Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM I

FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

“INFUS NACL”

Kelompok 3

Disusun Oleh:

1. Nadiyah Windasaputri (15040078)


2. Lia Apriliani (15040079)
3. Fina Fajriah ` (15040080)
4. Nur’afifah Husniah Fadlah (15040081)
5. Sella Febrillika S. (15040082)
6. Cyndi Maulidya M. (15040083)
7. Novi Mayangsari (15040084)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH

TANGERANG

2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga Laporan Praktikum Formulasi Teknologi Sediaan


Steril ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan Laporan Praktikum Formulasi Teknologi Sediaan Steril ini.

Tangerang, 13 maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

I. TUJUAN .............................................................................................. 1

II. TUGAS ................................................................................................ 2

III. DASAR TEORI .................................................................................. 2

A. Pengertian Infus ..................................................................... 3

B. Tipe-tipe Infus ......................................................................... 3

C. Tetapan Isotonis ...................................................................... 4

D. Golongan Injeksi ..................................................................... 4

E. Syarat-syarat Infus .................................................................. 5

F. Keuntungan Sediaan Obat ....................................................... 5

G. Kerugian Sediaan Infus ........................................................... 6

H. Fungsi Pemberian Infus .......................................................... 6

IV. ALAT DAN BAHAN .......................................................................... 10

V. CARA KERJA ..................................................................................... 10

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 13

A. Hasil Pengamatan .................................................................... 13

B. Pembahasan ............................................................................. 13

VII. PENUTUP ........................................................................................... 15

A. Kesimpulan ............................................................................ 15

B. Saran ........................................................................................

ii
PRAKTIKUM II

INFUS NACL

A. Tujuan
Mahasiswa dapat membuat sediaan infus NaCl dan melakukan uji untuk infus NaCl

B. Tugas
Pembuatan sediaan infus NaCl 0.9% sebanyak 100ml (perhitungan di tambahkan
20%)

C. Dasar Teori
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang
bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara
lain sediaan parenteral preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus).
Sediaan parenteral merupakan jenis sediaan yang unik diantara bentuk sediaan obat
terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikan melalui kulit atau membran mukosa
kebagian tubuh yang paling efisien, yaitu membran kulit dan mukosa, maka sediaan
ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta
harus memiliki tingkat kemurnin yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat
dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua
jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia atau mikrobiologis (Priambodo,
B., 2007).
Produk steril yang banyak di produksi di industri farmasi adalah dalam bentuk
larutan terbagi (ampul) dan bentuk serbuk padat siap untuk digunakan dengan
diencerkan terlebih dahulu dengan larutan pembawa (vial). Sediaan intradermal,
intramuscular (i.n), intra articular, dan inrtathecal. Bentuk sediaan sangat
mempengaruhi cara (rute) pemberian. Sediaan bentuk suspense, misalnya tidak akan
pernah diberikan secara intra vena yang langsung masuk kedalam pembuluh darah
Karen adanya bahaya hambatan kapiler dari partikel yang tidak larut, meskipun

1
2

suspense yang di buat telah diberikan dengan ukuran partikel dari fase dspersi yang di
control denagn hati-hati. Demikian pula obat yang diberikan secara intraspinal
(jaringan yang diotak), hanya bisa diberikan dengan larutan dengan kemurnian paling
tinggi, oleh karena sensifitas jaringan saraf terhadap iritasi dan kontaminasi.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspense atau serbuk yang di
larutan atau di suspensikan lebih dahulu sebelum di gunakan. Yang disuntikan
dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui selaput lendir. Injeksi
diracik dengan melarutkan mengemulsikan dan mengsuspensikan sejumlah obat
kedalam pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal
atau wadah dosis ganda (Depkes, 1979).
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100ml yang
diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Larutan infus intravena harus jernih dan praktis dan bebas partikel untuk
mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit. Menurut Farmakope edisi III infus
intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi , bebas pirogen dan sedapat
mungkin dibuat isotonis terhadap darah. Disuntikan langsung kedalam vena dengan
volume relatif lebih banyak . kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak
diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar. Larutan untuk infus intravena
harus jernih dan praktis bebas partikel. (Lukas, Samsuni .H.A.2006)
Terapi inteavena (IV) adalah menetapkan cairan steril melalui jarum, langsung
ke vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (natrium, kalsium,
kalium), nutrient (biasanya glukosa), vitamin atau obat Terapi intravena adalah
pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh, melalui sebuah jarum, kedalam pembuluh
vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan
dari tubuh (Brunner dan Sudarth, 2002).
Terapi intravena (IV) digunakan untuk memberikan cairan ketika pasien tidak
dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok, untuk memberikan garam yang
diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit, atau glukosa yang di
perlukan untuk metabolisme dan memberikan medikasi (Perry dan Potter, 2005).
Tipe – tipe Infus
1. Cairan hipotonik :
Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum konsentrasi ( ion Na+ lebih
rendah dibandingkan serum ) sehingga larut dalam serum dan menurunkan
osmositas serum
3

Contoh : NaCl 45% dan dekstrosa 2,5%


2. Cairan isotonik :
osmolaritas (tingkat kepekatan ) cairannya mendekati serum (bagian cair dan
komponen darah) sehingga terus berada dalam osmolaritas (tingkat kepekatan)
cairannya mendekati serum sehingga terus berada di dalam pemburuh darah.
Contohnya adalah cairan ringer-laktak (rl) dan larutan garam fisiologis (NaCl
0.9%)
3. Cairan hipertonik :
osmolaritas lebih tinggi dibandingkan serum sehingga menarik cairan dan
elektrolit dari jaringan sel kedalam pembuluh darah mampu menstabilakn tekanan
darah.
Contohnya : Dekstrose 5% , NaCl 4,5%, Hipertonik dektose 5% + ringer-laktak
dan lain lain (Termi dan Poter, 2005)

Tetapan isotonis

Osmolaritas (M/L) Tonisitas


>350 Hipertonis
329 – 350 Sedikit hipertonis
270 – 328 Isotonis
250 – 269 Sedikit hipotonis
0 – 249 Hipotonis
( Farmakope Edisi IV, 1995)

Golongan injeksi
1. Injeksi intrakutan atau intradermal (ic)
Biasanya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikan
sedikit (0,1-0,2 mL). digunakan untuk tujuan diagnosa.
2. Injeksi subkutan atau hipoderma (sc)
Umumnya larutan isotonus, jumlah larutan yang disuntikan tidak lebih dari1
mL. disuntikan kedalam jaringan dibawah kulit kedalam “alveola”, kulit mul-
mula diusap dengn cairan desinfektan (etanol 70%). Dapat ditambahkan
visokonstriktor seperti epinefrina 0,1% untuk melokalisir efek obat. Larutan
4

harus sedapat mungkin iotonus, sedang pHnya sebaiknya netral, maksudnya


untuk mengulangi iritasi jaringan dan mencegah kemungkinan terjadi nekrosis
(mengendornya kulit). Jika tidak disuntikan secara infus, volume Injeksi 3 Lt-
4 Lt sehari, masih dapat disuntikan secara subkutan dengan penambahan
hialuronidase kedalam injeksi atau jika sebelumnya disuntik hialuronidase.
3. Injeksi intramuscular (in)
Merupakan larutan atau suspense dalam air atau minyak atau emulsi.
Disuntikan masuk otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari
4mL. penyuntikan volume besar dilakukan perlahan-lahan untuk mencegah
rasa sakit, sedapat mungkin tidak lebih dari 4 mL. kedalam otot dada dapat
disuntikan sampai 200 mL, sedang otot lain volume yang disuntikan lebih
kecil.
4. Injeksi intravenous (iv)
Merupakan larutan dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi
yang dapat bercampur dengan air, volume 1 mL sampai 10 mL. larutan ini
biasanya isotonus atau hipertonus. Bila larutan hipertonus maka disuntikan
perlahan-lahan. Jika larutan yang diberikan banyak umumnya lebih dari 10
mL disebut infus, larutan diusahakan supaya isotonus dan diberikan dengan
kecepatan 50 tetes tiap menit dan lebih baik pada suhu badan.
Emulsi minyak-air dapat diberikan, asal ukuran butiran minyak cukup kecil
(emulsi mikro). Bentuk suspense atau emulsi maka tidak boleh diberikan
melalui intravena.
5. Injeksi intraarterium (ia)
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat
bercampur dengan air, volume yag disuntikan 1 mL-10 mL dan digunakan
apabila diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer.
6. Injeksi intrakor atau intrakardial (i.k.d)
Berupa larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, dan disuntikan
kedalam otot jantung atau ventrikulus.
7. Injeksi intratekal (i.t), intrastinal, intradural
Berupa larutan harus isotonus, sebab sirkulasi cairan cerebrofintal adalah
lambat, meskipun larutan anastetika sumsum tulang belakang sering
hipertonus larutan harus hipertonus. Lrutan harus benar-benar steril, bersih
sebab jaringan saraf daerah anatomi disini sangat peka.
5

8. Injeksi intrakulus
Berupa larutan atau suspensi dalam air yang disuntikan kedalam cairan sendi
dalam rongga sendi.
9. Injeksi subkonjungtiva
Berupa larutan atau suspense dalam air yang untuk injeksi selaput lendir mata
bawah, umumnya tidak lebih dari 1mL.
10. Injeksi yang digunakan lain :
a. Intraveritoneal (ip) disuntikan langsung kedalam rongga perut,
penyerapan cepat, bahanya infeksi besar dan jarang dipakai.
b. Periduraln (p.d) ekstradural, disuntikan kedalam ruang epidural, terletak
diatas durameter, lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang
belakang.
c. Intrasisteral (i.s) disuntikan kedalam saluran sumsum tulang belakang
pada otak.

Syarat – syarat infus


1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan dan efek toksik
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat
3. Tidak berwarna
4. Sedapat mungkin isohidris , PH larutan sama dengan darah dan cairan tubuh
lain yakni 7,4
5. Sedapat mungkin isotonic, artinya mempunyai tekanan osmosis yang sama
dengan darah dan cairan tubuh lain
6. Harus stereil, aratinya bebas dari mikroorganisme
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen menyebabkan
demam (Voight, 1995)

keuntungan Sediaan Obat

1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat


2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
3. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan koma
4. Kerusakan obat dalam gastrointestinal dapat dihindarkan
(Voight, 1995)
6

Kerugiaan sediaan infus

1. Rasa nyeri saat disuntikan


2. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki
3. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril dikarenakan pernyaratan yang
harus dipenuhi (Steril, bebas pirogen, jernih, praktis dan bebas partikel)
(Voight, 1995)

Fungsi pemberian infus


1. Dasar nutrisi, kebutuhan kalori untuk pasien dirumah sakit
2. Keseimbangan elektrolit digunakan pada pasien shock, diare, mual, muntah
3. Pengganti cairan tubuh (dehidrasi)
4. Pembawa obat-obat .
Contohnya seperti Antibiotik
(Voight, 1995)

D. Praformulasi
a. Tinjauan Farmakologi
1. Indikasi
- Sebagai elektrolit tubuh yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan
cairan tubuh
- Pengaturan definisi fari Na+ dari CL- pada kondisi electronic salt – losing
2. Kontraindikasi
- Penderita hipertensi gagal jantung, peripheral / pulmonary dan penurunan
penurunan fungsi ginjal
3. Efek samping
- Hypernatremia yang berlanjut pada dehidrasi otale, nausea, diare, kram
perut, pengurangan air liur, takikardia dan lainnya.
-
b. Sifat Fisikakimia bahan obat
1. Kelarutan NaCl (Natrium Klorida)
Mudah larut dqalam air ; sedikit lebih mudah larut dalam etanol, air mendidih
; larut dalam gliserin ; sukar larut dalam etanol – 1: 2,8 dalam air ; 1 : 2,7
7

dalam air hangat , 1: 10 dalam gliserol, sedikit larut dalam alkohol, 1: 250
dalam etanol (Kemenkes, 2014)
2. Stabilitas dan pH
Stabilitas : stabil dalam bentuk larutan, tidak stabil dalam bentuk cahaya,
stabil teerhadap suhu pada pemanasan akan meningkat (Kemenkes, 2014)
pH : antara 4,5 dan 7,0 (Kemenkes, 2014)
3. Pemerian NaCl (Natrium Klorida)
NaCl mengandung tidak kurang dari 99.0% dan tidak lebih dari 101% dihitung
terhadap zat yang telah dikeringkan
Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur, rasa
asin (Kemenkes, 2014).

c. Sterilisasi bahan
Sediaan disterilkan dengan car pemisahan basah (autoclave) pada suhu 121 C
selama 15 menit.
Larutan NaCl 0,9% sudah isotonis, sediaan harus isotonis karena apabila larutan
hipertonis maka sel / jaringan akan mengkerut dan jika larutan hipotonis maka sel
/ jaringan akan mengembang.

d. OTT (inkompatibilitas)
Larutan NaCl korosif terhadap besi, bereaksi dengan Ag dan timah hitam, garam
merkuri

e. Cara penggunaan
Lebih dari 0,9% . injeksi intravena 3 – 5 % dalam 100ml selama 1 jam injeksi
NaCl mengandung 2,5 – 4 mEq/ ml . Na+ dalam p – plasma 135 – 145 mEq/ L
Dosis NaCl untuk IV didasarkan pada faktor umur, berat badan, kondisi klinis
dari pasien dan kasusnya pasien yang mengalami dehidrasi untuk kondisi
kekurangan Na yang parah dibutuhkan 2 – 3 NaCl 0.9% diberikan selama 2 – 3
njam secara IV perlahan – lahan.
8

E. Formulasi
a. Permasalahan dan penyelesaian

- Permasalahan
1. Sediaan infus harus steril
2. pH sesuai dengan pH tubuh
3. sediaan steril tidak boleh mengandung pirogen dan isotonis
4. tidak boleh hipotonis
5. sterilisasi akhir dengan menggnakan autoklaf
6. terjadi pemisahan partikel kaca dari gelas

Penyelesaian :

1. tujuan sediaan infus harus steril karena berhubungan langsung dengan


darah atas cairan tubuh lainnya yang pertahananya terhadap zat asing tidak
selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal diharapkan dengan
kondisi steril dapat menghindari adanya infeksi sekunder.
2. Tujuan dari pengecekan pH dalam sediaan injeksi adalah untuk
mempertinggi stabilitas, sehingga obat-obat tersebut tetap mempunyai
aktivitas dan potensi. pH darah normal adalah 7,35-7,45 sehingga bila
sediaan parenteral volume besar mempunyai pH diluar batas maka akan
menyebabkan masalah pada tubuh. Pengecekan pH menggunakan pH
meter.
3. Pirogen adalah hasil metabolisme dari mikroorganisme yang menyebabkan
demam. Ditambahankan norit 0,1% pada saat pembuatan agar terbebas dari
pirogen.
Sediaan steril harus isotonis karena apabila larutan hipertonis maka
sel/jaringan akan mengkerut dan apabila larutan hipotonis makan
sel/jaringan akan mengembang. Batas yang diizinkan = 0,7%-1,4% Nacl.
4. Jika larutan hipotonis diinjeksikan kedalam darah maka air akan melintasi
membran semi permeabel akibatnya akan terjadi peningkatan volume
dalam darah (hemolisis).
5. Sterilisasi sediaan infus Nacl 0,9% dengan menggunakan sterilisasi dengan
uap bertekanan (Autoklaf) dengan suhu 1210C selama 15 menit.
9

6. Digunakan wadah plastik 1 gelas yang cocok sehingga tidak terjadi


pemisahan partikel kaca.

b. Formula yang akan dibuat


 R/ Nacl 0,9%

Aquadest ad 100 ml

Perhitungan :

1. Nacl = 0,9% x 100 ml


= 0,9gr/100ml x 100 ml = 0,9 gr
= 0,9gr + (0,9gr x 20%)
= 0,9 gr + 0,18 gr
= 1,08 gr

2. Aquadest ad 100 ml
= 100 ml + (100 ml x 20%)
= 100 ml + 20 ml
= 120 ml

Aquadest ad 120 ml

 Perhitungan Isotonis
Metode penurunan titik beku
Diketahui : b1 (Nacl) = 0,576

b2 (Nacl) = 0,576

C = 0,9%

Ditanya : B....?
10

Jawab :

B = 0,52 – (b1.C)
b2

= B = 0,52 - (b1 . C)

b2

= 0,52 – (o,576 . 0,9%)

0,576

= 0 gram/100 ml

c. Perhitungan dan penimbangan


NO Nama Bahan Penimbangan

1. Nacl (Natrium Klorida) 1,08 gr

2. Aquadest ad 120 ml
= 120 ml – (1,08 gr)
= 119, 82 ml

d. Cara Kerja

1. Metode Sterilisasi
Menggunakan metode sterilisasi akhir karena sediaan stabil terhadap
pemanasan. Sterilisasi akhir menggunakan autoklaf pada suhu 121°C
selama 15 menit.
11

2. Pembuatan Aquadest Bebas Pirogen


a. Ukur sejumlah aqua dest.
b. Tambahkan dengan karbon adsorben sebanyak 0,1% dari volume air.
c. Panaskan diatas api bunsen pada suhu 60-70°C selama 15 menit
sambil sesekali diaduk.
d. Saring dengan kertas saring.
e. Letakkan dalam wadah tertutup rapat.
3. Prosedur Pembuatan Infus
a. Timbang NaCl menggunakan spatel dan kaca arloji dan masukkan ke
dalam erlenmeyer.
b. Tuangkan aqua destilata untuk melarutkan NaCl dan bilas kaca arloji.
c. Gerus karbon aktif dan timbang sejumlah 0,1% b/v dan masukkan ke
dalam Erlenmeyer, aduk, kemudian tambahkan aquadest hingga 120
ml.
d. Tutup erlenmeyer dengan alumunium foil dan sisipi dengan batang
pengaduk.
e. Panaskan larutan diatas api bunsen pada suhu 60-70°C selama 15
menit sambil sesekali diaduk, cek suhu dengan termometer, lakukan
diluar lemari steril.
f. Lipat kertas saring rangkap 2, basahi dengan aquadest bebas pirogen.
g. Saring larutan hangat – hangat ke dalam erlenmeyer steril.
h. Pindahkan ke gelas ukur dan ukur volumenya 100 ml kemudian
pindahkan ke botol infus, tutup dengan alumunium foil, ikat dengan
tali.
i. Lakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf.
j. Buat kemasan dan lakukan uji (Uji kebocoran, uji pH, uji kejernihan
dan warna, uji volume).
12

e. Cara sterilisasi

CARA
NO. NAMA ALAT UKURAN JUMLAH STERILISASI WAKTU
DAN SUHU
1. Kaca arloji 5cm : 8 cm 2:2
2. Beaker glass 50 ml 1
3. Beaker glass 100ml 2
4. Beaker glass 250 ml 2
5. Erlenmeyer 100 ml 1
6. Erlenmeyer 250 ml 4
7. Pengaduk Standar 2 Oven 250 c 30 menit
8. Pinset Standar 4
9. Tara dan wadah Standar 1 set
10. Anak timbangan Standar 1 set
11. Sendok logam Standar Standar
12. Botol infus 100 ml 1
13. Tutup botol infus Standar 1 Autoclave 115 c 30 menit
14. Corog dan kertas 5 cm 1
saring
15. Pipet tetes Panjang 4 Autoclave 115 c 30 menit
16. Pipet tetes Pendek 4
17. Gelas ukur 25 ml 1
18. Gelas ukur 100 ml 1
19. Gelas ukur 250 ml 1
20. Aquadest 200 ml 1 Autoclave 121 c 15 menit
21. Thermometer 100 c 1 Sudah steril -
22. stopwatch standar 1 Sudah steril -
23.
24.
13

f. Cara evaluasi
Uji fisika
1. Uji organoleptis
Pengujian infus normal 0,9% meliputi bau dan warna sediaan. Selain
itu juga diperiksa kelengkapam etiket, brosur dan penandaan pada
kemasan
2. Penetapan pH
Pengecekan pH larutan dan dilakukan dengan menggunakan pH meter
atau ketas indicator universal
3. Uji kejernihan
Uji kejernihandilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh
seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar dibawah penerangan
cahaya yang baik dan putih dijalankan dengan suatu aksi memutar,
harus benar – benar bebas dari partikel kecil
4. Uji kebocoran
Uji kebocoran dilakukan dengan membalikan botol sediaan infus
dengan mulut botol menghadap kebawah. Diamati ada tidaknya cairan
yang keluar menetes dari botol
5. Bahan particular dalam injeksi
Bahan particular merupakan zat asing, tidak larut dan melayang,
kecuali gelombang gas yang tanpa sengaja ada dalam larutan
parenteral.

F. Hasil dan Pembahasan


a. Hasil
14

b. Pembahasan
Pada praktikum formulasi dan teknologi sediaan steril kali ini , kami membuat
sediaan infus NaCL 0,9%. Sediaan akan diberikan secara intravena dan langsung
menuju cairan tubuh tanpa melewati sawar membran, maka sediaan infus harus
dibuat harus steril dan terbebas dari partikel serta pirogen.
Pembuatan sediaan infus NaCL 0,9%, yang pertama kami lakukan adalah
sterilisasi alat yang akan digunakan pada praktikum kali ini, meliputi botol infus,
tutup botol infus, gelas ukur, beaker glass, erlenmeyer, batang pengaduk, dan
kertas saring. Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu
121°C selama 15 menit. kecuali tutup botol infus. Tutup botol infus disterilisasi
dengan cara direbus dengan aqua dest selama 30 menit.
Setelah semua alat di sterilisasi, kami membuat aquadest bebas pirogen
dengan cara melarutkan carbo adsorben dalam aquadest sebanyak 0,1% dari
volume air lalu dipanaskan pada suhu 60-70°C selama 15 menit tujuannya adalah
agar pasien tidak mengalami demam setelah disuntikan infus NaCl karena
pirogen adalah produk mikroorganisme yang bekerja sebagai antipiretik yaitu
menaikan suhu tubuh.
Setelah itu, dilakukan penimbangan NaCl menggunakan spatel dan kaca arloji
sebanyak 1,08 g dan membawa semua alat yang sudah disterilisasi kedalam lab
steril. Hal pertama dilakukan ketika berada di dalam lab steril yaitu memakai baju
steril dan peralatan yang telah disediakan kemudian nyalakan LAF lalu masukan
NaCl kedalam erlemeyer selanjutnya kami menuangkan aquadest untuk
melarutkan NaCl dan bilas kaca arloji lalu kemudian tambahkan karbon aktif
sebanyak 0,12 g masukan kedalam erlemeyer. Aduk, kemudian tambahkan
aquadest hingga 120 ml setelah dimasukan kedalam erlemeyer tutup dengan
alumunium foil dan sisipkan dengan batang pengaduk, kemudian panaskan
larutan diatas api Bunsen pada suhu 60-700C selama 25 menit sambil sesekali
diaduk, lakukan diluar lemari steril. Kemudian lipat kertas saring rangkap 2,
basahi dengan aquadest bebas pirogen. Lalu saring larutan hangat-hangat kedalam
erlemeyer steril. Pindahkan ke gelas ukur volumenya 100 ml. kemudian
pindahkan kebotol infus, tutup dengan alumunium foil lalu ikat dengan tali
15

lakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf. Setelah itu kami melakukan 3 pengujian
yaitu Uji kebocoran, uji pH dan uji kejernihan.
Yang pertama kami lakukan adalah uji kebocoran dengan mencelupkan botol
cairan infus secara terbalik dan celupkan pada larutan metilen blue, bila botol
infus mengalami kebocoran maka larutan akan masuk kedalam botol infus dan
akan berubah warna menjadi biru. Hasil uji kebocoran menunjukan bahwa botol
infus kami tidak mengalami kebocoran dikarenakan tidak terjadi perubahan
warna pada botol infus. Uji kedua yaitu uji pH dengan menggunakan kertas
lakmus hasil menunjukan setelah dicelupkan dalam kertas lakmus memiliki pH
yang netral. didapatkan hasil yaitu netral, setelah kami menguji pH kami juga
melakukan uji kejernihan yang kami dapat pada uji ini adalah tidak jernih dan
terdapat partikel didalamnya, pada saat uji warna dan uji volume kami tidak
melakukannya.

G. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat di simpulkan berdasarkan uji sterilisasi yang telah
dilakukan sediaan yang kami buat lulus uji kebocoran dan memiliki pH netral serta
tidak memenuhi syarat kejernihan dikarenakan terdapat partikel di dalam larutan infus
dan kurangnya pemantauan untuk pengujian sterilisasi lebih lanjut, maka sediaan
infus NaCl 0,9% yang telah dibuat belum layak diproduksi dalam skala besar.

H. Saran
Diharapkan untuk para praktikan lebih menjaga kondusifitas, alat dilaboratorium lebih
dilengkapi kembali dan untuk pendingin ruangan ditambahkan agar praktikum lebih
berjalan dengan kondusif.
16

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2008 . Ilmu Meracik Obat. UGM Press. Yogyakarta

DepKes. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta

DepKes.201. Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.


Jakarta

Lukas, Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. Penertib Buku Kedokteran EGC.Jakarta

Potter, P.A, Prerry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik, Edisi 4. Volume 2, Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk. EGC. Jakarta

Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama. Yogyakarta

Voight, R.,1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta


17

LAMPIRAN

A. Kemasan Produk
a. Kardus Infus Steril
18

b. Brosur Infus NaCl 0,9 %


19

c. Etiket Infus NaCl 0,9 %

B. Proses Pembuatan Infus NaCl 0,9%


20