Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK

ANTROPOLOGI BUDAYA PAPUA

Interpretasi orang Papua tentang Ibu hamil, melahirkan dan Nifas

Dosen Pengajar : Y. Maryen , SKM, MPH.

Disusun oleh :

- Nurul Hidayat 11430116042


- Ribka Meylan Sumbung 11430116045
- Waode Mayang W.R.S.M 11430116058
- Jekelina A. Flassy 11430116024
- Gracellia V. Yunarius 11430116020
- Elvira Kareth 11430116014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat dan karunia-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Budaya Papua tentang Interpretasi Orang Papua tentang
Ibu hamil, melahirkan dan Nifas

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Sorong, 12 April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar ………………………………………………………………………….. ii

Daftar isi ………………………………………………………………………………… iii

BAB I : PENDAHULUAN

1. Latar Belakang …………………………………………………………… 1


2. Tujuan …………………………………………………………………….. 2
3. Sistematika Penulisan ……………………………………………………. 2

BAB II : INTI MATERI

1. Aspek Budaya terkait Kehamilan Kelahiran dan Nifas ………………… 3


2. Interpretasi Orang Papua tentang Ibu hamil, Melahirkan dan Nifas ……… 7

BAB III : PENUTUP

1. Kesimpulan ……………………………………………………………… 12
2. Saran ……………………………………………………………………… 12

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya, Aspek sosial dan budaya
sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam era globalisasi dengan
berbagai perubahan yang begitu ekstrem pada masa ini menuntut semua orang harus
memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di
kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang
sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam
masyarakat dimana mereka berada. Menurut WHO, kematian ibu masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat utama di berbagai negara di dunia dengan angka kematian rata-rata
400 per 100.000 kelahiran hidup.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti
konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan
dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik
positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, pacta
dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup
besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola
makan ibu nifas yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran
terhadap beberapa makanan tertentu.
Tak terkecuali suku-suku yang berada di Papua maupun Papua Barat. Masyarakat
Papua masih memegang beberapa kepercayaan, larangan, hingga anjuran tertentu bagi Ibu
Hamil, Melahirkan , dan Nifas. Merebaknya pengaruh globalisasi di Papua, ternyata tidak
mampu menghilangkan kepercayaan dan kebudayaan orang Papua terhadap Ibu Hamil,
Melahirkan dan Nifas.
Kebudayaan tersebut tidak dapat dihilangkan, salah satu alasan yang kuat dikarenakan
pembuktian terhadap beberapa mitos hingga kepercayaan tentang Ibu Hamil, Melahirkan,
dan Nifas benar adanya. Namun di sisi lain, terdapat beberapa kepercayaan/mitos yang
sama sekali tidak membawa dampak positif bagi Ibu hingga bayi baru lahir dan justru
membawa dampak negatif bagi Ibu dan Bayi.

1
2. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk mengetahui Interpretasi Orang Papua tentang Ibu
Hamil, Melahirkan dan Ibu Nifas
3. Sistematika penulisan

Cover
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang
2. Tujuan
3. Sistematika penulisan

BAB II INTI MATERI


BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

2. Saran

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. ASPEK BUDAYA TERKAIT KEHAMILAN, KELAHIRAN DAN NIFAS


a. Aspek Budaya Terkait Kehamilan dalam Masyarakat
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan
untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu
juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan
kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi
dan si ibu sendiri.
Fakta di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang
menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa
tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih
banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan ke
bidan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin
dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali
karena kasusnya sudah terlambat dan mengakibatkan kematian pada ibu dan bayi .hal
ini juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.
Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan,
permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh
faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan.
Preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang
menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang
relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pada saat melahirkan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah
gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan-
pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak
berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan
yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak
negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi
pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah pedesaan.

3
b. Aspek Budaya Terkait Kelahiran dalam Masyarakat
Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil
karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau
dengan kematian. Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI (Angka
Kematian Ibu) di Indonesia sebesar 228 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH), angka
tersebut masih tertinggi Di Asia. Masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia
berkaitan erat dengan faktor sosial budaya masyarakat, seperti tingkat pendidikan
penduduk, khususnya wanita dewasa yang masih rendah, keadaan sosial ekonomi yang
belum memadai, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
petugas kesehatan yang masih rendah, jauhnya lokasi tempat pelayanan kesehatan dari
rumah-rumah penduduk kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, perilaku masyarakat yang
kurang menunjang dan lain sebagainya.
Tingkat kepercayaan masyarakat kepada petugas kesehatan, dibeberapa wilayah
masih rendah. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut
yang sedemikian tinggi, sehingga ia lebih senang berobat dan meminta tolong kepada
ibu dukun. Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun
beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah.
Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan / praktek yang
membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan minyak kelapa
untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan
uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk
dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat
menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan
juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuran ini biasanya berkaitan
dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya
dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI, ada pula makanan tertentu yang
dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada
praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi
fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk

4
mengembalikan rahim ke posisi semula dengan memasukkan ramuan-ramuan seperti
daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan
yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat
tubuh (Iskandar et al., 1996).
Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan,
infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak
ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses
persalinan.

c. Aspek Budaya Terkait Nifas dalam Masyarakat


Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama 6 - 8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis bagi ibu, diperkirakan
bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50%
dari kematian ibu tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Selain itu,
masa nifas ini juga merupakan masa kritis bagi bayi , sebab dua pertiga kematian bayi
terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi
dalam waktu 7 hari setelah lahir (Saifuddin et al, 2002). Untuk itu perawatan selama
masa nifas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Perawatan masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam
mobilisasi, anjuran untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan
defekasi, perawatan payudara (mammae) yang ditujukan terutama untuk kelancaran
pemberian air susu ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan lain-lain (Rustam Mochtar,
1998 dan Saifuddin et al, 2002).
Selain perawatan nifas dengan memanfaatkan sistem pelayanan biomedical, ada
juga ditemukan sejumlah pengetahuan dan perilaku budaya dalam perawatan masa
nifas. Para ahli antropologi melihat bahwa pembentukan janin, kelahiran, dan masa
pasca kelahiran pada umumnya dianggap oleh berbagai masyarakat di berbagai
penjuru dunia sebagai peristiwa-peristiwa yang wajar dalam kehidupan manusia.
Namun respon masyarakat terhadap berbagai peristiwa kehidupan ini bersifat budaya,
yang tidak selalu sama pada berbagai kelompok masyarakat (Swasono, 1998).

5
Berdasarkan fakta yang terjadi pada masyarakat di atas, dapatlah dikatakan bahwa
memang benar ada beberapa nilai kepercayaaan masyarakat yang berhubungan dengan
perawatan postpartum. Mengingat bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang multikultural, maka fenomena tersebut sangat wajar terjadi. Dan pengetahuan
tentang aspek budaya merupakan hal penting diketahui oleh pelayan kesehatan untuk
memudahkan dalam melakukan pendekatan dan pelayanan kesehatan. Sebab, tidak
semua perawatan yang dilakukan dengan berpedoman pada warisan leluhur tersebut
bisa diterima sepenuhnya, bisa saja perawatan-perawatan yang dilakukan tersebut
memberikan dampak kesehatan yang kurang menguntungkan bagi ibu dan bayinya.
Hal ini tentu saja memerlukan perhatian khusus untuk mengatasinya (Swasono, 1998)

6
2. INTERPRETASI ORANG PAPUA TENTANG IBU HAMIL, MELAHIRKAN,
DAN NIFAS
Orang Papua mempunyai konsepsi dasar berdasarkan pandangan kebudayaan
mereka masing-masing terhadap berbagai penyakit demikian halnya pada kasus tentang
kehamilan, persalinan, dan nifas berdasarkan persepsi kebudayaan mereka. Akibat
adanya pandangan tersebut di atas, maka orang Papua mempunyai beberapa bentuk
pengobatan serta siapa yang manangani, dan dengan cara apa dilakukan pengobatan
terhadap konsep sakit yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, perdarahan,
pembengkakan kaki selama hamil, berdasarkan pandangan kebudayaan mereka. Sebagai
ilustrasi dapat disajikan beberapa contoh kasus pada orang Papua (Orang Hatam, Sough,
Lereh, Walsa, Moi Kalabra). Hal yang sama pula ada pada suku bangsa-suku bangsa
Papua lainnya, tetapi secara detail belum dilakukan penelitian terhadap kasus ibu hamil,
melahirkan, dan nifas pada orang Papua.
Interpretasi Sosial Budaya Orang Hatam dan Sough tentang Ibu hamil, melahirkan,
nifas, didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan kebudayaan mereka secara turun
temurun. Hal ini jelas didasarkan atas perilaku leluhur dan orang tua mereka sejak dahulu
kala sampai sekarang.
Bagi orang Hatam dan Sough, kehamilan adalah suatu gejala alamiah dan bukan
suatu penyakit. Untuk itu harus taat pada pantangan-pantangan secara adat, dan bila
dilanggar akan menderita sakit. Bila ada gangguan pada kehamilan seorang ibu, biasanya
dukun perempuan (Ndaken) akan melakukan penyembuhan dengan membacakan mantera
di air putih yang akan diminum oleh ibu tersebut. Tindakan lain yang biasanya dilakukan
oleh Ndaken tersebut juga berupa, mengurut perut ibu hamil yang sakit. Sedangkan bila
ibu hamil mengalami pembengkakan pada kaki, berarti ibu tersebut telah melewati
tempat-tempat keramat secara sengaja atau pula telah melanggar pantangan-pantangan
yang diberlakukan selama ibu tersebut hamil. Biasanya akan diberikan pengobatan
dengan memberikan air putih yang telah dibacakan mantera untuk diminum ibu tersebut.
Juga dapat diberikan pengobatan dengan menggunakan ramuan daun abrisa yang
dipanaskan di api, lalu ditempelkan pada kaki yang bengkak sambil diurut-urut. Ada juga
yang menggunakan serutan kulit kayu bai yang direbus lalu airnya diminum. Disini posisi

7
seorang dukun perempuan atau Ndaken sangatlah penting, sedangkan dukun laki-laki
tidak berperan secara langsung. Bagaimana persepsi orang Hatam dan Sough tentang
perdarahan selama kehamilan dan setelah melahirkan? Hal itu berarti ibu hamil telah
melanggar pantangan, suaminya telah melanggar pantangan serta belum menyelesaikan
masalah dengan orang lain atau kerabat secara adat. Bila perdarahan terjadi setelah
melahirkan, itu berarti pembuangan darah kotor, dan bagi mereka adalah suatu hal yang
biasa dan bukan penyakit. Bila terjadi perdarahan, maka Ndaken akan memberikan air
putih yang telah dibacakan matera untuk diminum oleh ibu tersebut. Selain itu akan
diberikan ramuan berupa daun-daun dan kulit kayu mpamkwendom yang direbus dan
airnya diminum oleh ibu tersebut. Bila terjadi pertikaian dengan kerabat atau orang lain,
maka suaminya secara adat harus meminta maaf. Di sini peranan dukun perempuan
(ndaken) dan dukun laki-laki (Beijinaubout, Rengrehidodo) sangatlah penting.Persalinan
bagi orang Hatam dan Sough adalah suatu masa krisis. Persalinan biasanya di dalam
pondok (semuka) yang dibangun di belakang rumah. Darah bagi orang Hatam dan Sough
bagi ibu yang melahirkan adalah tidak baik untuk kaum laki-laki, karena bila terkena
darah tersebut, maka akan mengalami kegagalan dalam aktivitas berburu. Oleh karena
itu, seorang ibu yang melahirkan harus terpisah dari rumah induknya. Posisi persalinan
dalam bentuk jongkok, karena menurut orang Hatam dan Sough dengan posisi tersebut,
maka bayi akan mudah keluar. Pemotongan tali pusar harus ditunggu sampai ari-ari sudah
keluar. Apabila dipotong langsung, maka ari-ari tidak akan mau keluar.
Bagi orang Kaureh yang berada di kecamatan Lereh, juga mempunyai interpretasi
tentang ibu hamil, melahirkan dan nifas berdasarkan pemahaman kebudayaan mereka.
Orang Kaureh melihat kehamilan sebagai suatu masa krisis, dimana penuh resiko dan
secara alamiah harus dialami oleh seorang ibu, untuk itu perlu taat terhadap pantangan-
pantangan dan aturan-aturan secara adat. Bila melanggar, ibu hamil akan memderita sakit
dan bisa meninggal. Biasanya bila seorang ibu hamil mengalami penderitaan (sakit), akan
diberikan ramuan berupa air putih yang telah dibacakan mantera untuk diminum. Yang
lebih banyak berperan adalah kepala klen atau ajibar/pikandu.
Sedangkan bila seorang ibu hamil mengalami pembengkakan pada kaki, itu berati
ibu tersebut telah melewati tempat-tempat terlarang atau keramat. Di samping itu pula
bisa terjadi karena buatan orang dengan tenung/black magic, atau terkena suanggi.

8
Pengobatannya dengan cara memberikan air putih yang telah dibacakan mantera untuk
diminum, atau seorang dukun/kepala klen (ajibar/Pikandu) akan mengusirnya dengan
membacakan mantera-mantera. Apabila seorang ibu hamil mengalami perdarahan dan
setelah melahirkan mengalami perdarahan, itu bagi mereka adalah suatu hal yang biasa
saja. Perdarahan berarti pembuangan darah kotor, dan bila terjadi banyak perdarahan
berarti ibu tersebut telah melanggar pantanganpantangan secara adat dan suami belum
menyelesaikan persoalan dengan kerabat atau orang lain. Untuk itu biasanya
ajibar/Pikandu memberikan ramuan berupa air putih yang telah dibacakan mantera yang
diminum oleh ibu tersebut. Untuk masalah pertikaian maka suami harus meminta maaf
secara adat pada kerabat dan orang lain. Sedangkan persalinan bagi orang Kaureh adalah
suatu masa krisis, dan persalinan harus dilakukan di luar rumah dalam pondok kecil di
hutan karena darah sangat berbahaya bagi kaum laki-laki. Posisi persalinan dengan cara
jongkok, karena akan mudah bayi keluar. Pemotongan tali pusar biasanya setelah ari-ari
keluar baru dilaksanakan, sebab bila dipotong sebelumnya maka ari-ari akan tinggal terus
di dalam perut.

Bagaimana orang Walsa yang berada di kecamatan Waris daerah perbatasan Indonesia
dan Papua Niguni. Mereka juga mempunyai kepercayaan tentang kehamilan, persalinan
dan nifas yang didasarkan pada pemahaman kebudayaan mereka secara turun temurun.
Bagi orang Walsa, kehamilan adalah kondisi ibu dalam situasi yang baru, dimana terjadi
perubahan fisik, dan ini bagi mereka bukan suatu kondisi penyakit. Sebagaimana dengan
kelompok suku bangsa yang lain, mereka juga percaya bahwa untuk dapat mewujudkan
seorang ibu hamil sehat, maka harus menjalankan berbagai pantangan-pantangan. Namun
demikian kadangkala bila ibu mengalami sakit bisa terjadi karena adanya gangguan dari
luar seperti terkena roh jahat, atau buatan orang lain yang tidak senang dengan keluarga
tersebut. Untuk mengatasi gangguan tersebut biasanya dukun (Putua/ Mundklok) akan
membantu dengan memberikan air putih yang telah dibacakan mantera untuk diminum,
atau dengan memberikan ramuan daun-daun yang direbus lalu diminum ibu hamil
tersebut. Sedangkan bila terjadi pembengkakan pada kaki, berarti ibu hamil telah
melanggar pantangan, menginjak tempat-tempat keramat, terkena roh jahat, dan suami
belum melunasi mas kawin. Untuk mengatasi masalah tersebut, dukun akan memberikan

9
air putih yang dibacakan mantera untuk diminum, sedangkan untuk mas kawin, maka
suami harus lunasi dahulu kepada paman dari istrinya. Sedangkan bila terjadi perdarahan
selama hamil dan setelah bersalin, bagi orang Walsa itu hal biasa saja, karena terjadi
pembuangan darah kotor, atau ibu telah melanggar pantangan secara adat, suami belum
melunasi mas kawin dan ibu terkena jampi-jampi. Untuk mengatasi masalah tersebut,
biasanya dukun Putua/ Mundklok akan menyarankan untuk menyelesaikan mas kawin,
dan juga diberikan ramuan daun-daun untuk diminum. Bagi orang Walsa persalinan
adalah suatu masa krisis, untuk itu tidak boleh melanggar pantangan adat. Dahulu
melahirkan di pondok kecil (demutpul) yang dibangun di hutan, karena darah bagi kaum
laki-laki sangat berbahaya. Bila terkena darah dari ibu hamil, berarti kaum laki-laki akan
mengalami banyak kegagalan dalam usaha serta berburu. Dalam proses persalinan
biasanya dibantu oleh dukun Putua/Mundklok, tetapi disamping itu ada bantuan juga dari
dewa Fipao supaya berjalan dengan baik. Proses persalinan dalam kondisi jongkok, biar
bayi dengan mudah dapat keluar, dan tali pusar dipotong setelah ari-ari keluar.

Orang Moi Kalabra yang berada di kecamatan Wanurian dan terletak di hulu sungai
Beraur Sorong mempunyai persepsi juga terhadap kehamilan, persalinan dan nifas bagi
ibu-ibu berdasarkan kepercayaan kebudayaan mereka secara turun temurun. Kehamilan
bagi mereka adalah si ibu mengalami situasi yang baru dan bukan penyakit. Untuk itu ibu
tersebut dan suaminya harus menjalankan berbagai pantangan-pantangan terhadap
makanan dan kegiatan yang ditata secara adat. Mereka juga percaya bila ada gangguan
terhadap kehamilan, itu berarti ibu dan suaminya telah melanggar pantangan, di samping
itu pula ada gangguan dari roh jahat atau buatan orang (suanggi). Untuk mengatasi hal
tersebut, dukun laki-laki (Woun) dan dukun perempuan (Naredi Yan Segren) atau Biang
akan membantu dengan air putih yang dibacakan mantera untuk diminum, atau dengan
menggunakan jimat tertentu mengusir roh jahat atau gangguan orang lain (suanggi).
Pembengkakan pada kaki ibu hamil berarti melanggar pantangan, terekan roh jahat,
disihir orang lain dan suami belum melunasi mas kawin, serta menginjak tempat-tempat
keramat. Sedangkan apabila terjadi perdarahan pada waktu hamil dan setelah melahirkan
itu adalah suatu hal biasa, karena membuang darah kotor. Bila terjadi banyak perdarahan
berati ibu tersebut melanggar pantangan serta disihir oleh orang lain. Untuk itu maka akan

10
diberikan ramuan daun-daun dan kulit kayu yang direbus lalu diminum. Kadang diberi
daun jargkli, bowolas pada tempat yang sakit oleh dukun Woun atau Naredi Yan Segren,
Biang. Adapun persalinan merupakan suatu masa krisis untuk itu tidak boleh melanggar
pantangan adat. Biasanya proses persalinan dilakukan dalam pondok kecil yang dibangun
di hutan, karena darah bagi kaum pria adalah berbahaya, bisa mengakibatkan kegagalan
dalam berburu. Posisi persalinaan biasanya dalam kondisi jongkok karena bayi akan
mudah keluar, dan tali pusar dipotong setelah ari-ari telah keluar. Untuk membantu
persalinan biasanya dukun akan memberikan ramuan daun-daun yang diminum dan pada
bagian perut dioles dengan daun jargkli, gedi, jarak, kapas, daun sereh untuk
menghilangkan rasa sakit dan proses kelahiran dapat berjalan cepat. Semua kegiatan
persalinan dibantu oleh dukun perempuan (Naredi Yan Segren).

11
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan akan Interpretasi Ibu hamil, melahirkan dan nifas yang
telah dijelaskan dalam Makalah ini, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang Papua
mempunyai konsepsi dasar berdasarkan pandangan kebudayaan mereka masing-masing
terhadap berbagai penyakit demikian halnya pada kasus tentang kehamilan, persalinan, dan
nifas berdasarkan persepsi kebudayaan mereka. Akibat adanya pandangan tersebut di atas,
maka orang Papua mempunyai beberapa bentuk pengobatan serta siapa yang manangani,
dan dengan cara apa dilakukan pengobatan terhadap konsep sakit yang berkaitan dengan
kehamilan, persalinan, perdarahan, pembengkakan kaki selama hamil, berdasarkan
pandangan kebudayaan mereka. Pandangan-pandangan ini ada yang berdampak positif dan
ada pula yang berdampak negatif dan dapat membahayakan kesehatan Ibu dan Bayi

2. Saran
a. Masih adanya kebudayaan Ibu nifas ditengah-tengah masyarakat Papua merupakan hal
yang wajar. Namun, bila kebudayaan tersebut membawa pengaruh negatif maka perlu
dilakukan tindakan khusus agar kebudayaan tersebut tidak terus dilakukan.
b. Bidan, masyarakat, hingga keluarga terdekat harus lebih memperhatikan kebudayaan
yang dianggap bernilai negatif.
c. Tidak perlu dilakukan pelarangan mendadak terhadap kebudayaan yang dianggap negatif
tersebut, karena hal itu akan membuat masyarakat yang berpegang teguh pada
kepercayaan tersebut akan marah atau tersinggung.
d. Bidan atau para staf kesehatan harus lebih gencar melakukan penyuluhan akan
kebudayaan-kebudayaan yang dianggap tidak bermanfaat bagi Ibu hamil, melahirkan
hingga Ibu Nifas.
e. Ibu Nifas pun harus lebih mencari informasi penting akan kebutuhan gizi hingga anjuran-
anjuran yang baik bagi dirinya selama masa Nifas. Ibu nifas diwajibkan tidak hanya
berpangku tangan menerima segala kebudayaan tanpa mencaritahu atau menyeleksi hal-
hal yang dianggap diluar dari akal sehat untuk diikuti.

12
DAFTAR PUSTAKA

Dumatubun A.E. Antropologi Papua vol. 1: Kebudayaan, Kesehatan Orang Papua

Dalam Perspektif Antropologi Kesehatan. 2002 : Jayapura

Foster, George M dan Barbara G. Anderson 1986 Antropologi Kesehatan, diterjemahkan


oleh Meutia F. Swasono dan Prijanti Pakan. Jakarta: UI Press

http://arindhadwi11.blogspot.co.id/2013/05/antropologi-beberapa-aspek-sosial_1131.html

13