Anda di halaman 1dari 2

Standardisasi sebagai prioritas pada tahun 1973.

Pada tahun 1976 dibentuk Panitia


Persiapan Sistem Standardisasi Nasional. Pada tahun 1984 dengan SK Presiden RI
dibentuk Dewan Standardisasi Nasional dengan tugas pokok menetapkan kebijakan
standardisasi, melaksanakan koordinasi dan membina kerjasama di bidang
standardisasi nasional.

Kegiatan standardisasi di tanah air semakin mendapat tempat dengan dikeluarkannya


Keputusan Presiden No. 13 Tahun 1997 mengenai Badan Standardisasi Nasional
(BSN). Keppres tersebut merupakan dasar hukum lahirnya kelembagaan BSN. Melalui
Keppres tersebut, dinyatakan bahwa BSN bertugas membantu presiden dalam
menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi, sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk meningkatkan pengembangan dan pembindaan standardisasi di Indonesia,
pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 102 tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional. Keppres No. 13 Tahun 1997 dan PP No. 102 Tahun 2000
merupakan pilar hukum penting bagi kegiatan standardisasi di tanah air. Dengan
adanya peraturan-peraturan tersebut kegiatan standardisasi tidak dilaksanakan secara
sektoral. Patut dicatat, bahwa kegiatan standardisasi dilaksanakan oleh berbagai
kementrian, seperti: Kementrian Perindustrian, Kementrian Perdagangan, Kementrian
Kesehatan, Kementrian Pertanian, Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Energi
dan Sumber Daya Mineral, serta beberapa lembaga atau instansi pemerintah seperti
LIPI, BATAN, Biro Klasifikasi Indonesia dan beberapa asosiasi.
Indonesia telah mengikatkan diri dalam kerjasama perdagangan bebas di antaranya:
AFTA, CAFTA, dan AEC. Di bawah kersa sama tersebut, arus pasar bebas dipastikan
sudah tidak dapat dibendung lagi dan beragam produk akan bebas keluar masuk batas
wilayah antar negara tanpa dapat dicegah. Sementara perlindungan dengan penetapan
tarif sudah ditiadakan, yang ada untuk melindungi dari serbuan tersebut adalah
penetapan non-tarif. Salah satu parameter non-tarif adalah standardisasi. Standardisasi
menduduki peran dan arti penting yang vital dalam perdagangan bebas.

Harus diakui bahwa perdagangan besbas memiliki dinamika yang kompleks. PP No 102 tahun
2000, sebagai dasar hukum kegiatan standardisasi, dinilai belum mampu menyelesaikan
permasalahan di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian yang telah berkembang pesat.
Untuk itu, kegiatan standardisasi dan penilaian kesesuaian perlu diatur dalam suatu UU yang
menjamin adanya koordinasi, sinkronisasi dan harmonisasi, sehingga upaya standardisasi dan
penilaian kesesuaian di Indonesia dapat dilakukan secara efisien, efektif, terpadu dan
terorganisasi. Atas dasar pemikiran itu, disusun Rancangan Undang-undang mengenai
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian (RUU SPK). Sejak tahun 2009 hingga 2011, RUU SPK
telah dibahas dalam Rapat Panitia Antar Kementrian. Di tahun 2012, RUU SPK memasuki tahap
harmonisasi. RUU SPK kemudian masuk ke dalam Program Legislasi Nasional Rancangan
Undang-undang Prioritas Tahun 2013. Di akhir tahun 2013, tepatnya pada 26 November 2013,
Rapat Paripurna DPR mengesahkan pembentukan Panita Khusus (Pansus) RUU SPK. Pansus
tersebut berjumlah 30 orang. Pada tahun 2014, Pansus RUU SPK mulai bekerja dan diharapkan
UU SPK disahkan di tahun 2014