Anda di halaman 1dari 19

Psoriasis pada Kulit

Febby Farihindarto (102011246), Gerald Stefano N (102016004), Yanfrin Taslim


(102016111), Inggumi B (102012372), Emelia S (102014209), Msy. Iftitah (102016069),
Luthfia Ayu Wicaksana (102016129), Sinaga Olvani M (102016176), Fatin Batrisyia B
(102016256)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi: Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telepon: (021) 5694-2061, fax:
(021) 563-1731

Abstrak

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis inflamatorik dengan faktor genetik yang kuat, dengan ciri
gangguan perkembangan dan diferensiasi epidermis, abnormalitas pembuluh darah, faktor imunologis dan
biokimiawi, serta fungsi neurologis. Psoriasis ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan; disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz,
dan Kobner. Psoriasis dapat mengenai bagian siku, lutut atau kulit kepala dan seluruh bagian tubuh.
Pengobatan dapat diberikan secara farmakologi dalam bentuk topical dan sistemik, serta non-farmakologi.

Kata kunci : Psoriasis, skuama, faktor genetik

Abstract

Psoriasis is an inflammatory chronic skin disease with a strong genetic factor, characterized by
developmental disorders and differentiation of the epidermis, vascular abnormalities, immunological and
biochemical factors, and neurological function. Psoriasis is characterized by the presence of tightly
defined erythema spots with a coarse, multi-layered and transparent skuama; accompanied by the
phenomenon of wax droplets, Auspitz, and Kobner. Psoriasis may affect the elbows, knees or scalp and
all parts of the body. Treatment may be given pharmacologically in topical and systemic forms, as well as
non-pharmacologically.

Keywords: Psoriasis, skuama, genetic factor

1
Pendahuluan

Kulit merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting. Kulit memungkinkan
manusia untuk hidup dalam berbagai suhu, melindungi dari kuman, dan merasakan sensasi.
Karena kulit berada pada bagian luar dari tubuh, maka kulit seringkali menjadi sarana pertama
dari rngsangan benda hidup maupun benda mati. Rangsangan dari luar inilah yang memicu
mekanisme perlindungan dan pertahanan local dari kulit. Apabila terjadi kerusakan pada kulit,
maka dapat menimbulkaan kelainan pada kulit. Salah satu contoh kelainan kulit yang sering
dijumpai adalah psoriasis. Melalui makalah ini, penulis akan membahas mengenai psoriasis.

Anamnesis

Anamnesis adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara, baik langsung
kepada pasien (autonamnesis) maupun kepada orang tua atau sumber lain (aloanamnesis) yang
memiliki tiga tujuan utama yaitu mengumpulkan informasi, membagi informasi, dan membina
hubungan saling percaya untuk mendukung kesejahteraan pasien. Dalam kasus ini, dokter
melakukan anamnesis secara langsung karena kondisi pasien dalam keadaan sadar. Riwayat
kesehatan yang perlu dikumpulkan meliputi (1) Identifikasi data meliputi nama, usia, jenis
kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan, dan status perkawinan; (2) Keluhan utama yang
berasal dari kata-kata pasien sendiri yang menyebabkan pasien mencari perawatan; (3) Penyakit
saat ini meliputi perincian tentang tujuh karakteristik gejala dari keluhan utama yaitu lokasi,
kualitas, kuantitas, waktu terjadinya gejala, kondisi saat gejala terjadi, faktor yang meredakan
atau memperburuk penyakit, dan manifestasi terkait (hal-hal lain yang menyertai gejala); (4)
Riwayat kesehatan masa lalu seperti pemeliharaan kesehatan (5) Riwayat keluarga yaitu diagram
usia dan kesehatan, atau usia dan penyebab kematian dari setiap hubungan keluarga yang paling
dekat mencakup kakek-nenek, orang tua, saudara kandung, anak, cucu dan (6) Riwayat Pribadi
dan Sosial seperti aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, situasi rumah dan orang terdekat, sumber
stress jangka pendek dan panjang dan pendidikan.1

Pada kasus diketahui bahwa laki-laki berusia 40 tahun mengeluh adanya bercak merah
bersisik pada lengan sejak 6 minggu lalu, bercak bersisik juga disertai rasa gatal. Makin lama,
bercak makin luas dan sisik bertambah tebal.

2
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah menyeluruh mulai dari keadaan umum,
kesadaran, tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi
pernapasan. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan fisik dengan inspeksi dan palpasi. Pada
inspeksi kulit, harus dilakukan di bawah pencahayaan yang baik. Secara umum hal yang harus
diperhatikan adalah lokasi dan distribusi anatomisnya, susunan dan bentuknya, tipe, warna. Pada
palpasi hal yang harus diperhatikan adalah suhu, kelembaban, sensitivitas, tekstur, mobilitas,
turgor.1,2

Kelainan kulit pada psoriasis terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak)
dengan skuama di atasnya. Diameternya bervariasi, mulai dari milier, lentikular, numular,
sampai plakat, dan berkonfluensi, dengan gambaran yang beraneka ragam, dapat arsinar, sirsinar,
polisiklis atau geografis. Tempat predileksi pada ekstremitas bagian ekstensor terutama (siku,
lutut, lumbosakral), daerah intertigo (lipat paha, perineum, aksila), skalp, perbatasan skalp
dengan muka, telapak kaki dan tangan, tungkai atas dan bawah, umbilikus, serta kuku.3

Gambar 1. Psoriasis4

Pada penyakit psoriasis ditemukan adanya berbagai fenomena, yaitu fenomena tetesan
lilin, fenomena Auspitz dan fenomena Köbner. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang
berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin yang digores disebabkan oleh
berubahnya indeks bias. Cara menggores dapat menggunakan pingir gelas alas. Fenomena
Auspitz dapat diperiksa dengan melakukan kerokan pada lesi yang timbul. Pada penderita

3
psoriasis, akan timbul titik-titik perdarahan pada lesi yang dikerok. Fenomena Köbner dapat
diperiksa dengan menggores kulit yang tidak terdapat lesi. Pada fenomena Köbner akan timbul
lesi baru pada daerah yang digores, lesi baru timbul dalam waktu sekitar 4 minggu.3,5

Selain di kulit, 20-50% penderita psoriasis yang lama juga dapat menyebabkan kelainan
pada kuku berupa pitting nail atau nail pit pada lempeng kuku. Perubahan pada kuku terdiri dari
onikolosis, hiperkeratosis subungual, oil spots subungual, dan koilonikia. Antara 10-30 % pasien
psoriasis berhubungan dengan atritis disebut Psoriasis Artritis yang menyebabkan radang pada
sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal,
terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun.3

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendukung diagnosis


yang ingin didapatkan. Pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan psoriasis adalah
pemeriksaan histopatologik. Secara histopatologik, terdapat akantosis dengan elongasi rete dan
mitosis di atas lapisan basal. Tampak hiperkeratosis dan parakeratosis dengan penipisan atau
menghilangnya stratum granulosum. Epidermis diatas papila dermal menipis, pembuluh-
pembuluh berdilatasi didalam papila ini yang mengakibatkan perdarahan titik (pinpoint) bila
sisik diatasnya diangkat (tanda
auspitz).3

Gambar 2. Perbandingan histopatologi antara kulit normal dan psoriasis5

Kerokan atau guntingan bahan-bahan dari kulit, rambut atau kuku dapat langsung
diperiksa di bawah mikroskop atau dikultur. Hal ini bermanfaat khususnya bila dicurigai adanya
infeksi jamur. Kerokan ditetesi kalium hidroksida (KOH) 10% untuk melarutkan sel epidermis

4
dan kemudian diperiksa. Terhadap gunting kuku bisa dilakukan hal yang sama, tetapi
memerlukan larutan KOH yang lebih pekat dan waktu yang lebih lama.2,3

Pemeriksaan lampu Wood adalah prosedur yang menggunakan transiluminasi (cahaya)


untuk mendeteksi infeksi kulit karena bakteri atau jamur. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi
gangguan pigmen kulit seperti vitiligo. Biasanya, cahaya akan terlihat ungu dan kulit tidak akan
berpendar (bersinar) atau terlihat bercak di bawah lampu Wood. Kulit akan berubah warna jika
ada jamur atau bakteri, karena beberapa jamur dan beberapa bakteri secara alami bercahaya di
bawah sinar ultraviolet.5,6

Tes VDRL adalah tes skrining untuk sifilis. Tes ini mengukur antibodi, yang diproduksi
tubuh setelah terinfeksi dengan bakteri yang menyebabkan sifilis. Salah satu tes spesifik untuk
sifilis adalah tes TPHA, yang merupakan tes hemaglutinasi pasif berdasarkan hemaglutinasi
eritrosit yang peka dengan antigen Treponema pallidum, oleh antibodi yang ditemukan dalam
serum atau plasma pasien. Tes VDRL dan TPHA dapat dilakukan untuk menyingkirkan
diagnosis banding psoriasisformis sifilis.6

Diagnosis

Working Diagnosis (WD)

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan lelaki tersebut terkena penyakit psoriasis.


Psoriasis adalah penyakit kulit inflamantoris kronik, tidak menular yang disebabkan oleh
autoimun, bersifat kronik dan residif, dan ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema yang
meninggi (plak) berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis, menebal, berwarna
putih seperti mika (mica-like scale), serta transparan. Pada kasus psoriasis akan ditemukan
fenomena lilin, Auspitz, dan Kobner. Letaknya dapat terlokalisir, misalnya pada siku, lutut, atau
kulit kepala atau dapat menyerang hampir 100% luas tubuhnya.3

Differential Diagnosis (DD)

Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik mempunyai predileksi pada daerah yang berambut, karena banyak
kelenjar sebasea, yaitu kulit kepala, retroaurikula, alis mata, bulu mata, nasolabialis, telinga,
leher, dada, daerah lipatan, aksila, inguinal, glutea, dibawah buah dada,. Distribusinya bilateral

5
dan simetris berupa bercak atau plakat dengan batas yang tidak jelas, eritema ringan dan sedang,
skuama berminyak dan kekuningan, tidak menyebabkan kerontokan rambut. Bakteri kulit
Pityrosporon ovale dan spesies piokok berkembang biak dipermukaan kulit. Ruamnya berbeda-
beda, sering ditemukan pada permukaan kulit yang berminyak. Ruamnya berupa skuama yang
berminyak, berwarna kuning, dengan batas yang tidak jelas dan dasar berwarna merah.3

Gambar 2. Dermatitis Seboroik4

Ptiriasis Rosea

1. Ptiriasis rosea adalah dermatitis eruptif yang sering ditemukan terutama mengenai orang
berusia 10 sampai 35 tahun. Ptiriasis rosea belum diketahui penyebabnya, dan dimulai
dengan sebuah lesi insialnya adalah sebuah plak tipis solitar, oval, anular eritematosa
berdiameter kira-kira 3 cm dengan skuama halus dipinggirnya pada batang tubuh (herald
patch). Kemudian disusul oleh lesi-lesi yang lebih kecil dibadan, lengan dan paha atas yang
tersusun sesuai dengan lipatan kulit dan biasanya menyembuh dalam waktu 3-8 minggu.
Tempat predileksi pada batang tubuh, lengan bagian proksimal dan tungkai atas.
Perbedaannya dengan psoriasis adalah pada psoriasis biasanya berukuran lebih kecil dan
tidak tersusun sesuai lipatan kulit, selain itu skuamanya tebal.2,3

6
Gambar 3. Ptiriasis rosea4

Tinea Korporis

Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan dermatofita, menyerang
daerah kulit tidak berambut pada wajah, badan, dan tungkai. Jamur dermatofit tersering adalah
Epidermophyton flocccosum atau T. Rubrum. Tinea korporis memiliki keluhan utama yaitu gatal
pada saat berkeringat, makula hiperpigmentasi dengan tepi yang lebih aktif. Oleh karena gatal
dan digaruk lesi makin meluas, terutama pada bagian yang lembap. Lokalisasi lesi terdapat di
wajah, anggota gerak atas dan bawah, dada, punggung.3-5

Lesi umumnya anular (seperti cincin) dengan perluasan ke perifer dan penyembuhan di
bagian tengah. Dapat muncul cincin-cincin konsentrik, tepi aktif berskuama kadang menjadi
pustular ataau vesikular, lesinya satu atau banyak. Jika lesi multipel maka distribusi biasanya
asimetrik. Perbedaan dengan psoriasis adalah tempat predileksi dan faktor penyebabnya.3-5

Gambar 4. Tinea Corporis4

7
Sifilis Sekunder

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit sifilis
pada stadium II muncul sekitar 6-8 minggu setelah sifilis primer. Lesi pada kulit yang
ditimbulkan oleh sifilis pada stadium II merupakan lesi eritem psoriasisformis sehingga lesi
kulitnya mirip dengan psoriasis. Gejala yang paling penting untuk membedakannya dari berbagai
macam penyakit kulit ialah umumnya kelainan kulit pada sifilis tidak gatal, disertai dengan
adanya limfadenitits generalisata dan sering dijumpai demam, mialgia, sakit flu dan sakit kepala..
Pada Sifilis stadium II dini kelainan kulit juga terjadi pada telapak tangan dan kaki. Lesi dapat
berbentuk rosela, papul dan pustul atau bentuk lain.3,5

Gambar 5. Sifilis Sekunder4

Etiologi
Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis inflamatorik dengan faktor genetik yang kuat,
dengan ciri gangguan perkembangan dan diferensiasi epidermis, abnormalitas pembuluh darah,
faktor imunologis dan biokimiawi, serta fungsi neurologis. Penyebab dasarnya belum diketahui
pasti. Dahulu diduga berkaitan dengan gangguan primer keratinosit, namun berbagai penelitian
telah mengetahui adanya peran imunologis.5
Berbagai faktor pencetus lain pada psoriasis diantaranya adalah stress psikis, stres bisa
merangsang kekambuhan psoriasis dan cepat menjalar bila kondisi pasien tidak stabil. Selain itu,
infeksi, trauma (Fenomenan Kobner), gangguan metabolik, obat (β-adrenergic blocking agents,

8
litium, antimalaria, dan penghentian mendadak kortikosteroid sistemik) juga berperan pada
psoriasis.3

Epidemiologi
Psoriasis biasanya terjadi pada semua usia. Rata-rata insidensi puncak berada pada umur
22,5 tahun (pada anak rata-rata adalah 8 tahun), sedangkan pada orang tua berada pada umur 55
tahun. Biasanya orang yang terkena psoriasis memiliki riwayat psoriasis pada keluarganya. Baik
pria maupun wanita memiliki resiko yang sama untuk terkena psoriasis. Insiden biasanya terjadi
di Negara Barat. Di Indonesia pencatatan pernah dilakukan oleh sepuluh RS besar dengan angka
prevalensi pada tahun1996,1997,1998 berturut-turut 0.62%, 0,59%, dan 0.92%. Psoriasis terus
mengalami peningkatan jumlah di Indonesia.1,3,4

Patofisiologi
Sampai saat ini tidak ada pengertian yang kuat mengenai patofisiologi psoriasis. Kelainan
yang paling jelas pada psoriasis adalah perubahan kinetika sel keratinosit dengan pemendekan
siklus sel yang menghasilkan 28 kali produksi normal sel epidermis dan sel T CD8 +, yang
merupakan populasi sel T yang banyak dalam lesi. Epidermis dan dermis bereaksi sebagai sistem
terpadu: perubahan yang dijelaskan dalam lapisan germinatif epidermis dan perubahan inflamasi
pada dermis, yang memicu perubahan epidermal. Psoriasis adalah penyakit yang digerakkan sel
T dan spektrum sitokin adalah respon TH1. Pemeliharaan lesi psoriatik dianggap sebagai respons
imun autoreaktif berkelanjutan.3
Aktivasi sel T dalam pembuluh limfe terjadi setelah sel makrofag penangkap antigen
(antigen presenting cells/APC) melalui major histocompability complex (MHC)
mempresentasikan antigen tersangka dan diikat ke sel T. Setelah sel T teraktivasi sel ini
berproliferasi menjadi sel T efektor dan memori, kemudian masuk ke dalam sirkulasi sistemik
dan bermigrasi ke kulit.3
Akibat peristiwa banjirnya efek mediator, terjadi perubahan fisiologis kulit normal
menjadi keratinosit akan berproliferasi lebih cepat, normal terjadi dalam 311 jam, menjadi 36
jam dan produksi keratinosit 28 kali lebih banyak daripada epidermis normal. Pembuluh darah
akan menjadi berdilatasi, berkelok-kelok, angiogenesis, dan hipermeabilitas vaskular yang

9
diperankan oleh vaskular endothelial growth factor (VEGF) dan Vaskular permeability factor
(VPF) yang dikeluarkan oleh keratinosit.3

Manifestasi Klinik
Gambaran klinis berupa plak eritematosa diliputi skuama putih disertai titik-titik
perdarahan diliputi skuama putih disertai titik-titik perdarahan bila skuama dilepas, berukuran
dari seujung jarum sampai dengan plakat menutupi sebagian besar area tubuh, umumnya
simetris. Bercak-bercak bersisik itu muncul karena terbentuknya penumpukan kulit yang hidup
dan mati karena peningkatan pertumbuhan kulit dan pergantian kulit yang sangat cepat.3
Penyakit ini dapat menyerang kulit, kuku, mukosa, dan sendi, tetapi tidak mengganggu
rambut. Penampilan berupa infiltrate eritematosa, eritema yang muncul bervariasi dari yang
sangat cerah, sampai rasa gatal yang berwarna merah pucat. Fenomena Koebner adalah peristiwa
munculnya lesi psoriasis setelah menjadi trauma maupun mikrotrauma pada kulit oasien
psoriasis. Pada lidah dapat ditemui adanya plak putih berkonfigurasi mirip peta yang disebut
lidah geografik. Tempat predileksi pada ekstremitas bagian ekstensor terutama (siku, lutut,
lumbosakral), daerah intertigo (lipat paha, perineum, aksila), skalp, perbatasan skalp dengan
muka, telapak kaki dan tangan, tungkai atas dan bawah, umbilikus, serta kuku. Stadium akut
dapat ditemui pada orang muda, tetapi dalam waktu tidak lama dapat berubah menjadi kronik.3

Bentuk Klinis
Psoriasis Vulgaris
Kira-kira 90% pasien mengalami psoriasis vulgaris dan biasanya disebut psoriasis plakat
kronik. Lesi ini biasanya dimulai dengan macula eritematosa berukuran kurang dari satu
sentimeter atau papul yang melebar ke arah pinggir dan bergabung beberapa lesi menjadi satu,
berdiameter satu sampai beberapa centimeter. Lingkaran putih pucat mengelilingi lesi psoriasis
plakat yang disebut juga dengan Woronoff’s ring. Dengan proses pelebaran lesi yang berjalan
bertahap maka bentuk lesi dapat beragam seperti benutk utama kurva linier (psoriasis girata), lesi
mirip cincin (psoriasis anular), dan papul berskuama. Psoriasis hiperkeratonik tebal
berdiameter2-5cm disebut plak rupioid, sedangkan plak hiperkeratotik tebal berbentuk cembung
menyerupai kulit tiram disebut plak ostraseus. Umumnya dijumpai di scalp, siku, lutut,
punggung, lumbal, dan retroaurikuler. Hampir 70% pasien mengeluh gatal, nyeri dan rasa

10
terbakar, terutama bila kulit kepala terserang. Uji Auspitz ternyata tidak spesifik untuk psoriasis
karena uji positif juga dapat di jumpai pada dermatitis seboroik.3,5

Psoriasis gutata
Gutata berasal dari bahasa latin, “gutta” yang berarti “tetesan”. Jenis ini khas pada
dewasa muda, bila terjadi pada anak bersifat swasirna. Pada anak, sekitar 33% penderita
psoriasis gutata akan berkembang menjadi psoriasis plakat. Bentuk yang spesifik adalah lesi
papul eruptif berukuran 1-10 mm berwarna merah salmon, menyebar diskret secara sentripetal
terutama di badan, dapat mengenai ekstremitas dan kepala. Infeksi streptokokus beta hemolitikus
dalam bentuk faringitis, laryngitis, atau tonsillitis sering mengawali munculnya psoriasis gutata
pada pasien dengan predisposisi genetic.3

Psoriasis pustulosa
Bentuk ini merupakan manifestasi psoriasis tetapi dapat pula merupakan komplikasi lesi
klasik dengan pencetus putus obat kortikosteroid sistemik, infeksi, ataupun pengobatan topical
yang bersifat iritasi. Psoriasis pustulosa jenis von Zumbusch terjadi bila pustule yang muncul
sangat parah dan menyerang seluruh tubuh. Keadaan ini sistemik dan mengancam jiwa. Tampak
kulit yang merah, nyeri, meradang dengan pustule milier tersebar diatasnya. Pustul terletak
nonfolikuler, putih kekuningan, terasa nyeri, dengan dasar eritematosa. Pustul dapat bergabung
membentuk lake of pustules, bila mongering dan krusta lepas, maka akan meninggalkan lapisan
merah terang. Perempuan lebih sering mengalami psoriasis pustulosa dengan perbandingan 9:1,
decade 4-5 kehidupan dan sebagian besar merupakan perokok (95%). Pustul tersebut bersifat
steril sehingga tidak tepat apabila diobati dengan antibiotic.3
Psoriasis pustulosa lokalisata pada palmoplantar menyerang daerah hipotenar dan tenar,
sedangkan pada daerah plantar mengenai sisi dalam telapak kaki atau dengan sisi tumit.
Perjalanan lesi kronis residif dimulai dengan vesikel bening, vesikopustul, pustule yang parah
dan makulopapular kering coklat. Bentuk kronik disebut akrodermatitis kontinua supurativa, di
tandai munculnya pustule di ujung jari tangan dan kaki. Bila mongering, maka akan menjadi
skuama yang meninggalkan lapisan merah apabila skuama dilepas. Destruksi lempeng kuku dan
osteolisis phalanx distal sering terjadi.3

11
Gambar 6. Psoriasis vulgaris, gutata dan pustular4

Psoriasis kuku
Keterlibatan kuku hampir dijumpai pada semua jenis psoriasis meliputi 40-50% kasus,
keterlibatan kuku meningkat seiring durasi dan ekstensi penyakit. Kuku jari tangan berpeluang
lebih sering daripada kuku jari kaki. Lesinya beragam, dengan 65% kasus merupakan lesi sumur-
sumur dangkal (pits). Bentuk lainnya adalah kuku berwarna kekuning-kuningan, yang disebut
yellowish dis-coloration atau oil spots, kuku yang terlepas dari dasarnya (onikolisis).3

Psoriasis arthritis
Psoriasis ini bermanifestasi pada sendi sebanyak 30% kasus. Psoriasis ini tidak selalu
ditemui pada pemeriksaan kulit, namun lebih sering pasien datang karena sakit sendi. Keluhan
pasien yang sering dijumpai adalah atritis perifer, entesis, tenosynovitis, nyeri tulang belakang,
atralgia nonspesifik, dengan gejala kekakuan pada pagi hari. Bila mengenai distal
interphalangeal maka umumnya pasien akan mengalami psoriasis kuku.3

Eritroderma psoriatik
Lesi jenis ini dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu psoriasis universalis adalah lesi
psoriasis plakat yang luasnya hampir di seluruh tubuh tapi, tidak diikuti dengan gejala demam
atau menggigil, dapat disebabkan kegagalan terapi psoriasis plakat. Bentuk kedua adalah bentuk
yang lebih akut sebagai peristiwa mendadak vasodilatasi generalisata. Keadaan ini dapat
dicetuskan antara lain oleh infeksi, tar, obat atau putus obat kortikosteroid sistemik. Kegawat

12
daruratan dapat terjadi karena terganggunya sistem termoregulasi tubuh, payah jantung,
kegagalan fungsi hati dan ginjal.3,5

Psoriasis inversa/fleksural
Bentuk psoriasis ini mempengaruhi lipatan kulit, juga dikenal sebagai daerah
intertriginosa, seperti ketiak, di lipatan mammae, celah gluteal, lipatan retroaurikular, dan lipatan
inguinal. Bercak eritematosa tipis, berbatas tegas tanpa deskuamasi adalah lesi kulit yang khas.
Psoriasis inversa dapat terjadi sendiri tetapi lebih sering disertai dengan psoriasis vulgaris di
tempat lain.3

Gambar 7. Eritroderma psoriatic, dan psoriasis inversa4


Komplikasi
Pasien dengan psoriasis memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang meningkat
terhadap gangguan kardiovaskuler terutama pasien psoriasis berat dan lama, Resiko infark
miokard terutama sekali terjadi pada pasien psoriasis muda yang menderita dalam jangka waktu
panjang. Gangguan emosional dapat terjadi seperti menurunnya harga diri, penolakan social,
merasa malu, dan masalah seksual. Semuanya diperberat dengan rasa gatal dan nyeri, dan
menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Sebanyak 10-17% pasien dengan psoriasis
pustulosa generalisata (PPG) menderita arthralgia, myalgia, dan lesi mukosa.3

13
Penatalaksanaan
Tatalaksana psoriasis adalah terapi supresif, tidak menyembuhkan secara sempurna,
bertujuan mengurangi tingkat keparahan dan ekstensi lesi sehingga tidak terlalu mempengaruhi
kualitas hidup pasien.
1. Tatalaksana farmakologi
a. Terapi Topikal
i. Asam salisilat
Asam salisilat merupakan salah satu senyawa keratolitik yang paling sering
digunakan. Senyawa tersebut menyebabkan kerusakan pada kohesi antar korneosit-
korneosit yang berada pada lapisan kulit pasien psoriasis yang keras dan abnormal.
Efek keratolitik tersebut meningkatkan penetrasi dan efikasi beberapa zat topikal lain,
seperti kortikosteroid. Obat ini tersedia dalam bentuk 2% hingga 10% gel atau losio
dan digunakan 2-3 kali perhari. Asam salisilat menghasilkan iritasi lokal. Penggunaan
pada area yang luas dan inflamasi dapat menginduksi reaksi salisilism yang ditandai
oleh gejala nausea, muntah, tinitus atau hiperventilasi. Keratolitik – Agen keratolitik
biasanya digunakan untuk menghilangkan pengelupasan, menghaluskan kulit, dan
mengurangi hiperkeratosis. Mekanisme kerja asam salisilat, sebagai salah satu
keratolitik yang biasa digunakan, ialah mengganggu kohesi antara korneosit-korneosit
pada lapisan kulit abnormal dan pasien psoriasis. Secara khusus, asam salisilat
bermanfaat pada area dimana terdapat sisik yang tebal.2,3

ii. Kortikosteroid topikal


Kortikosteroid topikal dipakai untuk mengobati radang kulit yang bukan disebabkan
oleh infeksi, khususnya penyakit eksim, dermatitis kontak, gigitan serangga, dan
eksim skabies bersama-sama dengan obat skabies. Kortikosteroid menekan berbagai
komponen reaksi pada saat digunakan saja; kortikosteroid sama sekali tidak
menyembuhkan dan bila pengobatan dihentikan, kondisi semula mungkin muncul
kembali. Obat-obat ini diindikasikan untuk menghilangkan gejala dan penekanan
tanda-tanda penyakit bila cara lain seperti pemberian emolien tidak efektif.
Pemakaian kortikosteroid topikal yang kuat pada psoriasis yang luas dapat
menimbulkan efek samping sistemik dan lokal. Cukup meresepkan kortikosteroid

14
yang lebih lemah untuk jangka singkat (2-4 minggu) untuk psoriasis fleksural dan
wajah (catatan: pada wajah jangan digunakan yang lebih kuat dari hidrokortison 1%).
Pada kasus psoriasis kulit kepala boleh menggunakan kortikosteroid yang lebih kuat,
seperti betametason atau fluosinonid.3,5

iii. Analog vitamin D

Vitamin D dan analognya menginhibisi diferensiasi dan proliferasi keratinosit serta


memiliki efek antiinflamasi dengan mengurangi IL-8 dan IL-2. Penggunaan vitamin
D itu sendiri dibatasi sebab adanya kecenderungan untuk menyebabkan
hiperkalsemia. Kalsipotrien (Dovonex) merupakan analog vitamin D sintetik yang
digunakan untuk plak psoriasis yang ringan hingga sedang. Perbaikan biasanya
nampak dalam 2 minggu setelah terapi dan kurang lebih 70% pasien menunjukkan
perbaikan yang signifikan setelah 8 minggu. Efek samping terjadi pada kurang lebih
10% pasien dan meliputi lesi dan sensasi terbakar serta pedih di sekeliling lesi.
Kalsipotrien 0,005% baik dalam krim, salep atau larutan digunakan 1-2 kali sehari,
tetapi tidak lebih dari 100 gram/minggu.3,7

iv. Tazaroten
Tazaroten (Tazorac) ialah retinoid sintetik yang dihidrolisis menjadi metabolit aktif,
yakni asam tazarotenat, yang kemudian memodulasi proliferasi dan diferensiasi
keratinosit. Tersedia sebagai gel dan krim 0,05% atau 0,1% dan digunakan sekali
sehari (biasanya di sore hari) untuk plak psoriasis yang ringan hingga sedang. Gel
0,1% sedikit lebih efektif, tetapi gel 0,05% lebih sedikit menyebabkan iritasi. Efek
samping yang terjadi bergantung pada dosis dan frekuensi; meliputi pruritis, rasa
terbakar, pedih dan eritema dengan tingkat keparahan yang ringan hingga sedang.
Penggunaan gel pada kulit yang eksim atau lebih dari 20% area permukaan tubuh
tidak direkomendasikan sebab dapat memicu absorpsi sistemik secara ekstensif.
Tazaroten sering digunakan bersamaan dengan kortikosteroid topikal untuk
menurunkan efek samping lokal serta meningkatkan efikasi.2,3,7

15
b. Terapi Sistemik
i. Metotreksat
Metotreksat (MTX) merupakan pilihan terapi yang sangat efektif bagi psoriasis tipe
plak kronis, juga untuk tatalaksana psoriasis berat jangka panjang, termasuk psoriasis
eritroderma dan psoriasis pustular. Mekanisme kerjanya melalui kompetisi antagonis
dari enzim dehidrofolat reduktase. MTX memiliki struktur mirip asam folat yang
merupakan substrat dasar enzim tersebut. MTX mampu menekan proliferasi limfosit
dan produksi sitokin, oleh karena itu bersifat immunosupresif. Dosis pemakaian untuk
dewasa dimulai dengan dosis rendah 7.5-15 mg setiap minggu dengan pemantauan
ketat.3

ii. Acitretin
Acitretin (Soriatane) merupakan derivat asam retinoat dan metabolit aktif retinoat.
Senyawa ini diindikasikan untuk psoriasis yang parah, meliputi tipe eritrodermik dan
pustular yang menyebar. Walaupun demikian, senyawa ini akan lebih berguna apabila
dipakai sebagai terapi tambahan dalam penanganan psoriasis. Dosis yang dipakai
berkisar 0.5-1 mg/KgBB per hari.3

iii. Siklosporin
Siklosporin adalah penghambat anzim kalsineurin sehingga tidak terbentuk gen
interleukin-2 dan inflamasi lainnya. Dosis rendah 2.5 mg/KgBB per hari dipakai
sebagai terapi awal dengan dosis maksimum 4 mg/KgBB per hari. Respons makin
baik bila diberi dosis lebih tinggi. Hipertensi dan toksis pada ginjal merupakan efek
samping dari siklosporin.3

c. Fotokemoterapi
Fotokemoterapi umumnya terdiri dari terapi dengan sinar ultraviolet B dan PUVA.
Sinar UVB (290-320 nm) terus menjadi salah satu fotokemoterapi yang penting
dalam intervensi psoriasis. Panjang gelombang UVB yang paling efektif untuk terapi
psoriasis ialah 310-313 nm. Hal tersebut telah dibuktikan dari berbagai studi klinik
pada pasien dengan psoriasis tipe plak. Fototerapi UVB juga memberikan hasil yang

16
lebih efektif ketika ditambahkan dengan terapi sistemik, seperti metotreksat dan
retinoid.7
UV-A yang dikombinasikan dengan metoksalen oral (PUVA) merupakan pendekatan
fotokemoterapi. Kandidat untuk terapi PUVA biasanya mengalami psoriasis yang
melumpuhkan dengan tingkat keparahan sedang hingga berat yang tidak memberikan
respon terhadap terapi konvensional baik topikal maupun sistemik. PUVA sistemik
terdiri atas obat oral yang berperan sebagai foto sensitizer seperti 8-metoksipsalen (8-
methoxypsoralen).7

2. Terapi Non-farmakologi
Garukan, abrasi, atau pembedahan dapat mengakibatkan fenomena Koebner dimana
akan timbul lesi baru, sedangkan faktor emosional, contohnya stress dapat
mempengaruhi neuroimunologik dalam tubuh, sehingga dapat memperberat
psoriasis. Edukasi yang diperlukan terutama adalah jangan digaruk dan sebisa
mungkin menjaga diri agar tidak stress.3

Prognosis
Psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi menggangu karena perjalanan penyakitnya
bersifat kronis dan residif. Psoriasis gutata akut timbul cepat. Terkadang tipe ini menghilang
secara spontan dalam beberapa minggu tanpa terapi. Seringkali, psoriasis tipe ini berkembang
menjadi psoriasis plak kronis. Penyakit ini bersifat stabil, dan dapat remisi setelah beberapa
bulan atau tahun, dan dapat saja rekurens sewaktu-waktu seumur hidup. Pada psoriasis tipe
pustular, dapat bertahan beberapa tahun dan ditandai dengan remisi dan eksaserbasi yang tidak
dapat dijelaskan. Psoriasis vulgaris juga dapat berkembang menjadi psoriasis tipe ini. Pasien
denan psoriasis pustulosa generalisata sering dibawa ke dalam ruang gawat darurat dan harus
dianggap sebagai bakteremia sebelum terbukti kultur darah menunjukkan negatif. Relaps dan
remisi dapat terjadi dalam periode bertahun-tahun.3
Pencegahan

Pencegahan untuk psoriasis dapat dilakukan dengan mengurangi stress, mengurangi atau
menjauhi beberapa obat yang memicu respon autoimun, menghindari trauma, dan diet bergizi.3

17
Kesimpulan

Psoriasis merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya bercak-bercak merah (eritem)
yang berbatas tegas dengan adanya skuama (sisik) yang tebal, kasar dan transparan disertai
dengan fenomena tetesan lilin. Psoriasis merupakan suatu penyakit autoimun yang belum
diketahui penyebab dan belum di ketahui cara pengobatan secara sempurna.

Daftar Pustaka

1. Bickley LS, Szilagyi PG. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates: buku saku. Edisi
ke-5. Jakarta: EGC; 2008. p.1-9,15,64-70
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: InternaPublishing; 2009. h. 25-7, 31-2, 815, 822, 2650.
3. Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W. ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi VII. Jakarta:
Badan penerbit FKUI; 2017.h. 114, 213-21, 225-7, 232-3, 455-74
4. Wolff K, Johnson RA, Saavedra AP. Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of clinical
dermatology. McGrawHill; 2013.p. 46, 49-61, 66, 618, 748
5. Sterry W, Sabat R, Philipp S. Psoriasis : diagnosis and management. Oxford: Blackwell;
2015.p.57-72
6. Singal A, Grover C. Comprehensive approach to infections in dermatology. New delhi:
Jaypee brothers medical publishers; 2016.p.86-100
7. Weinberg J, Lebwohl M. Advances in psoriasis: a multisystemic guide. London: Springer;
2014.p.62-109

18
Sasaran Belajar

1. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan pemeriksaan fisik dan penunjang pada pasien
psoriasis.

2. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan working diagnosis dan different diagnosis
psoriasis.

3. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan etiologi psoriasis.

4. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan epidemiologi psoriasis.

5. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan patofisiologi psoriasis.

6. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan gambaran klinis psoriasis.

7. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan penatalaksanaan psoriasis.

8. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan komplikasi psoriasis.

9. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan Edukasi dan pencegahan pada pasien
psoriasis.

10. Mahasiswa dapat memahami dam menjelaskan prognosis dari psoriasis.

19