Anda di halaman 1dari 9

SUTRISNO DAN KUNTYASTUTI: PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM


PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA
Cadmium Contamination Management
on Agricultural Land in Indonesia

Sutrisno dan Henny Kuntyastuti 1)

ABSTRAK recovered through good waste management, effec-


tive and efficiency pesticide and anorganic fertil-
Pencemaran logam kadmium menjadi isu izer applications, minimum tillage, water reserva-
penting pada pengelolaan lahan pertanian karena tion management, application of calcium, bacteria,
dapat mengakibatkan penyakit kanker, kerusakan organic fertilizer, grass remediation, planting of pea-
jantung, hati, ginjal, paru-paru, mutagenesis, patah nut, and intensive government supervision.
tulang hingga menyebabkan kematian pada manu-
sia. Akumulasi kadmium pada tanaman meng- Keyword: cadmium contamination, remediation,
hambat pertumbuhan, penurunan hasil, dan mem- peanut
percepat kematian tanaman. Pencemaran kadmium
pada lahan pertanian di beberapa daerah di Indo- PENDAHULUAN
nesia telah melebihi ambang batas sehingga memer-
lukan perhatian serius baik oleh pelaku industri, Upaya mewujudkan ketersediaan bahan
petani, maupun pemerintah. Pencemaran ini ber- pangan yang cukup dan aman bagi masyarakat
asal dari pembuangan limbah industri, aplikasi melalui intensifikasi budidaya tanaman untuk
pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan dan memperoleh hasil tinggi ternyata menimbulkan
terus menerus, serta pembuangan sampah rumah dampak negatif berupa pencemaran logam
tangga ke sungai. Remediasi lahan tercemar kad- berat. Pemberian pupuk dan pestisida yang me-
mium dapat dilakukan dengan cara pengelolaan
lebihi dosis demi menjaga dan meningkatkan
limbah industri, efisiensi penggunaan pupuk an-
organik dan pestisida, pengolahan tanah minimal,
hasil tanaman menyebabkan konsentrasi bebe-
pengelolaan air, aplikasi kapur, bakteri, pupuk orga- rapa jenis logam berat pada tanah, air, maupun
nik, penanaman gulma penyerap kadmium atau tanaman meningkat melebihi ambang batas
tanaman kacang tanah, dan peningkatan penga- yang diperbolehkan. Keadaan ini juga diper-
wasan pemerintah. parah dengan adanya pembuangan limbah
Kata kunci: pencemaran kadmium, remediasi,
industri ke perarian yang dimanfaatkan untuk
kacang tanah pengairan pertanian (Tongesayi dan Tongesayi
2014).
ABSTRACT Pencemaran logam berat pada lahan per-
tanian dapat terserap oleh tanaman dan teraku-
Cadmium contamination is one of the important
issue in agricultural land management. This con- mulasi di bagian akar, daun, buah, maupun
taminant can cause some of diseases i.e. cardiac, biji (Fang dan Zhu 2014). Akumulasi kadmium
liver, lung, fracture, and mutagenesis. This con- (Cd) pada tanaman dapat menghambat penye-
tamination also is able to hamper plant growth, rapan unsur hara (Pardo et al. 2013), meng-
yield, and increase plant death. In some site of Indo- hambat distribusi fotosintat (Xue et al. 2013;
nesia, cadmium contamination has exceed maxi- Xue et al. 2014), menghambat laju fotosintesis,
mum level so it is needed serious consideration by aktivitas enzim (Arbon et al. 2011), mening-
farmer, industry, and government. Cadmium con- katkan senyawa peroksida (Liu dan Templeton
tamination caused by industrial waste, intensive
2007), dan menyebabkan perubahan genetik
pesticides and phosphate fertilizer application, and
sewage sludge. Contaminated land is able to be
(Dezar, Fedrigo, dan Chan 2005). Konsumsi
hasil tanaman pangan tercemar logam berat
1) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi menyebabkan akumulasi logam berat dalam
Kotak Pos 66 Malang Telp. (0341) 801468, Fax: 0342- organ tubuh yang menjadi penyebab berbagai
801496; e-mail: sutrisnoharun@litbang.pertani- macam penyakit maupun gangguan fungsi
an.go.id organ tubuh seperti patah tulang, kanker,
Naskah diterima 2 Agustus 2015; disetujui untuk kerusakan jantung, hati, ginjal, paru-paru, dan
diterbitkan tanggal 31 September 2015. mutagenesis yang dapat menyebabkan kemati-
Diterbitkan di Buletin Palawija Vol. 13 No. 1:83–91. an (Friberg et al. 1992; Portier 2012).

83
BULETIN PALAWIJA VOL. 13 NO. 1, OKTOBER 2015

Pengawasan pemerintah terhadap pence- an kadmium akan meningkat jika terjadi ben-
maran limbah logam berat pada lahan pertanian cana alam seperti gunung meletus, atau kegiat-
maupun perairan di Indonesia sudah banyak an penambangan batubara, minyak bumi, logam
dilakukan. Beberapa peraturan yang mengatur nikel (Ni), zink (Zn), timbal (Cu), dan besi (Fe).
pencemaran limbah logam berat adalah PP no. Penambangan logam tersebut berpengaruh
18 tahun 1999 juncto PP no. 85 tahun 1999 terhadap meningkatnya konsentrasi kadmium
tentang Limbah B3, PP No. 74 dan 82 tahun di permukaan tanah karena kadmium terikat
2001, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dengan unsur nikel (Ni), zink (Zn), timbal (Cu),
tentang pengawasan limbah oleh Pemerintah besi (Fe), sulfat (SO4), dan kalsium (Ca).
Daerah, Keputusan Menteri Kesehatan RI Kadar kadmium dinyatakan dalam satuan
Nomor 907/Menkes/ SK/VII/2002 tentang per- ppm, ng/l, µg/m3, dan mg/kg. Satuan kadmium
syaratan kimia air, serta Peraturan Menteri Per- dalam atmosfer biasanya dinyatakan dengan
tanian (Permentan) No 70/Permentan/SR.140/ µg/m3, dalam air laut dengan ng/l dan dalam
10/2011 tentang kandungan kadmium dalam tanah dengan ppm (Tabel 1). Analisis kadar kad-
pupuk organik. Meskipun pengawasan sudah mium dilakukan dengan beberapa metode
dilakukan, pencemaran logam berat pada lahan seperti spektofotometri, identification selection
pertanian tetap terjadi, misalnya terdeteksinya electron (ISE), ionic liquid modified electro-
kontaminasi kadmium pada bawang merah di chemical sensor (Wang et al. 2015), dan kroma-
daerah Tegal Jawa Tengah (Kusumaningrum tografi.
et al.2012) dan pencemaran pada lahan perta-
nian di daerah Pengalengan Jawa Barat
PENCEMARAN KADMIUM
(Kusdianti et al. 2014).
DI INDONESIA
Kontaminasi logam berat di Tegal Jawa
Tengah dan Pengalengan Jawa Barat menun- Pencemaran logam berat kadmium telah
jukkan bahwa kontaminasi logam berat pada terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia
lahan pertanian berpeluang terjadi di daerah seperti Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan,
lainnya di Indonesia. Pencemaran kadmium Sulawesi, dan Papua. Pencemaran berasal dari
pada lahan pertanian di beberapa wilayah di pembuangan limbah industri, pertambangan,
Indonesia serta upaya perbaikannya akan aplikasi pupuk kimia dan pestisida kimia secara
dibahas pada makalah ini. berlebihan, dan pembuangan limbah rumah
tangga ke dalam aliran sungai.
KADMIUM DALAM TANAH Pembuangan limbah industri merupakan
penyebab utama pencemaran logam berat pada
Kadmium pertama kali ditemukan pada lahan pertanian karena mengandung unsur
bebatuan “calamine” (seng dan karbonat) oleh logam berat paling tinggi dibanding sumber
ilmuwan jerman Friedric Strohmeyer pada pencemar lainnya. Industri yang menghasilkan
tahun 1817. Kadmium terdapat di seluruh lapis- cemaran limbah di antaranya industri pertam-
an permukaan bumi dalam konsentrasi rendah bangan, baja, semen, tekstil, elektronik, kertas,
yaitu 0,1–0,5 ppm (Smiciklas 2003). Dalam air dan penyamakan kulit. Selain melalui air, pen-
laut, konsentrasi kadmium berkisar 5–110 ng/ cemaran industri juga dapat melalui udara yang
L (Morrow 2001). Pada konsentrasi ini, kadmium berasal dari asap dan debu industri maupun
masih berada dalam kisaran normal. Kandung- dari air hujan pada daerah industri. Di Suma-
tera misalnya, pencemaran terjadi di perairan
sungai Indragiri Kabupaten Indragiri Hulu
Table 1. Rata-rata kandungan kadmium di alam
Riau. Pencemaran ini berasal dari limbah pe-
nambangan emas ilegal di Desa Japura, Danau
Jenis pembawa Kandungan kadmium
Baru, dan Redang. Lahan sawah di Ranca-
Lapisan kerak bumi 0,1–0,5 ppm engkek Bandung juga mengalami cemaran
kadmium dari limbah pabrik tekstil yang di-
Atmosfer 0,1–5 ng/m3
alirkan ke Sungai Cikijing (Tabel 2).
Lautan 10–100 ng/l
Bijih seng 200–14000 ppm Pencemaran logam kadmium pada lahan
Bijih timah dan tembaga 200–500 ppm
pertanian juga berasal dari penggunaan pesti-
sida dan pupuk fosfat anorganik (Fang dan Zhu
Bahan bakar fosil 0,5–1,5 ppm
2014). Berbagai jenis pestisida mengandung
Sumber: Smiciklas (2003).

84
SUTRISNO DAN KUNTYASTUTI: PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

Tabel 2.Penyebaran kontaminasi Cd di lahan pertanian dan perairan di Indonesia.

Kisaran Cd Status Sumber


Lokasi Sumber pencemar lahan perta- literatur
nian (ppm)
1 Daerah aliran Sungai Indra Pembuangan limbah 0,10–0,17 Tercemar Oktaria,
Giri Kabupaten Indragiri penambangan emas Hanifah, dan
Hulu, Riau tanpa ijin (PETI) Anita (2014)

2 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limbah pelabuhan 0,1000–0,1890 Tercemar Emilia,


Musi Palembang dan bahan bakar Suheryanto,
dan Hanafiah
(2013)

3 Lahan sawah Kec. Limbah industri 0,86–9,69 Tercemar S. Sutono dan


Rancaengkek, Bandung, tekstil di Sungai K. Utami
Jawa Barat Cikijing (2014)
4 Pengalengan, Jawa Barat Aplikasi pupuk fosfat 0,18–4,06 Tercemar Kusdianti et
al. (2014)
5 Karawang, Subang, Kemungkinan Aplikasi 0,62–2,89 Tercemar Surtipanti
Indramayu, Majalengka, pupuk TSP terus et al. (1995)
Cirebon Jawa Barat menerus

6 Perairan Pelawangan Limbah tambang 0,01–0,54 Tercemar Hartono,


Timur, Cilacap Jawa Tengah minyak Siregar, dan
Hidayati (2013)
7 Tanaman bawang di Irigasi, aplikasi pupuk 1,83 Tercemar Kusumaning-
lahan pertanian di Brebes berlebihan dan rum et al.
Tegal Jawa Tengah pestisida (2012)

8 Sungai Bengawan Solo, Limbah industri dan 0,08–0,13


Jawa Tengah dan produk rumah tangga Tercemar Sulistiyanto
Jawa Timur dan Astuti
(2009)
9 DAS Sungai Wonokromo Produk rumah tangga 0,001–0,003 Aman Prawita (2008)
Jawa Timur
10 Perairan di Kabupaten Limbah domestik dan 0,008–0,22 Tercemar Sundra (2011)
Badung Bali pertanian
11 Lahan pertanian Kec. Input budidaya 0,009–0,601 Tercemar Susana (2010)
Pontianak Utara Kalimantan
Barat
12 Sungai Sekonyer di Kab. Penambangan 0,01–0,03 Aman Indarwati,
Kotawaringin Barat Mahendra, dan
Kalimantan Tengah Arthana (2007)

13 DAS sungai Barito Penambangan 0,002–0,0067 Aman Ridwan,


Kalimantan Selatan Sofarini, dan
Dini (2011)

14 DAS Pangkajene Limbah domestik, 0,005–0,015 Aman Aripai dan


Sulawesi Selatan limbah industri Daud (2008)

15 Perairan Pulau Muna, Limbah industri <0,001 Aman Ahmad (2009)


Kabaena, Buton Sulawesi tambang nikel
Tenggara
16 Pulau Ambon, Maluku Input budidaya 0,01–0,03 Aman Rumahlatu
(2012)

85
BULETIN PALAWIJA VOL. 13 NO. 1, OKTOBER 2015

unsur kadmium baik sebagai komponen utama penduduk sedikit. Misalnya pencemaran di dae-
maupun bahan komplementer yang berfungsi rah Pengalengan Jawa Barat dan lahan sawah
sebagai bahan perekat dan peningkat efektivitas Rancaengkek Bandung lebih tinggi dibanding
senyawa racun yang dikandungnya (Agency perairan pulau Muna Sulawesi Tenggara dan
1998). Peningkatan penggunaan pestisida dan DAS Pangkajene Sulawesi Selatan (Tabel 2).
pupuk anorganik secara berlebihan secara terus Meskipun lahan pertanian di beberapa
menerus dalam kurun waktu lama menyebab- daerah di Indonesia mengandung kadmium di
kan kontaminasi kadmium pada lahan perta- atas ambang batas (Tabel 3) tetapi masih lebih
nian semakin meningkat (Schipper et al. 2011). rendah dibandingkan dengan pencemaran di
Hal ini dapat dijumpai pada daerah Penga- negara lain. Di Distrik Tiexi Shengyang China,
lengan, Karawang, Subang, Indramayu, Maja- kadar kadmium telah mencapai 30 ppm (Ren
lengka, dan Cirebon (Jawa Barat) serta Brebes et al. 2014) sedangkan di Eropa, konsentrasi
dan Tegal (Jawa Tengah) (Tabel 2). Daerah- kadmium berkisar antara 0,004 ppm hingga 14
daerah tersebut merupakan daerah pertanian ppm. Konsentrasi kadmium terendah di Eropa
intensif. Petani menanam padi atau sayuran terjadi di Austria, Spanyol, dan Portugal se-
secara terus menerus tanpa memberakan lahan- dangkan konsentrasi tertinggi terjadi di Yunani
nya sehingga input pupuk dan pestisida kimia (Pan et al. 2010).
semakin meningkat. Penggunaan lahan tanpa
kondisi bera juga menyebabkan siklus hidup
PENCEMARAN KADMIUM
hama tidak terputus yang akhirnya mening-
PADA TANAMAN
katkan frekuensi dan volume penggunaan
pestisida. Peningkatan penggunaan pupuk dan Pengaruh pencemaran kadmium pada
pestisida kimia menyebabkan konsentrasi tanaman sulit terdeteksi apabila hanya diukur
kadmium dalam tanah meningkat. dari laju pertumbuhan tanaman dan hasil
Sumber pencemaran kadmium lainnya ada- tanaman. Tanaman yang tumbuh pada lahan
lah pemukiman penduduk dan aktivitas manu- terkontaminasi umumnya masih dapat tumbuh
sia yang menggunakan dan menghasilkan normal, tetapi laju fisiologi tanamannya telah
produk industri (Gallego et al. 2012), sampah berubah. Perubahan tersebut terlihat pada akti-
rumah tangga maupun sampah industri seperti vitas metabolisme dan kandungan kadmium
sampah plastik, serat sintetik, semen, baja, cat,
keramik, dan minyak pelumas adalah sumber
Tabel 3. Persyaratan kimia air berdasarkan Pera-
pencemaran pada daerah pemukiman (Anoni-
turan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ Menkes/
mous 2014). Kontribusi kontaminasi sampah SK/VII/2002.
rumah tangga maupun sampah industri cukup
besar karena pengelolaannya belum dilakukan No. Unsur Rumus Kadar
secara baik sesuai standar pengelolaan limbah. kimia maksimum
Sebagian sampah industri perumahan maupun (mg/l)
sampah rumah tangga dibuang ke sungai dan
masuk melalui jaringan irigasi menuju lahan 1 Antimon Sb 0,005
pertanian. Pembuangan sampah rumah tangga 2 Air Raksa Hg 0,001
ke aliran sungai terjadi hampir di semua wilayah 3 Arsenic As 0,010
Indonesia. 4 Barium Ba 0,700
5 Boron B 0,300
Kadar kadmium di wilayah perairan atau
6 Kadmium Cd 0,003
lahan pertanian di Indonesia bervariasi 0,001
7 Kadmium
hingga 9,690 ppm (Tabel 2). Beberapa daerah
(Valensi 6 Cd 0,050
tingkat cemarannya di bawah batas maksimum
8 Tembaga Cu 2,000
yang diperbolehkan, berarti masih dalam ke-
9 Sianida Cn 0,070
adaan normal atau aman, sedangkan beberapa
10 Flourida F 1,500
daerah lainnya sudah melebihi ambang batas
11 Timbal Pb 0,010
yang diperbolehkan. Tingkat cemaran pada
12 Molydenum Mo 0,070
daerah padat industri, aktivitas pertanian inten-
13 Nikel Ni 0,020
sif, dan padat penduduk cenderung lebih tinggi
14 Nitrat NO3 50,000
dibanding daerah dengan aktivitas pertanian
15 Nitrit NO2 3,000
kurang intensif, serta jumlah industri dan
16 Selenium Se 0,010

86
SUTRISNO DAN KUNTYASTUTI: PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

pada jaringan tanaman. Tanaman yang tum- menjadi bahan pertimbangan dalam memi-
buh pada lahan tercemar kadmium (12 ppm nimalkan dampak negatif kontaminasi kadmium
Cd), pertumbuhannya normal tetapi aktivitas pada lahan pertanian. Upaya untuk mengu-
enzim seperti superoxide dismutase (SOD), cata- rangi tingkat cemaran dapat dilakukan melalui
lase (CAT), peroxidase (POD) mulai menurun fisiokimia konvensional, bioremediasi, minima-
(Li et al. 2015). Pencemaran kadmium mengu- lisasi input budidaya yang mengandung kad-
rangi kandungan klorofil, menghambat aktivitas mium tinggi, pengolahan tanah minimal,
enzim ribulose-1,5-bisphosphate (RuBP) dan pengelolaan air irigasi, dan penggunaan tanam-
transfer elektron, serta menurunkan efisiensi an toleran cekaman kadmium.
kuantum dan fotokimia pada fotosintesis-II
(Deng et al. 2014). Metode Fisiokimia
Pencemaran semakin parah dengan teraku- Metode fisiokimia konvensional dilakukan
mulasinya kadmium pada bagian tanaman dengan menggunakan senyawa kimia pada
yang dikonsumsi manusia seperti daun dan biji. lahan terkontaminasi, yaitu pemberian ekstrak
Standar keamanan pangan mensyaratkan pelarut yang dapat bereaksi dengan kadmium
kadar kadmium pada bagian tanaman yang melalui pertukaran ion, osmosis terbalik, dan
dikonsumsi manusia harus di bawah batas kon- perlakuan elektrokimia. Senyawa kimia yang
sentrasi maksimum. Batas maksimum yang dapat diaplikasikan antara lain ion litium (Yun
diperbolehkan untuk serealia kedelai, umbi, dan dan Volesky 2003). Proses remediasi menggu-
beras atau tepung beras berturut-turut 0,1 ppm, nakan unsur litium lebih cepat dan efektif untuk
0,2 ppm dan 0,4 ppm (SNI: 7383:2009). lahan sempit dengan tingkat kontaminasi tinggi.
Di daerah China Selatan, kadar kadmium Metode ini kurang efektif jika diaplikasikan pada
pada lahan pertanian berkisar antara 0,12–2,16 lahan yang luas dan tingkat kontaminasi rendah
ppm. Pada taraf ini akumulasi kadmium pada karena membutuhkan biaya sangat besar.
biji kedelai mencapai 0,11–0,91 ppm atau Unsur lain yang dapat dimanfaatkan untuk
sebesar 3,9% (Zhao et al. 2014). Pada daerah menghambat aktivitas kadmium adalah silikon
lainnya dengan konsentrasi kadmium tanah (Si). Pemberian Si pada tanaman kacang tanah
130 ppb menyebabkan akumulasi kadmium menghambat transportasi kadmium dari akar
dalam biji kedelai mencapai 23 ppb atau sebesar ke tunas, mengurangi akumulasi kadmium pada
17%. Apabila tingkat cemaran di Indonesia ter- jaringan organel sel daun, dan meningkatkan
tinggi mencapai 9 ppm (Sutono dan Utami 2014) enzim antioksidan SOD, POD, dan CAT di per-
dan akumulasi kadmium pada tanaman kedelai akaran (Shi et al. 2010). Penggunaan kapur
misalkan mencapai 3,9–17% maka kadar kad- kalsium (CaCO3) pada lahan pertanian dapat
mium pada biji kedelai dapat mencapai 0,35– mengurangi kelarutan ion kadmium dalam
1,59 ppm. Tingkat akumulasi ini sangat tinggi tanah sehingga mengurangi jumlah yang
melebihi batas maksimum standar keamanan diserap tanaman (Hong et al. 2011; Andosch et
pangan. al. 2012).

Meskipun tingkat cemaran kadmium pada Bioremediasi


lahan pertanian belum semua melebihi ambang
Bahan organik seperti kotoran hewan, pupuk
batas diperbolehkan namun harus tetap diwas-
kompos, sisa pelapukan tanaman, dan pupuk
padai. Peningkatan aktivitas pertanian berupa
organik dapat digunakan sebagai amelioran
input budidaya dapat meningkatkan konsen-
pada lahan tercemar. Berbagai senyawa
trasi kadmium dalam tanah. Pemanfaatan hasil
organik pada bahan organik dapat mengikat
tanaman pangan berkadar kadmium rendah
ion kadmium sehingga mobilitasnya rendah.
secara terus menerus tetap dapat membaha-
kemampuan bahan organik dalam mengikat
yakan kesehatan masyarakat.
kadmium berbeda-beda tergantung komposi-
sinya (Tejada 2009). Pemberian bahan organik
UPAYA MENGATASI PENCEMARAN secara terus menerus dapat menurunkan laju
KADMIUM penyerapan kadmium pada tanaman. Misalnya
Pemahaman tentang keberadaan dan sum- pemberian limbah organik, kotoran hewan, dan
ber pencemar kadmium pada lahan pertanian pupuk sampah organik kota setiap dua tahun
dan perairan di Indonesia, serta tingkat aku- selama dua belas tahun menurunkan kadar
mulasi maksimum yang diperbolehkan pada kadmium terserap tanaman dari konsentrasi
organ tanaman sebagai bahan pangan dapat 0,07, 0,07, dan 0,045 mg/kg menjadi 0,05, 0,04

87
BULETIN PALAWIJA VOL. 13 NO. 1, OKTOBER 2015

dan 0,038 mg/kg bobot kering tanaman (Legind daun, dan batang sedangkan paling sedikit
et al. 2012). terjadi pada biji. Bioremediasi dengan kacang
Beberapa jenis bakteri gram negatif dapat tanah sebaiknya dilakukan jika hasil tanaman
dimanfaatkan untuk remediasi lahan terkon- kacang tanah untuk bahan baku bioenergi,
taminasi (Glick 2010). Dinding sel bakteri gram bukan untuk pangan. Hasil tanaman kacang
negatif yang tersusun atas peptidoglycan, phos- tanah yang tidak dimanfaatkan untuk bahan
pholipids dan lipopolisakarida dapat mengikat baku produksi bioenergi dapat dimanfaatkan
logam kadmium. Mekanisme pengikatan kad- untuk bahan baku pupuk organik karena logam
mium terjadi melalui satu atau kombinasi reaksi berat yang terikat dalam organ tanaman akan
pertukaran ion berupa komplektivitas, koor- lebih stabil sehingga tidak mudah ditranslo-
dinasi, absorbsi, interaksi elektrostatis, chela- kasikan kembali ke dalam tanaman berikutnya.
tion, dan mikropresipitasi. Pada kondisi bakteri Pengolahan Tanah Minimal
tidak hidup, pengikatan kadmium terjadi secara
pasif melalui mekanisme fisiokimia. Beberapa Teknologi budidaya berupa pengolahan
contoh bakteri yang dapat mengikat antara lain lahan minimal dapat membantu proses per-
Acidiphilium symbioticum (Chakravarty dan baikan lahan terkontaminasi. Pengolahan
Banerjee 2012), Pseudomonas uorescens, Pseudo- lahan yang dilakukan beberapa kali dalam satu
monas putida, Klebsiella planticola, Alcaligenes musim tanam menyebabkan ion kadmium yang
xylosoxidans, Serratia liquefaciens, Comamonas berada di lapisan bawah akan kembali naik ke
testosterone (Chovanová et al. 2004), dan atas permukaan tanah sehingga lebih tersedia
Pseudomonas aeruginosa (Kermani et al. 2010). bagi akar tanaman. Kadmium biji gandum yang
Bakteri dan cendawan juga dapat menyerap ditanam pada lahan dengan olah minimal jum-
kadmium. Perbanyakan atau aplikasi cendawan lahnya lebih rendah dibanding pada lahan olah
pada lahan terkontaminasi dapat memacu pen- konvensional (Gao dan Grant 2012). Selain itu
cucian kadmium dalam tanah. kondisi tanah yang sangat porous karena peng-
Beberapa jenis gulma seperti Cyperus has- olahan tanah berlebihan akan menyebabkan
pan, Echinochloa sp., Cyperus kyllingia, Fim- mobilitas ion kadmium semakin mudah.
bristylis annua, Panicum repens, Mikania Pengelolaan Air
cordata, Sonchus arvensis diidentifikasi dapat
menyerap logam berat (Juhaeti et al. 2005). Apa- Pengelolaan air irigasi dapat mengurangi
bila gulma dimanfaatkan sebagai bahan kontaminasi kadmium. Air irigasi dapat dien-
organik, kadmium yang terkandung dalam sisa dapkan melalui embung atau kolam. Kolam
tanaman terikat pada senyawa organik. Kondisi dapat ditumbuhi tanaman air yang memiliki
ini menyebabkan kadmium lebih stabil dalam kemampuan menyerap ion kadmium seperti
tanah dan tidak mudah terambil kembali oleh ganggang, Groenlandia densa (Yýlmaz dan
tanaman berikutnya. Keadaan ini mengurangi Parlak 2011). Aplikasi ekstrak pelarut kimia
risiko pencemaran kadmium pada tanaman. juga dapat dilakukan di kolam sehingga
Metode ini dapat diterapkan pada lahan dengan pengendapan kadmium terjadi di kolam.
kontaminasi berat dan tidak ditanami untuk
sementara waktu tetapi kurang tepat jika dite- Pengawasan Pemerintah
rapkan pada lahan budidaya yang dimanfaat- Kebijakan pemerintah sangat berperan
kan secara terus menerus. penting dalam meminimalisasi kontaminasi
Tanaman kacang tanah dapat dimanfaat- kadmium pada lahan pertanian. Penegakan
kan untuk bioremediasi kadmium. Penyerapan aturan yang tegas dan sanksi yang berat serta
kadmium oleh kacang tanah pada konsentrasi pengawasan intensif pemerintah terhadap
50–200 mg/kg paling tinggi (56–68 µg/tanaman) pelaku industri dalam mengelola limbah akan
dibandingkan dengan tanaman Bunga Mata- mengurangi tingkat kontaminasi kadmium pada
hari (20–24 µg/tanaman), Sawi Hijau (5–25 µg/ lahan pertanian.
tanaman), Kedelai (11–15 µg/tanaman), Bunga Dari semua alternatif dalam remediasi
Kesumba (11,5–14,9 µg/tanaman), Ganja (8– kadmium di lahan pertanian, pemberian pupuk
13 µg/tanaman), Jarak (4,9–11 µg/tanaman), kandang dan kapur merupakan cara yang
dan Linum usitatissimum (2,4–3,9 µg/tanaman) paling efisien untuk dilakukan. Selain keterse-
(Shi dan Cai 2009). Akumulasi kadmium pal- diaannya mudah didapatkan, aplikasi kedua
ing banyak terjadi di perakaran, kulit polong, bahan remediasi ini juga akan memperbaiki

88
SUTRISNO DAN KUNTYASTUTI: PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

kesuburan tanah baik secara fisika, kimia mau- Chovanová, K., D. Sládeková, V. Kmet, J. Harichová,
pun biologi tanah. Pemberian pupuk kandang M. Proksova A. Puskarova, B. Polek, and P.
meningkatkan keragaman mikroorganisme Ferianc. 2004. Identification and characterization
of eight Cadmium resistant bacterial isolates from
tanah seperti bakteri, cacing, dan cendawan
a cadmium-contaminated sewage sludge. Biologia
yang dapat menyerap kadmium sehingga kan- Bratislava J. 59(6):817–827.
dungan kadmium dalam tanah lebih cepat
Deng, G., M. Li, H. Li, L. Yin, and W. Li. 2014.
berkurang atau lebih stabil karena sudah terikat
Exposure to cadmium causes declines in growth
pada senyawa organik. and photosynthesis in the endangered aquatic fern
(Ceratopteris pteridoides). Aquatic Botany
KESIMPULAN J.112:23–32.

Pencemaran kadmium pada lahan pertanian Dezar, C.A., G.V. Fedrigo, and R.L. Chan. 2005. The
promoter of the sunflower HD-Zip protein gene
di beberapa daerah di Indonesia telah melebihi
Hahb4 directs tissue-specific expression and is
ambang batas diperbolehkan, sehingga perlu inducible by water stress, high salt concentra-
mendapatkan perhatian serius baik oleh pelaku tions and ABA. Plant Science J.169(2): 447–456.
industri, petani, maupun pemerintah. Cemaran
Emilia, I., Suheryanto, dan Z. Hanafiah. 2013. Dis-
kadmium dapat dicegah melalui pengelolaan tribusi logam kadmium dalam air dan sedimen
limbah industri secara baik, mengurangi input di Sungai Musi Kota Palembang. J. Penelitian
pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan, Sains.16(C):59–64.
pengolahan tanah minimal, pengelolaan air,
Fang, B. and X. Zhu. 2014. High content of five heavy
penanaman rumput penyerap logam berat, serta metals in four fruits: Evidence from a case study
pengawasan ketat dari pemerintah. Metode of Pujiang County, Zhejiang Province, China.
pengendalian lahan terkontaminasi dapat dila- Food Control. 39:62–67.
kukan sesuai dengan tingkat cemaran. Friberg, L., C.G. Elinder, and T. Kjellstroem. 1992.
Cadmium. Geneva, the United Nations Environ-
DAFTAR PUSTAKA ment Programme,the Internat. Labour Organi-
sation, the World Health Organization. Geneva.
Agency, E.P. 1998. Status of pesticides in regis- 280 pp.
tration, reregistration, and special review. USEP.
Agency. Washington, D.C. Nat. Center for Envi- Gallego, S.M., L.B. Pena, R.A. Barcia, C.E. Azpi-
ronmental Publ. and Info. 462 pp. licueta, M.F. Iannone, E.P. Rosales, M.S. Zawoz-
nik, M.D. Groppa, and M.P. Benavides. 2012.
Ahmad, F. 2009. Tingkat pencemaran logam berat Unravelling cadmium toxicity and tolerance in
dalam air laut dan sedimen di perairan Pulau plants: Insight into regulatory mechanisms. Envi-
Muna, Kabaena, dan Buton Sulawesi Tenggara. ron. and Exp. Botany. 83:33–46.
Jurnal Makara Sains. 13(2):117–124.
Gao, X. and C.A. Grant. 2012. Cadmium and zinc
Andosch, M.A., M.J. Affenzeller, C. Lütz, U. Lütz- concentration in grain of durum wheat in rela-
Meindl. 2012. A freshwater green alga under cad- tion to phosphorus fertilization, crop sequence and
mium stress: Ameliorating calcium effects on tillage management. Appl. and Environ. Soil Sci.
ultrastructure and photosynthesis in the unicel- 10(1):1–10.
lular model. J. of Plant Physiology. 169: 1489–
1500. Glick, B.R. 2010. Using soil bacteria to facilitate
phytoremediation. Biotechnology Advances. 28:
Anonimous. 2014. Cadmium in the future. 367–374.
www.cadmium.org.
Hartono, A.S. Siregar, dan N.V. Hidayati. 2013.
Arbon, K.S., C.M. Christensen, W.A. Harvey, and Status pencemaran perairan Plawangan Timur,
S.J. Heggland. 2011. Cadmium exposure acti- Segara Anakan Cilacap, berdasarkan kandungan
vates the ERK signaling pathway leading to logam berat Cd dalam air dan sedimen. Omni-
alteredosteoblast gene expression and apoptotic Akuatika XII(16):15–27.
death in Saos-2 cells. Food and Chem. Toxicol-
ogy. 50:198–205. Hong, K.S., H.M. Lee, J.S. Bae, M.G. Ha, J.S. Jin,
T.E. Hong, and E.D. Jeong. 2011. Removal of
Aripai, M., dan A. Daud. 2008. Analisis risiko papar- heavy metal ions by using calcium carbonate
an kadmium (Cd) pada air dan kerang putih (Ana- extracted from starfish treated by protease and
donta woodiana) di Sungai Pangkajene tahun amylase. J. of Analytical Sci. and Tech. 2(2):
2012. Universitas Hasanudin.138 hlm. 75–82.
Chakravarty, R. and P.C. Banerjee. 2012. Mecha- Indarwati T. dan I.W. Arthana. 2007. Analisis kadar
nism of cadmium binding on the cell wall of an logam berat air Sungai Sekonyer di Kabupaten
acidhopilic bacterium. Bioresource Tech. Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Eco-
108:176–183. trophic J. of Environ. Sci. 2(2):1–10.

89
BULETIN PALAWIJA VOL. 13 NO. 1, OKTOBER 2015

Juhaeti, T., F. Syarif, and N. Hidayati. 2005. Inven- Ren, W., B. Xue, Y. Geng, L. sun, Z. Ma, Y. Zhang,
tarization of potential plant for phytoremediation B. Mitchell, and L. Zhang. 2014. Inventorying
on degraded land and water mined. Biodiversitas. heavy metal pollution in redeveloped brownfield
6(1):31–33. and its policy contribution: Case study from Tiexi
District, Shenyang, China. Land Use Policy.
Kermani, A.J.N., M.F. Ghasemi, A. Khosravan, A.
38:138–146.
Farahmand, and A. Shakibaie. 2010. Bacteria
isolated from active sludge of industrial effluent. Ridwan, A., Sofarini, dan I.R. Dini. 2011. Studi ana-
Iran. J. Environ. Health. Sci. Eng. 7(4):279–286. lisis pengujian logam berat pada badan air, biota
dan sedimen di perairan muara DAS Barito. Bumi
Kusdianti, K., R. Solihat, H. Hafsah, dan E. Tris-
Lestari J. of Environ. 10(1):28–37.
nawati. 2014. Analisis pertumbuhan tanaman
kentang (Solanum tuberosum L.) pada tanah Rumahlatu, D. 2012. Konsentrasi logam berat kad-
yang terakumulasi logam berat kadmium (Cd). mium pada air, sedimen dan Deadema setosum
Bioslogos. 4(1):26–32. (Echinodermata, Echinoidea) di Perairan Pulau
Ambon. J. Ilmu Kelautan 16(2):78–85.
Kusumaningrum, H. P., M. Zainuri, dan B. Raharjo.
2012. Analisis kandungan kadmium (Cd) dalam Shi, G., and Q.Cai, 2009. Cadmium tolerance and
tanaman bawang merah dari Tegal. J. Sains dan accumulation in eight potential energy crops.
Matematika.20(4):98–102. Biotechnology Advances. 27(5):555–561.
Legind, C.N., A. Rein, J. Serre, V. Brochier, C.S. Schipper, L.A., G.P. Sparling, L.M. Fisk, M.B. Dodd,
Haudin, P. Cambier, and S. Trapp. 2012. Simul- I.L. Power, and R.A. Litter. 2011. Rates of accu-
taneous simulations of uptake in plants and mulation of cadmium and uranium in a New
leaching to groundwater of cadmium and lead for Zealand hill farm soil as a result of long-term
arable land amended with compost or farmyard use of phosphate fertilizer. Agriculture, Ecosys-
manure. Plos One.7(10):1–13. tems and Environment. 144:95–101.
Li, C., C. Yan, Y. Liu, T. Zhang, S. Wan, dan S. Shi, G., Q. Cai, C. Liu, and L. Wu. 2010. Silicon
Shan. 2015. Phytotoxicity of cadmium on peroxi- alleviates cadmium toxicity in peanut plants in
dation, superoxide dismutase, catalase and per- relation to cadmium distribution and stimulation
oxidase activities in growing peanut (Arachis of antioxidative enzymes. Plant Growth Regula-
hypogaea L.). African J. of Biotech. 14(13):1151– tion. 61(1):45–52.
1157.
Smiciklas, I.D. 2003. Cadmium immobilization by
Liu, Y. and D. M. Templeton. 2007. Cadmium acti- hydroxyapatite. Chem Industry 57(3):101–106.
vates CaMK-II and initiates CaMK-II-dependent
Badan Standardisasi Nasional. 2009. Batas maksi-
apoptosis in mesangial cells. FEBS Letters.
mum cemaran mikroba dalam pangan SNI.
581:1481–1486.
7388:2009. 41 hlm.
Morrow H. 2001. Cadmium and Cadmium alloys.
Sulistiyanto, W. dan D.Astuti. 2009. Analisis kuali-
In Kirk-Othmer encyclopedia of chemical tech-
tas air Sungai Bengawan Solo wilayah Kota Sura-
nology. John Wiley and Sons Inc. 471–507.
karta. J. Ilmu Kesehatan. 4(8):59–72.
Oktaria, N., T.A. Hanifah, dan S. Anita. 2014. Ana-
Sundra, I K. 2011. Kualitas perairan pantai di Kabu-
lisis kandungan logam merkuri, kadmium, tim-
paten Badung yang dimanfaatkan sebagai akti-
bal dan sianida pada aliran Sungai Indragiri,
vitas pariwisata. Bumi Lestari J. of Environ.
Kabupaten Indragiri Hulu. J. Online Mahasiswa
11(2):227–233.
(JOM) Bidang Matematika dan Ilmu Penge-
tahuan Alam, Oktaria. 2(1):83–90. Surtipanti, S., H. Rasyid, J. Mellawati, S. Yumiarti,
dan S. Suwirna. 1996. Studi tentang kandungan
Pan, J., J.A. Plant, N. Voulvoulis, C.J. Oates, and
logam berat di tanah sawah. Pros. Pertemuan
C. Ihlenfeld. 2010. Cadmium levels in Europe:
dan Presentasi Ilmiah 33(25):374–378.
implications for human health. Environ.
Geochem. and Health 32(1):1–12. Susana, R. 2010. Kajian kandungan kadmium (Cd)
dalam tanah pada areal pertanian di Kecamatan
Pardo, B.S. R.O. Carpena, R. Carpena, and P.
Pontianak Utara Kota Pontianak. FP UGM. 118
Zornoza. 2013. Kadmium in white lupin nodules:
hlm.
Impact on nitrogen and carbon metabolism. J. of
Plant Physiol. 170:265–271. Sutono dan U. Kurnia. 2014. Identifikasi kerusakan
lahan sawah di Rancaengkek kabupaten Ban-
Portier, C.J. 2012. Toxicological profile for cadmium.
dung Jawa Barat. Pros. Balai Penelitian Tanah.
Public Health Service Agency for Toxic Sub-
283–296.
stances and Disease Registry. Georgia. 487 pp.
Tejada, M. 2009. Application of different organic
Prawita, A. 2008. Kandungan logam berat timbal
wastes in a soil polluted by kadmium: Effects on
(Pb), kadmium (Cd) dan tembaga (Cu) dalam air
soil biological properties. Geoderma. 153:254–268.
Kali Wonokromo. Majalah Farmasi Airlangga.
6(1):29–31.

90
SUTRISNO DAN KUNTYASTUTI: PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

Tongesayi, T. dan S. Tongesayi. 2014. The New in- Xue, Z., H. Gao, and S. Zhao. 2014. Effects of cad-
convenient truth: Global contamination of food mium on the photosynthetic activity in mature
by chemical pollutants, particularly heavy met- and young leaves of soybean plants. Environ. Sci.
als and metalloids. In Chemistry of Food, Food and Pollution Res. 21(6):4656–4664.
Supplements, and Food Contact Materials: from
Yilmaz, D.D. and K.U. Parlak. 2011. Changes in
production to plate. Am. Chem. Soc. 1159:15–40.
proline accumulation and antioxidative enzyme
Wang, Z. H. Wang, C. Li, X. He, and G. Liu. 2015. activities in Groenlandia densa under cadmium
On site measurement cadmium and lead in soil stress. Ecological Indicators 11(2):417–423.
using a disposable bismuth/ionic liquid modified
Yun, Y.S., and B. Volesky. 2003. Modeling of lithium
electrochemical sendor. Internat. Agricl. Eng. J.
interference in cadmium biosorption. Environ.
24(3):127–134.
Sci. and Tech. 37(16):3601–3608.
Xue, Z.C., H.Y. Gao, and L.T. Zhang. 2013. Effects
Zhao, Y., X. Fang, Y. Mu, Y.Cheng, Q. Ma, H. Nian,
of cadmium on growth, photosynthetic rate and
and C. Yang. 2014. Metal pollution (Cd, Pb, Zn,
chlorophyll content in leaves of soybean seedlings.
and As) in agricultural soils and soybean, gly-
Biologia Plantarum 57(3):587–590.
cine max, in Southern China. Bull. of Environ.
Contamination and Toxicology 92(4):427–432.

91