Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan pokok semua makhluk
hidup. Air alam mengandung berbagai jenis zat, baik yang larut maupun yan
g tidak larut serta mengandung mikroorganisme. Air bersifat tidak berwarna, tidak
berasa dan tidak berbau.Air merupakan unsur penting utama bagi hidup kita di
planet bumi ini. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga
merupakan hal utama untuk budidaya pertanian,industri, pembangkit tenaga
listrik, dan transportasi. Air sangat penting di dalam mendukung kehidupan
manusia, air juga mempunyai potensi yang sangat besar jika air tersebut
tercemar,dalam menularkan atau mentransmisikan berbagai penyakit.
Air merupakan sumberdaya yang paling penting dalam kehidupan manusia
maupun makhluk hidup lainnya. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan
pembangunan telah mengakibatkan kebutuhan akan air meningkat tajam. Di lain
pihak, ketersediaan air dirasa semakin
terbatas bahkan di beberapa tempat sudah terjadi kekeringan. Hal itu semua terjadi
sebagai akibat darikualitas lingkungan hidup yang menurun, seperti pencemaran,
penggundulan hutan, berubahnya tata guna lahan, dan lain-lain.
Sumber-sumber air yang ada di bumi antara lain adalah air atmosfer, air
permukaan,air laun dan air tanah. Air merupakan suatu sarana utama dalam
meningkatkan derajat kesehatan. Jika kandungan bahan-bahan dalam air tersebut
tidak mengganggu kesehatan, air dianggap bersih dan layak untuk diminum, air
dikatakan tercemar jika terdapat gangguan terhadap kualitas air sehingga air
tersebut tidak dapat digunakan untuk tujuan penggunaannya. Pencemaran air
dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup, zat, dan energi terdalam air oleh
kegiatan manusia. Keadaan itu dapat menurunkan kualitas air sampai ke tingkat
tertentu dan membuat airtidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya.
Air merupakan pelarut penting, yang memiliki kemampuan yang dapat
melarutkan zat-zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis
gas dan dan banyak macam molekul organik. Bahan-bahan mineral yang dapat
terkandung dalam air adalah CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl, Na2SO4,
SiO2 dan sebagainya. Dimana air yang banyak mengandung ion-ion kalsium dan
magnesium dikenal sebagai air sadah.
Air sadah dapat menyebabkan terbentuknya kerak pada dasar ketel yang
selalu digunakan untuk memanaskan air. Sehingga untuk memanaskan air tersebut
diperlukan pemanasan yang lebih lama. Hal ini merupakan pemborosan energi.
Timbulnya kerak pada pipa uap dapat menyebabkan penyumbatan sehingga
dikhawatirkan pipa tersebut akan meledak,
dan jika terjadi peledakan akan dapat menyebabkan polusi udara yang bisa menur
unkan kualitas lingkungan dan lingkungan tidak bisa berfungsi sebagai mana
mestinya. Untuk itu perlu dilakukan pengujian kesadahan. Manfaat penentuan
atau pengujian kesadahan adalah untuk mengetahui tingkat kesadahan air, dan
untuk dapat menentukan kesadahan digunakan metode Titrasi EDTA ( Ethylene
Diamene Tetra Asetat).
Klorida memiliki peranan pada penjernihan air. Dimana dalam proses
penjernihan air yang sampai kerumah-rumah masyarakat pasti diolah terlebih
dahulu. Tentunya klor mengubah rasa dan bau pada air namun tetap bisa digunkan
pada tubuh. Klorin, jika digunakan berlebih bisa menjadi kanker sehingga
dibutuhkan perhitungan dan proses pengolahan khusus untuk memprediksikan
berapa yang ingin digunakan dalam penjernihan. Setiap ada hasil pasti ada sisa.
Sementara sisa dari klor tidak baik untuk tubuh tetap diolah sebelum dibuang ke
lingkungan dengan metode Kalorimeter.

1.2. Tujuan
Tujuan dari percobaan penetapan kesadahan dan klorida diantara lain adalah:

1. Untuk mengetahui tingkat kesadahan total air yang diteliti


2. Untuk mengetahui kadar Ca dan sisa Cl dalam air yang diteliti
3. Untuk mengetahui kadar Mg dalam air yang diteliti.
4. Untuk mengetahui kelayakan konsumsi air yang diteliti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kesadahan
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk
garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral
yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah.
Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan
ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat (Wikipedia, 2011).
Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa
apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat
membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air
berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Penyebab air menjadi sadah
adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena
adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al,
Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam
jumlah kecil (O-fish, 2003).
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal
sebagai “airsadah”, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium
dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah
terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium
relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk
memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi
kerak.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat
menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mi
neral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan
pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun dapat
membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan
air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian.Untuk
menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia (Wikipedia,
2011).
Karena penyebab dominan/utama kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+,
khususnya Ca2+, maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai sifat/karakteristik air
yang menggambarkankonsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan Mg2+, yang dinyatakan
sebagai CaCO3 (Giwangkara, 2006 dalam Ihsan, 2011)

Terdapat dua jenis kesadahan, yakni sebagai berikut:

1. Kesadahan sementara
Kesadahan sementara merupakan kesadahan yang mengandung ion
bikarbonat(HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium
bikarbonat (Ca(HCO3)2) danatau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2) Air yang
mengandung ion atau senyawa-senyawatersebut disebut air sadah sementara
karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasanair, sehingga air
tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasansenyawa-
senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel (Wikipedia, 2011).Reaksinya:

Ca(HCO3)2 → dipanaskan → CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan)


Mg(HCO3)2 → Dipanaska → CO2 (gas) + H2O (cair) + MgCO3 (endapan)

2. Kesadahan Tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang mengadung anion selain ion
bikarbonat,misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang
terlarut boleh jadi berupakalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2),
kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida(MgCl2), magnesium nitrat
(Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-
senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa
dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari
kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air
tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan
penambahan larutan soda-kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan
magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kaslium karbonat
(padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam air.
Reaksinya:

CaCl2 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut)

CaSO4 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut)

MgCl2 + Ca(OH)2 → Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut)

MgSO4 + Ca(OH)2 → Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut)

Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar dibandingkan penjumlahan dari


kadar alkali karbonat dan bikarbonat, yang kadar kesadahannya eqivalen dengan
total kadar alkali disebut kesadahan karbonat ; apabila kadar kesadahan lebih dari
ini disebut kesadahan non-karbonat. Ketika kesadahan kadarnya sama atau
kurang dari penjumlahan dari kadar alkali karbonat dan bikarbonat, semua
kesadahan adalah kesadahan karbonat dan kesadahan nonkarbonat tidak ada.
Kesadahan mungkin terbentang dari nol ke ratusan miligram per liter, bergantung
kepada sumber dan perlakuan dimana air telah subjeknya (Wikipedia, 2011).

2.2. Klorida
Penentuan klorida dilakukan dengan beberapa metode diantaranya adalah
metodeargentometri and metode spketrofotometer. Pengunaan metode titrasi
argentometrinerupakan metode yang klaisk untuk menganalisis kadar klorida yang
dilakukan denganmempergunakan AgNO3 dan indicator K2Cr2O4, kelebihan dari
analisis klorida dengancara ini yaitu pelaksanaan yang mudah dan cepat, memiliki
ketelitian dan keakuratanyang tingga dan dapat digunakan untung menetukan
kadar yang memiliki sifat yang berbeda beda (Titis, U A. 2009).
Larutan klorida atau bromida dalam suasana netral atau agak katalis
dititrasi dengan larutan titer perak nitrat menggunakan indikator kromat. Jika ion
kloridaatau bromida telah habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan
bereaksimembentuk endapan perak kromat yang berwarna coklat/merah bata
sebagai titik akhirtitrasi. Sebagai indikator digunakan larutan kromat K2CrO4
0,003M atau 0,005M yangdengan ion perak akan membentuk endapan coklat
merah dalam suasana netral atau agakalkalis. Kelebihan indikator yang berwarna
kuning akan menganggu warna, ini dapat diatasi dengan melarutkan blanko
indikator suatu titrasi tanpa zat uji dengan penambaankalsium karbonat sebagai
pengganti endapan AgCl (Arifin Oputu, 2013).
Pengendapan mungkin adalah metode yang paling sering dipakai dalam
praktikan alisis kualitatif. Timbulnya endapan sebagai suatu hasil reagensia
tertentu dapat dipakai sebagai uji terhadap suatu ion tetentu. Namun pengendapan
dapatuntuk pemisahan. Untuk melakukan hal ini suatu reagensia yang sesuai dita
mbah- kan, yang membentuk endapan (endapan-endapan) dengan hanya satu atau
beberapa ion yang ada dalam larutan. Setelah penambahan reagensia
dalam jumlah yang sesuai endapan disaring dan dicuci. Kemudahan suatu
endapana disaring dan dicuci tergantung sebagian besar struktur morfologi
endapan yaitu pada bentuk dan ukuran kristal-kristalnya. (VOGEL,1985)
BAB III
METODA

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum penetapan kekeruhan dan klorida ini dilaksanakan hari Selasa,
11 April 2017, dari jam 07.00 sampai 16.30 WIB bertempat di Laboratorium
Lingkungan Gedung K Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknik Lingkungan,
Kampus A Universitas Trisakti. Pengambilan sampel sendiri terletak di titik 2
yaitu sungai grogol sebelah pos polisi Tanjung Duren. Keadaan air sungai
Tanjung Duren keruh, dan berwarna hijau.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Penentuan Kesadahan Total
Tabel 3.1. Alat dan Bahan Kesadahan Total

No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi Jumlah


1. Erlenmeyer 1 EDTA 0,01 M

2. Pipet ukur 1 Larutan 1-2 ml


penyangga
3. Buret 1 EBT
4. Sampel air 25 ml

3.2.2. Penentuan Kesadahan Ca2+


Tabel 3.2. Alat dan Bahan Kesadahan Ca2+

No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi Jumlah


1. Erlenmeyer 1 EDTA 0,01 M

2. Pipet ukur 1 NaOH 1-2 ml


3. Buret 1 Mourexide 50 mg
4. Sampel air 25 ml
3.2.3. Penentuan Sisa Klor

Tabel 3.3. Alat dan Bahan Penentuan Sisa Klor

No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi Jumlah


1. Erlenmeyer 1 CH3COOH 5 ml

2. Pipet ukur 1 KI 1 gram


3. Buret 1 Na2S2O3 50 mg
4. Sampel 25 ml
kaporit
5. Kanji 3 tetes

3.3. Cara Kerja

3.3.1. Kesadahan

1. Dengan indikator EBT


 Pipet 10 ml larutan standar CaCO3 ke dalam labu erlemeyer 250 ml
 Tambahkan 40 ml air suling, 5 ml larutan penyangga pH 10, dam 50 mg
indikator EBT. Larutan akan berubah warna jadi merah keunguan
 Titrasi dengan larutan Na2EDTA
 Catat volume yang terpakai
 Ulangi titrasi tersebut 3 kali
 Hitung molaritasnya
2. Dengan indikator Maurexide
 Pipet 10 ml CaCO3 ke dalam labu erlenmeyer 250 ml
 Tambahkan 1 ml larutan penyangga pH 12 dan tambahkan 50 mg indikator
maurexide larutan akan berubah jadi merah ungu
 Titrasi dengan Na2EDTA 0,01 M sampai berubah warna jadi ungu
 Catat Volume yang digunakan
 Ulangi titrasi tersebut 3 kali
 Hitung molaritasnya

3.3.2. Penentuan Sisa Klor

1. Pipet 10 ml larutan NaCl ke dalam erlenmeyer 250 ml


2. Teteskan 1 ml K2CrO4 5%
3. Titrasi dengan AgNO3 sambil dikocok hingga terbentuk endapan Ag2CrO4
berwarna merah bata, lalu catat volume yang digunakan
4. Ulangi langkah di atas menggunakan air suling sebagai larutan blanko
5. Hitung normalitas AgNO3

3.4. Metode Percobaan


Metode dalam percobaan penentuan klor adalah Titrasi argentometri :
Sejumlah tertentu sampel yang mengandung ion Cl- diendapkan dengan
penambahan larutan AgNO3 0,01 N dalam keadaan netral atau basa lemah.
Kemudian dititrasi menggunakan indikator penolftalein dengan titik akhir titrasi
dicapai pada saat larutan berubah dari warna kuning sampai berubah atau
terbentuk warna merah bata.
Sedangkan untuk percobaan kesadahan, metode yang dipakai adalah
Metode yang dapat dilakukan untuk penentuan kesadahan adalah metode Titrasi
EDTA ( Ethylene Diamene Tetra Asetat). EDTA berupa senyawa kompleks
khelat dengan rumusmolekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Merupakan
suatu senyawa asam amino yang secara luas dipergunakan untuk mengikat ion
logam logam bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam melalui empat
karboksilat dan dua gugus amina. EDTA membentuk komplekskuat terutama
dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), dan Co (III) (Anonim, 2008 dalam
Ginoest,2010).
EDTA merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, serta dapat
diperoleh dalam keadaan murni. Tetapi dalam penggunaannya, karena adanya
sejumlah tidak tertentu dalam air, sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan Insitu
Pada pengamatan insitu didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :
 Suhu air sampel : 25ᵒC
 Suhu udara : 27 ᵒC
 pH : 7.52
 Kondisi sungai : Air sungai berbau dan berwarna hitam
 Kondisi cuaca : Cerah
 Debit aliran sungai : 0.27 m3 / detik.
4.2. Hasil Pengamatan Eksitu
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Eksitu

No. Gambar Keterangan


1. Sampel air yang telah ditirasi
dengan Larutan EDTA 0,01 M
menjadi warna biru

Gambar 4.1. Hasil Titrasi Kesadahan


2. Sampel air yang telah ditirasi
dengan Larutan EDTA 0,01 M
menjadi warna ungu. Volume
titrasi 1,2 ml

Gambar 4.2. Hasil Titrasi Kesadahan Ca


3. Volume titrasi = 4,2 mg.
Dengan volume blanko = 3,9
mg

Gambar 4.3. Hasil Titrasi Kesadahan Ca


No. Gambar Keterangan
4. Sampel air yang telah dititrasi
dengan Na2S2O3 sehingga
menjadi warna kuning. Volume
titrasi = 94,5 mg

Gambar 4.4. Hasil Titrasi Na2S2O3


5. Sampel air yang telah dititrasi
dengan Na2S2O3 + 3 tetes kanji,
lalu dititrasi lagi dengan
Na2S2O3 sehingga menjadi
warna biru tipis. Volume titrasi
= 9,3 mg
Gambar 4.5. Hasil Titrasi Na2S2O3 II

4.2. Perhitungan

4.2.1. Perhitungan Debit Sungai

Q=VxA T = 31 s

V = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 Kedalaman = 1,8 m
Lebar = 4 m
1,2
= = 0,038 𝑚/𝑠 Panjang = 1,2 m
31

A = Kedalam x Lebar

= 1,8 x 4 = 7,2

Q = 0,038 x 7,2 = 0,27 m3/s

4.2.2. Penentuan Kesadahan

mg CaCO3x 1000 x NEDTA


Kesadahan Total = 𝑥 𝑀𝑟 𝐶𝑎𝐶𝑂3 𝑥 𝑓𝑝
ml Sampel

4,2 x 1000 x 0,01 50


= 𝑥 100 𝑥
25 25
= 336 mg/L

1000 x NEDTA x mg CaCO3


Kesadahan Ca2+ = 𝑥 40
ml Sampel

1000 x 1,2 x0,01


= 𝑥 40
25

= 19,2 mg/L

1000 𝑥 (𝑚𝑔 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙−𝑚𝑔 𝐶𝑎2+)x NEDTA


Kesadahan Mg2+ = 𝑥 24 𝑥 𝑓𝑝
ml Sampel

1000 𝑥 (4,2−1,2)x 0,01 50


= 𝑥 24 𝑥 = 57,6 mg/L
25 25

4.2.2. Penentuan Klorida

(mg CaCl− mg blanko)x NAgNO3 x 35,45


Mg Cl-/L = 𝑥 1000
ml Sampel

(6,4−3,9)x 0,0141 x 35,45


= 𝑥 1000
100

= 12,496 mg/L

mg titrasi 2 x 35,45 x NNa2S2O3


Sisa Klorida = 𝑥 1000
ml Sampel

9,3 x 35,45 x 0,0125


= 𝑥 1000
25

= 164,84 mg/L

4.3. Pembahasan

Pada praktikum kesadahan ini, sampel diambil dari sungai di sebelah Pos
Polisi Tanjung Duren. Pada pengamatan secara insitu mengukur keadaan lokasi
yaitu pengamatan cuaca, kedalaman, debit, dan suhu lokasi dan suhu sampel air.
Pada pengukuran didapatkan data kedalaman yaitu 1,8 meter, lalu debit aliran air
pada saat panjang sungai yang diukur adalah 1,2 meter adalah 0,27 m3/s. Lalu
suhu lokasi pada saat pengambilan sampel adalah 27oC, serta suhu sampel air
sendiri adalah 25oC. Selanjutnya pada pengamatan eksitu pengukuran yang
dilakukan adalah pengukuran DO, pH, kekeruhan, DHL, serta pengukuran sulfat
dan fosfat sebagai tujuan dari percobaan ini. Pada hasil pengukuran DO di
dapatkan nilai DO adalah 40,8 mg/L, lalu dari hasil pengukuran pH diketahui
bahwa sampel air merupakan cairan yang bersifat sedikit basa, yaitu dengan nilai
pH nya 7,52. Pada perhitungan DHL dan kekeruhan adalah 214 μ dan 13,97 NTU.
Praktikan melakukan beberapa percobaan yakni untuk menentukan
kesadahan total, kesadahan kalsium dan kesadahan magnesium terhadap sampel
air. Langkah pertama yang dilakukan yaitu penentuan kesadahan total. Sampel
yang digunakan sama dengan sampel pada penentuan kalsium (Ca). Sampel
ditambahkan dengan larutan buffer pH 10 karena indikator yang akan digunakan
yaitu indikator EBT.
Setelah penambahan indikator Eriochrom Black Tea (EBT) diperoleh
larutan berwarna merah muda, ini yang disebut dengan kesadahan Ca2+
dan didapatkan volume titran sebesar 1,2 mL selanjutnya dititrasi dengan
EDTA. Jika EDTA dijadikan sebagai titran, maka
larutan akan berubah dari warna merah muda menjadi warna biru. Pada titik
akhir titrasi diperoleh volume titran sebesar 4,2 mL. Berdasarkan perhitungan,
didapatkan kesadahan total sebesar 336 mg/L. Menurut Menteri Kesehatan RI No
: 907/MENKES/VII/2002 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan
yaitu 500 mg/L CaCO3. Dapat dikatakan bahwa air sungai yang diteliti layak
dikonsumsi karena tidak melebihi nilai ambang batas yang dianjurkan.
Langkah kedua adalah penentuan kalsium (Ca), pertama-tama sampel
dimasukkan kedalam erlenmeyer kemudian ditambahkan dengan NaOH sebanyak 1-2
mL sampai pH 12-13. Fungsi penambahan NaOH disini yaitu untuk meningkatkan
pH sampel. Selanjutnya ditambahkan dengan moureksid, mureksid berfungsi
sebagai indikator, setelah penambahan indikator mureksid dihasilkan larutan
warna merah muda. Menurut teori pada pH lebih tinggi 12, Mg akan mengendap
sehingga EDTA hanya dapat diikat oleh Ca2+ dengan indikator mureksid. Larutan
kemudian dititrasi dengan EDTA sampai warna larutan berubah menjadi ungu.
Volume titran yang digunakan yaitu sebesar 1,2 mL dengan kadar kalsium (Ca)
sebesar 19,2 mg/L, artinya dalam 1 liter air mengandung 19,2 mg kalsium (Ca).
Sedangkan untuk penentuan Magnesium (Mg) pada praktikum kali ini dilakukan
dengan cara mengurangi volume titran kesadahan total dengan kadar Ca dan
diperoleh hasil kadar magnesium (Mg) sebesar 57,6 mg/L, yang artinya dalam 1
liter air mengandung 57,6 mg magnesium (Mg).
Untuk menghitung kadar khlorida dalam sampel air sampel digunakan
metode Mohr dengan titrasi argentometri. Hal ini didasarkan pada peralatan dan
reagen kimia yang digunakan untuk analisa memadai. Selain itu metode ini dipilih
karena biaya dan pengalaman analisa yang mampu memperkecil % eror analisa.
Dalam titrasi argentometri digunakan larutan natrium klorida (NaCl) sebagai
larutan baku primer dan larutan AgNO3 sebagai larutan baku sekundernya. Titrasi
ini didasarkan pada pengendapan yang terbentuk antara ion Cl- dengan Ag+,
sehingga menghasilkan perubahan warna dari warna kuning menjadi merah bata.
Kandungan khlorida dalam sampel air sungai hasil analisa adalah 164,84
mg/L sehingga kandungan khlorida pada air ini berada dibawah ketentuan SNI
yang sudah ditentukan, yaitu memiliki batas maksimal khlorida dalam air sungai
sebesar 300 mg/L (ppm) berdasarkan SNI 06-6989.22-2004.
BAB V

SIMPULAN

Pada percobaan penentuan kesadahan dan klorida ini dapat disimpulkan


bahwa:

1. Air Sampel memiliki kesadahan total dibawah baku mutu yaitu 336
mg/L
2. Air sampel layak untuk dikonsumsi
3. Air sampel mengandung 19,2 mg kesadahan Ca2+ dalam satu liternya
4. Air sampel mengandung 57,6 mg kesadahan Mg2+ dalam satu liternya
5. Air sampel mengandung klorida sebesar 164,84 mg/L dibawah baku
mutu
DAFTAR PUSTAKA

Daud, Anwar. 2007. Aspek Kesehatan Penyediaan Air Bersih. CV. Healthy &
Sanitation : Makassar
Ginoest. 2010. Penentuan Kadar Kesadahan Air dengan Metode Titrasi EDT.
Online: http://ginoest.wordpress.com/2010/03/23/17/. Diakses pada tanggal
13 April 2017
Ihsan. 2011. Analisa Kimia Sampel Air Sungai : Penentuan Kesadahan Total dan
Sementara dalam Air . Online
: http://chemistryismyworld.blogspot.com/2011/05/analisa-kimia-sampel-air-
sungai.html. Diakses pada tanggal 13 April 2017
Lindu, Muhammad dkk. 2015. Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan I.
Jakarta : Universitas Trisakti
O-fish. 2003. Parameter Air. Online : http://www.o-fish.com/parameter_air.htm.
Diakses pada tanggal 13 April 2017
Oputu, Arifin. 2013. Laporan -Titrasi Argentometri (Menentukan kadar Cl-
dalam airlaut). Online: http://www.finop.tk/2013/06/laporan-titrasi-
argentometri-menentukan.html. Diakses pada tanggal 13 April 2017
Titis U A. 2009.
Analisis Kadar Khlorida Pada Air Dan Air Limbah Dengan Metode Argento
metri.Online:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13905/1/09E02
375. Diakses pada tanggal 13 April 2017.
Vogel.1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Kelima.
Jakarta:PT. Kalman Media Pustaka
Wikipedia.2011. Kesadahan Air. Online :http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_
air . Diakses padatanggal 13 April 2017
Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001
Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Air Minum: KepMenKes No. 907/MENKES/SK/VII/2002

No Parameter Satuan Persyaratan Teknik Pengujian

FISIKA

1. Bau - tidak berbau Organoleptik

2. Rasa - normal Organoleptik

3. Warna TCU maks.15 Spektrofotometri

4. Total Padatan Terlarut mg/l maks. 1000 Gravimetri


(TDS)

5. Kekeruhan NTU maks. 5 Spektrofotometri

o
6. Suhu C Suhu udara ± 3oC Termometer

KIMIA

7. Besi (Fe) mg/l maks 0.3 AAS

8. Kesadahan sebagai mg/l maks. 500 Titrimetri


CaCO3

9. Klorida (Cl) mg/l maks 250 Argentometri

10. Mangan (Mn) mg/l maks 0.1 AAS

11. pH - 6.5 - 8.5 pH meter

12. Seng (Zn) mg/l maks. 8 AAS

13. Sulfat (SO4) mg/l maks 250 Spektrofotometri

14. Tembaga (Cu) mg/l maks. 1 AAS

15. Klorin (Cl2) mg/l maks. 5 Titrimetri

16. Amonium (NH4) mg/l maks 0.15 Spektrofotometri


(Nesler)