Anda di halaman 1dari 2

 Alat Tangkap Pancing Tonda (Troll Line)

Menurut Sudirman dan Mallawa (2004), tonda adalah pancing yang diberi tali panjang dan
ditarik oleh perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan buatan, karena
pengaruh tarikan pergerakan dalam air akan merangsang ikan buas untuk menyambarnya. Alat
tangkap pancing tonda ini sangat dikenal oleh nelayan Indonesia karena harganya relatif murah
dan mudah dijangkau oleh nelayan kecil. Selain itu juga, dalam melakukan pengoperasian
pada tonda relatif mudah untuk menangkap ikan permukaan. Adapun untuk penangkapan ikan
pelagis besar, alat tonda ini masih belum umum digunakan karena sasaran tangkap jauh lebih
dalam daripada operasi pancing tonda. Walaupun dengan menggunakan sistem pemberat,
papan selam atau tabung selam dan dikombinasikan dengan perhitungan kecepatan kapal, maka
operasi kedalaman dari pancing dapat diatur mendekati swimming layer ikan tuna. Sehingga
alat tangkap pancing tonda sangat memungkinkan untuk menangkap ikan tuna (Farid et al.
1989).
Desain umum untuk beberapa variasi dari alat tangkap pancing tonda ada yang bernama mid
water troll line dengan lokasi penangkapan di perairan Laut Cina Selatan, Samudera Pasific,
dan Teluk Davao (Filipina). Pada alat tangkap tonda tersebut menggunakan perahu/kapal 1,5
GT dengan panjang perahu 11,6 m dan mesin 16 PK dan cukup dua orang nelayan yang
menangkap (Gambar 2.2). Desain lainnya adalah deep sea trolling (type BBPI) atau sering
disebut dengan tonda lapisan bawah dengan lokasi penangkapan di perairan Karimunjawa
pantai utara Jawa. Pada alat tangkap tonda tersebut menggunakan perahu/kapal 4– 6 GT dengan
panjang perahu 10–12 m dan mesin 20–26 PK (Gambar 2.3). Pengoperasian tonda
memerlukan perahu atau kapal yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan sasaran. Pada
umumnya pancing tersebut ditarik dengan kecepatan 2–6 knot tergantung pada jenisnya.
Ukuran perahu/kapal yang dipakai berkisar antara 0,5–10,0 GT, untuk sub surface trolling
ukuran kapal dan kekuatannya harus lebih besar dan dapat dilengkapi dengan berbagai
peralatan bantu terutama untuk menggulung tali. Menurut Farid et al. (1989) dengan alatalat
ini dihasilkan ikan sekitar 3,2% produksi ikan laut Indonesia yang sebagian besar terdiri dari
tongkol, cakalang dan ikan tuna muda dengan bobot (1-5 kg).
Pengoperasian tonda dilakukan dengan menarik tali utama (main line) yang berisi beberapa tali
cabang (branch line) dengan kecepatan kapal pelan secara dinamis (2-6 knot). Jenis ikan
pelagis yang tertangkap dengan pancing tonda selama tolling antara lain : cakalang
(Katsuwonus pelamis), tengiri (Scomberomorus commersoni), tongkol abu-abu (Thunnus
tonggol), layaran (Itophorus orientalis), dan bahkan tuna (Thunnus spp). Ikan-ikan tersebut
tertangkap dikarenakan terpancing dengan adanya umpan-umpan buatan yang dipasang pada
mata pancing
 Hasil Tangkapan Pancing Tonda
Menurut Subani dan Barus (1989), salah satu alat tangkap rawai atau pancing tonda dapat
menangkap beberapa ikan pelagis besar, antara lain : tuna sirip kuning (Thunnus albacares),
cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna mata besar (Thunnus obesus), albakora (Thunnus
alalunga). Adapun hasil tangkapan sampingan (by catch) adalah: ikan layaran (Istophorus
orientalis), setuhuk putih (Makaira mazara), ikan pedang (Xiphias gladius), setuhuk hitam
(Makaira indica), setuhuk loreng (Tetrapturus mitsukurii), berbagai jenis cucut (cucut mako,
cucut martil dan sejenisnya). Hasil tangkapan pancing tonda di perairan Palabuhanratu
menggunakan alat bantu penangkapan rumpon (Fish Aggregating Device). Hal ini dikarenakan
untuk menarik pergerakan ikan pelagis besar agar mendekati rumpon-rumpon tersebut. Cayre
(1991 dalam Besweni 2009) ikan madidihang memperlihatkan pergerakan horizontal sejauh
satu mil kemudian menghilang tetapi akhirnya ditemukan pada rumpon lain dalam satu
perairan dan esok harinya ikan tersebut kembali lagi ke rumpon semula. Hasil pengamatan
vertikal menunjukkan bahwa kedalaman renang ikan madidihang pada siang hari mencapai
kedalaman antara 70-100 m dengan suhu 25-27oC dan pada malam hari 40-70 m dengan suhu
>27oC. Pada umumnya ikan madidihang berenang mendekati permukaan pada malam hari dan
cenderung mulai berenang semakin dalam pada pagi hari sesudah matahari terbit. Nilai tengah
kedalaman ikan madidihang yang berasosiasi dengan rumpon sekitar 5.3 meter, sedangkan di
luar rumpon sekitar 85.2 meter. Hal ini senada dengan pernyataan Dagorn, et al. (2006), bahwa
madidihang mempunyai frekuensi yang tinggi menuju ke rumpon, jika dibandingkan bigeye
tuna (Gambar 2.5)

DAFPUS
Farid, Fauzi, N. Bambang, Fachrudin, dan Sugiono. (1989). Teknologi Penangkapan Tuna.
Kerjasama Direktorat Jenderal Perikanan dengan International Development Research Centre.
Departemen Pertanian. Jakarta. Halaman 37 – 39.
Dagorn, L., K.L. Holland, & D.G. Itano. (2006). Behaviours of Yellowfin Tuna (Thunnus
albacares) and Bigeye Tuna (Thunnus obesus) in a Network of Fish Aggregating Devices
(FAD’S). Research Article Marine Biology.