Anda di halaman 1dari 22

SISTEM KEUANGAN SYARIAH

KELOMPOK 3

Elinda Sulistiawati 115040031

Inka Widyawati 115040021

Nita Sutiarsih

Rachmat Faturachman 115040253

Akuntansi Syariah

Tagun Akademik 2017/2018

Jl. Pemuda no 32, Cirebon, Jawa Barat, 45132


2
SIstem Keuangan Syariah
KONSEP MEMELIHARA HARTA KEKAYAAN............................................... 1
Anjuran Bekerja atau Berniaga ............................................................................... 1
Konsep Kepemilikan ............................................................................................... 1
Perolehan Harta ....................................................................................................... 2
Penggunaan dan Pendistribusian Harta ................................................................... 2
AKAD/KONTRAK/TRANSAKSI ......................................................................... 3
Jenis Akad ........................................................................................................... 3
Akad Tabarru’ (Gratuitous Contract) .............................................................. 4
Akad Tijarah (Compensational Contract) ....................................................... 5
Rukun dan Syarat Akad ...................................................................................... 5
TRANSAKSI YANG DILARANG ........................................................................ 5
Aktivitas Bisnis Terkait Dengan Barang dan Jasa Yang Diharamkan Allah ...... 6
Riba ..................................................................................................................... 7
Penipuan ............................................................................................................ 11
Perjudian ........................................................................................................... 12
Transaksi yang Mengandung Ketidakpastian/Gharar ....................................... 12
Penimbunan Barang/Ikhtikar ............................................................................ 12
Monopoli ........................................................................................................... 13
Rekayasa Permintaan (Bai’ An Najsy) ............................................................. 13
Suap ................................................................................................................... 13
Penjual Bersyarat/Ta’alluq ................................................................................ 14
Pembelian Kembali Oleh Penjual dari Pihak Pembeli (Bai’ al Inah) ............... 14
Jual Beli dengan cara Tallaq al-Rukban............................................................ 14
PRINSIP SISTEM KEUANGAN SYARIAH ...................................................... 15
INSTRUMEN KEUANGAN SYARIAH ............................................................. 16
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 19

i
KONSEP MEMELIHARA HARTA KEKAYAAN
Memelihara harta kekayaan bertujuan agar harta yang dimiliki oleh
manusia diperoleh dan digunakan sesuai dengan syariah sehingga harta yang
dimiliki halal dan sesuai dengan keinginan pemilik mutlak dari harta kekayaan
tersebut yaitu Allah SWT.

Anjuran Bekerja atau Berniaga


Islam menganjurkan manusia untuk bekerja atau berniaga, dan
menghindari kegiatan meminta-minta dalam mencari harta kekayaan. Manusia
memerlukan harta kekayaan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari termasuk untuk memenuhi sebagian perintah Allah seperti infak, zakat,
pergi haji, perang (Jihad), dan sebagainya.
“...Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi,
dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.” (QS: Al-Jumu’a ayat 10)
Harta yang paling baik, menurut Rasulullah SAW, adalah yang diperoleh
dari hasil kerja atau perniagaan, sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu
hadist berikut ini.
“Harta yang paling baik adalah harta yang diperoleh oleh tangannya
sendiri...” (HR Bazzar At Thabrani)

Konsep Kepemilikan
Harta yang baik harus memenuhi dua kriteria, yaitu diperoleh dengan cara
yang sah dan benar (Legal and Fair), serta dipergunakan dengan dan untuk hal
yang baik-baik dijalan Allah SWT.
Jadi, menurut Islam, kepemilikan harta kekayaan pada manusia terbatas
pada kepemilikan kemanfaatannya selama masih hidup didunia, dan kepemilikan
secara mutlak. Saat dia meninggal, kepemilikan tersebut berakhir dan harus
didistribusikan kepada ahli warisnya, sesuai ketentuan syariah.
Perolehan Harta
Memperoleh harta adalah aktivitas ekonomi yang masuk dalam kategori
ibadah muamalah (Mengatur hubungan manusia dengan manusia). Kaidah fikih
dari muamalah adalah semua halal dan boleh dilakukan kecuali yang
diharamkan/dilarang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Kaidah fikih ini
berlandaskan pada firman Allah SWT dan Hadist berikut ini:
“Dialah (Allah) yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu...” (QS:
Al-Baqara ayat 29)
“Yang halal ialah apa yang dihalalkan Allah didalam kitabNya, dan yang
haram ialah apa yang diharamkan Allah didalam kitabNya; sedang apa yang
didiamkan oleh Nya berarti dimaafkan (diperkenankan) untukmu.” (HR. At-
Tirmidzi & Ibnu Majah)
Perhitungan untung atau rugi harus berorientasi jangka panjang, yaitu
mempertimbangkan perhitungan untuk kepentingan akhirat, karena kehidupan
didunia hanya sementara dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat.
Kita akan diminta pertanggungjawaban atas semua yang kita lakukan pada hari
dimana tidak seorangpun atau apapun juga dapat menolong kita.

Penggunaan dan Pendistribusian Harta


Islam mengatur setiap aspek kehidupan ekonomi penuh dengan pertimbangan
moral. Ketentuan syariah berkaitan dengan penggunaan harta, antara lain:
1. Tidak boros dan tidak kikir
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap
(memasuki) masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sungguh,
Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS: Al-A’raaf ayat 31)
2. Memberi infak dan shadaqah
Allah SWT mendorong manusia agar peduli kepada orang lain yang lebih
membutuhkan sehinggan akan tercipta saling tolong-menolong antar sesama.
Sesungguhnya, uang yang diinfakkan adalah rezeki yang nyata bagi manusia
karena ada imbalan yang dilipatgandakan Allah (didunia dan diakhirat), serta
akan menjadi penolong dihari akhir nanti pada saat dimana tidak ada
sesuatupun yang dapat menolong kita, sebagaiman bunyi hadist berikut.

2
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya,
kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah (infak dan shadaqah), ilmu yang
bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.” (HR Muslim)
3. Membayar zakat sesuai ketentuan
Setiap manusia beriman yang memiliki harta melampaui ukuran tertentu,
diwajibkan untuk mengeluarkan sebagian hartanya (zakat) untuk orang yang
tidak mampu, sehingga dapat tercipta keadilan sosial, rasa kasih sayang, dan
rasa tolong-menolong.
4. Memberi pinjaman tanpa bunga (Qardhul Hasan)
Memberikan pinjaman kepada sesama muslim yang membutuhkan, dengan
tidak menambah jumlah yang harus dikembalikan (bunga/riba), bertujuan
untuk mempermudah pihak yang menerima pinjaman, tidak memberatkan
sehingga dapat menggunakan modal pinjaman tersebut untuk hal-hal yang
produktif dan halal.
5. Meringankan kesulitan orang yang berutang
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah
tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu
menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS: Al-
Baqara ayat 280)

AKAD/KONTRAK/TRANSAKSI
Akad dalam bahasa Arab ‘al-‘aqad, jamaknya al-‘uqud, berarti ikatan atau
mengikat (Al-rabth). Menurut terminologi hukum Islam, akad adalah pertalian
antara penyerahan (Ijab) dan penerimaan (Qabul) yang dibenarkan oleh syariah,
yang menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya. (Ghufron Mas’adi, 2002).

Jenis Akad
Fikih muamalat membagi akad dari segi ada atau tidak adanya kompensasi
menjadi dua bagian, yaitu:

3
Akad Tabarru’ (Gratuitous Contract)
Perjanjian yang merupakan transaksi yang tidak ditujukan untuk
memperoleh laba (transsaksi nirlaba). Tujuan nya adalah tolong-menolong
dalam rangka berbuat kebaikan, dan pihak yang berbuat kebaikan tersebut
tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lain karena ia hanya
mengharapkan imbalan dari Allah SWT dan bukan dari manusia. Namun, tidak
mengapa jika hanya sekadar untuk menutupi biaya yang ditanggung atau
dikeluarkan untuk dapat melakukan akad tabarru’ tersebut.
Ada 3 (tiga) bentuk akad tabarru’, sebagai berikut:
a. Meminjamkan Uang
Ada minimal 3 (tiga) jenis pinjaman uang, yaitu sebagai berikut:
1) Qardh, merupakan pinjaman yang diberikan tanpa mensyaratkan
apapun, selain mengembalikan pinjaman tersebut setelah jangka waktu
tertentu.
2) Rahn, merupakan pinjaman yang mensyaratkan suatu jaminan dalam
bentuk atau jumlah tertentu
3) Hiwalah, adalah bentuk pinjaman dengan cara mengambil alih piutang
dari pihak lain
b. Meminjamkan Jasa
Ada minimal 3 (tiga) jenis pinjaman jasa, yaitu sebagai berikut:
1) Wakalah, memberikan pinjaman berupa kemampuan kita saat ini untuk
melakukan sesuatu atas nama orang lain.
2) Wadi’ah, merupakan akad yang telah dirinci/didetailkan tentang jenis
pemeliharaan dan penitipan.
3) Kafalah, merupakan akad yang terjadi atas wakalah bersyarat
(contingent wakalah)
c. Memberikan Sesuatu
Ada minimal 2 (dua) bentuk akad ini:
1) Waqaf, merupakan pemberian dan penggunaan pemberian yang
dilakukan tersebut untuk kepentingan umum dan agama, serta tidak
dapat dipindahtangankan.
2) Hibah/shadaqah, merupakan pemberian sesuatu secara sukarela kepada
orang lain.

4
Akad Tijarah (Compensational Contract)
Akad yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan. Akad ini dibagi 2 (dua),
yaitu sebagai berikut:
a. Natural Uncertainty Contract
Kontrak yang diturunkan dari teori pencampuran, dimana pihak yang
bertransaksi saling mencampurkan aset yang mereka miliki menjadi satu,
kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan
keuntungan. Oleh sebab itu, kontrak jenis ini tidak memberikan imbal hasil
yang pasti, baik nilai imbal hasil maupun waktu.
b. Natural Certainty Contract
Kontrak yang diturunkan dari teori pertukaran, dimana kedua belah pihak
saling mempertukarkan aset yang dimilikinya, sehingga objek
pertukarannya (baik barang maupun jasa) pun harus ditetapkan diawal akad
dengan pasti tentang jumlah (quantity), mutu (quality), harga (price) dan
waktu penyerahan (time delivery).

Rukun dan Syarat Akad


Rukun dan syarat syahnya suatu akad ada tiga, yaitu sebagai berikut:
1. Pelaku yaitu para pihak yang melakukan akad.
2. Objek akad merupakan sebuah konsekuensi yang harus ada dengan
dilakukannya suatu transaksi tertentu.
3. Ijab Kabul merupakan kesepakatan dari para pelaku dan menunjukkan
mereka saling rida.

TRANSAKSI YANG DILARANG


Adapun dasar hukum yang dipakai dalam melakukan transaksi bisnis menurut
(QS 4:29) :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar). Kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang
kepadamu.”

5
Jadi, setiap transaksi bisnis harus didasarkan kepada prinsip kerelaan
antara kedua belah pihak (an taradhim minkum) dan tidak batil yaitu tidak ada
pihak yang mendzalimi dan didzalimi. Hal yang termasuk transaksi yang dilarang
adalah sebagai berikut:
1. Semua aktivitas bisnis terkait dengan barang dan jasa yang diharamkan Allah.
2. Riba.
3. Penipuan
4. Perjudian
5. Gharar
6. Ikhtikaf
7. Monopoli
8. Bai’ an najsy
9. Suap
10. Taalluq
11. Bai’ al inah
12. Talaqqi al-rukban

Aktivitas Bisnis Terkait Dengan Barang dan Jasa Yang Diharamkan


Allah
Aktivitas investasi dan perdagangan atau semua transaksi yang melibatkan
barang dan jasa yang diharamkan Allah seperti: babi, khamer atau minuman yang
memabukkan, narkoba, dan sebagainya.
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging
babi, dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah,
tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya
dan tidak pula melampaui batas, maka sungguh Allah Maha Pengampun,
Maha Penyayang.” (QS 16:115).

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan


mempertdagangkan khamar/ minuman keras, bangkai,babi, dan patung.’’
(HR Bukhari muslim)

6
Walaupun ada kesepakatan dan rela sama rela antara pelaku transaksi,
namun atas jika objek transaksi tidak dapat diambil manfaat darinya karena
dilarang oleh Allah maka akad tersebut dikatakan tidak sah.

Riba
Riba berasal dari bahasa Arab yang berarti tambahan (Al-ziyadah),
berkembang (An-Nuwuw), meningkat (Al irtifa’), dan membesar (Al –uluw).
Menurut ijmak konsesus para ahli fikih tanpa kecuali, bunga tergolong
riba (chaapra dalam ascaria 2007) karena riba mempunyai pesamaan makna dan
kepentingan dengan bunga. Lebih jauh lagi, lembaga islam internasional maupun
nasional telah memutuskan sejak tahun 1965 bahwa bunga bank atau sejenisnya
adalah sama dengan riba dan haram secara syariah (ascaria 2007). Bahkan MUI
(Majelis ulama Indonesia) telah mengeluarka fatwa (No.1 Tahun 2004). Bahwa
bunga yang dikenakan dalam transaksi pinjaman (Al-qardh) atau utang piutang
(Al-dayn), baik yang dilakukan oleh lembaga keuangan, individu maupun lainnya
hukumnya dalah haram.
Larangan riba dalam Al- Quran dilakukan melalui empat tahap (qardhawi, 2000)
sebagai berikut.
1. Tahap 1 (QS 30:39)
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta
manusia bertambah, maka tidak menambah dalam pandangan Allah.
Dan apa yang kamu berikan berupa Zakat yang kamu maksudkan
untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang-orang yang
melipat gandakan (pahalanya)”.
Dalam ayat yang diturunkan pada periode Makkah ini, manusia diberi
peringatan bahwa pada hakikatnya riba tidak menambah kebaikan disisi
Allah, belum berupa larangan yang keras.
2. Tahap 2 (QS 4:161)
“Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka
telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang
dengan cara tidak sah (bathil). Dan kami sediakan untuk orang-orang
kafir diantara mereka azab yang pedih”.

7
Ayat yang diturunkan pada periode Madinah ini memberikan
pelajaran kepada kita mengenai perjalanan hidup orang Yahudi yang
melanggar larangan Allah berupa riba kemudian diberi siksa yang pedih.
3. Tahap 3 (QS 2:278-280)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang
yang beriman.”
“Maka jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang
dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu
hendak berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat dzalim
(merugikan) dan tidak pula didzalimi (dirugikan).”
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah
tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu
menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
Ayat diatas merupakan tahapan akhir riba yaitu ketetapan yang
menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa semua praktek riba itu dilarang
(haram), tidak peduli pada besar kecilnya tambahan yang diberikan karena
Allah hanya membolehkan pengembalian sebesar pokoknya saja. Bagi
yang memungut riba, ada ancaman yang sangat keras yaitu Allah dan
Rasul akan memeranginya.

Sebagian manusia memilih memperdebatkan dan menganggap riba sama


dengan jual beli, tetapi Allah menetapkan dengan jelas dan tegas bahwa riba tidak
sama dengan jual beli. Jual beli diperbolehkan (halal) sementara riba dilarang
(haram).
“…Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama
dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhan-Nya
lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi
miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah……..” (QS 2:275)

8
Karena bahaya riba begitu besar, Allah melarangnya dengan tegas dan bagi
pelanggarnya akan diberi hukuman yang keras sebagaimana yang diriwayatkan
dalam satu hadist Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya)
sama dengan seseorang yang melakukan zinah dengan ibunya.”
Begitu pentingnya masalah riba, sehingga Rasulullah dalam khotbah haji
terakhirnya, mengingatkan kembali bahwa riba harus dihapuskan:
“Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan dia pasti akan
menghitung amalanmu. Allah telah melarang amalanmu mengambil riba,
oleh karena itu hutang akibar riba harus dihapuskan. Modal (uang pokok)
kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami
ketidakadilan.”

Jenis Riba
1. Riba Nasi’ah
Riba nasi’ah adalah riba yang muncul karena utang-piutang, riba nasi’ah
dapat terjadi dalam segala jenis transaksi kredit atau utang-piutang dimana
satu pihak harus membayar lebih besar dari pokok pinjamannya.
2. Riba Fadhl
Riba fadhl adalah riba yang muncul karena transaksi pertukaran atau
barter. Riba fadhl dapat terjadi apabila ada kelebihan atau penambahan
pada salah satu dari barang ribawi (barang yang secara kasat mata tidak
dapat dibendakan satu dan lainnya, yaitu: emas, perak, jenis gandum,
kurma, zabib atau tepung, anggur kering dan garam) atau barang sejenis
yang dipertukarkan baik pertukaran dilakukan dari tangan ke tangan
(tunai) atau kredit.
Contoh : transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan dengan cara
tunai (spot).

Pengaruh Riba Pada Kehidupan Manusia


Alasan mengapa bunga dalam islam dilarang menurut Imam Razi, antara
lain (qardhawi, 2000) sebagai berikut:

9
1. Riba merupakan transaksi yang tidak adil dan mengakibatkan peminjam
jatuh miskin karena dieksploitasi, karena riba mengambil harta orang lain
tanpa imbalan.
2. Riba akan menghalangi orang untuk melakukan usaha karena pemilik
dapat menambah hartanya dengan transaksi riba baik secara tunai maupun
berjangka.
3. Riba akan menyebabkan terputusnya hubungan baik antar masyarakat
dalam bidang pinjam meminjam.
4. Pada umumnya orang yang memberikan pinjaman adalah orang kaya,
sedang yang meminjam adalah orang miskin.

Perbedaan Riba dan Jual Beli


Berikut ini adalah perbedaan riba dan jual beli:
No. JUAL BELI RIBA
1. Dihalalkan Allah SWT Diharamkan Allah SWT
2. Jual beli harus ada pertukaran Tidak ada pertukaran barang dan
barang atau manfaat yang keuntungan/manfaat hanya
diberikan sehingga da diperoleh penjual
keuntungan/manfaat yang
diperoleh pembeli dan penjual
3. Karena ada yang ditukarkan, Tidak ada beban yang ditanggung
harus ada beban yang ditanggung oleh penjual
oleh penjual
4. Memiliki resiko untung rugi, Tidak memiliki resiko sehingga
sehingga diperlukan kerja/usaha, tidak diperlukan kerja/usaha,
kesungguhan dan keahlian kesungguhan dan keahlian

10
Rosly dalam Ascarya (2007) menggambarkan teori keuntungan dalam islam:

Al-Bay’ Istishna RISIKO


Al-Ijarah Mudharabah (Ghurmi)
Salam Musyarakah

KERJA DAN
‘IWAD USAHA
=
KEUNTUNGAN (Equivalent Countervalue) (Kasb)

TANGGUNGAN
(Daman)

Penipuan
Penipuan terjadi apabila salah satu pihak tidak mengetahui informasi yang
diketahui pihak lain dan dapat terjadi dalam 4 hal, yakni dalam kuantitas
(mengurangi timbangan), kualitias (mencampur barang baik dengan yang buruk),
harga (menjual barang dengan harga yang terlalu tinggi) dan waktu penyerahan
(tidak dapat menyelesaikan tepat pada waktunya). (Karib, 2003).
“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dan kebathilan, dan
(janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui.” (QS
2:42).
“…sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu
merugikan orang sedikitpun. Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi
setelah (diciptakan)…” (QS 7:85)
“(itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.” (QS 61:3)

11
“Sesungguhnya yang mengada-ngadakan kebohongan, hanyalah orang-
orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah
pembohong.” (QS 16:105)

Perjudian
Berjudi atau Maisir dalam bahasa arab arti harfiahnya adalah memperoleh
seseuatu atau mendapat keuntungan dengan sangat mudah tanpa kerja kers.
(Afzalur Rahman, 1996).
“Wahai orang-orang yang beriman, seseungguhnya minuman keras,
berjudi, berkurban (untuk berhala) dan mengundi nasib dengan anak panah,
adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu beruntung,” (QS 5:90).

Transaksi yang Mengandung Ketidakpastian/Gharar


Syariah melarang transaksi yang mengandung ketidakpastian (Gharar).
Gharar terjadi ketika terdapat incomplete information, sehingga ada
ketidakpastian keduabelah pihak yang bertransaksi. Ketidakpastian dapat terjadi
dalam 5 hal, yakni: dalam kuantitas, kualitas, harga, waktu penyerahan dan akad.
“Bagaiman pendapatmu jika Allah mencegah biji itu untuk menjadi buah,
sedang salah seorang dari kamu menghalalkan (mengambil) harta saudaranya?”
(HR Bukhari).

Penimbunan Barang/Ikhtikar
Penimbunan adalah membeli sesuatu yang dibutuhkan masyarakat,
kemudian menyimpannya, sehingga barang tersebut berkurang dipasaran dan
mengakibatkan peningkatan harga. Penimbungan seperti ini dilarang karena dapat
merugikan oranglain dengan kelangkaannya atau sulit didapat dan harganya yang
tinggi. Dengan kata lain, penimbunan mendapatkan keuntungan yang besar
dibawah penderitaan oranglain.

12
“Siapa yang melakukan penimbunan barang dengan tujuan merusak harga
pasar, sehingga harga naik secara tajam, maka ia telah berbuat salah.”
(HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Monopoli
Monopoli, biasanya dilakukan dengan membuat entry barrier, untuk menghambat
produsen atau penjual masuk ke pasar agar ia menjadi pemain tunggal di pasar
dan dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi.
Dari Anas r.a berkata:
“Wahai Rasulullah SAW, harga-harga naik, tentukanlah harga untuk
kami. Rasulullah lalu menjawab: “Allahlah yang sesungguhnya penentu
harga, penahan, pembentang dan pemberi rejeki. Aku berharap agar
bertemu dengan Allah, tak ada seorang pun yang meminta padaku tentang
adanya kedzaliman dalam urusan darah dan harta.” (HR Ashabus Sunan)
Pemaksaan terhadap penjual barang untuk menjual barang yang tidak
direlakannya bertentangan dengan firman Allah:
“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara
kamu.” (QS 4:29)

Rekayasa Permintaan (Bai’ An Najsy)


An Najsy adalah dimana satu pihak berpura-pura mengajukan penawaran dengan
harga yang tinggi, agar calon pembeli tertarik dan membeli barang tersebut
dengan harga yang tinggi.
“Janganlah kamu sekalian melakukan penawaran barang tanpa maksud
untuk membeli.” (HR Tirmidzi)

Suap
Suap dilarang karena dapat merusak sistem yang ada di dalam masyarakat,
sehingga menimbulkan ketidakadilan sosial dan persamaan perlakuan. Pihak yang
membayar suap pasti akan diuntungkan dibandingkan yang tidak membayar.
“…Dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim…”
(QS 2:188)

13
“Setiap orang yang member rekomendasi seseorang kemudian dia
menerima hadiah dari orang itu, maka itu dianggap riba.” (HR Ibnu
Daud)

Penjual Bersyarat/Ta’alluq
Ta’alluq terjadi apabila ada dua akad saling dikaitkan dimana berlakunya
akad pertama tergantung pada akad kedua; sehingga dapat mengakibatkan tidak
terpenuhinya rukun (sesuatu yang harus ada dalam akad) yaitu objek akad.

Pembelian Kembali Oleh Penjual dari Pihak Pembeli (Bai’ al Inah)


Misalnya A menjual secara tunai kepada B kemudian A membeli kembali
barang yang sama dari B secara kredit. Dari contoh ini, kita lihat ada dua pihak
yang seolah-olah melakukan jual beli, namun tujuannya bukan untuk
mendapatkan barang melainkan A mengharapkan untuk mendapatkan uang tunai
sedangkan B mengharapkan kelebihan pembayaran.

Jual Beli dengan cara Tallaq al-Rukban


Jual beli dengan cara mencegat atau menjumpai pihak penghasil atau
pembawa barang perniagaan dan membelinya, dimana pihak penjual tidak
mengetahui harga pasar atas barang dagangan yang dibawanya sementara pihak
pembeli mengharapkan keuntungan yang berlipat dengan memanfaatkan
ketidaktahuan mereka. Cara ini tidak diperbolehkan oleh syariah sesuai dengan
sabda Rasulullah:
“Janganlah kamu mencegat khalifah/rombongan yang membawa dagangan
di jalan, siapa yang melakukan itu dan membeli darinya, maka jika pemilik
barang tersebut tiba di pasar (mengetahui harga), ia boleh berkhiar.” (HR
Riwarat Muslim)

14
PRINSIP SISTEM KEUANGAN SYARIAH
Praktik sistem keuangan syariah telah dilakukan sejak zaman kejayaan islam.
Namun seiring dengan melemahnya sistem khalifah, pada akhir abad ke-19,
Dinasti Ottoman memperkenalkan sistem perbankan barang kepada dunia islam.
Hal ini mendapat kritikan dari para ahli fiqih bahwa sistem tersebut menyalahi
aturan syariah mengenai riba, dan berujung pada keruntuhan kekhalifahan islam
tahun 1924. Perkembangan selanjutnya, pada akhir 1970-an mulailah berdiri bank
yang mengadopsi sistem syariah, kemudian berkembang pesat dan saat ini banyak
Negara telah melakukan kegiatan perdagangan dan bisnis. Bahkan Inggris telah
memosisikan diri sebagai gate away untuk keuangan islam di dunia.

Filosofi sistem keuangan syariah “bebas bunga” (larangan riba) tidak hanya
melihat interaksi antar factor produksi dan perilaku ekonomi seperti yang dikenal
pada sistem keuangan konvensional, melainkan juga harus menyeimbangkan
berbagai unsure etika, moral, sosial, dan dimensi keagamaan untuk meningkatkan
pemerataan dan keadilan menuju masyarakat yang sejahtera serta menyeluruh.

Melalui sistem kerjasama bagi hasil, maka aka nada pembagian resiko. Resiko
yang timbul dalam aktivitas keuangan akan ditanggung oleh pemberi modal dan
penerima modal. Mereka harus saling berbagi resiko secara adil dan proposional
sesuai dengan kesepakatan bersama. Dalam sistem keuangan syariah pemberi
dana lebih dikenal sebagai investor daripada kreditor. Sebagai investor pemberi
modal tidak hanya memberikan pinjaman saja lalu menerima pengembalian
pinjaman dari hasil aktivitas perdagangan. Akan tetapi antara investor dan
pengusaha secara bersama-sama bertanggungjawab tentang kelancaran aktivitas
perdagangan untuk mencapai tingkat pengembalian yang optimal.

Berikut ini adalah prinsip sistem keuangan islam sebagaimana diatur melalui Al
Qur’an dan AsSunah.

1. Pelarangan riba. Riba merupakan pelanggaran atas sistem keadilan sosial,


persamaan dan hak atas barang.

15
2. Pembagian resiko. Melalui pembagian resiko maka pembagian hasil akan
dilakukan di belakang yang besarannya tergantung dari hasil yang
diperoleh. Hal ini juga membuat kedua belah pihak akan saling membantu
untuk sama-sama memperoleh laba, selain lebih mencerminkan keadilan.
3. Menganggap uang sebagai modal potensial. Fungsi uang tidak hanya
sebagai alat tukar saja tetapi juga sebagai komoditas. Sedang dalam fungsi
sebagai modal nyata, uang dapat menghasilkan sesuatu baik barang
maupun jasa.
4. Larangan melakukan kegiatan spekulatif. Hal ini sama dengan pelarangan
untuk transaksi yang memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi,
judi dan transaksi yang memiliki resiko sangat besar.
5. Kesucian kontrak. Islam menilai perjanjian sebagai suatu yang tinggi
nilainya sehingga seluruh kewajiban dan pengungkapan yang terkait
dengan harus dilakukan.
6. Aktivitas usaha harus sesuai syariah. Seluruh kegiatan usaha haruslan
merupakan kegiatan yang diperbolehkan menurut syariah. Dengan
demikian, usaha seperti minuman keras, judi, peternakan babi yang haram
juga tidak boleh dilakukan.

INSTRUMEN KEUANGAN SYARIAH


Instrument keuangan syariah dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Akad investasi. Kelompok akad ini adalah sebagai berikut:


a. Mudharabah, yaitu bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih,
dimana pemilik modal memercayakan sejumlah modal kepada
pengelola untuk melakukan kegiatan usaha dengan nisbah bagi hasil
atas keuntungan yang diperoleh menurut kesepakatan dimuka.
Sedangkan apabila terjadi kerugian hanya ditanggung pemilik dana
sepanjang tidak ada unsure kesengajaan atau kelalaian oleh Mudharib.
b. Musyarakah, adalah akad kerjasama yang terjadi antara para pemilik
modal (mitra musyarakah) untuk menggabungkan modal dan

16
melakukan usaha secara bersama dalam suatu kemitraan, dengan
nisbah bagi hasil sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian
ditanggung secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal.
c. Sukuk (Obligasi Syariah), merupakan surat utang yang sesuai dengan
prinsip syariah.
d. Saham Syariah produknya harus sesuai syariah.
2. Akad jual beli atau sewa menyewa. Kelompok akad ini adalah sebagai
berikut:
a. Murabahah, adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan
biaya perolehan dan keuntungan yang disepakati antara penjual dan
pembeli.
b. Salam, adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjual belikan
belum ada.
c. Istishna, memiliki sistem yang mirip dengan salam, namun dalam
istishna pembayaran dapat dilakukan dimuka, cicilan dalam beberapa
kali atau ditangguhkan selama jangka waktu tertentu.
d. Ijarah, adalah akad sewa menyewa antara pemilik objek sewa dan
penyewa untuk mendapatkan manfaat atas objek sewa yang
disewakan.
3. Akad lainnya, meliputi berikut ini:
a. Sharf, adalah perjanjian jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya
b. Wadiah, adalah akad penitipan dari pihak yang mempunyai
uang/barang kepada pihak yang menerima titipan dengan catatan
kapanpun titipan diambil pihak penerima titipan wajib menyerahkan
kembali uang/barang titipan tersebut.
c. Qardhul hasan, adalah pinjaman yang tidak mensyaratkan adanya
imbalan, waktu pengembalian pinjaman ditetapkan bersama antara
pemberi dan penerima pinjaman.
d. Al-Wakalah, adalah jasa pemberian kuasa dari satu pihak ke pihak
lain.
e. Kafalah, adalah perjanjian pemberian jaminan atau penanggungan atas
pembayarang utang satu pihak pada pihak lain.

17
f. Hiwalah, adalah pengalihan utang atau piutang dari pihak pertama
kepada pihak lain atas dasar saling memercayai.
g. Rahn, merupakan sebuah perjanjian pinjaman dengan jaminan aset.

18
Daftar Pustaka

Nurhayati, Sri & Wasilah. 2017. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat
: Jakarta

19