Anda di halaman 1dari 5

A.

Pengertian tunanetra
Tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra dalam kamus lengkap bahasa indonesia,
kata tuna berarti memiliki, tidak punya, luka atau rusak. Sedangkan netra berarti
penglihatan. Jadi tunanetra adalah tidak memiliki atau rusak penglihatannya.

Persatuan Tunanetra indonesia/ pertuni(2014) mendefinisikan tunanetra sebagai


berikut: orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali( buta
total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetap tidak mampu
menggunakan penglihatannya untuk membca tulisan biasa berukuran 12 point dalam
keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata( kurang awas )

Ini berarti bahwa seorang tunanetra mungkin tidak mempunyai penglihatan sama
sekali meskipun hanya untuk membedakan antara terang dan gelap. Orang dengan kondisi
penglihatan seperti ini kita katakn sebagai “buta total”.

Pihak lain,ada orang tunanetra yang masih mempunyai sedikit sisa penglihatan
sehinnga mereka masih dapat menggunakan sisa penglihatannya itu untuk melakukan
berbagai kegiatan sehari-hari termasuk untuk membaca tulisan berukuran besar(lebih besar
dari 12 point) setelah dibantu dengan kaca mata.

Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang
mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat
gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih
mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra
dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah
horisontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra
berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman,
pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang
memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

B. Klasifikasi

 Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan:

1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir, yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki
pengalaman penglihatan.
2. Tunanetra setelah lahir dan atau pada usia kecil, yaitu mereka telah memiliki kesan-
kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
3. Tunenatra pada usia sekolah atau pada masa remaja, yaitu mereka telah memiliki
kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap prosees
perkembangan pribadi.
4. Tunanetra pada usia dewasa,pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran
mampu melakukan latihan-latihan penyusuaian diri.
5. Tunanetra dalam usia lajut,sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan
penyusuaian diri.
6. Tunanetra akibat bawaan.

 Berdasarkan kemampuan daya penglihatan:

1. Tunanetra ringan
2. Tunanetra setengah berat.
3. Tunanetra berat.

 Berdasarkan pemeriksaan klinik.

 Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata:

1. Myopia;adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang
retina.
2. Hyperopia; adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan
retina.
3. Astigmatisme; adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan karena
ketidak beresan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga
bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh dipada
retina.untuk penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa
silindris.

C. Penyebab Tunanetra

 Pre-natal: Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal Sangat erat


hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam
kandungan
 Post-natal: Faktor penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat
terjadi sejak atau setelah bayi lahir, antara lain: kerusakan pada mata atau syaraf mata
pada waktu persalinan hamil ibu menderita penyakit gonorrhoe, penyakit mata lain
yang menyebabkan ketunanetraan, seperti trachoma,dan akibat kecelakaan.

D. Karakteristik Tunanetra
 Tunanetra

1. Fisik: Keadan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak sebaya
lainnya.perbedaan nyata diantaranya mereka hanya terdapat pada organ
penglihatannya. Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik antara lain: mata
juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, gerakan mata tak
beraturan dan cepat, mata selalu berair dan sebagainya.
2. Perilaku

1) Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal
anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini:

a. Menggosok mata secara berlebihan


b. Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau
mencondongkan kepala ke depan.
c. Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat
memerlukan penggunaan mata.
d. Berkedip lebih banyak daripada biasanya atau lekas marah apabila
mengerjakan suatu pekerjaan.
e. Membawa bukunya ke dekat mata.
f. Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh.
g. Menyipitkan mata atau mengkerutkan dahi.
h. Tidak tertarik perhatiannya pada objek penglihatan atau pada tugas-
tugas yang memerlukan penglihatan seperti melihat gambar atau membaca.
i. Janggal dalam bermain yang memerlukan kerjasama tangan dan mata.
j. Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau memerlukan
penglihatan jarak jauh.

2) Penjelasan lainnya berdasarkan adanya beberapa keluhan seperti:


(a) Mata gatal, panas atau merasa ingin menggaruk karena gatal.
(b) Banyak mengeluh tentang ketidakmampuan dalam melihat.
(c) Merasa pusing atau sakit kepala.
(d) Kabur atau penglihatan ganda.

3.Psikis: Tidak berbeda jauh dengan anak normal. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada
pada batas atas sampai batas bawah. Kadangkala ada keluarga yang belum siap menerima
anggota keluarga yang tuna netra sehingga menimbulkan ketegangan/gelisah di antara
keluarga. Seorang tunanetra biasanya mengalami hambatan kepribadian seperti curiga
terhadap orang lain, perasaan mudah tersinggung dan ketergantungan yang berlebihan.
Secara psikhis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Mental/intelektual
Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan
anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai
batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang
pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi,
asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih,
gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
2) Sosial
Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah hubungan dengan
ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di lingkungan keluarga. Kadang kala
ada orang tua dan anggota keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak
tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat dari
keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan orang lain terhadap
dirinya.

 Tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan


timbulnya beberapa masalah antara lain:

(1) Curiga terhadap orang lain


Akibat dari keterbatasan rangsangan visual, anak tunanetra kurang mampu berorientasi
dengan llingkungan, sehingga kemampuan mobilitaspun akan terganggu. Sikap berhati-
hati yang berlebihan dapat berkembang menjadi sifat curiga terhadap orang lain.
Untuk mengurangi rasa kecewa akibat keterbatasan kemampuan bergerak dan berbuat,
maka latihan-latihan orientasi dan mobilitas, upaya mempertajam fungsi indera lainnya
akan membantu anak tunanetra dalam menumbuhkan sikap disiplin dan rasa percaya diri.

(2) Perasaan mudah tersinggung


Perasaan mudah tersinggung dapat disebabkan oleh terbatasnya rangsangan visual yang
diterima. Pengalaman sehari-hari yang selalu menumbuhkan kecewa menjadikan seorang
tunanetra yang emosional.

(3) ketergantungan yang berlebihan


Ketergantungan ialah suatu sikap tidak mau mengatasi kesulitan diri sendiri, cenderung
mengharapkan pertolongan orang lain. Anak tunanetra harus diberi kesempatan untuk
menolong diri sendiri, berbuat dan bertanggung jawab. Kegiatan sederhana seperti
makan, minum, mandi, berpakaian, dibiasakan dilakukan sendiri sejak kecil.

 Penurunan penglihatan (Low vision)

Beberapa ciri yang tampak pada anak low vision antara lain:

a. Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat


b. Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar.
c. Mata tampak lain; terlihat putih di tengah mata (katarak) atau kornea (bagian bening
di depan mata) terlihat berkabut.
d. Terlihat tidak menatap lurus ke depan.
e. Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat
mencoba melihat sesuatu.
f. Lebih sulit melihat pada malam hari daripada siang hari.
g. Pernah menjalani operasi mata dan atau memakai kacamata yang sangat tebal tetapi
masih tidak dapat melihat dengan jelas.

E. Teknologi Pendukung Tunanetra


Perkembangan teknologi informasi saat ini telah banyak digunakan untuk
membantu para tunanetra. Penggunaan program seperti JAWS (pembaca layar)
membuat pengoperasian komputer menjadi dimungkinkan oleh para tunanetra.
Kegiatan membaca buku yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra
selain menggunakan huruf braille, kini dapat dilakukan dengan bantuan alat pemindai
(bahasa Inggris: scanner). Dengan menggunakan perangkat tersebut pada komputer
yang telah dilengkapi dengan piranti lunak pembaca layar, pengguna cukup meletakkan
buku di atas kaca pemindai dan program akan langsung membacanya dari teks yang
direproduksi oleh komputer.
Kesimpulan

Tunanetara adalahorag tidak memiliki atau rusak penglihatannya, tunanetra


digunakan untuk menggambarkan tingkatan kerusakan atau gangguan penglihatan yang
berat sampai pada yang sangat berat, yang dikelompokkan secara umum menjadi buta
dan kurang buta. Tunanetra juga dapat diartikan adalah seseorang yang memiliki
hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indera penglihatan.

Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan:Tunanetra sebelum dan sejak


lahir,Tunanetra setelah lahir dan atau pada usia kecil,Tunenatra pada usia sekolah atau
pada masa remaja,Tunanetra pada usia dewasa,Tunanetra dalam usia lajut,Tunanetra
akibat bawaan.Berdasarkan kemampuan daya penglihatan:Tunanetra ringan,Tunanetra
setengah berat,Tunanetra berat. Berdasarkan kelainan-kelainan pada
mata: Myopia,Hyperopia,Astigmatisme. Faktor penyebab tuna netra adalah Pre-natal
danPost-natal. Tunanetra terbagi menjadiFisik,Perilaku ,Psikis. Secara psikhis anak
tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut: Mental/intelektual,Sosial. Tunanetra
mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa
masalah antara lain: Curiga terhadap orang lain,Perasaan mudah tersinggung,
ketergantungan yang berlebihan.Penurunan penglihatan (Low vision)