Anda di halaman 1dari 3

Hutang Pemerintah dari Masa ke Masa, SBY Juaranya

Liputan Khusus (PiyunganOnline) - Berdasarkan World Bank Debtor Reporting System


tahun 2014, Indonesia berada di posisi keenam negara penghutang terbesar, di bawah China,
Brazik, India, Meksiko dan Turki.
Lalu, siapa sebenarnya Presiden yang bertanggung jawab membuat Indonesia menjadi salah
satu negara pengutang terbesar?

Mari kita telusuri.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno yang bekuasa selama 21 tahun, jumlah utang
Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno sebesar US$6,3 miliar, terdiri dari US$4 miliar
adalah warisan utang Hindia Belanda dan US$2,3 miliar utang baru. Utang warisan Hindia
Belanda disepakati dibayar dengan tenor 35 tahun sejak 1968 yang jatuh tempo pada 2003
lalu, sementara utang baru pemerintahan Soekarno memiliki tenor 30 tahun sejak 1970 yang
jatuh tempo pada 1999.

Sedikitnya jumlah hutang di masa Soekarno, terjadi karena presiden ini memang sosok
pemimpin yang sebenarnya anti utang. Salah satu bapak pendiri bangsa ini pernah
memberikan satu pernyataan terkenal yaitu “Go To Hell with Your Aid” yang menyikapi
campur tangan IMF pada peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada 1956.

Di masa Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun (1966- Mei 1998), hutang
pemerintah bertambah ke angka USD 67.328 milyar. Dengan kurs USD 1 sama dengan
10.000 rupiah, itu berarti 673,28 trilyun rupiah.

Di masa BJ Habibie yang berkuasa selama 518 hari sampai Oktober 1999, hutang menjadi
USD 75.862 milyar, setara dengan 758,62 trilyun rupiah.

Presiden Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur, berkuasa sejak 21 Oktober
1999 sampai 23 Juli 2001 mencatatkan hutang USD 72.197 milyar, setara dengan 721,97
trilyun rupiah.

Presiden Megawati Soekarnoputri yang berkuasa sejak 23 Juli 2001 sampai 21 Oktober 2004,
praktis tidak terjadi kenaikan utang luar negeri. Pada tahun 2004, dari data Statistik Utang
Luar Negeri Indonesia, Volume I Februari 2010, Publikasi Bersama Kementerian Keuangan
dan Bank Indonesia, dia meninggalkan utang sebesar pemerintah sebesar USD 83,296 milyar,
setara dengan 832,96 trilyun rupiah.

Tidak melejitnya utang luar negeri di masa Megawati terjadi akibat kebijakan privatisasi
beberapa BUMN dan saham-saham perusahaan yang diambil alih pemerintah sebagai
kompensasi pengembalian kredit BLBI dengan nilai penjualan sekitar 20% dari total nilai
BLBI. Selama kurang lebih tiga tahun pemerintahan Megawati, dilakukan privatisasi BUMN
sebesar Rp18,5 triliun masuk ke kas negara, yakni Rp3,5 triliun (2001), Rp7,7 triliun (2002),
dan Rp7,3 triliun (2003).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil SBY dan jadi Presiden RI
pertama pilihan langsung rakyat melalui Pemilu 2004 lalu terpilih lagi pada 2009
mencatatkan jumlah hutang pemerintah yang cukup dahsyat.
Ketika perioder pertama kepresidenan SBY berakhir pada tahun 2009, hutang pemerintah
tercatat USD 98.859 milyar atau 968,59 trilyun. Lalu pada Juli 2014, utang pemerintah ke
luar negeri melejit menjadi US$ 134.150 miliar atau 1.341,5 trilyun rupiah..

Jadi selama 10 tahun pemerintaannya, hutang pemerintah bertambah total 508,23 trilyun
rupiah dari 832,92 trilyun menjadi 1.341,15 trilyun.

Tetapi jika hutang swasta ikut diperhitungkan, sesuai data DJPU Kementerian Keuangan,
selama 10 tahun menjabat sejak 2014, SBY telah menambah utang luar negeri menjadi
Rp1.232,31 triliun atau naik 94,82 persen hingga Agustus 2014. Angka tersebut terlihat dari
posisi utang pada Desember 2004 sebesar Rp1.299,5 triliun hingga Agustus 2014 sebesar
Rp2.531,81 triliun.

Data-data di atas memang menunjukkan SBY sebagai Presiden yang paling besar menambah
jumlah hutang negara. Sekalipun, jika ditinjau dari rasio hutang terhadap PDB, SBY bisa
dinilai berhasil mencetak penurunan signifikan, rasio utang terhadap PDB 89 % pada tahun
2000 menjadi 25,9 % pada tahun 2014.

Di masa SBY, terjadi pelunasan hutang kepada IMF. Namun hutang negara tetap besar
karena mengalihkan pinjaman luar negeri menjadi utang dalam bentuk surat berharga negara
(SBN) dengan bunga yang lebih mahal, hutang bilateral atau hutang ke institusi keuangan
global lainnya seperti World Bank dan ADB.

Bagimana dengan hutang di masa Jokowi? Belum banyak yang bisa dikatakan karena
pemerintahan Jokowi-JK baru berjalan 6 bulan. Namun, Pemerintah Jokowi-JK telah
melakukan penarikan pinjaman proyek sebesar Rp 4,10 triliun selama periode Januari-Maret
2015. Pinjaman proyek dilakukan sebagai salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan
infrastruktur.

Seperti dikutip dari situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR)
Kementerian Keuangan, Selasa (21/4), jumlah penarikan pinjaman proyek tersebut baru
sekitar 10 persen dari pagu yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Perubahan (APBNP) 2015 sebesar Rp 41,15 triliun.

Pinjaman proyek yang sudah terealisasi hingga Maret 2015 paling banyak berasal dari
pinjaman bilateral sebesar Rp 2,68 triliun. Korea menjadi negara yang paling besar
memberikan pinjaman proyek dengan nilai Rp 1,17 triliun.

Selain pinjaman bilateral, Indonesia juga mendapat pinjaman multilateral dari sejumlah
organisasi internasional seperti World Bank, Asean Development Bank (ADB), dan Islamic
Development Bank (IDB). World Bank tercatat telah memberikan pinjaman proyek sebesar
Rp 620 miliar.

Pantas Masuk MURI, Jokowi Presiden Pembuat


Utang Terbesar Sepanjang Sejarah NKRI
Eramuslim.com – Utang Indonesia bakal makin menumpuk. Pemerintah sudah merancang utang
dalam RAPBN 2016. “Siapa yang mau bayar. Anak cucu kita nanti. Kok membebani mereka,”
kata pengamat ekonomi politik, Salamuddin Daeng, Jumat (6/11).
Dalam RAPBN 2016, pemerintah berencana mencetak Surat Utang Negara (SUN) senilai
Rp326,27 triliun dan pinjaman langsung luar negeri senilai Rp72,83 triliun. Dengan demikian
total utang yang akan di cetak Jokowi tahun 2016 senilai Rp399,10 triliun.
Sepanjang sejarah RI, ia mengungkap ini utang dalam jumlah paling besar yang dibuat oleh
pemerintah dalam setahun.
Dengan demikian, ia menegaskan Presiden Jokowi adalah pemegang record dalam hal membuat
utang. Presiden yang terpilih langsung dalam pemilu 2014 ini pantas untuk kita masukan
namanya ke dalam Museum Record Indonesia (MURI) sebagai pembuat utang terbesar sepanjang
sejarah.
Tahun lalu 2014/2015, lanjutnya, pemerintah Jokowi telah mencetak SUN senilai Rp132 triliun
dan utang luar negeri langsung senilai Rp49 triliun. Selama satu tahun masa pemerintahannya
Jokowi telah mencetak Rp181 triliun.
Jumlah tersebut belum termasuk utang dari hasil penjualan saham BUMN dan utang yang
diharapkan diperoleh BUMN dari luar negeri.
Sebagaimana diketahui, bahwa pemerintah juga merancang Penyertaan Modal Negara (PMN)
atau subsidi kepada BUMN dalam tahun 2016 senilai Rp48 triliun. Tahun 2015 lalu pemerintah
mensubsidi BUMN senilai Rp70 triliun dan belum jelas pertanggungjawabannya hingga saat ini.
Utang dan subsidi BUMN akan dijadikan dasar untuk merealisasikan ambisi membangun
infrastruktur pemerintah Jokowi-JK. Proyek tersebut adalah proyek Public Private Partnership
(PPP) yakni proyek swasta yang dijamin oleh pemerintah melalui APBN.
Apa dampaknya bagi rakyat? Menurut Salamuddin Daeng, rakyat akan semakin dibebani oleh
kenaikan harga dan jasa yang dijual pemerintah dan swasta kepada rakyat.
Tarif tol akan naik, tarif listrik akan naik, harga pupuk akan naik, tarif kereta akan naik. Semua
harus dibayar mahal oleh rakyat agar pemerintah dan swasta tetap bisa untung dan membayar
utang luar negeri mereka. “Bahkan dampak utang ini akan menjadi beban anak cucu di masa
mendatang,” tandas Salamuddin. [ts/poskota]
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/pantas-masuk-muri-jokowi-presiden-pembuat-utang-
terbesar-sepanjang-sejarah-nkri.htm#.V4s2BOt97IU

http://www.piyunganonline.org/read/hutang-pemerintah-dari-masa-ke-masa-sby-juaranya.html