Anda di halaman 1dari 19

RESUME

PERSAMAAN GARIS LURUS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geo Analit Bidang & Ruang

Dosen Pengampu Neni Endriyana, M.Pd.

Tim Penyusun

Kelompok 2 Semester 6 B
1. HUSNUL IMAN
2. HANA MAULINA
3. MEGA MUSTIKA
4. ZUHRAH MANIAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HAMZANWADI
T.A 2017/2018
GARIS LURUS DALAM R2
(BIDANG)

A. Persamaan Garis Lurus


Jika diketahui sebuah pemetaan f(x) = 2x + 1 dengan daerah asal 0 ≤ x ≤ 5 dengan x ϵ R,
maka kita dapat menggambarkan grafik fungsinya seperti gambar di samping (gambar
1).

Dalam permasalahan tersebut, persamaan f(x)=2x + 1 dapat kita ubah menjadi y = 2x +


1. Dalam grafik terlihat bahwa grafik terlihat bahwa grafik fungsinya berupa garis lurus,
mengapa demikian ? persamaan y = 2x + 1 di sebut Persamaan Garis Lurus atau
Persamaan Garis. Secara umum bentuk persamaan garis adalah sebagai berikut :
px + qy = r dimana p ≠ 0 dan q ≠ 0
Jika masing-masing ruas garis dari persamaan px + qy = r kita bagi q maka akan di
𝒑 𝒓
peroleh persamaan garis 𝒚 = − 𝒒 𝒙 + 𝒒. Bilangan di depan variabel x, yaitu –p/q
merupakan sebuah konstanta sehingga dapat kita ubah menjadi konstanta lain misalnya
m, dan r/q dapat kita ganti dengan c. Sehingga kita peroleh persamaan garis yang baru
sebagai berikut :
y = mx + c, dengan m dan c adalah sebuah konstanta

Perhatikan gambar 1.1 dari gambar tersebut diketahui bahwa gari ℓ melalui titik
P(a, 0) dan sejajar dengan sumbu Y. Titik Q dan R terletak pada garis ℓ , karena garis ℓ
sejajar dengan sumbu Y, maka absis titik Q adalah a, dan absis titik R adalah a
pula. Bahkan semua titik pada garis ℓ selalu mempunyai absis sama dengan a.
Gambar 1.

Dari kondisi itu, dapatlah dikatakan bahwa garis ℓ adalah himpunan semua titik
yang berabsis a, dan ditulis {(x, y)|x = a}. Secara matematis, garis ℓ pada Gambar
1.1 dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan, yaitu x = a. Jadi x = a adalah garis
yang sejajar sumbu Y dan melalui titik (a, 0). Dengan penjelasan itu dapat dipahami
bahwa sumbu Y adalah persamaan garis yang berbentuk x = 0.

Selanjutnya perhatikan Gambar 1.2 dari gambar tersebut diketahui bahwa garis s
sejajar dengan sumbu X dan melalui titik P(0, b).

Gambar 1.2
Titik T dan D terletak pada garis s, maka ordinat-ordinat titik T dan D adalah b.
Lebih dari itu, semua titik yang terletak pada garis s selalu mempunyai ordinat b.
Sehingga kita dapat mengatakan bahwa garis s merupakan himpunan semua titik yang
mempunyai ordinat b, atau dituliskan sebagai {(x, y)|y = b}. Selanjutnya dapatlah
dikatakan bahwa y = b merupakan persamaan garis s, yaitu persamaan garis lurus yang
sejajar dengan sumbu X dan melalui titik (0, b). Dengan pengertian tersebut, dapat kita
pahami bahwa persamaan untuk sumbu X adalah y = 0.

Contoh 1:
Diketahui titik A(4, 7). Tentukanlah persamaan garis lurus yang sejajar sumbu
X dan melalui titik A. Tentukan pula persamaan garis lurus yang sejajar sumbu Y dan
melalui titik A.

Jawab:
Titik-titik pada garis lurus yang sejajar dengan sumbu X dan melalui titik A(4,7)
selalu berordinat 7, maka persamaan garis lurus yang sejajar sumbu X dan melalui titik
A adalah y = 7.
Titik-titik pada garis lurus yang sejajar dengan sumbu Y dan melalui titik A(4,7)
selalu mempunyai absis 4, sehingga persamaan garis lurus yang sejajar dengan sumbu Y
dan melalui titik A adalah x = 4. Selanjutnya, perhatikan Gambar 1.3 berikut:

Dari gambar tersebut diketahui bahwa garis ℓ melalui titik asal O(0, 0) dan titik
P(x1, y1). Pertanyaannya sekarang, bagaimana menentukan persamaan garis lurus
ℓ dengan kondisi tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menentukan atau
mencari sifat-sifat yang dimiliki oleh semua titik pada garis ℓ tersebut. Ambillah
sebarang titik T pada garis ℓ dan titik R adalah proyeksi titik T pada sumbu X (lihat
gambar 1.4). Jika dimisalkan T(x2, y2), maka R(x2, 0). Perhatikan ∆ OPQ dengan TR ||
PQ, maka:

|TR| : |OR| = |PQ| : |OQ|


y2 : x2 = y1 : x1 atau ditulis
𝑦2 𝑦1
=
𝑥2 𝑥1
Apabila 𝛼 adalah suatu sudut yang dibentuk garis ℓ dengan sumbu X arah
positif, maka

𝑦2 𝑦1
= = 𝑡𝑔 𝛼
𝑥2 𝑥1
Tampak bahwa perbandingan ordinat dan absis setiap titik pada garis ℓ adalah
tg α. Apabila titik (x, y) terletak pada garis ℓ , maka diperoleh:
𝑦
= 𝑡𝑔 𝛼
𝑥
Mengingat titik P (x1, y1) diketahui, maka harga tg α tertentu, yaitu:
𝑦1
= 𝑡𝑔 á
𝑥1

𝑦 𝑦1
=
𝑥 𝑥1
𝑦1
𝑦=( )𝑥
𝑥1
Jadi persamaan garis lurus ℓ yang melalui titik asal O dan P (x1, y1) adalah
𝑦1
𝑦 =( )𝑥
𝑥1
𝛼 adalah sudut yang dibentuk oleh garis ℓ dan sumbu X arah positif dan
besarnya dihitung dari sumbu X arah positif ke arah berlawanan dengan arah perputaran
jarum jam ke garis ℓ . tg α disebut tanjakan (gradien/koefisienarah) dari garis ℓ , dan
biasa diberi simbol dengan m. Jadi m = tg α, sehingga persamaan garis lurus ℓ yang
melalui titik asal O dengan gradien m secara matematis dapat ditulis sebagai y = m x.

Contoh 2:
Tentukan persamaan garis lurus yang melalui O (0, 0) dan P (-2, 5).
Tentukan pula tanjakan dari garis lurus tersebut.
Jawab:
Garis lurus yang dimaksud adalah garis lurus seperti tampak pada Gambar 1.5.
Persamaan garis lurus g yang melalui P(-2, 5) dan titik asal O(0, 0) adalah
−2
𝑦= 𝑥
5
1
𝑦 = −2 𝑥
2
−2 1
Tanjakan garis g tersebut 𝑚 = 5 = −2 2 = 𝑡𝑔𝛼 dengan kedudukan α seperti
tampak pada Gambar 1.5

Gambar 1.5
Tanjakan atau koefisien arah suatu garis lurus dapat bernilai positif atau bernilai
negatif. Apabila sudut yang dibentuk oleh sumbu X arah positif dengan garis lurus
tersebut merupakan sudut lancip, maka tanjakan garis lurus itu bernilai positif. Jika
sudut yang dibentuk oleh sumbu X arah positif dan garis lurus tersebut merupakan sudut
tumpul, maka tanjakan garis lurus itu bernilai negatif.

Contoh 3
Tentukan tanjakan dan persamaan garis lurus yang melalui O(0, 0) dan yang
mengapit sudut 60o dengan sumbu X arah positif.
Garis lurus yang dimaksudkan adalah garis ℓ seperti yang tampak pada gambar
1.6 (a), bukan garis g seperti yang tampak pada gambar 1.6 (b). Pada Gambar 1.6 (b)
menyatakan bahwa sudut yang diapit oleh garis g dan sumbu X arah positif adalah
−60𝑜 𝑎𝑡𝑎𝑢 120𝑜.

Tanjakan garis lurus ℓ adalah 𝑡𝑔 600 = √3 . Jadi persamaan garis lurus ℓ yang
melalui O dan yang mengapit sudut 60o dengan sumbu X arah positif adalah:

𝑦 = 𝑡𝑔 60𝑜 𝑥
𝑦 = √3𝑥

Sekarang, perhatikan gambar 1.7. Pada gambar tersebut, diketahui garis lurus g
melalui titik- titik A(x1, y1) dan B(x2, y2). Pertanyaannya, bagaimana menentukan
persamaan garis lurus g tersebut? Dalam menjawabnya, pertama-tama kita tentukan
terlebih dahulu tanjakan garis g, yaitu tg α.

Gambar 1.7
Selanjutnya, perhatikan ∆ ABC, dari segitiga ini diketahui bahwa sudut BAC =
𝛼, karena AC sejajar dengan sumbu X. Berarti, |𝐴𝐶| = 𝑥2 − 𝑥1 ,dan |𝐶𝐵| = 𝑦2 − 𝑦1 ,
sehingga:

|𝐶𝐵| 𝑦2 − 𝑦1
𝑡𝑔 𝛼 = =
|𝐴𝐶| 𝑥2 − 𝑥1
Yang menjadi catatan bahwa tanjakan garis g sebenarnya sama saja dengan
tanjakan ruas garis AB.
Seandainya terdapat sembarang titik P(x, y) pada garis lurus g, maka
tanjakan garis lurus g tersebut sebenarnya sama juga dengan tanjakan ruas garis AP.
Dengan cara seperti mencari tanjakan ruas garis AB, maka tanjakan ruas garis AP
didapat pula sebagai
𝑦 − 𝑦1
𝑡𝑔 𝛼 =
𝑥 − 𝑥1
Selanjutnya, karena tanjakan ruas garis AP sama dengan tanjakan ruas garis
AB, maka diperoleh persamaan
𝑦 − 𝑦1 𝑦2 − 𝑦1
= atau dapat ditulis
𝑥 − 𝑥1 𝑥2 − 𝑥1
𝑦 − 𝑦1 𝑥 − 𝑥1
=
𝑦2 − 𝑦1 𝑥2 − 𝑥1
Karena P(x, y) adalah sebarang titik pada garis lurus g, maka persamaan terakhir
merupakan persamaan garis lurus yang melalui titik-titik A(x1, y1), dan B(x2, y2).
Contoh 4:
Ditentukan titik A(1, 4) dan B(3, -2), tentukan tanjakan dan persamaan garis lurus yang
melalui titik-titik A dan B.
Jawab:
Tanjakan garis lurus yang melalui titik-titik A dan B sama dengan
tanjakan ruas garis AB, yaitu:
𝑦2 − 𝑦1 −2 − 4 −6
𝑚= = = = −3
𝑥2 − 𝑥1 3−1 2
Dengan menggunakan persamaan (1), maka persamaan garis lurus yang melalui
titik-titik A(1, 4) dan B(3, -2) adalah:
𝑦 − 𝑦1 𝑥 − 𝑥1
=
𝑦2 − 𝑦1 𝑥2 − 𝑥1
𝑦−4 𝑥−1
=
−2 − 4 3 − 1
𝑦−4 𝑥−1
=
−6 2
2(𝑦 − 4) = −6(𝑥 − 1)
2𝑦 − 8 = −6𝑥 + 6
2𝑦 = −6𝑥 + 6 + 8
2𝑦 = −6𝑥 + 14
𝑦 = −3𝑥 + 7

Gambar 1.8
Pada Gambar 1.8 diketahui bahwa garis ℓ melalui titik B(0, n) dengan tanjakan
m. Dalam kondisi ini akan ditentukan persamaan garis ℓ . Untuk itu, ambil sebarang
titik P(x, y) pada garis ℓ sehingga tanjakan ruas garis BP adalah
𝑦−𝑛 𝑦−𝑛
𝑎𝑡𝑎𝑢
𝑥−0 𝑥
Tanjakan ruas garis BP sama saja dengan garis ℓ , yaitu m, maka diperoleh
𝑦−𝑛
=𝑚
𝑥
y = mx + n
Jadi persamaan garis lurus dengan tanjakan m dan melalui titik (0, n) adalah
y = mx + n
Contoh 5:
1
Tentukan persamaan garis lurus dengan tanjakan 𝑚 = 2 dan melalui titik (0, 4)
Jawab:
1
Persamaan garis lurus dengan tanjakan 𝑚 = 2 dan melalui titik (0, 4) maka
1
(n = 4) jadi 𝑦 = 2 𝑥 + 4

Gambar 1.9
Pada Gambar 1.9 diketahui garis lurus g yang melalui titik A(x1, y1) dan
diketahui pula tanjakan garis g, yaitu m. Dari kondisi itu, akan ditentukan persamaan
garis urus g. Untuk menjawabnya, tentukan terlebih dahulu sembarang titik P(x, y) pada
garis g, maka tanjakan ruas garis AP adalah
𝑦 − 𝑦1
𝑥 − 𝑥1
Tanjakan ruas garis AP sama saja dengan tanjakan garis g, karena tanjakan garis
g diketahui sama dengan m, maka diperoleh persamaan
𝑦 − 𝑦1
=𝑚
𝑥 − 𝑥1
𝑦 − 𝑦1 = 𝑚(𝑥 − 𝑥1 )

Karena P(x, y) adalah sembarang titik pada garis lurus g, maka persamaan garis
lurus yang melalui titik (x1, y1) dengan tanjakan m adalah
𝑦 − 𝑦1 = 𝑚(𝑥 − 𝑥1 )

Contoh 6:
Carilah persamaan garis lurus yang melalui titik (-1, 2) dan mengapit sudut 135o
dengan sumbu X arah positif.
Jawab:
Persamaan garis lurus yang melalui titik (-1, 2) dengan tanjakan m adalah
𝑦 − 2 = 𝑚(𝑥 + 1)

Sedangkan tanjakan m = tg 135o = - 1


Jadi persamaan garis lurus yang melalui titik (-1, 2) dan mengapit sudut 135o
dengan sumbu X arah positif adalah 𝑦 − 2 = − 1(𝑥 + 1)
𝑦 = −𝑥 + 1
Perhatikan bahwa setiap persamaan garis
lurus, selain garis lurus vertikal dapat pula
dinyatakan dalam bentuk:
A𝑥 + B𝑦 + 𝐶 = 0
Dengan A, B dan C konstanta real, sedangkan A dan B tidak bersama-sama
nol. Bentuk ini dinamakan bentuk umum persamaan garis lurus pada bidang Kartesian.
Mengingat perubah-perubah x dan y dalam persamaan itu berderajat satu, maka
persamaan itu sering dinamakan persamaan linear.
PerhatKian bahwa, dari bentuk umum persamaan linear Ax + By + C = 0,
terdapat beberapa kemungkinan untuk bilangan-bilangan real A, B dan C, yaitu:
−𝐶
1. Jika A = 0 dan B ≠ 0 dan C ≠ 0, maka diperoleh persamaan 𝑦 = . Kondisi ini
𝐵
merupakan persamaan garis lurus yang sejajar sumbu X dan memotong sumbu Y di
−𝐶
titik (0, 𝐵
)
−𝐶
2. Jika B = 0 dan A ≠ 0 dan C ≠ 0, maka diperoleh persamaan 𝑥 = . Kondisi ini
𝐴
merupakan persamaan garis lurus yang sejajar dengan sumbu Y dan memotong
−𝐶
sumbu X di titik ( 𝐴 , 0)
−𝐴
3. Jika C = 0 dan A ≠ 0 dan B ≠ 0, maka diperoleh persamaan 𝑦 = 𝑥. Kondisi ini
𝐵
−𝐴
merupakan persamaan garis lurus melalui titik asal O dengan tanjakan 𝑚 = 𝐵
4. Jika A = C = 0 maka diperoleh bentuk persamaan y = 0, yang merupakan
persamaan sumbu X.
5. Jika B = C = 0 maka diperoleh bentuk persamaan x = 0, yang merupakan persamaan
sumbu Y.
6. Jika A, B dan C masing-masing tidak sama dengan nol, maka bentuk umum
−𝐴 𝐶
tersebut dapat diubah menjadi 𝑦 = 𝑥− . Persamaan ini menyatakan
𝐵 𝐵
−𝐴
persamaan garis lurus dengan tanjakan 𝑚 = dan melalui atau memotong
𝐵
−𝐶
sumbu Y di titik (0, 𝐵
)
Contoh 7:
Tentukan koordinat-koordinat titik-titik potong dengan sumbu-sumbu koordinat
dan tanjakan garis 3x – 5y + 15 = 0. Kemudian gambarlah garis tersebut!
Jawab:
Titik potong garis tersebut dengan sumbu X dapat dicari dengan
mensubstitusikan y = 0 dalam persamaan 3x – 5y + 15 = 0, sehingga diperoleh
3𝑥 – 5 ∙ 0 + 15 = 0
𝑥 = −5
Jadi titik potong garis tersebut dengan sumbu X adalah (-5, 0). Titik
potong garis tersebut dengan sumbu Y dapat dicari dengan
mensubstitusikan x = 0 dalam persamaan 3𝑥 – 5𝑦 + 15 = 0,
sehingga diperoleh
3 ∙ 0 – 5𝑦 + 15 = 0
𝑦=3
Jadi titik potong garis tersebut dengan sumbu Y adalah (0, 3). Selanjutnya,
menurut kemungkinan no. (6) di atas, maka tanjakan garis tersebut adalah
𝐴 3 3
𝑚 = − 𝐵 = − −5 = 5
Jadi, grafik garis dengan persamaan 3x – 5y + 15 = 0 tampak seperti
pada Gambar 1.10.

Gambar 1.10
3
Cara lain: Persamaan 3𝑥 – 5𝑦 + 15 = 0 diubah menjadi 𝑦 = 5 𝑥 + 3. Dari
persamaan terakhir ini, dapat disimpulkan menurut kemungkinan no. (6) bahwa
3
tanjakannya adalah 5
dan titik potongnya dengan sumbu X diperoleh dengan
mensubstitusikan y dengan nol, sehingga didapat x = -5. Jadi titik potong dengan
sumbu X adalah (-5, 0).
MENURUNKAN SUDUT ANTARA DUA
GARIS PADA BIDANG

B. Menurunkan sudut antara dua garis pada bidang


Sudut antara dua garis terbentuk apabila garis h dan g berpotongan di suatu titik,
maka sudut anatara garis h dan garis g adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan
garis h dan g seperti gambar dibawah ini:

Sudut anatara dua garis juga terbentuk apabila garis h dan garis g bersilangan,
maka sudut antara garis h dan garis g adalah sudut yang dientuk oleh perpotongan garis
h’ dan g’ dimana h’ // h dan g’ // g.
Misal garis g dan h bersilangan (artinya garis g dan h tidak berpotongan), untuk
menghitung besar sudutnya kita geser garis g sehingga memotong garis h, maka sudut ϴ
adalah sudut yang dibentuk oleh g’ dan h, seperti gambar dibawah ini:

Maka, dua buah garis dikatakan bersilangan apabila kedua garis tersebut tidak
sejajar dan tidak berpotongan.
Untuk menentukan sudut antara dua garis bisa diperhatikan contoh sebagai
berikut:
Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 12 cm.
Hitung besar sudut antara :
a). AH dan HC
b). AF dan BG
c). EB dan HP
(titik P adalah perpotongan garis diagonal AC dan BD)
Jawab :
a). sudut antara AH dan HC
Perhatikan ΔACH
Karena AH = AC = CH = diagonal sisi kubus, maka ΔACH adalah segitiga sama sisi,
sehingga ∠AHC = ϴ = 60o
b). sudut antara AF dan BG

Garis AF dan BG bersilangan, sehingga untuk menentukan sudutnya salah satu garis
harus kita geser.
Misal AF kita geser ke DG, sehingga berpotongan dengan BG di titik G.
Jadi sudut antara AF dan BG adalah ∠DGB
Karena ΔDGB adalah segitiga sama sisi, maka ∠DGB = ϴ = 60o
c). Sudut antara EB dan HP (titik P adalah perpotongan garis diagonal AC dan BD).

Karena EB dan HP bersilangan, maka EB kita geser ke HC sehingga berpotongan


dengan HP di titik H.
Jadi sudut antara EB dan HP adalah ∠PHC
Karena ΔAHC adalah segitiga sama sisi, maka ∠AHC = 60o
∠AHP = ∠PHC = ½ ∠AHC
ϴ = ∠PHC = ½ . 60o
ϴ = 30o
KEDUDUKAN SEBUAH GARIS DENGAN
GARIS LAIN

C. Kedudukan Sebuah Garis Dengan Garis Lain

1. Dua Garis Berpotongan


Dua buah garis dikatakan berpotongan, jika kedua garis itu terletak pada sebuah
bidang dan memiliki sebuah titik persekutuan. Titik persekutuan ini disebut titik
potong. Jika dua buah garis berpotongan pada lebih dari satu titik potong, maka
kedua garis ini dikatakan berimpit
Untuk mencari titik perpotongan anatara dua garis. Sebelumnya kita
misalkan terdapat dua buah garis yang tak sejajar dengan persamaan y = a1x + b1 dan
y = a2x + b2, dengan a1 ≠ a2 dan berpotongan di titik (x0, y0). Titik perpotongan dua
garis tersebut dapat dicari dengan mensubstitusikan (x0, y0) ke masing-masing
persamaan, sehingga di peroleh :

y0 = a1x0 + b1

y0 = a2x0 + b2

Dari persamaan (1) dan (2) tersebut diperoleh :

a1x0 + b1 = a2x0 + b2

 a1x0 – a2x0 = b2 – b1
𝒃𝟐 −𝒃𝟏
 x0 (a1 – a2) = b2 – b1  𝒙𝟎 =
𝒂𝟐 −𝒂𝟏

Untuk mencari nilai yo dapat dilakukan dengan mensubtitusikan


𝒃 −𝒃
𝒙𝟎 = 𝒂𝟐 −𝒂𝟏 , kedalam persamaan (1) atau persamaan (2). Misalkan kita
𝟐 𝟏
mensubtitusikan nilai x0 ke persamaan (1) sehingga diperoleh :

y0 = a1x0 + b1
𝒃 −𝒃
 𝒚𝟎 = 𝒂𝟏 [𝒂𝟐 −𝒂𝟏 ] + 𝒃𝟏
𝟐 𝟏

2. Dua Garis Sejajar


Dua buah garis dikatakan sejajar, jika kedua garis itu terletak pada sebuah bidang
dan tidak memiliki satupun titik persekutuan
Aksioma Dua Garis Sejajar
Melalui sebuah titik yang berada di luar sebuah garis tertentu hanya dapat dibuat
sebuah garis yang sejajar dengan garis tertentu.
Dalil tentang dua garis sejajar :
1. Jika garis a sejajar dengan garis b dan garis b sejajar dengan garis c, maka
garis a sejajar dengan garis c..
2. Jika garis a sejajar garis b dan memotong garis c, garis b sejajar garis a dan
juga memotong garis c, maka garis - garis a,b, dan c terletak pada sebuah
bidang.
3. Jika garis a sejajar dengan garis b dan garis b menembus bidang, maka garis
a juga menembus bidang.

3. Dua garis bersilangan


Dua buah garis dikatakan bersilangan (tidak berpotongan dan tidak sejajar) jika
kedua garis itu tidak terletak pada sebuah bidang.
Kedudukan dan Jarak Titik
Ke Garis

D. Kedudukan dan jarak titik ke garis


Misalkan akan ditentukan jarak antara titik A(a, b) dengan garis lurus yang memiliki
persamaan px + qy + r = 0. Perhatikan gambar berikut.

Perlu diingat bahwa jarak dua objek adalah panjang lintasan terpendek yang
menghubungkan kedua objek tersebut. Karena ruas garis yang tegak lurus dengan
garis px + qy + r = 0 dan memiliki ujung di titik A dan ujung satunya di garis
tersebut merupakan lintasan terpendek yang menghubungkan titik dan garis tersebut,
maka panjang dari ruas garis tersebut, yaitu d, adalah jarak titik A terhadap garis px + qy
+ r = 0.

Karena px + qy + r = 0 ó y = −(p/q)x – (r/q) maka gradien garis yang tegak lurus dengan
garis px + qy + r = 0 adalah q/p, karena −(p/q) × q/p = −1. Selain tegak lurus dengan garis
px + qy + r = 0, garis tersebut juga melalui titik A(a, b), sehingga

Diperoleh, persamaan garis yang tegak lurus dengan garis px + qy + r = 0 dan melalui
titik A(a, b) adalah
Setelah persamaan garisnya diperoleh, titik potong garis px + qy + r = 0 dan garis
tersebut dapat ditentukan. Pertama, tentukan nilai absisnya, x2, terlebih dahulu.

Selanjutnya, kita tentukan nilai dari ordinatnya (y2).

Setelah koordinat (x2, y2) sudah ditemukan, maka selanjutnya kita tentukan jarak antara
titik tersebut dengan titik A(a, b), dengan menggunakan rumus jarak antara dua titik,

Agar lebih sederhana, kita tentukan x2 – x1 dan y2 – y1 terlebih dahulu, yaitu

dan
Sehingga jarak antara titik (x2, y2) dan A(a, b) dapat ditentukan sebagai berikut.

Sehingga kita telah memperoleh rumus untuk menentukan jarak antara suatu titik
dengan garis lurus, yang dapat dituliskan seperti berikut. Jarak antara titik yang memiliki
koordinat (a, b) dengan garis lurus yang persamaannya px + qy + r = 0, adalah

Setelah kita menentukan rumusnya, sekarang kita akan coba untuk menghitung jarak
antara Vihara Dharma Agung dan Jalan Sungan Kelara pada permasalahan di awal.

Jadi, jarak antara Vihara Dharma Agung dan Jalan Sungan Kelara adalah sekitar 56,5
meter. Selanjutnya perhatikan contoh soal berikut.
Contoh Soal: Menentukan Jarak antara Titik dan Garis Lurus
Tentukan jarak antara titik yang memiliki koordinat (−2, 3) dan garis yang memiliki
persamaan 3x – 4y – 7 = 0.
Pembahasan
Substitusi a = −2, b = 3, p = 3, q = −4, dan r = −7 ke rumus jarak titik dan garis.

Jadi, jarak antara titik yang memiliki koordinat (−2, 3) dan garis yang memiliki
persamaan 3x – 4y – 7 = 0 adalah 5 satuan panjang.
DAFTAR PUSTAKA

Sukirman. Geometri Analit Bidang dan Ruang. PEMA4317/Modul.


Nugroho, Heru. & Lisda Meisaroh. 2009. Matematika SMP dan MTs Kelas VII. Jakarta :
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasinal
https://yos3prens.wordpress.com/2013/09/20/jarak-titik-dan-garis/
http://bahasapendidikan.com/sudut-antara-dua-garis/
https://www.slideshare.net/dhuqhi
http://bahasapendidikan.com/sudut-antara-dua-garis/.