Anda di halaman 1dari 11

EFEKTIVITAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG ( Etlingera elatior )

SEBAGAI REPELLENT NYAMUK Aedes aegypti

Dewi Mustika Rani Gurning¹, Irnawati Marsaulina MS.²,


Wirsal Hasan³

¹. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat,


Peminatan Kesehatan Lingkungan, Universitas Sumatera Utara.
², ³. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara,
Medan, 20155, Indonesia.

ABSTRACT

Aedes aegypti often cause health problems, especially dengue disease. To control
its population were used insecticides. However, the use of chemical insecticides cause
many problems. As we know, Aedes aegypty is the main vector of dengue disease. Today
there is no effective way to overcome the dengue disease, because until today have not
found the drugs effective anti-dengue virus and a vaccine that can protect themselves
from dengue virus infection. One way to combating dengue vector control is by using
synthetic insecticides. There are two major categories of insecticides which is often used
as a household insecticide, and they are the insecticide which is used to kill insects and
insecticides which is function to repel the insects. Therefore, it is necessary insecticides
safer alternatives for the environment, one of them is by using the kecombrang flower
extracts (Etlingera elatior).
The purpose of this study was to determine the effectiveness of kecombrang flower
extract as reppelent of Aedes aegypti mosquitoes. This study was a quasi-experimental
study with a completely randomized design (CRD). Kecombrang flower extract
concentration used was 0% (control), 1%, 2%, 3%, 4% and 5%.
From the research, the best concentration is 5% the number of mosquitoes which
was away is 19. One Way ANOVA test 30 menute observation, it is known that the
number of mosquitoes which away, there is differences in effectiveness significantly
between kecombrang flower extracts as reppelent of Aedes aegypti mosquitoes with value
of p (0.000) < 0.05, 60 menute observation, there is no differences in effectiveness
significantly between kecombrang flower extracts as reppelent of Aedes aegypti
mosquitoes with value of p (0.542) > 0.05,
Based on this research it can be concluded that the kecombrang flower extract
was effective as an reppelent and killed Aedes aegypti mosquito effectively.

Keywords: flower extract kecombrang (Etlingera elatior), reppelent, Aedes aegypti

1
PENDAHULUAN menggunakan insektisida sintetik.
Terdapat dua kategori besar
Lingkungan mempunyai insektisida yang sering digunakan
pengaruh serta kepentingan yang sebagai insektisida rumah tangga,
relatif besar dalam hal peranannya yaitu insektisida yang berfungsi
sebagai salah satu faktor yang untuk membunuh serangga dan
mempengaruhi derajat kesehatan insektisida yang berfungsi untuk
masyarakat. Menurut Hendrik L. mengusir serangga (repellent) (Ware
Blum; bahwa kesehatan masyarakat (2004) dalam Adityo (2012)).
yang optimal dipengaruhi oleh 4
faktor, yaitu faktor lingkungan, Repellent dikenal sebagai
faktor perilaku, faktor pelayanan salah satu jenis pestisida rumah
kesehatan dan faktor keturunan. Dari tangga yang digunakan untuk
keempat faktor tadi, faktor melindungi tubuh (kulit) dari gigitan
lingkunganlah yang mempunyai nyamuk. Sekarang ini orang banyak
pengaruh dan peranan yang terbesar. lebih mengenalnya sebagai lotion
(Kusnoputranto et al., 2002). anti nyamuk. Sebenarnya produk
repellent tidak hanya berbentuk
Menurut WHO tahun 2006, lotion, ada juga yang berbentuk
Indonesia pernah mengalami kasus spray (semprot), bakar dan elektrik
terbesar (53%) DBD pada tahun ( Aninomus, 2011 ).
2005 di Asia Tenggara yaitu 95.270
kasus dan kematian 1.298 orang Repellent secara garis besar
(CFR = 1,36 %) (Supartha,2008), dibagi menjadi dua katagori, ponolak
dan angka kejadian DBD di alami dan penolak kimia. Minyak
Indonesia pada tahun 2012 masih esensial dari ekstrak tanaman
cukup tinggi,dari 497 kota yang merupakan bahan pokok penolak
terdapat di seluruh Indonesia masih alami, misalnya minyak sitronela,
terdapat kasus DBD pada 374 kota minyak lemongrass, minyak neem
yang tersebar diberbagai macam (seperti kayu Mahoni), dan minyak
propinsi dengan jumlah kasus total atsiri (seperti lavender, rosemary,
65.432 dan jumlah kasus meninggal serai wangi,selasih dll), dan penolak
595 jiwa (Ditjen PP&PL,2012). serangga kimiawi seperti DEET (N,
N-Diethyl-m-Toluamide) dapat
Sebagaimana yang telah memberi perlindungan terhadap
diketahui, Aedes aegypti merupakan nyamuk Aedes aegypti, Aedes
vektor utama dari penyakit DBD. albopictus dan spesies Anopheles
Untuk mengatasi penyakit DBD (WHO, 2004), tetapi repellent yang
sampai saat ini masih belum ada cara mengandung bahan DEET dapat
yang efektif, karena sampai saat ini menimbulkan reaksi hipersensitif dan
masih belum ditemukan obat anti iritasi. Untuk mencegah terjadinya
virus dengue yang efektif maupun reaksi hipersensitif dan iritasi ini
vaksin yang dapat melindungi diri perlu dilakukan penelitian repellent
dari infeksi virus dengue. Salah satu yang berasal dari bahan alami untuk
bentuk penaggulangan DBD dengan menggantikan DEET ( Yuliani,
pengendalian vector adalah dengan 2005).

2
Penelitian terakhir menemukan bunga kecombrang yang berbeda
bahwa kandungan kimia kecombrang termasuk kontrol yaitu 0% (kontrol),
adalah saponin, flavonoid, polifenol 1%, 2%, 3%,4% dan 5% dengan
dan minyak atsiri (Depkes RI,2005). pengulangan 4 kali pengulangan.
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Naufalin (2005), Alat dan Bahan
menyatakan bahwa kandungan
minyak atsiri dalam bunga Alat: kotak pemeliharaan, aspirator,
kecombrang rata-rata sebesar 17%. hygrometer, kotak perlakuan, neraca
Kandungan minyak atsiri pada bunga analitik, wadah tempat telur nyamuk,
kecombrang sangat tinggi bila wadah tempat ekstrak bunga
dibandingkan dengan jenis rempah kecombrang electrik mosquito, labu
lain yang masih satu famili takar, pipet tetes, thermometer,
(Zingiberaceae), kadar minyak atsiri hygrometer. Bahan: ekstrak bunga
pada jahe bekisar 1,9%-3,9% kecombrang dengan konsentrasi 0%
(Yuliani dan Rishfaheri,1990 dalam (kontrol), 1%, 2%, 3%,4% dan 5%,
Rahayu (1999) dalam Naufalin telur nyamuk Aedes aegypti, nyamuk
(2005)).Tujuan penelitian ini adalah dewasa Aedes aegypti, etanol.
untuk mengetahui jumlah nyamuk
yang terbang ke kotak yang tidak ada Cara Mendapatkan Nyamuk
ekstrak bunga kecombrangnya Aedes aegypti Dewasa
setelah dipaparkan dengan
konsentrasi 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, Untuk mendapatkan nyamuk
dan 5% ekstrak bunga kecombrang Aedes aegypti dewasa dilakukan
pada anti nyamuk mat elektrik yang dengan menetaskan telur nyamuk
diamati dalam interval waktu 30 Aedes aegypti dan meletakannya di
menit selama 60 menit dan ntuk wadah yang berisi air, kemudian beri
melihat perbedaan jumlah nyamuk makan 2 hari sekali, setelah itu
yang terbang ke kotak yang tidak ada tunggu telur berubah menjadi larva.
ekstrak bunga kecombrangnya Pemeliharaannya: siapkan kotak
setelah dipaparkan dengan nyamuk ukuran 45 cm x 45 cm x 45
konsentrasi 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, cm, larva Aedes aegypti dimasukkan
dan 5%. ke dalam wadah kecil yang berisi air
bersih dan diletakkan dalam kotak
METODE PENELITIAN pemeliharaan, simpan di tempat yang
sejuk dan terhindar dari cahaya
Penelitian ini bersifat matahari langsung, setelah
eksperimen semu dengan Rancangan kepompong menjadi nyamuk
penelitian yang digunakan dalam dewasa, nyamuk tersebut
penelitian adalah Rancangan Acak dipindahkan ke kotak pengamatan
Lengkap (RAL). Secara umum, masing-masing sebanyak 25 ekor
pengulangan minimum yang sebagai sampel penelitian
dilakukan dalam percobaan
laboratorium/rumah kaca cukup 3
kali pengulangan sehingga percobaan
ini dilakukan dengan 6 konsentrasi

3
Cara Membuat Ekstrak Bunga Prosedur Penelitian
Kecombrang (Etlingera elatior)
Ukur suhu dan kelembaban
Bunga kecombrang yang dengan menggunakan alat
dicincang dikeringkan tetapi tidak di thermometer dan hygrometer,
bawah matahari langsung, bunga masukkan cairan ekstrak bunga
kecombrang yang sudah kering kecombrang ke dalam alat repellent
kemudian ditimbang, bunga elektrik sesuai dengan konsentrasi
kecombrang yang telah ditimbang pada kotak perlakuan, siapkan kotak
kemudian diperkolasi dengan 1,5 perlakuan, tutup lubang pada kotak
liter etanol selama 48 jam kemudian kasa, tempatkan alat reppelensi
disaring menghasilkan ekstrak elektrik pada kotak perlakuan (kotak
kecombrang, setelah itu ekstrak 1), masukkan sediaan nyamuk
kecombrang dibiarkan terbuka dewasa ke dalam kotak 1 sebanyak
selama 48 jam untuk menghilangkan 25 ekor nyamuk dewasa, hubungkan
bau alkohol pada ekstrak alat reppelensi dengan listrik, lalu
kecombrang kemudian ekstrak bunga buka penutup dan sambungkan
kecombrang disimpan di lemari dengan kotak kasa dengan
pendingin. menggunakan silinder kasa yang
telah dibuat terlebih dahulu, amati
Cara Pembuatan Kotak Perlakuan nyamuk yang pindah ke kotak hasil
perlakuan (kotak 2) dengan interval
Buat kotak 1 (kotak perlakuan) dari waktu 30 menit selama 60 menit,
kawat kasa berukuran 30 cm x 30 cm pada kontrol tidak dilakukan
x 30 cm, dan kotak 2 (hasil perlakuan, lakukan pengulangan
pengamatan) dengan ukuran 30 cm x sebanyak 4 kali pada masing-masing
50 cm x 30 cm. Tiap sisi kotak konsentrasi.
ditutup dengan kawat kasa, beri
lubang pada salah satu permukaan Analisis Data
dinding kasa pada masing-masing
kotak perlakuan dengan diameter Data yang diperoleh dari
12,5 cm, bentuk kasa menyerupai hasil pengamatan dianalisis secara
silinder dengan ukuran diameter 13 statistik dengan uji Anova yaitu uji
cm, lapisi dengan kawat untuk analisis varians satu arah (Anova One
membentuk lingkaran pada kain kasa way). Uji Anova satu arah (Anova
yang telah dibentuk ( kawat dipasang One Way) dilakukan untuk
pada kedua ujung kain kasa), mengetahui ada tidaknya perbedaan
hubungkan kedua kotak dengan kain jumlah nyamuk Aedes aegypti yang
kasa yang dibentuk menyerupai pindah ke tempat yang tidak ada
silinder dengan menjahit ekstrak bunga kecombrangnya
menggunakan benang jahit, usahakan setelah dipaparkan dengan berbagai
tidak ada celah agar nyamuk tidak konsentrasi bunga kecombrang pada
cepat keluar. anti nyamuk mat elektrik. Data yang
diperoleh dari hasil pengamatan
terlebih dahulu dilakukan uji
normalitas Kolmogorov-smirnov dan

4
uji levene statistic. Jika data normal Tabel 4.1 di atas dapat dilihat
dan varians sama kemudian diuji bahwa pada pengukuran suhu yang
dengan Anova Satu Arah (Anova dilakukan pada pengulangan I yaitu
One Way) . H0 ditolak jika p < α sebesar 27°C, ulangan II adalah
(0,05). Jika data tidak terdistribusi 27°C, ulangan III 27°C, dan ulangan
normal dan varians tidak sama maka IV 28°C dan rata-rata suhu ruangan
data akan diuji dengan Krusskal- penelitian adalah 27,25°C.
Wallis.
Tabel 4.2 Pengukuran
HASIL DAN PEMBAHASAN Kelembaban

Hasil Penelitian Pengulangan Kelembaban


(%)
Nyamuk yang digunakan I 71,5
pada penelitian ini sebanyak 600
II 72
ekor nyamuk Aedes aegypti dewasa
yang diperoleh dengan upaya III 73
pembiakan selama kurang lebih 2
IV 70
minggu. Setiap perlakuan masing-
masing 25 ekor nyamuk dengan Rata-Rata 71,63
kondisi kandang tertutup dengan
kain kasa. Perlakuan diulangi
Berdasarkan tabel di atas
sebanyak 4 kali dengan pengamatan
dapat dilihat hasil pengukuran
setiap 30 menit selama 60 menit
kelembaban dengan hasil yaitu pada
untuk setiap pengulangan. Nyamuk
pengulangan I sebesar 71,5%, pada
dikatakan Terbang jika nyamuk
pengulangan II sebesar 72%, pada
Terbang ke kotak ke-2 yang tidak
pengulangan III sebesar 73% dan
ada mat elektriknya.
pada pengulangan IV sebesar 70%,
maka rata-rata kelembaban ruang
Tabel 4.1. Pengukuran Suhu
penelitian tersebut adalah 71,63%.
Pengulangan Suhu Ruangan
Tabel 4.3 menunjukkan
(°C)
jumlah nyamuk yang Terbang
I 27
selama 60 menit pengamatan dengan
II 27 beberapa konsentrasi
III 27
IV 28
Rata-Rata 27,25

5
Tabel 4.3 Nyamuk Aedes aegypti yang Terbang Selama 60 Menit Pengamatan
dengan Beberapa Konsentrasi Mat Ekstrak Bunga Kecombrang.

Wak Kon Jumlah Nyamuk Aedes aegypti

tu Sen Ulangan

Peng trasi I II III IV

amat T M H J T M H J T M H J T M H J

an e a i u e a i u e a i u e a i u

r t d m r t d m r T d m r t d m

b i u l b i u l b i u l b i u l

a p a a p a a p a a p a

n h n h n h n h

g g g g

30 0% 0 0 25 25 0 0 25 25 0 0 25 25 0 0 25 25

Me 1% 3 15 7 25 3 14 8 25 2 14 9 25 2 12 11 25

2% 2 17 6 25 2 17 6 25 2 16 7 25 2 17 6 25
nit
3% 2 17 6 25 3 19 3 25 3 19 3 25 3 16 6 25

4% 2 18 5 25 2 16 7 25 2 17 6 25 1 20 4 25

5% 4 15 6 25 5 14 6 25 5 14 6 25 5 16 4 25

60 0% 0 0 25 25 0 0 25 25 0 0 25 25 0 0 25 25

Me 1% 0 7 0 7 0 5 3 8 0 7 2 9 0 8 3 11

2% 0 2 4 6 0 0 6 6 1 3 3 7 1 2 3 6
nit
3% 0 4 2 6 0 2 1 3 0 1 2 3 0 1 5 6

4% 0 3 2 5 1 3 3 7 0 3 3 6 1 2 1 4

5% 0 4 2 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 4 0 4

Tabel 4.3 menunjukan bahwa sebanyak 1 ekor, konsentrasi 0%,


pada a ktu 30 menit rata-rata jumlah 1%, dan 3% tidak terdapat nyamuk
nyamuk yang terbang ke kotak ke-2 yang terbang.
pada konsentrasi 1% dan 3%
sebanyak 3 ekor, konsentrasi 2% dan
4% sebanyak 2% , konsentrasi 5%
sebanyak 5 ekor. Sedangkan pada
waktu 60 menit rata-rata jumlah
nyamuk yang terbang ke kotak ke-2
pada konsentrasi 2% dan 4%

6
Tabel 4.4 Hasil Uji Anova Tabel 4.5 di atas
Satu Arah pada Nyamuk yang menunjukkan bahwa p (0,542) >
Terbang Setelah 30 Menit α (0,05), maka H0 diterima dan Ha
Pengamatan ditolak, artinya tidak ada perbedaan
secara signifikan efektivitas ekstrak
Konsentrasi bunga kecombrang (Etlingera
elatior) sebagai repellent nyamuk
Dera
Jum jat Kua
Aedes aegypti.
lah Keb drat
Kua ebas Teng Pembahasan
drat an ah F Sig.
Antar Berdasarkan hasil penelitian
52,9 10,5 11,1 ekstrak bunga kecombrang dapat
Kelom 5 ,000
44 89 75
pok digunakan sebagai bahan insektisida
Dalam nabati untuk mengusir dan
17,0
Kelom 18 ,948 membunuh nyamuk Aedes aegypti,
56
pok karena bunga kecombrang
Total 70,0 mengandung empat zat aktif yang
23
00
dapat berperan sebagai insektisida
yaitu saponin, flavoinoida, polifenol
Tabel 4.4 di atas dan minyak atsiri. Penelitian ini
menunjukkan bahwa p (0,000) < α menggunakan ekstrak bunga
(0,05), maka H0 ditolak dan Ha kecombrang dari proses ekstraksi
diterima, artinya ada perbedaan dengan pelarut etanol untuk
secara signifikan efektivitas ekstrak mendapatkan efek dari senyawa aktif
bunga kecombrang (Etlingera ini, karena seyawa aktif yang
elatior) sebagai repellent nyamuk terdapat pada bunga kecombrang
tidak larut dalam air ( Wikipedia,
Tabel 4.5 Hasil Uji Anova Satu 2014).
Arah pada Nyamuk yang Terbang Adapun efek yang
Setelah 60 Menit Pengamatan ditimbulkan langsung oleh senyawa
yang terkandung dalam bunga
Konsentrasi kecombrang (Etlingera elatior)
terhadap nyamuk Aedes aegypti yang
Der dapat dilihat dalam penelitian ini
ajat adalah :
Jumla Ke Kuad Senyawa flavonoid pada
h beb rat bunga kecombrang bekerja sebagai
Kuad asa Teng
racun inhalasi dan racun kontak.
rat n ah F Sig.
Racun inhalasi bekerja lewat sistem
Antar
,38 ,54 pernapasan berupa spirakel yang
Kelom 1,200 1 1,200
4 2 terdapat di permukaan tubuh dan
pok
Dalam menimbulkan kelayuan pada saraf,
68,80 serta kerusakan pada spirakel
Kelom 22 3,127
0
pok akibatnya nyamuk tidak bisa
Total 70,00 bernapas dan akhirnya mati, dan
23
0

7
racun kontak bekerja apabila Menurut cara kerjanya, bunga
insektisida dapat masuk ke dalam kecombrang juga dapat digolongkan
tubuh serangga melalui kulit sebagai insektisida racun inhalasi
(kutikula) dan bersinggungan dan raacun kontak, karena
langsung (Djojosumarto, 2008). berdasarkan pengamatan yang
Senyawa polifenol berperan dilakukan selama percobaan,
dalam memberi warna pada suatu nyamuk Aedes aegypti mengalami
tumbuhan. Mekanisme kerja perubahan sebelum dan sesudah
polifenol dalam proses kematian dinyalakan anti nyamuk mat elektrik
nyamuk dengan proteolisis sel ekstrak bunga kecombrang. Nyamuk
nyamuk atau menyebabkan Aedes aegypti dari yang bergerak
kerusakan sel nyamuk ( Dede, (2005) sangat aktif berusaha keluar ( karena
dalam Anggarini (2012). aroma yang dikeluarkan mat ekstrak
Senyawa saponin memiliki bunga kecombrang) sampai pada
rasa pahit menusuk dan akhirnya menjadi lamban dan lemas,
menyebabkan iritasi pada selaput dan kemudian lumpuh kemudian
lendir. Saponin merupakan racun mati.
yang dapat menghancurkan butir Hasil analisis data dapat
darah atau hemolisis pada darah. diketahui bahwa jumlah nyamuk
Saponin bersifat racun bagi hewan yang terbang ke kotak ke-2 pada
berdarah dingin dan banyak konsentrasi 0% adalah 0, artinya
diantaranya digunakan sebagai racun tidak terdapat nyamuk yang terbang
ikan. Saponin yang bersifat keras ke kotak ke-2. Konsentrasi 1%
atau racun biasa disebut sebagai jumlah nyamuk yang terbang 10
Sapotoksin. Mekanisme kerja ekor. Konsentrasi 2% jumlah
saponin pada nyamuk dengan nyamuk yang terbang sebanyak 10
merusak kulit nyamuk atau ekor. Konsentrasi 3% jumlah
terjadinya trauma kulit nyamuk. Pada nyamuk yang terbang sebanyak 11
binatang menunjukkan ekor. Konsentrasi 4% jumlah
penghambatan aktifitas otot polos nyamuk yang terbang sebanyak 9
(Hartono (2009), dalam Anggarini ekor. Konsentrasi 5% jumlah
(2012)). nyamuk yang terbang sebanyak 19
Minyak atsiri pada bunga ekor. Hasil di atas menunjukkan
kecombrang berfungsi sebagai insect bahwa jumlah yang paling banyak
repellant (mengusir serangga) dan terbang terdapat pada konsentrasi
insect attractant (menarik). Minyak 5%, hal ini dapat terjadi karena
atsiri merupakan kelompok besar kandungan minyak atsiri dalam
minyak nabati yang berwujud cairan bunga kecombrang sebesar 17%
kental pada suhu ruang namun diduga dapat mengusir serangga
mudah menguap karena titik uapnya (insect repellent) dan menarik
rendah sehingga memberikan aroma serangga (insect attractant) sesuai
yang khas. Minyak atsiri merupakan dengan fungsi dari minyak atsiri itu
bahan dasar dari wangi-wangian atau sendiri (Naufalin, 2005), sehingga
minyak gosok (untuk pengobatan) mempunyai potensi mengusir dan
alami ( Wikipedia,2013). membunuh nyamuk dalam waktu
singkat. Penelitian serupa juga

8
dilakukan oleh Anggarini,2012 sangat efektif untuk membunuh
dengan menggunakan ekstrak bunga nyamuk Aedes aegypti.
kecombrang hasilnya berpotensi
dalam membunuh nyamuk Culex. SARAN

KESIMPULAN 1. Penulis menyarankan untuk


melakukan penelitian lanjutan
1. Berdasarkan hasil penelitian dari ekstrak bunga kecombrang
jumlah nyamuk yang terbang ke (Etlingera elatior) dengan
kotak ke-2 selama 60 menit konsentrasi di bawah 1%.
pengamatan adalah sebanyak 10 2. Diharapkan perpustakaan FKM
ekor pada konsentrasi 1%, USU lebih memperbanyak lagi
konsentrasi 2% sebanyak 10 literatur-literatur tentang nyamuk
ekor, 3% sebanyak 11 ekor, dan bunga kecombrang
konsentrasi 4% sebanyak 9 ekor, (Etlingera elatior).
konsentrasi 5% sebanyak 19 ekor 3. Sebaiknya FKM menyediakan
dan pada konsentrasi 0% tidak laboratorium khusus tentang
terdapat nyamuk yang terbang. nyamuk, untuk mempermudah
Jumlah nyamuk di atas pada penelitian mahasiswa selanjutnya
masing-masing konsentrasi karena banyaknya minat
diperoleh rata-rata pada waktu 30 mahasiswa dalam meneliti
menit pengamatan, artinya tentang nyamuk.
ekstrak bunga kecombrang
sangat efektif sebagai repellent DAFTAR PUSTAKA
nyamuk Aedes aegypti.
2. Kemudian berdasarkan hasil uji Aninomus. 2012. Bunga
Anova One Way dapat diketahui Kecombrang Tanaman
bahwa ada perbedaan secara Pengusir Nyamuk. Diakses
signifikan ekstrak bunga tanggal 12 Januari 2013. Dari
kecombrang (Etlingera elatior) http:/propinsisumut.blogspot.
sebagai repellent nyamuk Aedes com/2012/10/bunga-
aegypti pada 30 menit kecombrang-tanaman-
pengamatan dengan nilai p pengusir-nyamuk.html
(0,000)<0,005. Sedangkan pada
60 menit pengamatan tidak Aninomus. 2011. Repellent. Diakses
terdapat perbedaan secara tanggal 07 Juni 2013. Dari
signifikan ekstrak bunga http://ik.pom.go.id/wpcontent
kecombrang (Etlingera elatior) /uploads/2011/11/Bahaya DE
sebagai repellent nyamuk Aedes ETpadaInsect
aegypti dengan nilai p (0,542) >
0,005. Aninomus. 2012. Apakah Minyak
3. Ekstrak bunga kecombrang Atsiri. Diakses tanggal 08
sangat efektif sebagai repellent April 2014. Dari
pada 30 menit pengamatan dan http://lansida.blogspot.com/2
pada 60 menit pengamatan 012/06/apakah-minyak-atsiri-
itu.html

9
Anggarini, Y.D. 2012. Uji Potensi Naria, E. 2005. Insektisida Nabati
Bunga Kecombrang ( Nicolia Untuk Rumah Tangga. Info
speciosa Horan) sebagai Kesehatan Masyarakat.
Insektisida Hayati Terhadap 9(1): 28 - 32.
Nyamuk Culex,Sp. Jurnal
Nurhayati. 2005. Pengendalian
Bermawie dan Nurliani. 2006. Vektor Secara Radiasi. Di
Mengatasi Demam Berdarah Akses tanggal 2April 2014.
Dengan Tanaman Obat. Darihttp://www.psychologym
Diakses tanggal 30 Mei 2013. ania.com/2 012/10/cara-
Daripustaka.litbang.deptan.go pengendalian- vektor.html.
.id
Naufalin, R. 2005. Aktivitas Anti
Chahaya, I. 2003. Pemberantasan Bakteri Ekstrak Bunga
Vektor Demam Berdarah di kecombrang Terhadap
Indonesia. FKM USU. Bakteri Patogen Dan Perusak
Digitezed By USU Library. Pangan. Jurnal Tekhnologi
Medan. Dan industri Pangan
16(2):119-125
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan
Aplikasinya. PT. Agromedia Soegeng, S. 2004. Demam Berdarah
Pustaka. Jakarta. Dengue, Tinjauan dan
Temuan Baru di Era 2003.
Darwis, S.N, M. Indo dan S. Air Langga University Press.
Hasiyah. 1991. Timbunan Surabaya.
Obat Famili
Zingiberaceace. dan Soegeng, S. 2006. Cara
Penelitian dan Pengendalian Vektor. Di
Pengembangan Pertanian. akses tanggal 2 April 2014.
Bogor. Darihttp://www.psychologym
ania.com/2012/10/cara-
Direktorat Jendral Penanggulangan pengendalian-vektor.html
Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. 2012.Profil Sarjan, M. 2007. Potensi
Data Kesehatan Indonesia Pemanfaatan Insektisida
2011. Kementerian Nabati Dalam Pengendalian
Kesehatan Republik Hama Pada Budidaya
Indonesia. Jakarta Sayuran Organik. program
Studi Hama Penyakit
Lutony, T.L. dan Y. Rahmayani. Tanaman. Fakultas Pertanian.
2000. Produksi dan Universitas Mataram.
Perdagangan Minyak Atsiri.
Penebar Swadaya. Jakarta. Saleh, S. 1988. Statistik induktif edisi
kedua. Liberty. Yogyakarta.

10
Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Wikipedia. 2013. Kecombrang.
Minyak Atsiri. Gajah Mada Diakses Tanggal 12 Januari
University Press. 2013. Dari
Yogyakarta. http://id.wikipedia.org/wiki/K
ecombrang
Soemirat, J. 2005. Toksikologi
Lingkungan. Gadjah Mada Wikipedia. 2013. Minyak Atsiri.
University Press. Diakses Tanggal 08 April
Yogyakarta. 2014. Dari
http://id.wikipedia.org/wiki/
Sitorus, M.F. 2013. Pemanfaatan Minyak_atsiri
Daun Sukun Dengan Mat
Elektrik Dalam Membunuh World Health Organization. 2004.
Nyamuk Aedes,spp. Skripsi. Pencegahan dan
Fakultas Kesehatan Pengendalian Dengue dan
Masyarakat. Universitas Demam Berdarah Dengue:
Sumatera Utara panduan Lengkap/WHO. alih
bahasa Widyastuti. EGC.
Simanjuntak. 2005. Pengendalian Jakarta.
Vektor Secara Kimia.
Diakses Tanggal 02 April Yudhastuti, R dan A.Widiyani 2005.
2014. Dari Hubungan Kondisi
http://www.psychologymania Lingkungan, Kontainer,
.com/2012/10/cara- Dan Prilaku Masyarakat
pengendalian-vektor.html Dengan Keberadaan Jentik
Nyamuk Aedes aegypti
Supartha. 2008. Jumlah Kasus DBD. di Daerah Endemis DBD
Diakses Tanggal 02 April Surabaya. Jurnal Kesling
2014. Dari (http://kesmas- 1(2): 170-182.
unsoed.info/2011/04/makalah
-nyamuk-aedes-dan-
pengendaliannya.html)

Syamsuhidayat, S. Sugiati dan


J.R.Hutapea. 1991.
Inventaris Tanaman Obat
Indonesia (1). Badan
Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.

11