Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Otomikosis atau yang dikenal juga dengan fungal otitis eksterna


merupakan infeksi jamur yang sering terjadi pada telinga luar terutama pinna
(aurikula) dan kanalis akustikus eksterna. Otomikosis sering terjadi di negara
tropis dan subtropics, dan pada kebanyakan kasus, jamur penyebab tersering
infeksi ini merupakan isolate dari Aspergillus (niger, fumingatus, flavescens,
albus) atau Candida sp.1,2
Kasus otomikosis tersebar di seluruh belahan dunia. Sekitar 9-50% dari
total kasus otitis eksterna merupakan kasus otomikosis. Frekuensi terjadinya
infeksi ini bervariasi berdasarkan perbedaan area geografis yang dihubungkan
dengan lingkungan (temperature, kelembaban relatif) dan dihubungkan juga
dengan musim. Di Inggris, diagnosis otitis eksterna yang disebabkan oleh jamur
ini sering ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas.3,4
Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling
sering terjadi adalah pruritus. Namun dapat pula terjadi gejala lain seperti telinga
terasa penuh, otalgia, atorrhea, kehilangan pendengaran, dan tinnitus. Faktor
predisposisi terjadinya otomiksois meliputi hilangnya lapisan serumen,
kelembaban yang tinggi, peningkatan temperature, dan trauma lokal, yang
biasanya sering disebabkan oleh kebiasaan membersihkan telinga secara rutin
menggunakan cotton buds dan penggunaan alat bantu dengar.1,3
Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga yakni dengan
melakukan spulling. Lalu medikamentosa yang dapat diberikan salep anti-jamur
yang diberikan secara topikal serta pengobatan yang bersifat simptomatis 2
Walaupun sangat jarang mengancam jiwa, proses penyakit ini sering
menyebabkan keputus-asaan baik pada pasien maupun dokter THT karena
lamanya waktu yang diperlukan dalam pengobatan dan tindak lanjutnya, begitu
juga dengan angka rekurensinya yang begitu tinggi. Karena hal tersebut, maka
akan dibahas lebih lanjut terkait mengenai otomikosis yakni etiologi, faktor
predisposisi, diagnosis, tatalaksana serta prognosisnya.4

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar


Secara anatomi, organ pendengaran dibagi menjadi telinga luar, telinga
tengah dan telinga dalam. Daun telinga berada di samping kepala hanya sebagian
sebagian dari organ pendengaran sebenarnya dan merupakan lipatan kulit yang
terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian tuar.
Hanya cuping telinga atau lobules yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi
terdiri dari jaringan lemak dan jaringan fibrosa. Bagian luar dari organ
pendengaran merupakan bagian yang penting, tidak terlihat dan berada di os
temporal.5,6
Telinga luar terdiri dari auricular dan meatus acusticus externus. Auricular
atau pinna merupakan bagian telinga luar yang terlihat di kedua sisi kepala dan
mengelilingi lubang meatus acusticus externus. Auricular atau pinna berfungsi
mengumpulkan gelombang suara dan mengantarkan gelombang suara tersebut ke
meatus acusticus. Meatus acusticus externus adalah struktur yang berkelok dan
berbentuk ‘S’ dengan panjang lebih kurang 2,5 cm yang menghubungkan
auricular dengan membran timpani. Tabung ini berfungsi menghantarkan
gelombang suara dari auricular ke membran timpani.5
Meatus acuticus externus dilapisi oleh kulit dan sepertiga bagian luarnya
mempunyai rambut, kelenjar sebassea dan glandula seruminosa. Glandula ini
adalah modifikasi kelenjar keringat yang menghasilkan secret lilin berwarna
coklat kekuningan yang disebut serumen. Serumen memiliki sifat sebagai
antimikotik, bacteriostatic dan sebagai penolak serangga. Komponennya terdiri
dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, dan ion mineral, juga
mengandung lisozim, immunoglobulin dan asam amino polisaturasi. Asam lemak
rantai panjang terdapat dalam kulit intak yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri. Karena komposisinya yang hidropobik, serumen dapat mencegah
masuknya air, membuat permukaan kanal menjadi tidak mudah ditembus
(impermeable) dan mencegah maserasi dan kerusakan endotel. Folikel rambut
banyak terdapat pada 1/3 bagian luar liang telinga. Kelenjar sebasea banyak

2
terdapat pada liang telinga luar bagian tulang rawan, dimana kelenjar ini
berhubungan dengan rambut dan terletak secara berkelompok pada bagian
superficial kulit. Batas akhir untuk bagian telinga luar adalah membran
timpani.5,6,7

2.2 Definisi

Otomikosis (dikenal juga dengan Singapore Ear), adalah infeksi telinga


yang disebabkan oleh infeksi jamur pada telinga luar yakni kanalis auditorius
eksternus atau pada auricular.1,2
Otomikosis ini sering dijumpai pada daerah yang tropis. Infeksi ini dapat
bersifat akut dan subakut, dan khas dengan adanya inflammasi, rasa gatal, dan
ketidaknyamanan. Mikosis ini menyebabkan adanya pembengkakan,
pengelupasan epitel superfisial, adanya penumpukan debris yang berbentuk hifa,
disertai supurasi, dan nyeri.2,3

2.3 Epidemiologi

Angka insidensi otomikosis tidak diketahui dengan pasti, tetapi sering


terjadi pada daerah dengan cuaca yang panas, juga pada orang-orang yang senang
dengan olahraga air. Satu dari 8 kasus infeksi telinga luar disebabkan oleh jamur.
Sekitar 90 % infeksi jamur ini disebabkan oleh Aspergillus spp, dan selebihnya
adalah Candida spp. Angka prevalensi otomikosis ini bervariasi yakni 9-50% dari
seluruh pasien yang mengalami gejala dan tanda otitis eksterna. Insiden
otomikosis berkaitan dengan faktor lingkungan (suhu dan kelembapan udara)
dimana otomikosis lebih sering dijumpai pada daerah dengan cuaca panas, dan
banyak literatur menyebutkan otomikosis berasal dari negara tropis dan subtropis.
Lingkungan yang panas dan berminyak merupakan tempat yang baik untuk
proliferasi jamur dan insidennya meningkat oleh karena peningkatan produksi
keringat dan kelembapan lingkungan mengubah permukaan epitel pada kanal
auditori ekternal.
Di United Kingdom (UK), diagnosis otitis eksterna yang disebabkan oleh
jamur ini sering ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas. 8 Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Ali Zarei tahun 2006, Otomikosis dijumpai lebih

3
banyak pada wanita (terutama ibu rumah tangga) daripada pria. Otomikosis
biasanya terjadi pada dewasa, dan jarang pada anak-anak.

2.4 Etiologi

Infeksi ini disebabkan oleh beberapa spesies dari jamur yang bersifat
saprofit, terutama Aspergillus niger. Agen penyebab lainnya meliputi A. flavus, A.
fumigatus, Allescheria boydii, Scopulariopsis, Penicillium, Rhizopus, Absidia, dan
Candida Spp. Sebagai tambahan, otomikosis dapat merupakan infeksi sekunder
dari predisposisi tertentu misalnya otitis eksterna yang disebabkan bakteri yang
diterapi dengan kortikosteroid dan berenang.3,4
Aspergillus niger dilaporkan sebagai penyebab paling terbanyak dari
otomikosis ini. Pada dua penelitian di Babol dan barat laut Iran, A.niger
dilaporkan sebagai penyebab utama. Ozcan dkk, dan Hurst melaporkan A.niger,
juga sebagai penyebab terbanyak otomikosis di Turki dan Australia. Tetapi, Kaur,
dkk, menemukan bahwa A.fumigatus sebagai penyebab terbanyak diikuti dengan
A.niger. Spesies Aspergillus lainnya yang dihubungkan dengan otomikosis adalah
A.flavus. Penicillum juga dilaporkan oleh Pavalenko. Jamur lainnya yang
berhubungan dengan terjadinya otomikosis adalah C.albicans dan C. parapsilosis.
Pada penelitian yang dilakukan Ali Zarei di Pakistan Tahun 2006, dijumpai
A.niger sebagai penyebab utama diikuti dengan A.flavus.8 Aspergillus niger, juga
telah dilaporkan sebagai penyebab otomikosis pada pasien immunokompromis,
yang tidak berespon terhadap berbagai regimen terapi yang telah diberikan.4

2.5 Patogenesis dan Faktor Predisposisi

Otomikosis berhubungan dengan histologi dan fisiologi dari kanalis


akustikus eksterna (KAE). KAE memiliki panjang sekitar 2,5 cm dan lebar 7-9
mm yang dilapisi dengan stratified keratinized squamous epithelium yang
berlanjut ssepanjang sisi eksternal membran timpani. Pada timpani interior,
medial terhadap isthmus terjadi akumulasi keratin dan serumen dan merupakan
area yang sulit untuk dibersihkan.4,9
Mikroorganisme normal yang ditemukan dalam KAE seperti
Staphylococcus epidermidis, Corrynebacterium sp, Bacillus sp, Gram-positive

4
cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, non-pathogenic micrococci),
Gram-negative bacilli (Pseudomonas aeruginosa, Escherichi coli, Haemophilus
influenza, Moraxella catharalis) dan mycelia fungi dari genus Apergillus dan
Candida sp. Mikroorganisme tersebut tidak bersifat pathogen selama dalam
keadaan seimbang.4,9
Berikut ini adalah faktor predisposisi terjadinya otomikosis atau faktor-
faktor yang mempengaruhi perubahan jamur saprofit menjadi patogenik yakni:9
 Faktor lingkungan (panas dan lembab), pasien sering mengalami
otomikosis pada musim panas dan musim gugur (autumn)
 Perubahan dalam epitel yang disebabkan oleh karena penyakit kulit
(dermatologikal), trauma lokal pada telinga yang biasanya sering
disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds).
 Peningkatan level pH dalam KAE. Serumen sendiri memiliki pH yang
berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan
jamur.
 Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan
dengan keadaan ini oleh karena paparan ulang dengan air yang
menyebabkan keluarnya serumen, dan keringnya kanalis auditorius
eksternus.
 Perubahan kualitas dan kuantitas serumen. Hal ini juga dihubungkan oleh
karena seringnya telinga terpapar dengan air misalnya olah raga air.
 Faktor sistemik (seperti gangguan imunitas tubuh, kortikosteroid,
antibiotik, sitostatik, neoplasia )
 Riwayat otomikosis sebelumnya, Otitis media sekretorik kronik, post
mastoidektomi. Kontaminasi bakteri pada kulit KAE awalnya terjadi oleh
karena otitis media supuratif atau otitis eksterna akut. Rusaknya
permukaan epitel merupakan media yang bagus utuk pertumbuhan
mikroorganisme. Kerusakan epitel juga dapat menyebabkan penurunan
ekskresi dari apokrin dan kelenjar serumen yang akan merubah lingkungan
KAE menjadi lebih mudah untuk pertumbuhan mikroorganisme.

2.6 Pendekatan Diagnosis

5
1. Anamnesis

Otomikosis dapat terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala otitis eksterna
bakteri dan otomikosis sering tidak bisa dibedakan. Namun rasa gatal atau pruritus
adalah karakteristik hampir paling sering untuk infeksi mikotik, selanjutnya
berupa gejala-gejala lain seperti rasa ketidaknyamanan, gangguan pendengaran,
tinnitus, kepenuhan pada telinga, otalgia dan keluar cairan (discharge).10-13
Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga.9,13
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada tahap awal dan
sering mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada telinga dapat bervariasi
mulai dari hanya berupa perasaan tidak enak pada telinga, perasaan penuh dalam
telinga, perasaan seperti terbakar hingga berdenyut diikuti nyeri yang hebat. 14,15
Keluhan rasa sakit yang dikeluhkan sering menjadi gejala yang mengelirukan,
walaupun rasa sakit tersebut merupakan gejala yang dominan. Derajat rasa sakit
belum bisa menggambarkan derajat peradangan yang terjadi. 16,17 Hal ini
menjelaskan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan
periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan serabut saraf
yang mengakibatkan rasa nyeri.9
Selain itu, kulit dan tulang rawan pada sepertiga luar liang telinga
bersambungan dengan kulit dan tulang rawan daun telinga, sehingga gerakan dari
daun telinga akan mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada kulit dan tulang
rawan di liang telinga luar.9,13 Kurangnya pendengaran mungkin dapat terjadi
akibat edema kulit liang telinga, sekret yang purulen, atau penebalan kulit yang
progresif yang bisa menutup lumen dan mengakibatkan gangguan konduksi
hantaran suara.14 Faktor risiko yang penting untuk digali adalah kecenderungan
beraktifitas yang berhubungan dengan air, misalnya berenang, menyelam, dan
sebagainya selain kondisi penurunan daya tahan tubuh penderita.9

2. Pemeriksaan Fisik

Pada otoskopi sering ditemukan miselia dimana temuan ini menegakkan


diagnosis. Kanalis akustikus eksternus (KAE) didapatkan eritematosa dan fungal
debris tampak putih, abu-abu, atau hitam (Gambar 1). 13 Pasien biasanya telah
mencoba mengobati dengan agen antibakteri topikal namun tidak menunjukkan

6
respon yang signifikan. Klinis yang khas, terasa gatal atau sakit di liang telinga
dan daun telinga menjadi merah, skuamous dan dapat meluas ke dalam liang
telinga sampai 2/3 bagian luar. Bila meluas sampai kedalam, sampai ke membran
timpani, maka akan dapat mengeluarkan cairan serosanguinos. Didapati adanya
akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana
putih dan panjang dari permukaan kulit, hilangnya pembengkakan signifikan pada
dinding kanalis, dan area melingkar dari jaringan granulasi diantara
kanalis eksterna atau pada membran timpani serta cairan yang encer. Apabila
infeksi berlanjut, eksema dan likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini
dapat meluas ke telinga bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga
juga dapat terserang.9,13 Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan mengidentifikasi
elemen jamur pada preparat KOH atau dengan hasil kultur jamur yang positif.
Namun diagnosis otomikosis berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium
menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna diantara kedua jenis
pemeriksaan, sehingga diagnosis otomikosis dapat ditegakkan hanya melalui
pemeriksaan fisik.9-11

Gambar 1. Otomikosis pada Liang Telinga

Karakteristik pemeriksaan fisik infeksi jamur menyerupai infeksi jamur


umum, dimana ditemukan hifa halus dan spora (konidiofor) yang terlihat pada
kelompok Aspergillus. Candida (jenis jamur ragi) sering membentuk anyaman
miselia kusut (mycelia mats) dengan karakteristik putih, sedangkan ketika
komponen bercampur dengan serumen menghasilkan warna kekuningan.14 Infeksi
Candida lebih sulit untuk dideteksi secara klinis karena kurangnya karakteristik
tampilan seperti yang ditemukan pada Aspergillus, yaitu otorrhea yang tidak
menunjukkan respon pada obat antimikroba. Otomikosis yang diakibatkan oleh

7
Candida umumnya diidentifikasi melalui hasil kultur.13 Ditinjau dari presentasi
kasusnya, tidak terdapat perbedaan yang dilaporkan dalam manifestasi klinis
berdasarkan organisme paling umum.14

3. Pemeriksaan Penunjang

Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:


a. Preparat langsung
Skuama dari kerokan kulit liang telinga diperiksa dengan KOH 10 % akan
tampak hifa-hifa lebar, berseptum, dan kadang-kadang dapat ditemukan
spora-spora kecil dengan diameter 2-3 μ.3,9,12 Gambar 2 menunjukkan
gambaran mikroskopis Aspergillus sp.

Gambar 2. Mikrosikopis Aspergillus sp.

b. Pembiakan
Skuama dibiakkan pada media Agar Saboraud, dan dieramkan pada suhu
kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu minggu berupa koloni filament
berwarna putih. Dengan mikroskop tampak hifa-hifa lebar dan pada ujung-
ujung hifa dapat ditemukan sterigma dan spora berjejer melekat pada
permukaannya.3,9,12
c. Pemeriksaan Kultur
Kultur jarang diperlukan dan tidak memengaruhi penatalaksanaan. 14 Jamur
yang menimbulkan otomikosis umumnya spesies jamur saprofit yang
berlimpah di alam dan membentuk bagian dari flora komensal dalam
kanalis akustikus eksternus. Jamur ini umumnya merupakan Aspergillus

8
dan Candida. Aspergillus niger umumnya merupakan agen dominan
meskipun A. flavus, A. fumigatus, A. terreus (jamur berfilamen), Candida
albicans dan C. parapsilosis (jamur menyerupai ragi) juga umum
ditemukan sebagai penyebab.11 Morfologi koloni jamur memungkinkan
untuk membedakan antara jamur berfilamen dengan jamur yang
menyerupai ragi. Mayoritas koloni jamur berwarna putih krem (white
creamy), morfologi halus atau kasar adalah kelompok ragi atau sangat
jarang merupakan fase menyerupai ragi (yeast-like phase) pada jamur
dimorfik. Jamur berfilamen cenderung tumbuh membentuk koloni berdebu
(dusty), berambut (hairy), seperti wol (woolly), halus (velvety) atau
berlipat (folded) yang menunjukkan berbagai warna seperti putih, kuning,
hijau, biru kehijauan, dari hitam, dan lain sebagainya.11

2.7 Diagnosis Banding

Otomikosis kadang-kadang sulit dibedakan dari bentuk lain otitis eksterna


terutama otitis eksterna difus. Infeksi campuran kadang-kadang terjadi. 3, 12 Kumar
(2005) menemukan bahwa terjadi ko-infeksi bakteri di antara 44 kasus dari total
82 kasus.2 Umumnya bakteri yang terisolasi kelompok koagulase negatif
Staphylococcus, Pseudomonas sp. Staphylococcus aureus, E.coli dan Klebsiella
sp.17 Infeksi jamur juga dapat berkembang pada otitis media supuratif kronik.9

2.8 Penatalaksanaan

Meskipun beberapa studi in vitro telah meneliti khasiat dari berbagai agen
anti jamur, tidak ada agen yang paling efektif. Berbagai agen telah digunakan di
klinik dengan keberhasilan yang bervariasi.15-19 Namun demikian, penerapan agen
anti jamur topikal yang tepat ditambah dengan debridement umumnya
menghasilkan resolusi yang cepat dari gejala, meskipun kekambuhan atau gejala
sisa penyakit kadang ditemukan.13
Banyak penulis percaya bahwa penting untuk mengidentifikasi agen
penyebab dalam kasus otomikosis untuk menggunakan pengobatan yang tepat. Ini
juga dianjurkan dalam antimikotik yang dipilih harus didasarkan pada
kerentanan spesies yang diidentifikasi. Namun, referensi lain percaya bahwa

9
strategi terapi yang paling penting adalah ketika kita memilih pengobatan khusus
untuk otomikosis berdasarkan efikasi dan karakteristik obat dan terlepas dari agen
penyebabnya. Sampai saat ini tidak ada agen yang disetujui oleh Food and Drug
Administration (FDA) untuk pengobatan otomikosis. Banyak agen dengan
berbagai sifat antimikotik telah digunakan oleh berbagai dokter untuk
mengidentifikasi agen yang paling efektif untuk mengobati kondisi ini.20
Anti jamur dapat dibagi ke dalam jenis non spesifik dan spesifik. Anti
jamur non spesifik termasuk larutan asam dan dehidrasi seperti: 14,20
d. Asam borat merupakan asam menengah dan sering digunakan sebagai
antiseptik dan insektisida. Asam borat dapat digunakan untuk mengobati
infeksi ragi dan jamur yang disebabkan Candida albicans. 14,20
e. Gentian Violet solusio konsentrat rendah (misalnya 1%) dalam air telah
digunakan untuk mengobati otomikosis karena merupakan pewarna anilin
dengan mekanisme anti septik, anti inflamasi, anti bakteri dan anti jamur.
Hal ini masih digunakan di beberapa negara dan disetujui FDA. Studi
melaporkan hingga 80% efisiensi. 14,20
f. Cat Castellani (Aseton, Alkohol, Fenol, Fuchsin, Resocinol) 14,20
g. Merchuro chrome, sebuah antiseptik topikal terkenal, antijamur. Dengan
merthiolate (thimerosal), merchuro chrome tidak lagi disetujui oleh FDA
karena mereka mengandung merkuri. Merchuro chrome telah digunakan
secara khusus untuk kasus- kasus di lingkungan yang lembab dengan
keberhasilan antara 95,8% dan 100%.14,20
Terapi anti jamur spesifik terdiri atas: 14,20
a. Nistatin adalah poliena macrolide, antibiotik yang menghambat sintesis
sterol dalam membran sitoplasma. Banyak jamur dan ragi yang sensitif
terhadap nistatin termasuk spesies Candida. Sebuah keuntungan besar dari
nistatin adalah mereka tidak terserap dalam kulit utuh. Nistatin tidak
tersedia sebagai tetes telinga untuk pemberian pada otomikosis. Nistatin
dapat diresepkan sebagai krim, salep atau bubuk, dengan tingkat
keberhasilan hingga 50-80%.14,20
b. Azol adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol
merupakan sterol penting dalam membran sitoplasma normal. 14,20

10
c. Klotrimazol yang paling banyak digunakan sebagai azol topikal
dan menjadi salah satu agen yang paling efektif dalam pengobatan
otomikosis dengan tingkat efektif 95-100%. Klotrimazol memiliki efek
bakteri dan merupakan keuntungan ketika dokter mengobati infeksi
bakteri-jamur campuran. Klotrimazol memiliki efek ototoksik dan tersedia
sebagai bubuk, lotion dan solusio.9,13
d. Ketokonazol dan flukonazol memiliki aktivitas spektrum yang
luas. Efektivitas ketokonazol dilaporkan 95-100% terhadap spesies
Aspergillus dan Candida albicans. Sediaan dari obat ini adalah krim 2%.
Flukonazol topikal telah dilaporkan efektif pada 90% kasus. 14,20
e. Krim mikonazol 2% juga telah menunjukkan pada tingkat keberhasilan
hingga 90%.14,20
f. Bifonazol adalah agen anti jamur dan umum digunakan dalam era 80-an.
Potensi 1% solusio mirip dengan klotrimazol dan mikonazol. Bifonazol
dan turunannya menghambat pertumbuhan jamur hingga 100%.14,20
g. Itrakonazol juga memiliki efek in vitro dan efek in vivo terhadap spesies
Aspergillus.22
Bentuk salep memiliki beberapa keunggulan dibandingkan tetes telinga
karena yang tersisa di atas kulit saluran telinga lebih lama. Bentuk salep mungkin
lebih aman dalam kasus membran timpani (MT) yang berlubang karena akses ke
telinga tengah mungkin kurang karena tingkat kekentalannya yang tinggi.14,20
Munguia dan Daniel pada tahun 2008 tidak menemukan adanya laporan
kasus antijamur obat topikal salep yang menyebabkan ototoksisitas bila digunakan
untuk mengobati otomikosis dengan membran timpani utuh.19
Cresylate dan gentian violet yang diketahui menyebabkan iritasi pada
mukosa telinga tengah. Penggunaan cresylate tetes harus dihindari pada pasien
dengan MT perforasi karena potensi terjadinya komplikasi. 14 Ho et al pada tahun
2006 telah mengamati adanya gangguan pendengaran sensorineural terkait dengan
penggunaannya.13 Selain itu, gentian violet adalah vestibulotoxic dan dapat
mencetuskan peradangan telinga tengah pada hewan, oleh karena itu harus
digunakan dengan hati-hati pada telinga tengah yang terbuka seperti ear cleft.14
Preparat non-spesifik seperti asam laktat dan propilen glikol telah

11
menunjukkan dapat meningkatkan respon ambang batang otak pada model hewan
dan bisa menyakitkan pada pemberiannya. Sebuah studi hewan terbaru
menunjukkan hilangnya sel rambut pada pemberian clotrimazole, miconazole,
nistatin dan tolnaftate. Sebuah pilihan yang konservatif untuk terapi dengan MT
yang terbuka dibenarkan, misalnya membersihkan hati-hati dan obat anti jamur
tertentu dengan adiktif yang minimal.14
Penambahan anti jamur oral dapat digunakan pada kasus-kasus dengan
otomikosis yang parah dan respon yang buruk terhadap terapi, meskipun jarang
diperlukan.3,12 Ho et al (2006) menyatakan anti jamur oral cenderung tidak dapat
berhasil tanpa perawatan lokal yang memadai.13 Merupakan suatu hal penting
bahwa pengobatan selain yang berbasis pada aspek penyembuhan (cure) dan
penggunaan obat antimikotik topikal, difokuskan pada pemulihan fisiologis kanal,
seperti menghindari manuver secara tiba-tiba pada kanalis akustikus eksternus,
menjaga agar menghindari pengobatan medis atau bedah yang berlebihan untuk
otitis media, menghindari situasi yang mengubah homeostasis lokal, yang mana
semua proses ini merupakan hal esensial dalam mewujudkan resolusi definitif
terhadap penyakit.3,12

2.9 Komplikasi

Komplikasi dari otomikosis yang pernah dilaporkan adalah perforasi dari


membran timpani dan otitis media serosa, tetapi hal tersebut sangat jarang terjadi,
dan cenderung sembuh dengan pengobatan. Patofisiologi dari perforasi membran
timpani mungkin berhubungan dengan nekrosis avaskular dari membran
timpani sebagai akibat dari trombosis pada pembuluh darah. Angka insiden
terjadinya perforasi membran yang dilaporkan dari berbagai penelitian berkisar
antara 12-16 % dari seluruh kasus otomikosis. Tidak terdapat gejala dini untuk
memprediksi terjadinya perforasi tersebut, keterlibatan membran timpani
sepertinya merupakan konsekuensi inokulasi jamur pada aspek medial dari telinga
luar ataupun merupakan ekstensi langsung infeksitersebut dari kulit sekitarnya.14

2.10 Prognosis

12
Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat. Pada saat
terapi dengan anti jamur dimulai, maka akan dimulai suatu proses resolusi
(penyembuhan) yang baik secara imunologi. Bagaimanapun juga, risiko
kekambuhan sangat tinggi, jika faktor yang menyebabkan infeksi sebenarnya
tidak dikoreksi dan fisiologi lingkungan normal dari kanalis auditorius
eksternus masih terganggu.14

13
BAB III
LAPORAN KASUS

I. Identitas Penderita
Nama : IGMS
Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : D3
Pekerjaan : Pegawai swasta
Suku Bangsa : Bali
Agama : Hindu
Alamat : Jalan Buluh Indah V/19 Denpasar
Tgl Pemeriksaan : 23 Februari 2016

II. Anamnesis
Keluhan Utama : Rasa penuh di liang telinga kanan sejak 6 hari SMRS
Perjalanan Penyakit :
Pasien datang ke poliklinik THT-KL RSUD Wangaya dengan keluhan rasa penuh
di telinga kanan sejak 6 hari SMRS. Keluhan ini muncul tiba-tiba, awalnya rasa
penuh ditelinga masih dapat diatasi, namun semakin hari keluhan semakin
memberat dan membuat rasa tidak nyaman. Rasa penuh di telinga dirasakan
seperti ada air di dalam telinga. Keluhan ini dirasakan terus-menerus sepanjang
hari. Tidak ada hal yang dapat memperingan keluhan pasien. Selain itu, pasien
juga mengeluh gatal pada telinga kanan sejak 7 hari yang lalu. Rasa gatal muncul
mendahului rasa penuh di telinga. Pasien juga mengeluh nyeri pada telinga kanan.
Demam, batuk dan pilek disangkal pasien.

Riwayat Penyakit Terdahulu :


Pasien mengatakan bahwa dia pernah merasakan keluhan ini sebelumnya yakni
sekitar 2 bulan yang lalu dan dapat membaik dengan pengobatan dari dokter THT.
Riwayat keluar cairan dan trauma pada telinga disangkal oleh pasien. Pasien
memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus sejak 5 tahun yang lalu dan

14
sudah menjalani pengobatan. Riwayat penyakit sistemik lainnya seperti penyakit
jantung, stroke, asma disangkal pasien.

Riwayat Pengobatan :
Pasien sempat mengobati telinganya dengan salep telinga yang dibelinya di
apotek namun tidak rutin digunakan dan keluhannya pun tidak berkurang. Saat ini
pasien mengkonsumsi obat-obatan untuk DM dan hipertensinya yakni Metformin
2 x 500 mg, Glibenclamid 5U-0-0, Lantus 0-0-20U, Captopril 2 x 25 mg,
Amlodipin 1 x 5 mg.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.

Riwayat Sosial :
Pasien adalah seorang pegawai swasta yang lebih banyak menghabiskan waktu di
tempat ber-AC. Pasien memiliki kebiasaan memasukkan cotton buds ke dalam
telinganya untuk menghilangkan rasa gatal pada telinganya. Pasien memiliki
riwayat merokok sejak remaja ½ bungkus perhari, namun 10 tahun terakhir sudah
berhenti merokok. Riwayat konsumsi alkohol disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik


Tanda-tanda Vital
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Temperatur : 36,4 °C
Tinggi Badan : 170
Berat badan : 75 kg
Status Gizi : Overweight

Status General :

15
Kepala : Normocephali
Muka : Simetris, parese nervus fasialis (-/)
Mata : Anemis (-/-), ikterus (-/-), reflek pupil (+/+) isokor
THT : Sesuai status lokalis
Leher : Kaku kuduk (-)
Pembesaran kelenjar limfe (-/-)
Pembesaran kelenjar parotis (-/-)
Kelenjar tiroid (-)
Thorak : Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur (–)
Pulmo : Ves (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Distensi (-), BU (+) N, hepar/lien tidak teraba
Ekstremitas : dalam batas normal

Status lokalis THT :


1. Telinga
Telinga Kanan Kiri
Daun telinga N N
Nyeri Tekan Tragus Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tarik Aurikuler Tidak ada Tidak ada
Liang telinga Micotik plug Lapang
Sekret - -
Membran timpani Sulit dievaluasi Intak
Tumor - -
Mastoid N N

Tes Pendengaran
Kanan Kiri
Weber Tidak ada lateralisasi Tidak ada Lateralisasi
Rinne Positif Positif
Schwabach Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

16
2. Hidung

Hidung Kanan Kiri


Hidung luar N N
Cavum nasi lapang lapang
Septum Tidak ada deviasi Tidak ada deviasi
Discharge - -
Mukosa tenang tenang
Tumor - -
Konka dekongesti dekongesti

3. Tenggorokan :

Dispneu :-
Sianosis :-
Mukosa : hiperemi (-)
Dinding belakang faring : normal
Suara : normal

Tonsil : Kanan Kiri


Pembesaran T1 T1
Hiperemis - -
Permukaan mukosa rata rata

IV. Resume
Dari anamnesis pasien mengeluh rasa penuh di telinga kanan sejak 6 hari
SMRS. Keluhan ini muncul tiba-tiba, awalnya rasa penuh ditelinga masih dapat
diatasi, namun semakin hari keluhan semakin memberat dan membuat rasa tidak
nyaman. Rasa penuh di telinga dirasakan seperti ada air di dalam telinga. Keluhan
ini dirasakan terus-menerus sepanjang hari. Tidak ada hal yang dapat

17
memperingan keluhan pasien. Selain itu, pasien juga mengeluh gatal pada telinga
kanan sejak 7 hari yang lalu. Rasa gatal hampir muncul bersamaan rasa penuh di
telinga. Pasien juga mengeluh telinga kanan sakit. Demam, batuk dan pilek
disangkal pasien. Pasien sebelumnya juga pernah mengeluhkan hal seperti ini dan
dapat membaik dengan pengobatan dari dokter. Riwayat telinga keluar cairan,
berdarah, trauma pada telinga disangkal. Pasien memiliki riwayat DM dan
hipertensi sejak 5 tahun yang lalu dan sedang menjalani pengobatan.
Dari hasil pemeriksaan keadaan umum pasien nampak baik dan pada pasien
tidak ditemukan adanya demam. Hasil pemeriksaan fisik telinga ditemukan
adanya mikotik plug pada liang telinga, sedangkan pada telinga kiri dalam batas
normal. Pada pemeriksaan hidung juga tidak didapatkan adanya kelainan. Pada
pemeriksaan tenggorok dalam batas normal.

V. Diagnosis Kerja
Otomikosis Dextra

VI. Penatalaksanaan
Membersihkan liang telinga (spulling)
Medikamentosa:
- Cetirizine 1 x 10 mg
- Asam mefenamat 3 x 500 mg
- Miconazole salep
KIE:
- Keringkan telinga tiap kali selesai mandi atau keramas, usahakan
metutupkan telinga dengan kapas waktu mandi untuk mencegah masuknya
air ke dalam telinga. Pastikan telinga selalu dalam kondisi yang kering.
- Hindari berenang selama pengobatan berlangsung.
- Jangan menggunakan cotton bud atau bulu ayam untuk membersihkan
telinga bagian dalam. Gunakan cotton bud hanya untuk membersihkan
telinga bagian luar saja.
- Konsumsi obat DM dan HT dengan teratur agar gula darah dan tekanan
darah terkontrol dengan baik
- Kontrol secara rutin ke poliklinik THT.

18
- Menjaga kebersihan lingkungan sekitar termasuk lingkungan rumah dan
tempat kerja.

VII. Prognosis
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Bonam

19
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis, diketahui pasien dengan keluhan rasa penuh di


telinga kanan sejak 6 hari SMRS. Keluhannya muncul tiba-tiba, semakin hari
keluhan semakin memberat dan membuat rasa tidak nyaman. Rasa penuh di
telinga dirasakan seperti ada air di dalam telinga. Keluhan ini dirasakan terus-
menerus sepanjang hari. Tidak ada hal yang dapat memperingan keluhan pasien.
Selain itu, pasien juga mengeluh gatal pada telinga kanan sejak 7 hari yang lalu.
Pasien juga mengeluh telinga kanan sakit. Keluhan demam, batuk dan pilek
disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit seperti ini sudah pernah dikeluhkan oleh
pasien sebelumnya. Pasien memiliki riwayat DM dan hipertensi. Saat ini pasien
rutin mengkonsumsi obat-obat antihipertensi dan obat hiperglikemi oral serta
insulin.
Berdasarkan anamnesis, keluhan yang dialami oleh pasien sesuai dengan
manifestasi klinis pada pasien dengan otomikosis. Pasien umumnya datang ke
pelayanan kesehatan dengan mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam
telinga. Pada pasien otomikosis adanya keluhan rasa gatal atau pruritus adalah
karakteristik hampir paling sering untuk infeksi mikotik, sedangkan gejala-gejala
lain seperti rasa ketidaknyamanan, gangguan pendengaran, tinnitus, otalgia dan
keluar cairan (discharge) adalah kelompok gejala tidak dominan yang dijumpai
pada kasus otomikosis dan bersifat menyerupai kondisi otitis eksterna. Rasa
penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada tahap awal dan sering
mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada telinga dapat bervariasi mulai
dari hanya berupa perasaan tidak enak pada telinga, perasaan penuh dalam telinga,
perasaan seperti terbakar hingga berdenyut diikuti nyeri yang hebat.14,15 Hal ini
menjelaskan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan
periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan serabut saraf
yang mengakibatkan rasa nyeri.9
Terjadinya otomikosis didukung oleh faktor-faktor predisposisi seperti
keadaan lembab pada telinga, sering membersihkan telinga, kondisi penyakit
penyerta, dan keadaan immunocompromised. Pasien memiliki kebiasaan
memasukkan cotton buds ke dalam telinganya untuk menghilangkan rasa gatal

20
pada telinganya sehingga faktor ini dinilai merupakan faktor yang berkontribusi
pada timbulnya otomikosis. Cederanya kulit telinga pasca trauma memungkinkan
invasi organisme eksogen akibat berkurangnya lapiran protektif pada liang
telinga. Data riwayat penyakit terdahulu menunjukkan bahwa pasien sebelumnya
pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya, dimana otomikosis
merupakan penyakit yang cenderung mudah mengalami rekurensi sehingga peran
kondisi sebelumnya belum dapat disingkirkan karena pasien mengaku pada
keluhan sebelumnya keluhan nya membaik namun tidak dilanjutkan kontrol di
dokter THT kembali. Disamping kondisi-kondisi tersebut, adanya riwayat DM
pada pasien juga mempermudah timbulnya otomikosis. Pada pasien dengan DM
atau kondisi immunocompromised sering dikaitkan dengan semakin mudahnya
seseorang mengalami otomikosis. Namun sampai saat ini patofisiologi pasti
tentang kejadian otomikosis pada pasien DM masih belum diketahui.16
Pada pemeriksaan fisik otomikosis, klinis yang khas adalah terasa gatal
atau sakit di liang telinga dan daun telinga menjadi merah, skuamous dan dapat
meluas ke dalam liang telinga sampai 2/3 bagian luar. Bila meluas sampai
kedalam, sampai ke membran timpani, maka akan dapat mengeluarkan cairan
serosanguinos.9,13 Didapati adanya akumulasi debris fibrin yang tebal,
pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana putih dan panjang dari permukaan
kulit, hilangnya pembengkakan signifikan pada dinding kanalis, dan area
melingkar dari jaringan granulasi diantara kanalis eksterna atau pada membran
timpani serta cairan yang encer.2-4 Pada pemeriksaan fisik, tekanan darah pasien
tinggi (140/90 mmHg), sedangkan tanda vital lainnya dalam batas normal. Pada
pemeriksaan fisik THT, hasil pemeriksaan telinga kanan ditemukan adanya
mikotik plug pada liang telinga, sedangkan telinga kiri dalam batas normal.
Pemeriksaan hidung tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan tenggorok
dalam batas normal.
Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan, diagnosis otomikosis
dapat ditegakkan. Diagnosis diarahkan dari gejala klinis adanya keluhan rasa
penuh dan sangat gatal di dalam telinga yang disertai dengan rasa sakit pada
telinga. Dari pemeriksaan fisik status lokalis THT, pada pemeriksaan telinga

21
kanan ditemukan adanya mikotik plug pada liang telinga dimana hal tersebut
merupakan gambaran dari otomikosis.
Pasien dengan gejala otomikosis sangat sulit dibedakan dengan jenis otitis
eksterna lain, untuk itu perlu dibedakan secara bertahap. Dari keluhan pada otitis
eksterna akibat jamur didominasi keluhan rasa penuh pada telinga dan rasa gatal,
sedangkan apabila penyebabnya adalah bakteri maka keluhan yang dirasakan
adalah nyeri sehingga dari anamnesis sudah dapat dibedakan agen penyebabnya.
Pada pemeriksaan fisik dengan agen penyebab bakteri biasanya akan ditemukan
hiperemi liang telinga dimana bermanifestasi menjadi tipe sirkumskripta (bisul
atau furunkel) atau tipe difus (edema yang berbatas tidak jelas dengan sekret
berbau) sehingga hal ini memperkuat eksklusi diagnosis banding dengan agen
penyebab bakteri.
Penatalaksanaan pada kasus otomikosis adalah melakukan ear toilet agar
sumbatan jamur pada telinga dapat dikeluarkan, pemberian obat anti jamur yang
sesuai, dan terapi supportif sesuai gejala yang timbul. 3,4,9,13 Pada pasien dilakukan
pembersihan liang telinga dari jamur dengan cara melakukan spulling sampai
jamur keluar dari liang telinga. Pasien diberikan obat berupa salep anti-jamur
(miconazole) yang dioleskan secara topikal pada liang telinga kanan. Pasien juga
mendapatkan obat antihistamin (golongan cetirizine) untuk mengurangi rasa gatal
pada telinga.
KIE yang diberikan kepada pasien adalah agar meringkan telinga tiap kali
selesai mandi atau keramas, usahakan metutupkan telinga dengan kapas waktu
mandi untuk mencegah masuknya air ke dalam telinga, pastikan telinga selalu
dalam kondisi yang kering, hindari berenang selama pengobatan berlangsung,
jangan menggunakan cotton bud atau bulu ayam untuk membersihkan telinga
bagian dalam (cotton bud hanya untuk membersihkan telinga bagian luar saja),
konsumsi obat DM dan HT dengan teratur agar gula darah dan tekanan darah
terkontrol dengan baik, kontrol secara rutin ke poliklinik THT, dan menjaga
kebersihan lingkungan sekitar termasuk lingkungan rumah dan tempat kerja.
1,4,12,13,14

22
BAB V
RINGKASAN

Telah diuraikan kasus seorang laki-laki, 52 tahun, otomikosis pada telinga


kanan. Penegakan diagnosis otomikosis pada kasus ini didasarkan pada anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Berdasarkan anamnesis, diketahui pasien dengan keluhan
rasa penuh di telinga kanan sejak 6 hari SMRS. Keluhannya muncul tiba-tiba,
semakin hari keluhan semakin memberat dan membuat rasa tidak nyaman. Rasa
penuh di telinga dirasakan seperti ada air di dalam telinga. Keluhan ini dirasakan
terus-menerus sepanjang hari. Tidak ada hal yang dapat memperingan keluhan
pasien. Selain itu, pasien juga mengeluh gatal pada telinga kanan sejak 7 hari yang
lalu. Pasien juga mengeluh telinga kanan sakit. Keluhan demam, batuk dan pilek
disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit seperti ini sudah pernah dikeluhkan oleh
pasien sebelumnya. Pasien memiliki riwayat DM dan hipertensi. Saat ini pasien
rutin mengkonsumsi obat-obat antihipertensi dan obat hiperglikemi oral serta
insulin.
Pada pemeriksaan fisik, tekanan darah pasien tinggi (140/90 mmHg),
sedangkan tanda vital lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik THT,
hasil pemeriksaan telinga kanan ditemukan adanya mikotik plug pada liang
telinga, sedangkan telinga kiri dalam batas normal. Pemeriksaan hidung tidak
ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan tenggorok dalam batas normal.
Pada pasien dilakukan pembersihan liang telinga dari jamur dengan cara
melakukan spulling sampai jamur keluar dari liang telinga. Pasien diberikan obat
berupa salep anti-jamur (miconazole) yang dioleskan secara topikal pada liang
telinga kanan. Pasien juga mendapatkan obat antihistamin (golongan cetirizine)
untuk mengurangi rasa gatal pada telinga. Selain itu, pasien diedukasi agar tetap
menjaga kebersihan telinga, serta melarang berenang selama pengobatan
berlangsung, setiap habis mandi atau keramas agar mengeringkan telinga,
melarang untuk membersihkan telinga bagian dalam dengan cotton bud,
menyarankan pasien untuk rajin mengkonsumsi obat DM dan HT dengan teratur
agar gula darah dan tekanan darah terkontrol dengan baik sserta menyuruh pasien
untuk kontrol secara rutin ke poliklinik THT.

23