Anda di halaman 1dari 3

Given the prevalence of fraud, it is important to consider the auditor’s role related to fraud detection.

In October 2010, the Center for Audit Quality (CAQ) issued a paper titled
Deterring and Detecting Financial Reporting Fraud—A Platform for Action.2
The CAQ views fraud-related responsibilities as the key means to improve the external auditor’s
contribution to society and to gain respect for the auditing profession. However, the CAQ also
recognizes that preventing and detecting fraud cannot be the job of the external auditor alone; all the
parties involved in preparing and opining on audited financial statements need to play a role in
preventing and detecting fraud. The CAQ report identifies three ways in which individuals involved in
the financial reporting process (management, the audit committee, internal audit, external audit, and
regulatory authorities) can mitigate the risk of fraudulent financial reporting:

Mengingat kemungkinan adanya fraud, penting untuk mempertimbangkan peran auditor terkait
dengan deteksi fraud. Pada bulan Oktober 2010, Center for Audit Quality (CAQ) menerbitkan
sebuah makalah berjudul Deterring and Detecting Financial Reporting Fraud—A Platform for Action.
CAQ memandang tanggung jawab terkait fraud sebagai kunci utama untuk memperbaiki kontribusi
auditor eksternal terhadap masyarakat dan untuk mendapatkan penghargaan atas profesi auditing.
Namun, CAQ juga mengakui bahwa mencegah dan mendeteksi kecurangan tidak dapat menjadi
tugas auditor eksternal semata; Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan yang diaudit juga perlu berperan dalam mencegah dan mendeteksi fraud.
Laporan CAQ mengidentifikasi tiga cara di mana individu yang terlibat dalam proses pelaporan
keuangan (manajemen, komite audit, audit internal, audit eksternal, dan otoritas pengatur) dapat
mengurangi risiko pelaporan keuangan yang tidak benar:

● These individuals need to acknowledge that there needs to exist a strong, highly ethical tone at the
top of an organization that permeates the corporate culture, including an effective fraud risk
management program.
● These individuals need to continually exercise professional skepticism, a questioning mindset that

strengthens professional objectivity, in evaluating and/or preparing financial reports.


● These individuals need to remember that strong communication among those involved in the

financial reporting process is critical.

● Individu-individu ini perlu mengakui bahwa perlu ada program yang kuat dan sangat etis di puncak
sebuah organisasi yang menembus budaya perusahaan, termasuk effective fraud risk management
program
● Individu-individu ini perlu terus-menerus menerapkan skeptisisme profesional, pola pikir

mempertanyakan yang memperkuat objektivitas profesional, dalam mengevaluasi dan / atau


menyiapkan laporan keuangan.
● Individu-individu ini perlu mengingat bahwa komunikasi yang kuat antara mereka yang terlibat

dalam proses pelaporan keuangan sangat penting.

Auditing standards historically have reflected a belief that it is not reasonable to expect auditors to
detect cleverly implemented frauds. However, it is increasingly clear that the general public, as
reflected in the orientation of the PCAOB, expects that auditors have a responsibility to detect and
report on material frauds, as noted below:

Standar auditing (pada zaman dahulu) secara historis mencerminkan kepercayaan bahwa tidak
wajar mengharapkan auditor untuk mendeteksi fraud yang di dalam perusahaan. Namun, semakin
jelas bahwa masyarakat umum, sebagaimana tercermin dalam orientasi PCAOB, mengharapkan
agar auditor memiliki tanggung jawab untuk mendeteksi dan melaporkan fraud yang material, seperti
yang disebutkan di bawah ini:

The mission of the PCAOB is to restore the confidence of investors, and society generally, in the independent
auditors of companies. There is no doubt that repeated revelations of accounting scandals and audit failures
have seriously damaged public confidence. The detection of material fraud is a reasonable expectation of users
of audited financial statements. Society needs and expects assurance that financial information has not been
materially misstated because of fraud. Unless an independent audit can provide this assurance, it has little if any value
to society.
Misi PCAOB adalah mengembalikan kepercayaan investor, dan masyarakat pada umumnya terhadap independensi auditor
terhadap perusahaan yang diaudit. Tidak ada keraguan bahwa pengungkapan skandal akuntansi berulang dan kegagalan
audit telah merusak kepercayaan publik secara serius. Deteksi fraud yang material adalah ekspektasi wajar pengguna
laporan keuangan yang diaudit. Kebutuhan masyarakat dan harapan masyarakat akan kepastian bahwa informasi keuangan
tidak salah saji secara material karena fraud. Jika audit independen tidak dapat memberikan kepastian ini, maka auditor
hanya kurang memiliki nilai yang berarti bagi masyarakat.

[emphasis added]3
The users’ message to auditors is clear: auditors must assume a greater responsibility for detecting
fraud and providing assurance that the financial statements are free of material fraud. Professional
auditing standards do require the auditor to plan and perform an audit that will detect material
misstatements resulting from fraud. As part of that requirement, auditors should begin an audit with a
brainstorming session that focuses on how and where fraud could occur within the organization.
Auditors also need to communicate with the audit committee and management about the risks of
fraud and how they are addressed. The auditor should then plan the audit to be responsive to an
organization’s susceptibility to fraud. In subsequent chapters, we discuss specific ways that auditors
can respond to fraud in various phases of the audit.

Pesan pengguna kepada auditor jelas: auditor harus mengambil tanggung jawab lebih besar untuk
mendeteksi fraud dan memberikan kepastian bahwa laporan keuangan bebas dari fraud yang
material. Professional auditing standards mengharuskan auditor untuk merencanakan dan
melaksanakan audit yang dapat mendeteksi salah saji material akibat fraud. Sebagai bagian dari
persyaratan tersebut, auditor harus memulai audit dengan sesi brainstorming yang berfokus pada
bagaimana dan di mana fraud dapat terjadi dalam organisasi/perusahaan. Auditor juga perlu
berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen mengenai risiko fraud yang ada dan
bagaimana penanganannya. Auditor kemudian merencanakan audit yang responsif terhadap
kerentanan organisasi terhadap fraud.

Responsibilities of Audit Committees

Section 301 of the Sarbanes-Oxley Act outlines the responsibilities of audit committee members for
publicly traded companies, stating that audit committees are to be directly responsible for the
appointment, compensation, and oversight of the work of registered accounting firms; they
must be independent; they must establish whistleblowing mechanisms within the company; they
must have the authority to engage their own independent counsel; and companies must provide
adequate funding for audit committees.
Bagian 301 dari Sarbanes-Oxley Act menguraikan tanggung jawab anggota komite audit untuk
perusahaan publik, yang menyatakan bahwa komite audit harus bertanggung jawab langsung atas
pengangkatan, kompensasi, dan pengawasan atas pekerjaan perusahaan akuntan terdaftar; mereka
harus mandiri; mereka harus membangun mekanisme whistleblowing (mekanisme dimana mereka
dapat melaporkan kesalahan/fraud yang dilakukan oleh perusahaan) di dalam perusahaan; mereka
harus memiliki wewenang untuk melibatkan penasihat independen mereka sendiri; dan perusahaan
harus menyediakan dana yang cukup untuk komite audit.

In addition to these broad responsibilities, the NYSE has mandated certain specific responsibilities of
audit committees, including:
● Obtaining each year a report by the external auditor that addresses the company’s internal control

procedures, any quality control or regulatory problems, and any relationships that might threaten the
independence of the external auditor
● Discussing the company’s financial statements with management and the external auditor
● Discussing in its meetings the company’s earnings press releases, as well as financial information
and earnings guidance provided to analysts
● Discussing in its meetings policies with respect to risk assessment and risk management

● Meeting separately with management, internal auditors, and the external auditor on a periodic

basis
● Reviewing with the external auditor any audit problems or difficulties that they have had with

management
● Setting clear hiring policies for employees or former employees of the external auditors

● Reporting regularly to the board of directors

Selain tanggung jawab yang luas ini, NYSE telah mengamanatkan beberapa tanggung jawab
khusus komite audit, termasuk:
● Setiap tahun memperoleh laporan dari auditor eksternal yang membahas prosedur pengendalian
internal perusahaan, masalah pengendalian mutu atau peraturan, dan hubungan apa pun yang
dapat mengancam independensi auditor eksternal.
● Membahas laporan keuangan perusahaan dengan manajemen dan auditor eksternal
● Membahas dalam rapat mengenai pendapatan perusahaan yang dipublikasikan dan juga
informasi keuangan beserta panduan pendapatan yang diberikan kepada analis
● Membahas dalam rapat kebijakan berkenaan dengan penilaian risiko dan manajemen risiko
● Bertemu secara terpisah dengan manajemen, auditor internal, dan auditor eksternal secara
periodik
● Mengkaji ulang dengan auditor eksternal apakah ada masalah atau kesulitan audit yang mereka
hadapi dengan manajemen
● Menetapkan kebijakan perekrutan yang jelas untuk karyawan atau mantan karyawan auditor
eksternal
● Melaporkan secara teratur kepada dewan direksi

Further, in many companies the audit committee also has the authority to hire and fire the head of
the internal audit function, set the budget for the internal audit activity, review the internal audit plan,
and discuss all significant internal audit results. Other responsibilities might include performing or
supervising special investigations, reviewing policies on sensitive payments, and coordinating
periodic reviews of compliance with company policies such as corporate governance policies.

Selanjutnya, di banyak perusahaan, komite audit juga memiliki wewenang untuk mempekerjakan
dan memecat kepala fungsi audit internal, mengatur anggaran untuk kegiatan audit internal,
meninjau rencana audit internal, dan mendiskusikan semua hasil audit internal yang signifikan.
Tanggung jawab lainnya termasuk melakukan atau mengawasi penyelidikan khusus, meninjau
kembali kebijakan mengenai pembayaran sensitif, dan mengkoordinasikan peninjauan berkala
terhadap kepatuhan terhadap kebijakan perusahaan seperti kebijakan tata kelola perusahaan.