Anda di halaman 1dari 71

APLIKASI WATERNET PADA JARINGAN

SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

IR. IGN. KERTA ARSANA, MT


LINGKUP MATERI :

 Pengertian Unit – Unit SPAM

 Hidraulika Pada Jaringan SPAM

 Aplikasi Waternet Pada Jaringan SPAM

2
3
Air minum adalah air minum air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
(SK Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 907/Menkes/SK/VII/2002)

• Menyediakan air yang kualitasnya aman dan sehat bagi pemakainya, individu
maupun masyarakat,
• Menyediakan air yang memadai kuantitasnyaMenyediakan air secara kontinue,
• Mudah dan murah untuk menunjang hygiene perseorangan maupun
rumah tangga.

Unit
Pelayanan

4
Hubungan Unsur Fungsional
dalam Sistem Penyediaan Air Minum : SYARAT UMUM SPAM

SUMBER AIR BAKU • Aman dari segi hygienisnya


• Baik dan dapat dimnum
PENAMPUNGAN
• Tersedia dalam jumlah
yang cukup
• Cukup murah/ekonomis
TRANSMISI

INSTALASI SYARAT KUALITAS SPAM


PENGOLAHAN AIR MINUM
• Persyaratan bakteriologis
TRANSMISI • Persyaratan Kimiawi
DAN PENAMPUNGAN • Persyaratan radioaktivitas
•Persyaratan Fisik Air
DISTRIBUSI

5
PERSYARATAN PENYEDIAAN AIR MINUM

1. Parameter fisik
padatan terlarut, kekeruhan, warna, rasa, bau, dan suhu,
2. Parameter kimia
KUALITATIF
Total Dissolved Solids, alkalinitas, flourida, logam, kandungan
organik dan nutrien,
3. Parameter biologi
mikroorganisme yang dianggap pathogen yaitu bakteri,
virus, protozoa, dan cacing parasit (Helminths).

Persyaratan kuantitatif ini sangat dipengaruhi sekali dengan


KUANTITATIF jumlah air baku yang tersedia, serta kapasitas produksi dari
instalasi pengolahan air

bahwa air baku untuk air bersih tersebut dapat diambil


KONTINUITAS secara terus menerus dengan fluktuasi debit yang relatif tetap,
baik pada musim hujan maupun musim kemarau.

6
DEFINISI AIR BAKU

AIR BAKU UNTUK AIR MINUM RUMAH TANGGA


ADALAH AIR YANG DAPAT BERASAL DARI
SUMBER AIR PERMUKAAN, CEKUNGAN AIR
TANAH DAN/ATAU AIR HUJAN YANG
MEMENUHI BAKU MUTU TERTENTU SEBAGAI AIR
BAKU UNTUK AIR MINUM.

(PP No. 16 Tahun 2005, tetang Pengembangan Sistem


Penyediaan Air Minum, Pasal 1)
AIR BAKU UNTUK AIR MINUM

PP NO. 16 TAHUN 2005


PASAL 8, AYAT 4
“PENGGUNAAN AIR BAKU UNTUK KEPERLUAN PENGUSAHAAN AIR MINUM
WAJIB BERDASARKAN IZIN HAK GUNA USAHA AIR SESUAI DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN”

PASAL 8, AYAT 6
“PENGGUNAAN AIR BAKU KHUSUSNYA DARI AIR TANAH DAN MATA AIR
WAJIB MEMPERHATIKAN KEPERLUAN KONSERVASI DAN PENCEGAHAN
KERUSAKAN LINGKUNGAN SESUAI DENGAN PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN”
UNIT AIR BAKU
UNIT AIR BAKU DAPAT TERDIRI DARI BANGUNAN
PENAMPUNGAN AIR, BANGUNAN PENGAMBILAN /
PENYADAPAN, ALAT PENGUKURAN DAN
PERALATAN PEMANTAUAN, SISTEM PENGADAAN,
DAN/ATAU SARANA PEMBAWA SERTA
PERLENGKAPANNYA

UNIT AIR BAKU MERUPAKAN SARANA


PENGAMBILAN DAN/ATAU PENYEDIA AIR BAKU

(Berdasarkan PP NO 16 Tahun 2005, tentang PSPAM, Pasal 7)


PERENCANAAN
BANGUNAN PENGAMBILAN AIR BAKU

1. SURVAI
2. INVESTIGASI
3. PERHITUNGAN POTENSI/DEBIT SUMBER AIR BAKU
4. ANALISA KUALITAS AIR
5. PERSYARATAN LOKASI PENEMPATAN DAN
KONSTRUKSI BANGUNAN PENGAMBILAN
6. PENENTUAN TIPE BANGUNAN PENGAMBILAN
7. PENENTUAN DIMENSI STRUKTUR
DASAR PEMILIHAN AIR BAKU UNTUK AIR
BERSIH/MINUM

 KUALITAS

 KUANTITAS

 KONTINUITAS
SKEMA SPAM
IPA SR
HU
Res

Unit Air Baku Unit Produksi Unit Distribusi Unit Pelayanan

APBN APBD Prov/Kab/Kota APBD Kab/Kota

APBD Kab/Kota

JDU : APBD Prov / APBN CK (Prov.)


SDA/CK CK JDB : APBD Prov / APBD Kab.
JDL : APBD Kab/Kota
JENIS – JENIS BANGUNAN PENGAMBILAN AIR BAKU

a. Intake

Max

2 4

Min
5
3

TANPAK ATAS

POTONGAN
Gambar 3.1 : Bangunan Intake yang terdiri dari 1. dinding intake,
2. screen, 3. kolam air, 4 pintu air dan 5. popa air
Lokasi penempatan intake yang tepat :

LOKASIIN LOKASI
TAKE INTAKE

JALUR ALIRAN UTAMA


SUNGAI

PENUMPUKAN
LUMPUR

LOKASI
INTAKE
SKEMATIK SPAM DENGAN SUMBER AIR BAKU MATA AIR
(PENANGKAP)

SKEMATIK
SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
DENGAN SUMBER AIR BAKU
MATA AIR ( PENANGKAP )
KU.08.08/PTAM/002/2007

07 JUNI 2007

AGUS ISKANDAR, ST

Ir. LUKMAN NULHAKIM Ir. GUNTUR SITORUS

Ir. N. SARDJIONO, MM
NIP. 110039944 NIP. 110030077

UM-20/05
b. Sumur Bor Air Tanah Dalam (Deep Well)

Drawdown MUKA TANAH

MUKA AIR TANAH


SAAT PEMOMPAAN
h = Kedalaman Sumur Bor

AQUIFER

H = Ketebalan Lapisan
Aquifer

ALIRAN AIR TANAH


LAPISAN BATUAN KEDAP AIR
Konstruksi sumur bor Air Tanah Dalam
Pressure guage

Air valve
Penutup sumur

Check valve Permukaan Casing


Tanah

Static Water
Low water level Level (SWL)
electrode Muka Air Tanah
Normal

Check valve
Casing
Muka Air Tanah
Saat Pemompaan

Strainer Pompa Pasir

Pompa
submersible
Strainer

Gravel
Strainer
Gambar 3.5 : Penempatan Strainer
Pada Sumur
SKEMATIK SPAM DENGAN SUMBER AIR BAKU
AIR TANAH DALAM

SKEMATIK
SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
DENGAN SUMBER AIR BAKU
AIR TANAH DALAM
KU.08.08/PTAM/002/2007

07 JUNI 2007

AGUS ISKANDAR, ST

Ir. LUKMAN NULHAKIM Ir. GUNTUR SITORUS

Ir. N. SARDJIONO, MM
NIP. 110039944 NIP. 110030077

UM-20/06
c. Broncaptering (Bangunan Penangkap Mata Air)
Pemunculan
Mata Air

Denah

Saluran
Pengalih
Aliran Air Bak
Dari Luar Pengumpul

Koral Dinding
Penahan

Aquifer
Pemunculan Inlet
Mata Air

Potongan Melintang
SKEMATIK SPAM DENGAN SUMBER AIR BAKU MATA AIR
(PENANGKAP)

SKEMATIK
SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
DENGAN SUMBER AIR BAKU
MATA AIR ( PENANGKAP )
KU.08.08/PTAM/002/2007

07 JUNI 2007

AGUS ISKANDAR, ST

Ir. LUKMAN NULHAKIM Ir. GUNTUR SITORUS

Ir. N. SARDJIONO, MM
NIP. 110039944 NIP. 110030077

UM-20/05
d. Penampungan Air Hujan (PAH)

Air Hujan

Bidang Penampung
Air Hujan

Talang Air

Bak Pengumpul

Kran
SALURAN TRANSMISI
Sistim Aliran Gravitasi

Static Head

Air Release Valve


Hidraulic Grade Line Air Release Valve

Drain Valve
Drain Valve

Sistim Aliran Dengan Pompa

Hidraulic Grade Line

Air Valve

Air Valve

Drain Valve
Drain Valve

Gambar : Saluran Transmisi Untuk Aliran Air Bertekanan


Unit Produksi adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah
air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi dan/atau biologi, meliputi
bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat
pengukuran dan peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum.
Alum Polymer
pH controller Chlorine
FILTER

STATIC
BAK AERASI MIXER BAK FLOKULASI BAK SEDIMENTASI

PRE SEDIMENTASI
RESERVOIR

INTAKE

RESERVOIR
DISTRIBUSI
to distribusi to distribusi
RESERVOIR
DISTRIBUSI 24
PERENCANAAN UNIT PRODUKSI
PARAMETER PERENCANAAN UNIT PRODUKSI
(IPA)

• KUANTITAS DAN KUALITAS AIR MINUM


YANG DIBUTUHKAN
• SUMBER AIR BAKU
• KUALITAS AIR BAKU YANG
DIPERGUNAKAN
• DAERAH DISTRIBUSI
UNIT PRODUKSI
PARAMETER DETAIL PERENCANAAN IPA

 Kuantitas air minum yang dibutuhkan (demand),


dihitung dari jumlah penduduk yang akan dilayani
dikalikan dengan rencana penyediaan/pemakaian
air perorang perhari.
 Kapasitas instalasi ditentukan oleh beban rata-
rata.
 Kualitas air minum ditetapkan oleh Standar
Kualitas Departemen Kesehatan RI
 Proses pengolahan disesuaikan dengan kualitas
air baku.
3. INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM

Bak Prasedimentasi proses pengendapan pendahuluan

Bangunan pengaduk cepat sebagai tempat pencampuran koagulan dengan


(rapid mixing) air baku

Bangunan pengaduk lambat


sebagai tempat terbentuknya flok-flok
(slow mixing),

Bak Sedimentasi untuk proses pengendapan Lumpur berikutnya

Bak Filtrasi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang tidak ikut
terendapkan

Unit Desinfeksi/chlorinasi pumbubuhan chlor sebagai bahan desinfektan

27
Sistem Pendistribusian
Sistem distribusi adalah sistem yang langsung
berhubungan dengan konsumen, yang
mempunyai fungsi pokok mendistribusikan
air yang telah memenuhi syarat
ke seluruh daerah pelayanan

Hal yang harus dijaga selama pendistribusian:

Kontinuitas Pelayanan & Kualitas Air

Pembagian air dilakukan melalui pipa-pipa distribusi, seperti :


1). pipa primer, tidak diperkenankan untuk dilakukan tapping
2). pipa sekunder, dierkenankan tapping untuk keperluan tertentu,
seperti : fire hidran, bandara, pelabuhan dll.
3). pipa tersier, diperkenankan tapping untuk kepentingan pendistribusian air
ke masyarakat melalui pipa kuarter.

28
Total energy

Sistem Pengaliran
Reservoir
1. Cara Gravitasi
WTP Cit
Cara gravitasi dapat digunakan apabila (a) y
elevasi sumber air mempunyai perbedaan
cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan,
sehingga tekanan yang diperlukan Total energy

dapat dipertahankan.

UC
2. Cara Pemompaan D
Cara ini digunakan jika daerah pelayanan WTP Pum
Cit
y
merupakan daerah yang datar, dan p
Wat
tidak ada daerah yang berbukit. (b) er
towe
Total energy r

3. Cara Gabungan
Pada cara gabungan, reservoir digunakan
untuk mempertahankan tekanan yang diperlukan
Reservoi
selama periode pemakaian tinggi dan pada Cit r
Pum
y
Kondisi darurat, Selama periode pemakaian p

rendah, sisa air dipompakan dan disimpan


dalam reservoir distribusi.
29
Jaringan Distribusi

1. Sistem Cabang (branch)


Kelebihan:
- Sistem ini sederhana dan desain jaringan perpipaannya juga sederhana
- Cocok untuk daerah yang sedang berkembang
- Pengambilan dan tekanan pada titik manapun dapat dihitung dengan mudah
- Pipa dapat ditambahkan bila diperlukan (pengembangan kota)
- Dimensi pipa lebih kecil karena hanya melayani populasi yang terbatas
- Membutuhkan beberapa katup untuk mengoperasikan sistem
Kekurangan:
- Saat terjadi kerusakan, air tidak tersedia untuk sementara waktu
- Tidak cukup air untuk memadamkan kebakaran karena suplai hanya dari
pipa tunggal Main
- Pada jalur buntu, mungkin terjadi pencemaran dan
sedimentasi jika tidak ada penggelontoran
- Tekanan tidak mencukupi ketika dilakukan penambahan
areal ke dalam sistem penyediaan air minum

30
2. Sistem Gridiron
Kelebihan:
- Air dalam sistem mengalir bebas ke beberapa arah dan tidak terjadi stagnasi
seperti bentuk cabang
- Ketika ada perbaikan pipa, air yang tersambung dengan pipa tersebut tetap
mendapat air dari bagian yang lain Main
- Ketika terjadi kebakaran, air tersedia dari semua arah
- Kehilangan tekanan pada semua titik dalam sistem minimum
Kekurangan:
- Perhitungan ukuran pipa lebih rumit
- Membutuhkan lebih banyak pipa dan sambungan
pipa sehingga lebih mahal
3. Sistem Melingkar (loop) b) Sistem gridiron
Kelebihan: Main
- Setiap titik mendapat suplai dari dua arah
- Saat terjadi kerusakan pipa, air dapat disediakan dari arah lain
- Untuk memadamkan kebakaran, air tersedia dari segala arah
- Desain pipa mudah
Kekurangan:
- Membutuhkan lebih banyak pipa
c) Sistem loop

31
32
1. ESTIMASI DIAMETER PIPA

Q = 0,27853 C.D2.63 S0,54


S =[Q/(0,27853.C.D2.63 )]1.85
Hf = S x L
D = [Q/(0,27853.C.S0,54 )]0.38
C = Koefisien kekasaran dalam pipa
v = Q/A (m/dt)
A = 0.25xπxD2

dimana
D = Diameter pipa (m)
Q = Debit pengaliran (m3/dt)
S = Slope/kemiringan hidrolis
Hf= Kehilangan Tekanan kerena friksi dalam pipa (m).
L = Jarak/Panjang pipa (m)
v = Kecepatan pengaliran (m/dt)
2
A = Luas permukaan pipa (m )
π = 3.14
PERHITUNGAN DIAMETER PIPA

ELEVASI Perbedaan Tekanan Debit Koefisien Kecepatan Diameter Dalam (ALT I)


No SEGMEN PIPA BEDA TINGGI (M) PANJANG (M) Slope
STA 0 STA 0+1 P m3/dt Hazen-Wiliiam Pengaliran (m/dt) Hitung (cm) Use (cm)

A IPA BAWAH 200 L/dt


1 Prased - El. Punggung 100 205.47 105.47 1100 -105.47 0.226 120 0.0959 1.1516 24.248 50
2 El Punggung 1 IPA BAWAH/RESERV 205.47 170 35.47 1632.98 35.47 0.226 120 0.0217 1.1516 32.886 50
B Reserv. Bawah - Reserv. Lokapaksa 170 127 43 717.02 43 0.215 120 0.0600 1.0955 26.198 50
C Reserv. Lokapaksa - Pertigaan JL. Nasional 127 14.96 112.04 3950 112.04 0.171 120 0.0284 1.0757 28.003 45
2. KEHILANGAN TEKANAN
2.1. Major Losses
Friksi atau gesekan yang terjadi antara aliran air dengan dinding pipa merupakan
kehilangan tekanan terbesar dari suatu sistem perpipaan. Rumus yang digunakan untuk
menghitung kehilangan tekanan pada pipa induk maupun pipa cabang serta pipa
pelayanan adalah hasil formulasi dari Hazen Williams.
Tabel 2 Harga Koefisien C untuk Beberapa Jenis Pipa
Jenis Pipa Harga C Keterangan

ACP 140 Baru

130 Perencanaan

Besi dengan Las 140 Baru


Dimana:
100 Perencanaan
Q= debit aliran (m3/detik)
Beton 140 Baru
C= koefisien Hazen Williams
D= diameter pipa (mm) 130 Perencanaan

L = panjang pipa (m) CIP, coated 130 Baru

100 Perencanaan

Plastik dan PVC 140 Baru

130 Perencanaan

Sumber: Fair, Geyer, dan Okun, 1971


TABEL. PERHITUNGAN KEHILANGAN TEKANAN MAYOR
ELEVASI Perbedaan Tekanan Debit Koefisien Kecepatan Diameter Dalam (ALT I) Sf Kehil. Energi
No SEGMEN PIPA BEDA TINGGI (M) PANJANG (M) Slope
STA 0 STA 0+1 P m3/dt Hazen-Wiliiam Pengaliran (m/dt) Hitung (cm) Use (cm) Hf

A IPA BAWAH 200 L/dt


1 Prased - El. Punggung 100 205.47 105.47 1100 -105.47 0.226 120 0.0959 1.1516 24.248 50 0.002820094 3.102103437
2 El Punggung 1 IPA BAWAH/RESERV 205.47 170 35.47 1632.98 35.47 0.226 120 0.0217 1.1516 32.886 50 0.002820094 4.605157155
B Reserv. Bawah - BPT 170 140.262 29.738 417.02 29.738 0.215 120 0.0713 1.0955 25.283 50 0.002571427 1.072336311
BPT/PRV - Pertigaan RSV. Lokapaksa 140.262 127 13.262 300 13.262 0.215 120 0.0442 1.3525 27.890 45 0
D Pertigaan RSV Lokapaksa - Pertigaan JL. Nasional 127 14.96 112.04 3950 112.04 0.171 120 0.0284 1.0757 28.003 45 0.002810858 11.10288771
E Pertigaan Jl. Nasional - Pertigaan RSV. Pangkung. P 14.96 17.32 2.36 4400 -2.36 0.171 120 0.0005 1.0757 63.216 45 0.002810858 12.36777365

2.2. Minor Losses


Pada kenyataannya, minor losses dapat diabaikan karena nilainya yang relatif kecil
bila panjang pipa lebih besar dari 500 kali diameter pipa. Rumus yang
dipergunakan untuk menghitung besarnya minor losses ini adalah rumus Darcy-
Weisbach.

Dimana:
K = koefisien kehilangan tekanan
V = kecepatan aliran
Tabel 3 Harga K untuk Beberapa Jenis Perlengkapan Pipa
Jenis Perlengkapan Pipa Harga K
Gate Valve kondisi:
 Terbuka penuh 0,2
 ¼ terbuka 1,2
 ½ terbuka 5,6
 ¾ terbuka 2,4
Angle Valve kondisi terbuka penuh 2,5

Butterfly Valve kondisi:


• Sudut bukaan 10° 1
 Sudut bukaan 40° 10
 Sudut bukaan 70° 920
90° elbow dengan:
• Regular flange 0,21-0,3
 Long radius flange 0,14-0,23
 Short radius screwed 0,9
• Medium radius screwed 0,75
 Long radius screwed 0,6
Sudden Contraction:
 d/D = ¼ 0,42
• d/D = ½ 0,33
• d/D = ¾ 0,19
Sudden Enlargement:
• d/D = ¼ 0,92
• d/D = ½ 0,56
•Sumber:
d/DPractical
= ¾ Hydrolics For The Public Work Engineer, 1968 0,19
TABEL. PERHITUNGAN KEHILANGAN TEKANAN MINOR
JUMLAH (UNIT) ACC
KECEPATAN (V) Hm
No SEGMEN PIPA BEND 90 BEND 45 BEND 22,5 WASH OUT AIR VALVE GATE VALVE
1.5 0.4 0.3 0.9 0.9 0.15 ( m/dt) (m)

A IPA BAWAH 200 L/dt


1 Prased - El. Punggung 93 6 3 1.1516 2.5812087
2 El Punggung 1 IPA BAWAH/RESERV 10 2 1 1.1516 0.2948777
B Reserv. Bawah - Reserv. Lokapaksa 36 4 1 1.0955 0.9111436
C Reserv. Lokapaksa - Pertigaan JL. Nasional 74 25 7 6 1.0757 2.0001683
D Pertigaan Jl. Nasional - Pertigaan RSV. Pangkung. P 50 19 6 5 1 1.0757 1.3797969
E Pertigaan RSV. Pangkung. P - Pertigaan RSV. Celukan B 43 16 5 6 1 1.1306 1.3153577

2.3 Sisa Tekan

 Besarnya sisa tekan pada pipa akan tergantung pada klasifikasi jaringan
perpipaan, daerah perencanaan, dan jenis pipa yang dipergunakan.
 Berdasarkan perencanaan pada Draft Guidelines for Design and
Construction of Public and Water Supply System in Indonesia, sisa tekan
minimum yang harus disediakan adalah 6 m untuk pipa pelayanan di
daerah dengan mayoritas bangunan tidak bertingkat dan 12 m untuk
daerah dengan mayoritas bangunan bertingkat.
2.4 Profil Hidrolis

• Profil hidrolis merupakan gambar yang menunjukkan letak ketinggian pipa


dengan garis hidrolisnya pada tiap titik di jalur perpipaan. Profil hidrolis
digambarkan dengan menetapkan sumbu absis untuk panjang pipa dan
sumbu ordinat untuk letak pipa atau kontur tanah dan ketinggian
hidrolisnya.
• Profil ini akan ditunjukkan dari nilai Hydraulic Grade Line (HGL), yaitu garis
yang memperlihatkan besarnya tekanan pada pipa di titik tertentu sebagai
akibat dari gesekan yang terjadi dalam pipa, perubahan kecepatan, dan
perubahan energi. Besarnya HGL ini ditentukan dalam meter kolom air.
63
Aplikasi Program Waternet
Program Waternet (triatmadja, 2007) merupakan suatu program yang
dirancang untuk melakukan simulasi aliran air atau fluida lainnya dalam pipa,
baik berupa loop maupun tidak.
Gambaran Umum Program Waternet
• Menghitung debit dan tekanan di seluruh jaringan pipa dan setiap node.
• Mengitung demand atau air yang dibutuhkan/diambil pada setiap node (jika
tekanan node telah ditentukan).
• Fasilitas default diberikan untuk memudahkan input data pada setiap pipa,
pompa, dan node secara manual.
• Fasilitas pustaka untuk mencantumkan kekasaran pipa, kehilangan energi,
dan yang lainnya.
• Fasilitas katup pada jaringan pipa.
• Fasilitas pengubah tipe aliran untuk melakukan simulasi perubahan elevasi
di dalam tangki akibat fluktuasi pemakaian air yang dipengaruhi oleh jumlah
pemakaian air berjam-jam.
• Fasilitas pengubah posisi node dan pipa.
• Failitas kontur yang dibuat berdasarkan input kontur topografi untuk
memudahkan input elevasi node.
• Fasilitas editing untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam
perencanaan.
Teori Dasar Waternet
A. Persamaan Kontinyuitas
• Q = Q1 = Q2
• A1.U1 = A2.U2 (2.21)
Dimana :
• Q : debit (m³/dt)
• A : luas penampang (m²)
• U : kevepatan aliran (m/dt)

B. Persamaan Bernoulli
𝑃1 𝑈1 2 𝑃2 𝑈2 2
• 𝛾
+ 2𝑔
+ 𝑍1 = 𝛾
+ 2𝑔 2
𝑍 + ℎ𝑒
Dimana :
• P : tinggi tekanan (m)
• Z : tinggi datum (m)
• U : kecepatan rerata aliran dalam pipa (m/dt)
• g : percepatan gravitasi (m/dt²)
• he : tinggi kehilangan tenaga (m)
• γ : berat per unti volume atau berat jenis
• Pada persamaan Bernoulli, program Waternet pun secara langsung memperhitungkan kehilangan energi baik yang
diakibatkan oleh kehilangan energi utama (gesekan antara zat cair dengan dinding pipa) maupun kehilangan energi
sekunder (perubahan penampang, sambungan, saringan, dan belokan pipa) dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut.
Cara Pengoperasian Program Waternet
• Berikut ini diuraikan sedikit tentang cara menggunakan aplikasi program
Waternet sampai pada proses RUN.

Gambar 1 Tampilan awal aplikasi Waternet


1. Membuat File Baru
• Klik Menu Utama File kemudian klik New atau klik tombol New File. Setelah
itu akan muncul Menu Default, dimana pada menu ini terdapat parameter-
parameter yang harus diisi nilainya agar setiap pipa dan node nantinya
mempunyai keragaman nilai sehingga akan memudahkan perencana pada
saat merancang jaringan pipa

Gambar 2 Tampilan menu Default


• Setelah menu Default, klik tombol OK sehingga jendela Default akan
menutup dan muncul jendela Paper. Isi kolom pilihan sesuai keperluan
misalnya A4 pada Paper Size, Landscape pada Orientation dan semua
margin diisikan 1 cm. Selanjutnya klik tombol Apply &Exit.

Gambar 3. Tampilan menu ukuran kertas


2. Menggambar Jaringan Pipa
• Dengan menggunakan fasilitas Drawing Tools yang tersedia pada aplikasi
Waternet, maka kita dapat menggambar jaringan pipa dengan semua
komponennya seperti sumber air, reservoir, pompa, katup, dan lainnya,

Gambar 4. Contoh gambar rencana suatu jaringan pipa


3. Proses Running
• Setelah proses penggambaran selesai, klik tombol GO pada
pada menu atas lalu akan muncul jendela informasi variabel
yang digunakan dalam simulasi

Gambar 5. Jendela informasi variable


• Hasil Running dilaporkan secara singkat dengan jendela Report. Pada
bagian kanan atas jendela Report terdapat lingkaran berwarna yang jika
berwarna hijau menunjukkan bahwa simulasi sukses dan jaringan tidak
bermasalah.

Gambar 6. Hasil simulasi dari program Waternet