Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan, makhluk hidup saling berinteraksi dengan lingkungannya.
Diantara mahkluk hidup tersebut ada yang tampak kasat mata atau dapat dilihat langsung
dan tidak kasat mata atau memerlukan bantuan alat untuk melihatnya. Mahkluk tidak
kasat mata disebut dengan mikroorganisme atau mikroba. Mikroorganisme ini dipelajari
dalam cabang ilmu biologi yang disebut mikroobiologi yaitu ilmu pengetahuan mengenai
organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang. Dalam mikrobiologi kita mempelajari banyak segi mengenai jasad – jasad
renik. Dunia jasad renik baru ditemukan sekitar 300 tahun yang baru dapat dipahami 200
tahun kemudian.
Kini mikroorganisme digunakan oleh para ahli dengan penelaahan hampir semua
gejala biologis yang utama. Mikroba terdapat dalam jumlah yang besar dan
beranekaragam serta kosmopolitan di alam ini (Ristiati, 2000). Mikroba merupakan
bentuk kehidupan yang tersebar paling luas dan terdapat paling banyak di bumi.
Mikroorganisme terdiri dari 5 kelompok organisme, yaitu bakteri, protozoa, virus, algae,
dan cendawan. Beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lain merugikan.
Alat yang di gunakan adalah mikroskop dan keahlian dalam menggunakan
mikroskop ini dinamakan mikroskopi. Mikroskop sangat membantu dalam meneliti
mikroba – mikroba yang tidak kasat mata. Salah satu penemu sejarah mikrobiologi
dengan mikroskop adalah Antony van Leeuwenhoek (1632-1723), tahun 1675 Antony
membuat mikroskop dengan kualitas lensa yang cukup baik dengan menumpuk lebih
banyak lensa sehingga ia bisa mengamati mikroorganisme yang terdapat pada air hujan
yang menggenang .
Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari organisme hidup yang
sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga mikroskop
memberikan konstribusi penting dalam penemuan mikroorganisme dan pengembangan
sejarah mikrobiologi. Dalam mempelajari mikroorganisme diperlukan dan keahlian
khusus untuk dapat menggunakan mikroskop dengan benar dalam mengamati objek
tersebut. Sementara itu, pengetahuan mahasiswa tentang mikroskop dan metode
mikroskopinya masih kurang memadai.
Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk membahas lebih lanjut mengenai alat
dan metode mikroskopik yang penulis buat dalam bentuk makalah yang berjudul
“Mikroskopi dan Metode Mikroskopik”.
Dalam makalah ini mikroskop akan dijelaskan lebih mendalam dan spesifik lagi.
Metode-metode dalam penggunaan mikroskop tersebut juga dijelaskan dengan lebih
mendetail sehingga diharapkan dengan adanya makalah ini pengetahuan mahasiswa
tentang mikroskop dan metode mikroskopinya semakin bertambah.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjabaran diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan
sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan mikroskop dan mikroskopi?
2. Apa sajakah jenis-jenis mikroskop yang digunakan dalam melakukan pengamatan
mikroorganisme ?
3. Bagaimanakah metode mikroskopik untuk mikroskop cahaya dan mikroskop
elektron?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yang mengacu pada rumusan masalah
di atas adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan mikroskop dan mikroskopi.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis mikroskop yang digunakan dalam melakukan
pengamatan mikroorganisme.
3. Untuk mengetahui metode mikroskopik untuk mikroskop cahaya dan mikroskop
elektron.
2.1 Pengertian Mikroskop dan Mikroskopi
Mikroskop merupakan instrument yang paling banyak digunakan dan juga paling
bermanfaat di laboratorium. Mikroskop adalah alat yang menggunakan lensa untuk
mendapatkan gambar yang diperbesar dari obyek yang terlalu kecil untuk dapat dilihat
dengan mata telanjang. Mikroskop memungkinkan pembesaran dalam kisaran luas dari
seratus kali sampai ribuan kali.
Mikroskop yang umum digunakan dalam mikrobiologi biasanya dilengkapi
dengan tiga lensa objektif, masing-masing lensa memberikan derajat pembesaran yang
berlainan, yang terpancang pada turret yaitu suatu alas (platform) yang dapat diputar
untuk menggerakkan masing-masing objektif sehingga letaknya segaris dengan
kondensor. Pembesaran total yang dapat dicapai dengan salah satu objektif manapun
ditentukan dengan mengalikan daya pembesaran lensa objektif dengan daya pembesaran
lensa mata, yang biasanya 10 kali.
Mikroskopi merupakan keahlian dalam menggunakan mikroskop, atau teknik
yang digunakan untuk menghasilkan detail struktur gambar dari obyek kecil yang tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang.

2.2 Jenis – jenis Mikroskop Yang Digunakan Dalam Pengamatan Mikroorganisme


Mikroskop secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar
yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Perbedaan dari kedua mikroskop tersebut
adalah pada Mikroskop cahaya menggunakan gelombang cahaya untuk memperoleh
bayangan yang diperbesar sedangkan pada mikroskop elektron menggunakan listrik
sebagai sumber cahaya yang mampu melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali,
yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan
dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang
jauh lebih bagus daripada mikroskop cahaya.
1. Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang kesemuanya menggunakan
sistem lensa optis. Daya pisah suatu mikroskop cahaya ditentukan oleh panjang
gelombang cahaya dan sifat lensa objektif dan lensa kondensor yang dikenal dengan
apertur numerik (numerical aperture). Lensa objektif memperbesar gambaran objek
biasanya 4-100 kali dan lensa okuler umumnya memperbesar gambaran semu tidak
lebih dari 10-15 kali. Yang memberikan perbesaran permulaan adalah sistem lensa
objektif kemudian diperbesar lagi oleh sistem lensa okuler. Perbesaran total ditentukan
dengan mengalikan perbesaran lensa objektif dengan daya perbesaran lensa mata
(okuler).
Mikroskop cahaya mencakup mikroskop medan terang, medan gelap,
fluoresensi dan fase kontras. Mikroskop elektron menggunakan berkas elektron
sebagai pengganti gelombang cahaya untuk memperoleh bayangan yang diperbesar.
a. Mikroskop Medan Terang
Dalam mikroskop medan terang, medan mikroskop atau daerah yang
diamati diterangi dengan benderang sehingga objek-objek yang sedang ditelaah
tampak lebih gelap dari pada latar belakangnya. Pada umumnya mikroskop
semacam ini menghasilkan pembesaran maksimum sekitar 1.000 diameter.
Dengan sedikit modifikasi termasuk lensa mata (okuler) yang berkekuatan tinggi,
pembesaran ini dapat ditingkatkan. Akan tetapi pembesaran 1.000 sampai 2.000
diameter merupakan batas pembesaran bermanfaat yang dapat diperoleh dengan
peralatan seperti itu. Mikroskop majemuk, pembesaran dicapai dengan
menggunakan sistem lensa berlawanan dengan mikroskop sederhana
Leeuwenhoek, yang hanya mengguanakan lensa tunggal, dimana lensa terdapat
pada kondensor memusatkan kerucut cahaya pada medan spesimen.
Mikroskop medan terang digunakan untuk memperbesar gambaran objek
yang diuji, untuk menentukan ukuran, susunan karakteristik, dan motilitas bakteri
dan mikroba lain di lingkungan alami. Pada mikroskop ini, medan mikroskop atau
daerah yang diamati diterangi sehingga objek yang sedang diamati tampak lebih
gelap dari latar belakangnya. Perbesaran terbatas pada daya pisah suatu
mikroskop yaitu kemampuannya untuk menghasilkan bayangan berlainan dari dua
objek yang berdekatan.
b. Mikroskop Medan Gelap
Mikroskop medan gelap adalah mikroskop yang hampir sama dengan
mikroskop mdan terang namun pada mikroskop medan gelap dilengkapi dengan
kondensor.Mikroskop medan gelap digunakan untuk melihat spirochaeta seperti
Treponema (penyebab sifilis) Leptospira (leptospirosis).
Mikroskop ini mempunyai kondensor yang mencegah cahaya
ditransmisikan melalui bahan, tapi sebaliknya menyebabkan cahaya merefleksikan
bahan pada sudut tertentu, sehingga objek kelihatan lebih besar bersinar dengan
latar belakang yang gelap. Dengan menahan sebagian berkas cahaya yang masuk
ke dalam kondensor, cincin medan gelap hanya melewatkan berkas cahaya yang
mengenai objek pada slide spesimen agar memasuki objektif. Karena itu objeknya
(mikroba) menjadi diterangi dalam medan mikroskopik yang seharusnya gelap.
Mikroskop medan gelap terutama berguna untuk pemeriksaan mikroorganisme
hidup. Teknik ini sangat berguna bagi identifikasi bakteri yang menyebabkan
sifilis.
Mikroskop medan gelap biasanya digunakan untuk mengamati bakteri
hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya
mikroskop majemuk. Mikroskop medan gelap berbeda dengan mikroskop cahaya
majemuk biasa hanya dalam hal adanya kondensor khusus yang dapat membentuk
kerucut hampa berkas cahaya yang dapat dilihat. Berkas cahaya dari kerucut
hampa ini dipantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari bagian atas gelas
preparat. (Volk, Wheeler, 1988)
c. Mikroskop Fluoresensi
Mikroskop Fluoresensi sering dipakai di laboratorium rumah sakit dan
klinis. Mikroskop ini digunakan untuk memeriksa spesimen yang telah diwarnai
dengan zat-zat pewarna Fluorokrom sehingga memungkinkan identifikasi
mikroorganisme dengan cepat. Bahan seperti itu dinamakan Fluoresen dan
fenomena ini dinamakan Mikroskop Fluorescensi (pendar fluor). Mikroskop ini
banyak digunakan dalam mikrobiolgi dan imunologi, dan telah dikembangkan
untuk mendeteksi antigen mikroba pada bahan pemeriksaan dengan jalan
mewarnainya dengan antibodi spesifik yang telah diberi tanda/label dengan zat
warna fluoresen (immunofluorescence).
Mikroskop fluoresensi digunakan untuk melihat spesimen yg sukar
diamati karena ukurannya kecil. Spesimen akan menghasilkan cahaya berpendar.
Mikroskop ini digunakan dalam prosedur diagnostik yg disebut fluoroscent
antibody tecnique. Melalui FM mikroorganisme yang menyerang jaringan dapat
segera dideteksi. Prinsip kerja:
 Langkah pertama yg dilakukan adalah memberi warna flurochrome auramine
o.
 Untuk menghasilkan pencahayaan digunakan sinar UV atau sinar yang
panjang gelombangnya mendekati sinar UV. Hasilnya spesimen akan
mengeluarkan cahaya (berpendar).
Contoh spesimen yang ukurannya kecil adalah Mycobacterium
tubercolosis. Agar dapat diamati diberi warna flurochrome auramine o. Obyek
yang berukuran kecil dapat terlihat karena berpendar.
d. Mikroskop Fase Kontras
Mikroskop fase kontras digunakan untuk menambah kontras antara sel
dengan latar belakangnya, antara struktur dalam sel dengan sitoplasma.
Mikroskop fase kontras digunakan untuk melihat objek dengan indeks refraksi
sinar yang berbeda. Fase perubahan bagian dalam sistem lensa objektif mengubah
sinar sehingga ada perbedaan dalam fase antara sinar yang terdefraksi dengan
sinar yang tidak mengalami defraksi. Jika sinar yang mengalami defraksi dan
tidak terdefraksi bersama-sama lagi ada penurunan intensitas sinar, sebab adanya
perbedaan fase. Semakin kecil objek yang sangat terang, defraksi lebih besar dan
objek akan terlihat lebih gelap.
Mikroskop ini dipakai utuk mengamati dengan detail/teliti struktur internal
spesimen hidup tanpa pewarnaan.Prinsip kerja menggunakan kondensor khusus
dan lempeng pemecah cahaya. Efek yg ditimbulkan adalah derajat terang yang
berbeda.Sorotan cahaya dipisahkan dan menerangi obyek melalui jalur yang
berbeda. Cahaya yang terpecah biasanya berwarna keemasan sedang cahaya yang
tidak terpisah berwarna merah. Tampilan obyeknya menunjukkan perbedaan
struktur internal dengan sangat jelas. Demikian pula tepi selnya. Keunikan dari
fase kontras adalah munculnya pita cahaya mengelilingi sel yang dikenal dengan
sebutan halo fase.
2. Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu melakukan
pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki
kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop
cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya.
Mikroskop elektron digunakan untuk melihat secara rinci struktur mikroba.
Lensa magnetik digunakan oleh elektron yang langsung berlawanan dengan objek dan
memfokuskan elektron yang langsung berlawanan dengan objek yang dihasilkan pada
layar atau papan fotografik. Sinar elektron mempunyai panjang gelombang yang lebih
pendek dari sinar yang terlihat atau radiasi sinar ultraviolet. Secara teoritis batas
pemisah untuk mikroskop elektron kira-kira 100 kali lebih kecil daripada batas pemisah
untuk mikroskop cahaya sehingga mikroskop elektron dapat memberikan perbesaran
yang jauh lebih besar daripada mikroskop cahaya dan memiliki daya pisah yang lebih
besar. Spesimen pada mikroskop elektron harus disiapkan sebagai suatu lapisan kering
yang teramat tipis dan dimasukkan antara kondensor magnetik dan obyektif magnetik
(sistem optik kaca tidak digunakan pada mikroskop elektron). Bayangan yang
diperbesar akan tampak pada layar flouresen atau terekam pada film fotografik oleh
kamera yang terpasang pada instrumen tersebut. Terdapat dua jenis mikroskop elektron
yaitu:
a. TEM (Transmission Elektron Microscope)
Seorang ilmuwan dari universitas Berlin yaitu Dr. Ernst ruska
membangun mikroskop transmisi elektron (TEM) yang pertama pada tahun 1931.
Untuk hasil karyanya ini maka dunia ilmu pengetahuan menganugrahinya hadiah
penghargaan nobel dalam fisika pada tahun 1986. Mikroskop transmisi elektron
(TEM) adalah sebuah mikroskop elektron yang cara kerjanya mirip dengan cara
kerja proyektor slide dimana elektron ditembuskan ke dalam obyek pengamatan
dan pengamat mengamati hasil tembusannya pada layar. TEM digunakan untuk
mempelajari struktur subselular dan hubungan satu dengan yang lainnya. Dengan
TEM, maka gambar yang dihasilkan akan memiliki tingkat resolusi yang jauh
lebih tinggi daripada mikroskop cahaya,sehingga dapat melihat sesuatu yang
memiliki ukuran 10.000 kali lebih kecil daripada ukuran objek terkecil yang bisa
terlihat di mikroskop cahaya.
Kekurangan TEM adalah persiapan sampel untuk TEM umumnya
memerlukan lebih banyak waktu dan pengalaman daripada kebanyakan teknik
karakterisasi lainnya. Sebuah spesimen TEM tebalnya harus mendekati 1000Å
.Selain itu memerlukan persiapan sampel yang lebih rumit untuk menghasilkan
sebuah sampel yang cukup tipis, yang membuat analisis TEM relatif memakan
waktu dalam peletakan sampel yang kecil. Struktur sampel juga mungkin berubah
selama proses persiapan. Bidang pandang relatif kecil, meningkatkan
kemungkinan bahwa daerah dianalisis mungkin tidak menjadi ciri khas dari
seluruh sampel serta ada potensi pula sampel rusak oleh berkas elektron.
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan
persiapan sediaan dengan tahap sebagai berikut :
1. Melakukan fiksasi, yang bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah
struktur sel yang akan diamati. Fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan
senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida.
2. Pembuatan sayatan, yang bertujuan untuk memotong sayatan hingga setipis
mungkin agar mudah diamati di bawah mikroskop. Preparat dilapisi dengan
monomer resin melalui proses pemanasan, kemudian dilanjutkan dengan
pemotongan menggunakan mikrotom. Umumnya mata pisau mikrotom terbuat
dari berlian karena berlian tersusun dari atom karbon yang padat. Oleh karena
itu, sayatan yang terbentuk lebih rapi. Sayatan yang telah terbentuk diletakkan
di atas cincin berpetak untuk diamati.
3. Pelapisan/pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras antara preparat
yang akan diamati dengan lingkungan sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat
menggunakan logam berat seperti uranium dan timbal.
b. SEM (Scanning Elektron Microscope)
Tidak diketahui secara persis siapa sebenarnya penemu Scanning Elektron
Microscope ini. Publikasi pertama kali yang mendiskripsikan teori SEM
dilakukan oleh fisikawan Jerman Dr. Max Knoll pada 1935, meskipun fisikawan
jerman lainnya Dr. Manfren Von Ardenne mengklaim dirinya telah melakukan
penelitian suatu fenomena yang kemudian disebut SEM hingga tahun 1937.
Mungkin karena itu, tidak satupun dari keduanya mendapatkan hadiah nobel
untuk penemuan itu. Pada tahun 1942 tiga orang ilmuan Amerika Dr. Valdimir
Kosma Zworykin, Dr. James Hillier, dan Dr.Snijer,benar-benar membangun
sebuah mikroskop elektron metode pemindaian (SEM) dengan resolusi hingga 50
nm atau magnifikasi 8.000 kali. Sebagai perbandingan modern sekarang ini
mempunyai resolusi hinggga 1 nm atau pembesaran 400.000 kali.
Mikroskop elektron cara ini memfokuskan sinar elektron (elektron bean)
di permukaan obyek dan mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang
muncul dari permukaan obyek. Mikroskop pemindai elektron (SEM) digunakan
untuk study detil arsitektur permukaan sel (struktur jasad renik lainnya), dan
obyek diamati secara tiga dimensi.
Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi
pada mikroskop optik dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi
elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari
permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut disinari dengan sinar
elektron.Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya
diperkuat sinyalnya,kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi
gelap terang pada layar monitor CRT (Cathode Ray Tube). Di layar CRT inilah
gambar struktur objek yang sudah diperbesar bisa dilihat. Pada proses operasinya,
SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan,sehingga bisa digunakan untuk
melihat objek dari sudut pandang tiga dimensi.
Perbedaan mendasar dari TEM dan SEM adalah pada cara bagaimana
elektron yang ditembakkan oleh pistol elektron mengenai sampel. Pada TEM,
sampel yang disiapkan sangat tipis sehingga elektron dapat menembusnya
kemudian hasil dari tembusan elektron tersebut yang diolah menjadi gambar.
Sedangkan pada SEM sampel tidak ditembus oleh elektron sehingga hanya
pendaran hasil dari tumbukan elektron dengan sampel yang ditangkap oleh
detektor dan diolah.