Anda di halaman 1dari 5

TUGAS IKM DAN PKM

NAMA : RISMAYANTI

NIM : DF. 17. 03. 091

JURUSAN: : DIII FARMASI

KELAS :B

TINGKAT/SEMESTER : 1/2

DOSEN : Dian Furqani Hamdan, SKM, M.Kes


Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit Anemia

Faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang dalam ilmu epidemiologi dikenal
dengan istilah segitiga epidemiologi yaitu Host - Agent – Environment (AHE). Segitiga epidemiologi
ini sangat umum digunakan oleh para ahli dalam menjelaskan konsep berbagai permasalahan
kesehatan termasuk salah satunya adalah terjadinya penyakit anemia. Hal ini sangat komprehensif
dalam memeprediksi suatu penyakit. Terjadinya suatu penyakit sangat tergantung dari keseimbangan
dan interaksi ke tiganya.

Dari ketiga istilah segitiga epidemiologi yaitu Host - Agent – Environment, saya akan
menjelaskan satu persatu tentang faktor – faktor yang mempengaruhi penyakit anemia.

1. Host
Faktor host (penjamu) dalam kasus anemia adalah yang terdiri dari:
a. Umur
Dilihat dari segi umur yang rentan terkena penyakit anemia yaiut pada ibu hamil. Dimana,
Semakin muda umur ibu hamil, semakin berisiko untuk terjadinya anemia.. Hal ini dapat
dikarenakan pada remaja, asupan zat besi dibutuhkan lebih banyak karena pada masa tersebut
remaja membutuhkannya untuk pertumbuhan, ditambah lagi jika hamil maka kebutuhan akan zat
besi lebih besar. Selain itu, faktor usia yang lebih muda dihubungkan dengan pekerjaan, status
sosial ekonomi dan pendidikan yang kurang.
b. Pola Hidup
Anemia juga dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara asupan gizi dengan
aktifitas yang dilakukan oleh seseorang. Dimana, meningkatnya kebutuhan zat besi pada
seseorang disebabkan oleh tingginya laju pertumbuhan dan perkembangan pada saat itu.
Peningkatan kebutuhan tersebut terjadi karena meningkatnya volume darah, massa otot, dan
myoglobin.
Dilihat Pada remaja putri, kebutuhan zatbesi tambahan diperlukan untuk menyeimbangkan
kehilangan zat besi akibat darah haid, dimana terjadi peningkatan kebutuhan besi untuk ekspansi
darah total. Jika kebutuhan besi tak terpenuhi maka akan berisiko menimbulkan kelelahan, badan
lemah, penurunan produktivitas kerja, penurunan fungsi kognitif, dan bahkan berisiko menderita
anemia pada kehamilan dimasa yang akan datang. Penyebabnya karena banyak remaja yang tidak
suka mengonsumsi makanan sumber zat besi termasuk sayuran dan buah-buahan serta lebih
senang mengonsumsi makanan siap saji yang umumnya mengandung kalori, kadar lemak dan
gula yang tinggi tetapi rendah serat, zat besi, vitamin A, vitamin B12, asam folat dan kalsium,
meskipun mereka tahu bahwa salah satu penyebab anemia adalah karena kurangnya asupan zat
besi dalam tubuh.
c. Jenis kelamin
Remaja putri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan
dengan remaja putra. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya
dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak.
Selain itu, ketidakseimbangan asupan zat gizi juga menjadi penyebab anemia pada remaja.
Remaja putri biasanya sangat memperhatikan bentuk tubuh, sehingga banyak yang membatasi
konsumsi makanan dan banyak pantangan terhadap makanan.
Bila asupan makanan kurang maka cadangan besi banyak yang dibongkar. Keadaan seperti
ini dapat mempercepat terjadinya anemia. Remaja putri termasuk golongan rawan menderita
anemia karena remaja putri dalam masa pertumbuhan dan setiap bulan mengalami menstruasi
yang menyebabkan kehilangan zat besi.
d. Pola makanan
Banyak remaja putri yang tidak suka mengonsumsi makanan, salah satunya sumber
makanan zat besi termasuk sayur-sayuran dan buah-buahan. Remaja putri yang membatasi
makanan atau mempunyai kebiasaan diet yang tidak terkontrol dengan tujuan untuk mendapat
bentuk badan yang sempurna (langsing). Akibat dari perilaku yang kurang tepat ini
mengakibatkan kurang gizi pada remaja seperti terlalu kurus, kadar Hb rendah/anemia,
kekurangan kalsium atau defisiensi mikronutrien yang lain.
e. Sosial ekonomis
Faktor sosial ekonomi diantaranya adalah kondisi ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Ibu
hamil dengan keluarga yang memiliki pendapatan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan
untuk menyediakan makanan yang adekuat dan pelayanan kesehatan untuk mencegah dan
mengatasi kejadian anemia.
f. Riwayat penyakit
Anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi. Telah
diketahui secara luas bahwa infeksi merupakan faktor yang penting dalam menimbulkan kejadian
anemia, dan anemia merupakan konsekuensi dari peradangan dan asupan makanan yang tidak
memenuhi kebutuhan zat besi. Kehilangan darah akibat trauma dapat menyebabkan defisiensi zat
besi dan anemia. Angka kesakitan akibat penyakit infeksi meningkat pada populasi defisiensi
besi akibat efek yang merugikan terhadap sistem imun. Malaria karena hemolisis dan beberapa
infeksi parasit seperti cacing, menyebabkan kehilangan darah secara langsung dan kehilangan
darah tersebut mengakibatkan defisiensi besi.
g. Genetik
Penyakit karena kelainan genetik yang berkaitan dengan penyakit anemia ini contohnya
adalah Thalasemia. Thalasemia adalah gangguan genetik yang dimana produksi hemoglobin
menjadi sangat rendah.

2. Agent
Agent atau sumber penyakit anemia diantaranya yaitu:
a. Unsur gizi.
Terjadinya anemia pada seseorang juga dapat disebabkan karena kekurangan zat besi, asam
folat dan vitamin B12 dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan zat besi
yang meningkat, kurangnya cadangan zat besi dan berkurangnya zat besi dalam tubuh seseorang.
b. Kimia dari dalam dan luar
Anemia pada seseorang juga dapat terjadi karena berhubungan racun kimia dan
menggunakan obat yang berpengaruh pada produksi sel darah merah.
c. Faktor faali/ fisiologis
Faktor fisiologis penyakit anemia yaitu karena kekurangan zat besi, pendarahan usus,
pendarahan, genetik, kekurangan vitamin B12, kekurangan asam folat, gangguan sum –sum
tulang. Namun, bukan hanya itu, pola hidup yang tidak sehat juga menjadi faktor penyebab
terjadinya penyakit anemia. Mulai dari perilaku makan makanan yang tidak mengandung zat
besi, kurang memakan asupan vitamin, melakukan kegiatan yang beresiko mengalami
pendarahan, hingga kebiasaan begadang. Yang dimana seseorang yang menderita “Anemia” akan
terlihat seperti 5L, yakni: letih, lesu, lemah, lunglai, dan lelah.

3. Environment (Lingkungan)
Faktor lingkungan terdiri atas 3 yaitu: fisik, biologis, dan sosial ekonomi. Dari ketiga faktor
lingkungan tersebut yang dapat mempengaruhi penyakit anemia yaitu faktor sosial ekonomi.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang
rendah serta keadaan kesehatan lingkungan yang buruk.
1. Penghasilan atau pendapatan yang rendah
Pendapatan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan,
sehingga terjadi hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi. Apabila pedapatan berubah
secara langsung dapat mempengaruhi perubahan konsumsi pangan keluarga. Meningkatnya
pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas
yang lebih baik. Sebaliknya, penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal
kualitas dan kuantitas pangan yang dibeli, yang dapat mengakibatkan tidak terpenuhinya
kebutuhan tubuh akan zat gizi, salah satunya tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan zat besi,
sehingga dapat berdampak timbulnya kejadian anemia.
2. Tingkat pendidikan
Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian anemia pada remaja putri , berkaitan
dengan pemilihan bahan makanan sumber zat besi yang berfungsi untuk mencegah terjadinya
anemia. Tingkat pengetahuan seseorang berhubungan dengan kejadian anemia. Pendidikan
mengenai bahan makanan dan pola hidup sehat menyebabkan pengaruh yang signifikan antara
tingkat pendidikan terhadap status anemia di Indonesia.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi ibu juga sangat berpengaruh terhadap kualitas zat-
zat yang dikonsumsi. Pengetahuan gizi berkembang secara bermakna dengan sikap positif
terhadap perencanaan dan persiapan makanan. Semakin tinggi pengetahuan ibu maka makin
positif sikap ibu terhadap gizi makanan sehingga makin baik pula konsumsi energi, protein dan
besi keluarganya.
Ada dua kemungkinan hubungan tingkat pendidikan orangtua dengan makanan dalam
keluarga, yaitu:
a. Tingkat pendidikan kepala rumah tangga secara langsung maupun tidak langsung
menentukan kondisi ekonomi rumah tangga, yang pada akhirnya sangat mempengaruhi
konsumsi keluarga.
b. Pendidikan istri, di samping merupakan modal utama dalam menunjang perekonomian
keluarga juga berperan dalam penyusunan pola makan keluarga. Pendidikan ibu merupakan
faktor yang sangat penting. Tinggi rendahnya pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat
perawatan kesehatan, higiene, kesadaran terhadap anak dan keluarga.

Kondisi sosial berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian
anemia pada seseorang . Jika keluarga mendukung terhadap kondisi asupan nutrisi dan vitamin
pada kerabatnya atau anaknya atau orang tuanya dan memotivasi untuk melakukan pemeriksaan
kesehatan secara rutin maka kemungkinan kita dapat mengetahui apakah terjadi penyakit anemia
atau tidak.

Referensi:

http://nutrioneask.blogspot.co.id/2011/10/epidemiologi-anemia-pada-ibu-hamil.html

https://www.trendilmu.com/2015/09/penyebab.terjadinya.anemia.seo.html#

http://asserianitimah.blogspot.co.id/2015/12/faktor-faktor-penyebab-anemia-pada.html

www.aladokter.com/anemia-defisiensi-besi/penyebab