Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Septum nasi merupakan struktur pada hidung (nasi) yang terbentuk oleh tulang dan

tulang rawan sehingga membagi cavum nasi menjadi dua bagian yaitu cavum nasi

kanan dan cavum nasi kiri. Selain itu septum berperan sebagai penyangga hidung dan

mempertahankan bentuk hidung normal. Pada sepertiga atas septum terdapat mukosa

penghidu. Sementara pada sisi lateral masing-masing septum terdapat struktur yang

termasuk kompleks osteomeatal sehingga kelainan pada septum dapat mempengaruhi

fungsi normal struktur didekatnya. Berdasarkan fakta tersebut maka dapat diperkirakan

bahwa kondisi patologis yang terjadi pada septum akan menimbulkan masalah yang

dapat meluas ke organ lain seperti sinus, hidung dan tenggorokan. 1,2

Deviasi septum merupakan kondisi dimana terjadi peralihan posisi septum nasi

terhadap posisinya normalnya. Termasuk didalamnya ialah bentuk septum yang tidak

lurus di tengah cavum nasi. Kelainan ini dapat muncul akibat trauma ataupun

pertumbuhan abnormal pada septum. Dengan rinoskopi anterior, kita dapat menemukan

adanya deviasi pada septum. Manajemen pada kasus ini dapat secara konservatif atau

aktif (operasi) tergantung pada keadaan klinis pasien, berat-ringannya deviasi yang

terjadi dan komplikasi yang muncul akibat kondisi tersebut. 2,3

1
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas

Nama : An. Hasan Nanil Alatas

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 10 tahun

Pekerjaan :-

Tempat tinggal : Rumah Tiga

Agama : Islam

Ruangan : Ruangan THT RSUD Dr. M. Haulussy Ambon

Tanggal Masuk : 09 April 2018

II. Anamnesis

Keluhan Utama : Hidung Tersumbat

Anamnesis terpimpin

Keluhan dialami 2 minggu yang lalu. Pasien mengeluhkan sulit bernapas pada waktu
malam hari dan mengakibatkan pasien sulit untuk tidur. Pasien selalu bernapas
dengan mulut ketika meerasa tersumbat pada hidung. Flu (-) Batuk (-) Terkadang
pasien juga merasakan telinga penuh secara bergantian.
RPD : Tidak ada
Riwayat keluarga : Tidak ada
Riwayat kebiasaan : Tidak ada
Riwayat pengobatan : Tidak ada

III. Pemeriksaan tanda vital:


Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 73x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 37,5 0C

2
IV. Pemeriksaan fisik
A. Pemeriksaan telinga
1. Otoskopi Dekstra Sinistra
Daun telinga : Nyeri tekan tragus (-) Nyeri tekan tragus (-)
Nyeri tarik aurikula (-) Nyeri tarik aurikula (-)
Liang telinga : Lapang, Lapang
Sekret (-) Sekret (-)
Membran timpani : RC (+) Intak (+) RC (+) Intak (+)
2. Pemeriksaan pendengaran
Rinne : + +
Webber : tidak ada lateralisasi
Swabach : sesuai pemeriksa sesuai pemeriksa

B. Pemeriksaan hidung
1. Inspeksi hidung Dekstra Sinistra
Rinoskopi anterior
- Cavum : Lapang, sekret (+) Lapang, sekret (-)
- Conca : Hiperemis (+), udem (+) Hiperemis (-), udem (-)
- Septum: Deviasi (+) Deviasi (-)

2. Rhinoskopi posterior: Tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Tenggorokan
1. Inspeksi
Tonsil : T1/T1
Dinding Faring : Hiperemis (-), granuler (-), post nasal drip (-)
Uvula : Deviasi (-)

2. Laringoskopi indirek : tidak dilakukan

D. Pemeriksaan Leher :
Kelenjar Limfe: tidak terdapat pembesaran
Tyroid : tidak terdapat pembesaran
Nodul : tidak terdapat pembesaran

V. RESUME
- Pasien Anak usia 10 tahun datang dengan keluhan hidung tersumbat.
Keluhan dialami ± 2 minggu lalu, sulit bernapas pada waktu malam hari
dan pasien sulit untuk tidur. Pada pemeriksaan Rhinoskopi Anterior :
Conca dextra Hiperemis (+), udem (+) dan deviasi septum (+).
-

3
VI. Diagnosis : Deviasi Septum.
VII.Diagnosis banding : Rhinitis Alergi, Polip Hidung

VIII. Terapi :
- Cetrizine 2 x 5 mg
- Iliadin Spray

IX. Anjuran :
- Konsumsi obat sesuai aturan
- Jauhi faktor yang meyebabkan pasien sulit bernapas
- Jangan mengkonsumsi minuman dingin

4
BAB III

PEMBAHASAN

DEVIASI SEPTUM NASI


3.1 Anatomi

Septum nasi merupakan struktur pada hidung (nasi) yang membagi cavum nasi
menjadi dua bagian yaitu cavum nasi kanan dan cavum nasi kiri. Septum dibentuk oleh
tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid,
vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan
adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum dilapisi oleh
perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan
diluarnya dilapisi oleh mukosa hidung.1,4

Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rongga hidung, tetapi pada orang
dewasa biasanya tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum yang ringan tidak
akan mengganggu, akan tetapi bila deviasi itu cukup berat akan menyebabkan
penyempitan pada satu sisi hidung. Dengan demikian dapat terjadi gangguan fungsi
hidung dan menyebabkan komplikasi.2

3.2 Definisi dan Klasifikasi

Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi septum nasi
dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum menurut Mladina
dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu :
1. Tipe I : benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II : benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun
masih
belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III : deviasi pada konka media (area osteomeatal dan meatus media).
4. Tipe IV : “S” septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).
5. Tipe V : tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain
masih

5
normal.
6. Tipe VI : tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga
menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII : kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.1,6

Gambar 6. Klasifikasi Deviasi Septum Nasi Menurut Mladina

6
Bentuk-bentuk dari deformitas septum nasi berdasarkan lokasinya, yaitu :

1) Spina dan Krista


Merupakan penonjolan tajam tulang atau tulang rawan septum yang dapat terjadi
pada pertemuan vomer di bawah dengan kartilago septum dan atau os ethmoid
di atasnya. Bila memanjang dari depan ke belakang disebut krista, dan bila
sangat runcing dan pipih disebut spina. Tipe deformitas ini biasanya merupakan
hasil dari kekuatan kompresi vertikal.

2) Deviasi
Lesi ini lebih karakteristik dengan penonjolan berbentuk ‘C’ atau ‘S’ yang dapat
terjadi pada bidang horisontal atau vertikal dan biasanya mengenai kartilago
maupun tulang.

3) Dislokasi
Batas bawah kartilago septum bergeser dari posisi medialnya dan menonjol ke
salah satu lubang hidung. Septum deviasi sering disertai dengan kelainan pada
struktur sekitarnya.

4) Sinekia
Bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan konka di
hadapannya. Bentuk ini akan menambah beratnya obstruksi.1,2

Kelainan struktur akibat deviasi septum nasi dapat berupa :

1) Dinding Lateral Hidung


Terdapat hipertrofi konka dan bula ethmoidalis. Ini merupakan kompensasi yang
terjadi pada sisi konkaf septum.

2) Maksila
Daya kompresi yang menyebabkan deviasi septum biasanya asimetri dan juga
dapat mempengaruhi maksila sehingga pipi menjadi datar, pengangkatan lantai
kavum nasi, distorsi palatum dan abnormalitas ortodonti. Sinus maksilaris
sedikit lebih kecil pada sisi yang sakit.

3) Piramid Hidung
Deviasi septum nasi bagian anterior sering berhubungan dengan deviasi pada
piramid hidung.

7
4) Perubahan Mukosa
Udara inspirasi menjadi terkonsentrasi pada daerah yang sempit menyebabkan
efek kering sehingga terjadi pembentukan krusta. Pengangkatan krusta dapat
menyebabkan ulserasi dan perdarahan. Lapisan proteksi mukosa akan hilang dan
berkurangnya resistensi terhadap infeksi. Mukosa sekitar deviasi akan menjadi
edema sebagai akibat fenomena Bernouili yang kemudian menambah derajat
obstruksi.1

Jin RH dkk membagi deviasi septum berdasarkan berat atau ringannya keluhan :
1) Ringan
Deviasi kurang dari setengah rongga hidung dan belum ada bagian septum yang
menyentuh dinding lateral hidung.
2) Sedang
Deviasi kurang dari setangah rongga hidung tetapi ada sedikit bagian septum
yang menyentuh dinding lateral hidung.
3) Berat
Deviasi septum sebagian besar sudah menyentuh dinding lateral hidung.3

Jin RH dkk juga mengklasifikasikan deviasi septum menjadi 4, yaitu :


1) Deviasi lokal termasuk spina, krista dan dislokasi bagian kaudal
2) Lengkungan deviasi tanpa deviasi yang terlokalisir
3) Lengkungan deviasi dengan deviasi lokal
4) Lengkungan deviasi yang berhubungan dengan deviasi hidung luar.3

Gambar 7. Klasifikasi Deviasi Septum Menurut Jin RH dkk

8
3.3 Etiologi

Deviasi septum umumnya disebabkan oleh trauma langsung dan biasanya


berhubungan dengan kerusakan pada bagian lain hidung, seperti fraktur os nasal. Pada
sebagian pasien, tidak didapatkan riwayat trauma, sehingga Gray (1972)
menerangkannya dengan teori birth Moulding. Posisi intrauterin yang abnormal dapat
menyebabkan tekanan pada hidung dan rahang atas, sehingga dapat terjadi pergeseran
septum. Demikian pula tekanan torsi pada hidung saat kelahiran (partus) dapat
menambah trauma pada septum.1,2

Faktor risiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan. Setelah lahir, resiko
terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate, judo) dan
tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara.1,3

Penyebab lainnya ialah ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum


nasi terus tumbuh, meskipun batas superior dan inferior telah menetap, juga karena
perbedaan pertumbuhan antara septum dan palatum. Dengan demikian terjadilah deviasi
septum.2

3.4 Gejala Klinis

Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau
juga bilateral. Hal ini terjadi karena pada sisi hidung yang mengalami deviasi terdapat
konka yang hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi
sebagai akibat mekanisme kompensasi. Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan
di sekitar mata. Selain itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada
bagian atas septum. Deviasi septum juga dapat menyumbat ostium sinus sehingga
merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis.2

Jadi deviasi septum dapat menyebabkan satu atau lebih dari gejala berikut ini :
♣ Sumbatan pada salah satu atau kedua nostril
♣ Kongesti nasalis biasanya pada salah satu sisi
♣ Perdarahan hidung (epistaksis)
♣ Infeksi sinus (sinusitis)
♣ Kadang-kadang juga nyeri pada wajah, sakit kepala, dan postnasal drip.

9
♣ Mengorok saat tidur (noisy breathing during sleep), terutama pada bayi dan
anak.6,7

Pada beberapa kasus, seseorang dengan deviasi septum yang ringan hanya
menunjukkan gejala ketika mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti common
cold. Dalam hal ini, adanya infeksi respiratori akan mencetuskan terjadinya inflamasi
pada hidung dan secara perlahan-lahan menyebabkan gangguan aliran udara di dalam
hidung. Kemudian terjadilah sumbatan/obstruksi yang juga terkait dengan deviasi
septum nasi. Namun, apabila common cold telah sembuh dan proses inflamasi mereda,
maka gejala obstruksi dari deviasi septum nasi juga akan menghilang.7

3.5 Diagnosis

Deviasi septum biasanya sudah dapat dilihat melalui inspeksi langsung pada
batang hidungnya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat dilihat penonjolan septum
ke arah deviasi jika terdapat deviasi berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemeriksaan
bisa normal.1

Penting untuk pertama-tama melihat vestibulum nasi tanpa spekulum, karena


ujung spekulum dapat menutupi deviasi bagian kaudal. Pemeriksaan seksama juga
dilakukan terhadap dinding lateral hidung untuk menentukan besarnya konka. Piramid
hidung, palatum, dan gigi juga diperiksa karena struktur-struktur ini sering terjadi
gangguan yang berhubungan dengan deformitas septum.1,2

Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagnosisnya.


Pada pemeriksaan Rontgen kepala posisi antero-posterior tampak septum nasi yang
bengkok. Pemeriksaan nasoendoskopi dilakukan bila memungkinkan untuk menilai
deviasi septum bagian posterior atau untuk melihat robekan mukosa. Bila dicurigai
terdapat komplikasi sinus paranasal, dilakukan pemeriksaan X-ray sinus paranasal.1

3,6 Penatalaksanaan
♣ Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dilakukan tindakan
koreksi septum.
♣ Analgesik, digunakan untuk mengurangi rasa sakit.
♣ Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung.

10
♣ Pembedahan :

o Septoplasty (Reposisi Septum)


Septoplasty merupakan operasi pilihan (i) pada anak-anak, (ii) dapat
dikombinasi dengan rhinoplasty, dan (iii) dilakukan bila terjadi dislokasi
pada bagian caudal dari kartilago septum. Operasi ini juga dapat dikerjakan
bersama dengan reseksi septum bagian tengah atau posterior.
Pada operasi ini, tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian
yang berlebihan saja yang dikeluarkan. Dengan cara operasi ini dapat
dicegah komplikasi yang mungkin timbul pada operasi reseksi submukosa,
seperti terjadinya perforasi septum dan saddle nose. Operasi ini juga tidak
berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan wajah pada anak-anak.

o SMR (Sub-Mucous Resection)


Pada operasi ini, muko-perikondrium dan muko-periosteum kedua sisi
dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang
rawan dari septum kemudian diangkat, sehingga muko-perikondrium dan
muko-periosteum sisi kiri dan kanan akan langsung bertemu di garis
tengah.
Reseksi submukosa dapat menyebabkan komplikasi, seperti terjadinya
hidung pelana (saddle nose) akibat turunnya puncak hidung, oleh karena
bagian atas tulang rawan septum terlalu banyak diangkat. Tindakan operasi
ini sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak karena dapat mempengaruhi
pertumbuhan wajah dan menyebabkan runtuhnya dorsum nasi.2,8,9

3.7 Komplikasi

Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor


predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu, deviasi septum juga menyebabkan ruang
hidung sempit, yang dapat membentuk polip. Sedangkan komplikasi post-operasi,
diantaranya :
1) Uncontrolled Bleeding. Hal ini biasanya terjadi akibat insisi pada hidung atau
berasal dari perdarahan pada membran mukosa.

11
2) Septal Hematoma. Terjadi sebagai akibat trauma saat operasi sehingga
menyebabkan pembuluh darah submukosa pecah dan terjadilah pengumpulan
darah. Hal ini umumnya terjadi segera setelah operasi dilakukan.
3) Nasal Septal Perforation. Terjadi apabila terbentuk rongga yang menghubungkan
antara kedua sisi hidung. Hal ini terjadi karena trauma dan perdarahan pada kedua
sisi membran di hidung selama operasi.
4) Saddle Deformity. Terjadi apabila kartilago septum terlalu banyak diangkat dari
dalam hidung.
5) Recurrence of The Deviation. Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki
deviasi septum yang berat yang sulit untuk dilakukan perbaikan.7,8

3.8 Prognosis

Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi dari septum
nasi dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Prognosis pada pasien deviasi
septum setelah menjalani operasi cukup baik dan pasien dalam 10-20 hari dapat
melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Hanya saja pasien harus memperhatikan
perawatan setelah operasi dilakukan. Termasuk juga pasien harus juga menghindari
trauma pada daerah hidung.1

12
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada laporan kasus ini disampaikan kasus dengan topik deviasi septum. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Janardan J. Rao dkk, pada kasus deviasi septum,
keluhan terbanyak yang didapatkan yaitu obstruksi hidung, rinorea, sakit kepala dan
bersin-bersin. Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang
unilateral atau juga bilateral. Hal ini terjadi karena pada sisi hidung yang mengalami
deviasi terdapat konka yang hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka
yang hipertrofi sebagai akibat mekanisme kompensasi. Berdasarkan aspek anatomis dan
fisiologis dimana hidung sangat berkaitan erat dengan struktur disekitarnya seperti
sinus, telinga dan tenggorokan maka pasien dengan deviasi septum dapat datang dengan
keluhan tidak terbatas hanya pada daerah hidung. Seperti halnnya pada kasus ini, pasien
justru datang dengan keluhan telinga terdkadang rasa penuh secara bergantian. Pada
laporan kasus ini, didapatkan hasil pemeriksaan fisik (rinoskopi anterior) berupa deviasi
bentuk huruf ‘c’, disertai oleh hipertrofi konka media kompensatori yang diakibat oleh
cavum nasi yang berbeda ukuran pada pasien ini.
Dalam manajemen kasus ini, untuk memutuskan apakah diterapi konservatif atau
operatif adalah tergantung pada derajat manifestasi klinis yang muncul. Deviasi yang
ringan biasanya biasanya memunculkan manifestasi yang ringan sehingga cukup
diberikan terapi simptomatis. Sementara deviasi yang berat hingga menimbulkan
komplikasi sebaiknya segera dilakukan operasi. 1,4

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Budiman BJ, Asyari A. Pengukuran Sumbatan Hidung Pada Deviasi Septum


Nasi. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas : Padang. 28 Juli 2011 : hlm 1-7. Available at :
http://repository.unand.ac.id/17339/1/Pengukuran_Sumbatan_Hidung_Pada_Deviasi
_Septum.pdf (Accessed : 2012 April 7)

2. Nizar NW, Mangunkusumo E. Kelainan Septum. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N,


Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Cetakan Keempat. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 2010 : hlm 126-127.

3. Jin HR, Lee JY, Jung WJ. New Description Method and Classification System for
Septal Deviation. Department of Otorhinolaryngology, Seoul National University,
College of Medicine, Boramae Hospital : Seoul. Journal Rhinology, 2007; 14 : 27-
31. Available at :
http://www.doctorjin.co.kr/Journal%20PDF/50%20New%20description%20method
%20and%20classification%20system%20for%20septal%20deviation_2007_06.pdf
(Accesed : 2012 April 5)

4. Higler PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : Adams GL, Boies
LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Cetakan Ketiga. Jakarta :
EGC. 1997 : hlm 173-188.

5. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam : Soepardi EA,


Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Cetakan Keempat. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI. 2010 : hlm 118-122.

6. Baumann I, Baumann H. A New Classification of Septal Deviations. Department of


Otolaryngology, Head and Neck Surgery, University of Heidelberg : Germany.
Journal of Rhinology, 2007; 45 : 220-223. Available at :
http://www.rhinologyjournal.com/Rhinology_issues/44_Baumann.pdf (Accessed :
2012 April 7)

14
7. Park JK, Edward IL. Deviated Septum. The Practice of Marshfield Clinic, American
Academy of Otolaryngology – Head and Neck Surgery. 2005. Available at :
http://www.marshfieldclinic.org/proxy/MC-ent-DeviatedSeptum.1.pdf (Accessed :
2012 April 7)

8. Bull PD. The Nasal Septum. In : Lecture Notes on Diseases of The Ear, Nose and
Throat. Ninth Edition. USA : Blackwell Science Ltd. 2002 : p. 81-85.

9. Widjoseno-Gardjito, editor. Kepala dan Leher. Dalam : Sjamsuhidajat R, Wim de


Jong, editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Cetakan I. Jakarta : EGC. 2005 : hlm
365-366.

15