Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Imunitas adalah kekebalan yang dikaitkan dengan adanya antibodi atau sel yang
mempunyai tanggap kebal terhadap mikroorganisme dari penyakit infeksi tertentu atau
terhadap toksinnya (Kadri, 2010). Begitu antibodi tanggap pada permukaan
mikroorganisme yang menyerang, serangkaian protein plasma yang disebut komplemen
akan teraktivasi. Protein komplemen ini mampu menghancurkan penyerang tersebut
(Ripani, 2010).
Komplemen adalah bahan larut humoral yang berperanan dalam imunitas nonspesifik.
Komplemen termasuk salah satu sistem enzim serum yang berfungsi dalam inflamasi,
opsonisasi dan kerusakan (lisis) membran patogen. Dewasa ini, ada sekitar 20 jenis
protein yang berperang dalam sistem komplemen (Baratawidjaja, 2004).
Komplemen berupa molekul dari sistem imun nonspesifik larut dalam keadaan tidak
aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti toksin (LPS) bakteri. Komplemen
dapat juga berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap waktu dapat diaktifkan
kompleks imun. Hasil aktivasi tersebut menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai
sifat biologik aktif dan beberapa diantaranya merupakan enzim untuk reaksi berikutnya.
Produk lainnya berupa protein pengontrol dan beberapa lainnya tidak mempunyai
aktivitas enzim. Aktivasi komplemen merupakan usaha tubuh untuk menghancurkan
antigen asing (proteksi), namun sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga
merugikan tubuh sendiri (Baratawidjaja, 2004).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang yang dimaksud dengan komplen ?
1.2.2 Apa saja mediator yang dilepas komplemen ?
1.2.3 Bagaimana proses aktivasi komplemen ?
1.2.4 Apa saja reseptor-reseptor komplemen ?
1.2.5 Bagaimana fungsi biologis komplemen ?
1.2.6 Bagaimana regulator-inhibitor komplemen ?
1.2.7 Bagaimana akibat dari defisiensi komplemen ?

1.3 Tujuan Laporan


1.3.1 Untuk mengetahui definisi komplemen.
1.3.2 Untuk mengetahui mediator yang dilepas komplemen.
1.3.3 Untuk mengetahui ativasi komplemen.
1.3.4 Untuk mengetahui reseptor komplemen.
1.3.5 Untuk mengetahui fungsi biologis komplemen.
1.3.6 Untuk mengetahui regulator-inhibitor komplemen.
23 Juni 2015
1
1.3.7 Untuk mengetahui akibat dari defisiensi komplemen.

23 Juni 2015
2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Komplemen


Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah protein yang berperan
dalam pertahanan pejamu, baik dalam sistem imun nonspesifik atau sistem imun spesifik.
Komplemen merupakan salah satu sistem enzim serum yang berfungsi dalam inflamasi,
opsonisasi, atau kerusakan (lisis) membran patogen. Dewasa ini diketahui sekitar 20 jenis
protein yang berperan dalam sistem komplemen (Baratawidjaja, 2004).
Komplemen merupakan molekul larut sistem imun nonspesifik dalam keadaan tidak
aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti LPS bakteri. Komplemen dapat juga
berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap waktu dapat diaktifkan kompleks imun.
Hasil aktivasi tersebut menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologi
aktif dan berapa di antaranya merupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Produk lainnya
berupa protein pengontrol dan beberapa lainnya tidak mempunyai aktivitas enzim.
Aktivitas komplemen merupakan usaha tubuh untuk menghancurkan antigen asing,
namun sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga merugikan tubuh sendiri
(Baratawidjaja, 2004).
Ada 9 komponen dasar komplemen yaitu C1 samapi C9 yang bila diaktifkan, dipecah
menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (C3a, C4a dan sebagainya). Fragmen yang
besar dapat berupa enzim tersendiri dan mengikat serta mengaktifkan molekul lain.
Fragmen tersebut dapat juga berinteraksi dengan inhibitor yang menghentikan reaksi
selanjutnya. Komplemen sangat sensitif terhadap sinyal kecil, misalnya jumlah bakteri
yang sangat sedikit sudah dapat menimbulkan reaksi beruntun yang biasanya
menimbulkan respons lokal.
Unsur pokok sistem komplemen diwujudkan oleh sekumpulan komponen protein
yang terdapat di dalam serum. Protein-protein ini dapat dibagi menjadi protein fungsional
yang menggambarkan elemen dari berbagai jalur, dan protein pengatur yang
menunjukkan fungsi pengendalian. Komplemen sebagian besar disintesis di dalam hepar
oleh sel hepatosit, dan juga oleh sel fagosit mononuklear yang berada dalam sirkulasi
darah.

23 Juni 2015
3
Komplemen C l juga dapat di sintesis
oleh sel epitel lain diluar hepar.
Komplemen yang dihasilkan oleh sel
fagosit mononuklear terutama akan
disintesis ditempat dan waktu terjadinya
aktivasi.
Komponen C3 mempunyai fungsi
sangat penting pada aktivasi komplemen,
baik melalui jalur klasik maupun jalur
alternatif. Konsentrasi C3 jauh lebih besar
dibandingkan dengan fraksi lainnya, hal
ini menempatkan C3 pada kedudukan

yang penting dalam pengukuran kadar


komplemen di dalam serum. Penurunan
kadar C3 di dalam serum dapat dianggap
menggambarkan keadaan konsentrasi
komplemen yang menurun.

23 Juni 2015
4
Juga penurunan kadar C3 saja dapat dipakai sebagai gambaran adanya aktivasi pada sistem
komplemen (Judarwanto, 2009).

Aktivasi komplemen menghasilkan sejumlah molekul efektor antara lain


anafilaktoisin, kemotaksin, adherens imun, opsonin dan membrane attack complex yang
mempunyai efek biologik (Baratawidjaja, 2004).

2.2 Mediator Yang Dilepas Komplemen


Sistem komplemen terdiri atas sejumlah protein serum yang tidak tahan panas.
Komponen komplemen biasanya ditemukan dalam bentuk prekursor inaktif larut yang
bila diaktifkan, menghasilkan komponen komplemen yang dapat bekerja sebagai enzim,
mengikat beberapa molekul komponen berikutnya dan menimbulkan reaksi beruntun
berupa kaskade. Aktivasi komplemen menghasilkan sejumlah molekul efektor yang
mempunyai efek biologi dan peran dasar pada :
 lisis sel, bakteri dan virus
 opsonisasi yang meningkatkan fagositosis partikel antigen
 mengikat reseptor komplemen spesifik pada sel sistem imun sehingga memacu
fungsi sel spesifik, inflamasi dan sekresi molekul imunoregulatori
 menyingkirkan kompleks imun dari sirkulasi dan mengendapkannya di limpa dan
hati. Contohnya pada penderita LES yang memproduksi sejumlah besar kompleks
imun yang menunjukkan kerusakan jaringan (Gambar 2.2.1).

Gamb
ar 2.2.1. Berbagai efek sistem komplemen

Protein komplemen dalam serum dan yang diikat reseptor pada membran berperan dalam
sejumlah respons imun seperti lisis asing oleh antibodi (ADCC), opsonisasi antigen, bakteri
23 Juni 2015
5
oleh fagosit, aktivasi respons inflamasi dan pembersihan kompleks imun dalam sirkulasi oleh
hati dan limpa.

2.3 Ativasi Komplemen


Sistem komplemen dapat diaktifkan melalui 3 jalur lektin, jalur klasik, dan jalur
alternatif. Jalur klasik diaktifkan oleh kompleks imun sedang jalur alternatif dan jalur
lektin tidak. Jalur lektin diawali dengan pengenalan manosa dari karbohidrat membran
patogen oleh lektin dan jalur alternatif diawali oleh pengenalan permukaan sel asing
meskipun aktivasi sistem komplemen diawali oleh tiga jalur yang berbeda , namun semua
jalur berakhir dalam produksi C3b. Pada tingkat akhir dari semua jalur dibentuk MAC
(Gambar 3). Perbandingan antara jalur klasik dan alternatif terlihat pada tabel 2.3.1.

Tabel 2.3.1. Perbandingan antara jalur klasik dan jalur alternatif

Jalur klasik Jalur alternatif

Imunitas spesifik Imunitas nonspesifik

Dimulai oleh antibodi Dimulai oleh dinding sel bakteri

Biasanya diikat antigen

Memerlukan interaksi dengan dan C2 Tidak memerlukan komponen C1, C4

Semua komponen mayor

Tiga fase Tiga fase

 Fase inisiasi  Fase inisiasi


 Fase amplifikasi  Fase amplifikasi
 Fase membran attack  Fase membran attack

23 Juni 2015
6
Gambar 2.3.1. Jalur aktivasi komplemen
Jalur klasik diawali bila C1 berikatan dengan kompleks antigen – antibodi. Jalur alternatif
diawali dengan pembentukan C3b spontan yang berikatan dengan permukaan aktif seperti
dinding sel mikroba. Jalur lektin diawali dengan ikatan MBL dalam serum dengan
permukaan patogen. Ketiga jalur reproduksi C3b dan C5b yang selanjutnya diubah
menjadi MAC melalui urutan umum dari reaksi terminal.

A. Aktivasi komplemen jalur lektin


Lektin adalah protein larut yang mengenal dan mengikat residu manosa dari hidrat
arang yang merupakan bagian dinding sel mikroba. Oleh karena itu jalur lektin
disebut jalur MBL atau jalur ikan manan. Lektin adalah golongan famili kolektin,

23 Juni 2015
7
yang merupakan protein fase akut dan kadarnya meningkat pada respons inflamasi.
Aktivasi jalur lektin diawali oleh terjadinya kaftan antara polisakarida mikroba
dengan lektin dalam sirkulasi. Seperti halnya dengan C1q, MBL mengaktifkan
kompleks enzim C1r-C1s atau sein esterase yang lain yang disebut mannose binding
protein-associated serine-esterase. Sesudah itu, semua tahap jalur lektin adalah sama
dengan jalur klasik melalui C4.

B. Aktivasi komplemen jalur klasik


Penggunaan istilah klasik berdasarkan penemuannya yang pertama kali, meskipun
aktivasi jalur klasik terjadi sesudah jalur lainnya. Altivasi komplemen melalui jalur
klasik dimulai dengan dibentuknya kompleks antigen – antibodi larut atau dengan
ikatan antibodi dan antigen pada sasaran yang cocok, seperti sel bakteri. Aktivasi jalur
klasik dimulai dengan C1 yang dicetuskan oleh kompleks imun antibodi dan antigen.
IgM yang memiliki lima Fc mudah diikat oleh C1. Meskipun C1 tidak
mempunyai sifat enzim, namun setelah berikatan dengan Fc, dapat mengaktifkan C4
dan C2 yang selanjutnya mengaktifkan C3. IgM dan IgG1, IgG2, IgG3 (IgM lebih
kuat dibandingkan dengan IgG) yang membentuk kompleks imun dengan antigen,
dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik. Jalur klasik melibatkan 9
komplemen protein utama yaitu C1-C9. Selama aktivasi, protein-protein tersebut
diaktifkan secara berurutan. Produk yang dihasilkan menjadi katalisator dalam reaksi
berikutnya. Jadi stimulus kecil dap menimbulkan reaksi aktivasi komplemen
berurutan. Lipid A dari endotoksin, protese, kristal urat, polinukleotide, membran
virus tertentu dan CRP dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik.
Permukaan patogen tidak memiliki inhibitor komplemen. Setip sel yang tidak
dilindungi oleh inhibitor komplemen akan diserang oleh komplemen. Aktivasi
komplemen yang berlebihan tidak diinginkan oleh karena menimbulkan inflamasi dan
kematian sel yang luas. Untuk mencegah hal itu diperlukan inhibitor komplemen.

C. Aktivasi komplemen jalur alternatif


Aktivasi jalur alternatif memproduksi produk aktif seperti halnya dengan jalur klasik,
tetapi untuk awal reaksi tidak diperlukan kompleks antigen-antibodi. Jalur alternatif
tidak terjadi melalui tiga reaksi pertama yang terdapat pada jalur klasik (C1, C4 dan
C2). Aktivasi jalur alternatif dimulai dengan C3 yang merupakan molekul yang tidak
stabil dan terus menerus ada dalam aktivasi spontan derajat rendah dan klinis yang
tidak berarti. Aktivasi spontan C3 diduga terjadi pada permukaan sel, meskipun sel
normal mengekspresikan inhibitor permukaan yang mencegah aktivasi C3.

23 Juni 2015
8
Bakteri (endotoksin). Jamur, virus, parasit, kontras, (pada pemeriksaan
radiologi), agregat IgA (IgA1, IgA2), IgG4, dan faktor nefritik dapat mengaktifkan
komplemen melalui jalur alternatif. Protein tertentu dan lipopolisakarida dap
mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik dan alternatif (Gambar 7.3).

Gambar 2.3.2 Tiga Jenis Jalur Aktivasi Komplemen

23 Juni 2015
9
Gam
bar 2.3.3. Jalur aktivasi komplemen dan faktor yang mengawali reaksi.

2.4 Reseptor Komplemen


Aktivasi komplemen jalur alternatif dan klasik menghasilkan berapa fragmen
komplemen yang diikat oleh reseptornya yang ditemukan pada berbagai jenis sel. C1qR
ditemukan pada makrofag yang mengikat C1q, pada jaringan kolagen dan berperan pada
eliminasi antigen. CR2 merupakan bagian dari kompleks ko-reseptor sel B dan juga
ditemukan pada sel dendritik folikular yang berfungsi dalam fagositosis kompleks imun
di senter germinal dan dalam perkembangan sel memori. CR3 adalah interim (molekul
adhesi) pada fagosit mononuklear, neutrofil dan sel NK yang fungsinya memudahkan
fagositosis kompleks imun dan migrasi monosit ke jaringan. CR4 adalah interim yang
mempunyai fungsi sama dengan CR3 yang terutama diekspresikan pada makrofag
jaringan. Efek biologis yang ditimbulkan oleh interaksi reseptor dan ligannya tergantung
dari sel yang mengekspresikan reseptor tersebut (Tabel 2.4.1).

23 Juni 2015
10
Tabel 2.4.1. Reseptor komplemen dan efek biologis

2.5 Fungsi Biologis Komplemen


A. Inflamasi
Sebagai langkah pertama untuk menghancurkan beda asing dan mikroorganisme serta
membersihkan jaringan yang rusak , tubuh mengerahkan elemen-elemen sistem imun
ke tempat benda asing dan mikroorganisme yang masuk tubuh atau jaringan yang rak
tersebut.
Fagositosis merupakan komponen penting pada inflamasi. Dalam proses
inflamasi ada tiga hal yang terjadi yaitu (1) peningkatan pasokan darah ke tempat
benda asing, mikroorganisme atau jaringan yang rusak, (2) peningkatan permeabilitas
kapiler yang ditimbulkan oleh pengerutan sel endotel yang memungkinkan molekul
yang lebih besar seperti antibodi dan (3) fagosit bergerak ke luar pembuluh darah
menuju ke tempat benda asing (diapedesis), mikroorganisme atau jaringan yang rusak.
Peningkatan permeabilitas vaskular yang lokal terjadi atas pengaruh
anafilatoksin (C3a, C4a, C5a). Aktivasi komplemen C3 dan C5 menghasilkan
fragmen kecil C3a dan C5a yang merupakan anfilatoksin yang dapat memacu
degranulasi sel mas dan atau basofil melepas histamin. Histamin yang dilepas sel mas
atas pengaruh komplemen, meningkatkan permeabilitas vaskular dan kontraksi otot
polos dan memberikan jalan untuk migrasi sel-sel leukosit dan keluarnya plasma yang
mengandung banyak antibodi, opsonin, dan komplemen ke jaringan (Tabel 2.5.1 dan
Gambar 2.5.1)
23 Juni 2015
11
Tabel 2.5.1. Aktivasi komplemen pada inflamasi

Gamba
r 2.5.1. Fungsi biologis komplemen
Fungsi biologis komplemen adalah sitolisis direk, opsonisasi, aktivasi dan migrasi
direk leukosit, pembersihan kompleks imun dan peningkatan respons imun humoral.
Berbagai fragmen komplemen yang dilepas pada aktivasijalur alternatif dan klasik
ikut berperan dalam pertahanan imun. Di samping penglepasan fragmen proteolitik,

23 Juni 2015
12
aktivasi komplemen baik jalur klasik maupun alternatif dapat menimbulkan isis
(MAC) di permukaan sel bakteri.

B. Pengerahan sel – kemokin


Kemokin adalah molekul yang dapat menarik dan mengerahkan sel-sel fagosit. C3a,
C5a dan C5-6-7 merupakan kemokin yang dapat mengerahkan sel-sel fagosit baik
mononuklear maupun polimorfunuklear ke tempat terjadi infeksi (Gambar 2.5.2). C5a
adalah kemoatraktan untuk neutrofil yang juga merupakan anafilatoksin. Makrofag
yang diaktifkan melepas berbagai mediator yang ikut berperan dalam reaksi inflamasi.

Gambar 2.5.2. Strategi pertahanan berupa reaksi inflamasi akut yang diawali
dengan aktivasi komplemen jalur alternatif oleh bakteri.

C. Fagositosis – opsonin
C3b dan C4b mempunyai sifat opsonin. Opsonin adalah molekul yang dapat diikat di
satu pihak oleh partikel (kuman) dan di lain pihak oleh reseptornya pada fagosit
sehingga memudahkan fagositosis bakteri adu sel lain. C3 yang banyak diaktifkan
pada aktivasi komplemen merupakan sumber opsonin utama (C3b). Molekul C3b
dalam bentuk inaktif (iC3b), juga berperan sebagi opsonin dalam fagositosis oleh
karena fagosit juga memiliki reseptor untuk iC3b.
IgG dapat berfungsi sebagai opsonin, bila berikatan dengan reseptor Fc pada
permukaan fagosit. Oleh karena fagosit tidak memiliki reseptor Fc untuk IgM,
opsonisasi yang dibantu komplemen merupakan hal yang sangat penting selama

23 Juni 2015
13
terjadi respons antibodi primer yang didominasi IgM yang merupakan aktivator
komplemen poten . CRP juga berfungsi sebagi opsonin (Gambar 2.5.3).

Gambar 2.5.3. (atas) Peran C3b dan antibodi pada opsonisasi dan Gambar 2.5.4
(bawah). LPS dan komplemen yang merangsang makrofag dan induksi
inflamasi akut.

Neutrofil darah menempel pada molekul adhesi di sel endotel dan atas pengaruh
faktor-faktor lainnya, bermigrasi ke jaringan dengan menembus membran basal.

23 Juni 2015
14
D. Adherens imun
Adherens imun merupakan fenomena dari partikel antigen yang melekat pada
berbagai permukaan (misalnya permukaan pembuluh darah), kemudian dilapisi
antibodi dan mengaktifkan komplemen. Akibatnya antigen akan mudah difagosistosis.
C3b berfungsi dalam adherens imun tersebut (Gambar 2.5.4)

Aktivasi konvertase C3bBb C3 oleh bakteri


1. Penglepasan C3b
2. Mengikat bakteri, C3a, C5a
3. Mengerahkan mediator sel
4. Efek terhadap dilatasi kapilar dan eksudasi protein plasma
5. Kemotaktis neutrofil terhadap bakteri yang diselubungi C3b
6. Adherens dan aktivasi akhir neutrofil untuk membunuh

E. Eliminasi kompleks imun


C3a atau iC3b dapat diendapkan di permukaan kompleks imun dan merangsang
eliminasi kompleks imun. Baik sel darah merah dan neutrofil memiliki CR1 – R dan
mengikat C3b dan iC3b. C3 dan C4 ditemukan dalam kompleks imun yang larut.
Yang akhir diikat oleh CR1 –R pada sel darah merah. Selanjutnya sel darah merah
mengangkut kompleks imun yang diikatnya ke organ-organ yang mengandung banyak
fagosit residen (fixed) seperti hati dan limpa. Melalui reseptor komplemen dan Fc,
fagosit residen tersebut menghancurkan kompleks imun dari sel darah merah. Pada
proses ini, sel darah merah sendiri tidak rusak (Gambar 7.8).
Neutrofil dapat menyingkirkan kompleks imun kecil dalam sirkulasi.. bila
antigen tidak larut yang diikat antibodi dalam darah tidak disingkirkan, akan memacu
inflamasi dan dapat menimbulkan penyakit kompleks imun. Kompleks besar tidak
larut sulit untuk disingkirkan dari jaringan. Sejumlah besar C3 yang diaktifkan dapat
melarutkan kompleks tersebut. Seperti sudah tersebut di atas, penderita dengan
defisiensi komplemen berisiko tinggi terhadap penyakit yang ditimbulkan kompleks
imun seperti LES.

F. Lisis osmotik bakteri


Aktivasi C3 (jalur alternatif, klasik dan lektin) akan mengaktifkan bagian akhir dari
kaskade komponen komplemen C5-C9. Aktivasi komplemen yang terjadi di
permukaan sel bakteri akan membentuk MAC (gabungan C5, C6, C7, C8, dan C9)
dan akhirnya menimbulkan lisis osmotik sel atau bakteri. C5 dan C6 memiliki
aktivitas enzim yang memungkinkan C7, C8, dan C9 memasuki membran plasma dari
sel sasaran. Sekitar 10-16 molekul C9 menimbulkan lubang-lubang kecil dalam

23 Juni 2015
15
membran plasma dan mematikan sel. MAC dapat secara langsung menyerang patogen
seperti halnya dengan perforin pada sel NK.

G. Neutralisasi infeksi virus


Untuk kebanyakan virus ikatan antibodi dalam serum dengan subunit protein struktur
virus akan membentuk kompleks imun yang selanjutnya dapat disingkirkan melalui
aktivasi komplemen jalur klasik. Berapa virus (retro, EBV, Newcastle Disease Virus
dan rubela) dapat mengaktifkan jalur lektin, bahkan jalur klasik tanpa adanya
antibodi.
Komplemen berperan dalam neutralisasi virus melalui berbagai mekanisme.
Sebagian neutralisasi dapat diperoleh melalui pembentukan agregat virus yang besar
dan agregat tersebut dapat menurunkan jumlah akhir partikel virus. Meskipun
antibodi berperan dalam agregat virus, studi in vitro menunjukkan bahwa C3b
mempermudah pembentukan agregat misalnya virus polioma yang dilapisi antibodi
dinetralkan bila serum mengandung C3 yang diaktifkan. Ikatan antibodi dan atau
komplemen dengan permukaan partikel virus dapat membentuk protein tebal yang
melapisi virus sehingga terlihat pada pemeriksaan mikroskop elektron. Hal tersebut
dapat mencegah virus menempel dengan sel pejam yang rentan.
Endapan antibodi komplemen pada partikel virus juga memudahkan partikel
virus diikat dengan sel yang memiliki Fc atau reseptor untuk komplemen 1 (CR1).

23 Juni 2015
16
Dalam hal fagosit ikatan tersebut cat
diikuti oleh fagositosis dan pengrusakan
intraseluler dari partikel virus dalam
sel. Akhirnya komplemen efektif untuk
melisiskan seluruh atau sebagian virus
yang terbungkus dan meninggalkan
fragmen dari envelop dan disintegrasi
dari nukleokapsid.

Gambar 2.5.5. Eliminasi kompleks


imun dalam sirkulasi

Kompleks imun dibersihkan melalui


reseptor komplemen pada permukaan
eritrosit. Selanjutnya kompleks
disingkirkan melalui reseptor pada
makrofag di hati dan di limpa. Oleh
karena eritrosit memiliki reseptor lebih
sedikit dibandingkan makrofag, sel
yang akhir dapat membersihkan
kompleks dari sel darah merah bila sel
tersebut melewati hati dan ginjal.
Defisiensi dalam proses ini dapat
menimbulkan kerusakan ginjal akibat
akumulasi kompleks imun.

H. Aktivitas sitolitik ADCC


Eosinofil dan sel polimorfonuklear mempunyai reseptor untuk C3b dan IgG sehingga
C3b dapat meningkatkan sitotoksisitas sel detektor ADCC yang kerjanya bergantung
pada IgG. Di samping itu, sel darah merah yang diikatC3b dapat dihancurkan juga
melalui kerusakan kontak (contactual damage). Seperti sudah disebut terdahulu, C8-9
merusak membran dengan membentuk saluran-saluran dalam membran sel yang
menimbulkan lisis osmotik.

I. Imunitas nonspesifik dan spesifik


23 Juni 2015
17
Makrofag atau neutrofil dapat diaktifkan C5a secara langsung dengan bantuan C3b
sebagai opsonin atau oleh toksin bakteri seperti LPS melalui reseptor TCR atau
melalui fagositosis. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai mediator larut seperti
IL-1, TNF yang meningkatkan respons inflamasi, ekspresi molekul adhesi untuk
neutrofil di permukaan sel endotel, permeabilitas, kemotaksis dan aktivis sel PMN
sendiri. Aktivasi komplemen dan makrofag memberikan gambaran respons selular
yang berperan pada inflamasi akut. Sitotoksisitas sel NK yang memiliki reseptor
untuk komplemen juga dapat ditingkatkan. Komplemen juga berperan dalam imunitas
spesifik oleh karena aktivasi makrofag meningkatkan jumlah APC yang
mempresentasikan antigen ke sel T (Gambar 2.5.6).

Gambar 2.5.6. Peran komplemen yang mengatur mekanisme sistem imun


spesifik dan nonspesifik.

2.6 Regulator-Inhibitor Komplemen


Protein dalam serum yang merupakan komponen pada aktivasi komplemen, baik pada
jalur klasik maupun jalur alternatif dibentuk oleh hati, makrofag, monosit dan sel sel
epitel intestinal. Bahan-bahan tersebut dilepas ke dalam serum dalam bentuk tidak aktif.

23 Juni 2015
18
Pada tiap tahap penglepasan mediator terdapat mekanisme tubuh untuk menetralkan
yang disebut regulator, sehingga tidak akan terjadi reaksi yang berlangsung terus menerus
yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Sistem enzim yang kompleks ini diatur oleh
beberapa penyekat protein yang dapat mencegah aktivasi prematur dan aktivitas setiap
produk. Contohnya adalah :
 Protein kofaktor membran, reseptor komplemen tipe 1, ikatan protein C4b dan
faktor H yang mencegah pembentukan konvertase C3.
 DAF yang memacu pengrusakan konvertase C3.
 Inhibitor C1
 Faktor I dan protein kofaktor membran yang mengikat C3b dan C4b.
 Cd59 (protektin) yang mencegah pembentukan MAC.
 Inaktivator anafilatoksin.

2.7 Defisiensi Komplemen


Defisiensi penyekat esterase C1 (C1INH) menimbulkan aktivasi C4 dan C2 oleh C1
terjadi terus menerus sehingga terjadi lebih banyak fragmen yang kemudian diaktifkan
plasmin dan membentuk peptida vasoaktif. Stimulus kecil yang mengaktifkan C1 dapat
menimbulkan respons besar yang tidak dapat dikendalikan. Penderita dengan defisiensi
C1 INH menunjukkan Een angioneurotik, Dean di berbagai alat badan seperti kulit,
saluran cerna dan napas. Dean berat yang terjadi di larings dan saluran napas dapat
menimbulkan kematian.
Defisiensi pada stadium dini jalur lektin dan klasik menimbulkan hipersensitivitas
Tipe 3 (kompleks imun) oleh karena kompleks iman tidak dapat dicairkan atau diantarkan
ke fagosit dan menimbulkan penyakit seperti LES. Kadar rendah komponen komplemen
juga dapat menimbulkan penyakit infeksi bakteri rekuren, sebagian oleh karena sistem
imun nun spesifik diperlukan untuk menyingkirkan bakteri atas bantuan peran
komplemen (antara lain sebagai opsonin) pada awal antibodi di produksi. Defisiensi
MAC merupakan risiko yang lebah tinggi terhadap infeksi neiseria.
Hemoglobinuria paroksismal noktural terjadi oleh penghancuran sel darah merah
melalui jalur alternatif yang disebabkan oleh karena ada defisiensi DAF pada membran
sel. Fungsi DAF tersebut menghambat akivasi komplemen melalu jalur alternatif dan
terjadinya konvertase C5. Defisiensi komplemen jarang terjadi dan gejalanya tergantung
dari lokasi efek (Tabel 2.5.2).
Efek biologis yang terjadi melalui komplemen dan reseptor ikatan komplemen terlihat
pada Tabel 2.5.3 dan 2.5.4.

23 Juni 2015
19
Tabel 2.5.2. Penyakit yang di timbulkan defisiensi komplemen dan tabel 2.5.3. Efek
biologis yang diperantarai komplemen

23 Juni 2015
20
Tabel 2.5.4. Reseptor Ikatan komplemen

23 Juni 2015
21
BAB III

KESIMPULAN

Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah protein yang berperan dalam
pertahanan pejamu, baik dalam sistem imun nonspesifik atau sistem imun spesifik. Sistem
komplemen terdiri atas sejumlah serum protein yang banyak di antaranya berada dalam
bentuk inaktif. Aktivasi komplemen terjadi melalui jalur klasik, alternatif dan lektin yang
masing-masing memiliki awal yang berbeda. Ketiga jalur tersebut akhirnya menunjukkan
urutan kejadian yang sama yang menimbulkan lisis sel. Jalur klasik diawali dengan ikatan
antibodi dan sel sasaran ; reaksi IgM dan subkelas IgG tertentu mengaktifkan jalur ini.
Aktivasi jalur alternatif dan lektin adalah antibodi independen. Jalur-jalur ini diawali oleh
reaksi protein komplemen dengan molekul permukaan mikroba.

Dalam hubungannya dengan peran dalam lisis sel, sistem komplemen berperan dalam
opsonisasi bakteri, aktivasi inflamasi dan pembersihan kompleks imun. Interaksi antara
protein komplemen dan fragmen protein pada reseptor sel sistem imun mengontrol baik
respons imun spesifik maupun nonspesifik. Oleh karena dapat merusak sel pejamu, sistem
komplemen memerlukan mekanisme regulator baik pasif maupun aktif yang kompleks.

Defisiensi komplemen didapat akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi yang


bervariasi sampai kerusakan jaringan yang ditimbulkan kompleks imun. Aktivasi komplemen
melibatkan sitolisis, opsonisasi dan fagositosis mikroba asing, aktivasi inflamasi dan migrasi
direk leukosit, melarutkan dan membersihkan kompleks imun, meningkatkan respors imun
himoral. Aktiva komplemen melepas anafilatoksin (C3a, C4a, dan C5a) yang merupakan
mediator penting pada inflamasi, mengerahkan dan mengaktifkan neutrodil, makrofag dan sel
lain. Aktivasi komplemen juga melepas produk komplemen (C3b, C3bi dan C4b) yang
berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis.

23 Juni 2015
22
DAFTAR PUSTAKA

Bratawidjaja, karnen garna dan rengganis, iris. 2009. Imunologi dasar, edisi ke-8.
Jakarta : balai penerbit fakultas kedokteran universitas Indonesia. Hal 177-195.
Bookshelf. 2001. The Complement System and Innate immunity.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27100/. Janeway CA Jr, Travers P, Walport M, and
shlomchik,M. Immunobiology: The Immune System in Health and Disease. 5th edition. New
York: Garland Science. 2001. Diakses tanggal 9 Desember 2011.
Brown EJ, Joiner KA, Frank MM. 2000. Complement. In fundamental immunology.
New York: aven Press.
Mayer,G. 2011. Immunology Chapter Two. http://pathmicro.med.sc.edu/ghaffar
/complement.htm. Diakses tanggal 9 November 2011.

23 Juni 2015
23