Anda di halaman 1dari 10

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Defenisi
Keputihan merupakan istilah lazim digunakan oleh masyarkat untuk
menyebut penyakit kandidiasis vaginal yang terjadi pada daerah kewanitaan.
Penyakit keputihan merupakan masalah kesehatan yang spesifik pada wanita.
Sebanyak 505 pelajar putri disekolah menengah dan perguruan tinggi pernah
mengalami keputihan ketika berusia kurang dari 25 tahun (Nenk, 2009).
Keputihan bisa dikategorikan normal yaitu berkaitan dengan siklus
menstruasi, yang terjadi menjelang ataupun setelah menstruasi atau bisa juga
keluar saat kita sedang mengalami stress atau kelelahan. Tetapi ada juga jenis
keputihan akibat suatu gangguan seperti infeksi parasit, bakteri, jamur atau virus
pada vagina. Biasanya keputihan jenis ini bisa bervariasi dalam warna, berbau,
dan disertai keluhan seperti gatal, nyeri atau terbakar disekitar vagina (Manuaba,
2009).
Keputihan merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan
yang disebabkan infeksi biasanya disertai dengann rasa gatal di dalam vagina dan
disekitar bibir vagina bagian luar. Jika dibiarkan dan tidak ditangani sedini
mungkin infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran
kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil
(Nenk, 2009).
Leukorea (white discharge, flour albus, keputihan) adalah nama gejala
yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak
berupa darah.
2. Jenis – jenis keputihan
Keputihan terbagi menjadi dua jenis yaitu yang bersifat fisiologis dan patologis.
1. Keputihan Fisiologis
Jenis keputihan ini biasanya terjadi pada saat masa subur,serta saat sesudah dan
sebelum menstruasi. Biasanya saat kondisi-kondisi tersebut sering terdapat
lendir yang berlebih,itu adalah hal yang normal,dan biasanya tidak
menyebabkan rasa gatal serta tidak berbau. Keputihan fisiologis atau juga
banyak disebut keputihan normal memiliki ciri-ciri:
a. Cairan keputihannya encer
b. Cairan yang keluar berwarna krem atau bening
c. Cairan yang keluar tidak berbau
d. Tidak menyebabkan gatal
e. Jumlah cairan yang keluar terbilang sedikit
2. Keputihan Patologis
Keputihan jenis patologis disebut juga sebagai keputihan tidak
normal.jenis keputihan ini sudah termasuk jenis keputihan penyakit. Keputihan
patologis dapat menyebabkan berbagai efek dan hal ini akan sangat mengganggu
bagi kesehatan wanita pada umumnya dan khususnya kesehatan daerah
kewanitaan.Keputihan patologis memiliki ciri-ceiri sebagai berikut:
a.Cairannya bersifat kental
b.Cairan yang keluar memiliki warna putih seperti susu,atau berwarna kuning
atau sampai kehijauan
c.Keputihan patologis menyebabkan rasa gatal
d.Cairan yang keluar memiliki bau yang tidak sedap
e.Biasanya menyisakan bercak-bercak yang telihat pada celana dalam wanita
f.Jumlah cairan yang keluar sangat banyak
3. Etiologi
Gangguan yang dapat menimbulkan masalah, yaitu :
1. Candidiasis
Adalah penyebab paling umum pada gatal-gatal pada vagina. Jamur
menyerang sel pada saluran vagina dan sel-sel kulit vulva. Pada beberapa wanita,
jamur masuk ke lapisan sel yang lebih dalam dan beristirahat disana sampai
diaktifkan karena satu alasan. Sel-sel yang terinfeksi tidak terlalu parah gugur ke
dalam vagina sehingga menyebabkan keputihan. Candida masuk kevagina dari
infeksi jamu pada jalur khusus tetapi mungkin menyebar oleh hubungan seksual
kelamin. Candida tumbuh lebih cepat jika lingkungan mengandung glukosa dan
lebih umum terjadi dalam kehamilan atau pada wanita penderita diabetes. Namun
tidak tertutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita lain (Llewellyn,2005).
2. Trichomoniasis
Cairannya banyak, kental, berbuih seperti sabun, bau, gatal, vulva
kemerahan, nyeri bila ditekan atau perih saat buang air kecil (Nenk, 2009).
Infeksi vagina terjadi ketika organisme hidup sangat kecil (disebut trichomonad)
masuk kedalam vagina, biasanya setelah hubungan kelamin dengan pria yang
terinfeksi. Trichomonas menginfeksi sekitar 1 dalam 10 wanita. Organisme ini
seukuran dengan sel darah putih dan mempunyai “bulu getar” serta sebuah ekor
yang sangat kuat. Pada kebanyakan wanita jamur ini hidup dalam saluran vagina
yang seperti beledu dan tidk menimbulkan gejala. Pada kebanyakan pria hidupnya
dalam saluran kencing di penis. Tetapi pada beberapa wanita karena sejumlah
alasan yang tidak diketahui, ini menyebabkan gatal-gatal di vagina dan vulva yang
cukup parah (Llewellyn, 2005).
3. Bacterial vaginosis
Infeksi oleh Gardnerella yang berinteraksi dengan hasil baksil anaerobic
yang biasanya terdapat divagina. Keputihan itu encer, mempunyai bau amis yang
tajam, dan berwarna abu-abu kotor, ini disebut “amine vaginosis” karena amine
diproduksi dan menghasilkan bau amis.
4. Virus HPV (Human Papiloma Virus) dan Herpes Simpleks
Sering ditandai dengan kondiloma akumminato atau tumbuh seperti
jengger ayam, cairan berbau tanpa disertai rsa gatal (Llewellyn,2005).
Biasanya keputihan dapat terjadi pada :
a. Wanita usia subur
b. Wanita yang sedang hamil
c. Wanita dengan berat badan yang berlebih
4. Patofisiologi
Banyak hal sebenarnya yang membuat wanita rawan terkena keputihan
patologis. Biasanya penyebab keputihan patologis ini karena kuman. Di dalam
vagina sebenarnya bukan tempat yang steril, berbagai macam kuman ada disitu.
Flora normal didalam vagina membantu menjaga keasaman PH vagina, pada
keadaan yang optimal. PH vagina seharusnya antara 3,5-5,5. flora normal ini bisa
terganggu. Misalnya karena pemakaian antiseptic untuk daerah vagina bagian
dalam. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-
kuman yang lain. Padahal adanya flora normal dibutuhkan untuk menekan
tumbuhan yang lain itu untuk tidak tumbuh subur. Kalau keasaman dalam vagina
berubah, maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga
akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan yang berbau,
gatal dan menimbulkan ketidaknyamanan.
5. Manifestasi Klinis
Gejala yang ditimbulkan dapat bervariasi tergantung pada apa yang
menjadi penyebab keputihan yang di alami. Pada beberapa wanita ditemukan
bahwa mereka tidak mengalami gejala apapun.Akan tetapi umumnya mereka yang
menderita keputihan akan mengalami beberapa gejala berikut :
a.Terasa gatal pada organ intim bagian dalam dan atau bagian luar.
b.Terdapat cairan yang berwarna putih kekuningan dari saluran vagina,
terkadang berbusa dan memiliki bau yang menyengat/ tidak sedap.
c.Mengalami rasa seperti “terbakar” saat buang air kecil.
d.Merasa tidak nyaman pada organ intim.
6. Komplikasi
Komplikasi fluor Albus adalah puritis, eksema, Candylomata acuminata sekitar
vulva.
7. Penatalaksanaan
Keputihan dapat dicegah dengan :
a. Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air,
jangan hanya menyekanya dengan tisu.
b. Jaga daerah kewanitaan tetap kering.
c. Hindari bertukar celana dalam dengan teman atau saudara.
d. Potonglah secara berkala bulu disekitar kemaluan (Sallika, 2010).
Dalam kasus keputihan pencegahan bisa dilakukan dengan berbagai cara
seperti menggunakan alat pelindung (kondom), pemakaian obat atau cara
profilaksis (pemakaian obat antibiotika disertai dengan pengobatan terhadap jasad
renik penyebab penyakit), dan melakukan pemeriksaan dini (Nenk, 2009).
Penanganan yang dapat dilakukan adalah :
a. Melakukan pemeriksaan dengan alat tertentu untuk mendapatkan gambaran alat
kelamin yangg lebih baik, seperti melakukkan pemeriksaan kolposkopi yang
berupa alat optik untuk memperbesar gambaran leher rahim, liang senggama dan
bibir kemaluan.
b. Merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan.
c. Beberapa cara dapat dilakukan, yaitu sebagai penawar saja, obat pemusnah atau
pemungkas, dan melakukan penghancuran lokal pada kutil leher rahim, liang
senggama, bibir kemaluan, atau melakukan pembedahan.
d. Obat-obat penawar misalnya betadine vaginal kit, intima, dettol, yang sekadar
membersihkan cairan keputihan dari liang senggama, taoi tidak membunuh kuman
penyebabnya. Selain itu dapat dilakukan penyinaran dengan radioaktif atau
penyuntikan sitostatiska, sedangkan obat pemusnah misalnya vaksinasi,
tetrasiklin, penisilin, thiamfenikol, doksisiklin, eritromisin, flukoonazole,
metronidazoole, enystatin dan sebagainya. Karena itu, lebih baik mencegah dari
pada mengobati (Nenk, 2009).
Sering kali wanita merasa mampu mengenali sendiri bahwa sedang
menderita keputihan tanpa merasa perlu memeriksakan diri ke dokter untuk
memperoleh pemeriksaan secara lebih detail, namun langsung diobati sendiri
dengan obat-obatan keputihan yang dijual bebas. Pada kasus ini, tindakan tersebut
cukup beresiko, karena apabila kurang tepat dalam pengenalan penyakitnya dapat
menyebabkan kurang tepat pula obat yang dipilih, sehingga selain efektifitas
terapi tidak tercapai juga akan beresiko pada munculnya resistensi sehingga jamur
semakin kebal dengan obat.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Anamnese:
Keluhan utama
Keluhan tambahan
Riwayat penyakit: pernah mengalami penyakit pada kelaminya atau tidak?
Adanya keputihan
Banyaknya cairan vagina yang keluar
Bau
Konsistensinya
Warna
c. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : cairan vagina yang meliputi , warna, konsistensi, jumlah dan baunya
d. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan pH dengan phenaphthazine paper (nitrazine paper)
2. Uji amin (KOH whiff test)
3. Preparat basah atau pewarna gram
4. Uji H2O2
2. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman b/d keputihan,gatal dan bau
2. Kerusakan integritas kulit b/d iritasi kulit,m’+pelepasan sel epitel &
menyebabkan Duh tubuh keluar dari vagina
3. Anseitas b/d kurang pengetahuan
4. Resiko infeksi b/d kuman anaerob +bakteri vagina fakultatif
3. Intervensi keperawatan
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI (NIC) RASIONAL
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL (NOC)
1 Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan tindakan 1. menjelaskan kepada 1. untuk memberikan
b/d keputihan,gatal dan keperawatan ..X 24 jam klien tentang leukorea dan pengetahuan kepada klien
bau diharapkan rasa nyaman komplikasi yang mungkin tentang leukorea dan
klien meningkat dengan terjadi komplikasinya
2. anjurkan klien untuk 2. jika celana dalam lembab atau
kriteria hasil:
-Keputihan mulai berkurang mengganti celena dalam kotor dapat meningkatkan
-rasa gatal berkurang atau
jika lembab/kotor, pertumbuhan bakteri yang
gatal
sebaiknya untuk sering abnormal di dalam vagina
-tidak terjadi perdarahan
3. untuk menjaga bagian
diganti
setelah melakukan hubungan
3. jelaskan pada klien genitalia tetap kering
suami istri 4. pemeriksaan pap smear
untuk mengeringkan
bertujuan untuk menentukan
bagian genital bila basah
kesehatan leher rahim (serviks)
atau sehabis
atau menemukan adanya
BAK/BAB ,misalnya
perubahan abnormal pada sel-
mengelap dengan tissue
sel
atau handuk yang bersih
4. lakukan pemeriksaan
pap smear
2 Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan 1.Anjurkan klien untuk 1.Celana ketat dapat menyebab
kulit b/d iritasi keperawatan ..X 24 jam menghindari celalana ketat iritasi
kulit,m’+pelepasan sel diharapkan kerusakan 2.anjurkan klien untuk 2.agar bagian genital tetap
epitel & menyebabkan integritas kulit klien menjaga daerah vagina kering
Duh tubuh keluar dari menurun dengan kriteria tetap kering 3.penggunaan anti histamin
vagina hasil: 3.Kolaborasi pemberian dapat mengurasi rasa gatal dan
-reaksi inflamasi berkurang
obat anti histamin mempercepat penyembuhan
-lesi berkurang

3 Anseitas b/d kurang Setelah dilakukan tindakan 1.kaji tingkat kecemasan 1.untuk mengetahui sampai
pengetahuan keperawatan ..X 24 jam klien sejauh mana tingkat kecemasan
diharapkan cemas dapat 2.dorong percakapan klien sehingga memudahkan
terkontrol dengan kriteria untuk mengetahui penanganan selanjutnya
hasil: perasaan klien terhadap 2.mempermudah mengetahui
-klien mampu
kondisinya perasaaan klien terhadap
mengidentifikasi dan
3.jelaskan mengenai kondisinya
mengungkapkan gejala
kondisi klien 3.untuk mengurangi kecemasan
cemas
4.jelaskan mengenai yang dirasakan klien
-postur tubuh dan wajah
prosedur tindakan yang 4.memberikan informasi tentang
nampak rileks
akan dilakukan prosedur yang akan dilakukan
4 Resiko infeksi b/d Setelah dilakukan tindakan 1.bersihkan alat genitalia 1.agar alat genital terjaga
kuman anaerob keperawatan ..X 24 jam dengan teknik aseptik kebersihannya dan tidak
+bakteri vagina diharapkan tidak terjadi 2.lakukan pemeriksaan mengganggu ekosistem normal
fakultatif infeksi lebih lanjut dengan sekret vagina yang diamati pada vagina
kriteria hasil: dengan preparat basah 2.untuk mengetahui jumlah
-TTV normal
atau pewarnaan gram bakteri abnormal yang
-tidak ada tanda-tanda
3.Kolaborasi pemberian berkembang dalam vagina
infeksi
antibiotik 3.antibiotik dapat mencegah dan
mengurangi infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Sastrawinata, Sulaiman, 1981., Ginekologi, Unpad, Bandung
Manuaba, Ida Bagus Gede, 1999., Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita,
Jakarta :Arcon
Sarwono Prawirohardjo.2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta :YBP – SP
Sarwono Prawirohardjo.2005. Ilmu Kandungan. Jakarta :YBP – SP
Mansjoer A, dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Asculapins.