Anda di halaman 1dari 6

TUGAS ARTIKEL

BATUK DAN PILEK PADA ANAK

DOKTER PEMBIMBING:
dr. Sonny Kusuma Yuliarso, SpA

DISUSUN OLEH:
Florindo Cardoso Gomes
11.2014.001

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA DEPOK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 5 JANUARI 2015 – 14 MARET 2015

BATUK DAN PILEK PADA ANAK


Batuk pilek adalah salah satu gejala paling umum pada kebanyakan pasien
yang mencari pengobatan medis dari dokter perawatan primer dan pulmonologist.
Batuk pilek adalah pertahanan penting yang menaikkan pelepasan atau
pembersihan sekresi-sekresi dan partikel-partikel dari saluran-saluran udara untuk
melindungi saluran udara bawah dari penyerapan benda-benda atau material
asing. Supresi terapetik batuk pilek mungkin dapat menjadi gejala atau spesifik
dari penyakit tertentu.
Ada tradisi lama yang terus berlangsung dalam batuk pilek akut, yang
seringkali berkenaan dengan infeksi saluran pernapasan atas, dapat menggunakan
pengobatan anti-tusif terkait gejala tersebut. Untuk batuk pilek kronik diobati
dengan terapi spesifik, tetapi seringkali diberikan anti-tusif dalam pengobatan.
Menurut panduan terbaru dari American College of Chest Physician on
“Cough Suppressants and Pharmacologic Protussive Therapy,” dan uji coba
klinis tambahan pada obat-obatan anti-tusif adalah yang paling sering digunakan,
ini sangat memungkinkan untuk mendiagnosa dan mengobati batuk secara tepat
dan berhasil pada kebanyakan kasus. Diantara obat-obatan yang digunakan untuk
pengobatan symptomatic batuk pilek, anti-tusif seperti Levodropropizine dan
moguisteine menunjukkan level manfaat tertinggi dan harus direkomendasikan
khususnya untuk pengobatan pada anak.1
Batuk pilek adalah gangguan paling umum terbanyak dalam hal kunjungan

medis di rumah sakit, terutama di Amerika Serikat. Badan penelitian kesehatan

World   Health   Organitation  (WHO)   tahun  2012   insiden   Infeksi   Saluran

Pernafasan  Akut  (ISPA) di Negara  berkembang  dengan angka  kematian  balita

diatas 40 per 1000 kelahiran hidup. Angka Kematian di Indonesia sebesar 44 per

1000   kelahiran   hidup   balita.   ISPA   lebih   banyak   di   Negara  berkembang

dibandingkan   di   Negara   maju   dengan   persentase   masing­masing  sebesar  25%­

30% kejadian (Negara Berkembang) dan 10%­15% kejadian (Negara Maju) per

tahun pada 13 juta anak balita. 
Kematian   balita   di   Asia   sebanyak   total   2,1  juta   balita.   Di   Asia   negara

India,   Bangladesh,   Indonesia,   dan   Myanmar   merupakan   negara   dengan  kasus

kematian balita akibat ISPA terbanyak. (Usman, 2012)
Batuk pilek pada anak biasanya berkaitan dengan insfeksi virus pada
saluran respiratory dan terjadi secara spontan. Pada anak-anak, batuk pilek lebih
berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan, seperti polusi udara dalam dan luar
ruangan, termasuk masalah partikulat, gas yang mengganggu, lingkungan dengan
asap rokok dan kelembaban dalam rumah.
Batuk pada anak dapat mengganggu aktivitas anak maupun orang tuanya
dan dapat berkaitan dengan kualitas hidup yang kurang baik pada anak sehingga
dapat timbul stress signifikan pada orang tua. Diketahui sudah sangat umum bagi
orang tua mengobati anak dengan batuk dan pilek dengan (CCM: cough and cold
medications) over the counter (OTC) sebelum mencari penyedia jasa kesehatan.
Dalam survey terbaru, kira-kira 10% anak di Amerika Serikat ditemukan
menerima OTC CCM dalam beberapa minggu sebelum berobat ke fasilitas
kesehatan.2
Terdapat tiga jenis batuk pilek yaitu batuk pilek akut, sub akut dan kronis.
Batuk pilek akut yaitu batuk yang diderita maksimal selama 3 minggu. Pada
kebanyakan pasien penderita batuk pilek, penyakit tersebut disebabkan karena
infeksi saluran pernapasan atas (URTI: Upper Respiratory Tract Infections),
bronchitis akut atau trachea bronchitis berkenaan dengan infeksi bakterial atau
yang lebih sering yaitu infeksi virus. Pasien URTI dengan infeksi tersebut
biasanya akan mereda dengan sendirinya dalam satu hingga dua minggu
bersamaan dengan sembuhnya sumber infeksi.
Batuk pilek sub akut dapat didefinisikan sebagai batuk pilek yang diderita
atau berlangsung selama 3 hingga 8 minggu. Infeksi-infeksi spesifik misalkan
karena M. Pneumoniae, yang mungkin disebabkan oleh peningkatan pada
bronchial hyper-responsiveness, yang dapat menyebabkan batuk pilek subakut.
Batuk pilek sub akut ini dapat bertahan dan mengganggu selama beberapa minggu
bahkan setelah infeksi diatasi. Sedangkan batuk pilek kronik atau persisten adalah
batuk pilek yang disebabkan oleh Upper Airway Cough Syndrome (UACS)
berkaitan dengan kondisi-kondisi rhinosinus, misalnya postnasaldrip syndrome
(PNDS); asthma dan GERD.1
Upper Respiratory Infection (URI) adalah batuk pilek yang paling umum
yaitu suatu gangguan viral yang dapat menyerang semua usia khususnya anak-
anak.. Sekali terinsfeksi dengan virus, vosodilatasi dan permeabilitas vaskuler
meningkat pada nasal mucosa, menyebabkan obstruksi dan rhinorrhea.3
Episode akut dari batuk adalah paling sering berkaitan dengan pilek. Batuk
dapat menjadi sebuah gejala dari insfeksi saluran pernapasan bawah atau atas atau
mungkin menjadi sebuah dampak dari kondisi-kondisi non-insfeksi seperti asma,
paparan asap rokok, atau aspirasi dari benda asing.
Perbedaan batuk berkenaa dengan insfeksi pernapasan atas dan batuk yang
berkaitan dengan bronchitis adalah tidak terlalu mecolok, karena kedua kondisi
tersebut adalah infeksi viral dan perlu pengobatan antibiotik. Perbedaan antara
batuk kering dan basah atau batuk produktif dan non produktif adalah sedikit
memberikan nilai terapetik, khususnya pada anak yang biasanya menyerap dahak
mereka. Kadang-kadang karakteristik batuk itu dapat menggambarkan mengenai
penyebab suatu penyakit, sebagai contoh batuk berkepanjangan yang diikuti
dengan teriakan yang ditemukan dalam insfeksi pertussis dan batuk yang disertai
dengan sesak.4
Pengobatan non-prescription oral (OTC) untuk batuk pilek digolongkan
menurut tindakan sebagai berikut: (1) Antitusif, sebagai opioid derivatives, untuk
menekan refleks batuk, sehingga anak berkurang batuknya, contohnya
dekstrometorfan (DMP). Batuk pada dasarnya adalah upaya tubuh untuk
membuang lendir dari saluran napas. Lendir berisi antara lain virus yang justru
memang berusaha dibuang ke luar tubuh. Artinya, batuk bertujuan baik, karena
merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Logikanya, upaya untuk menekan batuk
justru berpotensi membahayakan tubuh, karena menghalangi dahak untuk dibuang
keluar. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan DMP tidak berkhasiat dalam
mengurangi gejala common cold. Obat ini juga mempunyai efek samping
mengantuk dan lambung. (2) Expectoran dengan kata lain obat-obat yang
mendorong produksi bronchial mucus naik, membuat sekresi lebih mudah
bergerak melalui batuk atau ciliary transport. misalnya: guaifenesin. Pada orang
dewasa, penelitian yang ada menunjukkan kegagalannya dalam mengurangi gejala
batuk. Penelitian yang menunjukkan efektivitasnya pada anak belum ada.
(3) Mucolytics dengan kata lain obat-obatan yang dimaksudkan untuk
menurunkan viskositas atau kelekatan atau kekentalan sekresi-sekresi bronchial,
bertindak untuk membuat sekresi lebih mudah untuk bersih melalui batuk.
(4) Kombinasi-kombinasi antihistamine-decongestant, dengan kata lain obat-
obatan yang merupakan kombinasi dari antihistamine H1-receptor antagonist
dengan alpha adrenoceptor agonists, yang bertindak sebagai penyebab
vasokontriksi dari jaringan darah mucosal sehingga menurunkan kongesti.
Dan (5) Antihistamine, dengan kata lain antihistamine H1 receptor agonists,
bertindak menurunkan pelepasan histamine sehingga menurunkan kongesti lokal
dan produksi sekresi-sekresi. Antihistamin lazimnya diberikan untuk menghambat
reseptor histamin yang berperan dalam reaksi alergi (gejala alergi memang bisa
berupa bersin dan hidung meler, tetapi common cold disebabkan oleh infeksi
virus, bukan reaksi alergi). Contohnya adalah: klorfeniramin (CTM),
difenhidramin, dan hidroksizin.5
Terdapat kekhususan pada penanganan batuk pilek pada anak dengan usia
di bawah dua tahun. Pada tahun 2007, Food and Drug Administration (FDA)
Inggris merekomendasikan pada orang tua dalam mengobati batuk pilek untuk
anak dibawah usia 2 tahun karena memiliki efek samping serius yang dapat
berpotensi membahayakan hidup anak. Sebuah studi telah menguji rekomendasi
FDA pada anak dibawah usia 2 tahun adalah dengan pengobatan Over-the-
Counter Cough and Cold Medications (OTC CCM).
Data di Amerika menyatakan obat-obatan pereda gejala batuk-pilek berada
di dalam daftar 20 obat tersering yg menyebabkan kematian pd anak balita. Pada
tahun 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan di AS (FDA) menyatakan obat-
obatan jenis ini yg dijual bebas (OTC) dihindari penggunaannya pada anak
berusia di bawah 2 tahun. Para produsen farmasi mengikutinya. Hasilnya adalah:
angka kunjungan ke IGD akibat efek samping obat-obatan jenis ini berkurang.
Para produsen lalu melabel ulang OTC untuk obat batuk pilek anak tidak boleh
digunakan untuk anak berusia di bawah 2 tahun.

Daftar Pustaka:

1. De Blasio, F., Virchow, J.C., Polverino, M., Zanasi, A., Behrakis, P. K., Kilinc,
G., Balsamo, R., Danieli, G. D., & Lanata, L., (2011). Cough Management: A
Practical Approach, Review Open Access, Vol. 7(7): 1-12.
2. Goldsobel, A.B., and Chipps, B.E., (2009). Cough in the Pediatric
Population, The Journal of Pediatrics, Medical Progress, Vol. 156(3): 352-358.
3. Irwin, K.A., (2007). Use of Over-the-Counter Cough and Cold Medications in
Children Younger, Journal of Pediatric Health Care, Vol. 21(4): 272-275.
4. World Health Organization, (2001)., Cough and Cold Remedies For the
Treatment of Acute Respiratory Infections in Young Children, Child and
Adolescent Health and Development, World Health Organization.
5. Smith, S.M., Schroeder, K., & Fahey, T., (2012)., Over-the-Counter (OTC)
Medications for Acute Cough in Children and Adults in Ambulatory Settings
(Review), The Cochrane Collaboration, Wiley Publishers Since 1807.
6. Hanoch, Y., Gummerum, M., Shatz, T.M., & Himmelstein, M., (2010).,
Parents’ Decision Following the Food and Drug Administration
Recommendation: The Case of Over-the-Counter Cough and Cold
Medication, Child: Care, Health and Development Original Article, 1-10.
7. E.F. Sen et al., (2011)., Effects of Safety Warnings on Prescription Rates of
Cough and Cold Medicines in Children Below 2 Years of Age, British Journal
of Clinical Pharmacology, Vol. 71(6): 943-950.