Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL SATUAN ACARA PENYULUHAN

“DEMAM BERDARAH”

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II

1. Jean Batizta Serry (1704073)


2. Kukuh Tri Raharjo (1704076)
3. Bunga Christy (1704054)
4. Greny Estivany Nenomnanu (1704066)
5. Margareta Bungawati (1704079)
6. Niken Clara Swasti (1704081)
7. Wira Setia Lase (1704103)

PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS


ILMU KEPERAWATAN STIKES BETHESDA YOGYAKARTA
2017/2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN
DEMAM BERDARAH

Tema : Demam Berdarah Dengue (DBD)


Sub tema : Pengenalan dini dan penatalaksanaan DBD
Sasaran : Keluarga pasien yang berobat ke Klinik Anak RS. Bethesda Yogyakarta
Tempat : Klinik Anak
Hari/tanggal : Jumat, 16 Maret 2018
Waktu : 30 menit
___________________________________________________________________________
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan orang tua pasien memahami
pengenalan dini dan penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Sesudah dilakukan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan orang tua pasien mampu:
1. Menjelaskan pengertian Demam Berdarah Dengue
2. Menyebutkan penyebab Demam Berdarah Dengue
3. Menyebutkan tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue
4. Menyebutkan cara penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
5. Menyebutkan cara pencegahan Demam Berdarah Dengue

C. Materi (Terlampir)
1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
2. Penyebab Demam Berdarah Dengue
3. Tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue
4. Cara penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
5. Cara pencegahan Demam Berdarah Dengue

D. Metode
1. Ceramah
2. Leaflate
3. Tanya jawab
E. Media Penyuluhan
Leaflet

F. Kegiatan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Waktu
1 Pendahuluan a. Salam pembuka a. Menjawab salam 5 menit
b. Meyampaikan tujuan b. Menyimak dan
mendengarkan
c. Apersepsi c. Menyimak dan
menjawab
2 Isi a. Menjelaskan pengertian a. Menyimak dan 20 menit
demam berdarah dengue mendengarkan
b. Menjelaskan penyebab b. Menyimak dan
demam berdarah dengue mendengarkan
c. Menjelaskan tanda dan c. Menyimak dan
gejala demam berdarah mendengarkan
dengue
d. Menjelaskan d. Menyimak dan
penatalaksanaan demam mendengarkan
berdarah dengue
e. Menjelaskan pencegahan e. Menyimak dan
demam berdarah dengue mendengarkan
f. Memberikan kesempatan f. Mengajukan
kepada orang tua pasien pertanyaan
untuk bertanya
g. Menjawab pertanyaan g. Menyimak dan
mendengarkan
h. Evaluasi h. Menyimak dan
mendengarkan
3 Penutup a. Menyimpulkan a. Menyimak dan 5 Menit
mendengarkan
b. Salam penutup b. Menjawab salam
G. Evaluasi
Jenis evaluasi : Pertanyaan lisan
Waktu : 30 menit
Kriteria evaluasi :
1. Orang tua pasien mampu menjelaskan kembali pengertian demam berdarah dengue
2. Orang tua pasien mampu menjelaskan kembali penyebab demam berdarah dengue
3. Orang tua pasien mampu menjelaskan kembali tanda dan gejala demam berdarah
dengue
4. Orang tua pasien mampu menjelaskan kembali penatalaksanaan demam berdarah
dengue
5. Orang tua pasien mampu menjelaskan kembali pencegahan demam berdarah
dengue

H. Refrensi
Fahmi A, Umar. 2008. Manajemen Penyakit berbasis Wilayah. Jakarta: UI-Perss
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Jakarta:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011. Kumpulan Tips Pediatrik. Jakarta: Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia
Santrock, John W. 2011. Perkembangan Anak Edisi 7 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Widagdo. 2011. Masalah dan Tatatlaksana Infeksi pada Anak. Jakarta : Sagung Seto

Yogyakarta, 14 Maret 2018


Preceptor Penyuluh

(....................................) (Kelompok II)


Lampiran

LANDASAN TEORI
DEMAM BERDARAH DENGUE

A. Definisi Demam Berdarah Dengue


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus yang
ditandai dengan demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-
menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan termasuk uji Tourniquet positif,
trombositopenia (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl), hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit ≥ 20%), disertai dengan atau tanpa perbesaran hati (Depkes RI, 2016).

B. Penyebab Demam Berdarah Dengue


1. Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue yang merupakan
virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat
menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1,
DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang
yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami
infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda.
2. Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya,
yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus.
Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit
ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang
telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk
selama 8 - 10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue
tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.
3. Nyamuk Aedes Aegypty mendapatkan virus dengue waktu menggigit atau
menghisap darah orang yang sakit DBD atau orang yang tidak sakit tetapi dalam
darahnya terdapat Virus Dengue. Orang yang darahnya mengandung Virus Dengue
tetapi tidak sakit, dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
4. Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes Aegypty akan berkembang biak dalam
tubuh nyamuk. Bila nyamuk tersebut menggigit atau menghisap darah orang lain,
virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
5. Orang yang digigit nyamuk Aedes Aegypty yang mengandung virus dengue dengan
gejala sakit atau demam setelah 4-7 hari yang merupakan masa inkubasi. Bila orang
yang ditularkan tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik maka akan segera
menderita demam berdarah dengue.

C. Tanda dan Gejala Demam Berdarah Dengue


1. Demam berdarah dengue ditandai oleh gejala-gejala klinik berupa demam, tanda-tanda
perdarahan, hematomegali dan syok. Gejala - gejala tersebut yaitu demam tinggi yang
mendadak, terus menerus berlangsung selama 2 sampai 7 hari, naik turun (demam
bifosik). Kadang–kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 400C dan dapat terjadi kejan
demam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam berdarah dengue. Pada
saat fase demam sudah mulai menurun dan pasien seakan sembuh hati – hati karena
fase tersebut sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam
2. Pada bayi dan anak usia muda mungkin menunjukkan demam yang tidak spesifik,
sedangkan pada anak - anak yang lebih tua mungkin menunjukkan demam yang lebih
ringan atau gejala klasik. Gejala klasik dari demam dengue antara lain demam tinggi
mendadak, kadang kadang pola bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri
belakang bola mata, nyeri otot, tulang, sendi, mual, muntah dan timbul ruam (WHO,
2008).
3. Terdapat ruam yang dapat berbentuk makulopapular yang biasa timbul pada awal
timbulnya gejala (1 - 2 hari) kemudian menghilang tanpa bekas dan selanjutnya timbul
ruam merah halus (hari ke 6 atau 7) terutama di daerah kaki, telapak kaki dan tangan.
4. Dapat ditemukan petekia. Dari pemeriksaan darah dapat dijumpai leukopeni dan
kadang trombositopeni. Masa penyembuhan dapat disertai rasa lesu berkepanjangan,
terutama pada usia dewasa (Depkes RI, 2007).
5. Pada keadaan wabah dilaporkan 15 (Nimmannitya, 2009). Demam tinggi mendadak
selama 2 - 7 hari, dengan muka kemerahan. Demam tinggi ini dapat menimbulkan
kejang terutama pada bayi. Keluhan lain seperti anoreksia, nyeri kepala, otot, tulang
dan sendi, serta mual dan muntah sering ditemukan. Biasanya juga ditemukan nyeri
perut di epigastrium dan dibawah tulang iga. Pada beberapa penderita kadang mengeluh
nyeri telan dengan faring hiperemis saat dilakukan pemeriksaan, namun jarang
didapatkan batuk – pilek (Depkes RI, 2007).
6. Bentuk perdarahan yang paling sering ditemukan adalah pada uji tourniquet, kulit
mudah memar dan perdarahan pada bekas suntikan intravena atau bekas pengambilan
darah. Umumnya ditemukan petekie halus yang tersebar didaerah ekstremitas, aksila,
wajah dan palatum mole pada fase awal demam.
7. Epistaksis dan perdarahan pada gusi lebih jarang ditemukan serta perdarahan pada
saluran cerna kadang ditemukan pada fase demam. Hati biasanya membesar dengan
perabaan mulai dari hanya teraba sampai 2 - 4 cm di bawah arcus costae kanan.
Pembesaran hati ini tidak berhubungan dengan berat dan ringannya penyakit tetapi
pembesaran hati ini lebih sering didapatkan pada penderita dengan syok (Depkes, RI,
2007).
8. Fenomena patofisiologi utama yang membedakan DBD dari DD adalah meningkatnya
permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, hipotensi,
trombositopenia, peningkatan hematokrit (hemokonsentrasi), hipoproteinemia. Masa
krisis terjadi pada akhir fase demam, dimana terjadi penurunan suhu tiba - tiba yang
seringkali disertai dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi beratnya.
9. Pada kasus dengan gangguan sirkulasi ringan terjadi perubahan minimal dan hanya
sementara, sedangkan pada kasus berat penderita dapat mengalami syok (Depkes RI,
2007). Sindrom Syok Dengue (SSD) Syok biasanya terjadi saat atau segera setelah
demam turun, yaitu antara hari ke 3 - 7. Penderita awalnya nampak letargi atau gelisah.

D. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue


1. Pasien Demam Berdarah Dengue dapat berobat jalan dan tidak perlu dirawat. Pada
fase demam pasien dianjurkan :
a. Tirah baring, selama masih demam.
b. Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan untuk
menurunkan suhu menjadi 38,5C.
c. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-manarus, sebaiknya
berikan infus NaCl 0,9 % : Dekstrosa 5 % (1:3). Pasang tetesan rumatan
sesuai dengan berat badan.
d. Periksa Hb, Ht dan trombosit tiap 6-12 jam. Apabila telah terjadi perbaikan
klinis dan laboratoris, pasien dapat dipulangkan, namun bila kadar Ht
meningkat dan trombosit cendrung menurun maka infus cairan ditukar
dengan Ringer Laktat (RL) dan lanjutkan dengan penetalaksanaan DBD.
2. DBD Derajat II dengan Peningkatan Hemokonsentrasi > 20% :

a. Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid Ringer Laktat/Ringer


Asetat/NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5% dalam RL/NaCl 0,9% 6-
7ml/KgBB/jam. Monitor tanda vital, kadar Ht dan trombosit tiap 6 jam.

b. Apabila selama observasi keadaan umum membaik, tekanan darah dan nadi
stabil, diuresis cukup, Ht cendrung menurun minimal dalam 2X
pemeriksaan berturut-turut maka tetesan dukurangi mejadi 5ml/KgBB/jam.
Bila dalam observasi selanjutnya tetap stabil kurangi tetesan menjadi
3ml/KgBB/jam, kemudian evaluasi 12-24 jam bila stabil dalam 24-48 jam
cairan dihentikan.

c. Sepertiga kasus jatuh dalam keadaan syok, bila keadaan klinis tidak ada
perbaikan, gelisah, nafas dan nadi cepat, diuresis kurang dan Ht meningkat
maka naikkan tetes menjadi 10ml/kgBB/jam. Bila dalam 12 jam belum ada
perbaikan klinis naikkan menjadi 15ml/KgBB/jam dan evaluasi 12jam lagi.

d. Apabila nafas lebih cepat, Ht naik dan tekanan nadi 20mmHg, nadi kuat,
kurangi tetesan jadi 10ml/KgBB/jam. Pertahankan sampai 24 jam atau
klinis membaik dan Ht turun 1ml/KgBB/jam dan pemeriksaan Ht dan
trombosit 4-6 jam sampai keadaan membaik.

e. Bila syok belum teratasi dan Ht belum turun (Ht>40%), berikan darah
dalam volume kecil 10ml/KgBB. Apabila tampak perdarahan masif,
berikan darah segar 20ml/KgBB dan lanjutkan cairan kristaloid
10ml/KgBB/jam.

3. Kreteria Memulangkan Pasien Pasien, dapat dipulang apabila memenuhi semua


keadaan dibawah ini :

a. Tampak perbaikan secara klinis

b. Tidak demam selaina 24 jam tanpa antipiretik

c. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau


asidosis)

d. Hematokrit stabil

e. Jumlah trombosit cenderung naik > 50.000/pl


f. Tiga hari setelah syok teratasi

g. Nafsu makan membaik

4. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue dengan Syok

a. Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menit
secarra nasal.

b. Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/asetat secepatnya.

c. Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20


ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian
koloid 10-20ml/kgBB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.

d. Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurun
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi; berikan transfusi
darah/komponen.

e. Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai
membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga 10
ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam
sesuai kondisi klinis dan laboratorium.

f. Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam.
Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu
banyak daripada pemberian yang terlalu sedikit.

E. Cara pencegahan Demam Berdarah Dengue


Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya (Aedes aegypti) harus
diberantas sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada. Cara yang tepat dalam
pencegahan penyakit DBD adalah dengan pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Cara ini dikenal sebagai Pemberantasan Sarang Nyamuk
DBD (PSN-DBD). Oleh karena tempat-tempat berkembang biaknya terdapat di
rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga harus melaksanakan
PSN-DBD secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali. Cara Pencegahan
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Kimia
Dengan cara pemberian abatisasi(abate), pengasapan dan fogging.
b. Fisik
Dalam sekurang-kurangya seminggu sekali, maka cegahlah dengan cara 4 M
plus.
1) Menguras. Menguras wadah air agar telur dan jentik nyamuk aedes aegypti
mati
2) Menutup. Menutup rapat semua wadah air agar nyamuk aedes aegypti tidak
dapatmasuk dan bertelur
3) Mengubur. Mengubur barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, botol-
botol pecah dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air hujan
agar tidak menjadi tempat berkembangbiak nyamuk aedesa aegypti
4) Memantau. Memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat
nyamuk aedes aegypti berkembang biak
5) Plus:
a) Melakukan penyemprotan atau pengasapan secara bersama di satu
wilayah
b) Membiasakan tidak menggantung baju didalam kamar
c) Memelihara ikan pemakan jentik
d) Menghindari gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok
e) Membunuh jentik nyamuk DBD di tempat-tempat penampungan air
yang sulit dikuras dengan menaburkan bubuk abate
f) Memakai kelambu pada saat tidur
g) Memasang kawat kasa (kawat nyamuk) pada ventilasi