Anda di halaman 1dari 34
BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR 1. Kehamilan a. Pengertian
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. KONSEP DASAR
1. Kehamilan
a.
Pengertian

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung

dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan

menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,

dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester

kedua adalah 15 minggu (minggu ke 13 hingga ke 27), dan trimester

ketiga adalah 13 minggu (minggu ke 28 hingga ke 40) (Adrians,

2008).

Kehamilan menurut Prawirohardjo (2010) dapat juga diartikan

sebagai penyatuan spermatozoa dan ovum, yang dilanjutkan dengan

penempelan (nidasi) atau implantasi. Dimana masa kehamilan itu

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

berlangsung dalam waktu 40 minggu. Kehamilan dibagi menjadi 3

trimester diantaranya dimulai dari trimester I berlangsung dalam 12

minggu, trimester ke II dalam 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-

27), dan trimester ke III dalam 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-

40). b. Tanda kemungkinan kehamilan Tanda-tanda kemungkinan kehamilan menurut (2009) adalah sebagai berikut: 1)
40).
b. Tanda kemungkinan kehamilan
Tanda-tanda
kemungkinan
kehamilan
menurut
(2009) adalah sebagai berikut:
1) Perut membesar
mulai pembesaran perut.
2) Uterus membesar
bentuknya makin lama makin bundar.
3) Tanda Hegar
Konsistensi
rahim
dalam
kehamilan
berubah
menjadi

Ambarwati

Setelah kehamilan 14 minggu, rahim dapat diraba dari luar dan

Terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan konsistensi dari rahim.

Pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dan

lunak,

terutama daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri

mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada

triwulan pertama mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih

lunak.

4) Tanda Chadwick

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

Perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada vulva,

vagina, dan serviks. Perubahan warna ini disebabkan oleh pengaruh

hormon estrogen.

5) Tanda Piscaseck menyebabkan uterus membesar ke salah satu jurusan menonjol jelas ke jurusan pembesaran.
5) Tanda Piscaseck
menyebabkan
uterus
membesar
ke
salah
satu
jurusan
menonjol jelas ke jurusan pembesaran.
6) Tanda Braxton-Hicks
Braxton-Hicks tidak ditemukan.
7) Teraba ballotemen
adanya janin di dalam uterus.
8) Reaksi kehamilan positif

Cara

khas

yang

dipakai

dengan

menentukan

adanya

Uterus mengalami pembesaran, kadang-kadang pembesaran tidak

rata tetapi di daerah telur bernidasi lebih cepat tumbuhnya. Hal ini

hingga

Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda khas untuk

uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar

tetapi tidak ada kehamilan misalnya pada mioma uteri, tanda

Merupakan fenomena bandul atau pantulan balik. Ini adalah tanda

human

chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing

pertama

pada

pagi

hari.

Dengan

tes

ini

dapat

membantu

menentukan diagnosa kehamilan sedini mungkin.

c. Komplikasi dalam kehamilan

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

Menurut Prawiroharjo (2010) komplikasi yang dapat terjadi

dalam kehamilan adalam sebagai berikut :

1) Hiperemesis gravidarum minggu. 2) Pre eklamsia dan ekslamsia kejang dan koma. 3) Abortus 4)
1) Hiperemesis gravidarum
minggu.
2) Pre eklamsia dan ekslamsia
kejang dan koma.
3) Abortus
4) Persalinan preterm

yang

berbahaya

karena

mempunai

dampak

yang

Mual muntah dan muntah (emesis gravidarum) terjadi pada pagi

hari. Gejala ini kurang lebih terjadi sampai 6 minggu setelah hari

pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10

Pre eklamsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,

odema dan proteinuria. Eklamsia biasanya timbul pada wanita atau

dalam nifas dengan tanda-tanda pre eklamsia dan timbul serangan

Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin hidup diluar kandungan.

Persalinan yang terjadi pada 37 minggu atau kurang merupakan hal

potensial

meningkatkan kamatian perianal.

5) Perdarahan

Terjadi abortus atau ruptur kehamilan tuba terdapat perdarahan

kedalam cavum abdomen dalam jumlah yang bervariasi

yang

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

menyebebkan nadi meningkat, tekanan darah menurun, sampai

jatuh kedalam keadaan syok (Maryunani, 2009).

2. Abortus a. Pengertian Abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum hidup diluar 2010).
2. Abortus
a. Pengertian
Abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum
hidup
diluar
2010).

mampu

kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram

atau kehamilan kurang dari 28 minggu (Chandranita, 2010). Abortus

ialah berakhirnya suatu kehamilan yang diakibatkan oleh faktor-faktor

tertentu pada atau sebelum kehamilan atau keluarnya hasil konsepsi

sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang

dari 1000gr atau umur kehamiln kurang dari 28 minggu (Manuamba

Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin

dapat hidup diluar kandungan dengan berat badan dibawah 500 gram

atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu (Nanny, 2011). Peneliti

mengambil kesimpulan bahwa abortus merupakan pengeluaran hasil

konsepsi dengan umur kehamilan kurang dari 28 minggu sebelum

janin dapat bertahan hidup.

b. Macam-macam abortus

Berdasarkan kejadiannya abortus dibagi menjadi dua,

sebagai berikut:

yaitu

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

1)

Abortus

spontan

terjadi

secara

alamiah

tanpa

interfensi

luar

(buatan)

untuk

mengakhiri

kehamilan

tersebut.

Berdasarkan

gambaran kliniknya abortus dapat dibagi menjadi (Prawirohardjo,

2010):

a) Abortus completus (keguguran lengkap) adalah pengeluaran semua hasil konsepsi dengan umur kehamilan > 20
a)
Abortus
completus
(keguguran
lengkap)
adalah
pengeluaran
semua hasil konsepsi dengan umur kehamilan > 20 minggu
kehamilan lengkap.
b)
Abortus
insipiens
adalah
perdarahan
intrauterin
sebelum
kehamilan lengkap 20 minggu dengan dilatasi serviks berlanjut
tetapi tanpa pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi pengeluaran
sebagian atau seluruhnya.
c)
Abortus
incomplit
adalah pengeluaran
sebagian
tetapi
tidak
semua
hasil
konsepsi
pada
umur
>20
minggu
kehamilan
lengkap.
d)
Abortus imminens adalah perdarahan intrauteri pada umur < 20
minggu kehamilan lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus,
tanpa dilatasi serviks dan tanpa pengeluaran hasil konsepsi.
Hasil kehamilan yang belum viabel berada dalam bahaya tetapi

kehamilannya terus berlanjut.

e) Missed abortion (keguguran tertunda) adalah kematian embrio

atau janin berumur < 20 minggu kehamilan lengkap tetapi hasil

konsepsi tertahan dalam rahim selama ≥ 8 minggu.

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

f) Abortus

habitualis

adalah

kehilangan

3

atau

lebih

hasil

kehamilan secara spontan yang belum viabel secara berturut-

turut.

g) Abortus infeksiosus

adalah

abortus yang disertai

infeksi

genetalia interna sedangkan abortus sepsis terinfeksi dengan penyebaran bakteri melalui sirkulasi ibu. 2) Abortus
genetalia interna
sedangkan
abortus sepsis
terinfeksi dengan penyebaran bakteri melalui sirkulasi ibu.
2)
Abortus Provocatus
sebagai berikut (Manuaba, 2010):
membahayakan
jiwa
sehingga
terpaksa
dilakukan
orang dokter.
b) Abortus
kriminalis
adalah
abortus
yang
dilakukan

adalah abortus

Abortus provocatus adalah tindakan abortus yang disengaja

dilakkukan untuk menghilangkan kehamilan sebelum umur 28

minggu atau berat janin 500 gram, abortus ini dibagi lagi menjadi

a) Abortus medisinalis adalah abortus yang dilakukan atas dasar

indikasi vital ibu hamil jika diteruskan kehamilannya akan lebih

abortus

buatan. Tindakan itu harus disetujui oleh paling sedikit tiga

pada

kehamilan yang tidak diinginkan, diantaranya akibat perbuatan

yang tidak bertanggung jawab, sebagian besar dilakukan oleh

tenaga yang tidak terlatih sehingga menimbulkan komplikasi.

c. Etiologi Abortus

Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti,

tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut (Nanny, 2011):

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

1) Umur

Resiko abortus semakin tinggi dengan semakin bertambahnya usia

ibu.

Insiden

abortus

dengan

trisomi

meningkat

dengan

bertambahnya usia ibu. Resiko ibu mengalami aneuploidi yaitu

diatas 35 tahun karena kelainan kromosom akan meningkat pada usia diatas 35 tahun. 2) Kelainan
diatas 35 tahun karena kelainan kromosom akan meningkat pada
usia diatas 35 tahun.
2) Kelainan Pertumbuhan Hasil Konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian
janin
dan
cacat
bawahan
yang
menyebabkan
hasil
konsepsi
dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi
seperti:
a)
Faktor kromosom, gangguan terjadi sejak semula pertemuan
kromosom, termasuk kromosom seks.
b)
Faktor lingkungan endometrium
c)
Endometrium
yang
belum
siap
untuk
menerima
implantasi
hasil konsepsi.
d)
Gizi ibu kurang karena anemia atau jarak kehamilan terlalu
pendek

3) Pengaruh luar

a) Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil

konsepsi

b) Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan

pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

4) Kelainan Pada Plasenta

a) Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta

tidak dapat berfungsi.

b) Gangguan pada pembuluh darah plasenta yang diantaranya

pada penderita diabetes mellitus c) sehingga menimbulkan keguguran. 5) Penyakit Ibu Penyakit mendadak seperti
pada penderita diabetes mellitus
c)
sehingga menimbulkan keguguran.
5) Penyakit Ibu
Penyakit
mendadak
seperti
pneumonia,
tifus
malaria,
sifilis,
anemia
dan
penyakit
menahun
ibu
hipertensi,
penyakit
ginjal,
penyakit
hati,
dan
diabetesmilitus.
Kelainan
yang
terdapat
dalam
rahim.
retrofleksia uteri, serviks inkompeten, bekas
operasi
(konisasi,
amputasi
serviks
),
robekan
serviks
(Manuaba, 2010).
6) Riwayat Abortus

Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta

abdominalis,

seperti

penyakit

Rahim

merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan

abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus septus,

pada serviks

postpartum

Riwayat abortus pada penderitaabortus merupakan predisposisi

terjadinya abortus berulang. Kejadian ini sekitar 3-5% jumlah

kejadian abortus. Data menunjukan bahwa setelah 1 kali abortus

pasangan

akan

beresiko

(Soeparda, 2010).

Asuhan Keperawatan Pada

,

mengalami

abortus

sebesar

15%

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

7) Faktor anatomi

Faktor anatomi dapat memicu terjadinya abortus pada 10-15%

kejadian yang ditemukan. Kejaian abortus dapat diesabkan oleh

beberapa faktor, salah satunya adalah sebgai berikut:

a) kehamilan trimester kedua b) darah endometrium c) leimioma dan endometritis. 8) Faktor Infeksi Infeksi
a)
kehamilan trimester kedua
b)
darah endometrium
c)
leimioma dan endometritis.
8) Faktor Infeksi
Infeksi
termasuk
yang
diakibatkan
oleh
TORC
dihubungkan dengan abortus.
9) Obat-obatan rekreasional dan toksin lingkungan
Peranaan
penggunaan
obat-obatan
rekreasional
tertentu

dan alkohol,

Lesi anatomi kongenital yaitu kelainan duktus mullerian (uterus

bersepta) kelainan pada duktus ini biasanya terjadi abortus pada

Kelianan kongenital arteri uterina yang membahayakan aliran

Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterin (synechia),

(toksoplasma,

rubella, cytomegalovirus) dan malaria. Infeksi intrauterin sering

yang

dianggap teratogenik harus dicari dari anamnesa seperti tembakau

yang berperan karena jika ada mungkin hal ini

merupakan salah satu yang berperan terjadinya abortus.

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

d. Tanda dan Gejala Abortus Inkomplit

Abortus inkomplit ditandai dengan dikeluarkannya sebagian

hasil konsepsi dari uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis

sebagai berikut (Soepardan, 2010):

1) Amenore 2) Perdarahan dapat dalam jumlah sedikit atau banyak, perdarahan biasanya dalam darah beku
1)
Amenore
2)
Perdarahan dapat dalam jumlah sedikit atau banyak, perdarahan
biasanya dalam darah beku
3)
Sakit perut dan mulas-mulas dan sudah keluar jarinan atau bagian
janin
4)
Pemeriksaan dalam didapatkan servik terbuka, pada palpasi teraba
sisa-sisa jaringan dalam kantung servikalis atau kavum uteri.
Gejala lain dari abortus incomplit yang dapat muncul adalah
sebagai berikut:
1)
Perdarahan biasa sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah .
2)
Rasa mules (kontraksi) tambah hebat.
3)
Ostium uteri eksternum atau serviks terbuka.
4)
Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam cavum
uteri atau
kadang-kadang sudah
menonjol dari eksternum atau

sebagian jaringan keluar.

5)

Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan

dapat menyebabkan syok (Maryunani, 2009).

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

e. Komplikasi Abortus

Komplikasi

yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan,

perforasi, infeksi dan syok, sebagai berikut (Walsh, 2008):

1) Perdarahan

pada waktunya. 2) Perforasi dalam posisi hiperrentrofleksi. 3) Infeksi erat dengan suatu abortus yang tidak
pada waktunya.
2) Perforasi
dalam posisi hiperrentrofleksi.
3) Infeksi
erat dengan suatu abortus yang tidak aman.
4) Syok
dan karena infeksi berat.

f.

Patofisiologi Abortus

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa

hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfuse darah. Kematian

karena perdarahan dapat terjadi apabila petolongan tidak diberikan

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus

Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus

tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplit yang berkaitan

Syok pada abortus bias terjadi karena perdarahan (syok hemoragik)

Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis,

diikuti nekrosis jaringan yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas

dan dianggap benda asing dalam uterus. Sehingga menyebabkan

uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Apabila

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

pada

kehamilan

kurang

dari

8

minggu,

villi

khorialis

belum

menembus desidua serta mendalam sehingga hasil konsepsi dapat

keluar seluruhnya. Apabila kehamilan 8-14 minggu villi khorialis

sudah menembus terlalu dalam hingga plasenta tidak dapat dilepaskan

Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam kemerah-merahan (Prawiroharjo, 2010). g. Gambaran Klinis dan
Apabila mudigah yang mati tidak
dikeluarkan dalam
kemerah-merahan (Prawiroharjo, 2010).
g. Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus Inkomplit
1)
Gambaran
klinis
abortus
inkomplit,
pada
pemeriksaan
dijumpai gambaran sebagai berikut (Prawiroharjo, 2010):
a) Kanalis servikalis terbuka

b)

Dapat diraba jaringan dalam rahim atau kanalis servikalis

sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan dari pada plasenta.

waktu singkat,

maka dia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Pada janin yang

telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi

janin mengering dan karena cairan amion menjadi kurang oleh sebab

diserap dan menjadi agak gepeng. Dalam tingkat lebih lanjut menjadi

tipis. Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan

ialah terjadinya maserasi, kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek,

perut membesar karena terasa cairan dan seluruh janin bewarna

dapat

c) Dengan pemeriksaan inspekulum perdarahan bertambah

d) Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu

e) Pada pemeriksaan fisik seperti

kesadaran

menurun,

tekanan

keadaan umum tampak lemah

darah

normal

atau

menurun,

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal

atau meningkat.

f) Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering

nyeri pingang akibat kontraksi uterus.

2) Penanganan Abortus Inkomplit a) Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan pasien, termasuk tanda-tanda
2)
Penanganan Abortus Inkomplit
a)
Lakukan
penilaian
secara
cepat
mengenai
keadaan
pasien, termasuk tanda-tanda vital.
b)
Pengawasan
pernafasan
(jika
ada
tanda-tanda
nafas dari sumbatan kemudian berikan bantuan oksigen.
c)
Berikan cairan infus (D5% dan atau NaCl 0,9%).
d)
Lakukan pemeriksaan laboratorium
e)
menit).
f)
Jika
perdarahan
banyak
atau
terus
berlangsung
dan

kehamilan < 16 minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan:

umum

gangguan

pernafasan seperti adanya takipnea, sianosis) bebaskan saluran

Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan,

tekanan sistolik kurang 90 mmHg, nadi lebih 112 kali per

usia

1) Aspirasi Vacum Manual merupakan metode evakuasi yang

terpilih.

Evakuasi

dengan

kuret

tajam

sebaiknya

hanya

dilakukan jika AVM tidak tersedia.

2) Jika

evakuasi

belum

dapat

dilakukan

segera, beri

ergometrium 0,2 mg im (diulangi setelah 15 menit jika

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi

setelah 4 jam jika perlu).

g) Jika kehamilan > 16 mingguan)

1) Berikan infus

oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV

(garam fisiologis arau RL) dengan menit sampai terjadi ekspulsi konsepsi. 3) Evakuasi sisa hasil konsepsi
(garam fisiologis arau RL) dengan
menit sampai terjadi ekspulsi konsepsi.
3) Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus
4) Pastikan
untuk
tetap
memantau
kondisi
ibu
penanganan.
h. Terapi abortus dengan kuretase
keadaan serviks dan besarnya uterus (Manuamba, 2010):
1)
Persiapan sebelum kuretase
a) Persiapan penderita

b)

kecepatan 40 tetes /

2) Jika perlu berikan misoprostol 200 mg pervaginam setiap 4

jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi(maksimal 80 mg)

setelah

Kuratase adalah cara membersihkan hasil konsepsi dengan alat

kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase, penolong

harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus,

Lakukanlah pemeriksan dalam: tekanan darah, nadi, keadaan

jantung dan paru-paru

c) Pasang infus

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

d) Persiapan alat-alat kuratase

Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia dalam bak alat

dalam keadaan aseptik.

e) Penderita ditidurkan dalam posisi litotomi

f) Persiapan untuk anastesi regional 2) Teknik kuretase a) Persiapan pasien b) Lakukan pemeriksaan tanda-tanda
f)
Persiapan untuk anastesi regional
2)
Teknik kuretase
a)
Persiapan pasien
b)
Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, jantung dan paru-paru.
c)
Pasang infus
d)
Tentukan letak rahim yaitu dengan melakukan pemeriksaan
dalam alat-alat yang umumnya dipakai biasanya terbuat dari
alat-alat metal. Alat yang akan dimasukan harus disesuaikan
dengan letak rahim sehingga tidak terjadi salah arah.
e)
Penduga rahim (sandage), masukanlah penduga rahim sesuai
dengan
letak
rahim
dan
tentukan
panjang
atau
dalamnya
penduga rahim.
f)
Kuretase,
pakailah
sendok
kuretase
yang
agak
besar.
Memasukannya
bukan
dengan
kekuatan
dan
melakukan

kerokan biasanya mulailah dibagian tengah. Pakailah sendok

kuretase yang tajam karena pada dinding rahim dalam.

g) Cunan abortus, pada abortus inkomplit dimana sudah kelihatan

jaringan, pakailah cunam abortus untuk mengeluarkannya yang

biasanya diikuti oleh jaringan lain. Dengan demikian sendok

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

kuretase dapat dipakai untuk membersihkan sisa-sisa yang

3)

ketinggalan saja.

Perawatan paska tindakan kuretase

a) Periksa kembali tanda vital pasien, segara lakukan tindakan

dan beri instruksi apabila terjadi kelainan dan komplikasi b) Catat kondisi dan buat laporan tindakan
dan beri instruksi apabila terjadi kelainan dan komplikasi
b)
Catat kondisi dan buat laporan tindakan
c)
Buat instruksi pengbatan lanjutan dan pemantauan kondisi
pasien
d)
Beritahu kepada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah
selesai dilakukan tetapi pasien masih memerlukan perlakuan
e)
Jelaskan pada petugas jenis perawatan yang masih diperlukan,
lama perawatan dan kondisi yang diharapkan.
f)
Kaji dan kontrol nyeri post tindakan invasif
3.
Nyeri
a. Pengertian
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang
tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual
atau potensial dan nyeri bersifat subjektif. Nyeri merupakan alasan

utama seseorang untuk

mencari

bantuan perawatan kesehatan.

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan

dengan

beberapa

pemeriksaan

(Purwandari, 2008).

diagnostik

atau

pengobatan

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

Teori nyeri yang diterima saat ini salah satunya adalah teori

Gate Control. Menurut teori ini, sensasi nyeri dihantar sepanjang

saraf sensoris menuju ke otak dan hanya sejumlah sensasi atau

pesan tertentu dapat dihantar melalui jalur saraf ini pada saat

sebagai gerbang yang dapat meningkatkan atau tertutup tergantung input dari serabut saraf besar dan dan
sebagai
gerbang
yang
dapat
meningkatkan
atau
tertutup
tergantung
input
dari
serabut
saraf
besar
dan
dan
menyebabkan
sensasi
nyeri
sampai
ke
otak.
peningkatan
aktifitas
serabut
saraf
besar
akan
menutup
dalam Tamsuri, 2007).
b. Kalsifikasi Nyeri
Klasifikasi
nyeri
menurut
Tamsuri
(2007)
menjadi, yaitu:
1) Berdasarkan sumber nyeri

bersamaan. Teori Gate Control menyatakan bahwa sinaps pada

akar dorsal yang dikenal sebagai substansia gelatinosa berperan

menurunkan

rangsang nyeri dari saraf perifer ke otak. Gerbang ini terbuka atau

kecil.

Peningkatan aktivitas serabut saraf kecil akan membuka gerbang

Sedangkan

pintu

gerbang sehingga sensasi nyeri tidak sampai ke otak (Guyton, l990

dibedakan

Sumber nyeri bisa berasal dari mana saja yaitu kulit, ligamen,

otot dll. Berdasarkan sumbernya, nyeri dapat dibedakan atas

cutaneus/ superfisial, deep somatic/ nyeri dalam, dan visceral

(pada organ dalam).

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

2) Berdasarkan lokasi nyeri

Nyeri yang dialami dapat disebabkan oleh hal-hal tertentu.

Penyebab nyeri dibedakan menjadi 2 yaitu fisik dan psikogenik.

Penyebab dari fisik merupakan nyeri yang berasal dari bagian

marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya). 3) Berdasarkan lama/ durasi nyeri adalah suatu keadaan dimana
marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya).
3) Berdasarkan lama/ durasi nyeri
adalah
suatu
keadaan
dimana
individu
mengalami
melaporkan
adanya
rasa
ketidaknyamanan
yang
hebat
sensasi yang tidak menyenangkan selama enam

tubuh seseorang dan ini terjadi karena stimulus fisik serta nyeri

ini dapat dilihat secara langsung dari morfologi tubuh yang

berubah (Contoh fraktur femur). Nyeri psycogenic terjadi karena

sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi, bersumber dari

emosi/ psikis dan biasanya tidak disadari (Contoh orang yang

Lama/ durasi nyeri yang dialami oleh pasien sangat beraneka

ragam, hal ini tentu sangat mengganggu aktivitas dari penderita

nyeri tersebut. Sedangkan berdasarkan lamanya nyeri tersebut

dapat dibedakan atas nyeri akut dan nyeri kronik. Nyeri akut

dan

atau

bulan atau

kurang. Nyeri kronis adalah nyeri konstan atau intermiten yang

menetap sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama,

intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam

bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol.

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian (Purwandari,

2008).

4) Berdasarkan Lokasi

Berdasarkan lokasinya nyeri dapat dikategorikan sebagai berikut

(Purwandari, 2008): a) Radiating pain merupakan nyeri yang diakibatkan oleh efek radio aktif pada bagian
(Purwandari, 2008):
a)
Radiating pain merupakan nyeri yang diakibatkan oleh efek
radio aktif pada bagian tubuh yang terkena paparannya.
b)
Cardiac pain yakni nyeri menyebar dari sumber nyeri ke
jaringan di dekatnya.
c)
Refered pain
yakni nyeri dirasakan pada bagian tubuh
tertentu yang diperkirakan berasal dari jaringan penyebab
d)
Intractabel pain yakni nyeri yang sangat susah dihilangkan
(contoh: nyeri kanker maligna)
e)
Phantom pain yakni sensasi nyeri dirasakan pada bagian
tubuh yang hilang (contoh: bagian tubuh yang diamputasi)
atau
bagian
tubuh
yang
lumpuh
karena
injuri
medulla
spinalis
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Respon Nyeri

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nyeri pada pasien, yaitu

(Tamsuri, 2007) :

1) Usia

Usia merupakan faktor yang menentukan respon seseorang terhadap

respon rasa nyeri. Seorang anak belum bisa mengungkapkan nyeri,

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada

orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan

mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam

nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal

berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. 2) Jenis kelamin dalam merespon nyeri. 3) Ansietas nyeri
berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
dalam merespon nyeri.
3) Ansietas
nyeri yang hebat tentu saja membuat cemas.
4) Pengalaman masa lalu
saat
ini
nyeri
yang
sama
timbul,
maka
ia
akan
lebih

tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit

Mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak berbeda secara signifikan

Cemas meningkatkan persepsi seseorang terhadap nyeri dan nyeri

bisa menyebabkan seseorang cemas. Hal ini merupakan hubungan

timbal balik yang dapat dialami penderita nyeri. Bayangan akan rasa

Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan

mudah

mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri

5) Dukungan keluarga dan sosial

Individu

yang

mengalami

nyeri

seringkali

bergantung

kepada

anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan,

bantuan, dan perlindungan. Dengan cara pemberian pemahaman

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

tentang apa yang akan dialami dan kesembuhan yang akan diperoleh

setelah menjalani terapi dapat lebih efektif dalam proses mengatasi

nyeri yang dialami oleh pasien.

d. Pengukuran Intensitas Nyeri

Tipe nyeri tersebut juga berbeda pada setiap waktu, oleh karena itu perlu dilakukan waktu pengukuran
Tipe nyeri tersebut juga berbeda pada setiap waktu, oleh karena
itu perlu dilakukan waktu pengukuran yang berbeda. pengukuran nyeri
pada saat belum dilakukan terapi dan setelah pemberian terapi kepada
pasien. Ada 3 cara mengkaji intensitas nyeri yang biasanya digunakan,
antara lain (Dinisari, 2006 ) :
1)
Visual analog scale
Alat pengukuran nyeri efisien yang telah digunakan secara luas
dalam
penelitian
dan
pengaturan
klinis.
Visual
analog
scale
merupakan alat dengan garis 10 cm, orientasi biasanya disajikan
secara
horisontal.
Pasien
diintruksikan
untuk
menandai
baris
dengan pensil dengan bentuk garis pada titik sesuai dengan nyeri
yang dirasakan sekarang.
2)
Verbal Numerical Rating Scale
Alat ini sebenarnya hampir sama dengan visual analog scale hanya

saja alat ini terdapat score dari 0-10. Daerah yang sakit kemudian

diberi skor sesuai dengan angka yang ada pada alat ukur tersebut.

3)

Kategori sakit

Pada pengukuran dengan alat kategori sakit, nyeri terbagi atas tidak

sakit, sakit ringan, sakit moderat, sangat sakit, sakit sekali dan sakit

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

tidak dapat dibayangkan. Intensitas nyeri mengacu pada kehebatan

nyeri itu sendiri.

B. PROSES KEPERAWATAN

Proses keperawatan pada pasien dengan post kuret

abortus inkomplit

sebagai berikut : 1. Pengkajian Pada anamnesis yang dikaji adalah keluhan utama, riwayat sekarang, dan
sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pada
anamnesis
yang
dikaji
adalah
keluhan
utama,
riwayat
sekarang, dan riwayat terdahulu.
2. Riwayat Kesehatan Klien
a.
abortus inkomplit
adanya peluruhan hasil konsepsi.
b.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian
yang
berisi
serangkaian
pertanyaan
tentang
keluhan utama (Ardiansyah, 2012).
c.
Riwayat Penyakit Keluarga
Untuk
mengetahui
riwayat
penyakit
keluarga,
tanyakan

penyait

Keluhan yang paling sering muncul adalah pada pasien dengan post kuret

Keluhan Nyeri merupakan manisfestasi akibat adanya perlukaan didalam

jaringan tubuh dalam hal ini adalah perlukaan di daerah rahim akibat

kronologis

apakah

sebelumnya apakah anggota dari keluarganya ada yang memiliki keluhan

atau sakit yang sama. Perawat menanyakan tentang penyakit yang pernah

dialami

oleh

keluarga.

Bila

ada

keluarga

yang

meninggal,

maka

penyebab kematian juga perlu ditanyakan (Ardiansyah, 2012).

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

d. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan umum terhadap asien gagal jantung, biasanya pasien

memiliki kesadaran yang baik (compos mentis).

1) Sistem reproduksi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui TFU, keadaan vagina

aerola) 2) Sistem kardiovaskuler suhu tubuh pasien. 3) Sistem perkemihan pasien dalam satu hari, warna
aerola)
2) Sistem kardiovaskuler
suhu tubuh pasien.
3) Sistem perkemihan
pasien dalam satu hari, warna dan bau
4) Sistem gastrointestinal
pasien, mual dan muntah.
5) Sistem neurologis

(lokea, DC, dan kebersihan) dan payudara (keadaan bentuk dan warna

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui tekanan darah, nadi dan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui frekuensi BAK dan BaB

Pemeriksan ini dilakukan untuk mengetahui pola makan pasien dan

masalah pencernaan yang muncul pada pasien seperti porsi makan

pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui sistem nurologis pasien.

6) Sitem imunologis

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui sistem imun pasien

dapat dilakukan dengan pemeriksaan suhu tubuh.

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

7) Sistem integumen

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan integument

pasien seperti akral, elastisitas, warna dan turgor kulit

8) Sistem muskuloskeletal

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan kelemahan dan kekakuan otot pasien C. PATHWAY Pertumhan
Pemeriksaan
ini
dilakukan
untuk
mengetahui
kekuatan
kelemahan dan kekakuan otot pasien
C. PATHWAY
Pertumhan
Pengaruh
Keadaan
obat
Infeksi
Faktor
hasil
luar
Plasenta
ibu
Abortus
Inkomplit
Post
kuretase
anastesi
Jaringan terputus
Masuknya alat
tindakan kuretase
Penurunan saraf
oblongata
Invasi
Merangsang area
sensori motorik
bakteri
Penurunan
peristaltik usus
Peningkatan
Nyeri
Leukosit
Penurunan peristaltik usus Peningkatan Nyeri Leukosit Penyerapan cairan dikolon Keterbatasan Resiko Gangguan

Penyerapan cairan dikolon

usus Peningkatan Nyeri Leukosit Penyerapan cairan dikolon Keterbatasan Resiko Gangguan eliminasi: Konstipasi infeksi

Keterbatasan

Nyeri Leukosit Penyerapan cairan dikolon Keterbatasan Resiko Gangguan eliminasi: Konstipasi infeksi Aktivitas

Resiko

Leukosit Penyerapan cairan dikolon Keterbatasan Resiko Gangguan eliminasi: Konstipasi infeksi Aktivitas

Gangguan eliminasi:

Konstipasi

infeksi Aktivitas Hambatan Hipertermi Mobilitas fisik
infeksi
Aktivitas
Hambatan
Hipertermi
Mobilitas fisik

otot,

Umur

Resiko

abortus

Hipertermi Mobilitas fisik otot, Umur Resiko abortus Jaringan terbuka Perdarahan Hipovolemi Gangguan
Hipertermi Mobilitas fisik otot, Umur Resiko abortus Jaringan terbuka Perdarahan Hipovolemi Gangguan

Jaringan

terbuka

Mobilitas fisik otot, Umur Resiko abortus Jaringan terbuka Perdarahan Hipovolemi Gangguan keseimbangan cairan dan

Perdarahan

Hipovolemi

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

Skema 2.1 Pathways Abortus Inkomplite, Prawiroharjo (2010)

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

D.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Rumusan Diagnosa Keperawatan (NANDA)

1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

output yang berlebihan

2) Nyeri a). Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang diprediksi dan berlangsung kurang dari
2) Nyeri
a).
Definisi
:
Pengalaman
sensori
dan
emosional
yang
diprediksi dan berlangsung kurang dari 6 bulan.
b). Batasan Karakteristik :
(1)
Perubahan selera makan
(2)
Perubahan tekanan darah
(3)
Perubahan frekuensi jantung
(4)
Perubahan frekuensi pernafasan
(5)
Laporan isyarat
(6) Diaforesis

tidak

menyenangakan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang

aktual dan potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan

sedemikian rupa yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas

ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau

(7) Perilaku distraksi (berjalan mondar mandir, mencari orang

lain, dan aktivitas yang berulang)

(8)

Mengekspreksikan perilaku (gelisah, merengek, menangis)

(9) Masker wajah (mata kurang bercahaya, tampak kacau,

gerakan mata bepencar atau tetap pada satu focus)

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

(10) Sikap melindungi area nyeri

(11) Fokus menyempit (gangguan persepsi nyeri, hambatan

proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan

lingkungan)

(12) Indikasi nyeri yang dapat diamati (13) Perubahan posisi untuk menghindari nyeri (14) Sikap tubuh
(12) Indikasi nyeri yang dapat diamati
(13) Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
(14) Sikap tubuh melindungi
(15) Dilatasi pupil
(16) Melaporkan nyeri secara verbal
(17) Fokus pada diri sendiri
(18) Gangguan tidur
c). Faktor yang Berhubungan :
(1) Agens cedera (biologis, zat kimia, fisik, psikologis)
d). Intervensi yang Disarankan :
(1) Analgesic Administration (2210)
(2) Environmental Management Comfort (6482)
(3) Medications Administration (2300)
(4) Medication Management (2380)

(5) Pain Management (1400)

3) Gangguan mobilisasi fisik

a). Definisi : Keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu

atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

b). Batasan Karakteristik :

(1) Penurunan waktu reaksi

(2) Kesulitan membolak balik posisi

(3) Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan

(4) Dispnea setelah beraktivitas (5) Perubahan cara berjalan (6) Gerakan bergetar halus kasar (9) Keterbatasan
(4) Dispnea setelah beraktivitas
(5) Perubahan cara berjalan
(6) Gerakan bergetar
halus
kasar
(9) Keterbatasan rentang pergerakan sendi
(10) Tremor akibat pergerakan
(11) Ketidakstabilan postur
(12) Pergerakan lambat
c). Faktor yang Berhubungan :
(1) Intoleran aktivitas
(2) Perubahan metabolisme seluler

(3) Ansietas

(7) Keterbatasan kemampuan melakukan ketrampilan motorik

(8) Keterbatasan kemampuan melakukan ketrampilan motorik

(4) Indeks massa tubuh diatas persentik ke 75 sesuai usia

(5) Gangguan kognitif

(6) Kontraktur

(7) Kepercayaan budaya tentang aktivitas sesuai usia

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

(8) Fisik tidak bugar

(9) Penurunan ketahanan tubuh

(10) Penurunan kendali otot

(11) Penurunan masa otot

(12) Penurunan kekuatan otot (13) Kurang pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik (14) Keadaan mood depresif
(12) Penurunan kekuatan otot
(13) Kurang pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
(14) Keadaan mood depresif
(15) Keterlambatan perkembangan
(16) Ketidaknyamanan
(17) Dissue
(18) Kaku sendi
(19) Kurang dukungan lingkungan (fisik atau sosial)
(20) Ketrbatasan ketahanan kardiovaskular
(21) Kerusakan integritas struktur tulang
(22) Malnutrisi
(23) Gangguan musculoskeletal
(24) Gangguan neuromuscular
(25) Nyeri

(26) Agens obat

(27) Program pembatasan gerak

(28) Keengganan memulai pergerakan

(29) Gaya hidup monoton

(30) Gangguan sensori perceptual

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

d). Intervensi yang Disarankan :

(1) Exercise Therapy Ambulation (0221)

(2) Exercise Therapy Joint Mobility (0224)

(3) Exercise Promotion (0200)

(4) Exercise Therapy Muscle Control (0226) (5) Energy Management (0180) 4) Hipertermi berhubungan dengan invasi
(4) Exercise Therapy Muscle Control (0226)
(5) Energy Management (0180)
4) Hipertermi berhubungan dengan invasi bakteri akibat jaringan
terbuka
b.
Fokus Intervensi
Tabel 2.1 Rencana Intervensi
No.
Diagnosa
NOC
NIC
Diagnosa
Keperawatan
1
Gangguan
keseimbanga
n cairan dan
elektrolit
Setelah dilakukan tindakan
Fluid management (4120)
keperawatan selama
x
jam
a.
diharapkan pasien mencapai Fluid
b.
Balance dengan krieria hasil :
Monitor berat badan setiap hari
Timbang popok atau pembalut
jika diperlukan
Fluid Balance (0601)
c.
Pertahankan catatan intake dan
output yang akurat
Indikator
Awal
Akhir
d.
Pasang urine kateter jika
diperlukan
1.
Tekanan
darah
1
5
e.
Monitor status hidrasi
1
5
2.
Nadi Radial
(kelembapan memmbran mukosa,
tekanan darah ortostatik), yang
3.
Tekanan
arteri rata-
rata
Tekanan
pulmonal
1
5
sesuai
f.
Monitor hasil laboratorium yan
sesuai dengan retensi cairann
4.
(hematokrit, osmolaritas urin)
1
5
5.
Keseimbang
an intake dan
output
selama 24
jam
g. Monitor hemodinamik status
termasuk CVP, MAP, PAP, and
PCWP, jika tersedia
1
5
h. Monitor vital sign
i. Kaji lokasi dan luas edema
Skala :
j. Monitor perubahan berat badan
pasien sebelum dan sesudah cuci
darah
1 : Parah
k. Monitor asupan cairan dan
Asuhan Keperawatan Pada
,
PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

2 : Berat

3 : Sedang

4 : Ringan

5 : Tidak ada

makanan yang tertelan

l. Kelola terapi IV, seperti yang ditentukan

m. Monitor status nutrisi

n. Berikan cairan yang sesuai

o. Berikan diuretik seperti yang ditentukan p. Berikan pendidikan kesehatan tentang keseimbangan cairan

q. Fluid monitoring (4310) a. b. c. Monitor berat badan d. a. b. c. d.
q.
Fluid monitoring (4310)
a.
b.
c.
Monitor berat badan
d.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Monitor BP, HR, dan RR

Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk

Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi Tentukan kemungkinan faktor resiko ketidakseimbangan cairan (hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati)

Monitor serum dan elektrolit urine

Monitor serum dan osmilali Monitor serum dan osmilalitas urine

Monitor darah orthostatic dan perubahan irama jantung

Monitor parameter hemodinamik infasif

Catat secara akurat intake dan output

Monitor adanya distensi leher, oedem perifer dan penambahan BB

g. Monitor tanda dan gejala oedema

h. Perhatikan ada atau tidak nya vertigo yang meningkat

i. Kelola agen farmakologi untuk meningkatkan output urin

j. Kelola cuci darah, yang sesuai, catat respon pasien Berikan pendidikan kesehatan tentang kelebihan cairan.

2 Nyeri Akut

Pain Level (2102)

Pain Management (1400)

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama

diharapkan masalah nyeri klien teratasi dengan kriteria hasil :

x jam

Indikat

Awal

Akhir

1. Lakukan pengkajian nyeri

secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi

2. or 1.Mela 1 5 3. porkan adanya nyeri 4. 2.Freku 1 5 ensi nyeri
2.
or
1.Mela
1 5
3.
porkan
adanya
nyeri
4.
2.Freku
1 5
ensi
nyeri
5.
3.Ekspr
1 5
6.
esi
wajah
7.
Tingkatkan istirahat
8.
4.Tand
1 5
a-tanda
9.
vital
Keterangan :
1 : sangat berat
1.
2 : berat
3 : sedang
4 : ringan
2.
Cek riwayat alergi
5 : tidak ada
3.
4.

Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan

Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi seperti

suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan

Kurangi faktor presipitasi nyeri

Ajarkan teknik non farmakologi

Ciptakan lingkungan yang nyaman

Kolaborasi pemberian obat

analgetik sesuai indikasi Analgesic administration (2210)

Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali

Kolaborasikan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat

5. Evaluasi efektivitas analgesic, tanda, dan gejala

3 Hambatan

Mobilitas

Fisik

Join Movement : Active

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama

diharapkan masalah gangguan mobilitas fisik dapat teratasi

x jam

Exercise therapy : Ambulation

(0221)

1. Monitor vital sign sebelum

dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan

2. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

dengan kriteria hasil : Indikator Awal Akhir ambulasi sesuai dengan kebutuhan 3. Bantu klien untuk
dengan kriteria hasil :
Indikator
Awal
Akhir
ambulasi sesuai dengan
kebutuhan
3. Bantu klien untuk
1.Keseimba
1
5
ngan tubuh
menggunakan tongkat saat
berjalan dan cegah terhadap
2.Gerakan
1
5
otot
cedera
4. Ajarkan pasien tentang teknik
3.Gerakan
1
5
sendi
ambulasi
5. Kaji kemampuan pasien
4.Kemampu
1
5
an
berpindah
Keterangan :
1 : sangat berat
2 : berat
3 : sedang
4 : ringan
5 : tidak ada
dalam mobilisasi
6. Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan ADLs
secara mandiri sesuai
kemampuan
7. Dampingi dan bantu pasien
saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan ADLs
8. Berikan alat bantu jika klien
memerlukan
9.
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika perlu
Exercise promotion (0200)
1.
Bantu klien dalam
melakukan aktivitas,
mendorong klien untuk
meminta jika membutuhkan
latihan, bantu identifikasi
program latihan yang sesuai.
2. Perawatan bedrest:
-
Pertahankan tempat tidur
bersih dan nyaman.
-
Ubah posisi klien untuk
mencegah dekubitus
-
Berikan fasilitas pada klien
untuk aktivitas sesuai
kesukaan klien di tempat
tidur (membaca, dll)

3. Atur tempat klien atau posisi tubuh klien

4. Cegah faktor yang dapat memicu resiko injuri

5. Terapi latihan:

ambulasi/ROM:

- Kaji kemampuan fungsional untuk identifikasi kelemahan

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016

atau kekuatan

- Berikan jadwal latihan aktivitas secara bertahap

- Mulailah latihan dari gerakan pasif menuju aktif pada semua ekstrimitas

- Sokong ekstrimitas pada

posisi fungsional

Hipertermi Setelah dilakukan tindakan Fever treatment (3740) berhubungan keperawatan selama x jam 1. dengan
Hipertermi
Setelah dilakukan tindakan
Fever treatment (3740)
berhubungan
keperawatan selama
x
jam
1.
dengan
diharapkan hipertermi dalam batas
2.
inflamasi
normal dengan kriteria hasil :
3.
Rsik control: hyperthermia
4.
(3902)
5.
Indikator
Tujuan
Suhu tubuh
4
6.
dalam batas
normal
Nadi dan RR
dalam batas
normal
4
7.
8.
Tidak ada
perubahan
warna kulit dan
tidak ada pusing
5
1.
Keterangan :
2.
1. Sangat berat
2. Berat
3.
3. Sedang
4.
4. Ringan
5.
5. Tidak ada keluhan

6. Evaluasi penggunaan alat bantu untuk pengaturan posisi selama periode

4.

Monitor suhu minimal tiap 2 jam

Monitor vital sign ( TD, nadi, suhu, dan RR)

Monitor warna dan suhu kulit Kompres pasien pada lipat paha dan aksila

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

Ajarkan pasien dan keluarga untuk mempertahankan cairan dan nutrisi

Kolaborasi pemberian cairan intravena

Kolaborasi pemberian antipiretik

Temperature Regulation (3900)

Ukur suhu sesering mungkin

Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi

Monitor warna dan suhu kulit Berikan anti piretik

Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh

6. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas

Asuhan Keperawatan Pada

,

PUTRI NIDA HANA Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016