Anda di halaman 1dari 217

-i-

DAFTAR ISI

Halaman

MODUL 1 : GARIS PENGARUH KONSTRUKSI


RANGKA BATANG (KRB)
1.1. Judul : Garis Pengaruh KRB 1
1.1.1. Pendahuluan 1
1.1.2. Definisi 3
1.1.3. Contoh soal dan penyelesaian 3
1.1.4. Soal-Soal Latihan : Garis Pengaruh KRB 3
1.1.5. Rangkuman 15
1.1.6. Penutup 15
1.1.7. Daftar Pustaka 16
1.1.8. Senarai 16
1.2. Judul : Garis Pengaruh KRB Bersusun 17
1.2.1. Pendahuluan 17
1.2.2. Pengertian Dasar 17
1.2.3. Contoh soal dan penyelesaian : Menggambar grafik garis 17
pengaruh gaya-gaya batang KRB bersusun
1.2.4. Soal-soal latihan : Garis Pengaruh KRB Bersusun 25

1.2.5. Rangkuman 26
1.2.6. Penutup 26
1.2.7. Daftar Pustaka 27
1.2.8. Senarai 27
1.3. Judul : Perpindahan Tempat Titik Simpul Pada KRB 28
1.3.1. Pendahuluan 28
1.3.2. Pengertian Dasar 30
1.3.3. Contoh soal dan penyelesaian menghitung besarnya 31
perpindahan tempat titik simpul pada KRB
1.3.4. Soal-soal latihan : Perpindahan tempat titik simpul pada 35
KRB
1.3.5. Rangkuman 36
1.3.6. Penutup 36
-ii-

Halaman
1.4. Konstruksi Jembatan Gantung 38
1.4.1. Pendahuluan. 38
1.4.2. KJG dengan lantai kendaraan didukung oleh balok. 39
1.4.2.1. Langkah-langkah penyelesaian. 39
1.4.2.2. Contoh soal dan penyelesaian : Bidang-bidang gaya lintang 42
(D) dan Momen (M).
1.4.2.3. Garis Pengaruh Konstruksi Jembatan Gantung 46
1.4.2.4. Contoh soal dan penyelesaian : Garis pengaruh KJG. 47
1.4.2.5. Soal-soal latihan :Bidang-bidang M,D dan garis pengaruh 50
1.4.2.6. Rangkuman 51
1.4.2.7. Penutup 52
1.4.2.8. Daftar Pustaka 52
1.4.2.9. Senarai 52
1.4.3. KJG dengan lantai kendaraan didukung oleh KRB 53
1.4.3.1. Prinsip-prinsip dasar. 53
1.4.3.2. Contoh soal dan penyelesaian menghitung gaya-gaya batang 54
1.4.3.3. Soal-soal Latihan Gaya-gaya batang dan garis pengaruh 61
gaya-gaya batang pada KRB, jembatan gantung.
1.4.3.4. Rangkuman. 63
1.4.3.5. Penutup 63
1.4.3.6. Daftar Pustaka 64
1.4.3.7. Senarai 64
-iii-

Halaman
MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN
CARA PENYELESAIANNYA
2.1. Judul : Konstruksi Statis Tertentu 1
2.1.1. Pendahuluan 1
2.1.2. Definisi statis tertentu 2
2.1.3. Contoh 2
2.1.4. Latihan 4
2.1.5. Rangkuman 4
2.1.6. Penutup 4
2.1.7. Daftar Pustaka 5
2.1.8. Senarai 5

2.2. Judul : Gaya Dalam 6


2.2.1. Pendahuluan 6
2.2.2. Pengertian gaya dalam 7
2.2.3. Macam-macam gaya dalam 7
2.2.4. Gaya dalam momen 8
2.2.5. Gaya lintang (D) 10
2.2.6. Pengertian tentang gaya normal (N) 14
2.2.7. Ringkasan tanda gaya dalam 15
2.2.8. Contoh : Penyelesaian soal 1 16
2.2.9. Contoh : Penyelesaian soal 2 24
2.2.10. Latihan 25
2.2.11. Rangkuman 26
2.2.12. Penutup 26
2.3. Hubungan antara momen (M) ; gaya lintang D dan q 28
(Muatan)
2.4. Balok miring 29
2.4.1. Pengertian dasar 29
2.4.2. Contoh soal 30
2.5. Beban Segitiga 36
2.5.1. Pengertian Dasar 36
2.5.2. Dasar Penyelesaian 37
-iv-

Halaman
2.5.3. Latihan 41
2.5.4. Rangkuman
2.5.5. Penutup 42
2.5.6. Daftar Pustaka 45
2.5.7. Senarai 45
2.6. Gelagar Tidak Langsung 46
2.6.1. Pengertian Dasar 46
2.6.2. Skema Penggambaran Muatan Langsung dalam 48
Mekanika Teknik
2.6.3. Cara Distribusi Beban 48
2.6.4. Latihan 52
2.6.5. Rangkuman 52
2.6.6. Penutup 52
2.6.7. Daftar Pustaka 54

2.6.8. Senarai 54

2.7. Garis Pengaruh 55

2.7.1. Pendahuluan 55

2.7.2. Pengertian Dasar 55

2.7.3. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh 57

2.7.4. Latihan 63

2.7.5. Rangkuman 64

2.7.6. Penutup 64

2.7.7. Daftar Pustaka 65

2.7.8. Senarai 65
-v-

Halaman

Modul 3 : BALOK GERBER


3.1. Judul : Balok Gerber 1
3.1.1. Pendahuluan 1
3.1.2. Definisi Balok Gerber 2
3.1.3. Bentuk Sendi Gerber 4
3.1.4. Menentukan Letak Sendi Gerber 6
3.1.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber 8
3.1.6. Contoh Soal 11
3.1.7. Latihan 14
3.1.8. Rangkuman 14
3.1.9. Penutup 15
3.1.10. Daftar Pustaka 16
3.1.11. Senarai 16
3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber 17
3.2.1. Pendahuluan 17
3.2.2. Prinsip Dasar 17
3.2.3. Mencari Harga Momen dan Gaya Lintang dengan Garis 21
Pengaruh
3.2.4. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 23
3.2.4.1. Pendahuluan 23
3.2.4.2. Prinsip Dasar Perhitungan 23
3.2.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suatu 28
Gelagar
3.2.5.1. Pendahuluan 28
3.2.5.2. Prinsip Dasar Perhitungan 28
3.2.6. Latihan : Garis Pengaruh Pada Balok Menerus dengan 32
Sendi-Sendi Gerber
3.2.7. Rangkuman 33
3.2.8. Penutup 33
3.2.9. Daftar Pustaka 36
3.2.10. Senarai 36
-vi-

Halaman
Modul 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA
CARA PENYELESAIANNYA
4.1. Judul : Pelengkung 3 Sendi 1
4.1.1. Pendahuluan 1
4.1.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 2
4.1.2.1. Pengertian dasar 2
4.1.2.2. Penetapan titik S (Sendi) 3
4.1.2.3. Pemilihan Bentuk Pelengkung 4
4.1.3. Cara Penyelesaian 6
4.1.3.1. Mencari Reaksi Perletakan 6
4.1.3.2. Mencari gaya-gaya dalam 10
4.1.4. Latihan 18
4.1.5. Rangkuman 19
4.1.6. Penutup 19
4.1.7. Daftar Pustaka 20
4.1.8. Senarai 20
4.2. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 21
4.2.1. Pendahuluan 21
4.2.2. Pengertian dasar 21
4.2.3. Prinsip Penyelesaian 21
4.3. Muatan tidak langsung pada pelengkung 3 sendi 27
4.3.1. Pendahuluan 27
4.3.2. Prinsip dasar 27
4.4. Garis pengaruh gelagar tidak langsung pada pelengkung 3 30
sendi
4.4.1. Pendahuluan 30
-vii-

Halaman
4.4.2. Prinsip dasar 30
4.5. Portal 3 Sendi 33
4.5.1. Pendahuluan 33
4.5.2. Prinsip dasar 33
4.6. Judul : Balok Gerber Pada Portal 3 Sendi 39
4.6.1. Pendahuluan 39
4.6.2. Prinsip Penyelesaian Dasar 39
4.6.3. Contoh Penyelesaian 40
4.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 41
4.7.1. Pendahuluan 41
4.7.2. Prinsip Dasar 41
4.7.3. Contoh Penyelesaian
4.8. Latihan : Garis Pengaruh Pada Pelengkung dan Portal 3 45
Sendi
4.9. Rangkuman 46
4.10. Penutup 46
4.11. Daftar Pustaka 47
4.12. Senarai 48
-viii-

Halaman
Modul 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN 1
CARA PENYELESAIANNYA
5.1. Judul : Konstruksi Rangka Batang 1
5.1.2. Tujuan Pembelajaran Umum 1
5.1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus 1
5.1.4. Pendahuluan 1
5.1.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 2
5.1.51. Bentuk 2
5.1.5.2. Perletakan 4
5.1.6. Rangka Batang Gerber 6
5.1.7. Prinsip Dasar 7
5.1.8. Keseimbangan Titik Simpul 8
5.1.9. Contoh Soal 1 10
5.1.10. Contoh Soal 2 16
5.1.11. Rangkuman 19
5.1.12. Penutup 19
5.1.13. Daftar Pustaka 20
5.1.14. Senarai 20
-ix-

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1. Gambar garis kerja gaya 4
Gambar 1.2. Penjumlahan gaya secara grafis 4
Gambar 1.3. Penjumlahan gaya 5
Gambar 1.4. Penjumlahan 6
Gambar 1.5. Penjumlahan 3 gaya yang tak mempunyai titik 7
tangkap yang sama
Gambar 1.6. Polygon batang dan jari-jari polygon 8
Gambar 1.7. Penjumlahan gaya secara analitis 9
Gambar 1.8. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap yang 10
berbeda, secara analitis
Gambar 1.9. Gambar portal gedung bertingkat dalam 13
Mekanika Teknik
Gambar 1.10. Gambar jembatan dalam Mekanika Teknik 14
Gambar 1.11. Gambar beban terpusat dalam Mekanika Teknik 14
Gambar 1.12. Penggambaran beban terbagai rata dalam 15
Mekanika Teknik
Gambar 1.13. Gambar Perletakan jembatan dalam Mekanika 16
Teknik
Gambar 1.14. Gambar perletakan gedung dalam Mekanika 17
Teknik
Gambar 1.15. Skema perletakan rol 17
Gambar 1.16. Aplikasi perletakan rol dalam Mekanika Teknik 18
Gambar 1.17. Skema perletakan sendi 18
Gambar 1.18. Aplikasi perletakan sendi dalam Mekanika 19
Teknik
Gambar 1.19. Skema perletakan jepit 19
Gambar 1.20. Aplikasi perletakan jepit dalam Mekanika 20
Teknik
Gambar 1.21. Skema Perletakan Pendel 20
Gambar 1.22. Aplikasi Perletakan Pendel dalam Mekanika 20
Teknik
Gambar 1.23. Kotak yang di lem diatas meja 21
Gambar 1.24. Keseimbangan Vertikal 22
Gambar 1.25. Kotak tenggelam dalam lumpur 22
-x-

Halaman
Gambar 1.26. Keseimbangan horizontal 22
Gambar 1.27. Kotak yang bergeser karena beban horizontal 23
Gambar 1.28. Keseimbangan momen 23
Gambar 1.29. Kotak yang terangkat karena beban momen 24
Gambar 1.30. Keseimbangan statis 24
Gambar 2.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika 1
Teknik
Gambar 2.2. Konstruksi statis tertentu 2
Gambar 2.3. Konstruksi statis tertentu 3
Gambar 2.4. Konstruksi statis tak tertentu 3
Gambar 2.5. Contoh (a) 6
Gambar 2.6. Contoh (b) 6
Gambar 2.7. Orang membawa beban 7
Gambar 2.8. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban p 7
(melendut)
Gambar 2.9. Balok yang menerima beban terpusat dan beban 8
terbagi rata
Gambar 2.10. Gambar potongan struktur bagian kiri 9
Gambar 2.11. Gambar potongan struktur bagian kanan 10
Gambar 2.12. Tanda Momen 10
Gambar 2.13. Gambar balok menerima beban 10
Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri 11
Gambar 2.15. Potongan balok bagian kanan 11
Gambar 2.16. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) 12
Gambar 2.17. Skema gaya lintang dengan tanda positif (-) 13
Gambar 2.18. Balok tanpa beban normal 14
Gambar 2.19. Balok menerima beban normal 14
Gambar 2.20. Ringkasan tanda gaya dalam 15
Gambar 2.21. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya 16
Gambar 2.22. Gambar bidang M, N, D balok diatas 2 tumpuan 23
Gambar 2.23. Bidang M, N, D balok catilever 24
Gambar 2.24. Distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx 28
Gambar 2.25. Skema balok miring 30
Gambar 2.26.a. Pembebanan pada balok miring 31
Gambar 2.26.b Distribusi beban pada balok miring 32
Gambar 2.27 Bidang gaya dalam pada balok miring 34
Gambar 2.28.a Diagram beban segitiga 36
-xi-

Halaman

Gambar 2.28.b Beban segitiga pada struktur 37


Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga 40
Gambar 2.30. Jembatan dengan gelagar langsung 46
Gambar 2.31. Skema gelagar tidak langsung 47
Gambar 2.32. Penyederhanaan awal gelagar tidak langsung 48
Gambar 2.33. Penyederhanaan akhir gelagar tidak langsung 48
Gambar 2.34. Distribusi beban terbagi rata pada gelagar tidak 48
langsung
Gambar 2.35. Distribusi beban terbagi rata pada gelagar tidak 49
langsung
Gambar 2.36. Distribusi beban pada gelagar tidak langsung 50
Gambar 2.37. Bidang gaya lintang (D) dan gelagar tidak 51
langsung
Gambar 2.38. Gambar garis pengaruh RA dan RB 56
Gambar 2.39. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di 57
titik C
Gambar 2.40. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di 57
titik D
Gambar 2.41. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban tidak 57
sama dengan 1 ton
Gambar 2.42. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban 58
P = 6 ton
Gambar 2.43. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban 58
P1 = 6 ton dan P2 = 6 ton
Gambar 2.44. Gambar garis pengaruh gaya lintang di C 59
(GPDc)
Gambar 2.45. Gambar garis pengaruh momen di C (GPMc) 60
Gambar 2.46. Gambar bermacam-macam garis pengaruh 62
Gambar 3.1. Macam-macam bentang jembatan 1
Gambar 3.2. Skema balok gerber 2
Gambar 3.3. Detail sendi gerber 4
Gambar 3.4. Skema pemisahan balok gerber 5
Gambar 3.5. Balok statis tak tentu dan skema bidang 6
momennya
Gambar 3.6. Penentuan sendi gerber yang tidak mungkin 6
Gambar 3.7. Balok gerber dan pemisahannya 7
-xii-

Halaman
Gambar 3.9. Skema pemisahan balok gerber 10
Gambar 3.10. Gambar-gambar gaya dalam balok gerber 11
Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan 17
muatan berjalanb diatas gelagar
Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; RS; RB dan Rc) 19
Gambar 3.13. Garis pengaruh DI-I dan MI-I 19
Gambar 3.14. Garis pengaruh DII-II dan MII-II 21
Gambar 3.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) 22
dengan garis pengaruh
Gambar 3.16. Muatan berjalan diatas gelagar 23
Gambar 3.17. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan 24
Gambar 3.18. Posisi beban terbagi rata untuk mencari Mmax 26
Gambar 3.19. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan 27
Mmax dengan cara grafis
Gambar 3.20. Posisi beban untuk kondisi Mmax1 s/d Mmax5 30
Gambar 3.21. Posisi beban untuk mencari momen maximum 31
maximorum
Gambar 4.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 2
Gambar 4.2. Skema pelengkung 3 sendi 2
Gambar 4.3. Contoh posisi sendi pada pelengkung 3 sendi 3
Gambar 4.4. Bidang M struktur statis tertentu dengan beban 4
terbagi rata
Gambar 4.5. Skema bidang M pada pelengkung 5
Gambar 4.6. Skema gaya dan jarak pada pelengkung 6
(pendekatan 1)
Gambar 4.7. Skema gaya dan jarak pada pelengkung 8
(pendekatan 2)
Gambar 4.8. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan 10
Gambar 4.9. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 10
Gambar 4.10. Gaya vertikal dan horisontal di suatu titik pada 11
pelengkung 3 sendi
Gambar 4.11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang 12
Gambar 4.12. Perubahan arah garis singgung 12
Gambar 4.13. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 13
Gambar 4.14. Sudut αc 14
-xiii-

Halaman
Gambar 4.15. Uraian gaya Vc dan Hc 15
Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal 15
Gambar 4.17. Distribusi Vc dan Hc 17
Gambar 4.18. Garis pengaruh VA; VB dan H 21
Gambar 4.19. Gambar GP Mc 23
Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan Normal (N) 24
Gambar 4.21. GP VA, VB dan H dari pelengkung 3 sendi 25
Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi 26
Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 27
Gambar 4.24. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 28
Gambar 4.25. Distribusi beban untuk pelengkung 3 sendi 29
Gambar 4.26. Garis pengaruh momen di potongan I untuk 30
gelagar langsung
Gambar 4.27. Garis pengaruh momen di potongan I untuk 31
gelagar tidak langsung
Gambar 4.28.
Gambar 4.29. Bentuk portal 3 sendi 33
Gambar 4.30. Arah-arah reaksi dari portal 3 sendi untuk 34
penyelesaian dengan cara pendekatan I
Gambar 4.31. Arah-arah dan reaksi portal 3 sendi untuk 35
penyelesaian dengan cara pendekatan II
Gambar 4.32. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi 37
Gambar 4.33. Bidang M, N, D portal 3 sendi 38
Gambar 4.34. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi 39
menjadi 2 bagian
Gambar 4.35. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi 39
Gambar 4.36. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi 40
Gambar 4.37. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi 41
Gambar 4.38. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi 42
Gambar 5.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi rangka 1
batang
Gambar 5.2. Bentuk konstruksi rangka batang 3
Gambar 5.3. Detail I, salah satu sambungan 3
Gambar 5.4. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 4
Gambar 5.5. Konstruksi rangka batang bidang 5
-xiv-

Halaman
Gambar 5.6. Rangka batang gerber 6
Gambar 5.7. Distribusi beban pada KRB 8
Gambar 5.8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban 9
titik
Gambar 5.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t 10
Gambar 5.10. Pemberian notasi pada gaya-gaya batang 11
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1-

Modul 1

1.1. Judul : Gaya –Gaya dan Keseimbangan Gaya

Tujuan Pembelajaran Umum :


Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang
gaya.

Tujuan Pembelajaran Khusus :


Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan
bagaimana bisa melakukan penjumlahannya

1.1.1. Pendahuluan
Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika
Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan
tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata
kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana
Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa
akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di
pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan
yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan
dalam bentuk gaya.
Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan
* Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut
adalah suatu beban atau gaya.

struktur jembatan
gaya
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya

 Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.


Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai
dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan
dengan besarnya gaya.

* Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg

Panjang gaya arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi)


1 cm ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah
dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut


dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah
dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg.
* Contoh 2
Batu diatas meja dengan berat 10 kg

Panjang gaya = 1 cm Arah berat = kebawah (sesuai arah


gravitasi) ditunjukkan dengan gambar
anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di


atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar
anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan
gaya 10 kg.

* Contoh 3

15 kg
Orang mendorong mobil
mogok kemampuan orang
mendorong tersebut adalah 15 kg.

1 cm Panjang gaya
Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan
dengan gambar anak panah arah kesamping
dengan skala 1 cm = 15 kg
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil
mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak
panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

 Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya


Seperti contoh di bawah :
Contoh
* Garis kerja gaya orang yang mempunyai
berat 50 kg tersebut adalah vertikal
Garis kerja
gaya

Orang dengan berat 50 kg

garis kerja gaya

15 kg Garis kerja gaya untuk


mendorong mobil
mogok tersebut
adalah horisontal

 Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya


tersebut.
Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan
tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik
tangkap gaya.

titik tangkap gaya


Titik tangkap gaya

50 kg
gaya

15 kg
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4-

1.1.3. Sifat Gaya


Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih
dalam daerah garis kerja gaya
Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya.

Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru

garis kerja gaya Posisi gaya K1 lama

K1

Posisi gaya K1 baru

Gambar 1.1. Gambar garis kerja gaya

1.1.4. Penjumlahan Gaya


Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis


Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama,
jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung
dijumlahkan secara grafis.

A C ƒ K1, K2 adalah gaya-gaya yang


akan dijumlahkan
K1 R = K1 + K2 Urut-urutan penjumlahan
ƒ Buat urut-urutan penjumlahan
garis sejajar dengan K1 dan K2
di ujung gaya, (K1 diujung K2
dan sehingga K2 diujung K1 )
D
K2 B membentuk bentuk jajaran
genjang D.A.C.B
ƒ Salah satu diagonal yang
Titik tangkap gaya panjang tersebut yaitu R
adalah merupakan jumlah dari
Gambar 1.2. Penjumlahan gaya secara grafis K1 dan K2
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5-

 Penjumlahan 2 gaya yang sebidang, tapi titik tangkapnya tidak sama..


Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.

R = K1 + K2 - K1 dan K2 adalah gaya-gaya


A yang akan dijumlahkan.
B
- 2 gaya tersebut tidak mem-
Posisi awal (K2)KK2 2 punyai titik tangkap yang
sama, tapi masih sebidang.
Posisi awal
KK1 1 (K1)
0 C
K1

Gambar 1.3 Penjumlahan gaya secara grafis, yang titik tangkapnya tidak
sama

Urutan-urutan penjumlahan

- Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja


gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2, pertemuannya
di titik 0.
- Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang
berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang, OABC
- Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan
jumlah dari K1 dan K2.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6-

 Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal


Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap

C E
R
R22 = R + K
1 3
R1=K1+K2
= K1 + K2 + K3
R1 R2
A K2 ƒ K1, K2 dan K3 adalah gaya-gaya
B
K1 yang akan dijumlahkan dengan
titik tangkap tunggal.
Urut-urutan penjumlahan.

0 K3 D ƒ Jumlahkan dulu K1, K2 dengan


cara membuat garis sejajar
Gambar 1.4. Penjumlahan 3 dengan gaya-gaya tersebut (K1,
gaya secara grafis
K2) di ujung-ujung gaya yang
berlainan sehingga membentuk
suatu jajaran genjang 0ACB

ƒ Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah


K1 + K2

ƒ Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan


sehingga membentuk jajaran genjang 0CED

ƒ Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3


sehingga sama dengan jumlah antara K1, K2 dan K3.

 Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal


ƒ Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap

ƒ Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7-

(posisi awal) Urut-urutan penjumlahan


K1
R1 = K1 + K2 (Posisi awal) ƒ K1, K2 dan K3 adalah gaya-
C K2 gaya yang akan dijumlah-
kan.

ƒ Kerjakan dulu penjumlahan


A antara K1 dan K2 dengan
K1 B
cara :
K2
ƒ Tarik gaya K1 dan K2

0 sehingga titik tangkapnya

R2 = R1 + K3 bertemu pada satu titik di


= K1 + K2 + K3 O.
F ƒ Buat garis sejajar K1 dan K2

D pada ujung-ujung gaya


yang berlainan sehingga
membentuk jajaran gen-

R1 jang OACB

E Posisi awal (K3)

K3 ƒ Salah satu diagonal yang


01 terpanjang yaitu R1 adalah

Gambar 1.5. Penjumlahan 3 gaya yang tidak merupakan jumlah dari K1


mempunyai titik tunggal, secara dan K2.
grafis
ƒ Tarik gaya R1 dan K3
sehingga titik tangkapnya
bertemu pada titik di 01

ƒ Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan


sehingga membentuk jajaran genjang 01, D F E, salah satu diagonal
yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3
berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8-

a
K1
b1
D K2
K1
A R
K3 K1
B K2 K4 O
C c

titik tangkap K3
O’ d
K4
R’
e

Polygon Batang Jari-jari Polygon


Gambar 1.6. Polygon batang dan jari-jari polygon

ƒ Gaya K1, K2, K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan

ƒ Untuk pertolongan, perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar)


dengan cara sebagai berikut :
- buat rangkaian gaya K1, K2, K3 dan K4 secara berurutan dimana
tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari
polygon).
- pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah
(resultante) gaya K1, K2, K3 dan K4 yaitu R, yang diwakili oleh
garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.
- Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R
- Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a, b,
c, d, dan e, garis - garis tersebut diberi tanda titik satu
buah ( ) sampai lima buah ( ) pada garis tersebut. Garis-
garis tersebut dinamakan jari-jari polygon.
- Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar
Oa ( ) memotong gaya K1 di titik A.
- Dari titik A dibuat garis sejajar Ob ( ) memotong gaya K2 di
titik B
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9-

Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di


titik C.
Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( ) memotong K4 di
D.
Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( ) , perpanjangan
garis dan garis ( ) pada polygon batang akan
( )
ketemu di titik O’ yang merupakan titik tangkap jumlah
(resultante) gaya-gaya K1, K2, K3 dan K4.
Dari titik O’ dibuat garis sejajar R yaitu garis R’.
Jadi R’ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1,
K2, K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul, dengan garis kerja
melewati 0’

1.1.4.2. Penjumlahan secara analitis


Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik
pusat (salib sumbu) koordinat, yang mana biasanya sering
dipakai adalah sumbu oxy. Didalam salib sumbu tersebut gaya-
gaya yang akan dijumlahkan, diproyeksikan.
Contoh :
• Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap
tunggal

ƒ K1 dan K2 adalah gaya-


y gaya yang akan dijumlah-
kan dimana mempunyai
K2 y K2 titik tangkap tunggal di O ;
α adalah sudut antara K1
K1 dengan sumbu ox
K1 y
β adalah sudut antara K2
dengan sumbu ox
α β x
O K2x ƒ K1 dan K2 diuraikan searah
K1x
dengan sumbu x dan y
Gambar 1.7. Penjumlahan gaya secara analitis
K1x = K1 cos α ; K2x = K2 cos β
K1y = K1 sin α ; K2y = K2 sin β
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga


yang searah dengan oy.
Rx = K1x + K2x Rx = ∑ Kx
Ry = K1y + K2y Ry = ∑ Ky
Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis
dari komponen-komponen tersebut adalah :
R= Rx ² + Ry ²

 Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda

y K1

K1y ƒ K1 dan K2 adalah gaya-gaya


α yang akan dijumlah-kan
dengan letak titik tangkap
K2 berbeda.
K1 membentuk sudut α
K2y
β dengan sumbu ox
K2 membentuk sudut
β dengan sumbu ox.
ƒ K1 dan K2 diuraikan searah
dengan sumbu x dan y

O K1x K2x x K1x = K1 cos α ; K2x = K2


cos β
Gambar 1.8. Penjumlahan gaya dengan titik K1y = K1 cos α ; K2y = K2
tangkap berbeda, secara analitis sin β

Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang


searah oy.
Rx = K1x + K2x Rx = ∑ Kx
Ry = K1y + K2y Ry = ∑ Ky

Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari


komponen-komponen tersebut adalah :
R= Rx ² + Ry ²
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.5. Latihan
Dua gaya yang mempunyai titik tangkap
1. yang sama seperti seperti pada gambar.
K1
K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton, sudut yang
dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah
45° 45°.
K2
Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut
(R) baik secara analitis maupun grafis

2.
K1
Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik
tangkap yang sama
K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton
Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan
K2
membentuk sudut 60°

Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun
garfis.

3. Empat gaya K1, K2, K3 dan


K4, dengan besar dan arah
5 ton 7 ton 9 ton 4 ton seperti pada gambar
0
K1 K2 K3 K4
Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon
batang.

1.1.6. Rangkuman

ƒ Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah
serta diketahui letak titik tangkapnya.

ƒ Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya

ƒ Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.

ƒ Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan
bantuan polygon batang.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -12-

1.1.7. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau
kunci-kunci yang ada, secara bertahap.
Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis, sedang soal
no. 3 hanya berupa grafis, skor penilaian ada di tabel bawah
untuk mengontrol berapa skor yang didapat.

No. soal Sub Jawaban Jawaban Skor Nilai


1 Analitis R = 11,1 ton
sdt = 22,5° dari 50
sumbu x
Grafis R = 11,1 ton
sdt = 22,5° dari 50
sumbu x
2 Analitis R = 12,5 ton
sdt = 30° dari 50
sumbu x
Grafis R = 12,5 ton
sdt = 30° dari 50
sumbu x
3 Grafis
Jari-jari polygon R = 24 ton 50
Polygon batang 50

1.1.8. Daftar Pustaka


1. Samuel E. French, “Determinate Structures” ITP
(International Thomson Publishing Company) 1996. Bab I.
2. Suwarno. “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab I.
3. Soemono. “Statika I” ITB. Bab I

1.1.9. Senarai
Gaya = mempunyai besar dan arah
Resultante = jumlah
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -13-
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -13-

1.2. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM


MEKANIKA TEKNIK

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca bagian ini, maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-
bentuk struktur di bidang teknik sipil, sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih
mudah menerima.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang
Teknik Sipil, mengerti tentang beban, kolom, balok, reaksi dan gaya dalam, serta bisa
menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.

1.2.1. Pendahuluan

Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang
bangunan gedung, jembatan dan lainsebagainya, maka mahasiswa perlu tahu bagaimana
cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik, apa itu beban, balok,
kolom, reaksi, gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah
mekanika teknik.
Contoh :
a. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik

kolom Kolom = tiang-tiang vertical


Balok = batang-batang horisontal

balok

perletakan

Gambar 1.9. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -14-

b. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.

balok

perletakan

Gambar 1.10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik

1.2.2. Beban

Didalam suatu struktur pasti ada beban, beban yang bisa bergerak umumnya
disebut beban hidup misal : manusia, kendaraan, dan lain sebagainya. Beban yang tidak
dapat bergerak disebut beban mati, misal : meja, peralatan dan lainsebagainya. Ada
beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.

a. Beban terpusat
Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.
a.1.

manusia yang berdiri diatas jembatan

P
beban terpusat
Penggambaran dalam mekanika teknik

a.2.

Kendaraan berhenti diatas jembatan

P1 P2 P3

Penggambaran dalam mekanika teknik

Notasi beban terpusat = P

Satuan beban terpusat = ton, kg, Newton, dan lainsebagainya,

Gambar 1.11. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15-

b. Beban terbagi rata

Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang
maupun ke arah luas.

anak-anak berbaris diatas jembatan

q t/m’
Penggambaran dalam mekanika teknik

Notasi beban terbagi rata = q


Satuan beban terbagi rata = ton/m’, kg/cm
Newton/m’ dan lainsebagainya.

Gambar 1.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16-

1.2.3. Perletakan

• Tujuan Pembelajaran Umum :

Setelah membaca modul bagian ini, maka siswa bisa memahami pengertian tentang
perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.

• Tujuan Pembelajaran Khusus :

Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur,


konsep pengertian tentang perletakan, serta konsep kedudukan perletakan dalam
suatu struktur.

1.2.3.1. Pendahuluan
Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti
bangunan gedung, jembatan, dan lainsebagainya. Bangunan-bangunan tersebut harus
terletak diatas permukaan bumi, hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan
permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.
Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas, sedang
yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Hubungan
antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan
“Perletakan”.
Contoh :
a. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.

Struktur jembatan
(bangunan atas)

perletakan
Pondasi
(bangunan bawah)

struktur jembatan
Penggambaran pada mekanika teknik

perletakan

Gambar 1.13. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17-

b. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi

Bangunan gedung (bangunan atas)

Perletakan (tumpuan)
muka tanah

Pondasi (bangunan bawah)

Penggambaran pada mekanika teknik

perletakan (tumpuan)

Gambar 1.14. Gambar perletakan gedung


dalam mekanika teknik
1.2.3.2. Macam-Macam Perletakan
Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya
kondisinya stabil.
Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol, sendi, jepit dan
perodel.
a.
Rol
Struktur
Bentuk perletakan rol, pada suatu
struktur jembatan yang bertugas
silinder baja untuk menyangga sebagian dari
jembatan. (Gambar 1.15)

Karena struktur harus stabil maka


perletakan rol tersebut tidak boleh
turun jika kena beban dari atas, oleh
Rv karena itu rol tersebut harus
mempunyai reaksi vertical (Rv).

Gambar 1.15. Skema perletakan rol


Pada perletakan jembatan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18-

Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur, maka rol tersebut bias bergeser ke arah
horizontal. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal, bisa berputar jika diberi beban
momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.

Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika


Rol teknik, ada reaksi vertikal.

Rv

Balok jembatan
Gambar 1.16. Aplikasinya perletakan rol dalam
mekanika teknik

Rv

b. Sendi

Struktur Bentuk perletakan sendi pada suatu


struktur jembatan, yang bertugas untuk
menyangga sebagian dari jembatan
RH (Gambar 1.17).
silinder baja Karena struktur harus stabil, maka
perletakan sendi tidak boleh turun jika
kena beban dari atas, oleh karena itu
sendi tersebut harus mempunyai reaksi
Rv
vertikal (Rv). Selain itu perletakan sendi
tidak boleh bergeser horizontal. Oleh
Gambar 1.17. Skema perletakan Sendi
karena itu perletakan sendi harus
Pada perletakan jembatan
mempunyai reaksi horizontal (RH), sendi
tersebut bisa berputar jika diberi beban
momen. Jadi sendi tidak punya reaksi
momen.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19-

RH
Penggambaran perletakan sendi dalam mekanika
teknik, ada reaksi vertikal dan horisontal
Rv

balok jembatan
RH Gambar 1.18. Aplikasinya perletakan sendi di
dalam mekanika teknik

Rv

c. Jepit
Bentuk perletakan jepit dari suatu
balok sosoran
struktur, bertugas untuk menahan
teras
balok sosoran teras supaya tidak jatuh
(Gambar 1.19)
RH RM Karena struktur sosoran harus stabil
RV
maka perletakan jepit tidak boleh turun
kolom jika kena beban dari atas, oleh karena
itu jepit tersebut harus mempunyai
reaksi vertikal (Rv). Jepit tersebut
Gambar 1.19. Skema perletakan jepit tidak boleh berputar pada
pada sosoran teras rumah sambungannya jika kena beban
momen, oleh karena itu jepit tersebut
harus mempunyai reaksi momen,
selain itu jepit juga tak boleh bergeser
secara horizontal.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20-

Penggambaran perletakan jepit dalam


RH
mekanika teknik, ada reaksi vertikal,
horizontal, dan momen
RM

RV

RH Gambar 1.20. Aplikasi perletakan jepit di


dalam mekanika teknik
RM

RV

Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur,


d. Pendel balok baja bertugas untuk menyangga sebagian dari
struktur baja (Gambar 1.21.)
Pendel tersebut hanya bisa menyangga
sebagian jembatan, hanya searah dengan
pendel sumbu pendel tersebut, jadi hanya
mempunyai satu reaksi yang searah dengan
R sumbu pendel.
Gambar 1.21. Skema perletakan pendel
pada suatu struktur baja

R R Penggambaran perletakan pendel dalam


mekanika teknik, ada reaksi searah
pendel.

balok baja

Gambar 1.22. Aplikasi perletakan pendel


di dalam mekanika teknik
pendel
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21-

1.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA


Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut
keseimbangan pada suatu benda.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan
syarat-syarat apa yang diperlukan, serta manfaatnya dalam struktur tersebut.

1.3.1. Pendahuluan
Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan
gedung, jembatan dan lain sebagainya. Bangunan–bangunan tersebut supaya tetap
berdiri, maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang, hal itu
merupakan syarat utama. Apa saja syarat-syaratnya supaya suatu bangunan tetap
seimbang, dan bagaimana cara menyelesaikannya, mahasiswa perlu
mengetahuinya.
Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak)
kotak

lem

meja

Gambar 1.23. suatu kotak yang dilem diatas meja

1.3.2. Pengertian tentang keseimbangan


Sebuah kotak yang dilem diatas meja, maka kotak tersebut dalam keadaan
seimbang, yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun, tidak bisa bergeser
horisontal dan tidak bisa berguling.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22-

a. Keseimbangan vertikal

kalau kotak tersebut dibebani


Pv Kotak
secara vertikal (Pv), maka kotak
Lem
tersebut tidak bisa turun, yang
berarti meja tersebut mampu
memberi perlawanan vertikal
(Rv), perlawanan vertikal
Meja tersebut (Rv) disebut reaksi
vertikal.
Pv Rv
Gambar 1.24. Keseimbangan
Kotak vertikal

Bandingkan hal tersebut diatas


dengan kotak yang berada di atas
lumpur

Kalau kotak tersebut dibebani


secara vertikal (Pv), maka kotak
Lumpur
tersebut langsung tenggelam,
yang berarti lumpur tersebut
tidak mampu memberi
Kotak tenggelam perlawanan secara vertikal (Rv).
(Gambar 1.25)

Gambar 1.25. Kotak tenggelam dalam lumpur

b. Keseimbangan horisontal
Kalau kotak tersebut dibebani
PH Kotak
secara horisontal (PH), maka kotak
Lem
RH tersebut tidak bisa bergeser secara
horisontal, yang berarti lem yang
merekat antara kotak dan meja
meja
tersebut mampu
Gambar 1.26. Keseimbangan horizontal
memberi perlawanan horisontal (RH), sehingga bisa menahan kotak untuk tidak
bergeser. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.
Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23-

Kalau kotak tersebut


dibebani secara
kotak yang bergeser horisontal (PH), maka
PH
kotak tersebut langsung
bergeser, karena tidak
ada yang menghambat,
yang berarti meja
tersebut tidak mampu
memberi perlawanan
horisontal (RH)
(Gambar 1.27)
Gambar 1.27. Kotak yang bergeser
Karena beban horizontal

c. Keseimbangan Momen

Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM), maka kotak tersebut tidak bisa berputar
(tidak bisa terangkat), yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu
memberikan perlawanan momen (RM), perlawanan momen tersebut (RM) disebut
dengan reaksi momen.
PM
Kotak

Lem

Meja

RM

Gambar 1.28. Keseimbangan momen


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24-

Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.

PM Kalau kotak tersebut


dibebani momen (PM),
Kotak yang terangkat
maka kotak tersebut bisa
terangkat, karena tidak ada
lem yang mengikat antara
Meja
kotak dan meja tersebut,
yang berarti meja tersebut
tidak mampu memberikan
perlawanan momen (RM).
Gambar 1.29. Kotak yang terangkat karena beban momen

d Keseimbangan Statis

PV PM ™ Kalau kotak tersebut di


lem diatas meja, yang
Kotak
PH berarti harus stabil,
Lem benda tersebut harus
RH
tidak bisa turun, tidak
bisa bergeser
RV Meja horisontal, dan tidak
bisa terangkat.

RM

Gambar 1.30. Keseimbangan statis

™ Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV), tumpuannya mampu


memberi perlawanan secara vertikal pula, agar kotak tersebut tidak bisa turun
syarat minimum RV = PV, atau RV - PV = 0 atau ΣV = 0 (jumah gaya-gaya
vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25-

™ Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ), maka pada tumpuannya
mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). Agar kotak tersebut tidak
bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH – PH = 0
atau ΣH = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama
dengan nol)
™ Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ), maka pada tumpuannya
mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). Agar kotak tersebut tidak
bisa terpuntir (terangkat), maka syarat minimum RM = PM atau RM - PM = 0
atau ΣM = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan
nol).
™ Dari variasi tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau
dalam keadaan seimbang, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- ΣV = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama
dengan nol)
- ΣH = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama
dengan nol)
- ΣM = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama
dengan nol).

1.3.4. Latihan
1. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg
Pv = 5 kg

Berapa reaksi vertikal yang terjadi


supaya balok tersebut tidak turun ?.

Rv = ?

2. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.


PV = 5 kg

PH = 2 kg
PM = 5 kgm

Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26-

1.3.5. Rangkuman
o Macam-Macam Beban
- Beban terpusat; notasi; P; satuan; kg atau ton atau Newton
- Beban terbagi rata; notasi; q; satuan kg/m’ atau ton/m’ atau Newton / m’

o Macam Perletakan
- Rol punya 1 reaksi Æ Rv
- Sendi punya 2 reaksi Æ Rv dan RH
- Jepit punya 3 reaksi Æ Rv; RH dan RM
- Pendel punya 1 reaksi Æ sejajar dengan batang pendel

o Syarat Keseimbangan
Ada 3 syarat keseimbangan yaitu :
Σv = 0
ΣH = 0
ΣM = 0

1.3.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang
ada.
Nomor Soal Reaksi yang ada Besar Reaksi Arah
1 Rv 5 kg ↑
2 Rv 5 kg ↑
RH 2 kg →
RM 5 kg m 1

1.3.7. Daftar Pustaka


1. Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM Bab I.
2. Soemono “Statika I”ITB Bab I

1.3.8. Senarai
- Beban = aksi
- Reaksi = perlawanan aksi
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27-
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -1-

MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA


PENYELESAIANNYA

2.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan
konstruksi statis tertentu.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis
tertentu, mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara
pemanfaatannya.

2.1.1. Pendahuluan
Dalam bangunan teknik sipil, seperti gedung-gedung, jembatan dan lain
sebagainya, ada beberapa macam sistem struktur, mulai dari yang sederhana
sampai dengan yang kompleks; sistim yang paling sederhana tersebut disebut
dengan konstruksi statis tertentu. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang
paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.

Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.

Balok jembatan diatas 2 perletakan


Balok jembatan
A dan B
B
Perletakan A adalah rol
A
sendi Perletakan B adalah sendi
rol

Gambar 2.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik


MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -2-

2.1.2. Definisi Statis Tertentu

Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syarat-syarat
keseimbangan.
Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan
Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu :
∑ V = 0 ( jumlah gaya − gaya vertikal sama dengan nol)
∑ H = 0 ( jumlah gaya − gaya horisontal sama dengan nol)
∑ M = 0 ( jumlah momen sama dengan nol)

Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan,maka pada konstruksi statis tertentu
yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan, jumlah bilangan yang
tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Jika dalam
menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan,
maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.

2.1.3. Contoh
Balok diatas dua perletakan dengan
a).
P
beban P seperti pada gambar.
A = sendi dengan 2 reaksi tidak
RAH diketahui (RAV dan RAH adalah
A B
reaksi-reaksi vertikal dan horizontal
di A).
RAV RBV
B = rol dengan reaksi tidak
diketahui (RBV = reaksi vertikal di B)

Gambar 2.2. Konstruksi statis tertentu


MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -3-

Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah, maka konstruksi tersebut adalah
konstruksi statis tertentu.

b).
Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di
P
A adalah jepit.
A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.
RAV = reaksi vertical di A
RAH = reaksi horizontal di A
RM
RM = momen di A.

RAH Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah, maka


A
konstruksi tersebut adalah statis tertentu.
RAV

Gambar 2.3. Konstruksi statis tertentu

c)

P Balok diatas 2 perletakan

A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan


RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).

A B B= sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV


Gambar 2.4. Konstruksi statis tidak
dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B).
tertentu
Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah,
sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3, maka konstruksi tersebut
statis tak tertentu.
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -4-

2.1.4. Latihan

a).

P suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua


perletakan dengan beban P seperti pada gambar.
C
Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.
A
B Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis
tertentu atau bukan.

b).

P suatu balok ABC terletak diatas dua perletakan


dengan beban P seperti pada gambar. Perletakan A
B
C dan C adalah sendi.

Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis


tertentu atau bukan.

2.1.5. Rangkuman

[ Konstruksi disebut statis tertentu, jika bisa diselesaikan dengan persamaan


syarat-syarat keseimbangan.

[ Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah

ΣV = 0 ΣH = 0 dan ΣΜ = 0

2.1.6. Penutup

Untuk mengukur prestasi,mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada
sebagai berikut :
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -5-

Jawaban Soal

A B

titik Macam Perletakan Jumlah reaksi

A Sendi 2 buah

B sendi 1 buah

Total reaksi 3 buah

Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Jadi konstruksi diatas adalah
statis tertentu.

b)

P
B
C

A
Itik Macam Perletakan Jumlah reaksi
A Sendi 2 buah
B sendi 2 buah
Total reaksi 4 buah

Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi konstruksi


statis tidak tertentu.

2.1.7. Daftar Pustaka

1. Suwarno “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab I


2. Suwarno “Statika I” ITB bab I

2.1.8. Senarai

Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan dengan syarat-


syarat keseimbangan
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -6-

2.2. JUDUL : GAYA DALAM

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan
gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya
dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci
pada struktur statis tertentu.

2.2.1. Pendahuluan
Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton, kayu, baja dan
lain-lain. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang
lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen strukturnya (balok, kolom, pelat,
dansebagainya). Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut,
memerlukan gaya dalam.
Contoh :
a).

P1 o Dua buah struktur seperti pada


gambar (a) dan (b) dengan
beban (P) dan bentang (l)
A B
berbeda.
L1
o Gaya dalam yang diterima pada
Gambar 2.5. Contoh (a) struktur (a) berbeda pula
P2 dengan gaya dalam yang
diterima oleh struktur (b), maka

A B demensi dari struktur (a) akan


berbeda pula dengan struktur
L2
(b).

Gambar 2.6. Contoh (b)


MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -7-

2.2.2. Pengertian tentang Gaya Dalam


Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk
tubuh yang berbeda, satu kecil, pendek (A),
yang satu lagi besar, tinggi (B). Jika kedua-
duanya membawa barang beban P = 5 kg,
maka kedua tangan orang A dan B tersebut
P P tertegang.
Untuk A orangnya pendek,kecil dalam
P = 5 kg P = 5 kg membawa beban P tersebut urat-urat yang
ada pada tangannya tertegang dan menonjol
A B
keluar sehingga kita bisa melihat alur urat-
Gambar 2.7. Orang membawa beban
uratnya. Namun hal ini tidak terjadi pada B
karena orangnya besar, tinggi. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A)
tersebut menonjol sehingga tampak dari luar adalah karena adanya gaya dalam
pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Kalau beban P tersebut dinaikkan
secara bertahap, sampai suatu saat tangan A tidak mampu membawa beban
tersebut, demikian juga untuk orang B. Beban maksimum yang dipikul oleh orang
A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B
karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.

Suatu balok terletak pada 2


2.2.3. Macam-macam Gaya dalam perletakan dengan beban seperti
P1 pada gambar, maka balok tersebut
akan menderita beberapa gaya
P P dalam yaitu :
reaksi A B beban • Balok menderita beban lentur

RA RB yang menyebabkan balok


l tersebut berubah bentuk
melentur. Gaya dalam yang
Gambar 2.8. Balok diatas 2 perletakan dan menerima
menyebabkan pelenturan
beban P (sehingga melendut)
balok tersebut disebut
momen yang bernotasi M.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8-

o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.
Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang, maka akan
menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.
o Balok tersebut menderita gaya lintang, akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-
gaya yang tegak lurus ( ⊥ ) sumbu batang, balok tersebut menerima gaya dalam
yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.

2.2.4. Gaya Dalam Momen


a). Pengertian Momen (M)
Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan
c P (kg) q kg/m’
dengan beban seperti pada gambar, ada beban
terbagi rata q (kg/m’) dan beban terpusat P
A B
(kg).
c
x Balok tersebut akan menerima beban lentur
l
RA (m) RB sehingga balok akan melendut, yang berarti
balok tersebut menerima beban lentur atau

Gambar 2.9. Balok yang menerima momen. (atau menerima gaya dalam momen)
beban terpusat dan terbagi
rata

Definisi
Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.
Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.
Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x
bisa ditulis sebagai berikut :

I II
(1) Mx = RA . x – q.x. ½ x (dihitung dari kiri ke potongan c-c) ….(pers. 1)

gaya jarak gaya jarak


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A


RA (reaksi di A) merupakan gaya
I
x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x

qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x


yang diberi notasi (Q1 = qx)
II

½ x = adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata


sepanjang x ke potongan c-c

q (kg/m’) titik berat qx


c

½x c

Q1= qx
x
Gambar 2.10. Gambar potongan struktur bagian kiri

Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c)


I II
Mx = RB (l-x) – q (l – x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ………. (pers. 2)
Kalau diambil di potongan c-c
RB (reaksi di B) merupakan gaya

I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c

Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh


(l-x) Æ q (l-x) = Q2

II ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata


sepanjang (l -x) ke potongan c-c
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

q (kg/m’) Kalau menghitung besarnya


c titik berat dari q (l-x) momen di c-c boleh dari kiri
potongan seperti pada
persamaan (1) ataupun
½ (l-x) menghitung dari kanan
c Q2 = q (l-x)
potongan seperti pada
l -x persamaan (2) dan hasilnya
pasti sama.
Gambar 2.11. Gambar potongan struktur bagian kanan

• Tanda Gaya Dalam Momen

tertekan Untuk memberi perbedaan antara momen-momen

tertekan yang mempunyai arah berbeda, maka perlu


memberi tanda terhadap momen tersebut.
tertarik Jika momen tersebut mampu melentur suatu balok
tertarik
Tanda momen (+) * sehingga serat atas tertekan dan serat bawah
Tanda momen (+) * tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) =
positif. Demikian juga sebaliknya.

Tanda momen (-) *

Gambar 2.12. Tanda momen

2.2.5. Gaya Lintang (D)

c P (kg) Kalau dilihat, balok yang terletak


q (kg/m’)
diatas 2 (dua) perletakan A dan B,
menerima gaya-gaya yang arahnya
c ⊥ (tegak lurus) terhadap sumbu
balok. Gaya-gaya tersebut adalah
RA ; q dan RB Æ gaya-gaya tersebut
RA RB yang memberi gaya lintang terhadap
Gambar 2.13. Gambar balok menerima balok A-B tersebut.
beban
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang ⊥ dengan sumbu batang.

Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c, maka
coba gaya-gaya apa saja yang arahnya ⊥ (tegak lurus) terhadap sumbu AB.

• kalau dilihat dari C ke kiri potongan, maka

(1) Æ Dc = RA – q x = RA – Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri


potongan)
x
c
q (kg/m’)

c
Q1=q x
RA
Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri

• Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan, maka

(2) Æ D1 = RB – q (l-x) – P
= RB – Q2 – P (gaya lintang di c yang dihitung dari kanan
potongan)

P
c q (kg/m’)

c Q2 = q (l-x)
(l – x)
RB
Gambar 2.15. Potongan balok bagian kanan
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12-

• Tanda Gaya Lintang


P
C
A B
Untuk membedakan gaya lintang, maka
RB perlu memberi tanda (+) dan (-).

C Definisi :
* Gaya lintang diberi tanda positif jika
C dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau,
RA jumlah gaya arahnya ke atas, atau kalau
dilihat di kanan potongan, jumlah gaya

RB arahnya ke bawah.
Gambar 2.16. Skema gaya lintang dengan tanda
positif (+)

Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya
lintang di c (Dc).

C Dilihat dari kiri potongan C, gaya yang ada hanya RA, jadi jumlah
gaya-gayanya yang ⊥ sumbu hanya RA dengan arah ↑ (keatas) jadi
RA
tanda gaya lintang adalah positip.

P
Jika dilihat dari kanan potongan c, gaya yang ada ⊥
C terhadap sumbu adalah RB ( ↑ ) keatas dan P ( ↓ )
kebawah. Karena RB adalah merupakan reaksi, maka
RB P > RB sehingga jumlah antara P dan RB Æ arah ( ↓ )
kebawah, jadi tanda gaya lintang adalah positif.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13-

Definisi :
D B
A * Gaya lintang diberi tanda negatif, jika
dilihat di kiri titik potongan yang
P D
ditinjau arahnya kebawah ( ↓ ) dan bila
ditinjau di kanan titik potongan yang
A
D ditinjau arahnya ke atas.
B

Gambar 2.17. Skema


Gambar gaya2 lintang dengan tanda
negatif (-)

Coba dilihat pada Gambar 2.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya
lintang di D (DD).

P D
Dilihat dari kiri potongan D, gaya-gaya yang ⊥
sumbu hanya RA dan P, karena RA adalah reaksi.
Jadi RA < P, maka resultante gaya-gaya antara RA
RA
dan P arahnya adalah kebawah ( ↓ ), maka gaya
D lintangnya tandanya negatif.
Jika dilihat di sebelah kanan potongan gaya-gaya
yang ⊥ sumbu hanya RB dengan arah ke atas ( ↑ ),
RB
Jadi gaya lintangnya tandanya adalah negatif

Jadi untuk menghitung gaya lintang, baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus
sama.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14-

2.2.6. Pengertian Tentang Gaya Normal (N)

P Definisi :
Gaya normal adalah gaya-gaya yang
A B
arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban
balok.
RA RB * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti
Gambar 3
pada Gambar 2.18 yang mana tidak ada
Gambar 2.18. Balok tanpa beban normal
gaya-gaya yang sejajar sumbu batang,
berarti balok tersebut tidak mempunyai
gaya normal (N).

P P
Kalau dilihat pada Gambar 3.19
dimana ada gaya-gaya yang // (sejajar)
sumbu batang yaitu P, maka pada
Gambar 4
RA batang AB (Gambar 3.19) menerima
RB
Gambar 2.19. Balok menerima beban gaya normal gaya normal (N) sebesar P.

* Tanda Gaya Normal


- Jika gaya yang ada arahnya menekan balok, maka tanda gaya normalnya adalah
P P
negatif (-) { ⎯⎯→ ←⎯⎯ }.
- Jika gaya yang ada arahnya menarik balok, maka tanda gaya normalnya adalah
P P
positif (+) { ←⎯⎯ ⎯⎯→ }.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-

2.2.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam

M M
tekan
tanda momen positif (+)

tarik
tarik

tanda momen negatif (-)


tekan
M M

tanda gaya lintang positif (+)

tanda gaya lintang negatif (-)

tanda gaya normal negatif (-)

tanda gaya normal positif (+)

Gambar 2.20. Ringkasan tanda gaya dalam


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16-

2.2.8. Contoh : Penyelesaian Soal 1

Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar,
P1 = 2 2t (º), P2 = 6t (¶), P3 = 2t (´)
P4 = 3t ; q1 = 2 t/m’; q2 = 1 t/m’

P2 = 6 ton q2 = 1 t/m’
P1 = 2 2t q1 = 2t/m’
P1v = 2 t
45° P4 = 3 ton
C D P3 = 2t E
P1H = 2 t A B RBH

RBV
6m

RAV

2m 10 m 2m

Gambar 2.21. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya

Diminta : Gambar bidang momen, gaya lintang dan bidang normal.


(Bidang M, N, dan D)

Jawab : Mencari reaksi vertical


Dimisalkan arah reaksi vertical di A Æ RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Æ RB
(µ) juga keatas.
Mencari RAV Æ dengan Σ MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0)

RAV.10 – P1ν.12 – q1.6.7 – P2.4 + 2.q2.1 = 0

2.12 + 2.6.7 + 6.4 − 2.1.1


RAV = = 13 ton (µ) Karena tanda + berarti arah
10 sama dengan permisalan (+)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17-

Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen, yang searah diberi tanda
sama, sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.
RBV Æ Σ ΜΑ = 0

RBV.10 – q2.q1 – P2.6 – q1.6.3 + P1ν.2 = 0

1.2 .1 + 6.6 + 2.6.3 − 2.2


RBV = = 9 ton (µ)
10
Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu
(µ) keatas.
Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar, maka perlu
memakai kontrol yaitu ∑ V = 0

(P1ν + q1.6 + P2 + q2.2) – (RAν + RBν) = 0


(2 + 2.6 + 6 + 1.2) – (13 + 9) = 0

Beban vertikal Reaksi vertikal

Mencari Raksi Horizontal


Karena perletakan A = rol Æ tidak ada RAH.
Perletakan B = sendi Æ ada RBH.
Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( ∑ H = 0)
∑H=0
RBH = P1H + P3 + P4
= 2 + 2 + 3 = 7 ton (³)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18-

Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D)


Dihitung secara bertahap
Daerah C Æ A Æ lihat dari kiri
Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan
DA kr = P1ν = - 2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A, di kiri potongan arah gaya lintang
kebawah (¶)
DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A)
DA kn = - P1ν + RAν = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

A D

Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan


menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t (Æ)

q1 = 2 t/m’ P2 = 6 ton
2t
P3 = 2 ton

C D
6m

RA = 13 t
X

Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2), sedang beban yang dihitung
dimulai dari titik C.
Dx = -2 + 13 – q1 x = (-P1V + RA – q1x)

Persamaan (Linier)

didapat
Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton
2.6
didapat (di kiri potongan arah gaya lintang
Untuk x = 6 m DD kr= -2 + 13 – 12 = - 1ton ke bawah)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19-

DD kn : sedikit di kanan titik D, melampaui beban P2.

DD kn : -2 + 13 – 12 – 6 = - 7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah)

Dari titik D s/d B tidak ada beban, jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D
sampai B).

Daerah B-E
2m
q2 = 1 t/m’
B E P4 = 3 ton
x.2

RBV = 9 ton

Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.


Variabel x2 berjalan dari E ke B.
DE = 0
Dx2 = q2 . x2 = + x2 (persamaan liniear)
DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) Æ DB kn = + 2 ton (kanan potongan arah ke
kebawah)
DB kr (kiri titik B) Æ DB kr = + 2 – 9 = - 7 ton (kanan potongan arah ke atas)
Melewati
perletakan B

MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N)


Daerah C-D Æ dihitung dari kiri sampai D, P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya
normal konstan.

ND kr = - P1H = - 2 ton (gaya normal menekan batang)


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20-

Daerah D-B Æ dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C, batang dari
D ke B nilai gaya normal konstan).

ND kn = (-2 – 2) ton = - 4 ton (gaya normal menekan batang)


NB kr = NDkn = - 4 ton

Daerah B-E Æ dihitung dari kanan, dari E ke B nilai gaya normal konstan.

NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang)


Kalau dihitung dari kiri, dimana gaya normal dihitung dari titik C.
Dari kiri Æ DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang)

MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M)

Daerah C Æ A C P1V = 2t A
P1H = 2t
2m

x
Variabel x berjalan dari C ke A
Mx = - P1v . x = - 2 x (linier)

Untuk x = 0 Æ Mc = 0
x = 2 Æ MA = - 2.2 = - 4 tm.
(momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik sehingga tanda negatif (-) ).

Daerah AÆ D
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21-

Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C

q1 = 2 t/m’

C P1V = 2t A
P1H = 2t D

x.1

RAV = 13t

2m 6m

Variabel x1 berjalan dari A ke D


Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.x1 – ½ q1 x1²
Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 – ½ q1 x12 (persamaan parabola)

= - ½ q1 x12 + 11 x1 – 4

MENCARI MOMEN MAXIMUM

D Mx1
=0
d x1

d Mx1
= − q1 x1 + 11 = 0 → x1 = 5.5.m
d x1

Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) Æ lihat pada Gambar 2.22.
x1 = 5.5 m Æ Mmax = - ½ .2 (5.5)² + 11.5.5 – 4
= 26.25 tm.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22-

Mencari titik dimana M = 0


Mx1 = - ½ .q1.x12 + 11 x1 – 4 = 0
= x12 – 11 x1 + 4 = 0
x1 = 0.3756 m (yang dipakai)
x1’ = 10.62 m (tidak mungkin)

Untuk x1 = 6 Æ MD = -36 + 66 – 4 = + 26 tm

Daerah E-B (dihitung dari kanan, titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B

q2 = 1 t/m’

P4 = 3 t
B E
2m

x2

Dihitung dari kanan

Parabola
Mx2 = - ½ q2 x22

Untuk x2 = 0 didapat ME = 0
Untuk x2 = 2 didapat MB = - ½ . 1.4 = -2 tm
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23-

q1 = 2t/m’ P2 = 6 ton q2 = 1t/m’


P1V = 2 t

C A D B E P4 = 3 ton
P3 = 2 ton
P1H = 2 t RBH = 7t
RBV = 9 ton
RAV = 13 t

11
+ 2t +
2 - 1t
- 7t
6t

BIDANG D

2t 4t
-
2t

+ 3t
BIDANG N
5.5 m

linier 2 tm parabola
- 4 tm -

0.286
linier
0.3756 parabola
BIDANG M

Gambar 2.22. Gambar bidang M, N, D balok diatas 2 tumpuan


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24-

2.2.9. Contoh 2
Diketahui:
KONSOL (CANTILEVER)
Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan
P2 = 1t di D = jepit dengan beban P1 = 2t (¶); P2 = 1t (¶)
D P
q = 1 t/m’ 1 = 2t dan beban terbagi rata q = 1 t/m’

A Ditanya : Gambar bidang M, N, D


C B
Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat
keseimbangan
1m 2m 3m
x1 RD = ? Æ Σv = 0 Æ RD – P2 – P1 – q.5 = 0
RD
x2 RD = 2 + 1 + 5.1 = 8 t (↑)

Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau


kanan, pilih yang lebih mudah Æ dalam hal ini pilih
yang dari kanan.
BIDANG D
Bidang D (dari kanan)

5t DA kr = + 2 ton
8t +
1t Daerah A Æ B

x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B


Dx1 = 2 + q. x1

BIDANG M Untuk x = 3 Æ DB kn = 2 + 1.3 = 5 ton (dari kanan


potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).

x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C


10.5 tm
- Daerah B Æ C
24.5 tm parabola Dx2 = 2 + 1 + q . x2
Untuk x2 = 3 Æ DB kr = 2 + 1 + 1.3 = 6 ton
Untuk x2 = 5 Æ DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton
32.5 tm
parabola Bidang M (dari kanan)
Daerah A Æ B
Gambar 2.23. Bidang M, N, D MA = 0
Balok cantilever : Mx1 = - P1 x1 – ½ q x12
linier Untuk x1 = 3 Æ MB = -2.3 – ½ .1.3² = - 10.5 tm ( )
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25-

Daerah B - C : Mx2 = -P1 x2 – P2 (x2 –3) – ½ q x22

: MC = -2.5 – 1.2 – ½ .1.5² = - 24.5 tm ( )

MD : - P1.6 – P2.3 – 5.1 (2.5 + 1) = -12 – 3 – 5.3,5 = 32,5 t ( )

2.2.10. Latihan

Balok diatas 2 tumpuan.

Soal 1 Balok AB dengan beban


P1 = 4t P2 = 4 2t seperti tergambar
A = sendi B = rol
45°

HA

A B P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton
Ditanyakan;
VA RB a) reaksi perletakan
2m 3m 3m b) bidang N, D dan M

Soal 2 Balok ADCB dengan beban


P =P3= 32 2tt seperti tergambar
q = 1 t/m'
A = sendi B = rol
45°

HA
P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m’
A D B C
Ditanyakan;
VA RB a) reaksi perletakan
2m 4m 2m
b) bidang N, D dan M
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26-

Soal 3
P2 = 2 2t
q = 1,5 t/m'

45°
HA

A D B C

VA P1 = 2t RB
6m 2m 2m

Balok ADCB dengan beban seperti tergambar :


A = sendi B = rol ; P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton ; q = 1,5 ton /m’
Ditanyakan; a). reaksi perletakan
b). bidang N, D dan M

2.2.11. Rangkuman

Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut :


M (momen) dengan tanda

+ -

D (gaya lintang) dengan tanda


+ -

N (gaya normal) dengan tanda

- +

2.2.12. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada
sebagai berikut :
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27-

Jawaban Soal No. 1

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.5 ton ↑
B : RB 3.5 ton ↑
Reaksi horisontal A : HA 4 ton →
Gaya normal = N A–D 4 ton - tekan
D–B 0
Gaya lintang = D A–C 4.5 ton +
C–D 0.5 ton +
D–B 3.5 ton -
Momen = M A 0
C 9 tm +
D 10.5 tm +
B 0

Jawaban Soal No. 2

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 3 ton ↑
B : RB 6 ton ↑
Reaksi horisontal A : HA 3 ton →
Gaya normal = N A–D 3 ton - tekan
D–B 0
Gaya lintang = D A – D kiri 3 ton +
D kanan 0
B kiri 4 ton -
B kanan 2 ton +
C 0
Momen = M A 0
D 6 tm +
B 2 tm -
C 0
2 m kanan D 4 tm +
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28-

Jawaban Soal No. 3

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.625 ton ↑
B : RB 4.375 ton ↑
Reaksi horisontal A : HA 2 ton →
Gaya normal = N A–D–B–C 2 ton - tekan
Gaya lintang = D A 4.625 ton +
D kiri 4.375 ton -
D kanan – B kiri 2.375 ton -
B kanan – C 2 ton +
X = 3.08 m kanan A 0
Momen = M A 0
X = 3.08 m 7.13 tm +
D 0.75 tm +
B 4.0 tm -
C 0

2.3. Hubungan Antara Momen (M) ; Gaya Lintang D dan q (Muatan)


Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata
(qx), potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. Dengan beban sepanjang dx
tersebut kita akan mencari hubungan antara beban, gaya lintang dan momen.

qx = beban terbagi rata


beban Mx = momen di potongan I ( )
qx
½ dx Dx = gaya lintang di potongan I (↑)
qx . dx = berat beban terbagi rata
Sepanjang dx
qx.dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan
M x + dMx II (¶)
Mx Dx D x + dDx batang dDx = selisih gaya lintang antara
Potongan I dan II.
Mx + dMx = momen di potongan II ( )
dMx = selisih momen antara I dan II
I II

dx
Gambar 2.24. distribusi gaya dalam pada balok
sepanjang dx
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29-

Keseimbangan gaya – gaya vertikal ΣV = 0 di potongan II


Dx – qx dx – (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx (↑) dan qx dx (↓) dan kanan ada Dx + d Dx
(↓ )
dDx = - qx dx
d Dx
= − qx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban)
dx
Keseimbangan momen
Σ M = 0 di potongan II
Mx + Dx dx – qx .dx . ½ dx – (Mx + d Mx) = 0

½ q. dx² -Æ 0

d Mx = Dx . dx
o Kiri ada Mx ; Dx dx dan qx.dx. ½ dx
dan kanan ada Mx + dMx
d Mx o ½ qx.dx² ≈ 0 karena dx = cukup kecil
= Dx dan dx² bertambah kecil sehingga bisa
dx diabaikan.

* turunan pertama dari momen adalah gaya lintang

2.4. Balok Miring


Pada pelaksanaan sehari-hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring
seperti : tangga, dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.

2.4.1. Pengertian Dasar


Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang
posisinya membentuk sudut dengan bidang datar, misal : tangga, balok atap dan
lainsebagainya.
Pada kenyataan sehari-hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau
digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Seperti pada gambar.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30-

Dasar Penyelesaian
Dalam penyelesaian struktur, terutama
untuk menghitung dan menggambar
gaya dalam adalah sama dengan balok
(a) biasa (horizontal). Namun disini perlu
lebih berhati-hati dalam menghitung
karena baloknya adalah miring.

(b)

Gambar 2.25. Skema balok miring

Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya-gaya
dalam pada semua kondisi balok.

2.4.2. Contoh soal


Diketahui
Suatu balok miring di atas 2 tumpuan, perletakan A = sendi duduk di bidang
horizontal, perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.
Beban P1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D, dan beban terbagi rata q
= 1 t/m’ dari D ke B dengan arah vertikal.

Ditanya : Gambar bidang M, N, D


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31-

Jawab:

q = 1 t/m’

B
rol
P2=4t
P1=4t
RB 3m
D
C 5
A α 1m 1m 1m
sendi 3
RAH
α
RAV
⎣ 4m
4
di B = rol Æ jadi reaksinya hanya
1m 1m 2m satu ⊥ sumbu batang

Gambar 2.26.a. Pembebanan pada balok miring

Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.
Reaksi di B Æ RB ⊥ bidang sentuh
RB dicari dengan Σ MA = 0
RB.5 – q.2.3 – P2.2 – P1.1 = 0
18
RB.5 – 1.2.3 – 4.2 – 4.1 = 0 Æ RB = = 3.6 ton (arah RB ⊥ sumbu batang)
5
Untuk mencari RAV dicari dulu RAH dengan syarat keseimbangan horizontal.
RAH Æ ΣH = 0
RAH – RB sin2 = 0
3
RAH = .3.6 ton = 2.16 ton
5
Mencari RAV dengan Σ MB = 0
RAV Æ Σ MB = 0
RAV.4 – RAH.3 – P1.3 – P2.2 – q.2.1 = 0
RAV.4 – 2.16.3 – 4.3 – 4.2 – 2.1.1 = 0
RAV = 7.12 ton
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -32-

MENGHITUNG BIDANG NORMAL (N)

Beban P dan q diuraikan menjadi :


1m
- // sumbu batang
- ⊥ sumbu batang

q
a
α
α b

Gambar 2.26.b. Distribusi beban pada balok miring

⎧a = q sin α ⎫
Gaya yang // sebagai batang Æ menjadi gaya normal (N) ⎨ ⎬
⎩b = q cos α ⎭

Gaya yang ⊥ sebagai batang Æ menjadi gaya lintang (D)

ND kn = -2q . sin α = -2 .1. 3/5 = -1.2 ton


(dari kanan)
ND kr = - (4 + 2) sin α = -6 .3/5 = - 3.6 ton
NC kr = - (4 + 4 + 2) sin α = -10. 3/5 = - 6 ton

MENGHITUNG GAYA LINTANG (D) (dari kanan)

DB kr = - RB = - 3.6 ton
Dari B ke D Æ Dx = - 3.6 + q.x . cos α
DD kn = - 3.6 + q.2 . cos α = - 3.6 + 2. 4/5 = - 2 ton
DD kr = -3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.2 ton
Dc kr = - 3.6 + (2 + 4 + 4) cos. α = 4.4 ton

4/5
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -33-

1 t/m’

B
4t

4t
3m
D
x
C
A
1m 1m 2m

1 t/m’
MENGHITUNG BIDANG MOMEN (M)
Dihitung dari kanan B
B ke D 4t
4t RB
x 1
Mx = RB . − .q.x ²
cos α 2 D
C x
A
Untuk x = 0 MB = 0 x
2 1 cos α
Untuk x = 2 MD = 3.6 . − .1.4 = + 7 tm
4/5 2
α
x
3
Mc = RB . - q.2.2 – P.1
cos α
= 3,6 . 3,75 – 2.2 – 4.1 = + 5.5 tm
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -34-

Gambar bidang M, N, D
1 t/m’

4t B

4t
RB =3.6t
D

C
α
A

RAH =2.16t
RAV =7.12t
linier
konstan 1.2 t
konstan

-
- 3.6t BIDANG N
- 6t

konstan konstan
+ 1.2
3.6 t
+ -2 -
+ 4.4
BIDANG D
linier

parabola
5.5 tm 7 tm

linier BIDANG M
linier
Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -35-

Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya-gaya dalam dari dan hasilnya harus
sama. Seperti contoh dibawah ini.

PERHITUNGAN DARI KIRI


RAV diuraikan menjadi :
RAV. Cos α (gaya ⊥ sumbu batang)
RAV. Sin α (gaya // sumbu batang)
RAV . sin α
Α α

α
RAV . cos α

RAV RAH diuraikan menjadi :


RAH. sin α (gaya ⊥ sumbu batang)
RAH sin α
RAH. cos α (gaya // sumbu batang)
A α
RAH
RAH cos α

N = - (RAV . sin α + RAH . Cos α) RAH = 2.16 t


Sin α = 3/5
D = + RAV . cos α - RAH . sin α
Cos α = 4/5
RAV = 7.12 t

NA kn = - (7.12 . 3/5 + 2.16 . 4/5) = - 6 ton


Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan
Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.
NC kn = - [(7.12 – 4). 3/5 + 2,16 . 4/5] = - 3.6 ton
Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.
NDkn = - [(7,12 – 4 – 4) 3/5 + 2,16 . 4/5] = - 1,2 ton
Gaya normal dari D ke B linier { Æ NB = - 1.2 + q.2 . sin α
NB = - 1,2 + 2.1 . 3/5 = 0 ton
Gaya lintang Æ DA kn = RAV cos α - RAH sin α
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -36-

Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.


DA kn = 7.12 . 4/5 – 2,16 . 3/5 = 4,4 ton
Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton
Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan
Dc kn = (7,12 – 4) 4/5 – 2,16 . 3/5 = 1,2 ton
Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t
DD kn = (7,12 – 4 – 4) 4/5 – 2,16 . 3/5 = - 2 ton.
Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.
DB = -2 – 2.1 . 4/5 = - 3,6 ton

2.5. Beban Segitiga


Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat atau terbagi rata, namun ada
yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan , beban tekanan tanah dan lain
sebagainya.

2.5.1. Pengertian Dasar


Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air
dan tekanan tanah.
Contoh
dinding tangki dinding tangki

air

bak tangki air diagram tekanan air


2.5.2. basement
dinding basement
dinding basement

tanah

bak tangki air diagram tekanan tanah


Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -37-

Dasar Penyelesaian
Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain-lain namun kita
harus lebih hati-hati karena bebannya membentuk persamaan.

x a t/m’
Persamaan ax = .a
l

ax
A
B
Px

a.l a.l
RA = RB =
6 2/3x 1/3x a.l 3
P= ton
2
x

2/3 l 1/3 l

Gambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

Mencari Reaksi Perletakan


Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B
1/ 3 l
∑ M B = 0 → R A .l − P .1 / 3 l = 0 → R A = −P
l
1 / 3 l a.l a.l
RA = x = ton
l 2 6
2/3 l
∑ M A = 0 → R B .l − P . 2 / 3 l = 0 → R B = −P
l
2 / 3 l a.l a.l
RB = x = ton
l 2 3
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -38-

Menghitung Bidang D (dari kiri)


X = variable bergerak dari A ke B
x
Di potongan x Æ ax = .a
l
Beban segitiga sepanjang x Æ Px = ½ x. ax
x ax ²
Beban Æ Px = ½ x . .a =
l 2l
Persamaan gaya lintang :
a.l ax ²
Dx = RA – Px = − (parabola)
6 2l
Persamaan pangkat 2 Æ

Mencari tempat dimana gaya lintang = 0


D = 0 Æ RA – Px = 0
a.l ax ² l²
= → x² =
6 2. l 3

l² 1
XD = 0 = = l 3
3 3

MENGHITUNG BIDANG M
x
Mx = RA . x – Px .
3
a.l ax ² x
= .x − .
6 2.l 3
a.l a
= x − . x³ (persamaan pangkat 3 / parabola)
6 6l
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -39-

Mmax terletak di daerah untuk D = 0


1
Æx= l 3
3
3
a.l ⎛ 1 ⎞ a ⎛1 ⎞
Mmax = ⎜ l 3⎟− l ⎜ l 3⎟
6 ⎝3 ⎠ 6 ⎝3 ⎠
a.l² a.l²
= 3− 3
18 54
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -40-

Contoh Perhitungan

x
ax = .3
6
x
2/3 x 1/3 x h = 3 ton/m’

Jawab :
A B
TOTAL BEBAN
Px
RA RB P=½lxh

2 l/3 P l/3 3.6


P= = 9 ton
2
l=6m
Σ MB Æ RA.l – P l/3 = 0 Æ RA . 6-9.2 = 0
2
RA = .9 = 3 ton
6
Σ MA Æ RB . l – P.2/3 l = 0 Æ RB .6-9.4 = 0
4
RB = .9 = 6 ton
6
3t + D=0
Menghitung Bidang D
- x = variable bergerak dari A ke B
BIDANG D 6t
x x
ax = .3 =
6 2
3,464 m
Px = ½ x . ax
x x x²
Px = . =
4 2 4
Persamaan gaya lintang Æ Dx = RA – Px
+

Dx = 3 -
4
Tempat dimana gaya lintang = 0
BIDANG M x²
Mmax D=0Æ =3
4

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 12 = 3,464 m


MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -41-

x = 0 Æ DA = + 3 ton
x = 6 Æ DB = - 6 ton

Menghitung Bidang M
x
Mx = RA . x – Px .
3
x² x x³
= 3x - . = 3x −
4 3 12

D=0Æ M max (x = 3,464 m)


3
⎛ 3,464 ⎞
M max 3.3,464 - ⎜ ⎟ = 10,392 − 3,464 = 6,928 tm
⎝ 12 ⎠

2.5.3. LATIHAN

Soal 1 : Balok Miring


P=3t
q = 1 t/m'
C
Balok miring ABC ditumpu
B di A = sendi, B = rol, seperti
tergambar
Beban q = 1 t/m’ , P = 3 ton
Ditanyakan;
30°

A
HA
a) reaksi perletakan
b) bidang N, D dan M
VA
6m 1m

Soal 2 Portal ACB dengan


q = 1.5 t/m' P=4t perletakan A = sendi ,
B B = rol, seperti tergambar;
Beban q = 1 t/m’ , P = 3 ton
Ditanyakan;
3m

α
RB
A a) reaksi perletakan
.

HA
b) bidang N, D dan M
VA
4m 3m
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -42-

Soal 3 : Balok dengan beban segitiga.

q = t/m'

A
RHA

VA
RB

Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar


A = sendi, B = rol
Ditanyakan;
a) reaksi perletakan
c) bidang N, D dan M

Soal 4
q = 3 t/m'

A
RHA
B C

RAV
RB

4m 2m

Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi ,
B = rol, seperti tergambar;
Ditanyakan;
a) reaksi perletakan
b) bidang N, D dan M

2.5.4. Rangkuman

- Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam


struktur tangga, ketelitian perhitungan perlu.
- Beban segitiga (Δ) adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan
tekanan tanah, besarnya merupakan fungsi x.

2.5.5. Penutup

Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat kunci soal-soal


yang ada sebagai berikut :
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -43-

Soal no. 1

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.12 ton ↑
Reaksi miring B : RB 5.63 t
Atau : HB 2.815 t ←
VB 4.88 t ↑
Reaksi horisontal A : HA 3 ton →

Gaya normal = N A 9.76 ton - tekan


B kiri 1.50 t - tekan
B kanan – C 1.50 t - tekan
Gaya lintang = D A 2.16 t +
B kiri t -
B kanan – C 2.6 t +
X = 2.88m jarak miring dr A 0
Momen = M A 0
B 3 tm -
C 0
X = 2.88 m 3.11 tm +

Jawaban soal no. 2

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 6 ton ↑
B : RB 4 ton ↑
Reaksi horisontal A : HA 0 →
Data pendukung Sin α 3/5
Cos α 4/5
Gaya normal = N A 3.6 ton - tekan
C bawah 0
C kanan – B 0
Gaya lintang = D A 5.2 ton +
C kiri 0
C kanan – B 4 ton -
Momen = M A 0
C 12 tm(max) +
X = 2 m horisontal 9 tm +
dari A
B 0
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -44-

Jawaban soal no. 3

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : RAV q.l ↑
6
B : RB q.l ↑
3
Reaksi horisontal A : RAH 0
Gaya normal = N A-B 0
Gaya lintang = D A ……….. q.l +
6
B ……….. q.l -
3
X=
L
= 0.5774 L dari A 0
3
Momen = M A 0
B 0
C
L 0.06415 x q +
X= ………….
3 x l2
(max)

Jawaban soal no. 4

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.5 ton ↑
B : RB 4.5 ton ↑
Reaksi horisontal A : RAH 0 →
Gaya normal = N A–B-C 0
Gaya lintang = D A 4.5 ton +
B kiri 3.5 ton -
B kanan 1 ton +
C 0
X = 2.24m dari B 0
Momen = M A 0
B 0.67 tm -
X = 2.24m 3.73 tm +
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -45-

2.5.6. Daftar Pustaka


- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, Bab I
- Soemono, “Statika I”, ITB, Bab I.

2.5.7. Senarai
Balok miring = balok yang membentuk sudut
Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -46-

RB
4/5 RB

3/5 RB

catatan : q.2.2 Æ 2 = panjang beban terbagi rata


2 = jarak titik berat q ke titik D.

Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya-gaya yang ⊥ (tegak lurus) dan //
(sejajar) dengan sumbu

x
= jarak RB ke sepanjang batang BD
cos α
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -47-

x
Persamaan garis ax = .a
l
a.l
Resultante Beban : P = ton
2

Diketahui :
Balok di atas 2 perletakan A dan B, dengan beban segitiga diatasnya, tinggi beban di atas
perletakan B adalah 3 ton/m’= h.
Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya

Pada pelaksanaan sehari-hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga,
seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air, bagaimana
penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.
Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada
gambar.
Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

x a t/m’
Persamaan ax = .a
l

ax
A
B
Px

a.l a.l
RA = RB =
6 2/3x 1/3x a.l 3
P= ton
2
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46-

2.6. Gelagar Tidak Langsung

2.6.1. Pengertian Dasar


Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan
yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu, bambu, dan
profil baja.
Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai
dengan yang diinginkan, maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima
langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.

Plat lantai kendaraan yang


terbuat dari beton

Gambar 2.30.
Jembatan dengan
gelagar langsung

Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai
kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.
Untuk jembatan yang terbuat dari kayu, bambu, baja, maka roda kendaraan
tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu, bambu atau baja
tersebut, melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar
melintang, gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2.31).
Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima
oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak
langsung yang mana dalam penggambaran seperti pada Gambar 2.31.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47-

arah muatan

aspal

Potongan
Gel. melintang melintang

Gelagar
induk

Gel. memanjang

Potongan Melintang

Gambar 2.31. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48-

2.6.2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik

Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung


harus mengalami penyederhanaan.
gel. memanjang
gel. melintang
gel. induk / utama

Gambar 2.32. Penyederhanaan awal, gel.


tidak langsung

Gambar 2.33. Penyederhanaan akhir, untuk


gel. tidak langsung

2.6.3. Cara distribusi beban


Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.
induk), melainkan lewat perantara gelagar melintang, maka beban yang
diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada
diatas jembatan.
q kg/m’
beban terbagi rata

gel. melintang
gelagar induk / utama
λ λ
beban terbagi rata diatas beban terbagi rata tersebut akan ditransfer
gel. memanjang ke gelagar induk melewati gelagar
melintang Æ jadi yang sebenarnya beban
P P P merata, masuk ke gelagar induk (utama)
menjadi beban terpusat. dimana beban
P = q.λ
beban terpusat diatas gel. induk
gelagar induk / utama
Gambar 2.34. Distribusi beban terbagi rata
pada gelagar tidak langsung
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49-

Q Jika beban terpusat Q berada diantara gel.


a b
melintang, maka Q tersebut didistribusi
menjadi beban Q1 dan Q2. dimana
a b
λ Q2 = Q dan Q1 =
x x
Q1 Q2

Gambar 2.35. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung

BEBAN TAK LANGSUNG


Contoh :

Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m’ dengan jumlah bentang
gel. memanjang genap.

II I
q t/m’
Potongan I – I = tepat diatas gel. melintang
Potongan II-II = ditengah-tengah gel. melintang

Menghitung momen di potongan I-I


gelagar induk
MI (untuk potongan I-I)
II I 6λ M I = RA . 2λ - P/2 . 2λ
P/2 P P P P P P/2 - P. λ
= 6q λ² - qλ² - qλ²
= 4 q λ²
(muatan tidak langsung)
3 q λ II I 3qλ
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50-

Kalau dicek memakai muatan langsung adalah :


MI = beban langsung
MI = 3.q λ . 2λ - ½ q (2λ)²
= 6q λ² - 2 q λ² = 4 q λ²

Catatan :
Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. Melintang) boleh dihitung
sebagai beban langsung.
Penyelesaian :
P=qλ
RA = RB = 3q λ
Beban diantara perletakan P = q λ
Beban di atas perletakan P/2 = q λ/2
Perhitungan Momen
II
Pada Potongan II q t/m’ Dengan memakai beban langsung

MII = 3 qλ . 1.5 λ - ½ q (1.5 λ)²


II = 4.5 λ² - 1.125 qλ²

λ λ/2 = 3.375 qλ²


3qλ

½ qλ qλ II
Jika dihitung dengan beban tidak langsung
MII = 3q λ . 1.5λ - ½ q λ . 1.5 λ
II
λ λ/2
- q λ . ½ λ = 3.25 q λ²
3qλ
q t/m’
Perbedaan momen (0.125 q λ²)

q t/m’
Perbedaan tersebut adalah dari :

1
Momen lantai = q λ ² = 0.125 q λ ²
λ 8
kendaraan
0.125 qλ²
Gambar 2.36. Distribusi beban pada gel. tak
langsung
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51-

Catatan :
Momen tidak langsung (diantara gelagar)
MII = M langsung – M. lantai
= 3.375 q λ² - 0.125 q λ²
= 3.25 q λ²

jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung
untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.

Perhitungan gaya lintang (D)

½ P P P P P P ½ P

Walaupun beban terbagi rata, tapi kalau


gelagarnya tidak langsung, maka gambar
bidang D (bidang gaya lintang), garisnya
3P 3P bukan linier, namun seperti gaya lintang beban
P terpusat.
2½P P
+
P
-
P 2½P
P

Bidang D

Gambar 2.37. Bidang gaya lintang (D) dari gelagar


tidak langsung
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52-

2.6.4. Latihan

Soal 1:
q = 1.5 t/m’ Balok AB mendapat beban tak langsung
seperti tergambar, q = 1,5 t/m’ sepanjang
bentang.
Ditanyakan : a). Gaya reaksi VA, HA, RB
A 5 b). Bidang N, D, M
1 2 3 4 B
HA
VA λ λ λ λ RB
= 2m

Soal 2 :
P1=3t P2=1t Balok ABC mendapat beban tak langsung
1m seperti tergambar, P1 = 3t
1 2 3 4 5 6 P2 = 1t
HA
B C Ditanyakan : a). Gaya reaksi VA, HA, RB
λ λ λ λ λ b). Bidang N, D, M.
= 3m RB
VA

2.6.5. Rangkuman
- Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja
- Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan, transfernya ke
gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.

2.6.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci
yang ada.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53-

Soal no 1
Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda
Reaksi Vertikal A : VA 6t ↑
B : RB 6t ↑
Reaksi Horizontal A : HA 0
Beban Pada Titik 1 1,5 t ↓
2 3,0 t ↓
3 3,0 t ↓
4 3,0 t ↓
5 1,5 t ↓
Gaya Normal = N 1-2-3-4-5 0
Gaya Lintang = D 1-2 4,5 t +
2-3 1,5 t +
3-4 1,5 t −
4-5 4,5 t −
Momen = M A=1 0
2 9 tm +
3 12 tm +
4 9 tm +
5=B 0 +

Soal No. 2

Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda


Reaksi Vertikal A : VA 1,75 t ↑
B : RB 2,25 t
Reaksi Horizontal A : HA 0
Beban Pada Titik 1 0
2 2t ↓
3 1t ↓
4 0
5 0
6 1t ↓
Gaya Normal = N 1-2-3-4-5-6 0
Gaya Lintang = D 1-2 1,75 t +
2-3 0,25 t −
3-4 1,25 t −
4-5 1,25 t −
5-6 1,00 t +
Momen = M A=1 0
2 5,25 tm +
3 4,5 tm +
4 0,75 tm +
5=B 3,0 tm −
6=C 0
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54-

Gaya Normal = N A–B–C 0

Gaya Lintang = D A 4.5 ton +


B kiri 3.5 ton -
B Kanan 1 ton +
C 0
X = 2.24 m dari B 0
Momen = M A 0
B 0.67 tm -
X = 2.24 m 3.73 tm +

2.6.7. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB-Bab I
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab I.

2.6.8. Senarai
Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung
terletak di balok induk.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55-

2.7. Garis Pengaruh

2.7.1. Pendahuluan
Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan, maka struktur tersebut
selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan.
Di sisi lain kalau kita menganalisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut
adalah, reaksi-reaksi kemudian gaya-gaya dalamnya yaitu, gaya momen, gaya lintang
dan gaya normal. Jika dua hal tersebut dipadukan, maka kaitannya adalah : Berapa
besarnya nilai maksimum dari gaya-gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut,
jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan
suatu garis pengaruh.
Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi; gaya momen, gaya
lintang, dan gaya normal, jika di atas struktur jembatan tersebut berjalan suatu
muatan.

2.7.2. Pengertian Dasar


Untuk mempermudah suatu penyelesaian, maka didalam suatu garis
pengaruh, muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu
satuan (ton atau kg atau Newton) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan
tersebut.
Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan
nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen
(M) atau, gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar
tersebut.

Definisi
Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi), atau gaya
dalam M (Momen), atau N (Normal), atau D (Lintang) disuatu titik akibat
pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56-

Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (RA dan RB)


x x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari
P = 1 ton titik A ke titik B

Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B


A B
G.P.RA (Garis Pengaruh Reaksi di A)
RA l RB Σ MB = 0 Æ RA . l – P (l-x) = 0
P(l - x) l − x
RA = = ton (linier)
l l
G.P. RA
Untuk P di A Æ x = 0 Æ RA = 1 ton
Untuk P di B Æ x = l Æ RA = 0 ton
+
1 ton
G.P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B)
Σ MA = 0 Æ RB.l – P.x = 0
P.x x
RB = = ton (linier)
l l
G.P. RB

+
1 ton Untuk P di A Æ x = 0 Æ R = 0
B
Untuk P di B Æ x = l Æ RB = 1 ton

Gambar 2.38. Gambar garis pengaruh RA dan RB


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57-

2.7.3. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh

X P=1t

A B
RA l RB
Ini adalah GP.RA (Garis Pengaruh Reaksi di A)
+
1t Garis ini menunjukkan besarnya nilai RA sesuai
GP.RA
dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar
+
1t Ini adalah GP.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B)
P=1t GP.RB
Garis ini menunjukkan besarnya nilai RB sesuai
C dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar
A B
a b
* Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a
dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan
+ y1 B, maka besarnya reaksi di A Æ RA = y1 dan
1t GP.RA
besarnya reaksi di B Æ RB = y2, dimana
b a
y2 y1 = ton dan y2 = ton, jadi
GP.RB + 1t l l
b a
Gambar 2.39 RA = ton dan RB = ton
P=1t l l
Gambar 2.39. Kegunaan dari garis pengaruh untuk
A D B beban di titik c
c d
* Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D
y3 sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari
+
1t perletakan B, maka besarnya reaksi di A Æ
GP.RA
RA = y3 dan besarnya reaksi di B Æ RB = y4,
+ y4 + dimana
GP.RB 1t d c
y3 = ton dan y4 = ton, jadi
Gambar 2.40 l l
P= 4 ton d c
RA = ton dan RB = ton
l l
A C B
a b Gambar 2.40. Kegunaan digaris pengaruh
untuk beban di titik D

+ y1 Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton


1t
GP.RA Jika P = 4 ton terletak di titik c
Maka RA = 4 . y1 dan RB = 4 . y2 atau
y2 4b 4a
GP.RB + 1t RA = dan RB =
l l

Gambar 2.41. Kegunaan garis pengaruh untuk beban tidak sama dengan 1 ton
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58-

P=6t
Jika P = 6 ton terletak ti titik D
Maka RA = 6 . y3 dan RB = 6 y4 atau
A D B
6d c
c d RA = ton dan R B = 6 ton
l l
y3
+ Gambar 2.42. Kegunaan garis pengaruh untuk
1t GP.RA
beban P = 6t
y4 ++
GP.RB 1t
Bagaimana kalau ada beberapa muatan :
P= 4 ton P2= 6 ton • Jika di atas gelagar ada muatan

A C D B P1 = 4t di c, sejarak dari titik A, sejarak b dari


a b
titik B, dan P2 = 6t sejarak c dari titik A, sejarak d
c d
dari titik B, maka
y3
+ y1 GP.RA
1t
b d
RA = 4y1 + 6y3 = 4 . ton + 6 ton
l l
y2 + 1t
GP.RB y4 a c
RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 ton + 6 ton
l l

Gambar 2.43. Kegunaan garis pengaruh untuk


beban P1 = 4 ton dan P2 = 6 ton

Beberapa Contoh

1. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.P.D)


P = 1 ton berjalan dari A ke B
X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B
C = suatu titik terletak antara A – B
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59-

P = 1t G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C)


x
P berjalan dari A ke C

A B
C Σ MA = 0 Æ RB . l – P.x = 0
Px x
RA l RB RB = = ton
l l
Dc dihitung dari kanan
a b
x
Dc = -RB = − ton (linier)
l
Untuk P di A Æ x = 0 Æ Dc = 0
P = 1t a
x Untuk P di Ckr Æx = a Æ Dc = - ton
l
P berjalan dari C ke B
A B
C P (l − x ) l − x
RA = = ton
a l l
l
Dc dihitung dari kiri
G.P. RB
l −x
Dc = RA = ton (linier)
- l
+ Untuk P di Ckn Æ x = a Æ
G.P. RA l −a b
Dc = = ton
b/l l l
l−l
G.P. Dc Untuk P di B Æ x = l Æ Dc = = 0 ton
l

Gambar 2.44. Gambar garis pengaruh gaya


lintang
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -60-

Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P.M)


P = 1 ton berjalan dari A ke B
x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.

P = 1t
x G.P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C)

P berjalan dari A ke C
A B
C Px x
RB = = ton
l l
RA l RB
Mc dihitung dari kanan
x
a b Mc = + RB . b = + . b tm (linier)
l
Untuk P di A Æ x = 0 Æ Mc = 0
a.b
Untuk P di C Æ x = a Æ Mc = + tm
P = 1t l
x P berjalan dari C ke B
P (l − x ) l −x
A B RA = ton = ton
C l l
Mc dihitung dari kiri
⎛l −x ⎞
Mc = + RA . a tm = ⎜ ⎟ . a tm
⎝ l ⎠
+ Untuk P di C Æ x = a Æ Mc =
a.b
tm ⎛l −a⎞ b
GP RB.b l ⎜ ⎟ = . a . tm
⎝ l ⎠ l
GP RA.a ⎛l −l ⎞
Untuk P di B Æ x = l Æ Mc = ⎜ ⎟ a . tm
G.P. Mc ⎝ l ⎠
= 0 tm

Gambar 2.45. Gambar garis pengaruh momen


di c (GP Mc)
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -61-

3. Contoh lain
Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan
A dan B
x P
D C Ditanya : Gambar Garis Pengaruh RA,
B
A RB, MD, DD, DBkn
2m
l=6m l 1= 2 m Jawab :

l−x
GP.RA : Σ MB = 0 Æ RA = ton
l
GP.RA - 1/3 t
Untuk P di A Æ x = 0 Æ RA = 1 ton
+ Untuk P di B Æ x = l Æ RA = 0
1t Untuk P di C Æ x = 8 Æ
l −8 6−8 2 1
RA = = = − ton = ton
l 6 6 3

x
GP.RB : Σ . MA = 0 Æ RB = ton
GP.RB lt
Untuk P di A Æ x = 0 Æ RB = 0
+ 1t Untuk P di B Æ x = l Æ RB = 1 ton
4
t Untuk P di C Æ x = 8 Æ
3
8 8 4
RB = = = ton
l 6 3
2/3 ton
GP. MD
GP.MD P antara A-D Æ lihat kanan bagian
- x
MD = RB . 4 = . 4 tm
+ l
GP.RB.4 Untuk P di A Æ x = 0 Æ MD = 0
GP.RA.2 Untuk P di D Æ x = 2 mÆ
2.4 4
MD = = tm
4 6 3
tm P antara D-C Æ lihat bagian
3
l −x
MD = RA . 2 = .2
l
Untuk P di D Æ x = 2m Æ
1 l −2 6−2 4
1 t MD = .2 = .2 = tm
t 3 l 6 3
GP.RB 3 GP.DD
Untuk P di B Æ x = 8 m Æ
6−8 2
- - MD = . t = − tm
6−3 3
+
2
3
GP.RA
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -62-

GP.DD

P antara A-D Æ lihat kanan bagian


x
DD = - RB = - ton
l
P di A Æ x = 0 Æ DD = 0
P di D Æ x = 2 Æ DD = -2/6 ton = -1/3 ton

P antara D-C Æ lihat kiri bagian

l −x
DD = RA = ton
l
6−2 2
P di D Æ x = 2 Æ DD = = ton
6 3
P di B Æ x = 6 m Æ DD = 0

6−8 1
P di C Æ x = 8 m Æ DD = = − ton
6 3
GP.DBkr
Bkr Bkn
B C P antara A-Bkr Æ lihat kanan bagian
A
DBkr = - RB
P antara B-C Æ lihat kiri bagian
GP.DBkr
DBkr = + RA
- - 1/3t
1t GP.RA GP.DBkn
GP.RB
P antara A – B Æ lihat kanan bagian
DBkn = 0
P antara B – C Æ lihat kanan bagian
GP.DBkn
DBkn = P = 1 ton
1t +

GP.MB
P antara A – B Æ lihat kanan bagian
2 tm
MB = 0

GP.MB - P antara B – C Æ lihat kanan bagian


MB = -x tm
x
P di B Æ x = 0 Æ MB = 0
P di C Æ x = 2m Æ MB = -2 tm

Gambar 2.46. Gambar kn-macam-macam


garis pengaruh
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -63-

2.7.4. LATIHAN

Soal 1
berjalan
P = 1 t bejana

A B
I
RA
RB
3m 5m

a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC, ditanyakan GPRA, GPRB,
GPDI, GPMI

b) Bila beban 3m berjalan,

P1 = 4t P2 = 2t
Ditanya;
DI (+) max.
DI (-) max.
MI max.
M max. max.

berjalan
Soal 2 P = 1 t bejana

A
I B C

RA
RB
4m 5m 3m

Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC, ditanyakan GP RA, GP RB, GP
DI, GP MI
3m
a) Bila beban berjalan,

Ditanya;
RB max.
MI max.
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -64-

2.7.5. Rangkuman
o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarnya reaksi atau gaya-gaya
dalam disuatu titik, akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.
o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg
atau Newton).

2.7.6. Penutup
o Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai
berikut :

Jawaban soal no. 1

Keterangan P = 1 ton di titik Nilai Tanda/arah


RA A 1 ton + ↑
B 0
RB A 0
B 1 ton + ↑
DI A 0
3 -
t
I kiri 8
5 +
I kanan 8

MI A 0
B 0
I 15
tm
8 +

RA max. = + 5.5 ton


DI (+) max. = + 3.3 ton
MI max. = + 9 tm
Mmax. Max. = + 9.1875 tm
MODUL II (MEKANIKA TEKNIK) -65-

Jawaban soal no. 2

Keterangan P = 1 ton di titik Nilai Tanda/arah


RA A 1 ton + ↑
B 0
C 0.3 ton - ↑
RB A 0
B 1 ton + ↑
C 1.3 ton + ↑
DI A 0
I kiri 0.4 ton -
I kanan 0.6 ton +
B 0
C 0.3 ton -
MI A 0
B 0
I 2.4 tm +
C 1.2 tm -
MB A 0
B 0
C 3 TM -

RB max. = + 5.175 ton


MI max. = + 9.18 tm

2.7.7. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB, Bab I.
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab I.

2.7.8. Senarai
- Garis pengaruh
- Beban berjalan
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -1-

MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA


PENYELESAINNYA

3.1. Judul : BALOK GERBER

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta
mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber,
syarat-syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan
bidang-bidang gaya dalam balok tersebut.

3.1.1. Pendahuluan
Didalam kenyataan se-hari-hari jarang dijumpai jembatan yang berbentang Satu.
( ). Untuk mengatasi penyeberangan sungai yang mempunyai lebar

> 100 m
penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang
berbentang lebih dari satu, sehingga mempunyai perletakan > 2 buah.

a).
A B Kalau dilihat pada gambar b, perletakan
dari jembatan tersebut > 2 buah, yaitu 3
buah dimana A = sendi; B = rol dan C =
Jembatan berbentang satu
rol. Kalau di perletakan A terdapat 2
b). reaksi (karena A = sendi) yaitu RAH dan
A B C RAV, perletakan di B terdapat 1 reaksi
(karena B = rol) yaitu RBV, perletakan di
C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu
Jembatan berbentang lebih dari satu
RCV, maka jumlah reaksi tersebut ada 4
buah (RAV; RAH; RBV, RCV)
Gambar 3.1. Macam-macam bentang
jembatan
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -2-

Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah (ΣV = 0; ΣH = 0; ΣM = 0)


berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah
persamaan baru lagi, supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV; RAH; RBV, RCV
bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3
buah yiatu ΣV = 0; ΣH = 0; ΣM = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b)
disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu.
Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat-syarat
keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut
(4 buah bilangan yang dicari yaitu RAV; RAH; RBV, RCV dengan 4 buah persamaan yaitu
ΣV = 0; ΣH = 0; ΣM = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Dalam kondisi tersebut konstruksi
masih statis tertentu, karena masih bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan
dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.

Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan


memberikan 1 buah perletakan baru di D yang
A B D C berbentuk sendi, maka persamaan baru
tersebut adalah Σ MD = 0

Sendi gerber Sedang titik D tersebut disebut dengan sendi


gerber
Gambar 3.2. Skema balok gerber

3.1.2. Definisi Balok Gerber


Dengan uraian seperti dalam pendahuluan, maka bisa didefinisikan bahwa :
Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai
jumlah reaksi perletakan > 3 buah, namun masih bisa
diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -3-

Contoh :
Suatu konstruksi balok gerber
Sendi gerber
ABC dengan perletakan :

RAH A = sendi, dimana ada 2 reaksi


D yaitu RAV dan RAH.
A B
C B = rol, dimana ada 1 reaksi
RAV RBV RCV yaitu RBV.
C = rol, dimana ada 1 reaksi
yaitu RCV
Jadi jumlah reaksi adalah 4
buah yaitu, RAV; RAH; RB dan
RCV
Persamaan yang tersedia adalah :
‰ 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu ΣV = 0; ΣH = 0 dan ΣM = 0
‰ 1 (satu) buah persamaan baru yaitu Σ MD = 0
Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu ΣV = 0; ΣH = 0; ΣM = 0 dan ΣMD = 0.
Kondisi kontruksi tersebut adalah :
Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada (ΣV = 0; ΣH = 0;
ΣM = 0 dan ΣMD = 0) = jumlah persamaan
(yaitu RAV; RAH; RBV dan RCV) = jumlah bilangan yang dicari
Maka konstruksi tersebut, disebut dengan konstruksi balok gerber, yang masih statis
tertentu.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -4-

3.1.3. Bentuk Sendi Gerber

Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton, maka bentuk konstruksi
gerber tersebut seperti pada gambar.

Sendi gerber
D

A B C

RAH

RB
RAV RC

Detail perletakan D
(sendi gerber)

Gambar 3.3. Detail sendi gerber


MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -5-

B D C
A
RAH

RAV RCV
RBV

D C
B
A
RAH

RAV RCV
RBV

atau

D C
RDH

RDV
RCV
RDV
A B D
RAH RDH

RAV
RBV

Gambar 3.4. Skema pemisahan balok gerber

Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.


Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis
tertentu DC dan ABD, dimana balok DC tertumpu di balok AB.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -6-

3.1.4. Menentukan letak sendi gerber


beban = q kg/m’
B C
Jika dalam balok ABC, sendi gerber belum
A
ada, maka konstruksinya masih statis tak
tertentu, dan jika diberi beban terbagi rata
L1 L2 sebesar q kg/m’, maka gambar bidang
momennya (bidang M) seperti gambar
dibawahnya. Bagaimana cara mencari bidang
momen (bidang M) tersebut, untuk
1 - 2
mahasiswa semester I belum bisa
+ + mengerjakan, jadi untuk sementara diterima
saja. Kalau dilihat dari sub bab 3.1.2. dimana
di titik D dibuat sendi gerber dengan
Bid. M persamaan baru ΣMD = 0, maka alangkah
Gambar 3.5. Balok statis tak tentu tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik
dan skema bidang D dicari tempat-tempat yang momennya
momennya sama dengan nol = 0.

Dalam hal seperti tersebut diatas, alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol
adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Karena kita hanya
membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru, maka kita cukup memilih salah satu dari 2
(dua) alternatif tersebut diatas, sehingga struktur bisa diselesaikan.

sendi gerber
D B C Cara memilih : alternatif (1), jika kita
a1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber, maka
A 1 gambarnya adalah seperti pada Gambar a1
dimana balok AD terletak di atas balok
1 DBC, balok tersebut jika disederhanakan
a2 D akan seperti pada Gambar a2, dan jika
A
B C diuraikan strukturnya akan seperti pada
gambar a3.
D
a3 A Apakah mungkin ?

B C
TIDAK MUNGKIN
Gambar 3.6. Penentuan sendi gerber yang tak
mungkin
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -7-

Perhatikan
Lihat balok AD, perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (RAV, RAH) perletakan D = sendi
dengan 2 reaksi (RDV, RDH), sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah, sehingga
strukturnya adalah statis tidak tertentu.
Perhatikan balok DBC; perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (RBV); perletakan C = rol
dengan 1(satu) buah reaksi (RCV), sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah, karena
kedua perletakan B dan C adalah rol, maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber
adalah tidak mungkin.
Alternatif 2 sendi gerber
D C
Jika yang dipilih adalah titik (2) sebagai
b1
sendi gerber, maka gambarnya adalah
2
A B seperti gambar (b1) dimana balok DC
terletak diatas balok ABD, balok
C
B tersebut jika gambarnya disederhanakan
b2
akan seperti pada gambar (b2), dan jika
A
diuraikan strukturnya akan menjadi

RDH D C seperti pada gambar (b3) apakah


mungkin ?.
RDV Perhatikan balok DC yag terletak diatas
b3 A B
RDH balok ABD. Perletakan D = sendi
D
mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu RDV dan
RDH, sedang perletakan C = rol dengan 1
Gambar 3.7. Balok gerber dan cara
pemisahannya (satu) reaksi yaitu RCV.

Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga), maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu
• Perhatikan balok ABD, perletakan A = sendi, mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu RAH dan
RAV, perletak B = rol, mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV.
Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah, jadi konstruksi balok ABD masih statis
tertentu.
• Jadi pemilihan titik (2) sebagai sendi gerber adalah mungkin.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -8-

3.1.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber

A B D C
a
Jika ada suatu konstruksi balok gerber
seperti pada gambar a, maka yang perlu
D dikerjakan pertama adalah memisahkan
b1
1 balok tersebut menjadi beberapa
A konstruksi balok statis tertentu.
B C
Jika konstruksinya seperti pada gambar

D (a), maka kita bisa memisahkan


b2
konstruksi tersebut menjadi beberapa
A B RD
konstruksi tersebut menjadi beberapa
konstruksi statis tertentu seperti pada
RD C
gambar (b) atau (c), dimana gambar (b)
terdiri dari gambar (b1) dan (b2),
b1 dan b2 Æ tidak mungkin demikian juga gambar (c) terdiri dari
D
C1 gambar (c1) dan (c2).
C
A B

D C

RD

C2 RD

A B
C1 dan C2 Æ mungkin

Gambar 3.8. Skema penyelesaian balok gerber


MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -9-

Tinjauan gambar b1 dan b2


Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC, dan jika
dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2), dimana titik D pada
balok ABD menumpu pada titik D balok DC, sehingga reaksi RD dari balok ABD akan
menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC.
° Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2), perletakan A = sendi (ada 2 reaksi);
perletakan B = rol (ada 1 reaksi), perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). Jadi total
perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah, jadi balok ABD merupakan balok statis
tidak tertentu.
° Perhatikan balok DC (gambar b2), titik D = bebas (tak mempunyai tumpuan), jadi
tidak ada reaksi, perletakan, c = rol (ada 1 reaksi), jadi jumlah total reaksi hanya ada
1 buah yaitu RCV di C. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan
balok yang tidak stabil atau labil. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin.

Tinjauan gambar (c1) dan (2)


Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD, dan jika
diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2), dimana titik D dari balok
DC menumpu pada titik D balok ABD, sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi
beban (aksi) pada titik D balok ABD.

° Perhatikan struktur balok DC gambar (C2), perletakan D = sendi, (ada 2 reaksi),


perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah.
Jadi balok DC adalah balok statis tertentu
° Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)), perletakan A = sendi (ada 2 reaksi),
perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok
ABD adalah balok statis tertentu juga.
Jadi alternatif (C) adalah mungkin.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Tahapan Penyelesaian

q Sendi gerber
D P
a Kalau kita mempunyai balok gerber
ABC seperti pada gambar (a), yang
A B C
kemudian diuraikan seperti pada
gambar (b), maka tahapan
pengerjaannya adalah sebagai
berikut :
P
• Balok DC dikerjakan dulu
D sehingga menemukan RD dan
C RC.
• Reaksi RD dari balok DC akan
menjadi beban di titik D dan
RD balok ABD.
q
RD • Dengan beban yang ada (q)
b RC dan beban RD, maka balok AB
D bisa diselesaikan.
• Bidang-bidang gaya dalam (M,
A B N, D) bisa diselesaikan sendiri-
sendiri pada balok DC dan AB.
• Penggambaran bidang M, N, D
balok gerber merupakan
penggabungan dari bidang M,
N, D dari masing-masing
balok.
Gambar 3.9. Skema pemisahan balok gerber
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -11-

3.1.6. Contoh Soal Suatu struktur balok gerber ABC dengan


P=4t q = 2t /m’ beban seperti pada gambar.
(a) 1m
A B A = rol ; B = sendi
C
S C = rol ; S = sendi gerber
Beban P = 4 ton, dengan jarak 1 m dari A,
dan beban terbagi rata q = 2 t/m’ dari B ke
4m 2m 6m C.
Ditanya : Gambar bidang M, N, D.
Jawab: Struktur balok gerber seperti pada
P=4t
x gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi
S struktur seperti pada gambar (b).
(b) A
Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu,
Rs = 1t 2 t/m’ baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As
RA = 3t x1 x2
menjadi beban / aksi ke balok SBC
Rs C Balok A-S (mencari RA dan RS)
S
Σ MS = 0 Æ RA. 4 – P.3 = 0
B
RB = 7 1/3 t P.3 4.3
2 RA.= = = 3t
3 tm 2 tm RC = 5 t 4 4
8.0287 tm 3
- Σ MA = 0 Æ RS. 4 – P.1 = 0
(c)
+ P.1 4.1
RS = = = 1t
+ 4 4
BID. M Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik
S pada balok S B C (gambar (b))
2.833 m
Balok S B C (mencari RB dan RC)
5.667 m Σ MC = 0
RB.6 – RS.8 – q.6.3 = 0
6.33t RB.6 – 1.8 – 2.6.3 = 0
3t + + 44 1
RB = t=7 t
- 2 6 3
1t
- 5 t
3 Σ MB = 0 Æ RC.6 + RS.2 – q.6.3 = 0
BID. D
RC.6 + 1.2 – 2.6.3 = 0
34
BID. N RC = = 5 2/3t
6

Gambar 3.10. Gambar-gambar gaya dalam


balok gerber
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -12-

Bidang Momen (M)


Balok A-S
Daerah A Æ P (P = letak beban P = 4t)
Mx = RA.x = 3.x (linear)
x = 0 Æ MA = 0
x = 1 Æ MP = 3 tm (momen dibawah P)
Daerah P Æ S
Mx = RA.x-P (x-1) = 3.x – 4 (x-1)
x = 1 Æ MP = 3 tm
x = 4 Æ MS = 0
Balok SBC
Daerah S Æ B (dari kiri)
Mx1 = - Rs.x1 = - 1.x1 (linear)
= -x1
x1 = 0 Æ Ms = 0
x2 = 2 Æ MB = -2 tm
Daerah C Æ B (dari kanan)
1
Mx2 = Rc.x2 - .q x2² (parabola)
2
1
Mx2 = 5.667.x2 - .2.x2²
2
= 5.667 x2 - x2²
dMx 2
Mencari Mmax Æ = 0 Æ 5.667 – 2 x2 = 0
dx 2
= x2 = 2.833 m (lokasi dimana terletak Mmax
Mx2 max =5.667. 2.833 – (2.833)²
= 16.0546 – 8.02589 = 8.0287 tm.
Mencari titik dimana momen = 0
Mx =5,667 x2 – x22 = 0
X2 (5,667-x2 ) = 0
Æ x2 =5,667 m ( Letak dimana momen = 0 )
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -13-

Bidang D ( GAYA LINTANG )


Balok A-S
Daerah AÆ P ( dari Kiri )
D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan )
Daerah PÆ S ( Dari kiri )
Dx = + Ra - P = 3 – 4 = -1 t (Konstan )

Balok S – B C
Daerah SÆ B ( Dari Kiri )
Dx = - Rs = -1 t (Konstan)
Daerah C Æ B (Dari Kanan)

Dx2 = - Rc + q . x 2
= - 5,667 + 2 . x 2 (Linieair)

X2 = 0 Æ Dc = - 5,667 t
X2 = 6 Æ Dbkn = -5,667 + 2.6 = + 6,333 t

Mencari titik dimana D = 0


-5,667 + 2X2 = 0 Æ X2 = 2,833 m
(Letak D = 0 sama dengan letak Mmax )

Bidang N ( Normal )
Bidang N tidak ada
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -14-

3.1.6. Latihan

Dalam mempraktekan teori – teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ),


maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .
1).
P = 5t q = 2t/m’ Suatu balok gerber dengan
S beban dan struktur seperti
B C gambar, dengan perletakan
A A = sendi, B = rol
C = rol, S = sendi gerber
2m
Beban : P = 5t, 2m dari A
q = 2t/m’ sepanjang bentang
5m 2m 4m SC.
Gambar : bidang-bidang
gaya dalamnya (Bidang M,
N, D)

2). P=5 2t

45° Suatu balok gerber dengan


S
beban dan struktur seperti pada
A B gambar dengan perletakan :
2m 3m 3m A = jepit, B = rol
S = sendi gerber
Beban Æ P = 5 2 t dengan
sudut 45° terletak di tengah
bentang SB.
Gambar : bidang- bidang gaya
dalamnya. (Bidang M, N dan D)

3.1.8. Rangkuman
o Balok gerber adalah :
- Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah, tapi masih
bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.
Atau
- Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -15-

o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebut harus diuraikan lebih dahulu,
dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok mana yang terletak diatas
(tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) tertumpu

o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing-masing balok tersebut.


o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih
dahulu.
o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing
balok tersebut.

3.1.9. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal
tersebut diatas sebagai kontrol.

Soal No. 1
Keterangan Titik Harga Arah
A 1.4 ton ↑
Reaksi
B 7.6 ton ↑
S 4 ton ↑
C 4 ton ↑

Keterangan Titik Harga Tanda


A 0
Momen (M) B 8 tm
S 0 (-)
C 0
A 1.4 ton (+)
Gaya Lintang (D) B kiri 3.6 ton (-)
B kanan 4 ton (+)
C 4 ton (-)
Gaya Normal (N) - - -
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -16-

Soal 2
Keterangan Titik Harga Tanda
AV 2.5 ton Ç
Reaksi AH 5 ton Æ
MA 5 tm Ì
S 2.5 ton Ç
B 2.5 ton Ç
A 5 tm (-)
Momen (M) S 0
di P 7,5 tm (+)
B 0
Gaya Lintang (D) A 2.5 ton (+)
B 2.5 ton (-)
A 5 ton (-)
Gaya Normal (N) S 5 ton (-)
P kiri 5 ton (-)

3.1.10. Daftar Pustaka


1. Soemono “Statika I” ITB bab V
2. Suwarno. “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab V-4
3.1.11. Senarai :
Sendi Gerber : tempat penggabungan balok satu dengan balok lainnya.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -17-

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber


3.2.1. Pendahuluan
Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita
harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau
gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut.
Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2
perletakan.
Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan
beban P = 1 ton atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar


Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah :

B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana


(a) A
yang disangga dan yang mana yang
menyangga.
o Dalam gambar sebelah
o Balok SC yang disangga
RS
RS RC o Balok ABS yang menyangga.
(b) A B o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS Æ
P maka reaksi di S (RS) dan reaksi di C (Rc)
RA
RB tidak ada (Gambar d).
o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok

ada
RS RC S-C Æ maka reaksi di A (RA), reaksi di B
RS ada
(RB); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc)
(c)
semuanya ada (Gambar c).
RA ada RB ada
P
tidak tidak
(d) ada ada
reaksi reaksi
RA ada RB ada
Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan
muatan berjalan diatas gelagar
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -18-
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -18-

Contoh

Balok gerber seperti pada gambar


Cari garis pengaruh reaksi-reaksinya
x P=1t x1
P=1t
GP.RA (Garis Pengaruh Reaksi di A)

A S B C
P berjalan dari A ke S
x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C
l l Σ Ms = 0
a
P ( l1 − x ) l1 − x
=
1 2
RA = ton
l1 l1
S Untuk P di A Æ x = 0 Æ RA = 1 ton
A
Untuk P di S Æ x = l1 Æ RA = 0

RS P dari S ke C Æ tidak ada pengaruh terhadap RA


RS
B C GP.RS (Garis Pengaruh Reaksi di S)

P dari A Æ ke S
GP.RA Px x
Rs = =
l1 l1
+ P di A Æ x = 0 Æ Rs = 0
1t P di S Æ x = l1 Æ RS = 1t
P dari S ke C Æ tidak ada pengaruh untuk reaksi
di S (Rs)
GP.RS

+ GP.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B)


1t x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai posisi.
P berjalan dari C ke S

Px1 x1
RB = =
l2 l2
P di C Æ x1 = 0 Æ Rs = 0
P di B Æ x1 = l2 Æ RB = 1t
P = 1t l +a
P di S Æ x1 = l2 + a Æ RB = 2
1t l2
GP.RB x1 P di A Æ Rs = 0 Æ RB = 0

⎛ l2 + a ⎞
⎜⎜ ⎟⎟
⎝ l2 ⎠
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -19-

A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C)

P berjalan dari C ke S

l − x1
Rc = 2 t
GP. Rc l2
P = 1t P di C Æ x1 = 0 Æ Rc = 1t
x1
P di B Æ x1 = l2 Æ Rc = 0
-
Rs . a a
+ P di S Æ Rc = =− karena (Rs
l2 l2
a/l 1t = 1t)
2

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi P di A Æ Rs = 0 Æ Rc = 0


(RA; Rs; RB dan Rc)

Jika potongan I-I antara : A3 Æ cari garis pengaruh DI-I dan MI-I
Jika potongan II-II antara : BC Æ cari garis pengaruh DII-II dan MII-II

b c d e GARIS PENGARUH D DAN M


x P
I II G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di
A B C potongan I-I)
I S II
P berjalan di kiri potongan I-I Æ
l1 a l2 (perhitungan dari kanan potongan)

A DI = - Rs (dari kanan)
Rs Px Px x
B C Rs = → DI = − =−
l1 l1 l1

c Untuk P di I-I Æ x = b Æ
l1 b
DI = - t
l1
G.P.. DI-I
- P berjalan di kanan potongan I-I
+ (perhitungan kanan potongan I)
b/l1
G.P. MI-I DI = + RA (dari kiri)
P ( l − x ) l1 − x
RA = 1 =
l1 l1
+
Untuk P di I-I Æ x = b Æ
.b . c l −b c
DI = 1 =
l t1 l1 l1
Untuk P di S Æ x = l1 Æ DI = 0
Gambar 3.13. Garis pengaruh DI-I dan MI-I Jika P berjalan dari S ke C Æ tidak ada
DI
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -20-

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I)


P berjalan di kiri potongan I-I (perhitungan dari kanan)
Px x
MI = Rs . c = .c = .c
l t1 l t1
Untuk P di A Æ x = 0 Æ MI = 0
b.c
Untuk P di I-I Æ x = b Æ MI =
l1
P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri)
l −x
MI = RA . b = 1 .b
l1

l −b c.b
Untuk P di I-I Æ x = b Æ MI = 1 .b =
l1 l1
Jika P berjalan dari S ke C tidak ada MI

P d e
x
S B II C
A G.P. DII-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang
II di potongan II-II)
l1 a l2 P berjalan dari A ke Potongan II
(perhitungan kanan potongan II)

A S DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

Untuk P di S Æ Rs = 1t
Rs
a a
Rc = - t → D II = +
l2 l2
Untuk P di II Æ
d d
Rc = → D II = −
l2 l2
a/l
2
b/l P berjalan dari II ke C (perhitungan dari
+
+ 2 kiri potongan)
- d/l DII = RB (sama dengan g.p. RB)
2 e c
Untuk P di II Æ RB = → D II =
GP. DII-II l2 l2

Sama dengan g.p. Rc Sama dengan g.p. RB


MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -21-

G.P. MII-II (Garis Pengaruh Momen di


potongan II-II)
a/l2.b P berjalan dari A ke II (perhitungan dari
kanan potongan)
d/l2 .
- e MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e)
+ a
Untuk P di S Æ Rs = 1t Æ Rc = -
l2
a
g.p. Rc.e g.p. RB.d MII = - .e
l2
d
Gambar 3.14. Garis pengaruh DII-II dan Untuk P di II Æ Rc =
l2
MII-II
d
MII = - .e
l2
P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri)
MII = RB . d
e
Untuk P di II Æ RB =
l2

e e
MII = dtm Æ d
l2 l2

3.2.3. MENCARI HARGA MOMEN DAN GAYA LINTANG DENGAN GARIS


PENGARUH
Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa
momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.
A C B Mencari harga Mc
a b
Kondisi muatan seperti pada 1)
l
Mc = P1 y1 + P2 y2 + P3 y3

* 1) P1 P2 P3 Kondisi muatan seperti pada 2)


Mc = P1’ y1’ + P2’ y2’ + P3’ y3’ + P4’ y4’
* 2)
P1’ P2’ P3’ P4’ Mc = Σ P.y

y1’ y2 y3 y1 y4’y2 y3

GP.Mc
P.a.b
l
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -22-

A C B
Untuk muatan terbagi rata = q t/m’
dx q t/m’ d Mc = y.q dx
Mc = ∫ y.qdx = q ∫ y dx

∫ y dx = luas bagian yang diarsir = F


GP.Mc

+
Mc = q F
Luas = F
q dx = muatan q sejarak dx, dimana dx Æ0
(mendekati 0)
y y = ordinat dibawah dx
P1’ P2’ P3’ P4’
Mencari harga Dc

Untuk beban titik

Dc = -P1’ y1’ + P2’ y2’ + P3’ y3’ + P4’ y4’


GP.Dc
+
y1’ Beban terbagi rata
y2’ y3’ y4’
- Dc = q F

F = luas arsir

Dc = q F
q t/m’

Luas = F
GP.Dc
+

Gambar 3.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -23-

3.2.4. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar


3.2.4.1. Pendahuluan
Pada kenyataannya, muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu, ada
yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan, Dalam kondisi
tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada
gelagar tersebut.
Misal :

Suatu gelagar muatan


P1 P2 P3 P4 P5 P6

A B
C Suatu gelagar
Jembatan
a b
l

Gambar 3.16. Muatan berjalan diatas gelagar

Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti
pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.

3.2.4.2. Prinsip dasar perhitungan


- Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka
kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan
momen di titik tersebut maximum.
- Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai garis pengaruh dari gaya
dalam yang dicari sebagai perantaranya.
- Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban
yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -24-

Contoh
Mencari Momen Maximum Pada Gelagar
Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar, jika ada rangkaian muatan
yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.
Δx

P1 P1’ P2 P2’ P3 P3’ P4 P4’ P5 P5’


Jawab :
A B
C Mencari Mc max untuk rangkaian
muatan berjalan (dari kiri ke kanan)
(c) (l- c)
Jarak rangkaian muatan constant
l
(tetap)
l r
= posisi awal

Δx
y1’ y2’ y3’ y4’ = posisi kedua
y5’
y1
y2 y4 y5 Pada posisi awal, ordinat garis
y3 pengaruh dinyatakan dengan y1 s/d
yS, atau
C1 y”
Mc = Σ Py
y’ GP.Mc
= P1y1 + P2 y2 + P3 y3 + P4 y4
y’
y” + P5 y5

Gambar 3.17. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan

Muatan bergerak ke kanan sejauh Δx, dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y1’
s/d y5’ dan Mc = Σ Py’
(dalam hal ini y berubah menjadi y’)
Jika ditinjau 2 bagian : - bagian kiri titik C dan
- bagian kanan titik C
Di kiri titik C ordinat bertambah y’ dan
Di kanan titik C ordinat berkurang y”
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -25-

Δx
y’ = . c1
c
Δx
y” = . c1
(l − c)

Perbedaan nilai momen (ΔM) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut :
Δ Mc = P1 y’ + P2 y’ – P3 y” – P4 y” – P5 y”
= (P1 + P2) y’ - (P3 + P4 + P5) y” Æ jika (P1 + P2) = Σ Pl dan (P3 + P4 + P5) = Σ Pr

⎛ Δx ⎞ ⎛ Δx ⎞
= Σ Pl ⎜ .c1 ⎟ − ∑ Pr ⎜ .c1 ⎟
⎝ c ⎠ ⎝l −c ⎠
⎧ ∑ Pl ∑ Pr ⎫
Δ x.c1 ⎨ − ⎬ = Δx.c1 [ql − qr ]
⎩ c l −c⎭

ql qr

ql = jumlah beban rata-rata di sebelah kiri titik C


qr = jumlah beban rata-rata di sebelah kanan titik C

Jika ql > qr Æ Δ M positif


P
Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C Æ ql = 1
C
ql menjadi kecil sehingga ql < qr Æ Δ M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C
menjadikan tanda Δ M dari positif ke negatif)
Jadi Æ Mmax terjadi jika P2 diatas C.
Pl Pr
M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga Æ ∑ =∑ atau
C l −c
ql = qr
Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata

Untuk muatan terbagi rata Mc max


a b terjadi jika :
ql = qr
a b a+b
Æ = =
A B c ( l − c) l
C
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -26-

Gambar 3.18. Posisi beban terbagi rata untuk


Mencari Mmaximum

kiri kanan total

Mmax terjadi jika psosisi beban Æ ql = qr = qs


Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di
kanan potongan seimbang, maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut :
Gelagar diatas 2 perletakan A-B, digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut
01, 12, 23,34 dan 45
Cara : buat garis AB dibawah gelagar,- di ujung bagian kanan (B’) buat muatan tumpukan
beban dari 45; 34; 23;12; dan 01 (dengan skala)
- Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (A’) sehingga
membentuk sudut (α)
- Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di
potongan I maksimum, yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah,
sampai memotong garis A’-B’ di I’.
- Tarik dari titik I’ sejajar (//) dengan garis A’0 dan garis tersebut akan memotong
tumpukan muatan di beban 01.
- Jadi MI akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.
* Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.
- Dengan cara yang sama, tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis
A’-B’ dan memotong di potongan II’.
- Dari titik II’ ditarik garis // (sejajar) dengan A’ – O dan memotong tumpukan
muatan di beban 12.
- Jadi MII akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -27-
°1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika
ql = qr = qs = tg α
01 + 12 + 23 + 34 + 45
tg α =
A I II III IV B l

l
0

α 5
A’ I’ II’ III’ IV’ B’
Gambar 3.19. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis

MI max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I-I.


MII max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II-II.
MIII max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III-III.
MIV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas
potongan IV-IV dan diambil yang besar.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -28-
3.2.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suatu Gelagar
3.2.5.1. Pendahuluan
Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen
maximum di suatu titik pada gelagar, mencari momen maximum-maximorum di
suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Jadi dalam hal ini titik letak dimana
momen maximum terjadi, serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen
maximum harus dicari. Jadi dalam hal ini :
- Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.
-Æ dicari !!.
- Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.

3.2.5.2. Prinsip Dasar Perhitungan


- Untuk mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa
memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari.
- Dalam mencari momen maximum-maximorum ini harus memakai persamaan.

Contoh 1

P1 P2 P3 P4 P5
(a) Suatu gelagar diatas 2 perletakan A – B,
A B dan suatu rangkaian muatan dari P1 s/d P5.
Berapa dan dimana momen maximum-
maximorumnnya ?.

P1 P2 P3 P4 P5 Jawab:

R1 = resultante dari P1 dan P2


R2 = resultante dari P3 dan P4
Rt = resultante dari R1; R2 dan P3 atau
R1 r R2 resultante P1; P2; P3; P4; P5

r = jarak antara Rt dan P3


a = jarak antara R1 dan P3
b = jarak antara R2 dan P3
Rt
a b
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -29-
Rangkaian muatan terletak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak
dibawah beban P3 dengan jarak x dari perletakan A.
r
P1 P2 P4 P5
P3
(b) ΣM di P3 = 0

Rt.r = R1 . a – R2 . b
RA RB
R1 R2 Σ MA = 0

a b
RB =
1
{P3 .x + R1 ( x − a ) + R 2 ( x + b}
Rt lt
x Momen dibawah P3 dengan jarak x dari titik A
Rt
l Mx = RB (l-x) – R2 . b

P R
Mx = 3 (l x − x ² ) + 1 (lx − a l − x ² + ax )
l l
tengah-tengah AB
R2
(c) P3 + (l x − bx − x ² + blt )
l
A B
½r E
Mencari Mmax :
½r
dMx
=0
Rt dx
dMx P3
Mmax terdapat di potongan E
= (l − 2x ) + R1 (l − 2x + a )
dx l l
(dibawah P3) ; ME max. = M3 max R2
+ (lt − 2x − b) = 0
l

tengah-tengah AB P3 (l – 2x) + R1 (l – 2x + a) + R2 (l – 2x – b) = 0
P3 l + R1 . l + R2 . l + R1 . a – R2 . b =
P4 2 x (P3 + R1 + R2)
(d)
T B
Rt
1 1 Rt . l + R1.a – R2 . b = 2x . Rt
r r R 1.a − R 2 .b
2 2 x=½l+½ . Rt.r
Rt
Rt.r
Rt x=½l+½
Rt
M max terdapat dibawah P4 = M4max x = ½ l + ½ r Æ pada jarak x = ½ l + ½ r dari A
Dalam hal ini r = jarak antara Rt terdapat M max.
dengan P4
Mextrem = Mmax – maximorum
adalah momen yang terbesar diantara
Mmax (1,2,3,4,5).
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -30-

tengah-tengah bentang

P1
Mmax terjadi dibawah beban P1
(e) A B Æ M1 max
r
½r ½r Dalam hal ini r = jarak antara Rt
dengan P1.

Rt
½r
½l
x

M max terdapat dibawah P1 = M1 max

P1 P2 P3 P4 P5

(f) A Mmax terjadi dibawah beban P2


B Æ M2 max
tengah-tengah
bentang Dalam hal ini r = jarak antara Rt
r
dengan P2.

½r

Rt

x=½l+½r

M max terdapat dibawah P2 = M2 max

P1 P2 P3 P4 P5

(g) A
Mmax terjadi dibawah beban P5
B Æ M5 max
r
tengah bentang
Dalam hal ini : r = jarak antara
½r ½r
Rt dengan P5
Rt M max terdapat di
x=½l+½r bawah P5 = M5 max

Gambar 3.20. Posisi beban untuk kondisi Mmax1 s/d M max5


Suatu gelagar dengan bentang l = 10 m
dan ada suatu rangkaian muatan berjalan
dengan lebar seperti pada gambar.
Cari besarnya momen maximum-maximum
maximorum.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -31-
Contoh 2
P1=8t P2=6t P3=6t

1m 1m
A
B

l = 10 m

Kondisi 1 P1 P2 P3 Rt = P1 + P2 + P3=
Dimana M max dibawah P1 20 ton
Statis momen
tengah bentang terhadap P1 Æ
P1 P2 P3 8t 4t 6t P2.1 + P3.2 = Rt.x
6.1 + 6.2 = 20 . x
A 1m 1m
5m B x=
x 6 + 12
x=½l+½ l-x = 0,90 m
20
= 5 + 0,45 4,55 Rt
Rt

½r
Kondisi 2
Dimana M max dibawah P2
P1 P2 P3
B
A
0,1 m tengah-tengah
bentang
4,95 m

Rt
Kondisi 3
Dimana M max dibawah P3

P1 P2 P3
B

tengah-tengah
bentang
r =1.1
4,45 4,45
Rt
Gambar 3.21. Posisi beban untuk mencari
momen maximum maximorum
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -32-

3.2.6. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber

Soal 1 :
P=1t berjalan Balok ABC dengan sendi
2m gerber S seperti tergambar.
S Akibat beban P = 1t berjalan
A diatas balok, ditanyakan :
I B C
GP RA; GP RB; GP RC
RA RB RC
6m 2m 4m GP MI; GP DI; GP MB

Soal 2 :
P = 1 t berjalan
4m
S1 S2
A I B C D
Balok ABCD dengan
sendi gerber S1 dan S2
RA RB RC RD seperti tergambar.
8m 2m 6m 2m 6m

a). Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok, ditanyakan;


GP RA; GP RB; GP RC; GP RD
GP MI; GP DI; GP MB; GP DB kanan

2m 2m
b). Akibat rangkaian beban berjalan, ditanyakan : MI max, M max

P1=4t P2=4t P3=2t


maximorum pada balok tersebut.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -33-

3.2.7. Rangkuman
- Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber, harus tahu dulu bagaimana
memisahkan balok tersebut menjadi bagian-bagian yang tertumpu dari bagian
yang menumpu.
- Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya-gaya dalam, perlu dibuat dulu garis
pengaruh reaksi, karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya
dalam mudah dikerjakan.

3.2.8. Penutup
Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan, maka bisa melihat
jawaban soal sebagai berikut :

Jawaban :
Soal No. 1

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


RA A 1t + ↑
B 0
S 1/3 t − ↓
C 0
RB A 0
B 1t + ↑
S 4/3 t + ↑
C 0
RC A 0
B 0
S 0
C 1t + ↑
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -34-

Lanjutan Jawaban Soal 1

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


MI A 0
I 1,333 tm +
B 0
S 0,667 tm −
C 0
DI A 0
I kiri 1/3 t −
I kanan 2/3 t +
B 0
S 1/3 t −
C 0
MB A 0
B 0
S 2 tm −
C 0

Soal No. 2
a).
Keterangan P = 1 dititik Nilai Tanda / Arah
RA A 1t + ↑
B 0
S1 0,25 t − ↓
S2 0
C 0
D 0
RB A 0
B 1t + ↑
S1 1,25 t + ↑
S2 0
C 0
D 0
RC A 0
B 0
S1 0
S2 1,333 t + ↑
C 1t + ↑
D 0
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -35-

Keterangan P = 1 dititik Nilai Tanda / Arah


RD A 0
B 0
S1 0
S2 0,333 t − ↓
C 0
D 1t + ↑
MI A 0
I 2 tm +
B 0
S1 1 tm −
S2 0
C 0
D 0

Lanjutan Jawaban Soal 2

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


DI A 0
I kiri 0,5 t −
I kanan 0,5 t +
B 0
S1 0,25 t
S2 0
C 0
D 0
MB A 0
C 0
S1 2 tm −
S2 0
C 0
D 0
DB kanan A 0
I kiri 0
I kanan 1t +
B 1t +
S1 0
S2 0
C 0
D

b). MI max = + 14 tm, pada saat P2 terletak pada titik I


MI max maximum = + 14.05 tm, terjadi pada titik dibawah P2
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -36-

3.2.9. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB, bab V
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, bab V-4

3.2.10. Senarai
Balok gerber = balok yang bisa dipisah-pisah menjadi beberapa konstruksi statis
tertentu
Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan
balok yang lain.
MODUL III (MEKANIKA TEKNIK) -37-
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -1-

MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA


PENYELESAIANNYA

4.1. Judul : PELENGKUNG 3 SENDI

Tujuan Pembelajaran Umum

Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung
3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3
sendi, mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur
tersebut, serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M, N, D)

4.1.1. Pendahuluan
Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan,
tapi dengan kondisi yang bagaimana ?.
(a).
a. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30,
dan dasar sungainya tidak terlampau dalam, pada
+ 30 cm umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan
biasa seperti pada Gambar (a).

(b).
Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup
berarti misal : + 100 m, dan dasar sungainya
tidak terlampau dalam, maka dibuatlah
jjembatan balok dengan beberapa bentang,
Pilar seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok
+ 100 m
dengan 2 bentang (perletakan di tengah
menumpang pada pilar)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -2-

Tapi bagaimana kalau kita mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti
dan dasar sungai juga cukup dalam, sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah-
tengah jembatan ?.
(c).

Tiang penyangga

Maka jawabannya adalah konstruksi


utama dibuat pelengkung sehingga
tidak memerlukan pilar di tengah-
Pelengkung
tengah sungai (Gambar c). Dengan
konstruksi pelengkung tersebut,
gelagar memanjang, tempat dimana
sungai kendaraan lewat bisa tertumpu pada
tiang-tiang penyangga yang terletak
pada pelengkung tersebut.

Gambar 4.1. Bermacam-macam bentuk jembatan

4.1.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi


4.1.2.1. Pengertian Dasar
Untuk menjaga kestabilan dari perletakan, struktur
S
pelengkung tersebut, kedua perletakan dibuat sendi.
Perletakan
A = sendi (ada 2 reaksi VA dan HA).
A B
HA HB B = sendi (ada 2 reaksi VB dan HB).
VA VA Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah, sedang
Gambar (a) persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga)
Gambar 4.2. Skema pelengkung 3 sendi buah yaitu : Σ H = 0; Σ V = 0 dan Σ M = 0.

Jadi agar struktur tersebut bisa diselesaikan secara statis tertentu, maka perlu
tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu Σ Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).
S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -3-

dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3


buah sendi.

4.1.2.2. Penempatan Titik s (sendi)


Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 sendi terletak di
busur pelengkung antara perletakan A dan B.

S
Letak sendi tersebut bisa
ditengah-tengah busur pe-
lengkung atau tidak. Hal
ini tergantung dari kondisi
B lapangan : seperti pada
gambar (b), dimana letak
A sendi s tidak di tengah-
tengah busur pelengkung

(b)
Gambar 4.3. Contoh posisi
sendi pelengkung 3 sendi
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -4-

4.1.2.3. Pemilihan Bentuk Pelengkung


q kg/m’

A
B
RA RB
Kita kembali ke belakang, kalau kita
l mempunyai balok statis tertentu diatas 2 (dua)
perletakan A dan B dengan beban terbagi rata
q kg/m’, maka bidang momennya berbentuk
Bidang M parabola dengan tanda bidang M adalah
positif (+) dengan nilai maximum di tengah-
+
1
tengah bentang = q l² (coba dihitung lagi
8
sendiri) dengan persamaan momen Æ
parabola
1 1
Mx = RA.x - q x²
M= q l² 2
8
(c)
Gambar 4.4. Bidang M struktur statis tertentu
dengan beban terbagi rata

Sekarang kalau ditinjau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata diatasnya.

q kg/m’

Struktur pelengkung dengan bentang = l dan


tinggi = f
di A ada 2 reaksi Æ VA dan HA
S
di B ada 2 reaksi Æ VB dan HB

HA HB
A B

l
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -5-

Kalau kita mau mencari besarnya momen di


1
potongan E –E, maka ME-E = VA.x1- q x12 – HA.h1
S 2
VB
I II
E
Nilai ME-E dibagi menjadi 2 bagian.

h1 f 1
I = VA . x1 - q x12
2
II = HA.h1
HA HB 1
A B Nilai I = VA . x1 - q x12 sama dengan persamaan
2

l momen gambar (c) yaitu 2 (dua) perletakan dan


dengan gambar bidang momen sama dengan gambar
VA VB
x1
bidang momen sama dengan pada gambar (c),
dimana x1 bergerak dari A ke B.
Perhatikan nilai II = HA.h1.
Bidang M.
Jika potongan E-E bergerak dari perletakan A ke B,
Gambar nilai I = VA.x1 – ½ q x1²
maka nilai x1 bergerak dari 0 s/d l dan h1 nilainya
akan berubah dari o perlahan-lahan naik s/d f dan
+ turun s/d 0 lagi dimana nilai h1 kalau x1 berubah akan
sama dengan nilai ketinggian pada parabola.

+ Misal :
Bidang M
Jika potongan E-E di A Æ x1 = 0 dan h1 = 0
Jika potongan E-E di S Æ x1 = ½ l dan h1 = f
-
Jika potongan E-E di B Æ x1 = l dan h1 = 0
dst.
Nilai II = HA.h1
Gambar nilai II = HA.h1
HA = konstant
h1 = ketinggian pelengkung
Nilainya mengecil
jadi nilai II Æ gambarnya adalah parabola dengan
tanada (-).
Gambar 4.5. Skema bidang M pada pelengkung
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -6-

Harga momen total adalah sebagai berikut :


Nilai I dan nilai II = nilai total ME-E

+ - = nilai total ME-E


+
= nilai kecil (saling menghapus)
Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai
momen.

4.1.3. Cara Penyelesaian


4.1.3.1. Mencari Reaksi Perletakan

P1 S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian

S1 untuk mencari reaksi.

hB Pendekatan 1 :
Jika HA dan VA atau HB dan VB dicar
HB hA
B bersamaan.
a1 b1 Pendekatan 2 :
HA VB Jika VA dan VB dicari dulu
A
a b baru HA dan HB kemudian

VA
l

Gambar (a)
Gambar 4.6. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1)
Pendekatan 1
° HA dan VA dicari dengan persamaan ΣMB = 0 dan ΣMS = 0 (bagian kiri)
(2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui)
ΣMB = 0 Æ VA.l – HA. (hA-hB) – P1.b1 = 0 Æ (1)
ΣMS = 0 Æ VA.a – HA.hA – P1.S1 = 0 Æ (2)
(bagian kiri)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -7-

Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka VA dan HA bisa dicari.
° HB dan VB dicari dengan persamaan ΣMA = 0 dan ΣMS = 0 (bagian kanan) Æ 2
persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui
ΣMA = 0 Æ VB.l + HB (hA – hB) – P1.a1 = 0 Æ (3).
ΣMS = 0 Æ VB.l - HB . hB) = 0 (4).
(bagian kanan)
Dari persamaan (3) dan (4) maka VB dan HB bisa dicari.
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -8-
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -8-

Pendekatan 2

P1 S Reaksi horizontal HA dan HB ditiadakan kemudian


S1 arahnya diganti, masing-masing menuju ke arah
perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba
f

Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan arah


a1
Ab Ba yang menuju ke perletakan A.
b1
A Kita bisa langsung mencari reaksi Av dan Bv.
BV
Kemudian dengan ΣMS = 0 dari kiri kita bisa mencari
l
besarnya Ab dan dengan ΣMs = 0 dari bagian kanan
AV a b kita bisa mencari besarnya nilai Ba.
Gambar b

Gambar 4.7. Skema gaya dan jarak pada


pelengkung (pendekatan 2)

• Mencari reaksi Av

Pb
Σ MB = 0 Æ Av.l – P1. b1 = 0 Æ Av = 1 1 (1)
l

• Mencari reaksi Bv
Pa
Σ MA = 0 Æ Bv.l – P1. a1 = 0 Æ Bv = 1 1 (2)
l
• Mencari reaksi Ab

Σ MS = 0 Æ Av.a – P1.S1 – Ab . f = 0
Av . a − P1S1
(bagian kiri) Ab = dengan memasukkan nilai Av dari
f
persamaan (1), maka nilai Ab bisa dicari.

• Mencari reaksi Ba

Σ MS = 0 Æ Bv.b – Ba . f = 0
Bv . b
(bagian kanan) Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari persamaan (2)
f
maka nilai Ba bisa dicari.

Lihat posisi Ba dan Ab Æ merupakan reaksi yang arahnya miring Ba (¹) dan Ab (¸)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -9-

Ba cos α
Ba α
Ba sin α
Ab sin α
Ab
α
Kedua reaksi ini harus
diuraikan menjadi gaya-gaya
Ab cos α
yang vertical dan horizontal

Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu :

Ab cos α (Æ) merupakan uraian horizontal dan


Ab sin α (µ) merupakan uraian vertical sedang.

Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu :


Ba cos α (³) merupakan uraian horizontal dan
Ba cos α (¶) merupakan uraian vertikal.

• Bagaimana dengan komponen-komponen itu selanjutnya ?


Ternyata :
Ab cos α = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A.
( ´)
Ba cos α = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.
(³ )
dan :
VA (µ) = Av (µ) + Ab sin α (µ)
Pendekatan 1 gambar (a) pendekatan 2 gambar (b) dan
VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin α (¶)
Pendekatan 1 gambar (a) pendekatan 2 gambar (b)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -10-

4.1.3.2. Mencari Gaya-gaya Dalam


Seperti telah diketahui sebelumnya, gaya-gaya dalam yang ada pada suatu
balok adalah gaya dalam momen (M), gaya lintang (D) dan gaya normal
(N). P
x
Untuk balok yang lurus, bukan pelengkung, seperti
pada gambar (4.8), maka dengan mudah kita
A B
menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan
a b
RA l RA bidang gaya lintangnya (Bidang D).
Karena bidang M Æ merupakan fungsi x
Bidang M Mx = RA . x, (x dari 0 ke a) Æ linear dan
+ bidang D Æ merupakan nilai konstan Dx = RA (x dari
0 ke a).

P.a.b
l

RA + Bidang D

- RB

Gambar 4.8. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan

Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.


x
q kg/m’
Lihat pada gambar 4.9 disamping, dimana suatu
pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata
q kg/m’. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak
dari A s/d B, maka
S
Mx = VA . x – ½ q x² - HA . y

y I II
I = VA . x – ½ q x² gambarnya adalah parabola
seperti pada sub bab 4.1.2.3 Gambar (c).
A B
HA HB II = HA . y Æ HA = konstan nilainya
VA VB
y = jarak titik dasar ke pelengkung
Gambar 4.9
Pelengkung 3 sendi
dengan beban terbagi rata
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -11-

y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung, dimana pada umumnya


4 fx (l − x )
persamaannya adalah : y =

II = HA.y Æ gambarnya juga parabola
Jadi Mx = I – II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II Æ yang
tidak mudah penggambarannya !.

* Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang)

Kita lihat titik dimana x berada di situ ada Vx


x
dan Hx.
Hx
Vx = VA – q . x (jumlah gaya-gaya vertikal di x
S
kalau di hitung dari bagian kiri)
Vx Hx = HA

HA HB

VA VB

Gambar 4.10. Gaya vertical dan horizontal disuatu


titik pada pelengkung 3 sendi

Bagaimana nilai Dx dan Nx ? Æ gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke


gaya-gaya yang ⊥ (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Æ Dimana posisi sumbu
batang?.
Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.

Garis singgung tersebut membentuk sudut


Garis singgung di x α dengan garis horizontal.

α Æ maka Vx dan Hx harus diuraikan ke


garis singgung tersebut.
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -12-

Hx sin α
Vx sin α
α Hx α

Vx cos α
Hx cos α
Vx

* Uraian Vx ke garis singgung * Uraian Hx ke garis singgung

Gambar 4.11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang

Dx = jumlah komponen yang ⊥ garis singgung


Nx = jumlah komponen yang // garis singgung, maka
Dx = Vx cos α - Hx sin α

Jumlah gaya dari


Jumlah gaya dari kiri bagian dengan
kiri bagian arah arah ke bawah Æ
ke atas Æ tanda
tanda (-)
(+)

Nx = - Vx sin α − Ηx cos α
= - ( Vx sin α + Hx cos α)

Kedua gaya ini menekan


batang Æ tanda (-)

Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau
bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan. Karena setiap letak x berubah
garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai α akan berubah lihat gambar bawah.
Garis singgung
Garis singgung
α

x di sebelah kanan titik puncak

Gambar 4.12. Perubahan arah garis singgung


MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -13-

Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bidang momen (Bid.
M); bidang gaya lintang (Bid. D) ataupun bidang normal (Bid. N). Namun biasanya
yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen, nilai gaya lintang, dan nilai gaya
normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.

Contoh Penyelesaian
Contoh 1 3 t/m’
Diketahui :
Pelengkung 3 sendi dengan persamaan
4fx(lt − x )
S parabola y =

αc
C y = jarak pelengkung dari garis horizontal
dasar
f=3m
yc x = aksis yang bergerak secara horizontal
dari A ke B
H H l = bentang pelengkung
A B
f = tinggi pelengkung
2.5 m
xc
VA VB Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi
rata q = 3 t/m’.
5m 5m

Gambar 4.13. Pelengkung 3 sendi dengan beban


terbagi rata

Dintanya : Nilai VA; VB; H; Mc; Dc dan Nc

Dimana c terletak sejarak xc = 2.5 m dari titik A.


Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B; di A ada VA dan H dan
di B ada VB dan H
Reaksi horizontal di A ditulis H bukanlah HA demikian juga, reaksi horizontal di B
ditulis H bukanlah HB Æ yang berarti reaksi horizontal di A (HA) dan di B (HB)
adalah sama.
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -14-

HA = HB Æ kenapa ? dengan mengacu bahwa ΣH = 0 Æ dimana beban luar secara


horizontal tidak ada Æ maka HA = HB = H

Mencari VA dan VB
Σ MB = 0 Æ VA . l – q.l. ½ l = 0 Æ VA = ½ .3.10 = 15 ton (↑)
Σ MA = 0 Æ VB . l – q. l. ½ l = 0 Æ VB = 15 ton (↑)
mencari H
Σ Ms = 0 (kiri bagian dari S)
VA . 5- H . 3 – ½ q . (5)² = 0
VA .5 − 1 / 2.q (5)² 15.5 − 1 / 2 . 3 . 25
H= = = 12.5 ton
3 3
• Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y =
4 fx (l − x )

untuk x = 2.5 m
4.3.2,5 (10 − 2,5)
yc = = 2,25 m
10²
• Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c
Mc = VA .Xc – H.yc – ½ .q.Xc²
= 15 . 2,5 – 12,5 . 2,25 – ½ . 3 . 2,5² = 0
(nilai momen = 0)
• Mencari gaya normal dan gaya lintang
Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x, maka kita
perlu mencari sudut αc yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c
dan garis horizontal.
Menentukan nilai αc
Hc αc 4 f x (l − x ) 4 f (l − 2 x )
y= ⇒ y' =
l² l²
Vc
untuk x = 2.5

A B y’ = 4.3 (10 − 5) = 0,6


10²
2.5m
arc tg αc = 0,6 Æ αc = 30,96°

Gambar 4.14. Sudut αc sin α = 0,5145


cos α = 0,8575
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -15-
Vc = VA – q.x = 15 – 3.2,5 = 7,5 ton (↑)
Hc = H = 12,5 ton (Æ)

Dc = Vc cos αc – Hc sin αc
= 7,5 . 0,8575 – 12,5 . 0,5145
= 6,4312 – 6,4312 = 0

Hc sin αc
Vc sin αc
αc Hc αc

Vc cos αc
Vc Hc cos αc

Gambar 4.15. Uraian gaya Vc dan Hc

Nc = - (Vc.sin αc + Hc cos αc)


= - (7,5 . 0,5145 + 12,5 . 0,8575)
= - 14,5774 ton
Dari hasil nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai Mc = 0; Dc
= 0; Nc = -14,5774 ton, jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan
menerima gaya tekan.
Contoh 2
Diketahui :
xc=2.5m
S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan
xp=2m
4fx(l − x )
C parabola bentang l = 10 m dan
P=6t l²
f=3m
yc tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1,
yp
HA HB hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6
A B
ton (Æ) horizontal terletak di pelengkung
VB dengan jarak horizontal = 2 m dari titik A.
VA
Ditanya : Nilai VA; VB; HA; HB; Mc;
5m 5m
Dc dan Nc
Titik c terletak sejarak Xc = 2,5 m dari A.
Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3
sendi pada contoh soal
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -16-

Jawab :
Karena ada beban horizontal maka HA ≠ HB
Mencari VA dan VB
Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m
4.3.2 (10 − 2)
Yp = = 1,92 m
10²

Σ MB = 0 Æ VA . l + P.yp = 0
VA . 10 + 6 . 1,92 = 0 Æ VA = -1,152 ton (↓)

Σ MA = 0 Æ VB . l - P.yp = 0
VB . 10 - 6 . 1,92 = 0 Æ VB = + 1,152 ton (↑)

Æ Σ v = 0 Æ VA + VB = 0 Æ cocok

Mencari HA dan HB

Σ MS = 0 (kiri)
Σ MS = 0 Æ VA . ½ l – HA . f – P ( f – yp ) = 0
- 1,152 . 5 – HA . 3 – 6 (3 – 1,92) = 0
- 5,76 – HA . 3 – 6 . 1,08 = 0
− 5,76 − 6,48
HA = = −4,08 ton (←)
3
Σ MS = 0 (kanan)
Σ MS = 0 Æ VB . ½ l – HB . f = 0
1,152 . 5 – HB . 3 = 0 Æ HB = 1,92 ton (←)

Kontrol ΣH = 0
P + HA + HB = 0
6 – 4,08 – 1,92 = 0 (cocok)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -17-
Mencari M, Dc dan Nc
Seperti pada contoh 1 Æ yc = 2,25 m

αc = 30,96°
sin αc = 0,5145; cos α = 0,8575

Mc = - VA .Xc + HA . yc – P (yc – yp)

Mc = -1,152 . 2,5 + 4,08 . 2, 25 – 6 (2,25 – 1,92)


C αc
= - 2,88 + 9,18 – 1,98
P=6 t yc = 4,32 tm

HA HB

VA VB

Hc C Hc sin αc
Hc
Vc αc αc
P
Vc sin α Vc cos α
Vc Hc cos αc
HA

VA

Gambar 4.17. Distribusi Vc dan Hc

Vc = 1,152 ton (↓) Dc = - Vc cos αc – Hc sin αc


Hc = 6 – 4,08 = 1,92 (Æ) = -1,152 . 0,8575 – 1,92 . 0,5145
= -1,9757 ton
Nc = + Vc sin αc – Hc cos αc
= 1,152 . 0,5145 – 1,92 . 0,8575
= - 1,0537 ton
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -18-
4.1.4. Latihan
Untuk mempraktekan teori-teori yang ada diuraian depan, maka perlu
diadakan suatu latihan sebagai berikut :

1). q = 2 t/m’

P = 6t
S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi
c
rata q = 2 t/m’ sepanjang setengah bentang;

f=3m dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal


dari B.
HA 2m
A B
HB Ditanyakan : VA; HA; VB; HB; Mc; Nc; Dc
2m
VA VB

4m 4m

Persamaan Parabola :
4 f x (l − x )
y=

2). Suatu pelengkung sendi ABS dengan beban terbagi
q = 3 t/m’
rata q = 3 t/m’ sepanjang setengah bentang dan
P = 4 ton horizontal terletak di sejarak 2 m dari A.
c S
P = 4t
Ditanyakan : VA; HA; VB; HB; Mc; Nc; Dc
f=4m

A HA HB B
4 f x (l − x )
Persamaan parabola : y =
Xp=2 m l²
Xc=3 m
VA VB
5m 5m
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -19-

4.1.5. Rangkuman
o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk
penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.
o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa
diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.
o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen, gaya
lintang dan gaya normal di salah satu titik. Sedang bidang momen, bidang
gaya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya
cukup kompleks.

4.1.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal-
soal tersebut diatas sebagai kontrol.

Soal No. 1

Keterangan Titik Nilai Arah /


Tanda
Reaksi Vertikal A 7,5 ton ↑
B 6,5 ton ↑
Reaksi Horizontal A 4,667 ton →
B 4,667 ton ←
Data Pendukung yc 2,25 m
y’ 0,75
Sin α 0,6
Cos α 0,8
Momen C 0,5625 tm (-)
Gaya Lintang C ~0 -
Normal C 5,8336 ton (-)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -20-

Soal No. 2

Keterangan Titik Nilai Arah /


Tanda
Reaksi Vertikal A 10,226 ton ↑
B 4,774 ton ↑
Reaksi Horizontal A 1,9675 ton →
B 5,9675 ton ←
Data Pendukung yc 3,36 m
y’ 0,64
Sin α 0,539
Cos α 0,842
Momen C 7,3672 tm (+)
Gaya Lintang C 2,184 ton (-)
Normal C 5,6854 (-)

4.1.7. Daftar Pustaka


1. Soemono “Statika I” ITB, bab
2. Suwarno “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, bab

4.1.8. Senarai
Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu
sendinya (selain perletakan), berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi
statis tertentu. (foto kopinya kurang keatas bu, tidak bisa dibaca)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -21-

4.2. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi


4.2.1. Pendahuluan
Seperti pada balok diatas dua perletakan, struktur pelengkung 3 sendi
difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.
Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen, gaya lintang) pada suatu titik
dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.

4.2.2. Pengertian Dasar


Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan
pengertian garis pengaruh pada balok menerus, yaitu besarnya reaksi atau gaya-gaya
dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.

4.2.3 Prinsip penyelesaian.


a. Garis Pengaruh Reaksi

x P
G.P. VA dan VB (garis pengaruh reaksi di A dan B) P
S
Px
berjalan dari A ke B, 6 MA = 0 Æ VB =
l
VA VB VB P di A ; x = 0
Untuk VB = 0
f
Untuk P di B ; x = l VB = 1 ton
H H 6 MB = 0
l
P (l − x )
a b VA = ton (linier)
l
G.P VB Untuk P di A ; x = 0 VA = 1 ton
(+)
1t Untuk P di B ; x = l VA = 0
G.P VA G.P.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal)
(+) HA = HB (karena beban hanya vertikal)
1t Jika P berjalan dari A ke S (lihat bagian kanan S)
G.P. H 6 MS = 0 VB . b – H . f = 0,
P. a . b VB . b Px b Px
l .f H= = . ton (di persamaan atas VB = )
f l f l
b a
VB . VA .
f f

Gambar 4.18. Garis pengaruh VA, VB dan H


MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -22-

Untuk P di A ; x = 0 → H = 0
P. a .b
Untuk P di S ; x = a → H = l.f
ton

Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): 6MS = 0 VA . a - H.f = 0


a
H = VA . f ton

P ( l − x ) a ton P (l − x )
H= f dipusatkan VA =
l l
Untuk P di B ; x = l H=0
P. a .b
Untuk P di S ; x = a H= ton
l .f
P b
G.P. MC (Garis Pengaruh Momen dititik C).
u v Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke
B), maka lihat kiri potongan (kiri C).

MC = VA . u - H . c
I II
(dibagi menjadi dua bagian I dan II)
VA VB
f P dikiri potongan C (dari A ke C) lihat kanan
c potongan.

A B MC = VB . v - H . c
H I II
H
(dibagi menjadi dua bagian I dan II)
a b Bagian I Æ VA . u dan VB . v sama dengan
l G.P. MC pada balok di atas dua perletakan
G.P. bagian I
Untuk P di C Æ maka MC = P . u . ν
(+) l
P . u .v C
l
u v
G.P. bagian II
VA VB
(-) Bagian II Æ H.C = G.P. H x C
P. a .b
c Sama dengan garis pengaruh H dikalikan
l .f dengan nilai C
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -23-

G.P. MC
Garis Pengaruh Total (MC) sama
dengan jumlah dari garis pengaruh
bagian I dan bagian II
(+) (-)
P . a .b
P.u.v c
l.f
l

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc

C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan Normal (N)

u v
VA G.P. N dan D
Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)
S
C D VA VC = VA
H VA sin D HC = H
VA diuraikan
VA VB VA cos D D menjadi gaya
f
C yang sejajar
( // ) dan ( ζ )
garis singgung
B di C, yaitu :
H H VA sin D dan VA cos D.
a b
H cos HC = H diuraikan
D H menjadi gaya-
l α gaya yang sejajar
G.P. NC bagian I D
( // ) dan tegak
μ
sin α Sin lurus (ζ) garis
l H sin singgung di C
(+)
(-) v yaitu H cos D dan H sin D, sehingga:
sin α NC = - (VA sin D + H cos D )
l
I II
GP VB sin DC = VA cos D - H sin D
GP. VA Sin I II
GP NC Bagian II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok
diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal
(-) P. a . b perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya
cos α
l .f Lintang perlu dikalikan cos D
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -24-

GP NC Total ( I dan II )
v
sin α
l
II Æ identik dengan garis pengaruh
(-) gaya horizontal (H), untuk
GP. Gaya normal perlu
a .b
l .f
cos α dikalikan cos α dan untuk GP.
G.P. NC Gaya lintang perlu dikalikan

v cos sin α
cos α
l
(-)
Mencari Nilai α
v (+)
cos α
l Persamaan parabola Æ
4fx (lt − x )
y=
VB cos α VA cos α l²
GP.DC bagian II 4f (lt − 2x )
y’ =
Pab l²
- sin α
lf

Mencari nilai α
u Persamaan parabola
cos α
l GP DC Total (I + II) 4fx (l − x )
y=

(-) 4f ( l − 2x )
y' =

v Untuk nilai x tertentu α bisa dicari
cos α
l.
ab
G.P. DC sin α
l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan


gaya normal (N)
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -25-

1. Contoh Soal

x P
S Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada
gambar dengan persamaan parabola:
C αC
4 fx ( l − x)
Y=

Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc
f =3m
Jawab :

H H GP VA
A B ∑ MB = 0
VB P (l − x) l−x
VA 5m 5m VA = ton = ton
l l
2.5 m l Untuk P di A Æ x = 0 Æ VA = 1 ton
Untuk P di B Æ x = l Æ VA = 0
G.P. VA

(+) G.P. VB
1t ∑ MA = 0
Px x
VB = ton = ton
G.P. VB l l
t
(+)
1tUntuk P di A x=0 VB = 0
Untuk P di B x=l VB = 1 ton
G.P. H
G.P. H
(+) P berjalan antara A - S (lihat kanan S)
5/6 Px x
∑ MA = 0 VB = =
l l
1
∑ MS = 0 VB l - H.f = 0
2
VA .5
Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari VB . 5 - H. 3 = 0 H=
pelengkung 3 sendi 3
( l − x ) 5 (10 − x ) 5
H= . = t
l 3 10 3
Untuk P di B Æ x = 10 Æ H = 0 t
10−5 5 5 5 5
Untuk P di S Æ x = 5 Æ H = . = = t
10 3 10 3 6
P.a.b 1.5.5 5
Atau H = = = t
l. f 10.3 6
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -26-

S
C
i VA
VA cos α VA sin α VC = VA
HC = H
αC

A
B
G.P. NC Bagian I H cos α
0.1286 t αC
(+)
0.3858 t (-)
H sin α
G.P. NC Bagian II NC = - (VA sin α + H cos α)

(-) 0.714 t I II
DC = VA cos α - H sin α

I II
G.P NC Mencari nilai αC
4 f .x (l − x ) 4.3 (10 − x )
0.5144 t Y= =
l² 10²

(-) 4 f ( l − x) 4 .3 x (10 − 2 x)
Y' = =
l² 10²
4.3 (10 − 5) 60 3
0.9712 t Untuk x = m Æ y' = = =
100 100 5
(-) 0,2143 G.P.DC Bag.I y' =3/5 = arc tg αC
αC = 30.96º Æ sin α = 0.5145
(+) cos α = 0.8575
0.6431 .G.P. NC
NC = - (VA sin α + N cos α)
G.P. DC bag. II
I II
(-) 0.42875 I untuk P di C Æ x = 2.5 m Æ VA = ¾ t
VB = ¼ t
VA sin α = ¾ . 0,5145 = 0,3858
I VB sin α = ¼ . 0,5145 = 0,1286
(-) G.P. DC
II Æ H cos α
0.4286 Untuk P di S ÆH cos α = 5/6 . 0,8575 = 0,714
G.P. DC
0,4288 DC = VA cos α - H sin α Untuk P di C
x = 2,5
I II VA = ¾ t ;VB = ¼ t
Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung II H sin α
3 sendi Utk P di S Æ H sin α =5/6 . 0.5145 = 0,42875
MODUL IV (MEKANIKA TEKNIK) -27-
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -27-

4.3. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi


4.3.1. Pendahuluan
Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat
muatan yang tak langsung.
Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan
diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3
sendi harus melalui gelagar perantara.

Gelagar perantara

Kolom perantara

S Pelengkungan

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar


Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada
balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini
pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom
perantara.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -28-

q = kg/m’
P
a b

R1 R2 R3 R4 R5 R6
q kg/m’
P R1 R2 R3 R5
R4 R6

λ λ λ λ λ
. . . . .

L =5λ.

(a). Kondisi pembebanan (b). transfer beban lewat kolom


perantara
P
q = kg/m’

R1 R2 R3 R4 R5 R6
λ λ a λb λ λ

(c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer)

R1 = q . ½ λ = ½ qλ
R2 = q . λ = qλ
R3 = q . ½ λ + (b/λ ). P = ½ qλ + (L/λ )P
a
R4 = P
λ
R5 = R6 = 0

Gambar 4.24. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi


MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -29-

1t 1t
Contoh.
q = 1 t/m’

2 3 4 a a5 6 Muatan Tak Langsung Pada


S Pelengkung 3 Sendi.
C
Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi
yc f dengan muatan tak langsung seperti
.
.

pada gambar.
Prinsip penyelesaian sama dengan
muatan tak langsung pada balok
L=6A sederhana diatas 2(dua) perletakan.
.

xc
.
Beban dipindahkan ke pelengkungan
μ. .
melalui gelagar. Menjadi (R1; R2; R3;
R4 dan R5)
a b
R2 = R3 = ½ λ.qton
R2 R4 R5
R1 C R3 R4 = 0.5 ton
R6 R5 = 1.5 ton
S
e .

Vc = Av – R1
.

Yc Hc = H
HA HB
Mc = VA.Xc-R2.e-HA.Yc
Vc = VA.Xc-R2.e-HA.Yc
VA VB
Nc = -(Vc . sinα + Hcos α)
Dc = Vc. Cos α - Hc sin α

Hc cos α
Vc Vc sin α
C
Vc cos α αc Hc
C
Hc sin α

Gambar 4.25. Distribusi beban pada


pelengkung 3 sendi
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -30-

4.4. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi


4.4.1. Pendahuluan
Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang
berjalan diatasnya, untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk
mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M,N,D) disuatu ttitik pada gelagar
tersebut.
4.4.2. Prinsip Dasar
Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan, transfer
beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Beban standart yang
dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. (1 ton, atau 1 kg
atau Newton).

λ λ λ Seperti garis pengaruh pada gelagar


λ
. . . .
tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.
Bagaimana garis pengaruh momen
A B dipotongan I pada gambar dengan
C I D E
gelagar tak langsung (gambar a).
½λ ½λ ¾ Gambar b adalah gambar garis
pengaruh momen dipotong I
+ (GP MI) untuk gelagar langsung
dengan puncak dibawah
1,5 λ . 2,5 λ 15 potongan I, dengan ordinat
= λ
λ 8 1,5λ .25λ 15
puncak adalah = λ
4λ 8
GP MI untuk gelagar langsung
¾ Kalua gelagarnya tak langsung,
maka kalau diperhatikan beban
Gambar 4.26. Garis pengaruh momen di tak pernah lewat diatas
potongan I untuk gelagar potongan I, karena potongan I
langsung tersebut terletak diantara
gelagar lintang C dan D.
Kalau muatan berada diatas gelagar
C – D Æ beban tak penuh melewati
tepat pada potongan I
P

C I D
P1 P2

C I D
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -31-

λ54,33
λ
54,33
λ
54,33
λ
54,33
Beban tersebut selalu ditransfer ke
gelagar lewat titik C dan D dengan
nilai P1 dan P2.
A B
C D E Jadi ordinat yang bawah titik I
I
adalah (P1.Y1 + P2.Y2). Jika letak
potongan I ditengah-tengah C-D
maka ordinat dibawah potongan I
y1 y + adalah ½ y1 + ½ y2
y2

GP MI gel. langsung
C I D
y1 y2

y1 y2

GP. MI gel. tak langsung


½ y1 + ½ y2 ½ y1 + ½ y2

Gambar 4.27. Garis pengaruh momen di Jadi garis pengaruh untuk gelagar
potongan I untuk gelagar tak langsung sama dengan garis
tak langsung pengaruh pada gelagar langsung
dengan pemotongan puncak
dipapar dimana titik tersebut
berada.
Pemaparan pada gelagar disebelah
kiri dan kanan dimana titik berada
seperti pada gambar d.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -32-

Contoh
Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada
gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc, Dc dan Nc
Penyelesaian;
Untuk garis pengaruh gelagar tak
C langsung.
S
Penyelesaiannya sama dengan
beban langsung, Cuma dipapar
yc f pada bagian gelagar yang
.
.

H H bersangkutan.
GP Mc = V
1A
.x − H.yc
23 {
VA VB
μ ν I II
.

.
a .
b

GPMc bagian I
P.μ.υ I +
l pemaparan

- II GPMc bagian II
P.a.b
yc
l.f
pemaparan

P.μ.υ G.P. Mc total


+
l -
pemaparan (bag I + bag II)
P.a.b
yc
Sin α l.f
G.P.Nc = - (Av sin α + H cos α )
-
P.a.b
cos α
lf
pemaparan
pemaparan

Cos α - G.P.Dc = Av cos α - H sin α


P.a.b
sin α
lf

pemaparan

Gambar 4. 28.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -33-

4.5. Judul : Portal 3 sendi


4.5.1. Pendahuluan
Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam, bisa berupa
balok menerus, balok gerder, pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.
Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi, maka
bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar
dibawah ini

A B
Gambar 4.29. Bentuk portal 3 sendi
Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung
3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu
memakai gelagar yang tak langsung.

4.5.2. Prinsip Dasar


Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu
memakai 2 pendekatan
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -34-

Pendekatan I S2
P2
P1 P1
S

a1 b1

a2 b2
h
B
h

HB

h'
VB
A HA

VA

a b

Gambar 4.30. Arah reaksi-reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian


dengan cara pendekatan I
Prinsip penyelesaiannya sama dengan pada pelengkung 3 sendi yaitu
memakai 2 pendekatan.

Pendekatan I
2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.

Σ MA = 0 Æ VB.l + HB.h’ – P2 . a2 – P1 . a1 = 0
VB dan HB dapat
Σ MS = 0 Æ VB.l + HB. (h – h’) – P2 . S2 = 0 ditentukan
(dari kanan)

Σ MB = 0 Æ VA.l + HA.h’ – P1 . b1 – P2 . b2 = 0
VA dan HA dapat
Σ MS = 0 Æ VA.a + HA.h – P1 . S1 = 0 ditentukan
(dari kiri)
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -35-

Pendekatan II
P1 PP1
2

S1 SS S2

a1 b1

a2 b2
h
B
h

BA

h'
BV
A AB

AV

a b

P1 P1
S

f’ ff ’
B
BA
BV
A AB

AV

a b

Av ’ AB HB
B
BA Bv ‘
A
HA

Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II


MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -36-

Cara 2
Σ MB = 0
Av.l – P1 . b1 – P2 . b2 = 0
P .b + P .b
Æ Av = 1 1 2 2
l

Σ MA = 0
Bv.l – P1 . a1 – P2 . a2 = 0
P .a + P .a
Æ Bv = 1 1 2 2
l

Σ MS = 0 (kiri) Nilai
HA . f ’
AB . f = HA . f ‘
Av.a – P1 . S1 – AB . f = 0
.a + P1 . S1
Æ AB = Av
f
Σ MS = 0 (kanan) HB . f ’
Nilai
Bv.b – P2 . S2 – BA . f = 0 BA . f = HB . f ‘
Bv . b − P2 . S 2
Æ BA =
f

AB dan BA diuraikan
HA = AB cos α
HB = BA cos α
Av ‘ = AB sin α
Bv ‘ = BA sin α
Maka :
VA = Av + Av ‘
VB = Bv – Bv ‘
HA = AB cos α
HB = BA cos α
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -37-

Contoh
Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar , selesaikanlah struktur
tersebut.
P = 4t
q = 2t/m'
1P1m Penyelesaian;
S
D Memakai pendekatan 2
C
Σ MB = 0
Av.l – q . 3 . 4,5 - P.1 = 0

4m
5m (f’)
AB Av.6 – 2.3. 4,5 – 4.1 = 0
HA 27 + 4
B Av = = 5 1 / 6 ton

2m
Av BA 6
HB B Σ MA = 0
Bv
3m 3m Av.l – P.5 - q . 3 . 1,5 = 0
Av.6 – 4.5 – 2.3 . 1,5 = 0
20 + 9
Bv = = 4 5 / 6 ton
HA 6
α MS = (dari kiri)
AB
BA
Av ‘ Av . 3–2.3 . 1,5– HA.5 = 0
α Bv ‘
4 5/6 . 3−8
HB HB = = 1.3 ton (← )
5
Gambar 4.32. Skema reaksi yang terjadi VA = Av – Av’
dalam portal 3 sendi
= 5 1/6 – 0,4333 = 4,7334 t
HA = 1,3 ton VB = Bv + 0,4333 m
Av’ = HA . tg α = 4 5/6 + 0,4333 = 5,2666 t
Av’ = 1,3 . 2/6 = 0,4333 (↓)
Kontrol : Σ V = 0
Bv’ = 0,4333 (↑) 6 + 4 = 4,7334 + 5,2666
Kontrol : Σ H = 0
4t
P1
q = 2t/m' HA (Æ) = HB (←)
S
D
C

A Pusat
1.3t

A 4.7334t 1.3t B
B
5,2666 t
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -38-

Bidang M (momen)
5,2 tm 7,8 tm
- S - Mc = -HA . 4 = -1,3.4 = - 5,2 tm
- C D - Mmax teletak di D = 0 Æ
x = 2,3667 m (daerah cs)
x = 2,3667 Æ Mx = -HA . 4 +
A VA . 2,3667 – ½ . q (x²)
x BIDANG M
Mx = -1,3 . 4 + 4,7334 . 2,3667 –
B
½ . 2 (2,3667)²
1,2666 t
4,7334 t + = -5,2 + 11,20254 – 5,60127
- = 0,40127 tm (M max)
4 5,2666 t
- MD = -HB . 6 = -1,3 . 6 = - 7,8
tm
+ Momen dibawah beban P
1,3 t BIDANG D
MP=VB.1 HB.6 = 5,2666.1 – 7,8
1,3 t
- = - 2,5334 tm
1,3 t 1,3 t
Bidang D (gaya lintang)
- Daerah A-C Æ D = -HA = -1,3t
- Daerah C-D Æ Dx = VA – qx
4,7334 t Di S Æ x = 3 m Æ
BIDANG N
Ds = 4,7334 – 6 = -1,2666 tm
5,2666 t Daerah B-D Æ D = -HB = -1,3 t
Gambar 4.32. Bidang M, N, D portal 3 sendi
Bidang N (gaya Normal)
Daerah A-C Æ N = -VA
= -4,7334 ton
Daerah C-D Æ N = -HA = -HB
= -1,3 ton
Daerah B-D Æ N = -VB = -
5,2666 tm
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -39-

4.6. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI

4.6.1. Pendahuluan
Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan, maka untuk memperpanjang
bentang, dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti
pada Gambar (a).

S S1

C
(a)
S = sendi dari portal 3 sendi

S1 = sendi gerber
A B

C
RS1
Rc

Gambar 4.33.
RS1
S Skema pemisahan struktur gerber
portal 3 sendi menjadi 2 bagian

(b)

- Prinsip penyelesaian dasar seperti


pada Balok gerber biasa.

4.6.2. Prinsip Penyelesaian Dasar - Dipisahkan dulu struktur gerber


S1 C tersebut menjadi 2 bagian, dimana
kedua-duanya harus merupakan
RS1
RS1 konstruksi statis tertentu.
S
- Harus pula diketahui mana struktur
yang ditumpu dan mana pula
struktur yang menumpu.
- Struktur yang ditumpu diselesaikan
dulu dan reaksinya merupakan
Gambar 4.34. Skema pemisahan struktur beban pada struktur yang
gerber portal 3 sendi
menumpu.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -40-

4.6.3. Contoh Penyelesaian

GERBER PADA PORTAL 3 SENDI


P1
q t/m’
S S1
C

S = sendi portal
S1 = sendi gerber

A B
Penyelesaian sama
dengan prinsip pada
P1 balok gerber

Balok S1-C merupakan


struktur yang ditumpu
dari portal 3 sendi
RS1
RC
q t/m’
RS1
S
A B S, merupakan
struktur
yang menumpu.

Reaksi RS1 pada struktur


S1-C merupakan beban
HA HB pada struktur portal
A B sendi A B S1.
Baik struktur S1-C
ataupun struktur A B S1
VA VB kedua-duanya
merupakan struktur sta-
tis tertentu
Gambar 4.35. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi

Penyelesaian kedua struktur tersebut, baik S1-C maupun A B S1 diselesaikan


seperti biasanya, termasuk penyelesaian gaya-gaya dalamnya.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -41-

4.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi


4.7.1. Pendahuluan
Seperti biasanya, bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh
suatu kendaraan yang berjalan. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi, besarnya
momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.

4.7.2. Prinsip Dasar


Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang
ditumpu dan mana yang menumpu.
S S1
(a)
C Seperti pada gambar (a) dan (b)
struktur S,C adalah yang
ditumpu sedang struktur ABS1
adalah struktur yang menumpu

Kalau muatan berada diatas


A B
struktur ABS1, maka RS1 dan Rc
di struktur S1C tidak ada, namun
S1 C
sebaliknya jjika muatan berada
diats S1C maka reaksi-reaksi di
S struktur ABS1 ada.
(b)

A B

Gambar 4.36. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi


MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -42-

4.7.3. Contoh Penyelesaian


GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI
P
x
u v
E C
A’ D S B’ S1

H H
A B

c a b d e
l
d
l
-
GP.RA
l +c
+ 1t
l

l +d
C 1t l
-
l GP.RB

V +
l

c d
+
+ l
l
- GP.DD
μ
l a.d
GP.RB GP.RA l.f
a.b
b.c
+ l .f +
l .f
- GP.ND=GP.H

d.a
u.v a.b a.b l
.f =
l l.f l
GP.MD
cb
cb
l
l
Gambar 4.37. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -43-

GP.RA
l −x
RA = ton
l
l −c
P di E Æ x = - c Æ RA = ton
l
l
P di A Æ x = 0 Æ RA = = 1 ton
l
P di B Æ x = l Æ RA = 0 ton
d
P di S1 Æ x = l + d Æ RA = - ton
l

GP.RB
x
RB = ton
l

c
P di E Æ x = - c Æ RB = ton
l
P di A Æ x = 0 Æ RB = 0 ton
P di B Æ x = l Æ RB = 1 ton
l +d
P di S1 Æ x = l + d Æ RA = ton
l

GP. DD
P berada antara E Æ D Æ lihat kanan potongan Æ DD = -RB
P berada antara D Æ C Æ lihat kiri potongan Æ DD = RA

GP. ND

Garis pengaruh ND sama dengan g.p nilai H.


x
P berada antara E Æ lihat kanan S Æ RB =
l
Σ Ms = 0 (lihat kanan s) Æ RB . b – H.f = 0
b
H = RB . . ~ g.p. R B
f
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -44-

c c l c.b
P di E Æ RB = → H = x → ND = −
l l f lf

a a b a.b
P di S Æ RB = → H = x → ND = −
l l f lf

l −x
P berada antara DC Æ lihat kiri S Æ RA = t
l
Σ Ms = 0 (lihat kiri s) Æ RA . a – H.f = 0
R A .a
H=
f

b a ab
P di S Æ RA = b → H = . → N D = −
l l f lf

b a ab
P di S1 Æ RA = b → H = . → N D = −
l l f l f

GP.MD
P berada antara D Æ C

MD = RA . μ - H . f
I II

I = RA μ = Garis pengaruh MD diatas 2 perletakan


μ.V
P di D Æ MD =
l

II = H . f = Garis pengaruh H x f.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -45-

4.8. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi

Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan

Soal 1.
S P = 1 t berjalan
4m C

Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.


yc f= 4 m Pelengkung mengikuti persamaan
parabola:
A H
H HH B y = 4fx (l - x) / l²

8m 8m Akibat beban P = 1t berjalan diatas


VA VB pelengkung, ditanyakan :
G.P. VA , G.P. H, G.P. NC , G.P.DC ,

Soal 2.

S
C D
Portal 3 sendi ABCD seperti
tergambar
f=3m Akibat beban P = 1t berjalan
A
B α diatas portal, ditanyakanL
H 4m H
4m 4m 4m G.P VA , G.PH, G.P NC bawah ,
VA VB G.P DC bawah, G.P NC kanan,
G.P DC kanan
Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya
masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara
portal 3 sendi dan balok statis tertentu, dimana dalam penyelesaiannya
merupakan gabungan dari penyelesaian masing-masing struktur statis tertentu
tersebut.
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -46-

4.9. Rangkuman
4.10. Penutup
Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa, perlu melihat jawaban soal-
soal tersebut seperti dibawah ini.

Keterangan P = 1t dititik Nilai Tanda / Arah


VA A 1t + ↑
B 0

Di A = H A 0 + →
S 1t
B 0

Data pendukung Yc 3m
Y' = tng α 0.5
Sin α 0.447
Sin α 0.894

Keterangan P = 1t di titik Nilai Tanda / Arah


NC A 0
C kiri 0,335t -
C kanan 0.782t -
S 1,1175t -
B 0

DC A 0
C kiri 0,447t -
C kanan 0,447t +
S 0
B 0

MC A 0
C 1,5t m +
S 1,0t m -
B 0
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -47-

Soal No. 2

Keterangan P = 1t di titik Nilai Tanda/ Arah


VA A 1t + ↑
B 0

Di A = H A 0
S 1,333t + →
B 0

NC bawah A 0
C bawah 0,384t -
C kanan 0,084t -
S 1,336t -
B 0

DC bawah A 0
C bawah 0,60t -
C kanan 0,20t -
S 0,40t -
B 0

NC kanan A 0
S 1,333t -
B 0

DC kanan A 0
C bawah 0,25t -
C kanan 0,75t +
B 0
MC A 0
C 1t m +
S 2t m -
B 0

4.11. Daftar Pustaka


Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab VI dan VII
MODUL 4 (MEKANIKA TEKNIK) -48-

4.12. Senarai
Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu
Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu
Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan
balok.
Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -1-
-

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN


CARA PENYELESAIANNYA

5.1. JUDUL : KONSTRUKSI RANGKA BATANG (K.R.B.)

5.1.2. Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta
cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.

5.1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk-bentuk KRB
serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan
yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang
diperlukan.

5.1.4. Pendahuluan
Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan
dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah.
Jika materialnya dari beton, maka struktur bisa dibuat sesuai dengan
keinginan perencana, tapi kalau materialnya dari kayu, bambu atau baja,
maka kita harus merangkai material tersebut. Rangkaian dari material bambu,
kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.
Missal :

Rangka batang dari suatu jembatan

Rangka batang dari suatu kuda-kuda

Gambar 5.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi rangka


MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -2-
-

Bentuk Rangkaian
Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari bentuk segitiga.

Kenapa bentuk Δ tersebut dipilih !.


Bentuk segitiga (Δ) tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu bentuk yang
mantap (stabil) Æ tidak mudah berubah. Bagaimana jika bentuk tersebut
segiempat ( )
bentuk segiempat ( ) tersebut tidak stabil.
P

segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.

5.1.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang


5.1.5.1. Bentuk
K.R.B. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang-batang yang berbentuk
segitiga
Segitiga (bentuk tetap).
Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.
Pada konstruksi baja sambungan-sambungan pada plat buhul digunakan baut,
paku keling atau las.
Pada konstruksi kayu memakai baut, pasak atau paku.
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -3-
-

K.R.B = segitiga yang


dihubungkan melalui plat
buhul pada titik buhulnya
titik buhul

I
titik buhul
Gambar 5.2. Bentuk Konstruksi Rangka Batang

+ +
Batang
+ +
+ +
+ + Plat buhul

Titik buhul
Paku keling / baut

Gambar 5.3. Detail I, salah satu sambungan

Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil, tapi dalam perhitungan titik buhul
ini dianggap SENDI.
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -4-
-

K.R.B. Pada Jembatan

K.R.B. Ruang

terdiri dari

2 K.R.B. sisi

1 K.R.B. atas (ikatan angin atas)

1 K.R.B. bawah (ikatan angin bawah)

K.R.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.B. Bidang.


Gambar 5.4. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan

5.1.5.2. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis
tertentu

Sendi Æ 2 Reaksi

Rol Æ 1 Reaksi
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -5-
-

RH
Perletakan sendi ada 2 reaksi

RV = Reaksi vertikal
RV RH = Reaksi horizontal

Perletakan rol ada 1 reaksi

RV = Reaksi vertikal
RV

5.1.5.3. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.R.B. (Konstruksi Rangka Batang)


Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan
dengan syarat-syarat keseimbangan ;
ΣH = 0
3 persamaan keseimbangan
ΣV = 0
ΣM = 0

Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak
diketahui)

Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang


K.R.B. merupakan kumpulan dari batang-batang yang mana gaya-gaya batang
tersebut harus diketahui. Dalam hal ini gaya-gaya batang tersebut beberapa gaya
tarik atau tekan. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).

Jumlah bilangan yang tidak


4 8
2 4 6 diketahui :
Reaksi =3
Jumlah
5 7 9 Jumlah batang = 13
1 12
3 11 Bilangan yang tidak diketahui
= 3 + 13 = 16
1 2 6 10 13 8
3 5 7
RH

RV RV
Gambar 5.5. Konstruksi rangka batang bidang
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -6-
-

Titik simpul : dianggap sendi


Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan
Yaitu : ΣV = 0 ΣKx = 0
atau
ΣH = 0 ΣKy = 0

Pada gambar (5.5) ada 8 titik simpul


Æ jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan
Dari keseluruhan konstruksi :
3 reaksi
Ada 16 bilangan yang tidak diketahui
13 gaya batang

Ada 16 persamaan Konstruksi statis tertentu


(karena masih bisa diselesaikan dengan syarat-syarat persamaan keseimbangan)

5.15.4. Rumus Umum Untuk K.R.B.


Σk=b+r
k = banyaknya titik simpul (titik buhul)
b = jumlah batang pada K.R.B.
r = jumlah reaksi perletakan

5.1.6. Rangka Batang Gerber


Seperti pada balok menerus, maka pada konstruksi rangka batangpun ada
balok gerber

2 4 4 7 6 12 8 10 19 12 23 14

3 5 18 22
1 8 9 11 13 15 16 20 24 26
2 6 10 14 17 21 25
1 15
3 5 7 S 9 11 13 rol
A
B C
Sendi rol C
Rol (Sendi Gerber)

Gambar 5.6. Rangka batang gerber


MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -7-
-

A = sendi
B = rol
S = sendi gerber
C = rol

Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol

2 reaksi 2 reaksi

Jumlah batang = 26

Jumlah bilangan yang


tidak diketahui = 30

Jumlah titik simpul = 15

Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.


Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi
statis tertentu

Konstruksi statis tertentu

5.1.7. Prinsip Penyelesaian


Ada beberapa cara penyelesaian K.R.B.
1. Keseimbangan titik buhul
a. Cara analitis dengan menggunakan
Σ.Kx = 0 dan
Σ.Ky = 0
b. Cara grafis dengan metode Cremona
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -8-
-

2. Metode Potongan :
a. Cara Analitis
Metode Ritter
b. Cara Grafis
Metode Cullman
3. Metode Penukaran batang

5.1.8. Keseimbangan Titik Simpul


Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul
saja.
a. Penyelesaian secara analitis
Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.
y ΣH=0 Σ.Kx =0
Σ.V = 0 atau Σ.Ky = 0

semua gaya yang searah x dijumlahkan


x demikian juga yang searah y dan
resultantenya harus sama dengan rol.

b. Distribusi Beban
Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung, jadi kalau ada beban
terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul
(gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul-simpul terdekat.

P1 = distribusi akibat
P beban terbagi rata

P2 = distribusi akibat
Akibat beban terbagi rata
P1 P2 P3 beban P dan P

P3 = distribusi akibat
beban P

Akibat beban
terbagi rata
Gambar 5.7. Distribusi beban pada KRB
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -9-
-

c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang

q = 1 t/m’ (muatan terbagi rata)

4m

A B

4m 4m 4m 4m

Muatan terbagi rata tersebut dijadikan muatan terpusat pada titik-titik simpulnya.

2t
2t
A B

4t 4t 4t

Gambar 5.8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik


MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -10-
-

5.1.9. Contoh Soal 1


Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada
gambar !. selesaikan struktur tersebut.

A
B
4t

RA = 3t RB = 1t
λ λ λ λ

Gambar 5.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t

Mencari reaksi perletakan


Σ MA = 0 Æ RB . 4 λ - 4 . λ = 0
Æ RB = 1t
Σ MB = 0 Æ RA . 4 λ - 4 . 3λ = 0
Æ RA = 3t

Pemberian notasi
Untuk mempermudah penyelesaian, tiap-tiap batang perlu diberi notasi.
Untuk batang atas diberi notasi A1; A2 dan A1’; A2’
Untuk batang bawah diberi notasi B1, B2 dan B1’, B2’
Untuk batang diagonal diberi notasi D1; D2 dan D1’; D2’
Untuk batang vertikal diberi notasi V1; V2 dan V1’; V2’ serta V3
Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -11-
-

II A1 IV A2 VI A2’ VIII A1’ IX

D1 D2 D2’ D1’
V1 V2 V3 V2 V1’ λ

I III
B1 B2 V B’2 VII B’1 X
4t

3t 1t
λ λ λ λ

Gambar 5.10. Pemberian notasi pada gaya-gaya batang

Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-


syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu Σ Kx = 0 dan Σ Ky = 0
Jadi keseimbangan pada tiap-tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat
maximum 2 batang yang tidak diketahui, karena hanya menyediakan 2 persamaan
yaitu ΣKx = 0 dan Σ Ky = 0.

Catatan
Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.
• sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya-gaya batangnyua
• (Anggapan) / perjanjian pada K.R.B.
titik simpul
Batang tertekan dengan tanda (-) (gaya menuju titik simpul)

Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul)


Penyelesaian
Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui
Titik I
Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah
V1 batang tarik. Jika hasil positif Æ berarti anggapan kita
B1 betul Æ batang betul-betul tertarik.
Jika hasil negatif Æ berarti anggapan kita salah Æ batang
tertekan.
Dalam penjumlahan, gaya yang searah diberi tanda sama.
3t
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -12-
-

Σ V = 0 Æ 3 t + V1 = 0
V1 = -3 ton (berarti batang tekan)
Σ H = 0 Æ B1 + 0 = 0 Æ B1 = 0 (batang nol)

V1

B1 = 0
Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang
D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal
Titik II dan vertikal.
V1 = - 3 t (menuju titik simpul)
½ D1 2 A1
3t
V1 Batang D1 diuraikan menjadi arah vertikal Æ
½ D1 2 dan arah horizontal Æ ½ D1 2.
½ D1 2
D1

Σ V = 0 Æ - 3 t + ½ D1 2=0

½ D1 2 = 3 Æ D1 = 3 2 t (tarik)

Σ H = 0 Æ A1 + ½ D1 2=0

A1 = - ½ D1 2=-½.3 2 . 2

A1 = - 3 ton (tekan)
Titik III
Batang V2 dan B2 dianggap tarik
V2
Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang
3 2 vertikal = 3 t dan horizontal = 3t
3t ΣV=0Æ 4 t – 3 t – V2 = 0
3t
Æ V2 = 1 t (tarik)
B2
B1 = 0 ΣH=0Æ B2 – 3 t = 0
B2 = 3 t (tarik)
P = 4t
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -13-
-

Batang A2 dan D2 dianggap tarik.


Titik IV
Batang D2 diuraikan menjadi gaya horizontal

A2 dan vertikal ½ D2 2
3t ½ D2 2
ΣV=0Æ ½ D2 2 + 1 t = 0
½ D2 2
D2 = - 2 t (tekan)
1t D2
ΣH=0Æ 3 + A2 + ½ D2 2 = 0
3 + A2 – 1 ton = 0
A2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI
Batang A2’ dan V3 dianggap tarik
2t A2’
ΣV=0Æ V3 = 0 ton
ΣH=0Æ A2’ + 2 t = 0
A2’ = - 2 t (tekan)
V3 = 0

Batang D2’ dan B2’ dianggap tarik


Titik V
Batang D2’ diuraikan horizontal dan vertikal
0t
2
½ D2’ 2 ΣV=0Æ ½ D2’ 2 + 0 – 1 t = 0
D’2
1t D2’ = 2 t (tarik)

1t ΣH=0Æ B2’ + 1t –3 t + 1t = 0

3t ½ D2’ 2 B2’ B2’ = 1 ton (tarik)

Titik VIII
Batang A1’ dan V2’dianggap tarik
2t ΣH=0Æ 2 t + A1’ – 1 t = 0
A1’ = - 1 t (tekan)
2t A1’
ΣV=0Æ 1 + V2’ = 0

V2’ V2’ = - 1t (tekan)


MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -14-
-

Titik VII

½ D1’ 2 D1’ Batang D1’ dan B1’dianggap tarik


Batang D1’ diuraikan menjadi ½ D1’ 2
1t
ΣV=0Æ ½ D1’ 2 – 1 t = 0
1t ½ D1’ 2 B1’
D1’ = 2 t (tarik)
ΣH=0Æ B1’- ½ D1’ 2 - 1t = 0
B’ + 1 – 1 = 0
B1’ = 0t

Titik X

V1’
Σ V = 0 Æ 1t + V1’ = 0
V1’ = - 1t (tekan)

B1’ = 0

RB = 1t
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -15-
-

Kontrol ke Titik IX
ΣV=0

A1’ = 1 t (tekan) V1’ – ½ D1’ 2 =0


1t – ½ . 2 . 2 =0
V1’ = 1 t (tekan) (cocok)
D1’ = 2
(tarik) ΣH=0

A1’ – ½ D1’ 2 = 0
1–½ . 2. 2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATANG GAYA BATANG


A1 -3t
A2 -2t
A2’ -2t
A1’ -1t
B1 0
B2 3t
B2’ 1t
B1’ 0
V1 -3t
V2 1t
V3 0
V2’ -1t
V1’ -1 t
D1 3 2t
D2 - 2t
D2’ 2t
D1’ 2t

Batang B1 dan B1’ = 0, menurut teoritis batang-batang tersebut tidak ada, tapi
mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk Δ maka batang ini diperlukan.
Batang atas pada umumnya batang tekan
Batang bawah pada umumnya batang tarik.
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -16-
-

Contoh Soal 2
Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada gambar, beban
sebesar 3 ton terletak di titik simpul III
Jumlah batang = 9 = b
Jumlah reaksi = 3 = r
II A V 12

λ D1 D2 D3 Jumlahg titik simpul = 6 = k


V1 V2 2k=b+rÆ2x6=9+3
I B1 B2 B3 VI Æ konstruksi .r.b. statis tertentu
A III IV B
Mencari Reaksi
2t λ 3t λ λ 1t
Σ MB = 0
2
RA = x 3 t = 2 t
3
Σ MA = 0
1
RB = x 3 t = 1 t
3
Titik Simpul I

Batang D1 dan B1 dianggap tarik


Batang D1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D1 2

½ D1 2
D1 Σ Ky = 0
½ D1 2 + 2t = 0
2
D1 = - . 2 = - 2 2 t . (tekan)
½ D1 2 2
B1 Σ Kx = 0
B1 - ½ D1 2 = 0 Æ B1 = 2 ton (tarik)
2 t (reaksi)
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -17-
-

Titik III
Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik
V1
Σ Ky = 0 Æ V1 = 3 ton (tarik)

Σ Kx = 0 Æ B2 = 2 ton (tarik)
B2
2t 3t

Titik II
Gaya batang A dan D2 dianggap tarik
½ D2 2 Σ Kx = 0
½ D1 2 A ½ D1 2 - 3t – ½ D2 2 = 0
½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan)
D1 = 2 2 D2 = - 2 t (tekan)

D2 Σ Ky = 0
3t
½ D2 2
½ D1 2 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0
A+½.2 2. 2 -½. 2. 2 =0
A = 1 –2 = -1t (tekan)

Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik


Σ Ky = 0
V2
D2 = 2t ½ D2 2 - V2 = 0
V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)
B3
B2 = 2t Σ Kx = 0

B3 – B2 + ½ D2 2 = 0
B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

Titik VI
Gaya batang D3 dianggap tarik
Σ Ky = 0
D3
½ D3 2 + 1t = 0
D3 = - 2 . 1t
B3 = 1t D3 = - 2 t (tekan)
1t

Σ Kx = ½ D3 2 + B3 = 0
- ½ . 2 . 2 + B3 = 0 Æ B3 = 1t (tarik)
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -18-
-

Kontrol

Titik V
Σ Kx = 0

A = 1t A – ½ . D3 2 =0

1t – ½ . 2 . 2 = 0 (cocok)
D3
V2 = 1t

5.1.10. Latihan : Konstruksi Rangka Batang

Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan


sebagai berikut :

Soal 1
A1 A2
Konstruksi Rangka Batang seperti
D1 D2 tergambar
D3 D4 D5 D6 3 m P1 = 6t ; P2 = 3t
RAH α α
A B1 B2 B3 Ditanyakan :

a). Gaya reaksi


P1=6t P2=3t RB
RAV b). Gaya-gaya batang
λ λ λ
λ= 4m

P2 = 600 kg
Soal 2 Kuda-kuda konstruksi Rangka
Batang seperti tergambar.
P1 = 600 kg P3 = 400 kg Beban ; P1 = 600 kg
8 10 P2 = 600 kg
P3 = 400 kg
9
Ditanyakan:
5 7 13
11
6 12 a). Gaya – Reaksi
RAH 45° 45°
B b). Gaya- gaya batang
A 1 2 3 4

RAV RB
3m 3m 3m 3m
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -19-
-

5.1.11. Rangkuman

o KRB merupakan rangkaian dari bentuk Δ (segitiga)


o Dalam KRB yang dicari adalah gaya-gaya batangnya, bisa berupa gaya
tarik, atau gaya tekan.
o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.
o Pencarian gaya-gaya batang, hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya
batang yang tidak diketahui max hanya 2.

5.1.12. Penutup
Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan, maka mahasiswa bisa
melihat jawaban dibawah ini :

Jawaban :

Soal No. 1

Keterangan Titik / Gaya Nilai Arah / Tanda


Reaksi vertikal A : RAV 5t ↑
B : RB 4t ↑
Reaksi Horizontal A : RAH 0
Data Pendukung Sin α 0,835
Cos α 0,555
Gaya Batang A1 6,667 t Tekan -
A2 5,333 t Tekan -
B1 3,333 t Tarik +
B2 6,000 t Tarik +
B3 2, 667 t Tarik +
Gaya Batang D1 6,00 t Tekan -
D2 6,00 t Tarik +
D3 1,20 t Tarik +
D4 1,20 t Tekan -
D5 4,808 t Tekan -
D6 4,808 t Tarik +
MODUL V (MEKANIKA TEKNIK) -20-
-

Soal No. 2

Keterangan Titik / Gaya Nilai Arah / Tanda


Reaksi Vertikal A : RAV 850 kg ↑
B : RB 750 kg ↑
Reaksi Horizontal A : RAH 0
Gaya Batang 1 850 kg Tarik +
2 850 kg Tarik +
3 750 kg Tarik +
4 750 kg Tarik +
5 1202 kg Tekan -
6 0
7 424 kg Tekan -
8 778 kg Tekan -
9 500 kg Tarik +
10 778 kg Tekan -
11 283 kg Tekan -
12 0
13 1061 kg Tekan -

5.1.13. Daftar Pustaka


- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab
- Soemono, “Statika I”, bab

5.1.14. Senarai
- Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang-batang yang
berbentuk Δ (segitiga)
- Titik simpul : dianggap sendi.