Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

“CARA STERILISASI”

Kelompok 3

Disusun Oleh:

1. Nadiyah Windasaputri (15040078)


2. Lia Apriliani (15040079)
3. Fina Farjriah ` (15040080)
4. Nur’afifah Husniah Fadlah (15040081)
5. Sella Febrillika S. (15040082)
6. Cyndi Maulidia M. (15040083)
7. Novi Mayangsari (15040084)

SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH TANGERANG

2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga Laporan Praktikum Formulasi Teknologi Sediaan


Steril ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk
kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan Laporan Praktikum
Formulasi Teknologi Sediaan Steril ini.

Tangerang, 6 maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

I. TUJUAN …………………………………………………… 1

II. TUGAS …………………………………………………… 1

III. DASAR TEORI …………………………………………………… 1

A. Wadah dan Cara Sterilisasi ……………………………………. 4

B. Sterilisasi ruangan …………………………………………… 5

IV. ALAT DAN BAHAN …………………………………………… 6

V. CARA KERJA …………………………………………… 7

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………… 8

a. Hasil Pengamatan …………………………………………… 8

b. Pembahasan …………………………………………… 9

VII. PENUTUP ………………………………………….... 10

A. Kesimpulan …………………………………………… 10

B. Saran …………………………………………… 11

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………… 12

LAMPIRAN …………………………………………… 13

ii
PRAKTIKUM I
CARA STERILISASI

I. Tujuan
Mahasiswa dapat memahami dan melakukan sterilisasi alat yang akan
digunakan pada praktikum FTS Steril.
II. Tugas
Memahami dan melakukan sterilisasi pada alat praktikum
III. Dasar Teori
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup,
baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen/ non patogen (tidak
menimbulkan penyakit). Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk
terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang
termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat
irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral merupakan jenis sediaan yan g unik
diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui
kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien, yaitu membrane
kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan
dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang
tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus
dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah
kontaminasi fisik, kimia, atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang tersedia
sekarang ini yang benar-benar tidak reaktif, terutama dengan larutan air. Sifat
fisika dan kimia mempengaruhi kestabilan produk tersebut, tetapi sifat fisika
diberikan pertimbangan utama dalam pemilihan wadah pelindung adalah
polipropilen dan kopolimer polietilen – polietilen. Wadah terbuat dari berbagai
macam bahan, wadah plastik, wadah gelas, dan wadah dari karet. Wadah Gelas
masih tetap merupakan bahan pilihan untuk wadah produk yang dapat
disuntikkan. Gelas pada dasarnya tersusun dari silkon dioksida tetrahedron,
dimodifikasi secara fisika dan kimia dengan oksida – oksida seperti oksida

1
natrium, kalium, kalsium, magnesium, alumunium, boron, dan besi. Gelas yang
paling tahan secara kimia hampir seluruhnya tersusun dari silikon dioksida, tetapi
gelas tersebut relatif rapuh dan hanya dapat dilelehkan dan dicetak pada
temperatur tinggi (Lachman, 1994).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu
penggunaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila
panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas
lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas
kering atau sterilisasi kering. Sedangkan sterilisasi kimiawi dapat dilakukan
dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasdarkan pada sifat
bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, R. S., 1985).
Cara-Cara Sterilisasi Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV
1. Sterilisasi uap
Sterilisasi uap adalah proses sterilisasi termal yang menggunakan uap
jenuh dibawah tekanan selama 15 menit pada suhu 121°. Kecuali dinyatakan
lain, berlangsung di suatu bejana yang disebut autoklaf.
2. Sterilisasi panas kering
Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus Oven modern yang
dilengkapi udara yang dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang
dapat diterima di dalam bejana sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15°,
jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari 250°.
3. Sterilisasi gas
Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang dinetralkan
dengan gas inert, tetapi keburukan gas etilen oksida ini adalah sangat mudah
terbakar, bersifat mutagenik, kemungkinan meninggalkan residu toksik di
dalam bahan yang disterilkan, terutama mengandung ion klorida. Pemilihan
untuk menggunakan sterilisasi gas ini sebagai alternative dari sterilisasi
termal.
4. Sterilisasi dengan radiasi ion
Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari
radioisotop (radiasi gamma) dan radiasi berkas electron. Pada kedua jenis ini,

2
dosis yang menghasilkan derajat jaminan sterilisasi yang diperlukan harus
ditetapkan sedemikian rupa hingga dalam rentang satuan dosis minimum dan
maksimum, sifat bahan disterilkan dapat diterima. Walaupun berdasarkan
pengalaman dipilih dosis 2,5 megarad radiasi yang diserap, tetapi dalam
beberapa hal, diinginkan dapat diterima penggunaaan dosis yang lebih rendah
untuk peralatan, bahan obat dan bentuk sediaan akhir.
5. Sterilisasi dengan penyaringan
Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan
penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga
mikroba yang dikandungnya dapat dipisahkan secara fisik. Perangkat
penyaringan umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau
dikaitkan dengan wadah yang tidak permeable. Efektivitas penyaringan
media atau penyaringan substrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya
adsorpsi bakteri dari matriks dan mekanisme pengayakannya.
6. Sterilisasi dengan aseptic
Proses ini mencegah masuknya mikroba hidup kedalam komponen
steril atau komponen yang melewati proses antara yang mengakibatkan
produk setengah jadi atau produk ruahan atau komponennya bebas mikroba
hidup.
A. Wadah dan Cara Sterilisasi
1. Ampul
a. Ampul dicuci sekurang-kurangnya 3 kali, kemudian kering sampai
tidak ada sisa air di dalam ampul.
b. Setelag dicuci, ampul diletakkan dalam keadaan terbaring dalam
kaleng, lalu sterilkan dalam oven pada suhu 160°C selama satu jam.
Selama sterilisasi berlangsung tutup kaleng dibuka sedikit untuk
mengeluarkan uap air dengan mudah.
c. Setelah sterilisasi selesai kaleng ditutup terlebih dahulu dalam oven
dan setelah itu baru dikeluarkan. Dengan demikian ampul bukan saja
disterilisasikan tapi juga dikeringkan.
2. Vial
a. Vial dicuci dengan aqua dest yang disaring dengan filter gelas G3;
pencucian dan sterilisasi selanjutnya seperti yang tertera pada ampul.
3
b. Tutup vial karet dicuci lalu didihkan dalam aqua dest selama 30 menit.
Sebelum dipakai dikeringkan sebentar dalam oven (diletakkan dalam
kaca arloji yang ditutup dengan kaca arloji lainnya).
3. Botol infus
a. Setelah dicuci dengan bersih, botol infus dimasukkan kedalam kaleng
dan siterilkan pada suhu 160°C selama 1 jam.
b. Tutup boptol karet dicuci dan disterilkan seperti tutup vial karet yaitu
dengan cara dicuci lalu didihkan dalam aqua dest selama 30 menit.
Sebelum dipakai dikeringkan sebentar dalam oven (diletakkan dalam
kaca arloji yang ditutup dengan kaca arloji lainnya).
4. Tube dan tutup
a. Tube dicuci dengan aqua dest lalu diletakkan dalam keadaan terbaring
dalam kaleng (seperti sterilisasi ampul).
b. Tutup tube logam disterilkan seperti sterilisasi tube. Tutup tube plastic
direndam dalam alkohol 70% selama 24 jam dan dikeringkan sebentar
dalam oven sebelum dipakai.
5. Kaleng serbuk tabur, seal dan tutupnya
Setelah dicuci dengan aqua dest kaleng serbuk, seal dan tutupnya
dimasukkan kedalam kaleng dan disterilkan seperti sterilisasi ampul.

B. Sterilisasi ruangan
Tahapan proses untuk mendapatkan ruangan produksi steril bisa dilakukan cara:
1. Bersihkan lantai, dinding dan langit-langit dari debu dan kotoran. Hampir seluruh
benda-benda yang disterilkan harus secara fisik bersih terlebih dahulu sebelum
proses standar disteril dilakukan. Kontaminasi mikroba pada dasarnya dapat
dihilangkan melalui pembersih dengan menggunakan detergen dan air atau
dihancurkan dengan cara sterilisasi atau desinfektisasi. Pemberisahan dilanjutkan
dengan pengeringan terhadap permukaan hampir dapat dinyatakan efektif
sebagaimana halnya jika menggunakan desinfektisasi. Pembersih dilanjutkan
dengan pengeringan terhadap permukaan hampir dapat dinyatakan efektif
sebagaimana halnya jika menggunakan desinfektan.
2. Bersihkan lantai, dinding dan langit-langit dengan cairan desinfektan hingga
bebas mikroorganisme. Beberapa desinfektan yang banyak digunakan:
a. Alkohol : etil atau isopropyl alkohol (60-90%)
4
b. Halogen : Chlorine (Na.hipoklorit)
c. Glutaraldehid
d. Hidrogen peroksida
e. Formaldehid
f. Fenol
g. Campuran chlorhexidine dan cetrimide
3. Bersihkan udara dengan alat pengasapan (fogging) yang mengandung cairan air
borne disinfektan of surface
4. Sinari ruangan dengan ultraviolet minimal 24 jam
5. Setelah itu, ruangan ditutup dan dialiiri udara yang telah bebas mikroorganisme,
sehingga didapatkan clean area untuk produksi steril.

IV. Alat dan Bahan


1. Botol infus
2. Cawan petri
3. Pipet
4. Vial
5. Tube
6. Tabung reaksi
7. Beakerglass 50 ml
8. Erlenmeyer 100 ml
9. Kaleng serbuk tabur
10. Talk

V. Cara Kerja
Teknik Sterilisasi
1. Ampul
a. Ampul dicuci sekurang – kurangnya tiga kali, kemudian dikeringkan
sampai tidak ada sisai air didalam ampul.
b. setelah dicuci, ampul diletakkan dalam keadaan terbaring dalam kaleng,
lalu sterilkan dalam oven pada suhu 160°C selama 1 jam. Selama
sterilisasi berlangsung tutup kaleng dibuka sedikit untuk mengeluarkan
uap air dengan mudah.
c. Setelah sterilisasi selesai kaleng ditutup terlebih dahulu dalam oven dan
setelah itu baru dikeluarkan. Dengan demikian ampul bukan saja
disterilkan tapi juga dikeringkan.
2. Vial

5
a. Vial dicuci dengan aqua dest yang disaring dengan filter gelas G3,
pencucian dan sterilisasi selanjutnya seperti yang tertera pada ampul.
b. Tutup vial karet dicuci lalu dididihkan dalam aqua dest selama 30 menit.
Sebelum dipakai dikeringkan sebentar dalam oven (diletakkan dalam kaca
arloji yang ditutup dengan kaca arloji lainnya).
3. Botol Infus
a. Setelah dicuci bersih. Botol infus dimasukkan kedalam kaleng dan
disterilkan pada suhu 160°C selama 1 jam.
b. Tutup botol karet dicuci dan disterilkan seperti tutup vial karet yaitu
dengan cara dicuci lalu dididihkan dalam aqua dest selama 30 menit.
Sebelum dipakai dikeringkan sebentar dalam oven (diletakkan dalam kaca
arloji yang ditutup dengan kaca arloji lainnya).
4. Tube dan Tutup
a. Tube dicuci dengan aqua dest lalu diletakkan dalam keadaan terbaring
dalam kaleng (seperti sterilisasi ampul)
b. Tutup tube logam disterilkan seperti sterilisasi tube. Tutup tube plastik
direndam dalam alkohol 70% selama 24 jam dan dikeringkan sebentar
dalam oven sebelum dipakai.
5. Kaleng Serbuk Tabur, Seal dan Tutupnya
a. Setelah dicuci dengan aqua dest kaleng serbuk, seal dan tutupnya
dimasukkan kedalam kaleng dan disterilkan seperti sterilisasi ampul.
6. Sterilisasi Ruangan
a. Bersihkan lantai, dinding dan langit – langit dari debu dan kotoran.
Hampir seluruh benda – benda yang disterilkan harus secara fisik bersih
terlebih dahulu sebelum proses standar sterilisasi dilakukan. Kontaminasi
mikroba pada dasarnya dapat dihilangkan melalui pembersihan dengan
menggunakan detergen dan air atau dihancurkan dengan cara sterilisasi
atau desinfektisasi. Pembersihan dilanjutkan dengan pengeringan terhadap
permukaan hampir dapat dinyatakan efektif sebagaimana halnya jika
menggunakan desinfektan.
b. Bersihkan lantai, dinding dan langit – langit dengan cairan desinfektan
hingga bebas mikroorganisme. Beberapa desinfektan yang banyak
digunakan:
1) Alkohol : etil atau isopropyl alkohol (60-90%)
2) Halogen : Chlorine (Na. hipoklorit)
3) Glutaraldehid

6
4) Hidrogen peroksida
5) Formaldehid
6) Fenol
7) Campuran chlorhexidine dan cetrimide
c. Bersihkan udara dengan alat pengasapan (fogging) yang mengandung
cairan airborne disinfektan of surface
d. Sinari ruangan dengan ultraviolet minimal 24 jam
e. Setelah itu, ruangan ditutup dan dialiri udara yang telah bebas
mikroorganisme, sehingga didapatkan clean area untuk produksi steril

VI. Hasil dan Pembahasan


a. Hasil Pengamatan
 Botol infus

 ViaL

b. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan “cara sterilisasi alat” yang
bertujuan untuk mahasiswa dapat memahami dan melakukan sterilisasi alat
yang akan digunakan pada praktikum FTS Steril. Steril adalah suatu keadaan
dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen (menimbulkan
penyakit) maupun apatogen/ non patogen (tidak menimbulkan penyakit).
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang
7
bebas dari mikroorganisme hidup dan dapat dibuktikan melalui persyaratan
pada “pengujian terhadap sterilitas”. Kemasan steril menuntut kondisi yang
steril dalam hal persiapan maupun proses pembuatannya. Sterilisasi kemasan
ini digunakan terutama untuk sediaan steril dan bersifat mutlak, artinya
kemasan harus steril dan tidak bisa sedikit steril. Hal ini karena penggunaan
sediaan steril langsung menembus mekanisme pertahanan tubuh alami seperti
kulit dan mukus.
Pemilihan wadah juga harus dipertimbangkan karena wadah yang tidak
tepat dapat menyebabkan kontaminasi pada bahan atau zat aktif. Wadah yang
baik pada sediaan steril tidak boleh bereaksi dengan isi karena reaksi
dikhawatirkan akan menghasilkan zat lain yang dapat merusak khasiat obat,
wadah harus tahan suhu dan tekanan pada proses sterilisasi artinya tidak
mudah pecah atau meleleh, tahan terhadap penyimpanan atau tetap stabil,
serta transparan sehingga memudahakan untuk mengetahui partikel asing atau
adanya perubahan warna.
Praktikum kali ini kami melakukan sterilisasi terhadap alat botol infus dan
vial. Pertama-tama kami menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,
kemudian botol infus dan vial dicuci hingga bersih lalu dikeringkan dengan
cara dialasi tisu dan dalam keaadan dibalikan. Kemudian botol infus yang
akan di sterilisasi di bungkus dengan kertas coklat atau aluminium foil dan
pada praktikum kali ini kami menggunakan alumunium foil sebanyak dua
lapisan, kemudian diikat erat dengan tali atau benang. Selanjutnya vial (kami
menggunakan ukuran 10 ml) yang akan di sterilisasi dimasukan kedalam
beaker glass dengan posisi terbalik, kemudian beaker glass dibungkus dengan
menggunakan alumunium foil sebanyak dua lapisan kemudian diikat.
Setelah itu siapkan alat autoklaf, isi autoklaf dengan air sampai tanda batas
kemudian dimasukan alat yang akan di sterilisasi kedalam autoklaf. kemudian
ditata rapih agar uap air dapat menembus peralatan, kemudian ditutup rapat
dan diatur suhunya sampai suhu 121°C setelah suhu mencapai 121°C tunggu
selama 15 menit, usahakan suhu tetap konstan. Apabila suhu terlalu tinggi
turunkan suhu dengan cara dibuka katup untuk menurunkan suhu agar tetap
121°C kemudian matikan. Katup dibuka agar uap air didalamnya keluar.

8
Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum semua uap air keluar melalui katup
yang dibuka.
Dari hasil peraktikum didapat hasil pemanasan yaitu harus diperhatikan
disaat mengerjakannya, harus ditunggu selama bekerja dan hati-hati bila
mengurangi tekanan dalam autoclave (perubahan temperatur dan tekanan
secara mendadak dapat menyebabkan cairan yang disterillksn meletus dan
gelas gelas dapat pecah.

VII. Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Sterilisasi adalah metode untuk membebaskan/membunuh
mikroba hidup, baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun
apatogen/ non patogen (tidak menimbulkan penyakit).
Cara sterilisasi :
1. Botol infus : Cuci botol infus hingga bersih kemudian bungkus dengan
alumunium foil sebanyak 2 lapisan, diikat rapat. Masukan kedalam autoklaf
121oC selama 15menit.
2. Vial : cuci vial hingga bersih, masukan pada beakerglass dengan posisi
dibalik, bungkus beakerglass dengan alumunium foil 2 lapis ikat rapat.
Masukkan pada autoklaf dengan suhu 121oC selama 15menit..

b. Saran
Diharapkan untuk para praktikan lebih menjaga kondusifutas, alat
dilaboratorium lebih dilengkapi kembali dan untuk pendingin ruangan
ditambahkan agar praktikum lebih berjalan kondusif.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2008 . Ilmu Meracik Obat. UGM Press. Yogyakarta

DepKes. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta

DepKes.201. Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta

Lukas, Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. Penertib Buku Kedokteran EGC.Jakarta

10
Potter, P.A, Prerry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik, Edisi 4. Volume 2, Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk.
EGC. Jakarta

Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama.


Yogyakarta

Voight, R.,1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta

LAMPIRAN

11