Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN HASIL

SCREENING HIPERTENSI PADA TUKANG PARKIR DI


SEKITAR MALL PANAKKUKANG MAKASSAR, 5 APRIL 2017
LATAR BELAKANG

Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang


terus meningkat. Pada tahun 2025, diperkirakan sekitar 29% orang
dewasa di seluruh dunia akan menderita hipertensi

Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah stroke


dan tuberkulosis, yaitu 6,7% kematian dari semua umur di Indonesia
(Riskesdas, 2007).

Pada tahun 2013, secara nasional 25,8% penduduk Indonesia menderita penyakit
hipertensi (Depkes RI, 2014).

Prevalensi hipertensi meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup, seperti,


merokok, makanan, obesitas, hiperkolestrolemia, aktivitas fisik, dan stres psikososial
(Saputra, 2016).
LATAR BELAKANG

Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa cakupan pemeriksaan dan


pengobatan hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya sebesar 36,8%, sebagian
besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis.

Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan screening hipertensi pada


masyarakat umum, khususnya kelompok masyarakat yang berisiko
hipertensi dan memiliki akses rendah ke pelayanan kesehatan untuk
memeriksakan diri.

Tukang parkir adalah termasuk pekerjaan yang memiliki


risiko untuk menderita hipertensi. Hal ini dikarenakan
gaya hidup yang tidak sehat serta kelelahan akibat kerja.
Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran kejadian penyakit hipertensi dan pelaksanaan
screening hipertensi pada tukang parkir di wilayah Mall
Panakkukang Makassar?

Tujuan Umum
Memberikan gambaran kejadian penyakit hipertensi dan
pelaksanaan screening hipertensi pada tukang parkir di wilayah
Mall Panakkukang Makassar
TUJUAN KHUSUS

Melihat gambaran kejadian penyakit hipertensi pada tukang parkir di wilayah Mall
Panakkukang Makassar

Menentukan sensitivitas Menentukan false negative

Menentukan spesifisitas Menentukan false positive

Menentukan nilai kecermatan positif Menentukan true negative

Menentukan nilai kecermatan negatif Menentukan true positive


TINJAUAN UMUM
TENTANG HIPERTENSI
DEFINISI HIPERTENSI

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah


dipembuluh darah meningkat secara kronis (Kemenkes RI, 2013).

KLASIFIKASI HIPERTENSI

Kategori (JNC7) Sistolik Diastolik


Optimal 115 atau kurang 75 atau kurang
Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Tahap 1 140-159 90-99
Hipertensi Tahap 2 Lebih dari 160 Lebih dari 100
KLASIFIKASI HIPERTENSI

Berdasarkan Jenis Berdasarkan Penyebab

Hipertensi Diastolik Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial

Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non


Hipertensi Campuran
Esensial

Hipertensi Sistolik
FAKTOR RISIKO
HIPERTENSI

Umur Konsumsi Alkohol

Obesitas Pola Konsumsi

Merokok Diabetes

Aktifitas Fisik
GEJALA HIPERTENSI

Sakit Kepala Sulit Tidur Kelelahan

Sesak Nafas Gelisah Mual

Muntah Pandangan Kabur

KOMPLIKASI

Kerusakan Pembuluh
PJK Gagal Jantung Gagal Ginjal
Darah Otak
DIAGNOSIS HIPERTENSI PEMERIKSAAN PENUNJANG

Konsultasi dokter Diagnosis Tekanan Darah

Pemeriksaan Jasmani Diagnosis Menggunakan EKG

Pemeriksaan Laboratorium Tes Doppler

Pemeriksaan Penunjang Tes Kolesterol

DEXA Scan

PENCEGAHAN HIPERTENSI
Mengatur Pola Makan Olahraga Teratur

Hindari Alkohol dan Rokok Mengurangi Asupan Garam Hindrai Stress


TINJAUAN UMUM
TENTANG SCREENING
Screening adalah suatu upaya dalam penemuan
DEFINISI penyakit secara aktif pada individu-individu yang
SCREENING tanpa gejala dan nampak sehat dengan cara
menguji, memeriksa atau prosedur lain yang dapat
dilakukan dengan cepat.

Screening bukan suatu penetapan diagnosis, subyek-


subyek yang diketemukan positif atau kemungkinan
mengidap suatu penyakit tertentu, perlu dirujuk kembali
untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
JENIS SCREENING

Mass • Screening yang dilakukan pada seluruh anggota


Screening populasi

Selectif • Screening yang dilakukan terhadap kelompok


Screening penduduk tertentu

Single Disease • Screening yang ditujukan pada suatu jenis penyakit,


Screening misalnya TB

Multiphase • Screening untuk kemungkinan adanya beberapa


penyakit pada individu, misalnya penyaringan
Screening kesehatan pada pegawai sebelum bekerja
DASAR PEMIKIRAN PELAKSANAAN SCREENING
Yang diketahui dari gambaran spektrum penyakit hanya merupakan sebagian kecil
saja sehingga dapat diumpamakan sebagai puncak gunung es, sedangkan sebagian
besar masih tersamar.

Diagnosis dini dan pengobatan secara tuntas memudahkan kesembuhan.

Biasanya penderita mencari pengobatan setelah timbul gejala atau penyakit telah
berada dalam stadium lanjut hingga pengobatan menjadi sulit atau penyakit
menjadi kronis atau bahkan tidak dapat disembuhkan lagi.

Penderita tanpa gejala mempunyai potensi untuk menularkan penyakit.

TUJUAN SCREENING
Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang-
orang yang tampak sehat tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang
mempunyai risiko tinggi untuk terkena penyakit (population at risk)
KRITERIA SCREENING

1. Kondisi yang terlihat harus merupakan masalah kesehatan yang penting


2. Harus terdapat pengobatan yang diterima oleh pasien dengan penyakit
yang dikenali.
3. fasilitas untuk diagnosis dan pengobatan harus tersedia
4. Harus ada tahap simptomatik awal atau laten yang dikenali.
5. Harus ada tes atau pengujian yang sesuai
6. Tes itu harus dapat diterima oleh populasi.
7. Riwayat alami suatu kondisi harus cukup dipahami.
8. Harus ada kebijakan persetujuan dari pasien.
9. Biaya penemuan kasus (termasuk diagnosis dan penanganan pasien
yang) harus seimbang secara ekonomi
10. Penemuan kasus harus merupakan proses berkelanjutan dan bukan
proyek ”satu kali untuk semua”
PRINSIP PELAKSANAAN
SCREENING

Kelompok Individu yang


tampak sehat

Tes Screening

Hasil tes (-) Hasil tes (+)

Pemeriksaan Diagnostik

Hasil tes (+) Hasil Tes (-)

Pengobatan
KRITERIA EVALUASI TES SKRINING

Kriteria
Validitas Yield
skrining

Reliabilitas
VALIDITAS

Sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur


dalam melakukan fungsi ukurnya.

Validitas

Sensitivitas Spesifisitas
VALIDITAS

Status Penyakit
Hasil Tes
Sakit Tidak Sakit Total
Positif a (TP) B (FP) a+b
Negatif c (FN) D (TN) c+d
Total a+c b+d a+b+c+d
• a = True Positive (Positif Benar) adalah banyak kasus yang benar-benar
menderita penyakit dengan hasil tes positif.

• b = False Positive (Positif Palsu) adalah banyaknya kasus yang sebenarnya tidak
sakit, tetapi tes menunjukkan hasil positif.

• c = False Negative (Negatif Palsu) adalah banyaknya kasus yang sebenarnya


menderita penyakit dengan hasil tes negatif.

• d = True Negative (Negatif Benar) adalah banyaknya kasus yang benar-benar


tidak menderita sakit dengan hasil tes negatif.
VALIDITAS

Nilai sensitivitas, yaitu kemampuan dari suatu tes


penyaringan yang secara benar menempatkan mereka
yang betul-betul menderita pada kelompok penderita.
𝑎
𝑆𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑎+𝑐

Nilai spesifisitas, yaitu kemampuan dari suatu tes


penyaringan yang secara benar menempatkan mereka
yang betul-betul tidak menderita pada kelompok
sehat.
𝑑
𝑆𝑝𝑒𝑠𝑖𝑓𝑖𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑏+𝑑
RELIABILITAS YIELD (DERAJAT PENYARINGAN)

Reliabilitas adalah kemampuan tes Derajat penyaringan adalah besarnya


memberikan hasil yang kemungkinan untuk menjaring
sama/konsisten bila diterapkan lebih (menemukan) mereka yang
dari satu kali pada sasaran (objek) sebenarnya menderita tetapi tanpa
yang sama dan pada kondisi yang gejala, melalui tes penyaringan,
sama pula. sehingga bagi mereka dapat
ditegakkan diagnose pasti serta usaha
Faktor yang mempengaruhi pengobatan dini.
• Variabilitas alat
• Variasi subyek Faktor yang mempengaruhi
• Variasi pemeriksa • Tingkat sensitifitas tes
penyaringan.
• Besarnya prevalensi penyakit (yang
mengalami penyaringan) dalam
masyarakat.
• Frekuensi penyaringan dalam
masyarakat.
TINJAUAN UMUM TENTANG
TUKANG PARKIR
DEFINISI TUKANG PARKIR

Orang yang membantu mengatur kendaraan yang keluar masuk ke tempat


parkir, mengumpulkan biaya parkir dan memberikan karcis kepada
pengguna parkir pada saat akan keluar dari ruang parkir.

JENIS PERLENGKAPAN
Tukang parkir resmi Peluit, pakaian seragam, karcis,
rambu kecil stop atau tongkat
dengan lampu berwarna merah bila
Tukang parkir tidak resmi/liar
bertugas pada malam hari, serta
Rompi.
TUGAS

Memberikan pelayanan kepada semua kendaraan yang masuk dan keluar di


tempat parkir; Menjaga ketertiban, keindahan, kebersihan dan membantu
keamanan terhadap kendaraan yang diparkir;
METODE SCREENING
METODE SCREENING

Rancangan Lokasi Waktu Sasaran Instrumen

• Tensimeter
Rancangan manual dan
survei dengan Di sekitar Mall digital
Tukang Parkir
Panakkukang 5 April 2017 • Stetoskop
pendekatan (56 orang)
deskriptif Makassar • Kuesioner
• Alat Tulis
Cara Pelaksanaan Screening
METODE
Responden dipersilahkan duduk
SCREENING
Responden diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan
pelaksanaan screening.

Dilakukan pengukuran tekanan darah Pengolahan & Penyajian Data

Setiap kali dilakukan pengukuran tekanan darah hasilnya di catat


dan diisikan dalam format yang telah disiapkan.
Program SPSS
Responden di wawancarai untuk memperoleh informasi mengenai
status kesehatan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan
kejadian peningkatan tekanan darah.
Tabel dan grafik (disertai narasi)
Responden diberikan konseling sesuai permasalahan yang ditemui.
HASIL &
PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK RESPONDEN
Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Kelompok Umur di Mall
Panakkukang Makassar Tahun 2017

35 30
27
30 25
25
Persentase (%)

20 16

15
10
2
5
0
15-24 25-34 35-44 45-54 55-64

Kelompok Umur (Tahun)


Sumber: Data Primer, 2017
KARAKTERISTIK RESPONDEN
Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Jenis Kelamin di Mall
Panakkukang Makassar Tahun 2017

5%

Laki-Laki
Perempuan
95%

Sumber: Data Primer, 2017


KEJADIAN HIPERTENSI

Tabel 1. Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Tekanan


Darah (Kategori JNC) di Mall Panakkukang Makassar Tahun 2017

Tekanan Darah (mmHg) n %


Normal (S<120 atau D<80) 23 41,1
Pre Hipertensi (S=120-139 atau D=80-89) 22 39,3
Hipertensi Tahap 1 (S=140-159 atau D=90-99) 9 16,1
Hipertensi Tahap 2 (S≥160 atau D≥100) 2 3,6
Total 56 100,0

Sumber: Data Primer, 2017


KEJADIAN HIPERTENSI
Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Tekanan
Darah (Kategori Hipertensi dan Tidak Hipertensi) di Mall
Panakkukang Makassar Tahun 2017

19.6%

Hipertensi
Tidak Hipertensi
80.4%

Sumber: Data Primer, 2017


GEJALA HIPERTENSI

Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Gejala Hipertensi di Mall


Panakkukang Makassar Tahun 2017

25%

Ada Gejala
Tidak Ada Gejala
75%

Sumber: Data Primer, 2017


FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

Distribusi Tukang Parkir Berdasarkan Perilaku Merokok di Mall


Panakkukang Makassar Tahun 2017

12.5%

Merokok
Tidak Merokok
87.5%

Sumber: Data Primer, 2017


TABULASI SILANG
Tabel 2. Tabulasi Silang Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Terhadap Hasil
Pengukuran Tekanan Darah Tukang Parkir di Mall Panakkukang Makassar
Tahun 2017

Hasil Pengukuran Tekanan Darah


Total
Karakteristik Hipertensi Normal
n % n % n %
Kelompok Umur (Tahun)
15-24 0 0 9 100 9 100
25-34 3 20 12 80 15 100
35-44 1 7,1 13 92,9 14 100
45-54 6 35,3 11 64,7 17 100
55-64 1 100 0 0 1 100
Jenis Kelamin
Laki-laki 11 20,8 42 79,2 53 100
Perempuan 0 0 3 100 3 100
Total 11 19,6 45 80,4 56 100
Sumber: Data Primer, 2017
UMUR

Hasil screening hipertensi terhadap 56 tukang


Usia mempengaruhi tekanan darah. Tekanan
parkir menunjukkan bahwa penderita
darah cenderung rendah pada bayi dan
hipertensi dengan proporsi tertinggi berada
meningkat seiring dengan pertambahan usia.
pada kelompok 45-54 tahun.

Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala Risiko menderita hipertensi pada umur lebih
usia, namun paling sering dijumpai pada orang dari 45 tahun 3,6 kali lebih besar dibandingkan
berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya wajar dengan umur kurang dari 45 tahun. Setelah
bila tekanan darah sedikit meningkat dengan umur 45 tahun dinding arteri akan mengalami
bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh penebalan oleh karena adanya zat kologen
perubahan alami pada jantung, pembuluh pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah
darah dan hormon. Tetapi bila perubahan akan berangsur-angsur menyempit dan
tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa menjadi kaku sehingga menyebabkan
memicu terjadinya hipertensi. hipertensi (Penelitian Puspita E, 2013).
JENIS KELAMIN

Responden screening hipertensi didominasi oleh laki-laki, sehingga hasil screening


menunjukkan bahwa semua penderita hipertensi berjenis kelamin laki-laki (20,8%).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi ataupun risiko hipertensi


lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Penelitian di Chennai,
prevalensi hipertensi pada laki-laki sebesar 23,2% sedangkan perempuan 17,1%
(Mohan, 2007). Penelitian di wilayah rural Thailand juga menunjukkan bahwa
rata-rata tekanan darah sistolik maupun diastolik lebih tinggi pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan.

Hal ini karena laki-laki cenderung lebih sering terpapar oleh


perilaku berisiko hipertensi, seperti konsumsi alkohol dan
rokok.
TABULASI SILANG

Tabel 3. Tabulasi Silang Perilaku Merokok Terhadap Hasil Pengukuran


Tekanan Darah Tukang Parkir di Mall Panakkukang Makassar Tahun 2017

Hasil Pengukuran
Tekanan Darah Total
Perilku Merokok
Hipertensi Normal
n % n % n %
Merokok 11 22,4 38 77,6 49 100
Tidak Merokok 0 0 7 100 7 100
Total 11 19,6 45 80,4 56 100

Sumber: Data Primer, 2017


PERILAKU MEROKOK

Dari 49 tukang parkir yang merokok, terdapat 11 orang (22,4%) yang hipertensi.

Rokok mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, antara lain:
Nikotin dapat memacu
Karbonmonoksida (CO) dapat
pengeluaran zat
meningkatkan keasaman sel
catecholamine tubuh seperti
darah. Akibatnya, darah menjadi
Tar merupakan zat hormon adrenalin. Hormon
lebih kental dan menempel di
yang dapat tersebut dapat memacu
dinding pembuluh darah. Hal
meningkatkan jantung untuk memacu
tersebut memaksa jantung
kekentalan darah. jantung untuk berdetak lebuh
memompa darah lebih kuat lagi
kencang, akibatnya volume
dan lambat laun tekanan darah
darah meningkat dan jantung
pun akan meningkat.
menjadi cepat lelah.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pilkkadavath (2016) menunjukkan bahwa orang yang
merokok berisiko 2,51 kali menderita hipertensi
SCREENING HIPERTENSI

Tabel 4. Distribusi Hasil Pelaksanaan Screening Hipertensi pada Tukang Parkir


di Mall Panakkukang Makassar Tahun 2017

Diduga Hipertensi Berdasarkan


Hasil Gejala Klinis Total
Pemeriksaan Ada Tidak Ada
Hipertensi 7 4 11
Normal 7 38 45
Total 14 42 56

Sumber: Data Primer, 2017


SCREENING HIPERTENSI
b 4
False Positive Rate = x100% = x 100% = 36,4%
a+b 7+4

𝑐 7
False Negative Rate = x100% = x 100% = 15,6%
𝑐+𝑑 7+38

𝑐 7
Proporsi False Negative = x100% = x 100% = 50%
𝑎+𝑐 7+7

𝑏 4
Proporsi False Positive = x100% = x 100% = 9,5%
𝑏+𝑑 4+38

𝑎 7
Sensitifitas (S) = x100% = x 100% = 50%
𝑎+𝑐 7+7

𝑑 38
Spesifitas (F) = x100% = x 100% = 90,5%
𝑏+𝑑 4+38

𝑎 7
Nilai Kecermatan (+) = x100% = x 100% = 63,6%
𝑎+𝑏 7+4

𝑑 38
Nilai Kecermatan (-) = x100% = x 100% = 84,4%
𝑐+𝑑 7+38
SCREENING HIPERTENSI

NILAI KECERMATAN POSITIF DAN NEGATIF

Nilai kecermatan (+) (positive accuracy) adalah proporsi jumlah yang sakit terhadap
semua hasil tes (+). Sedangkan nilai kecermatan (-) (negative accuracy) adalah
proporsi jumlah yang tidak sakit terhadap semua hasil tes (-).

Berdasarkan hasil screening hipertensi diperoleh nilai kecermatan (+) sebesar 63,6%.
Artinya, kecermatan untuk mengidentifikasi banyaknya orang yang benar-benar sakit
dari semua hasil tes yang positif sudah cukup baik. Sedangkan nilai kecermatan (-)
yang diperoleh sebesar 84,4%. Artinya, kecermatan untuk mengidentifikasi banyaknya
orang yang tidak sakit dari semua hasil tes yang negatif sudah baik.
SCREENING HIPERTENSI

Proporsi False Positive dan False Positive Rate (Positif Palsu)

False positive adalah banyaknya kasus yang sebenarnya tidak sakit tetapi tes
menunjukkan hasil positif.

Berdasarkan hasil screening hipertensi diperoleh false positive rate yang cukup
rendah yaitu sebesar 36,4%, sedangkan proporsi false positive sebesar 9,5%.
SCREENING HIPERTENSI

Proporsi Negative False dan False Negatif Rate (Negatif Palsu)

False negatif adalah banyaknya kasus yang sebenarnya menderita sakit tetapi tes
menunjukkan hasil negatif (tukang parkir dengan gejala hipertensi ketika di periksa
tekanan darahnya namun hasilnya negatif hipertensi (tekanan darah normal)).

Berdasarkan hasil screening hipertensi diperoleh false negative rate yang cukup
rendah yaitu sebesar 15,6%, dan proporsi false negative sebesar 50%.
SCREENING HIPERTENSI

SENSITIVITAS Semakin kecil persentase


sensitivitas, semakin
Berdasarkan hasil screening berbahaya, karena makin
Sensitivitas adalah
hipertensi didapatkan nilai banyak orang yang
kemampuan suatu tes
sensitifitas 50%, artinya sebenarnya sakit tetapi tidak
untuk mengidentifikasi
kemampuan tes untuk merasa sakit sehingga tidak
individu dengan tepat,
mendeteksi individu yang berobat atau diobati. Selain
dengan hasil tes positif
benar-benar sakit (hipertensi) itu, juga akan dapat
dan benar sakit.
masih cukup rendah. menularkan penyakitnya ke
orang lain (bila screeningnya
pada penyakit menular).
SCREENING HIPERTENSI

SPESIFISITAS Nilai spesifisitas yang diperoleh dari hasil


screening hipertensi adalah 90,5%, artinya
kemampuan tes untuk mendeteksi individu
Spesifisitas adalah yang sehat (tekanan darah normal) sudah
kemampuan suatu tes untuk sangat baik.
mengidentifikasi individu
dengan tepat, dengan hasil
negatif dan benar tidak Semakin besar persentase spesifisitas,
sakit. maka semakin baik, karena akan
mengurangi kesalahan pengobatan atau
perawatan, sehingga orang yang sehat
tidak dikira sakit dan tidak perlu dilakukan
pengobatan.
KESIMPULAN &
SARAN
KESIMPULAN
Hasil pengukuran tekanan darah yang dilakukan terhadap 56 tukang parkir,
sebanyak 19,6% menderita hipertensi.

Hasil Screening Hipertensi pada Tukang Parkir di sekitar


Mall Panakkukang Makassar

False Positive : 36,4% Sensitivitas : 50%

False Negative: 15,6% Spesifisitas : 90,5%

True Positive : 9,5% Nilai Kecermatan (+) : 63,6%

True Negative : 50% Nilai Kecermatan (-) : 84,4%


SARAN
Screening perlu dilakukan Screening sebaiknya dilakukan secara
untuk mendeteksi dan berkala untuk menemukan kasus yang
menemukan kasus di mungkin tidak ikut tersaring pada
masyarakat screening sebelumnya.

Selain pemeriksaan, Perlunya upaya pencegahan dini secara


pelaksanaan screening juga aktif terhadap masyarakat yang
perlu disertai edukasi. memiliki risiko terkena hipertensi

Untuk meningkatkan validitas dan realibilitas suatu screening perlu


dilakukan pemeriksaan dengan alat tes dan metode tes yang lebih baik
(dengan menggunakan gold standar).
T R M
K S H