Anda di halaman 1dari 12

ISU-ISU PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN MODEL-MODEL

PERENCANAAN PEMBANGUNAN WILYAH PESISIR DAN PEDALAMAN


STUDI KASUS KECAMATAN NAPABALANO KABUPATEN MUNA

OLEH

RUSMAN
D1A115 117
KELAS B

JURUSAN/PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Melalui makalah ini, dapat
membantu pembaca dalam memahami peraturan-peraturan mengenai perencanaan dan
pembangunan wilyah dan model-model perencanaan pembangunan wilaya pesisir dan
pedalaman.
Dalam pembuatan makalah ini, saya memperolehnya dari beberapa sumber dan
pemikiran saya yang saya gabungkan menjadi satu makalah yang semoga dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Saya menyadari akan kelemahan dan kekurangan dari makalah ini. Oleh sebab
itu, dibutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar makalah ini akan
semakin baik sajiannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Kendari, 5 April 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir dan laut (Integrated coastal management)


berdasarkan pada Chapter 17 Agenda 21, Deklarasi Johannesburg 2002, Plan of
Implementation of the World Summit on Sustainable Development, 2002, dan Bali Plan
of Action 2005. Integrated coastal management merupakan pedoman dalam
pengaturan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam di wilayah pesisir dan laut
dengan memperhatikan lingkungan. Implementasi integrated coastal management
dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi konflik dalam pemanfaatan sumberdaya di
wilayah pesisir dan laut, dan tumpang tindih kewenangan serta benturan kepentingan
antar sektor.
Integrated coastal management berisi prinsip-prinsip dalam pengelolaan wilayah
pesisir dan laut sebagaimana di atur dalam Agenda 21 Chapter 17 Program (a),
Pemerintah Indonesia pada tahun 1995 telah menyusun Agenda 21-Indonesia, dalam
Bab 18 tentang Pengelolaan Terpadu Daerah Pesisir dan Laut. Disebutkan bahwa
orientasi pembangunan dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut menjadi prioritas
pengembangan, khususnya yang mencakup aspek keterpaduan dan kewenangan
kelembagaannya, sehingga diharapkan sumberdaya yang terdapat di kawasan ini dapat
menjadi produk unggulan dalam pembangunan bangsa Indonesia di abad mendatang.
Perbedaan pemahaman pengaturan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan laut di
Indonesia memunculkan banyak konflik diantara para pengguna wilayah tersebut dan
daerah-daerah kabupaten / kota yang berbatasan. Kemajemukan peraturan
perundanganundangan sangat potensial menimbulkan terjadinya konflik norma. Upaya
melakukan integrasi terhadap pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir adalah melalui
sinkronisasi pengaturan perundangan-undangan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan
laut.

1.2 Wilayah Pesisir dan Laut


Dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (selanjutnya disebut PWP-PK) Pasal 1 Ayat (2),
disebutkan bahwa: ”Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan
laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut”.
Selanjutnya, pada Pasal 2 Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang PWP-PK
disebutkan bahwa:
”Ruang lingkup pengaturan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi daerah
peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan
laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh
12 (dua belas) mil laut di ukur dari garis pantai”.
Ruang lingkup Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang PWP-PK meliputi
daerah pertemuan antara pengaruh perairan dan daratan, ke arah daratan mencakup
wilayah administrasi kecamatan dan ke arah perairan laut sejauh 12 (dua belas) mil laut
diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan / atau ke arah perairan kepulauan.

1.3 Wilayah Perkotaan di Pedalaman


Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup rumit untuk
diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pada konsekuensi negatif pada beberapa
aspek, termasuk aspek lingkungan. Dalam tahap awal perkembangan kota, sebagian
besar lahan merupakan ruang terbuka hijau. Namun, adanya kebutuhan ruang untuk
menampung penduduk dan aktivitasnya, ruang hijau tersebut cenderung mengalami
konversi guna lahan menjadi kawasan terbangun. Sebagian besar permukaannya,
terutama di pusat kota, tertutup oleh jalan, bangunan dan lain-lain dengan karakter yang
sangat kompleks dan berbeda dengan karakter ruang terbuka hijau. Hal-hal tersebut
diperburuk oleh lemahnya penegakan hukum dan penyadaran masyarakat terhadap
aspek penataan ruang kota sehingga menyebabkan munculnya permukiman kumuh di
beberapa ruang kota dan menimbulkan masalah kemacetan akibat tingginya hambatan
samping di ruas-ruas jalan tertentu
Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan ini mempunyai
berbagai pendekatan dalam perencanaan dan pembangunannya. Tata guna lahan,
sistem transportasi, dan sistem jaringan utilitas merupakan tiga faktor utama dalam
menata ruang kota. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain
dikaitkan dengan permasalahan utama perkotaan yang akan dicari solusinya juga
dikaitkan dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu penataan ruang yaitu untuk
kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.

1.4 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas maka permasalahan yang dapat dambil yaitu:
1. Bagaimana prencanaan dan pembangunan wilayah pesisir dan pedalaman
2. Bagaimana model-model perencanaan pembangunan wilayah pesisisr dan
pedalaman
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini agar dapat mengetahui bagaimana proses
perencanaan dan pembangunan suatu wilayah di daerah pesisir dan pedalaman yang
berdampak pada kesejahteraan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Wilayah Pesisir
Dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (selanjutnya disebut PWP-PK) Pasal 1 Ayat (2),
disebutkan bahwa: ”Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan
laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut”.
Selanjutnya, pada Pasal 2 Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang PWP-PK
disebutkan bahwa:
”Ruang lingkup pengaturan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi daerah
peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan
laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh
12 (dua belas) mil laut di ukur dari garis pantai”.

2.2 Kerusakan di Pesisir Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna


Menurut Idris (2001), penyebab terjadinya kerusakan di daerah pesisir pantai
disebabkan oleh (1) Faktor Alam dimana terjadi penumpukan sampah-sampah berupa
ranting pohon di pinggir pantai ketika musim penghujan tiba. (2) Aktivitas
Manusia seperti Pengerukan pasir, yang di lakukan oleh masyarakat dapat
menyebabkan penyempitan kawasan wilayah pesisir itu sendiri. Kedua penyebab yang
cenderung berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan pesisir ialah aktivitas manusia
yang disebabkan oleh 2 faktor yaitu :
1. Faktor Ekonomi yang Merusak Sumber Daya Pesisir
Tingkat perekonomian yang rendah karena disebabkan rendahnya tingkat
pendidikanmasyarakat pesisir , sehingga dalam memenuhi kehidupan sehari-
hari mengakibatkanmasyarakat pesisir tidak menyadari telah melakukan
kerusakan di lingkungan wilayah pesisirnya.
2. Faktor Kurangnya Kesadaran Masyarakat Dalam Menjaga Lingkungan
Wilayah Pesisir
Pemakaian alat-alat tangkap yang dapat merusak sumberdaya laut yang kini
sangat memprihatinkan karena kurangnya kesadaran didalam penjagaan
lingkungan wilayah pesisir, sehingga dapat mengakibatkan kurang dapat
mengendalikan penangkapan yang ramah lingkungan didalam pengambilan
hasil laut yang berlebihan. Kurangnya kesadaran masyarakat yang
memperhatikan pentingnya hutan mangrove didalam keseimbangan ekosistem
di kawasan wilayah pesisir pantai dan dapat juga mencegah dampak dari
terjangan ombak laut yang besar sebagai pemecah ombak.

2.3 Upaya Pengelolaan Pesisir Kecamatan Napabalano


Menurut Djunaedi dan Basuki (2002), upaya-upaya yang dilakukan dalam
megelola pesisir adalah dengan menggunakan suatu pendekatan dan perencanaan
pengelolaan pesisir.Pendekatan tersebut meliputi :
1. Pendekatan Ekologis
Menekankan pada tinjauan ruang wilayah sebagai kesatuan ekosistem.
pendekatan ini cenderung kecenderungan mengesampingkan dimensi sosial,
ekonomis dan politis dari ruang wilayah.
2. Pendekatan Fungsional
Pendekatan ini menekankan pada ruang wilayah sebagai wadah fungsional
berbagai kegiatan, dimana faktor jarak atau lokasi menjadi penting.
3. Pendekatan Sosio-Politik
Menekankan pada aspek “penguasaan” wilayah. Pendekatan ini melihat
wilayah tidak saja dilihat dari berbagai sarana produksi namun juga sebagai
sarana untuk mengakumulasikan power. Pendekatan ini juga melihat wilayah
sebagai teritorial, yakni mengaitkan ruang-ruang bagian wilayah tertentu
dengan satuan-satuan organisasi tertentu.
4. Pendekatan Behavioral dan Kultural.
Menekankan pada keterkaitan antara wilayah dengan manusia dan masyarakat
yang menghuni atau memanfaatkan ruang wilayah tersebut. Pendekatan ini
menekankan perlunya memahami perilaku manusia dan masyarakat dalam
pengembangan wilayah. Pendekatan ini melihat aspek-aspek norma, kultur,
psikologi masyarakat yang berbeda akan menghasilkan konsepsi wilayah yang
berbeda.

Disamping pendekatan-pendekatan yang bersifat substansial seperti diatas,


terdapat beberapa pendekatan yang bersifat instrumental. Pendekatan instrumental ini
dapat dikategorikan dalam 4 (empat) kelompok besar, yaitu:
1. instrumen hukum dan peraturan yang mempunyai konsep atau ide dasar adanya
hukum dan peraturan beserta penegakannya;
2. instrumen ekonomi yang mempunyai konsep atau ide dasar adanya pengaruh
ekonomi pasar yang sangat signifikan terhadap pengembangan wilayah;
3. instrumen program dan proyek yang didasari atas konsep atau ide dasar pada
kebutuhan-kebutuhan dasar dan kepentingan masyarakat luas; dan
4. instrumen alternatif yang berdasarkan konsep atau ide dasar adanya
pemberdayaan masyarakat dari kemitraan .
Selain melalui pendekatan sebagai upaya dalam mengelola kawasan pesisir,
pengelolaan pesisir juga melalui perencanaan. Penyusunan rencana, pada umunya
dirangsang oleh adanya problem dan konflik yang kritis diwilayah pantai. Hal ini
menimbulkan kesadaran akan perlunya perencanaan wilayah pantai terpadu. Keadaan
ini, dilanjutkan dengan inisiatif dari pihak pemerintah daerah maupun pusat untuk
melakukan persiapan penyusunan rencana.
Proses dan langkah-langkah dasar dalam perencanaan terdiri dari 6
langkah yaitu: definisi problem, menetapkan kriteria evaluasi, identifikasi alternatif-
alternatif, evaluasi alternatif-alternatif, pembandingan alternatif-alternatif, dan
penilaian out-come.

2.4 Wilayah darat atau wilayah pedalaman


Wilayah darat atau wilayah yang terletak di pedalaman merupakan wilyah yang
kegiatan usaha atau pembangunannya berbasis pembangunan infratrukur dan berbasis
perekonomian.
Dalam tahap awal perkembangan kota, sebagian besar lahan merupakan ruang
terbuka hijau. Namun, adanya kebutuhan ruang untuk menampung penduduk dan
aktivitasnya, ruang hijau tersebut cenderung mengalami konversi guna lahan menjadi
kawasan terbangun. Sebagian besar permukaannya, terutama di pusat kota, tertutup
oleh jalan, bangunan dan lain-lain dengan karakter yang sangat kompleks dan berbeda
dengan karakter ruang terbuka hijau. Hal-hal tersebut diperburuk oleh lemahnya
penegakan hukum dan penyadaran masyarakat terhadap aspek penataan ruang kota
sehingga menyebabkan munculnya permukiman kumuh di beberapa ruang kota dan
menimbulkan masalah kemacetan akibat tingginya hambatan samping di ruas-ruas
jalan tertentu.
RTH perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang
terkait dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan
nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat dalam
meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi
juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota. Untuk mendapatkan RTH yang
fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola dan
struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam
membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-inginan
warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota merupakan
determinan utama dalam menentukan besaran RTH fungsi-onal ini.
Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan
kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan
secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-
fungsi lingkungan. Kelestarian RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan
ketersediaan dan seleksi tanaman yang sesuai dengan arah rencana dan rancangannya.

2.5 Dasar Hukum Perencanaan Pusat


Perencanaan tata ruang wilayah adalah suatu proses yang melibatkan banyak pihak
dengan tujuan agar penggunaan ruang itu memberikan kemakmuran yang sebesar-
besarnya kepada masyarakat dan terjaminnya kehidupan yang berkesinambungan.
Penataan ruang menyangkut seluruh aspek kehidupan sehingga masyarakat perlu
mendapat akses dalam proses perencanaan tersebut. Landasan penataan ruang di
Indonesia adalah Undang-undang Penataan Ruang (UUPR) Nomor 24 Tahun 1992
tentang Penataan Ruang. Penataan ruang wilayah dilakukan pada tingkat nasional
(rencana tata ruang wilayah nasional), tingkat provinsi (rencana tata ruang wilayah
provinsi atau disingkat RTRW Provinsi), dan tingkat kabupaten (RTRW kabupaten).
Tujuan penataan ruang adalah mencipatakan hubungan yang serasi antara berbagai
kegiatan di berbagai subwilayah agar tercipta hubungan yang harmonis dan searasi.
Dengna demikian, hal itu mempercepat proses tercapainya kemakmuran dan
terjaminnya kelestaraian lingkunkgan hidup.

RTH perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang
terkait dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan
nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat dalam
meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi
juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota. Untuk mendapatkan RTH yang
fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola dan
struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam
membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-inginan
warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota merupakan
determinan utama dalam menentukan besaran RTH fungsi-onal ini.
Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan
kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan
secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-
fungsi lingkungan. Kelestarian RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan
ketersediaan dan seleksi tanaman yang sesuai dengan arah rencana dan rancangannya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan Saran
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan
pengelolaan pesisir merpakan suatu kegiatan penting dalam manajemen lingkungan
pesisir. Pentingnya pengelolaan pesisir di Blitar disebabkan karena banyaknya factor
pemanfaatan sumberdaya yang dilakukan masyarakat pesisir. Banyaknya factor
pemanfaatan tersebut , akan berdampak pada kondisi alami di lingkungan pesisir
Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna yang nantinya akan berpengaruh pada
tingkat kesajahteraan masyarakat pesisir. Adanya perencanaan pengelolaan pesisir
memiliki tujuan untuk memberikan dampak yang saling menguntungkan baik dari segi
ekonomi maupun ekologi.
Dan dalam ruang lingkup perencanaan wilayah kota di pedalaman Permintaan
akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk untuk
pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan
transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan
juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Hal
ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan
cadangan dan tidak ekonomis. Maka dari itu perlunya keberadaan RTH untuk
melestarikan dan menjaga kestabilan lingkungan perkotaan.
Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri
serta kriteria arsitektural dan hortikultural tanaman dan vegetasi penyusun RTH harus
menjadi bahan pertimbangan dalam menseleksi jenis-jenis yang akan ditanam. RTH
perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang terkait
dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan nilai
estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat dalam
meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi
juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota.

DAFTAR PUSTAKA
Djunaedi, Achmad dan M.N. Basuki .2002. Perencanaan Pengembangan
Kawasan Pesisir. Jurnal Teknologi Lingkungan. 3 (3) : 225-231.
DKP Blitar .2013. Kabupaten Blitar.Gusnadi, Irpal. 2014. Perencanaan
Kawasan Pesisir Berbasis Ekowisata. Makalah.Universitas Islam Riau.
Idris, I. 2001. Kebijakan Pengelolaan Pesisir Terpadu di Indonesia. Prosiding.
Graha Sucofindo. Jakarta.
Primyastanto, Mimit ., R.P. Dewi dan E. Susilo .2010. Perilaku Perusakan Lingkungan
Masyarakat Pesisir dalam Perspektif Islam. Jurnal Pembangunan dan Alam
Lestari. 1 (1) : 1-11.
Robinson Tarigan. 2010. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta : Bumi Aksara.