Anda di halaman 1dari 4

BAB V

PEMBAHASAN

Sifat fisik bubur instan berkaitan erat dengan penyajian dan daya terima
produk oleh bayi. Penentuan sifat fisik bubur instan terpilih dapat dijadikan sebagai
acuan dalam saran penyajian produk. Analisis sifat fisik yang dilakukan terhadap
produk bubur bayi instan dengan merk Serelac, SUN, Promina, dan Milnameliputi
densitas kamba, kehalusan mesh 100 serta uji seduh (rasa rehidrasi).

Densitas Kamba
Densitas kamba merupakan kebalikan dari derajat kamba (bulikiness) atau
sifat kekambaan yang dimiliki produk. Densitas kamba yang tinggi menunjukkan
sedikitnya ruang udara di antara partikel produk sehingga produk menempati ruang
yang relatif kecil. Produk makanan bayi dengan densitas kamba tinggi cenderung
diharapkan karena dapat menempati lebih sedikit ruang dalam saluran cerna bayi
lebih banyak zat gizi yang dapat diterima bayi. Berdasarkan hasil praktikum dari
produk MP-ASI yang memiliki densitas kamba pada Cerelac adalah 0,38 g/ml
sedangkan densitas kamba pada SUN adalah 0,24 g/ml. MP-ASI yang memiliki
densitas kamba tinggi menunjukkan bahwa produk tersebut lebih ringkas (non
voluminous) (Hardiningsing, 2004). Produk pangan yang memiliki densitas kamba
tinggi menunjukkan kepadatan gizi yang tinggi pula. Kapasitas fungsional lambung
bayi hanya 30 g/Kg berat badan sehingga makanan dengan densitas kamba tinggi
diperlukan agar bayi menjadi tidak cepat kenyang dan asupan gizi terpenuhi (Dewey
dkk, 2003 dan Yoanasari 2003).

Uji Kehalusan Mesh 100


Pada praktikum ini melakukan uji kehalusan mesh untuk mengetahui tingkat
kehalusan pada empat produk MP ASI (Cerelac, SUN, Promina dan Milna). Langkah
pertama yang harus dilakukan dalam uji kehalusan mesh yaitu menimbang bubuk
bayi sebanyak 10 gram. Kemudian melakukan pengayakan dengan ayakan berukuran
100 mesh. Mesh adalah banyaknya butiran dalam ayakan setiap 1 inchi, semakin
tinggi inchi maka semakin kecil ukuran mesh. Pengayakan merupakan pemisahan
berbagai campuran partikel padatan yang mempunyai berbagai ukuran bahan dengan
menggunakan ayakan. Proses pengayakan juga digunakan sebagai alat pembersih,
pemisah kontaminan yang ukurannya berbeda dengan bahan baku. Pengayakan
memudahkan kita untuk mendapatkan serbuk dengan ukuran yang seragam. Dengan
demikian pengayakan dapat didefinisikan sebagai suatu metoda pemisahan berbagai
campuran partikel padat sehingga didapat ukuran partikel yang seragam serta
terbebas dari kontaminan yang memiliki ukuran yang berbeda dengan menggunakan
alat pengayakan (Syamsuni, 2006).
Ukuran mesh identik dengan jumlah kawat per unit panjang, semakin besar
ukuran mesh maka semakin kecil ukuran bukaa.. Proses dasar pengayakan adalah
lolosnya serbuk dari sebuah ayakan dengan beberapa bukaan. Partikel yang lolos dari
ayakan adalah partikel yang lebih kecil dari ukuran bukaan, dan partikel yang
tertinggal adalah partikel yang lebih besar. Setelah dilakukan proses pengayakan,
langkah selanjutnya yaitu menimbang bagian yang lolos di dalam ayakan.
Berdasarkan hasil penimbangan, pada produk MP ASI merk Cerelac diperoleh bagian
yang tertinggal di dalam ayakan sebesar 30% dan hasil penimbangan pada produk
MP-ASI merk SUN diperleh 19,3% dihasilkan dari perhitungan dengan cara jumlah
bubuk yang lolos dari ayakan di bagi dengan berat bahan dan kemudian di kali
dengan 100%.

Uji Seduh atau rasio rehidrasi.


Rasio rehidrasi adalah rasio terakhir antara jumlah bubur bayi dengan jumlah
air dimana tidak terjadi pemisahan antar bubuk instan kering dengan air. Uji seduh
(rasio rehidrasi) dilakukan untuk mengetahui kelarutan bubuk bayi dengan air yang
paling merata dan tidak terdapat pemisahan antara air dan endapan (bubuk bayi
instant). Dalam uji seduh langkah awal yang dilakukan yaitu melarutkan bubuk bayi
instan dengan air yaitu menggunakan perbandingan 1:2, 1:4, 1:6, 1:8. Bubuk bayi
instan yang digunakan yaitu 10 gram bubuk bayi tiap perbandingan masing – masing
air 20 ml, 40 ml, 60 ml, dan 80 ml. kemudian aduk sampai rata larutan tersebut dan
didiamkan selama 30 menit. Setelah 30 menit amati apakah terjadi pemisahan antara
air dengan bubuk bayi yang dilarutkan.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan yaitu dengan menggunakan beberapa
merek bubuk bayi instan diantaranya serelac dan SUN. Bubuk bayi instan tersebut
diberikan perlakuan yang sama yaitu dilakukan penimbangan10 gram bubuk bayi dan
ditambahkan air. Hasil yang didapatkan dengan perbandingan 1:2 bubuk bayi instan
yaitu bubuk bayi instan tercampur dan dengan penambahan air 20 ml serta
kenampakan dari bubuk bayi instan yang diseduh dengan air tampak tidak merata
atau kental (semi padat). Sedangkan pada bubuk bayi intan yang menggunkan
perbandingan 1:4 menunjukkan hasil bubuk bayi instan dan air tercampur serta tidak
terdapat pemisah antara bubuk bayi instan dan air. Perbandingan bubuk bayi 1:6 pada
merek serelac dan SUN menunjukkan hasil terdapat pemisah antara bubuk bayi instan
dan air. Air yang ditambahakan sebanyak 60 ml dimana menghasilkan batas pemisah
dengan menunjukkan endapan bubuk bayi instan dibagian bawah dan air dibagian
atas.
DAFTAR PUSTAKA

Dewey KG, Brown KH. 2003. Update on Technical Issues Concerning


Complementary Feeding of Young Children in Developing Countries and
Implications for Intervention Programs. Food and Nutrition Bulletin, vol. 24,
no. 1. The United Nations University.

Hadiningsih N. 2004. Optimasi Formula Makanan Pendamping ASI dengan


Menggunakan Response Surface Methodology [Tesis]. Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.

Syamsuni, H. A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tampubolong, N.L., Karo-karo, T, Ridwansyah. 2014. Formulasi Bubur Bayi Instan


dengan Substitusi Tepung Tempe dan Tepung Labu Kuning sebagai Alternatif
Makanan Pendamping ASI. J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.2 No.2 Th.
2014

Yoanasari QT. 2003. Pembuatan Bubur Bayi Instan dari Pati Garut [skripsi]. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.