Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS FITOKIMIA DAUN JAMBU BIJI

(Psidiumguajava.Linn)

Guava leaf is a medicinal plant that is a nation's cultural heritage based on


experience that has been passed down through generations by previous generations to
the next generation to this day. Guava juice One of the medicinal plants is known and
used by the community. Compounds in the leaves of Guava in the form of flavonoids,
eugenol, tannins and terpenoids have anti-bacterial effects by destroying the membrane
structure. Guava (Psidium guajava) is one of shrubs fruit plants, in English called
Lambo guava. This plant originated from Brazilia Central America, spread to Thailand
and then to other Asian countries such as Indonesia. Guava is much enjoyed by the
people who have superior properties, among others, soft and thick flesh, sweet taste, no
seeds, and large fruit. Guava one of the tropical plants that empirically used by the
community as a medicine. This plant belongs to the Myrtaceae family. Various recent
studies have proven that guava has a variety of health benefits such as antidiarrhoea,
increase blood platelet levels, lower total cholesterol, lower blood sugar, antibacterial,
and anti-cancer. The whole part of the guava plant has a pharmacological effect that
can be useful for health.

keywords : : Extraction, Noni (Psidiumguajava.Lii), Phytochemical Test.

Abstrak
Daun jambu biji adalah tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa
berdasarkan pengalaman yang secara turun-temurun telah diwariskan oleh generasi
terdahulu kepada generasi berikutnya sampai saat ini. Salah satu tanaman yang
berkhasiat obat dikenal dan digunakan oleh masyarakat.Senyawa dalam daun Jambu
Biji yang berupa flavonoid, eugenol, tanin dan terpenoid mempunyai efek antibakteri
dengan merusak struktur membrannya Jambu biji (Psidium guajava) adalah salah satu
tanaman buah jenis perdu, dalam bahasa Inggris disebut Lambo guava. Tanaman ini
berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia
lainnya seperti Indonesia. Jambu biji yang banyak di gemari oleh masyarakat adalah

1
yang mempunyai sifat unggul antara lain berdaging lunak dan tebal, rasanya manis,
tidak mempunyai biji, dan buahnya berukuran besar. Jambu biji salah satu tumbuhan
tropis yang secara empiris digunakan oleh masyarakat sebagai obat. Tumbuhan ini
termasuk dalam familia Myrtaceae. Beragam penelitian terkini telah membuktikan
bahwa jambu biji memiliki beragam khasiat kesehatan seperti antidiare, meningkatkan
kadar trombosit darah, menurunkan kadar kolesterol total, menurunkan gula darah,
antibakteri, dan anti kanker. Keseluruhan bagian dari tumbuhan jambu biji memiliki efek
farmakologis yang dapat berguna bagi kesehatan.

Kata kunci : ekstraksi, Daun jambu biji (psidiumguajava.Linn, uji fitokimia

1. PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa


berdasarkan pengalaman yang secara turun-temurun telah diwariskan oleh generasi
terdahulu kepada generasi berikutnya sampai saat ini (Wijaya, 1996). Salah satu
tanaman yang berkhasiat obat dikenal dan digunakan oleh masyarakat ialah tanaman
Jambu Biji (Heinnermen, 2003). Senyawa dalam daun Jambu Biji yang berupa
flavonoid, eugenol, tanin dan terpenoid mempunyai efek antibakteri dengan merusak
struktur membrannya (Akiyama, 2001). Jambu biji (Psidium guajava) adalah salah satu
tanaman buah jenis perdu, dalam bahasa Inggris disebut Lambo guava.

Tanaman ini berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand


kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia (Kuntarsih, 2006). Jambu biji yang
banyak di gemari oleh masyarakat adalah yang mempunyai sifat unggul antara lain
berdaging lunak dan tebal, rasanya manis, tidak mempunyai biji, dan buahnya
berukuran besar. Jambu biji salah satu tumbuhan tropis yang secara empiris
digunakan oleh masyarakat sebagai obat. Tumbuhan ini termasuk dalam familia
Myrtaceae. Beragam penelitian terkini telah membuktikan bahwa jambu biji memiliki
beragam khasiat kesehatan seperti antidiare, meningkatkan kadar trombosit darah,
menurunkan kadar kolesterol total, menurunkan gula darah, antibakteri, dan anti
kanker. Keseluruhan bagian dari tumbuhan jambu biji memiliki efek farmakologis yang

2
dapat berguna bagi kesehatan. Hanya saja kandunngan zat aktif dan khasiatnya
berbeda-beda.

Pada bagian daun, terdapat empat jenis flavonoid yang berkhasiat sebagai
antibakteri dan juga kandungan zat aktif lainnya yang memiliki aktivitas farmakologi
seperti anti inflamasi, analgesik, dan antioksidan. Daun jambu biji diyakini memiliki efek
astringen, penyembuhan luka, anti alergi, memperbaiki kulit yang rusak.

Daun jambu biji digunakan sebagai sumber antioksidan alami, karena di dalam
daun jambu biji terkandung tanin dimana tanin merupakan senyawa polifenol yang
berfungsi sebagai antioksidan. Dalam penelitian ini daun jambu biji yang digunakan
merupakan daun jambu biji lokal berdaging buah merah. Hal ini dikarenakan kebiasaan
masyarakat yang lebih banyak menggunakan jambu biji lokal sebagai obat tradisional
dan jambu biji lokal mudah di jumpai di lingkungan masyarakat.

Psidium guajava L. diketahui mengandung beberapa bahan aktif antara lain


tanin, flavonoid, guayaverin, leukosianidin, minyak atsiri, asam malat, damar, dan asam
oksalat, tetapi hanya komponen khusus seperti flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan
alkaloid yang memiliki efek farmakologi sebagai antidiare terutama pada penyakit diare
yang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John, salah
satu bahan aktif yang terkandung dalam daun Psidium guajava yang memiliki peranan
paling efektif sebagai antidiare adalah flavonoid.

II. METODE PENELITIAN

Daun jambu biji (psidiumguajava.Linn)

3
Daun Jambu biji yang memiliki nama latin Psidium guajava L ini memiliki banyak
manfaat karena kandungan gizinya yang tinggi dan juga bisa digunakan untuk
menyembuhkan beberapa penyakit yaitu : Mengatasi Diare, Mengontrol kolesterol,
Mengatasi diabetes, Mempengaruhi kardiovaskuler, Mengatasi jerawat dan bintik hitam,
Anti penuaan, Mengatasi gatal, Mengobati rambut rontok (Atsiri Indonesia, 2006).
Ditambah lagi, daun jambu biji memiliki pektin sehingga menunjang manfaat dari buah
tersebut.

Pektin ini berupa serat yang larut dalam air. Jadi, dengan adanya pektin ini, daun
jambu biji juga berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol. Telah dilakukan penelitian
untuk membuktikan kebenaran itu di Research Center Morrabad dan Singh Medical
Hospital, India. Dari hasil penelitian itu menunjukkan bahwa benar daun jambu biji bisa
membantu dalam menurunkan kadar kolesterol dan juga menurunkan tekanan darah,
serta diare.

Daun psidium guajava mengandung Beta-sitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid,


tanin, eugenol, minyak atsiri dan berbagai senyawa lainya (Albana dkk, 1999). Daun,
kulit, batang akar dan buah muda pada daun jambu biji mengandung zat psidi tanin
sedangkan khusus daun jambu biji mengandung minyak atsiri, eugenol dan damar
disamping zat-zat mineral lain yang terdapat didalam buah. (Ris Munandar,1989)

Prosedur penelitian : prosedur penelitian ini sebagai berikut

A. Persiapan sampel

Uji Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa


organik yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia,
biosintetis, perubahan dan metabolisme, serta penyebaran secara alami dan fungsi
biologis dari senyawa organik. Pada proses ini dilakukan proses skrining untuk
simplisia, yang diskriningnya yaitu dengan proses skrining untuk mengetahui alkaloid,
fenolat, kuinon, flavonoid, monoterpen, seskuiterpen, steroid, saponin yang terdapat
pada simplisia.
Sejumlah simplisia telah disiapkan yang akan digunakan, dalam keadaan kering.
Tahapan selanjutnya hanya melakukan sortasi kering dengan memilih kembali simplisia

4
yang telah kering. Setelah penyortiran simplisia kering tersebut digunting dengan
ukuran kecil-kecil agar lebih mudah dalam proses ekstraksi selanjutnya. Hitung kadar
air simplisia kering. Simlipsia dinyatakan baik jika mempunyai kadar < 10% ( Depkes RI
2000)

Uji alkanoid
Sejumlah erbuk disimpan dalam mortar, dibasakan dengan amonia sebanyak
1ml, kemudian ditambahkan kloroform dan digerus kuat. Cairan kloroform disaring,
filtrate ditempatkan dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan HCl 2N, campuran
dikocok, lalu dibiarkan hingga terjadi pemisahan.

Dalam tabung reaksi terpisah :Filtrat 1: sebanyak 1 tetes larutan pereaksi meyer
diteteskan kedalam larutan filtrate, adanya alkaloid ditujukan dengan adanya endapan
dan atau kekeruhan berwarna hingga coklat. Filtrat 2: sebanyak 1 tetes larutan pereaksi
mayer diteteskan ke dalam filtrate , adanya alkaloid ditunjukan dengan adanya endapan
atau kekeruhan berwarna putih. Filtrat 3 : sebagai blanko atau control negative.

Uji Fenolat

Sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan 100ml air panas, dididihkan


selama 5 menit kemudian di saring. Filtrate sebanyak 5 ml dimasukan kedalam tabung
reaksi, ditambahkan pereaksi besi(III) klorida, timbuul warna hijau kehitaman
menandakan positif fenolat.

Uji Tannin

Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung rekasi dipanaskan di tangas air
kemudian disaring. Pada filtrate ditambahkan gelatin 1% akan timbul endapan putih,
bila terdapat kandungan tannin.

Uji Flavonoid

Diambil 5 mL ekstrak sampel, diisikan pada 3 tabung reaksi, tambahkan eter


secukupnya, kemudian tabung 1 tambahkan 3 tetes H2SO4 pekat. Perubahan warna
merah menunjukan positif flavanoid. Warna merah. Tabung 2 tambahkan 0,5 mL HCl

5
pekat, serta berikan sedikit serbuk Mg. perubahan warna menjadi merah Menunjukan
positif flavanoid. Tabung 3 tambahkan dengan NaOH, jika terjadi perubahan warna
menjadi kuning menunjukan positif flavanoid.

Monoterpen dan seskuiterpen

Digerus serbuk denagan eter, kemudian fase eter diuapkan dalam cawan uap
hingga kering, ditetesi pada residu lautan pereaksi vanillin sulfat. Didapat warna warni
menandakan monoterpen dan seskuierpen.

Steroid dan triterpenoid

Dilarutkan serbuk dengan eter. Diambil sampel 5 mL, tambahkan pereaksi


Lieberman bochard jika terbentuk warna merah atau ungu adalah posotif triterpenoid.
Jika warna hijau menunjukan positif steroid.

Kuinon

Ditambahkan serbuk sampel dengan air. Dididihkan dengan air panas selama 5
menit, disaring dengan kapas atau kertas saring. Pada filtrate ditambahkan KOH 1N.
dibentuk warna kuning menandakan kandungan kuinon dalam sampel.

Saponin

Ditambahkan serbuk sampel dengan air. Dididihkan dengan air panas selama 5
menit, dikocok. Dibentuk busa yang konsisten selama 5-10 menit menandakan
kandungan saponin dalam sampel.

III. PEMBAHASAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil uji fitokimia sebagai
berikut :
Sampel Daun jambu biji

Uji Fitokimia

Alkanoid +

6
Saponin +

Tannin +

Flavanoid +

Fenolat +

kuinon +

Triterpenoid +

Steroid +

Fitokimia merupakan cara sederhana untuk melakukan analisis kualitatif


kandungan senyawa yang terdapat dalam tumbuhan. Pada praktikum ini skrining yang
dilakukan adalah menguji setiap kandungan yang ada di daun jambu biji alkaloid, uji
flavanoid, saponin, tannin, triterpenoid dan steroid, dan menganalisa hasil dari
kandungan tersebut sama atau tidak dengan teori. Setiap golongan senyawa metabolit
sekunder yang terkandung dalam tumbuhan memiliki ciri dan karakter tersendiri.
Dengan mempelajari sifat kimia dari masing-masing golongan metabolit sekunder
tersebut adalah suatu metode atau cara untuk mengetahui adanya senyawa tertentu
dalam tumbuhan daun jambu tersebut.

Dalam uji fitokimia kita melakukan pereaksi yang berbeda – beda setiap
kandungan yang terdapat di daun jambu . Demikian hal nya dengan pelarut yang
berbeda juga. Penggunaan pelarut yang berbeda ini didasarkan pada sifat kepolaran
dari senyawa yang akan di isolasi dan selanjutnya di skrining. Penggunaan pelarut yang
tidak sesuai akan mempengaruhi hasil yang diperoleh pada kandungan – kandungan
daun jambu biji. Dari hasil penelitian Buah jambu biji merah segar memiliki kandungan
metabolit sekunder yaitu flavonoid , terpenoid, dan tannin, jadi hasil penelitian yang
telah dilakukan dilaboratorium FKIP Kimia sama dengan teori yang telah dikemukakan.

7
Tidak hanya itu buah jambu biji dilaporkan pula memiliki senyawa metabolit sekunder
berupa saponin, dan alkaloid ketika di uji.

Dari hasil tersebut sangat sama dengan teori. (Sangi et al, 2008). Sedangkan
hasil penelitian yang dilakukan untuk menganalisa pada daun jambu biji dilaporkan
memiliki senyawa triterpenoid (Begum et al, 2002). Untuk mengetahui adanya senyawa
triterpenoid pada tanaman jambu biji ini dapat dilakukan dengan menambahkan
pereaksi Lieberman-Burchard yang terdiri dari asam sulfat pekat dan asam asetat
anhidrat.

Hasil positif dari pengujian ini adalah ekstrak pada bagian tanaman yang diuji
(Pada jambu biji adalah daun dan buah) menunjukkan terjadi perubahan warna yaitu
warna merah, merah jambu, atau ungu. Pada tanaman jambu biji diperoleh hasil pada
daun dan buah terdapat senyawa triterpenoid dalam jumlah sedikit pada teori
sedangkan pada penelitian sangat lebih sedikit jumlahnya, dikarenakan kurangnya
bahan dan pereaksi di laboratorium. (Widiyati , 2006).

Ekstraksi daun jambu biji melalui ekstraksi kuersetin dengan pelarut n-heksana
yang dilanjutkan dengan pelarut methanol menunjukkan bahwa senyawa kuersetin
terbukti positif ada di dalam daun jambu biji, sedangkan yang diuji pada penelitian
kuersetin juga terbukti positif, Kadar kuersetin yang tinggi pada daun jambu biji dapat
digunakan untuk pengobatan yang berhubungan dengan pembuluh kapiler (Yuliani et
al, 2003 ).

IV. KESIMPULAN

Daun Jambu biji merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tengah yang
berhasil dibawa masuk ke penjuru Asia termasuk Indonesia. Fitokimia pada senyawa
metabolit sekunder yang terkandung dalam daun jambu biji antara lain adalah flavonoid,
triterpenoid (dalam hal ini yang banyak adalah kuersetin) , tanin, saponin, fenol, dan
steroid serta kuinon. Jambu biji salah satu tumbuhan tropis yang secara empiris
digunakan oleh masyarakat sebagai obat, seperti diare yang sangat sering ditemukan
dikalangan masyarakat. .

8
Daun jambu biji juga digunakan sebagai sumber antioksidan alami, karena di
dalam daun jambu biji terkandung tanin dimana tanin merupakan senyawa polifenol
yang berfungsi sebagai antioksidan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim(2013). “Penunutun dan Buku Kerja Praktikum Fitokmia I”.Laboratorium Bahan Alam
Fakultas Farmasi.Makassar
Adrian, peyne, (2000). Analisa Ekstraktif Tumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat”. Pusat
Penelitian. Universitas Negeri Andalas.
K.Heyne.(1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Edisi III. Yayasan sarana Warna Jaya.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Voight, R.( 1984). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Noerono, S. Edisi V.
UGM Press, Yogyakarta.
Pemila, R. (2007). Perawatan luka: Moist wound healing. Kti. Program magister keperawatan
UI, Jakarta.

Adeyemi, O.S., M.L. Sykes, M.A. Akanji, & V.M. Avery. 2011. Anti-trypanosomal and
cytotoxic activity of ethanolic extracts of Psidium guajava leaves in Alamar Blue based
assays. Veterinarski Arhiv 81 (5) : 623-633

Adnyana, I.K., E. Yulinah, J.I. Sigit, N.Fisheri, & M. Insanu. 2004. Efek Ekstrak Daun Jambu
Biji Daging Buah Putih dan Jambu Biji Daging Buah Merah Sebagai Antidiare. Acta
Pharmaceutica Indonesia Vol. XXIX (1) : 19-27.

Allo, I.G., P.M. Wowor, & H. Awaloei. 2013. Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji
(Psidium guajava) Terhadap Kadar Kolestrol Total Tikus Wistar (Rattus norvegicus).
Jurnal e-Biomedik (eBM) 1(1) : 371-378.

Ariani, S.R.D., E. Susilowati, E. Susanti, & Setiyani. 2008. Uji Aktivitas Ekstrak Metanol Daun
Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Antifertilitas Kontrasepsi pada Tikus Putih
(Rattus norvegicus. Indo. J. Chem. 8(2) : 264-270.