama material yang dikandungnya.

Di dalam ayat suci Al-Qur’an disebutkan bahwa gunung


merupakan pakunya bumi, yang pada hari kiamat nanti akan dicabut
sehingga gunung-gunung akan berterbangan dan memuntahkan
segala isi perutnya yang sangat panas. Gunung-gunung yang
disangka telah mati (tidak aktif) suatu saat akan bangkit dan aktif
kembali bahkan mungkin lebih besar, tenaga itu dikenal dengan
tenaga endogen. Tenaga endogen tersebut menyebabkan gempa yang
sangat kuat dan tidak dapat dicegah kecuali diantisipasi dan
diprediksi. Disinilah sebenarnya salah satu kerja nyata ahli geologi
untuk memprediksi dan mengantisipasi ledakan yang dahsyat,
muntahkan segala material, awan panas bahkan lahar dingin seperti
kasus merapi dan dapat beserta gempa.

Memprediksi dan mengantisipasi berguna untuk


meminimalisir dampak letusan gunung api, seperti korban manusia,
kematian ternak, kerusakan sumberdaya ekonomi masyarakat, dan
kerusakan lingkungan secara masif. Karya nyata yang berupa hasil
antisipasi dan prediksi tersebut, selanjutnya di informasikan kepada
ahli-ahli dibidangnya untuk segera dilakukan koordinasi dan
sinergisme. Ahli manajemen bencana akan mempersiapkan
masyarakat berupa melatih masyarakat agar memiliki kompetensi
pedulikan tanggap bencana, sementara alih lain misalnya
mempersiapkan rumah yang tahan gempa.

2) Tenaga Eksogen
Energi yang berasal dari luar bumi dikenal sebagai tenaga
eksogen. Sifat umum tenaga eksogen adalah merombak bentuk
permukaan bumi hasil pembentukan dari tenaga endogen. Misalnya
tabrakan benda luar angkasa dan berakibat terhadap permukaan
bumi, jatuhnya benda-benda dari luar angkasa kebumi, serta angin
topan dan tenaga matahari.

Pelepasan tenaga (energy) yang mendadak atau secara tiba-


tiba pada zona penunjaman atau patahan aktif akan menyebabkan
getaran dan goncangan. Goncangan tersebut dikenal sebagai gempa
bumi dan apabila berada di dasar laut maka beresiko terjadi
Tsunami.

Parameter gempa bumi tenaganya diukur secara instrumental


atau magnitude dengan sekala Richter. Sekala 5 yang di tunukan
oleh sekala Richter setara dengan energi Bom Atom Hirosima. Kita
sering mendengar gempa berkekuatan 7,5 sekala Richter, ini berarti
kekuatan gempanya setara dengan 1,5 kali Bom Atom Hirosima.
Akibat pergerakan bumi, gempa kurang dari 2 skala Richter terjadi
sekitar 8000 X/hari di dunia. Itulah salah satu tanda kebesaran
Tuhan, bahwa bumi memang memiliki nyawa sehingga memiliki
tanda-tanda kehidupan, yaitu bergerak.

2.3 Letak Geografis Indonesia

Letak geografis adalah letak suatu negara dilihat dari kenyataan di


permukaan bumi. Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan
dua samudra. Bila kita melihat posisi letak geografis secara menyeluruh,
Indonesia memiliki letak geografis yang menguntungkan karena berada di
persimpangan jalur lalu lintas dunia, baik jalur pelayaran maupun
penerbangan dan berada di antara negara-negara yang sedang berkembang
perekonomiannya. Berikut posisi menguntungkan Indonesia.

1) Indonesia terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia.


2) Indonesia terletak di antara Benua Australia dan Benua Asia.
3) Indonesia terletak di antara Pantai Selatan Afrika dan Benua Amerika.
4) Indonesia terletak di antara Terusan Panama dan Terusan Suez.

Akibat letak geografis Indonesia, maka Indonesia:


1) Mempunyai iklim musim, adanya musim kemarau dan musim hujan.
2) Beriklim laut.
3) Terletak di perempatan lalu lintas dunia.
4) Makin ke arah timur hujan makin makin berkurang.

Secara geografis, Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berada pada


pertemuan 4 lempang tektonik, yaitu lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng
Samudra India, dan lempeng Samudra Pasifik. Di Indonesia bagian selatan dan
timur terbentang rangkaian busur gunung api, yang tersebar mulai dari Sumatra,
Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi. Sebagian besar kepulauan Indonesia ditempati
oleh jalur gunung api dan dataran rendah sedangkan sisanya ditempati oleh
daratan rawa. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang rawan
dan berpotensi terkena bencana, seperti rawan terkena letusan gunung api, gempa
bumi, tsunami, banjir, dan longsor. Berdasarkan data bahwa Indonesia memiliki
tingkat seismisitas yang sangat tinggi diantara Negara-negara didunia, dengan
frekuensi rata-rata leboh dari 10 kali lipat dibandingkan dengan Amerika Serikat
(Arnoid,1986).

Pergerakan lempeng bumi memicu terjadinya gempa bumi yang apabila dibawah
laut seringkali menghasilkan gelombang pasang. Kecenderungan yang tinggi
terhadap pergerakan lempeng tekronik, Indonesia sudah sering terkena bencana
tsunami. Hampir semua tsunami di Indonesia disebabkan oleh gempa bumi
tektonik yang terjadi disepanjang zona tumbukan (subduksi) dan di daerah-daerah
yang seismistasnya aktif. Sejak tahun 1600 hingga tahun 2000 telah terjadi 105
kali tsunami di Indonesia, 90% tsunami tersebut disebabkan oleh gempa bumi
tektonik, 9% disebabkan oleh letusan gunung api, dan 1% oleh longsoran.
Kawasan pantai/pesisir di Indonesia umumnya rawan terhadap tsunami. Daerah-
daerah seperti pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Pantai utara dan selatan
Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, pantai utara Papua dan sebagian besar pesisir
Sulawesi, serta laut Maluku merupakan daerah yang sangat rawan terkena
tsunami. Antara tahun 1600 hingga 2000, sudah terjadi 32 kali tsunami, dimana
28 kali disebabkan oleh gempa bumi dan 4 kali disebabkan oleh letusan gunung
api bawah laut.

Keberadaan Indonesia yang terletak didaerah yang beriklim tropis dan hanya
mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan penghujan serta perubahan cuaca,
temperature, arah angin yang cukup ekstrim menyebabkan Indonesia sangat
rentan terkena bencana geologi. Perpaduan antara keadaan bentang alam dan jenis
bebatuan yang ada dimana secara fisik dan kimiawi berberda menjadikan kondisi
tanah di Indonesia cukup subur disamping berpotensi dan rawan terkena bencana
hidro-meteorologi, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan kekringan.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan juga
semakin bertambah luas dan pada akhirnya dapat menjadi pemicu terjadinya
bencana hidro-meteorologi dengan frekuensi dan intensitas yang semakin tinggi
dibeberapa wilayah Indonesia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor
yang terjadi di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa tempat
lainnya pada tahun 2006.

Meskipun ada usaha-usaha dalam meminimalkan terjadinya degradasi


lingkungan, proses pembangunan di Indonesia juga telah mengakibatkan
rusaknya ekologi dan lingkungan hidup. Pembangunan yang dilaksankan di
Indonesia sejauh ini hanya terfokus pada eksploitasi sumber daya alam (terutama
dalam skala besar) untuk kelangsungan hidup hidup manusia Indonesia. Sumber
daya hutan Indonesia menurun dari tahun ke tahun, sedangkan penambangan
sumber daya mineral telah menyebabkan rusaknya ekosistem dan struktur tanah
serta meningkatkan resiko terkena bencana.
2.4 Siaga Bencana

Penyebutan istilah siaga berkonsekuensi kepada banyak hal. Mulai


dari dampak yang ditimbulkan sampai kepada siapa yang akn mengambil
komando dilapangan. Selain itu, status siaga juga berpengaruh terhadap
petugas piket dalam bertugas dan memberikan laporan.

a. Siaga 1 adalah antisipasi kondisi darurat yang bisa mengancam


keamanan dan ketertiban.
Siaga 1 (bencana) pengamatan TMA dan pemberitaan dilakukan tiap 5
menit sekali.
b. Siaga 2 (awas) adalah pengamatan TMA dan pemberitaan setiap 15
menit.
c. Siaga 3 adalah pengamatan TMA dilakukan tiap 30 menit dengan
pemberitaan setiap 30 menit.
d. Siaga 4 adalah pengamatan TMA dilakukan setiap 1 jam sekali
dengan tahap pemberitaan setiap 1 jam.

Tahapan Siaga Bencana :

1. Normal
Kondisi aman, kondisi keseharian rata-rata dari ancaman yang
diketahui dari berbagai data ilmiah termasuk melalui pengalaman atau
data sejarah perilaku fenomena ancaman tersebut.
2. Waspada
Terjadi peningkatan ancaman dan resiko yang dibuktikan dari hasil
analisis data-data dan informasi ilmiah yang menunjukan aktivitas
ancaman diatas rata-rata dari kondisi normal.
3. Siaga
Terjadi peningkatan ancaman dan risiko yang signifikan tetapi masih
dapat dikendalikan sehingga sewaktu-waktu jika terjadi status
kedaruratan dinaikan pada level tertinggi, maka seluruh sumber daya
dapat segera dikerahkan untuk melakukan penyelamatan dan evakuasi
masyarakat serta pengamanan asset. Tindakan yang dilakukan adalah
dengan mendekatkan sumberdaya ke lokasi aman terdekat dari
skenario ancaman serta memastikan seluruh peralatan dan sistem
pengamanan dan penyelamatan berfungsi dengan baik.
4. Awas
Tingkat ancaman dan resiko sedemikian tinggi sehingga
membahayakan masyarakat. Tindakan yang diambil adalah melaukan
upaya evakuasi.

2.5 Dampak Bencana

Dampak bencana bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini
tergantung pada intensitas bencana, letak permukiman yang terkena dampak,
saat terjadi bencana dan sebagainya. Bencana ini membawa dampak
psikologis, ekonomi, sosial, politik dan dampak ekologis dikalangan
masyarakat. Bencana mengakibatkan penderitaan, kematian, kerusakan dan
kerugian harta benda, gangguan kehidupan/ kegiatan normal, hilangnya mata
pencaharian kebanyakan orang, pengaruh pada kebutuhan dasar seperti
makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

1) Dampak Psikologi
Hal ini mencakup trauma, merasa tidak aman, pikiran negatif, depresi dan
stress. Bencana meninggalkan orang-orang dengan hilangnya anggota
keluarga mereka, cedera, kehilangan mata pencaharian/aset yang
menyebabkan penderitaan mental. Pelatihan relawan dari masyarakat
tentang konseling psikososial akan memungkinkan mereka untuk
berkonstribusi secara efektif selama bencana.
2) Dampak Ekonomi
Masyarakat cenderung untuk mencari dan membangun tempat tinggal
yang dekat dengan aktivitas kehidupannya. Seringkali bencana
mengakibatkan kerusakan kehidupan, mata pencaharian, tempat tinggal
dan aset mereka. Ketahanan terhadap bencana dalam konteks ekonomi
tergantung pada pengetahuan tradisional, keterampilan yang sesuai dan
ketersediaan sumber daya yang bekaitan dengan daerah dan aktivitas
tertentu.
3) Dampak Sosial
Bencana (yang masif) yang disamping menimbulkan korban jiwa juga
dapat menghancurkan ‘peradaban’ suatu komunitas.
4) Dampak Politik
Responsivitas otoritas terhadap bencana yang lamban, sebagai misal, akan
menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat-korban kepada pemerintah.
Mereka yang terdampak bencana dapat beranggapan bahwa pemerintah
tidak menjalankan tanggung jawab/ tugasnya dalam memberikan
perlindungan kepada warganya.
5) Dampak Ekologis
Bencana sering mengancam keanekaragaman hayati dan menciptakan
kerugian besar begi ekologi. Hal ini mengakibatkan kerugian berat di
sektor kehutanan dan pertanian. Partisipasi masyarakat memungkinkan
untuk melaksanakan program dalam rangka konservasi ekosistem.

2.6 Tahapan Disaster


Disaster atau bencana dibagi menjadi beberapa tahap :
1. Tahap Pra disaster (preimpact)

Tahap ini dikenal juga sebagai pra bencana, durasi waktunya mulai
saat sebelum terjadi bencana sampai tahap serangan/ impact. Informasi
didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca. Seharusnya pada fase
inilah segala persiapan dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga, dan
warga masyarakat. Tahap ini dipandang oleh para ahli sebagai tahap yang
sangat strategis karena pada tahap prabencana ini masyarakat perlu dilatih
tanggap terhadap bencana yang akan dijumpainya kelak. Latihan yang
diberikan kepada petugas dan masyarakat akan berdampak kepada jumlah
besarnya korban saat bencana menyerang/ Impact, peringatan dini
dikenalkan pada masyarakat pada tahap pra bencana.
Dengan pertimbangan bahwa, yang pertama kali menolong saat
terjadi bencana adalah masyarakat awam atau awam khusus (first
responder), maka msyarakat awam khusus perlu segera dilatih oleh
pemerintah kabupaten kota. Latihan yang perlu diberikan oleh masyarakat
awam khusus dapat berupa : kemampuan minta tolong, kemapuan
menolong diri sendiri, menentukan arah evakuasi yang tepat, memberikan
pertolongan serta melakukan transportasi.

Penanggulangan bencana tahun 2007 yaitu :

1) Pemda Kabupaten/Kota menjadi penanggung jawab utama


penyelenggaraan penanggulangan bena di wilayahnya.
2) Pemda Provinsi segera merapat ke daerah bencana memberikan
dukungan serta mengarahkan seluruh sumberdaya yang ada di tingkat
provinsi jika diperlukan
3) Pemerintah memberi bantuan sumberdaya yang secara ekstream tidak
tertangani daerah.
4) Libatkan TNI dan POLRI
5) Lakasanaka secara dini.

2. Tahap Serangan atau Saat terjadi bencana (Impact)

Pada tahap serangan/ terjadinya bencana (Imphase), waktunya bisa


terjadi beberapa detik sampai beberapa minggu atau bahkan bulan. Inilah
saat-saat dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup
(survive). Fase impact ini terus berlanjut hingga terjadi kerusakan dan
bantuan-bantuan darurat dilakukan dimana serangan dimulai saat bencana
menyerang sampai serangan bencana berhenti. Waktu serangan yang
singkat misalnya: Serangan angin puting beliung, serangan gempa di
Jogjakarta atau ledakan bom, waktunya hanya beberapa detik saja tetapi
kerusakannya bisa sangat dasyat. Waktu serangan yang lama misalnya:
Saat serangan tsunami di Aceh terjadi secara periodik dan berulang-ulang,
serangan semburan lumpur lapindo sampai setahun lebih bahkan sampai
sekarang belum berhenti yang mengakibatkan jumlah kerugian yang
sangat besar.

Pada saat terjadi serangan sampai serangan berhenti belum ada


petugas tetapi yang ada adalah masyarakat korban, masyarakat awam dan
awam khusus. Masyarakat yang menjadi korban saat terjadi serangan bila
di persiapkan sejak tahap pra disaster maka korbannya tidak sebanyak bila
di persiapkan dengan cermat.

Mencermati serangan bencana yang tidak pernah terduga maka


yang paling bijak adalah melatih masyarakat, masyarakat awam dan
masyarakat awam khusus seperti : pramuka, karang taruna, pemuda
masjid, guru, satpam, petugas ambulan, petugas pemadam kebakaran atau
polisi. Dengan fokus utama mempersiapkan masyarakat tersebut maka
keuntungan yang dapat diperoleh yaitu : meminimalisir umlah korban
karena mereka sudah memahami cara perlindungan saat terjadi serangan
bencana, mereka yang selamat yang akan menolong korban untuk pertama
kali sehingga korban dapat di tolong dengan cepat dan tepat. Dengan
demikian akan mengurangi beban pemerintah provinsi ataupun pusat.

3. Tahap Emergency

Tahap emergency dimulai sejak berakhirnya serangan bencana


yang pertama, bila serangan bencana terjadi secara periodik seperti di aceh
dan lumpur lapindo sampai teradinya rekontruksi. Tahap emergensi bisa
terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada tahap emergensi
hari-hari minggu pertama yang menolong korban bencana adalah
mayarakat awam atau awam khusus yaitu masyarak dari lokasi dan sekitar
tempat bencana.

Karakteristik korban pada tahap emergency minggu pertama


adalah : korban dengan masalah Airway dan Breathing (Jalan nafas dan
pernafasan), yang sudah ditolong dan berlanjut ke masalah lain, korban
dengan luka sayat, luka tusuk, terhantam benda tumpul dan patah tulang
ekstremitas dan tulang belakang, trauma kepala, luka bakar bila diledakan
bom atau gunung api atau ledakan pabrik kimia atau nuklir atau gas. Pada
minggu kedua dan selanjutnya, karakteristik korban mulai berbeda karena
terkait dengan kekurangan makanan, sanitasi lingkungan dan air bersih
atau personal hygiene. Masalah kesehatan dapat berupa sakit lambung
(mag), diare, kulit, malaria atau penyakit akibat gigitan serangga.

Petugas kesehatan atau bencana paling cepat datang pada hari ke


dua, itu pun bila transportasi tidak terputus dan bekal yang di bawa cukup
untuk menolong korban. Sehingga dapat dipastikan korban bencana
dengan masalah Airway-Breathing (A-B) ataupun Circulation (C) sedang-
berat sudah meninggal. Karena korban dengan masalah ABC butuh waktu
paling lama 10-15 menit, dan bila tidak ditolong dalam waktu maksimal
15 menit mereka akan meninggal.

Pada tahap emergency ini, korban memerlukan bantuan dari tenaga


medis spesialis, perawat gawat darurat, awam khusus yang terampil dan
tersertifikasi. Diperlukan bantuan obat-obatan, balut biday dan alat
evakuasi, alat transportasi yang efesien dan efektif, alat komunikasi,
makan, pakaian, dan lebih khusus pakaian anak-anak. Diperlukan rumah
sakit lapangan dapur umum dan menejemen perkemahan yang baik agar
kesegaran udara dan sanitasi lingkungan terpelihara dengan baik.

4. Tahap Rekonstruksi (postimpact)

Saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari fase darurat,


juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali pada fungsi
komunitas normal. Secara umum dalam fase postimpact ini para korban
akan mengalami tahap respon psikologis mulai penolakan, marah, tawar-
menawar, depresi hingga penerimaan.

Pada tahap ini mulai dibangun tempat tinggal, sarana umum seperti
sekolah, sarana ibadah, jalan, pasar atau tempat pertemuan warga. Pada
tahap rekonstruksi ini yang dibangun tidak saja kebutuhan fisik tetapi yang
lebih utama yang perlu kita bangun kembali adalah budaya. Kita perlu
melakukan rekonstruksi budaya, melakukan orientasi nila-nilai dan norma-
norma hidup yang lebih baik yang lebih beradab. Dengan melakukan
rekonstruksi budaya kepada masyarakat korban bencana, kita berharap
kehidupan mereka lebih baik dibanding sebelum terjadi bencana.

faktor- faktor yang menimbulkan bencana

Bencana alam sering melanda negeri kita ini, bencana pun sering
tiba-tiba, kapan pun bisa selalu mengancam kita semua. Indonesia sering
terjadi bencana alam karena negara Indonesia terletak di antara dua
samudera dan dua benua. Pada daerah transform fault aktivitas gempa
bumi banyak terjadi akibat pergeseran kerak bumi yang berlangsung
secara terus menerus sehingga lempeng kerak bumi terpecah – pecah.

Karena lempeng-lempeng itu ada diatas lapisan cair, panas, dan


plastis( astenosfer) maka lempeng-lempeng menjadi dapat bergerak secara
tidak beraturan sehingga dapat terjadi tabrakan antara dua lempeng
tersebut dan salah satu lempeng itu akan menusuk bagian bawah lempeng
yang lain. Daerah perbatasan kedua lempeng yang bertabrakan itu menjadi
tempat terbentuknya gunung dan pegunungan. Bencana alam pun bisa
terjadi karena adanya. Bentuk – bentuk kerusakan lingkungan hidup
disebabkan oleh faktor alam,faktor manusia atau gabungan antara faktor
kedua tersebut.

A. Kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam :

1. Gunung meletus

Gunung meletus (erupsi) adalah aktivitas gunung berapi yang


mengeluarkan material berupa bahan padat, cair, dan gas dari dapur
magma ke permukaan bumi. Ketika gunung berapi meletus, gunung
berapi juga mengeluarkan gas–gas seperti gas belerang(solfatar), gas
asam arang atau gas beracun ( mofet / CO2), gas uap air (fumarol /
H2O) ,dan awan pijar yang sangat panas. Beberapa bentuk kerusakan
yang ditimbulkan oleh gunung meletus antara lain:

1) Mengakibatkan kekurangan sumber air bersih karena tercemar


oleh debu dan lumpur.

2) Menimbulkan kebakaran hutan dan tumbuhan disekitarnya

3) Menimbulkan banyak korban manusia, hewan, dan tumbuhan

4) Menimbulkan polusi udara dan jarak pandang penerbangan

5) Mengakibatkan kerusakan lahan pertanian dan area pemukiman


akibat banjir lahar panas dan lahar dingin

6) Kerusakan lingkungan akibat gempa bumi vulkanik.

1. Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran atau pergerakan lapisan akibat


tenaga dalam bumi, yang dapat berupa gempa vulkanik, tektonik dan
gempa runtuhan (terban). Beberapa bentuk kerusakan akibat gempa
bumi :

1) Runtuhnya rumah, gedung-gedung, jembatan, dan terputusnya


jalan raya.

2) Rusaknya sarana dan prasarana, kegitan ekonomimasyarakat dan


kegiatan ekonomi

3) Rusak serta hancurnya areal pertanian, perkebunan, dan perikanan

4) Timbulnya kebocoran atau jebolnya tanggul yang dapat


mengakibatkan banjir

5) Munculnya bencana kebakaran setelah gempa.


2. Kemarau panjang

Kemarau panjang adalah suatu penyimpangan iklim/musim


yang menimpa suatu daerah sehingga mengakibatkan waktu musim
kemarau lebih lama dari semestinya. Kemarau panjang dapat
menimbulkan kerusakan sumber daya lingkungan hidup seperti berikut
:

1) Sumur dan sumber air menjadi kering

2) Hutan terbakar akibat kekeringan

3) Sungai, danau, dan areal pertanian menjadi kering

4) Gagal panen bagi petani sawah tadah hujan akibat kekeringan

5) Tumbuhan dan padang rumput banyak yang mati sehingga


mengancam usaha pertanian.

3. Tanah longsor

Tanah longsor secara alami adalah suatu gerakan atau rayapan


tanah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan volume yang besar
sebagai akibat perubahan gaya atau goncangan gempa. Tanah longsor
dapat menimbulkan kerusakan diantaranya :

1) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan

2) Terputusnya jalan raya, sungai , dan jembatan

3) Dangkalnya danau dan jebolnya tanggul

4) Terputusnya jaringan listrik dan instalasi air minum.

4. Banjir karena faktor alam

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya


kering oleh air yang berasal dari sumber-sumber air yang ada
disekitarnya seperti meluapnya air sungai ke lingkungan sekitar akibat
curah hujan yang tinggi. Banjir dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup :

1) Rusaknya areal pemukiman penduduk

2) Sulitnya mendapatkan air bersih

3) Rusaknya sarana dan prasarana penduduk

4) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan serta peternakan

5) Rusaknya jaringan transportasi,instalasi air minum, dan jaringan


telekomunikasi.

B. Kerusakan Lingkungan Karena Faktor Manusia

Kerusakan lingkungan hidup yang mengancam kelangsungan dan


kelestariaan hayati sebagian besar disebabkan oleh factor kecerobohan
manusia. Banyak manusia yang sangat serakah akan hasil alam yang
sangat melimpah dibumi ini, sehingga banyak oknum jahat dan tangan-
tangan jail yang tidak bertanggung jawab akan lingkungan alam, karena
tidak bertanggung jawab akan perbuatannya,maka lingkungan alam kita
sekarang ini menjadi rusak dan banyak makan korban akibat perbuatan
yang tidak terpuji ini,seharusnya kita sebagai khalifah di muka bumi ini
harus menjaga dengan baik titipan dari Allah SWT bukan malah
merusaknya begitu saja dan tidak bertanggung jawab sehingga dapat
merusak lingkungan alam yang ada di bumi ini. Beberapa bentuk
kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia :

1. Lahan kritis

Lahan kritis adalah suatu lahan yang tandus karena unsur hara
atau kesuburannya sangat sedikit bahkan sudah hilang sama sekali.
Contoh terjadinya lahan kritis akibat aktivitas manusia :
- Lahan kritis karena pengaruh limbah industry

- Lahan kritis karena penebangan hutan secara liar

- Lahan kritis karena pengambilan hasil tambang yang berlebihan

- Lahan kritis karena system lading berpindah dengan cara


membakar hutan

- Lahan kritis karena fungsi tanah yang tidak tepat.

2. Banjir

Selain faktor alam,terjadinya banjir dapat dipicu oleh aktivitas manusia


:

- Penggundulan hutan secara besar-besaran

- Membuang sampah disembarang tempat sehingga aliran


permukaan dari hujan tidak lancer

- Munculnya bangunan liar didaerah aliran sungai dan bantaran


sungai

- Akibat perubahan fungsi rawa-rawa yang semula penampungan air


kini menjadi pemukiman penduduk

- Sistem hutan bakau yang rusak karena ditebang oleh manusia.

3. Pencemaran

Pencemaran atau polusi adalah berubahnya keadaan alam


karena unsur-unsur tertentu sehingga menimbulkan gangguan terhadap
kualitas lingkungan hidup bahkan merusak ekosistem. Ada beberapa
jenis pencemaran yaitu :

- Pencemaran udara

- Pencemaran suara
- Pencemaran air

- Pencemaran tanah

4. Degradasi lingkungan

Degradasi lingkungan adalah kerusakan lingkungan atas


penurunan kualitas lingkungan sebagai akibat pengambilan dan
pemanfaatan sumber daya alam secara berlabihan dan di luar ambang
batas. Bentuk degradasi lingkungan yang diskibatkan oleh manusia :

- Abrasi pantai akibat penebangan hutan bakau secara liar

- Penambangan pasir dan batu serta penimbunan liar yang tak


terkendali

- Instrusi air laut kedaratan sebagai akibat pengambilan air tanah


secara berlebihan

- Kerusakan terumbu karang akibat penangkapan ikan dengan bahan


peledak

- Kerusakan lingkungan pantai akibat reklamasi pantai yang tidak di


ikuti dengan perhitungan kelestarian alam.

(Sumber : IPS terpadu, Tim Abdi Guru, penerbit Erlangga, halaman 82-88)

8. Siapa yang terlibat dalam proses kebencanaan

Secara geografis dan struktur geologi, Indonesia terletak pada


kawasan rawan bencana, baik bencana alam seperti gempa bumi, banjir,
tanah longsor, letusan gunung berapi, badai, tsunami, kebakaran hutan dan
lahan, maupun bencana non alam seperti kegagalan teknologi, gagal
modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit. Untuk menanggulangi
bencana, Pemerintah telah membentuk Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) di tingkat nasional dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) di tingkat daerah.

Logistik mempunyai peran penting dalam upaya penanggulangan


bencana, terutama pada saat prabencana, kesiapsiagaan, dan respon
penanganan bencana, untuk dapat memastikan tujuh tepat, yaitu: (1) tepat
jenis bantuan barang; (2) tepat kuantitas; (3) tepat kualitas; (4) tepat
sasaran; (5) tepat waktu; (6) tepat pelaporan; dan (7) tepat biaya.
Pengelolaan logistik yang efektif, efisien, dan andal menjadi faktor
penting dalam penanggulangan bencana.

Bencana dan tindakan destruktif menuntut upaya logistik yang


lebih tinggi dalam hal pengetahuan dan biaya karena kejadian bencana
mendadak memerlukan respon yang sangat cepat di daerah-daerah yang
hancur. Berbagai jenis bencana perlu dikelola dengan cara pendekatan
solusi yang berbeda. Logistik adalah unsur yang paling penting dalam
setiap upaya bantuan kemanusiaan atau bantuan bencana dan bagaimana
cara kita mengelola logistik bantuan kemanusiaan akan menentukan
apakah operasi penanggulangan bencana tersebut sukses atau gagal (Van
Wassenhove, 2006). Namun demikian, logistik juga menjadi aktivitas
yang paling mahal dari setiap bantuan bencana. Berdasarkan studi,
diperkirakan bahwa biaya logistik untuk penanggulangan bencana sekitar
80% dari total biaya dalam bantuan bencana (Van Wassenhove, 2006).

Manajemen logistik untuk penanggulangan bencana dikenal


dengan logistik kemanusiaan (humanitarian logistics) atau sering disebut
juga dengan logistik bantuan kemanusiaan. Logistik kemanusiaan
merupakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian aliran
bantuan kemanusiaan secara efisien, hemat biaya dan penyimpanan
bantuan kemanusiaan serta informasi terkait, dari titik asal ke titik
konsumsi untuk tujuan mengurangi penderitaan korban bencana (Thomas
dan Kopczak, 2005).
Dalam konteks bencana, tentu penting untuk memastikan
pengiriman bantuan kemanusiaan yang efisien dan efektif, sehingga
kebutuhan jenis bantuan kemanusiaan yang sesuai dan relawan dapat
mencapai ke lokasi korban dengan cepat dan tepat. Optimalisasi kinerja
logistik bantuan kemanusiaan mensyaratkan bahwa semua hubungan
antara pihak atau pelaku yang terlibat dalam penanggulangan bencana
dikelola melalui pendekatan terpadu secara efisien dan efektif dalam
mengkoordinasikan kinerja antar-organisasi, menghilangkan redundansi,
dan memaksimalkan efisiensi seluruh rantai pasok darurat.

Lingkup Logistik Bantuan Kemanusiaan

Manajemen bencana sering digambarkan sebagai proses yang terdiri dari


beberapa tahap, yaitu:

1) Mitigasi

2) Persiapan

3) Respon

4) Rekonstruksi

Keempat tahapan itu merupakan siklus manajemen bencana. Fokus pada


logistik dan manajemen rantai pasokan, proses yang melibatkan logistik terutama
menyangkut persiapan, respon, dan rekonstruksi secara bersama-sama merupakan
aliran logistik kemanusiaan.

Tahapan mitigasi mengacu pada identifikasi dan sistem hukum, sosial, dan
infrastruktur untuk mengurangi dampak risiko bencana. Mitigasi bencana
berhubungan dengan tanggung jawab pemerintah dan tidak melibatkan partisipasi
langsung logistik.

Tahapan persiapan mengacu pada berbagai operasi yang terjadi selama


periode sebelum bencana terjadi. Tahap ini menggabungkan berbagai strategi
yang memungkinkan pelaksanaan respon operasional penanggulangan bencana
yang sukses. Tahapan ini sangat penting karena untuk menghindari konsekuensi
kemungkinan bencana. Tahapan ini juga mencakup upaya yang dibuat dan
pengalaman dalam beradaptasi dari kejadian bencana di masa lalu sehingga dapat
memenuhi tantangan baru.

Tahapan respon mengacu pada berbagai operasi yang langsung


diimplementasikan setelah bencana terjadi. Pada tahap respon, koordinasi dan
kolaborasi antara semua pihak yang terlibat dalam darurat bantuan kemanusiaan
perlu dilakukan. Tahapan ini memiliki dua tujuan utama (Cozzolino et al, 2012),
yaitu:

Tujuan pertama adalah untuk segera merespon dengan mengaktifkan


jaringan sementara atau jaringan darurat;

Tujuan kedua adalah untuk mengembalikan dalam waktu sesingkat


mungkin layanan dasar dan pengiriman barang ke penerima bantuan bencana;.

Tahap rekonstruksi mengacu pada operasi yang berbeda setelah terjadinya


bencana. Tahapan ini melibatkan rehabilitasi dan bertujuan untuk mengatasi
masalah dampak bencana dari perspektif jangka panjang. Efek dari bencana dapat
terus berdampak untuk jangka waktu yang panjang dan memiliki konsekuensi
parah pada penduduk yang terkena bencana.

Dalam penanggulangan bencana, logistik memainkan peran penting.


Logistik memberikan layanan antara kesiapsiagaan dengan penanggulangan
bencana, antara pengadaan dan distribusi bantuan kemanusiaan dengan peralatan,
antara BNPB dengan BPBD, dan logistik juga memainkan peran penting dalam
efektivitas dan tanggap dalam hampir semua program bantuan kemanusiaan,
seperti: kesehatan, makanan, shelter, air, dan sanitasi.

Logistik Penanggulangan Bencana

Logistik bantuan kemanusiaan mencakup beberapa aktivitas dan


melibatkan banyak pihak, mulai dari aktivitas persiapan, perencanaan, pengadaan,
transportasi & distribusi, penyimpanan, tracking, dan pelalubeaan (customs
clearance). Umumnya para pihak yang terlibat dalam serangkaian aktivitas rantai
pasok bantuan kemanusian, antara lain:

- Donor dari dalam negeri maupun luar negeri, donor dari


pemerintah, perusahaan, warga, maupun NGO.

- NGO nasional, PMI, dan BNPB/BPBD.

- Penyedia jasa transportasi: darat, udara, laut, sungai, dan kereta


api.

- Penyedia jasa pergudangan.

- Perusahaan pengurusan jasa transportasi (freight forwarding).

- Bea cukai.

- Penerima bantuan.

Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 13 Tahun


2008 tentang Pedoman Manajemen Logistik dan Peralatan Penanggulangan
Bencana telah menetapkan bahwa proses manajemen logistik dalam
penanggulangan bencana ini meliputi delapan tahapan sebagai berikut:

- Perencanaan kebutuhan bantuan kemanusiaan.

- Pengadaan dan penerimaan bantuan kemanusiaan.

- Pergudangan dan/atau penyimpanan bantuan kemanusiaan.

- Perencanaan pendistribusian bantuan kemanusiaan.

- Pengangkutan bantuan kemanusiaan.

- Penerimaan bantuan kemanusiaan di tujuan.

- Penghapusan bantuan kemanusiaan.

- Pertanggungjawaban.
Pemahaman terhadap manajemen rantai pasok merupakan hal penting
dalam mengelola logistik bantuan kemanusiaan. Delapan tahapan manajemen
logistik bantuan kemanusiaan tersebut dilaksanakan secara keseluruhan menjadi
satu sistem terpadu. (Sumber: SCI-Artikel Manajemen Logistik Penanggulangan
Bencana (Bagian #1)
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Disaster (Bencana) adalah Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusuhan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
Terdapat beberapa jenis bencana, diantaranya adalah:
a. Bencana Alam, dimana bencana ini disebabkan oleh alam (banjir,
gempa bumi, tsunami, gunung meletus banjir kekeringan,angin topan
dan tanah longsor)
b. Bencana Non Alam, dimana bencana ini adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam (gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit)

Sebagai suatu rangkaian peristiwa yang berpotensi mengancam,


bencana memerlukan persiapan sedini mungkin sehingga hal yang akan
terjadi dapat terpantau dengan baik. Salah satunya adalah penentuan Siaga
Bencana dimana terdapat 4 tahapan yaitu: Normal, Waspada, Siaga dan Awas
sebagai tahapan terakhir.
Secara geografis, Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berada
pada pertemuan 4 lempang tektonik, yaitu lempeng Asia, lempeng Australia,
lempeng Samudra India, dan lempeng Samudra Pasifik. Di Indonesia bagian
selatan dan timur terbentang rangkaian busur gunung api, yang tersebar mulai
dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi. Sebagian besar kepulauan
Indonesia ditempati oleh jalur gunung api dan dataran rendah sedangkan
sisanya ditempati oleh daratan rawa. Kondisi ini menempatkan Indonesia
sebagai wilayah yang rawan dan berpotensi terkena bencana, seperti rawan
terkena letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor.
Melihat dari kondisi bencana yang bisa merusak berbagai faktor,baik
pemerintah, petugas pemerintahan, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan dan
masyarakat tentunya harus bekerja sama dalam penanganan dampak bencana
yang akan terjadi. Dampak bencana bisa bervariasi tergantung pada intensitas
bencana, letak pemukiman yang terkena. Bencana ini dapat membawa
dampak psikologis, ekonomi, sosial politik dan dampak ekologis di kalangan
masyarakat.
Dengan tahapan disaster yang ada 4, yaitu Tahapan Pra Disaster,
Tahapan Serangan, Tahapan Emergency dan Tahapan Rekonstruksi,
pemerintah perlu melatih masyarakat karena masyarakat itu sendiri
dikondisikan sebagai first responder. Hingga tahapan pemulihan merupakan
tugas dari pemerintah,petugas-petugas terkait dan masyarakat untuk
melakukan rekonstruksi budaya pasca bencana sehingga timbul harapan
masyarakat akan memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding sebelum
terjadi bencana.

3.2 Saran
1. Pemerintah bertanggung jawab untuk melakukan pelatihan kepada
masyarakat terutama mengenai penanggulangan bencana pada tahap
awal.
2. Sebagai petugas kesehatan kita wajib melakukan pelatihan-pelatihan
terutama dalam penanggulangan bencana agar tercipta petugas yang
kompeten dan terampil saat bencana terjadi
3. Sebagai manusia yang mendiami bumi ini, kita wajib ikut menjaga dan
melestarikan ekosistem dan lingkungan hidup agar bencana yang berasal
dari eksploitasi sumber daya alam dapat diminimalisir.