Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Peta pikiran adalah alat berpikir organisasional yang sangat hebat yang juga merupakan
cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu
ketika dibutuhkan.
Peta pikiran mampu memangkas waktu belajar dengan mengubah pola pencatatan
linear yang memakan waktu menjadi pencatatan yang efektif yang sekaligus langsung dapat
dipahami oleh individu.
Pada umumnya kerangka karangan merupakan rencana garis besar karangan
berdasarkan tingkat kepentingannya (teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan),
serta pedoman bagi pembaca untuk mengetahui isi suatu karangan. Kerangka karangan yang
belum final disebut outline sementara, sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi
dan lengkap disebut outline final. Didalam Bahasa Indonesia penulisan kerangka karangan
membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat
dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat,
apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
Kerangka karangan dibuat untuk mempermudah penulisan agar tetap terarah dan tidak
keluar dan topik atau tema yang dituju. Pembuatan kerangka karangan ini sangat penting,
terutama bagi penulis pemula, agar tulisan tidak kaku dan penulis tidak bingung dalam
melanjutkan tulisannya.

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Apakah Pengertian Peta Pikiran?
1.2.2 Apakah Manfaat Peta Pikiran?
1.2.3 Bagaimanakah langkah-Langkah Pembuatan Kerangka Karangan?
1.2.4 Apakah Pengertian Kerangka Karangan?
1.2.5 Apakah Manfaat Kerangka Karangan?
1.2.6 Bagaimanakah Macam-Macam Kerangka Karangan ?
1.2.7 Apasajakah Pola Susunan Kerangka Karangan?
1.2.8 Apakah Syarat-Syarat Kerangka Karangan?
1.2.9 Bagaimanakah Langkah-Langkah Menyusun Kerangka Karangan?

1.3 Tujuan Makalah


Adapun tujuan pembuatan makalah ini ialah :
1.3.1 Mengenalkan apa yang dimaksud dengan peta pikiran
1.3.2 Mengetahui manfaat peta pikiran
1.3.3 Mengetahui pembuatan peta pikiran
1.3.4 Mengetahui apa itu kerangka karangan
1.3.5 Mengetahui manfaat kerangka karangan
1.3.6 Mengetahui macam-macam kerangka karangan
1.3.7 Mengetahui pola susunan kerangka karangan
1.3.8 Mengetahui syarat-syarat kerangka karangan yang baik
1.3.9 Mengetahui langkah dalam membuat kerangka karangan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Peta Pikiran


Mind Maping pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang Psikolog dari
Inggris. Beliau adalah penemu Mind Map (Peta Pikiran), Ketua Yayasan Otak, pendiri Klub
Pakar (Brain Trust) dan pencipta konsep Melek Mental. Mind map diaplikasikan di bidang
pendidikan, seperti teknik, sekolah, artikel serta menghadapi ujian.
Mind maping dapat diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk menghubungkan
konsep-konsep permasalahan tertentu dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep
menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan
animasi yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga tulisan yang
dihasilkan merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak.
Mind maping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah,
menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Mind maping mengembangkan cara
berpikir divergen dan berpikir kreatif. Mind mapping yang sering kita sebut dengan peta
konsep adalah alat berpikir organisasional yang sangat hebat yang juga merupakan cara
termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika
dibutuhkan (Tony Buzan , 2008:4).
Menurut Tony Buzan, Mind Maping dapat membantu kita untuk banyak hal seperti :
merencanakan, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menyelesaikan masalah, memusatkan
perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran, mengingat dengan baik, belajar lebih
cepat dan efisien serta melatih gambar keseluruhan.
Dari uraian di atas, dapat diambil sebuah definisi bahwa peta pikiran (mind mapping)
adalah suatu cara memetakan sebuah informasi yang digambarkan ke dalam bentuk cabang-
cabang pikiran dengan berbagai imajinasi kreatif.

2.2 Manfaat Peta Pikiran


 Membebaskan imajinasi dalam menggali ide-ide sehingga menjadi lebih kreatif.
 Lebih mudah mengingat fakta dan angka.
 Membantu berkonsentrasi dan menghemat waktu.
 Cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil
informasi ke luar dari otak, yang merupakan cara mencatat yang kreatif dan efektif.

3
 Membantu otak berpikir secara teratur.
 Proses belajar akan terasa lebih mudah.

Bila diterapkan dalam kehidupan, peta pikiran ini juga dapat membantu :
1. Bidang penulisan.
2. Bidang manajemen projek.
3. Memperkaya kegiatan brainstorming.
4. Mengefektifkan rapat
5. Menyusun daftar tugas
6. Melakukan presentasi yang dinamis.
7. Membuat catatan yang memberdayakan diri.
8. Mengenali diri

2.3 Langkah-langkah membuat Peta Pikiran


Sebelum membuat sebuah peta pikiran diperlukan beberapa bahan, yaitu kertas kosong
tak bergaris, pena dan pensil warna, otak, serta imajinasi. Buzan (2008: 15) mengemukakan
ada tujuh langkah untuk untuk membuat mind mapping. Tujuh langkah tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Dimulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya dilektakkan mendatar
(landscape). Karena apabila dimulai dari tengah akan memberi kebebasan kepada otak
untuk menyebar ke segala arah dan untuk mengungkapkan dirinya secara lebih bebas
dan alami.
2. Menggunakan gambar atau foto untuk sentral. Karena sebuah gambar atau foto akan
mempunyai seribu kata yang membantu otak dalam menggunakan imajinasi yang akan
diungkapkan. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat otak tetap terfokus,
membantu otak berkosentrasi, dan mengaktifkan otak.
3. Menggunakan warna yang menarik. Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan
gambar. Warna membuat peta pikiran (mind mapping) lebih hidup, menambah energi
pada pemikiran yang kreatif, dan menyenangkan.
4. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang
tingkat dua dan tingkat tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Karena otak
bekerja menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga atau empat) hal

4
sekaligus. Apabila cabangcabang dihubungkan akan lebih mudah dimengerti dan
diingat.
5. Membuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Karena dengan garis lurus
akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis seperti
cabang-cabang pohon jauh lebih menarik bagi mata.
6. Menggunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Karena dengan kata kunci tunggal
dapat memberi lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada peta pikiran (mind
mapping).
7. Menggunakan gambar. Karena seperti gambar sentral, setiap gambar bermakna seribu
kata.
Berikut ini contoh peta pikiran (mind mapping) pada gambar:

Gambar Contoh Peta Pikiran (Mind Mapping)


Penjelasan:
Perawatan Akibat Thypus Waktu duduk di kelas tiga, aku pernah dirawat di rumah
sakit selama seminggu. Aku dirawat karena sakit gejala typhus. Itu kali pertama aku sakit
typhus dan dirawat di rumah sakit. Saat pertama sakit, aku hanya merasakan suhu badanku
naik dan perutku terasa perih. Saat itu juga, aku juga merasa lidahku terasa pahit.
Keesokan harinya, ayahku membawaku periksa ke dokter. Setelah dokter memeriksa,
ia menyimpulkan bahwa aku menderita gejala typhus. Karena itu, aku harus dirawat dengan
intensif. Dokter menyarankan supaya aku mendapat rawat inap. Saat itu juga ayahku
memutuskan agar aku mendapat perawatan intensif Aku dirawat di ruangan khusus. Selama
masa perawatan, aku harus menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. Pantangan yang
harus dilakukan selama perawatan adalah menghindari makanan yang terlalu keras, pedas,
asam dan asin, serta tidak boleh banyak bergerak. Teman-temanku mulai menjengukku sejak

5
hari pertama. Mereka semua mendoakanku agar cepat sembuh. Setelah seminggu dirawat di
rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang.
Dalam masa pemulihan setelah sakit, aku harus menjaga kesehatan dan pola makan.
Agar kondisi kesehatanku terjaga, aku dianjurkan untuk makan bergizi dan rajin berolahraga.
Berdasarkan berbagai uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hakikat metode peta
pikiran (mind mapping) adalah suatu cara yang digunakan dalam pembelajaran dengan
menggunakan teknik efektif, kreatif, dan imajinatif dengan memproyeksikan masalah yang
dihadapi kedalam bentuk peta atau cabang-cabang pikiran sehingga lebih mudah untuk
memahaminya. Hakikat metode peta pikiran (mind mapping) dalam penelitian ini adalah
bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada pokok materi menulis narasi, siswa kelas V
SD Negeri Karangasem III Surakarta menggunakan metode peta pikiran (mind mapping) untuk
mengembangkan gagasan yang akan diungkapakan dalam bentuk karangan narasi. Hal ini
bertujuan agar siswa menjadi lebih mudah dan termotivasi dalam menulis narasi sehingga
kemampuan menulis narasinya menjadi lebih meningkat.

2.4 Definisi Kerangka Karangan


Menurut Lamuddin Firnoza(2015:201), kerangka karangan adalah rencana teratur
tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Selanjutnya,Kunjana Rahardi (2009:158). Juga
mengemukakan bahwa kerangka karangan dapat dianggap sebagai rencana penulisan yang
mengandung ketentuan bagaimana kita akan menyusun sebuah karangan.
Berdasarkan kutipan diatas dapat menyimpulkan bahwa Kerangka Karangan adalah
rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang ditulis dan
merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas ,terstruktur dan
teratur.
Fungi utama kerangka karangan adalah mengatur hubungan antara gagasan yang ada.
Melalui kerangka karangan, pengarang dapat melihat kekuatan dan kelemahan dalam
perencanaan kerangannya. Dengan cara ini pengarang dapat mengadakan penyesuaian sebelum
menulis.
Kerangka karangan mengandung rencana kerja menyusun karangan. Kerangka akan
mengarahkan penulis menggarap karangan secara teratur. Kerangka juga akan membantu
penulis membedakan ide-ide utama dari ide-ide tambahan.
Kerangka karangan dapat mengalami perubahan terus-menerus untuk mencapai
bentuk yang lebih sempurna. Kerangka karangan dapat berbentuk catatan-catatan sederhana,

6
tetapi juga mendetail. Kerangka yang belum final disebut outline sementara, sedangkan
kerangka yang sudah tersusun rapi disebut outline final.
Dalam proses penyusunan karangan ada tahapan yang harus dijalani, yaitu memilih
topik, mengumpulkan informasi, mengatur gagasan, dan menulis karangan itu sendiri

2.5 Manfaat Kerangka Karangan


 Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
 Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk
melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah
susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah
gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
 Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan
dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks
dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya
terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam
bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada
klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga
tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
 Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian
perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu.
Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu
hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak
sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu
berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu
sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu
topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang
tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan
diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
 Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan rincian-
rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau
fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta
yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu.
 Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat
menyusutkan kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa

7
yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud,
gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan
miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan
tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyelurih, bukan secara
terlepas-lepas.

2.6 Macam-Macam Kerangka Karangan


a.Berdasarkan Sifat Rinciannya :
 Kerangka karangan sederhana (non-formal) : Merupakan suatu alat bantu, sebuah
penuntun bagi suatu tulisan yang terarah yang terdiri dari tesis dan pokok-pokok utama.
Kerangka Karangan Sementara / Non-formal, cukup terdiri atas dua tingkat, dengan
alasan:
a) topiknya tidak kompleks
b) akan segera digarap
 Kerangka Karangan Formal : Kerangka karangan yang timbul dari pertimbangan
bahwa topik yang akan di garap bersifat sangat komplek atau suatu topik yang
sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya. terdiri atas tiga
tingkat, dengan alasan:
a) topiknya sangat kompleks
b) topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap
b. Berdasarkan Perumusan Teksnya :
 Kerangka Kalimat
Kerangka kalimat bersifat resmi, berupa kalimat lengkap. Pemakaian kalimat lengkap
menunjukan diperlukannya pemikiranyang lebih luas dari pada yang dituntut dalam kerangka
topik. Menggunakan kalimat deklaratif yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, sub
topik. Misalnya :
a. Pendahuluan
b. Latar belakang
c. Rumusan masalah
d. Tujuan
Manfaat menggunakan kerangka kalimat :
- Memaksa penulis untuk merumuskan topik yang akan diuraikan
- Perumusan topik-topik akan tetap jelas

8
- Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi
pengarangnya sendiri.
 Kerangka Topik
Kerangka topik terdiri atas kata, frasa, atau klausa yang di dahului tanda-tanda atau
kode tertentu yang lazim untuk menyatakan hubungan antara gagasan. Tanda baca akhir (titik)
tidak di perlukan karena tidak di pakainya kalimat lengkap. Dan biasanya kerangka topik
sering digunakan dalam praktik pemakaian.
Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap
dan menggunakan kata atau frase. Kerangka kalimat lebih baik manfaatnya dari kerangka
topik, tetapi kelebihan kerangka topik adalah lebih jelas merumuskan hubungan-hubungan
kepentingan antar gagasan.
 Gabungan antara Kerangka Kalimat dan Kerangka Topik

2.7 Pola Susunan Kerangka Karangan


Secara garis besar, pola kerangka karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan
pola logis, berikut akan di jelaskan secara singkat pola susunan kerangka karangan.
1. Pola Alamiah
Merupakan suatu urutan unit–unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang
nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah
yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu.
Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu :
a. Kronologis (waktu)
Urutan yang di dasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya
tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca.
Contohnya : Topik (riwayat hidup seorang penulis)
 asal usul penulis
 pendidikan si penulis
 kondisi kehidupan penulis
 keinginan penulis
 karir penulis

9
b. Spasial (ruang)
Landasan yang paling penting, bila topik yang di uraikan mempunyai pertalian yang
sangat erat dengan ruang atau tempat . Urutan ini biasanya di gunakan dalam tulisan–tulisan
yang bersifat deskriptif .
Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)
 Di daerah Kalimantan
 Di daerah Sulawesi
 Di daerah Sumatra
c. Topik yang ada
Suatu pola peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan
berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian–bagian tertentu .
Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian–bagian itu harus di
jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting
dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.

2. Pola Logis
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap
persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali
tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan
tanggapan penulis.
Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara
pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi
menjadi 6, yaitu :
a. Klimaks dan Antiklimaks
Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu
dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling
menonjol.
Contoh : Topik (turunnya Suharto)
 Keresahan masyarakat
 Merajalela nya praktek KKN
 Keresahan masyarakat
 Kerusuhan social
 Tuntutan reformasi menggema

10
b. Kausal
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada
pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan
perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat
efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi
umat manusia pada umumnya.
Contoh : Topik (krisis moneter melanda tanah air)
 Tingginya harga bahan pangan
 Penyebab krisis moneter
 Dampak terjadi krisis moneter
 Solusi pemecahan masalah krisis moneter
c. Pemecahan Masalah
Di mulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum
atau pemecahan atas masalah tersebut . Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan
landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa
atau persoalan tadi, dan akhirnya alternatif–alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang di
hadapi tersebut.
Contoh : Topik (virus flu burung / H5N1 dan upaya penanggulangannya)
 Apa itu virus H5N1
 Bahaya virus H5N1
 Cara penanggulangannya
d. Umum khusus
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan
pembahasan secara terperinci (khusus).
Contoh : Topik (pengaruh internet)
 Para pangguna internet
 Anak–anak
 Remaja
 Dewasa
 Manfaat internet
 Media informasi
 Bisnis
 Jaringan social

11
e. Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal,
kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal.
Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan
analogi. Contohnya :“Handphone – aplikasi – BBM – Line – Whatsapp”

f. Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas
mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka
urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para
pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca. Contohnya :
“manusia pada dasarnya dilahirkan bebas, sebab itu setiap orang berhak untuk menentukan
nasibnya sendiri”

2.8 Syarat-syarat Kerangka Karangan


Kerangka karangan yang baik memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
 Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas.
Pilihlah topic yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang jelas.
Lalu buatlah tesis atau pengungkapan maksud.
 Tiap unit hanya mengandung satu gagasan. Bila unit terdapat lebih dari satu gagasan,
maka unit tersebut harus dirinci.
 Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga rangkaian
idea tau pikiran itu tergambar jelas.
 Harus menggunakan symbol yang konsisten. Pada dasarnya untuk menyusun karangan
dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membuat kebiasaan teratur dan sistematis
yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.

2.9 Langkah-langkah Menyusun Kerangka Karangan

1. Menentukan tema dan judul


Tema sangat berpengaruh terhadap wawasan penulis. Semakin banyak penulis
membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis
memperoleh tema.
Hal yang penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan diantaranya :

12
 Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
 Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
 Pilih tema yang smbernya dapat dengan mudah kita peroleh.
Jika tema sudah diperoleh, tahap berikutnya adalah menentukan judul. Dalam
penentuan judul ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain :
 Judul hendaknya orisinil.
 Judul haruslah sesuai dengan tema.
 Judul dapat mencerminkan isi karangan.
 Judul sedapat mungkin singkat dan menarik.

2. Mengumpulkan Bahan
Bahan yang digunakan bias menggunakan kliping-kliping masalah tertentu yang sesuai
dengan bidangnya.

3. Menyeleksi Bahan
Agar karangan yang dibuat tidak terlalu abstrak, perlu dipilih bahan bahan yang sesuai
dengan tema.

4. Membuat Kerangka Karangan.


Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :
a. Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang
menjelaskan gagasan-gagasan yang timbul).
b. Mengatur urutan gagasan.
c. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab.
d. Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap

5. Mengembangkan Kerangka Karangan.


Pengembangan kerangka karangan teergantung pada materi yang hendak kita tulis,
bahan materi yang kita gunakan jangan sampai menumpuk kepermaslahan yang lain. Untuk itu
pengembangan karangan harus terarah . Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti.
Semakin sistematis dan logis tema yang kita tentukan, semakin berbobot pula tulisan yang
dihasilkan.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Peta pikiran (mind mapping) adalah suatu cara memetakan sebuah informasi yang
digambarkan ke dalam bentuk cabang-cabang pikiran dengan berbagai imajinasi kreatif. Peta
pikiran dapat membantu kita untuk banyak hal seperti : merencanakan, berkomunikasi,
menjadi lebih kreatif, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian, menyusun dan
menjelaskan pikiran-pikiran, mengingat dengan baik, belajar lebih cepat dan efisien serta
melatih gambar keseluruhan.
Kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu
karangan yang akan ditulis, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis,
logis, jelas, terstruktur, dan teratur. Kerangka karangan dibuat untuk mempermudah penulisan
agar tetap terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang dituju. Pembuatan kerangka
karangan ini sangat penting, terutama bagi penulis pemula, agar tulisan tidak kaku dan penulis
tidak bingung dalam melanjutkan tulisannya.
Jika kita ingin membuat suatu karangan yang sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan
teratur maka sebelum pembuatan karangan itu harus terlebih dulu kita membuat sebuah
kerangka karangan agar pada karangan tersebut menjadi terarah dan tidak keluar dari topik
atau tema yang dituju.

3.2 Saran

Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang mata pelajaran bahasa


Indonesia pada umumnya dan peta pikiran serta kerangka karangan dan pengembangannya
pada khusunya, yakni dengan cara:
1. Meningkatkan belajar baik di sekolah, di rumah, maupun di luar rumah.
2. Harus mengikuti pelajaran tambahan di sekolah.
3. Dalam pembuatan karangan haruslah di buat suatu kerangka karangan agar
mendapatkan suatu hasil karangan yang sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur
tentunya akan menghasilkan suatu karangan yang berkualitas.

14
DAFTAR PUSTAKA

Isnaini, Salma .2016.Kerangka Karangan dan Peta Pikiran.


(https://www.scribd.com/doc/295848925/4-Kerangka-Karangan-Peta-Pikiran, diakses 18
Januari 2017).

Dani, Robbiana .2015.Makalah Kerangka Karangan.


(http://robbinadani.blogspot.co.id/2015/04/makalah-kerangka-karangan.html, diakses 13
April 2017).

Indah.2017.Kerangka Karangan dan Peta Pikiran.


(https://www.scribd.com/document/353439399/Keangka-Karangan-Dan-Peta-Pikiran,
diakses 11 Juli 2017 Pukul 10:20).

Amfatur.2016. Metode Peta Pikiran Dalam Pembelajaran Menulis Teks Deskripsi.


(http://cintaramai.blogspot.co.id/2016/12/metode-peta-pikiran-dalam pembelajaran.html,
diakses 10 Desember 2016 Pukul 06:26).

15