Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat dan karunia-Nya lah Laporan Company Visit ini dapat terselesaikan dengan baik dan
tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan Laporan Company Visit ini adalah untuk
memenuhi prasyarat Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan judul “Laporan Company Visit
2018 Kementrian Keuangan Republik Indonesia”.

Penulisan laporan company visit inibermaksud agar pembaca, masyarakat umum serta
mahasiswa pada khususnya agar dapat memahami dan mengetahui tentang Kementrian
Keuangan Republik Indonesia.

Saya menyadari, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
laporan ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan adanya
kritik dan saran yang bersifat positif, guna memperbaiki penulisan laporan ini menjadi lebih
baik lagi di masa yang akan datang.

Saya mengharapkan, semoga laporan yang sederhana ini dapat memberi banyak
manfaat bagi para pembaca dan bisa menjadi ilmu untuk kita semua dalam proses belajar.

Bandung, 30 April 2018

Hilfan Dea Zulfikar


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu proses akhir dari studi S1 adalah penyusunan skripsi, dimana kebijakan STIE
Ekuitas adalah bahwa setiap mahasiswa yang akan menyusun skripsi, diwajibkan untuk
melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) terlebih dahulu pada perusahaan-perusahaan
sesuai dengan konsentrasi yang diambil.
Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) tersebut, maka
pihak Program Studi S1 Akuntansi yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa S1
Akuntansi (HIMASI) membuat sebuah kebijakan bahwa untuk dapat melaksanakan
kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL), maka setiap mahasiswa harus memahami terlebih
dahulu mengenai berbagai jenis perusahaan dan industri yang ada di dunia bisnis Indonesia
ini dengan cara mengadakan kunjungan industri secara langsung ke perusahaan-perusahaan
ternama di Indonesia.
Untuk menunjang kebijakan tersebut maka Program Studi S1 Akuntansi yang bekerja
sama dengan Himpunan Mahasiswa S1 Akuntansi (HIMASI) mengadakan acara Company
Visit ke tiga perusahaan ternama di Indonesia, diantaranya PT COCA COLA, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kementrian Keuangan Republik Indonesia
Oleh karena itu, sebagai hasil dari kunjungan industry atau Company Visit ini, saya
menyusun dan mengajukan laporan hasil company visit untuk memenuhi salah satu
prasyarat pengajuan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana profil Kementrian Keuanan Republik Indonesia?
2. Bagaimana Tugas dan Fungsi Kementrian Keuanan Republik Indonesia?

1.3 Tujuan Company Visit


1. Untuk mengetahui profil Kementrian Keuangan Republik Indonesia
2. Untuk mengetahui tugas dan fungsi Kementrian Keuangan Republik Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kementrian Keuangan Republik Indonesia


a. Sejarah Pengelolaan Keuangan Indonesia

Di Indonesia, sejarah pengelolaan keuangan pemerintahan sudah ada sejak masa lampau.
Setiap pemerintahan, mulai zaman kerajaan sampai sekarang, memiliki pengelola keuangan
untuk memastikan terlaksananya pembangunan dalam pemerintahannya.

Pembangunan ekonomi akan berjalan lancar jika disertai dengan administrasi yang baik dalam
pengelolaan keuangan negara. Pengelolaan keuangan tersebut dilakukan atas dana yang
dihimpun dari masyarakat, antara lain berupa upeti, pajak, bea dan cukai, dan lain-lain.

Sebagai bagian dari suatu pemerintahan, Kementerian Keuangan merupakan instansi


pemerintah yang memiliki peranan vital dalam suatu negara. Peranan vital Kementerian
Keuangan adalah mengelola keuangan negara dan membantu pimpinan negara di bidang
keuangan dan kekayaan negara. Oleh karena itu, Kementerian Keuangan dikatakan sebagai
penjaga keuangan negara (Nagara Dana Rakca).
Sejarah Sebelum Kemerdekaan

Belanda berhasil menduduki Hindia Belanda setelah mengusir Portugis dari Nusantara.
Selanjutnya, Belanda melimpahkan wewenangnya di Hindia Belanda kepada Vereenigde
Oostindische Compagnie (VOC). VOC, yang pada saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal
Jan Pieterzoon Coen (1619-1623 dan 1627-1629), diberi hak octrooi, yang salah satunya
adalah mencetak uang dan melakukan kebijakan perekonomian.

Sejak tahun 1600-an, VOC mengeluarkan kebijakan untuk menambah isi kas negara dengan
menetapkan tiga peraturan. Pertama, verplichte leverentie, yaitu kewajiban menyerahkan hasil
bumi pada VOC. Kedua, contingenten, yaitu pajak atas hasil bumi dan pembatasan jumlah
tanaman rempah-rempah agar harganya tinggi. Ketiga, preangerstelsel, yaitu kewajiban
menanam pohon kopi.

Saat Hindia Belanda beralih kekuasan ke Inggris, Pemerintahan Inggris melalui Thomas
Stamford Raffles (1811-1816) mengeluarkan kebijakan baru dengan nama Landrent (pajak
tanah). Kebijakan tersebut mengubah pola pajak bumi yang diterapkan Belanda sebelumnya.

Hindia Belanda kemudian dikuasai kembali oleh Belanda setelah melalui kesepakatan Inggris-
Belanda. Pada periode ini, mulai ada perbaikan perekonomian.

Pada tahun 1836, atas inisiatifnya, van Den Bosch mulai memberlakukan cultuurstelsel (sistem
tanam paksa) yang bertujuan untuk memproduksi berbagai komoditi yang memiliki permintaan
di pasar dunia. Sistem ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka mengenalkan
penggunaan uang di masyarakat Hindia Belanda.
Cultuurstelsel dan kerja rodi (kerja paksa) mampu mengenalkan ekonomi uang pada
masyarakat pedesaan. Hal ini dilihat dengan meningkatnya jumlah penduduk yang melakukan
kegiatan ekonomi. Reformasi keuangan sudah berkali-kali dilakukan, tetapi belum
menghasilkan keuangan yang sehat.

Kebijakan selanjutnya yang dilakukan pemeritahan Belanda di Hindia Belanda adalah Laissez
faire laissez passer, yaitu perekonomian diserahkan pada pihak swasta (kaum kapitalis).
Kebijakan ini dilakukan atas desakan kaum Humanis Belanda yang menginginkan perubahan
nasib warga agar lebih baik. Peraturan agraria baru ini bukannya mengubah menjadi lebih baik
melainkan menimbulkan penderitaan yang tidak layak.

Pecahnya perang dunia II di Eropa yang terus menjalar hingga ke wilayah Asia
Pasifik, membuat kedudukan Indonesia sebagai jajahan Belanda sangat sulit, ditambah dengan
terjepitnya pemerintah Belanda akibat serbuan Jepang. Menjelang kedatangan Jepang di Pulau
jawa, Presiden DJB, Dr. G.G. van Buttingha Wichers berhasil memindahkan semua cadangan
emas ke Australia dan Afrika Selatan melalui pelabuhan Cilacap.

Selama 1942-1945, Jepang menerapkan beberapa kebijakan seperti, memaksa penyerahan


seluruh aset bank, melakukan ordonansi berupa perintah likuidasi untuk seluruh Bank Belanda,
Inggris, dan Cina. Selain itu, Jepang juga melakukan invasion money senilai 2,4 milyar gulden
di pulau Jawa hingga 8 milyar gulden (pada tahun 1946). Tujuan invasion money yang
dilakukan oleh Jepang adalah menghancurkan nilai mata uang Belanda yang sudah terlanjur
beredar di Hindia Belanda.

Sejarah Setelah Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kota Jakarta menjadi pusat


Pemerintahan. Pada masa pemerintahan tersebut Gedung Departemen Keuangan lama ini juga
masih berfungsi sebagai pusat kegiatan pengolahan keuangan sehari-hari. Di sebelah kiri
gedung lama Departemen Keuangan, yang dahulu bekas tempat Gedung Volksraad (Dewan
Rakyat pada masa pemerintahan Hindia Belanda) kemudian sebagai gedung DPR pada masa
awal Kemerdekaan kini menjadi gedung utama Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Pada gedung inilah menteri keuangan selaku pimpinan departemen keuangan Republik
Indonesia menjalankan tugasnya sehari-hari mengatur kegiatan kegiatan Keuangan Republik
Indonesia.
Pergantian Nomenklatur

Menindak lanjuti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementrian Negara Juncto
Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang pembentukan dan Organisasi Kementrian
Negara, serta merujuk pada surat edaran Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Nomor SE-
11/MK.1/2010 tentang perubahan Nomenklatur Departemen Keuangan menjadi Kementrian
Keuangan, maka sejak 2009, Departemen Keuangan resmi berubah nama menjadi Kementrian
Keuangan.

Visi dan Misi Kementrian Keuangan Republik Indonesia


Kami akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad
ke-21
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Keuangan mempunyai 5 (lima) misi yaitu :
1. Mencapai tingkat kepatuhan pajak, bea dan cukai yang tinggi melalui pelayanan prima
dan penegakan hukum yang ketat;
2. Menerapkan kebijakan fiskal yang prudent;
3. Mengelola neraca keuangan pusat dengan risiko minimum;
4. Memastikan dana pendapatan didistribusikan secara efisien dan efektif;
5. Menarik dan mempertahankan talent terbaik di kelasnya dengan menawarkan proposisi
nilai pegawai yang kompetitif

b. Tugas dan Fungsi

Ada beberepa tugas dan fungsi dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia diantaranya
ialah :

1. Kementerian Keuangan Republik Indonesia


2. Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia
3. Sekretariat Jenderal
4. Direktorat Jenderal Anggaran
5. Direktorat Jenderal Pajak
6. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
Tugas
7. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
a) Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Tugas : menyelenggaran urusan kepemrintahan di bidang keuangan negara untuk membantu


presiden dalam menyelenggarakan kemeperintahan negara.
Fungsi
1. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang penganggaran, pajak, kepabeanan
dan cukai, perbendaharaan, kekayaan negara, perimbangan keuangan, dan pengelolaan
pembiayaan dan risiko;
2. koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh
unsur organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan;
3. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Keuangan;
4. pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan
Kementerian Keuangan.
5. pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah;

b) Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia


Tugas : membantu menteri dalam mempimpin penyelenggaran urusan kementrian.

c) Sekretariat Jenderal
Tugas : menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan
administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan kementrian keuangan.
fungsi
1. koordinasi kegiatan Kementerian Keuangan;
2. pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang 
 meliputi ketatausahaan, kepegawaian,

keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip, dan dokumentasi


Kementerian Keuangan;
3. pkoordinasi dan penyusunan peraturan perundang- undangan serta pelaksanaan advokasi hukum;
4. pengordinasian kegiatan kementrian keuangan

d) Direktorat Jenderal Anggaran


Tugas : menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penganggaran sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.
fungsi
1. perumusan kebijakan di bidang penyusunan anggaran pendapatan negara, anggaran belanja negara,
anggaran pembiayaan, standar biaya, dan penerimaan negara bukan pajak;
2. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyusunan anggaran pendapatan
negara, anggaran belanja negara, anggaran pembiayaan, standar biaya, dan penerimaan negara
bukan pajak
3. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri Keuangan.
4. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penyusunan anggaran pendapatan
negara, anggaran belanja negara, anggaran pembiayaan, standar biaya, dan penerimaan negara
bukan pajak;

e) Direktorat Jenderal Pajak


Tugas : Menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijkan di bidang pajak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
fungsi
1. perumusan kebijakan di bidang perpajakan;
2. pelaksanaak kebijakan dibidang perpajakan
3. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perpajakan
4. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang perpajakan;

f) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko


Tugas
Menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan pinjaman, hibah, surat
berharga negara, dan risiko keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
fungsi
1. perumusan kebijakan di bidang pengelolaan pinjaman, hibah, surat berharga negara, dukungan
pembiayaan dan penjaminan pembangunan, dan risiko keuangan;
2. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan pinjaman, hibah, surat
berharga negara, dukungan pembiayaan dan penjaminan pembangunan dan risiko keuangan;
3. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pengelolaan pinjaman, hibah, surat
berharga negara, dukungan pembiayaan dan penjaminan pembangunan dan risiko keuangan;
4. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri Keuangan.

g) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai


Tugas : menyelenggarakn perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang pengawasan, penegakan
hukum, pelayanan, dan optimalisasi penerimaan negara di bidang kepabeanan dan cukai sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
Fungsi

1. perumusan kebijakan di bidang pengawasan, penegakan 
 hukum, pelayanan dan optimalisasi

penerimaan negara di bidang kepabeanan dan cukai;


2. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di 
 bidang pengawasan, penegakan hukum,

pelayanan dan optimalisasi penerimaan negara di bidang kepabeanan dan cukai;


3. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pengawasan, penegakan hukum,
pelayanan dan optimalisasi penerimaan negara di bidang kepabeanan dan cukai;
4. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri Keuangan.

2.2 Pengalaman yang di dapat dari Company Visit 2017


Pengalaman yang didapat selama company visit di Kementrian Keuangan Republik
Indonesia adalah dapat mengetahui profil perusahaan, mengetahui dan juga mengenai tugas
dan fungsi yang ternyata terbagi menjadi beberapa unit unit dalam tugas dan fungsi
kementrian keuangan republik Indonesia.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Company Visit ini bertujuan agar mahasiswa/mahasiswi mendapatkan pengalaman
faktual tentang pelaksanaan proses perkuliahan. Setelah diadakannya kunjungan lapangan
ini, mahasiswa/mahasiswi diharapkan mampu memahami secara langsung bagaimana tugas
dan fungsi maupun kegiatan ekonomi yang dikelola oleh Kementrian Keuangan Republik
Indonesia

3.2 Saran
Tentunya Kementrian Keuangan Republik Indonesia harus menjaga mauapun
mengelola perekonomian Indonesia dengan baik dan menjalankan bagian bagian atau unit unit
yang ada didalamnya dapat mengelola kestabilan ekonomi Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

https://www.kemenkeu.go.id/