Anda di halaman 1dari 31

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

“ BEDAH SARAF (VP SHUNT) ”

Disusun oleh :
ANDRI FARRIZQI 20146310174
ANJAS ASMARA 20146310214
DWI PUTRI ASTUTI 20146320194
ENDANG DEWI LESTARI 20146320215
MOHAMAD FAQIH NORHUDA 20146320220
MISTIANA 20146320182
RAMADHANTI 20146310212
RIZKA JAMARA 20146320240
SYARIFAH DESTI PRATIWI 20146320186

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KEPERAWATAN SINGKAWANG
PRODI DIV KEPERAWATAN
TAHUN 2017/2018

1
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami ucapkan, karena atas
pengetahuan dan ilmu yang telah di anugerahkan-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah Bedah Saraf (VP Shunt ) dengan baik.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna dan
dapat memberikan pengetahuan tambahan bagi pembaca dimasa yang akan
datang, serta sebagai bahan referensi bagi mereka yang membutuhkan informasi.
Kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami
dalam menyusun makalah ini, terutama kepada Dosen-dosen pengajar dalam
mata kuliah Keperawatan perioperatif
Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan oleh karena
itu, kami mengharapkan masukan berupa saran dan kritik yang bersifat
membangun agar lebih baik lagi.

Singkawang, Oktober 2017

Penulis

Kelompok 1

i
Daftar Isi
Kata Pengantar ..................................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 4
A. Pengertian ............................................................................................................... 4
B. Tujuan ..................................................................................................................... 4
C. Indikasi.................................................................................................................... 9
D. Kontraindikasi ......................................................................................................... 9
E. Komplikasi .............................................................................................................. 9
F. Persiapan Pasien.................................................................................................... 12
G. Persiapan Alat ....................................................................................................... 16
H. Alat-Alat, Gambar dan Kegunaan ......................................................................... 18
BAB III ............................................................................................................................. 27
PENUTUP ........................................................................................................................ 27
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 27
B. Saran ..................................................................................................................... 27
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 28

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembedahan pada otak, sumsum tulang belakang, dan saraf secara
umum dapat digambarkan sebagai bedah saraf. Bedah saraf, seperti yang juga
dikenal, bekerja pada gangguan dari sistem saraf. Kondisi yang mungkin
memerlukan bedah saraf termasuk trauma kepala, yang mungkin timbul
sebagai akibat dari patah tulang tengkorak. Tumor otak dan tumor tulang
belakang, saraf tulang belakang dan saraf perifer juga mungkin memerlukan
penghapusan oleh seorang ahli bedah saraf yang terlatih.

Ventriculoperitoneal Shunt adalah prosedur pembedahan yang


dilakukan untuk membebaskan tekanan intrakranial yang diakibatkan oleh
terlalu banyaknya cairan serbrospinal (hidrosefalus). Suatu penelitian yang
dilakukan di India, menggunakan sampel 24 anak dengan hidrosefalus
congenital dengan VP shunt menunjukkan hanya 8 anak (33,3%) yang
memiliki perkembangan psikologi yang mendekati normal. Perkembangan
psikologi di sini dinilai berdasar perkembangan motorik, bahasa, kemampuan
adaptasi, dan fungsi social.
Penelitian di spanyol, dengan subyek dua puluh tiga penderita
hidrosefalus menunjukkan perubahan neuropsikologi setelah enam bulan
pemasangan VP shunt. Peningkatan neuropsikologi secara statistic signifikan
terutama pada verbal dan memori visual, unilateral motor coordination,
kecepatan, serta peningkatan perhatian dan mental. Pada gambar di bawah ini,
dapat dilihat bahwa peningkatan paling signifikan adalah pada trial making
test, yang digunakan untuk mengukur fungsi lobus frontalis. Fungsi lobus
frontalis adalah untuk perhatian dan fleksibilitas kognitif ( kemampuan untuk
memodifikasi aktifitas yang sedang berjalan atau mempertahankan 2 ide pada
waktu yang sama.)

1
Pada sebelas orang pasien (47,8%) dua atau lebih tes yang gagal pada
penilaian sebelum operasi mendapat nilai normal setelah terapi. Walaupun
pada dua pasien (8,7%) dua atau lebih tes yang sebelumnya normal, menjadi
terganggu setelah terapi, tidak ada bukti perburukan kognitif. Sedangkan pada
10 pasien lainnya tidak terdapat perubahan signifikan setelah terapi.
Untuk itu penulis tertarik menulis makalah ini sebagai hasil diskusi
kelompok mengingat pentingnya ilmu bedah syaraf khususnya instrument Vp
Shunt yang akan dibahas di dalam makalah ini sebagai bahan kajian dan
diskusi dalam pemenuhan mata kuliah perioperatif.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan maalah pada makalah ini adalah

1. Apakah pengertian dari Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt) ?


2. Apakah tujuan dari pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt) ?
3. Apa saja indikasi dari pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt) ?
4. Apa saja kontraindikasi dari pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp
Shunt) ?
5. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi dari pemasangan Ventriculoperitoneal
Shunt (Vp Shunt) ?
6. Apa saja yang perlu dipersiapkan dari pasien sebelum pemasangan
Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt) ?
7. Apa saja alat yang perlu dipersiapkan untuk pemasangan Ventriculoperitoneal
Shunt (Vp Shunt) ?
8. Bagaimana contoh alat beserta gambar yang digunakan untuk pemasanagan
Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt) beserta kegunaannya ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulsan makalah ini adalah

1. Untuk menjelaskan pengertian dari Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt).


2. Untuk menjelaskan tujuan dari pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp
Shunt).

2
3. Untuk menjelaskan indikasi dari pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp
Shunt).
4. Untuk menjelaskan kontraindikasi dari pemasangan Ventriculoperitoneal
Shunt (Vp Shunt).
5. Untuk menjelaskan komplikasi yang dapat terjadi dari pemasangan
Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt).
6. Untuk menjelaskan persiapan pasien ang perlu dipersiapkan sebelum
pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt).
7. Untuk menjelaskan alat yang perlu dipersiapkan untuk pemasangan
Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt).
8. Untuk menjelaskan alat, gambar beserta kegunaan dari alat yang digunakan
dalam pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (Vp Shunt).

3
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pembedahan pada otak, sumsum tulang belakang, dan saraf secara
umum dapat digambarkan sebagai bedah saraf. Bedah saraf, seperti yang juga
dikenal, bekerja pada gangguan dari sistem saraf. Kondisi yang mungkin
memerlukan bedah saraf termasuk trauma kepala, yang mungkin timbul
sebagai akibat dari patah tulang tengkorak. Tumor otak dan tumor tulang
belakang, saraf tulang belakang dan saraf perifer juga mungkin memerlukan
penghapusan oleh seorang ahli bedah saraf yang terlatih.

Ventriculoperitoneal Shunt adalah prosedur pembedahan yang


dilakukan untuk membebaskan tekanan intrakranial yang diakibatkan oleh
terlalu banyaknya cairan serbrospinal (hidrosefalus). Cairan dialirkan dari
ventrikel di otak menuju rongga peritoneum. VP-Shunt adalah tindakan
memasang selang kecil yang menghubungkan ventrikel ( ruang di dalam otak
) dan peritoneal (ruang di dalam perut ). VP Shunt adalah tindakan pemasangan
kateter silikon yang dipasang dari ventrikel otak ke peritonium dimana kateter
dilengkapi klep pengatur tekanan dan mengalirkan CSS (cairan serebro spinal) satu
arah yang kemudian diserap oleh peritonium dan masuk ke aliran darah (Maliawan,
2007).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pemasangan Ventrikuloperitoneal adalah:
1. Untuk membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas

drainase.

2. Untuk mengalirkan cairan yang diproduksi di dalam otak ke dalam

rongga perut untuk kemudian diserap ke dalam pembuluh darah.

Melangsir (Shunting) terdiri dari tiga komponen yaitu :


1. Pipa Ventricular ke dalam saluran tubuh adalah suatu tabung kecil yang
fleksibel yang masuk di dalam salah satu rongga dimana CSF sedang
ditahan.

4
2. Suatu klep dan reservoir adalah suatu pompa kecil yang mengatur jumlah
cairan CSF.
3. Pipa Distal ke dalam saluran tubuh adalah tabung fleksibel lain yang akan
mengambil cairan untuk di salurkan pada bagian tubuh yang akan
menyerap cairan tersebut.

Gambar 2. Prosedur Pemasangan VP-Shunt pada hidrosefalus


Terapi definitif hidrosefalus “gold standard” adalah VP shunting
menggunakan kateter silikon dipasang dari ventrikel otak ke peritonium.
Kateter dilengkapi klep pengatur tekanan dan mengalirkan CSS satu arah yang
kemudian diserap oleh peritonium dan masuk ke aliran darah. Bisa terjadi
bermacam-macam komplikasi, seperti; diskoneksi komponen alat, alat yang
putus, erosi alat ke kulit atau organ perut, over shunting, under shunting,
buntu di proksimal atau distal, letak alat tidak pas, perdarahan subdural, dan
infeksi. Menurut Shermann, dkk. (2007) komplikasi pada bulan pertama
mencapai 25-50%, setelah itu, pertahun 4-5 % dan setiap komplikasi berarti
harus dilakukan revisi. Setiap VP shunting memiliki kemungkinan risiko revisi
sekitar 3 kali dalam 10 tahun pasca operasi.

5
 Pemasangan vp shunt

Ventriculoperitoneal atau mengalirkan aliran cairan otak menuju


rongga peritoneum.

1. Posisikan kepala pasien supine dengan 15 – 30 derajat head up, setelah itu
persiapan lain meliputi penggambaran pola, disinfeksi dsb kemudian diincisi
scalp.

2. Shunt kateter yang telah diukur atau selang khusus disiapkan

3. Setelah di burr hole (melubangi tengkorak dengan bor khusus), pasang pada
area yang telah ditentukan tersebut

6
4. Untuk lebih jelasnya kita lihat dalamnya otak sebagai berikut, jadi diletakkan
dimasukkan melalui ventrikel bagian lateral atau luar

5. Posisi kateter mengenai ventrikel lateral

7
6. kateter disipkan/ditelakkan di bawah kulit

7. Kateter itu diletakkan di bawah peritoneum

8
Pada prinsipnya aliran otak yang diproduksi oleh plexus
choroidalis berkisar 400-500 ml per hari, sehingga sumbatan pada aliran
tersebut dapat membuat gangguan pada otak. Dengan konsep sederhana ini
penderita dapat tertolong bahkan hingga usia dewasa.

C. Indikasi
 Hidrosefalus (Indikasi Utama)
 Megaensefali
 Hidranensefali
 Cairan subdural (subdural effusion)
 Brainstem Gliomas
 Craniopharyngioma
 Epidural Hematoma
 Frontal and Temporal Lobe Dementia
 Frontal Lobe Syndromes
 Glioblastoma Multiform
 Meningioma
 Mental Retardation
 Oligodendroglioma
 Primary CNS Lymphoma
 Pseudomotor Cerebri
 Subdural Empyema

D. Kontraindikasi
1. Pertonitis
2. Meningitis
3. Trombositopenia ( < 50.000 )
4. masa pembekuan memanjang
5. Ada luka terbuka dekat lokasi insersi
6. imunosupressi

E. Komplikasi
Sejumlah komplikasi dapat terjadi setelah pemasangan
ventriculoperitoneal shunt untuk manajemen hidrosefalus. Komplikasi ini
termasuk infeksi, blok, subdural hematom, ascites, CSSoma, obstruksi

9
saluran traktus gastrointestinal, perforasi organ berongga, malfungsi, atau
migrasi dari shunt. Migrasi dapat terjadi pada ventrikel lateralis,
mediastinum, traktus gastrointestinal, dinding abdomen, vagina, dan
scrotum.

 Infeksi
Infeksi shunt didefinisikan sebagai isolasi organisme dari cairan
ventrikuler, selang shunt, reservoir dan atau kultur darah dengan gejala dan
tanda klinis menunjukkan adanya infeksi atau malfungsi shunt, seperti
demam, peritonitis, meningitis, tanda-tanda infeksi di sepanjang jalur selang
shunt, atau gejala yang tidak spesifik seperti nyeri kepala, muntah,
perubahan status mental dan kejang.
Infeksi merupakan komplikasi yang paling ditakutkan pada
kelompok usia muda. Sebagian besar infeksi terjadi dalam 6 bulan setelah
prosedur dilakukan. Infeksi yang terjadi biasanya merupakan bakteri
staphylococcus dan propionibacterial. Infeksi dini terjadi lebih sering pada
neonatus dan berhubungan dengan bakteri yang lebih virulen seperti
Escherichia coli. Shunt yang terinfeksi harus dikeluarkan, CSS harus
disterilkan, dan dilakukan pemasangan shunt yang baru. Terapi shunt yang
terinfeksi hanya dengan antibiotik tidak direkomendasikan karena bakteri
dapat di tekan untuk jangka waktu yang lama dan bakteri kembali saat
antibiotik diberhentikan.

 Subdural hematom
Subdural hematom biasanya terjadi pada orang dewasa dan anak-anak
dengan perkembangan kepala yang telah lengkap. Insiden ini dapat dikurang
dengan memperlambat mobilisasi paska operasi. Subdural hematom diterapi
dengan drainase dan mungkin membutuhkan oklusi sementara dari shunt

Terapi Komplikasi

 Antibiotik sesual hasil kultur


 External Ventricular Drainage
 Mengangkat shunt

10
Terapi pada infeksi shunt hanya dengan antibiotik tidak direkomendasikan
karena meskipun bakteri dapat ditekan untuk jangka waktu tertentu, namun
bakteri akan kembali berkembang setelah pemberian antibiotik dihentikan. Pada
pasien ini dilakukan eksternisasi selang VP shunt yang berada di distal,
selanjutnya dilakukan pemasangan ekstraventricular drainage, serta pemberian
antibiotik sesuai hasil tes sensitivitas bakteri. Hal ini dilakukan agar tetap terjadi
drainage dari cairan serebrospinal yang belebihan agar tidak terjadi peningkatan
tekanan intracranial.

Pada anak yang terpasang ventriculoperitoneal shunt, jika anggota


keluarga mencurigai adanya malfungsi dari shunt atau tidak adanya penyebab lain
dari demam, malaise, perubahan perilaku anak, maka diperlukan evaluasi dan
perhatian terhadap shunt yang terpasang pada anak tersebut1,2.

11
F. Persiapan Pasien
1) Surat persetujuan operasi.
2) Pasien puasa 6-8 jam sebelum operasi.
3) Pasien memakai baju operasi khusus pasien,
4) Perawat memberi penjelasan kepada orang tua pasien (tindakan yang
akan dilakukan, posisi).
5) Pasien di baringkan di meja operasi dengan posisi supine.
6) Dilakukan tindakan pembiusan dengan anesthesia GA.
7) Profilaksis (Ampicilyn 150 mg dan Gentamicyn 20 mg)
8) Data penunjang : hasil laboratorium, foto rontgen.

 Persiapan Lingkungan
1) Mengatur dan mengecek fungsi mesin suction, mesin cauter (ESU),
lampu operasi, meja operasi , meja mayo dan meja instrumen,lampu
baca foto rontgen (viewer).
2) Memberikan perlak, duk dan penghangat pada meja operasi.
3) Mempersiapkan linen dan instrumen steril dan non steril (BHP) yang
akan dipergunakan.
4) Menyiapkan tempat sampah.
5) Mempersiapkan suhu ruangan.
6) Mempersiapkan alat-alat yang akan diperlukan untuk mengatur posisi.
 Instrumen Teknik
1) Saat pasien berada di ruang premedikasi, lakukan proses sign in sebelum
dilakukan induksi anestesi, meliputi:
 Konfirmasi identitas, area operasi, tindakan operasi, dan lembar
persetujuan operasi.
 Penandaan area operasi
 Kesiapan mesin anestesi dan obat-obatannya
 Kesiapan fungsi pulse oksimeter
 Riwayat alergi pasien
 Adanya penyulit airway atau resiko aspirasi
 Resiko kehilangan darah
2) Pindahkan pasien ke kamar operasi, dekatkan brankart dengan meja operasi
3) Pasang underpad on, linen dan warmer di atas meja operasi

12
4) Pindahkan pasien dari brankart ke meja operasi
5) Atur posisi pasien dalam posisi supinasidengan posisi kepala sedikit miring
ke kiri, untuk dilakukan general anestesi, pasang bantal cicin di bawah
kepala, dikerjakan oleh perawat sirkuler.
6) Memasang underpad di bawah kepala pasien.
7) Mencukur rambut kepala pasien dengan paragon mess 10
8) Menutup mata dan telinga kanan pasien
9) Mencuci area operasi dengan sabun antiseptic oleh perawat sirkuler.
10) Perawat Instrumen scrubbing, gowning, gloving.
11) Perawat instrumen membantu operator, dan asisten operator dalam gowning
dan gloving.
12) Perawat instrumen memberikan desinfeksi klem dan cucing yang berisi
deppers, betadine dan alkohol untuk antisepsis area operasi.
13) Operator melakukan antisepsis pada lapang operasi yaitu area sekitar kepala,
leher, dada dan perut dengan povidone iodine selanjutnya dengan alkohol,
kemudian di keringkan dengan deppers kering.
14) Dilakukan drapping, perawat sirkuler memakai sarung tangan steril untuk
mengangkat kepala dan leher sementara dokter operator memasang dobel
duk kecil untuk drapping daerah kepala, duk kecil bagian atas disatukan
hingga menutupi kepala, kemudian di fiksasi dengan duk klem.
Memberikan 1 duk besar untuk menutupi sisi samping kiri dan kanan pasien.
Kemudian memberikan 1 duk besar untuk menutup bagian umbilikus sampai
kaki.kanan dan kiri prosesus xipoid tutup dengan duk panjang fiksasi dengan
duk klem.
15) Memberikan op site dan kasa kering untuk menutupi area operasi dari
abdoman sampai kepala
16) Memasang slang suction ikat dengan kasa dan fiksasi pada draping dengan
duk klem.
17) Mendekatkan meja instrumen dan meja mayo.
18) Lakukan time out dan berdoa di pimpin oleh dokter operator.
 Konfirmasi pengenalan nama dan tugas masing-masing tim bedah
 Konfirmasi nama pasien, jenis tindakan, dan area yang akan dioperasi
 Pemberian antibiotik profilaksis 60 menit sebelum operasi.
 Antisipasi kejadian kritis yang berkaitan dengan operator, anestesi
maupun instrumen.

13
 Penggunaan instrumentasi radiologi
19) Berikan metylin blue untuk menandai daerah insisi di daerah lateral dari
kepala (parietal), kemudian di infiltrasi dengan menggunakan adrenalin dan
lidocain 1 : 200 ribu.
20) Berikan hanvat no. 3 parogon mess no 10 untuk insisi pertama yaitu daerah
lateral dari kepala , insisi di perdalam dengan hanvatno. 7 paragon mess no
15 sampai tampak tulang kepala, sementara asisten merawat perdarahan
dengan menggunakan mosquito dan kasa kering.
21) Berikan raspatorium besar untuk memisah dan membersihkan jaringan
periosteum tulang kepala (parietal) dari jaringan sekitar.
22) Operator melakukan pengeboran, berikan perforator pada operator. Pada saat
dilakukan pengeboran lakukan spolling (NS 0.9%) pada daerah pengeboran.
23) Berikan adson dan mosquito untuk mengambil serpihan tulang (bone dush).
Ambil serpihan tulang dengan kassa kering, berikan operator bonewax dan
dirapikan dengan adson. Seteh tampak duramater, berikan couter bipolar
untuk rawat perdarahan, tutup dengan kassa basah
24) Setelah terbebas semua tampak durameter dokter operator akan membuat
insisi pada daerah perut.
25) Pindah abdomen → insisi abdomen dengan mess I diperdalam sampai lemak
hingga tampak fasia dengan mess II.
26) Berikan spreider abdomen untuk memperluas lapang pandang operasi ke
arah cranial.
27) Spanner dimasukkan antara lemak - fasia dari abdomen ke arah cranial.
Catheter peritoneal dimasukkan melalui ujung spaner, pangkal spaner ditarik
perlahan melalui lemak - fasia di abdomen. Catheter peritoneal diklem
dengan klem sepatu kemudian tutup kassa basah.
28) Pindah ke cranial → berikan mess III (spit mess) → handvat mess no.7,
paragon mess no.10 untuk incisi duramater.
29) Siapkan catheter ventrikel diperkuat dengan mandrin, masukkan ke dalam
lubang duramater kemudian klem ventrikel catheter dengan klem sepatu.
30) Berikan penggaris steril dan gunting mayo pada operator mengukur panjang
ventrikel catheter dan memotong cateter.
31) Pasang konektor dan flashing device pada ujung catheter ventrikel. Cek
cairan yang keluar. Fiksasi konektor dengan zeide 3-0.

14
32) Operator melakukan penutupan, jahit periosteom → berikan vicryl 3-0 jarum
atraumatik round + pinset anatomis. Jahit kulit dengan premiline 4-0 jarum
atraumatik cutting + pinset chirugis.
33) Pindah ke abdomen, berikan double mosquito untuk jepit fasia + gunting
metzemboum. Gunting fasia sampai tampak peritoneum. Setelah tampak
peritoneum, jepit peritoneum dengan mosquito 2 buah, jahit dengan benang
vicryl 3.0.
34) Bersihkan catheter peritoneal dengan kassa basah, berikan double pinset
anatomis untuk membantu memasukkan catheter peritoneal ke dalam rongga
peritoneum.
35) Sign out
 Jenis tindakan yang dilakukan
 Kecocokan jumlah instrumen, kasa, dan jarum sebelum dan sesudah
operasi.
 Label pada spesimen
 Ada atau tidaknya permasalahan pada alat-alat yang digunakan
 Perhatian khusus pada saat masa pemulihan
36) Jahit peritoneal sampai lemak dengan vicryl 3-0 jarum atraumatik round +
pinset anatomis
37) Jahit kulit dengan premiline 4-0 jarum atraumatik cutting + pinset chirugis.
38) Bersihkan area operassi dengan kassa basah kemudian keringkan dengan
kassa kering. Tutup luka insisi dengan sofratule + kassa kering kemudian
hipafix.
39) Operasi selesai, alat – alat dirapikan, pasien dibersihkan, inventaris kassa
dan benang (catat dilembar depo farmasi)

 Penyelesaian (Proses Dokumentasi sampai dengan Packing)


1) Alat yang sudah dipergunakan dan dibawa semua ke ruang pencucian alat
2) Alat – alat yang kotor (terkontaminasi cairan tubuh pasien) direndam dengan
Enzimatic Detergent selama 10-15 menit
3) Cuci alat dengan cara menyikat alat hingga bersih
4) Bilas alat dengan air mengalir kemudian di keringkan
5) Lalukan pengepakan alat kemudian diberi indicator dan keterangan isi dari
alat dibungkus dengan linen kemudian di beri label set dan identitas OK.

15
G. Persiapan Alat
 Persiapan Instrumen
- Instrumen di meja mayo

No Nama Alat Jumlah


1 Washing & Dressing klem (desinfeksi klem) 1
2 Towel Klem (duk klem) 3
3 Handvat Mess No. 3/ No. 7 2/1
4 Dissecting Forsep (pinset chirurgi) 2
5 Tissue Forcep (pinset anatomi) 2
6 Needle holder (Nald Foeder) 2
7 Metzenboum Scissor(Gunting Metzenboum) 1
8 Surgical Scissor Curve (Gunting Jaringan 1
Kasar)
9 Delicate Hemostatic Forcep Pean Curve 6
(mosquito klem pean bengkok kecil)
10 Delicate Hemostatic Forcep Kocher Curve 2
( klem kocher lurus)
11 Surgical scissor (guntingbenangbengkok) 1

12 Surgical scissor (guntingbenanglurus) 1

13 Canule suction (ujung suction) 1

- Instrumen Tambahan

No Nama Alat Jumlah


1 Haak Kombinasi / sen miller 2
2 Refraktor/spreder haak kecil 1
3 Spaner sedang 2
4 Jarum round kecil 1
5 Allise Klem 1
6 Canule suction kecil 1
7 Desektor 1
8 Raspataorium kecil 1
9 Pengaris Steril 1
10 VP shunt set terdiri dari 1
Chamber / flussing device
Ventrikel cstheter
Ventrikel peritoneal
11 Bor manual dan mata bor 1/1

16
 Instrumen di meja instrument
- Instrumen Penunjang
No Nama Alat Jumlah
1 Pinset dan kabel couter bipolar 1
2 Mangkok 1
3 Selang suction 1
4 Bengkok 2
5 Cucing 2
6 Kom besar 1

- Set Linen
No Nama Linen Jumlah
1 Duk besar 2
2 Duk sedang 3
3 Duk kecil 6
4 Handuk kecil (handuk tangan) 4
5 Schort (gaun operasi) 4
6 Sarung meja mayo 1

 Instrumen Penunjang On Steril


No Nama Alat Jumlah
1 Mesin anestesi 3
2 Mesin couter 1
3 Mesin Suction 1
4 Lampu operasi 2
6 Meja operasi 1
7 Meja instrumen 1
8 Meja mayo 1
9 Standar infus 3
10 Troli waskom 2
11 Tempat sampah 1
12 Gunting 1

 Bahan Habis Pakai

No Nama Alat Jumlah


1 Metheline blue Secukupnya
2 Underpad steril 3
3 Handscoon 8
4 Ziede No 3.0 1
5 Kasa 20
6 Depers 6
7 Normal Salin 0.9% 1000 ml 2
8 Povidone Iodine 10 % 100 cc

17
9 Alkohol 50 cc
10 Surgicel 1
11 Spuit 3 cc 1
12 Spuit 10 cc 2
13 Adrenalin 1 amp
14 Sofratul 1
15 Hipavic 7 cm x 6 cm 4
16 Opsite drapping jumbo 1
17 Paragon mess No. 10 / 15/ 11 2/1/1
18 Metheline blue Secukupnya
19 Vicryl 3.0 round 1
20 Premiline 3.0 cutting 1
21 Lidocain 2 amp

H. Alat-Alat, Gambar dan Kegunaan

1. Washing & dressing forcep (desinfeksiklem) 1 buah

2. Dukklem 3 buah

18
3. Pinsetcirugis 2 buah

4. Pinsetanatomis 2 buah

5. Scalp blade & handle (hand fat mess) 2/1 buah No 3 / 7

6. Delicate hemostatic forceps pean (mosquito klem pena bengkok) 6


buah

19
7. Matzenboum scissor (guntingmatzenboum) 1 buah

8. Surgical scissor (guntingbenangbengkok) 1 buah

9. Surgical scissor (guntingbenanglurus) 1 buah

20
10. Needle holder (naldfoeder) 2 buah

11. Canule suction (ujung suction) 1 buah

Delicate Hemostatic Forcep Kocher Curve 2 buah


( klem kocher lurus)

21
Tambahan

Allis Klem

22
Respatorium kecil

Vp Shunt set

23
24
Bor dan mata bor

25
26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Ventriculoperitoneal Shunt adalah prosedur pembedahan yang
dilakukan untuk membebaskan tekanan intrakranial yang diakibatkan oleh
terlalu banyaknya cairan serbrospinal (hidrosefalus). Cairan dialirkan dari
ventrikel di otak menuju rongga peritoneum.

Adapun tujuan dari pemasangan Ventrikuloperitoneal adalah:


1. Untuk membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase.
2. Untuk mengalirkan cairan yang diproduksi di dalam otak ke dalam rongga
perut untuk kemudian diserap ke dalam pembuluh darah.

Pada prinsipnya aliran otak yang diproduksi oleh plexus choroidalis


berkisar 400-500 ml per hari, sehingga sumbatan pada aliran tersebut dapat
membuat gangguan pada otak. Dengan konsep sederhana ini penderita dapat
tertolong bahkan hingga usia dewasa.

B. Saran
Seharusnya mahasiswa memahami konsep utama dari pemasangan
vp shunt, serta instrument yang diperlukan sehingga pada saat di lapangan
mahasiswa mulai terbiasa dengan konsep dan praktik bedah saraf.oleh karena
itu pengajar akan menekankan pada setiap konsep dan praktik instrument
bedah saraf (VP shunt).

27
Daftar Pustaka

Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan BAyi dan Anak (untuk perawat dan bidan).
Jakarta: Salemba Medika.
Price,Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi;Konsep klinis proses-proses
penyakit,Jakarta;EGC.
Riyadi. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu
Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
https://www.scribd.com/doc/40570863/Laporan-Kasus-VP-Shunt-Complication
(Diakses tanggal 3 Oktober 2017)

https://www.scribd.com/document/355640700/OK-9-VP-SHUNT-BAYI (Diakses
tanggal 3 Oktober 2017)

https://www.scribd.com/document/337602555/VP (Diakses tanggal 3 Oktober


2017)

28