Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha Kecil Menengah atau yang sering disingkat UKM merupakan salah satu
bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan
negara Indonesia. UKM ini sangat memiliki peranan penting dalam lajunya
perekonomian masyarakat. UKM ini juga sangat membantu negara atau pemerintah
dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat UKM juga banyak tercipta unit unit
kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan
rumah tangga. Selain dari itu UKM juga memiliki fleksibilitas yang tinggi jika
dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. UKM ini perlu perhatian
yang khusus dan di dukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang
terarah antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu
jaringan pasar.

Industri kecil maupun besar, dan menengah merupakan sektor yang turut
memberikan kontribusi terhadap kontribusi perekonomian nasional seperti Koperasi dan
UKM. oleh karna itu program pembinaaan dan pengembangannya senantiasa harus
dilakukan secara berkesinambungan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
Koperasi yang merupakan gerakan ekonomi yang tumbuh dari masyarakat merupakan
organisasi swadaya masyarakat yang lahir atas kehendak, kekuatan dan partisipasi dari
masyarakat itu sendiri dalam menentukan tujuan, sasaran kegiatan, serta kegiatan
pelaksanaannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dari usaha kecil dan menengah?

2. Bagaimana Keberadaan UKM secara alami?

3. Bagaimana Kinerja UKM di Indonesia?

4. BagaimanaKontribusi UKM Terhadap Kesempatan Kerja dan BPD?

1
5. Bagaimana Otonomi daerah dan Peluang Bagi UKM daerah ?

6. Bagaimana Peluang dan Tantangan bagi UKM daam Liberalisasi Perdagangan?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pengusaha Kecil Dan Menengah

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar
dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian
nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca
krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap
pembangunan nasional, Usaha Mikro Kecil dan Menengah juga menciptakan peluang
kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu
upaya mengurangi pengangguran.

2.1.1 Asas, dan Prinsip UMKM

Asas-asas Usaha mikro, Kecil dan Menengah antara lain:

a) Kekeluargaan;
b) Demokrasi Ekonomi;
c) Kebersamaan;
d) Efisiensi Berkeadilan;
e) Berkelanjutan;
f) Berwawasan Lingkungan;
g) Kemandirian;
h) Keseimbangan Kemajuan;
i) Kesatuan Ekonomi Nasional
Prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, antara lain:
a) Penumbuhan kemandirian, kebersamaan dan kewirausahaan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;
b) Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel dan berkeadilan;
c) Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai
dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
d) Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
e) Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu
2.1.2 Kriteria UMKM

3
Kriteria usaha mikro,kecil dan menengah, yaitu:
a) Usaha Mikro

Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Undang-Undang Republik


Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yaitu
usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang
memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Adapun kriteria usaha Mikro menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20
Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, antara lain:

1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 tidak


termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 300.000.000,00

(ket.: nilai nominal dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian


yang diatur oleh Peraturan Presiden)

Ciri-ciri usaha mikro, antara lain:

1) Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat


berganti;

2) Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah


tempat;

3) Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan


tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha;

4) Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha


yang memadai;

5) Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;

6) Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka


sudah akses ke lembaga keuangan non bank;

7) Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya


termasuk NPWP.

Contoh usaha mikro, antara lain:

4
1) Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan
pembudidaya;

2) Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan


rotan,industri pandai besi pembuat alat-alat;

3) Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar dll.

4) Peternakan ayam, itik dan perikanan;

5) Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit


(konveksi).

Jika melihat sekeliling kita, banyak sekali usaha mikro yang terus berjalan.
Dan waktu telah menunjukkan bahwa pada saat krisis ekonomi terjadi di Indonesia,
maka usaha mikro termasuk usaha yang tahan dalam menghadapi krisis, karena
biasanya tidak mendapat pinjaman dari luar, pasar domestik, biaya tenaga kerja
murah karena dibantu oleh anggota keluarga. Rata-rata usaha mikro banyak yang
telah bertahan lebih dari 8 tahun, dan tetap bertahan, bahkan ada yang memiliki
pengalaman lebih dari 20 tahun.

b) Usaha Kecil

Usaha kecil merupakan usaha yang integral dalam dunia usaha nasional yang
memiliki kedudukan, potensi, dan peranan yang signifikan dalam mewujudkan
tujuan pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada
khususnya. Selain itu, usaha kecil juga merupakan kegiatan usaha dalam
memperluas lapangan pekerjaan dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas,
agar dapat mempercapat proses pemerataan dan pendapatan ekonomi masyarakat.

Definisi usaha kecil menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20


Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yaitu usaha ekonomi
produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang perorangan yang
dilakukan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi
kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang. Adapun kriteria

5
usaha kecil Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah, antara lain:

1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 sampai


dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 sampai


dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00

Secara umum bentuk usaha kecil adalah usaha kecil yang bersifat perorangan,
persekutuan atau yang berbadan hukum dalam bentuk koperasi yang didirikan
untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota, ketika menghadapi kendala
usaha. Dari bentuk usaha kecil tersebut, maka penggolongan usaha kecil di
Indonesia adalah sebagai berikut:

1) Usaha Perorangan, Merupakan usaha dengan kepemilikan tunggal dari


jenis usaha yang dikerjakan, yang bertanggung jawab kepada pihak
ketiga/pihak lain. maju mundurnya usahanya tergantung dari kemampuan
pengusaha tersebut dalam melayani konsumennya. harta kekayaan milik
pribadi dapat dijadikan modal dalam kegiatan usahanya.

2) Usaha Persekutuan, Penggolongan usaha kecil yang berbentuk


persekutuan merupakan kerja sama dari pihak-pihak yang bertanggung
jawab secara pribadi terhadap kerja perusahaan dalam menjalankan bisnis.

Pada hakikatnya penggolongan usaha kecil, yaitu:

1) Industri kecil, seperti: industri kerajinan tangan, industri rumahan, industri


logam, dan lain sebagainya.

2) Perusahaan berskala kecil, seperti: toserba, mini market, koperasi, dan


sebagainya.

3) Usaha informal, seperti: pedagang kaki lima yang menjual barang-barang


kebutuhan pokok.

Contoh Usaha Kecil, antara lain:

1) Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja

6
2) Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya

3) Pengrajin industri makanan dan minuman, industri meubelair, kayu dan


rotan, industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri
kerajinan tangan

4) Peternakan ayam, itik dan perikanan

c) Usaha Menengah

Usaha Menengah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik


Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah
usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang
perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-
undang.

Adapun kriteria usaha Menengah menurut Undang-Undang Republik


Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, antara
lain:

1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 sampai dengan


paling banyak Rp 10.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau

2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 sampai


dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00

Ciri-ciri usaha menengah, antara lain:

1) Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik,
lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas
antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi;

2) Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem


akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan
penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan;

7
3) Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan,
telah ada Jamsostek, pemeliharaan kesehatan dll;

4) Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin
usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan dll;

5) Sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan;

6) Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan
terdidik.

Jenis atau macam usaha menengah hampir menggarap komoditi dari hampir
seluruh sektor mungkin hampir secara merata, yaitu:

1) Usaha pertanian, perternakan, perkebunan, kehutanan skala menengah;

2) Usaha perdagangan (grosir) termasuk expor dan impor;

3) Usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut), garment dan jasa
transportasi taxi dan bus antar propinsi;

4) Usaha industri makanan dan minuman, elektronik dan logam;

5) Usaha pertambangan batu gunung untuk kontruksi dan marmer buatan.

2.2 Keberadaan UKM secara Alami

Globalisasi perekonomian dunia juga memperbesar ketidakpastian terutama karena


semakin tingginya mobilisasi modal, manusia, dan sumber daya produksi lainnya.
Kemampuan UKM bertahan selama ini di Indonesia menunjukan potensi kekuatan
yang dimiliki UKM Indonesia untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam
perdagangan dan perekonomian dunia di masa depan. Relatif lebih baiknya UK
dibadingkan UM atau UB dalam menghadapi krisis ekonomi tahun 1998 tidak lepas
dari sifat alami dari keberadaan UK yang berbeda dengan sifat alami dari keberadaan
UM apalagi UB di Indonesia.

Sifat alami yang berbeda ini sangat penting untuk dipahami agar dapat
mempredisikan masa depan UK atau UKM. UK pada umumnya membuat barang-
barang konsumsi sederhana untuk kebutuhan kelompok masyarakat berpenghasilan
rendah. Sebagian dari pengusaha kecil dan pekerjanya di Indonesia adalah kelompok
masyarakat berpandidikan randah (SD) dan kebanyakan dari mereka menggunakan

8
mesin serta alat produksi sederhana atau implikasi dari mereka sendiri. UK sebenarnya
tidak terlalu tergantung pada fasilitas-fasilitas dari pemerintah termasuk skim-skim
kredit murah. Untuk mengetahui besarnya dampak dan proses terjadinya dampak
tersebut dari suatu gejolak ekonomi seperti krisis tahun 1998 terhadap UK perlu
dianalisis dari dua sisi, yaitu dari sisi penawaran dan permintaan.

Dari sisi penawaran, pada saat krisis berlangsung banyak pengusaha-pengusaha


kecil terpaksa menutup usaha mereka karena mahalnya biaya pengadaan bahan baku
dan input lainnya terutama yang diimpor akibat apresiasi nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS. Namun, krisis ekonomi tahun 1998 memberi suatu dorongan positif bagi
pertumbuhan UK (dan mungkin hingga tingkat tertentu bagi pertumbuhan UM) di
Indonesia. Bagi banyak orang khususnya dari kelompok masyarakat berpendapatan
rendah atau penduduk miskin UK berperan sebagai salah satu the last resort yang
memberi sumber pendapatan secukupnya atau penghasilan tambahan.

Dari sisi permintaan salah satu dampak negatif dari krisis ekonomi tahun 1998
yang sangat nyata adalah merosotnya tingkat pendapatan riil masyarakat per kapita. UK
di Indonesia hingga saat ini tetap ada bahkan jumlahnya terus bertambah walaupun
mendapat persaingan ketat dari UM, UB dan dari produk-produk M serta iklim
berusaha yang selama ini terlalu kondusif akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang
dalam prakteknya tidak terlalu “pro” UK.

Pada umumnya produk-produk buatan UK adalah dari kategori inferior yang


harganya relatif murah daripada harga dari produk sejenis buatan UM dan UB atau M.
Struktur pasar output dualisme ini yang membuat UK bisa bertahan dalam persaingan
dengan UM, UB dan produk-produk M.

2.2.1 Kemampuan UKM

Dalam era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia terdapat tiga
faktor kompetitif yang akan menjadi dominan dalam menentukan bagus tidaknya
prospek dari suatu usaha antara lain:

- Kemajuan Teknologi

- Penguasaan ilmu pengetahuan

9
- Kualitas SDM yang tinggi (profesionalisme)

Sayangnya, ketiga faktor keunggulan kompetitif tersebut masih merupakan kelemahan


utama dari sebagian besar UKM (terutama UK) di Indonesia.

2.3 Kinerja UKM di Indonesia


UKM di negara berkembang (seperti di Indonesia) sering dikaitkan dengan
masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri seperti tingginya tingkat kemiskinan,
besarnya jumlah pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, proses
pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta masalah
urbanisasi. Perkembangan UKM diharapkan dapat memberikan kontribusi positif yang
signifikan terhadap upaya-upaya penanggulangan masalah-masalah tersebut.
Karakteristik UKM di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
AKATIGA, The Center for Micro and Small Enterprise Dynamic (CEMSED), dan The
Center for Economic and Social Studies (CESS) pada tahun 2000, adalah mempunyai
daya tahan untuk hidup dan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya
selama krisis ekonomi. Hal ini disebabkan oleh fleksibilitas UKM dalam melakukan
penyesuaian proses produksinya, mampu berkembang dengan modal sendiri, mampu
mengembalikan pinjaman dengan bunga tinggi dan tidak terlalu terlibat dalam hal
birokrasi. UKM di Indonesia dapat bertahan di masa krisis ekonomi disebabkan oleh 4
(empat) hal, yaitu :
a) Sebagian UKM menghasilkan barang-barang konsumsi (consumer goods),
khususnya yang tidak tahan lama,
b) Mayoritas UKM lebih mengandalkan pada non-banking financing dalam
aspek pendanaan usaha,
c) Pada umumnya UKM melakukan spesialisasi produk yang ketat, dalam arti
hanya memproduksi barang atau jasa tertentu saja, dan
d) Terbentuknya UKM baru sebagai akibat dari banyaknya pemutusan hubungan
kerja di sektor formal.
UKM di Indonesia mempunyai peranan yang penting sebagai penopang
perekonomian. Penggerak utama perekonomian di Indonesia selama ini pada
dasarnya adalah sektor UKM. Kinerja UKM di Indonesia dapat ditinjau dari tiga aspek,
yaitu:

10
a) Nilai Tambah
Kinerja perekonomian Indonesia yang diciptakan oleh UKM tahun 2006 bila
dibandingkan tahun sebelumnya digambarkan dalam angka Produk Domestik
Bruto (PDB) UKM yang pertumbuhannya mencapai 5,4 persen. Nilai PDB UKM
atas dasar harga berlaku mencapai Rp 1.778,7 triliun meningkat sebesar Rp 287,7
triliun dari tahun 2005 yang nilainya sebesar 1.491,2 triliun. UKM memberikan
kontribusi 53,3 persen dari total PDB Indonesia. Bilai dirinci menurut skala usaha,
pada tahun 2006 kontribusi Usaha Kecil sebesar 37,7 persen, Usaha Menengah
sebesar 15,6 persen, dan Usaha Besar sebesar 46,7 persen.
b) Unit Usaha dan Tenaga Kerja
Pada tahun 2006 jumlah populasi UKM mencapai 48,9 juta unit usaha atau
99,98 persen terhadap total unit usaha di Indonesia. Sementara jumlah tenaga
kerjanya mencapai 85,4 juta orang.
c) Ekspor UKM
Hasil produksi UKM yang diekspor ke luar negeri mengalami peningkatan dari
Rp 110,3 triliun pada tahun 2005 menjadi 122,2 triliun pada tahun 2006. Namun
demikian peranannya terhadap total ekspor non migas nasional sedikit menurun
dari 20,3 persen pada tahun 2005 menjadi 20,1 persen pada tahun 2006.

2.4 Kontribusi UKM terhadap kesempatan kerja dan PDB


2.4.1 UKM terhadap penyerapan tenaga kerja
Peranan UMKM terlihat cukup jelas pasca krisis ekonomi, yang dapat dilihat dari
besaran pertambahan nilai PDB, pada periode 1998 – 2002 yang relatif netral dari
intervensi pemerintah dalam pengembangan sektor-sektor perekonomian karena
kemampuan pemerintah yang relatif terbatas, sektor yang menunjukkan pertambahan
PDB terbesar berasal dari industri kecil, kemudian diikuti industri menengah dan besar.
Hal ini mengindikasikan bahwa UKM mampu dan berpotensi untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang.
Dari aspek penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian secara absolut memiliki
kontribusi lebih besar dari pada sektor pertambangan, sektor industri pengolahan dan
sektor industri jasa. Arah perkembangan ekonomi seperti ini akan menimbulkan
kesenjangan pendapatan yang semakin mendalam antara sektor yang menghasilkan
pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan menyerap tenaga kerja lebih sedikit.

11
Pembangunan ekonomi hendaknya diarahkan pada sektor yang yang memberikan
kontribusi terhadap output perekonomian yang tinggi dan penyerapan tenaga kerja
dalam jumlah yang besar. Adapun sektor yang dimaksud adalah sektor industri
pengolahan, dengan tingkat pertambahan output bruto sebesar 360,19% dan tingkat
penyerapan tenaga kerja sebesar 23,21% lebih besar daripada sektor pertanian,
pertambangan dan jasa. Berdasarkan skala, UMKM memiliki kontribusi terhadap
pertambahan output bruto dan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar daripada Usaha
Besar (UB).
Peranan UMKM dalam penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dari UB juga
terlihat selama periode 2002 – 2005. UMKM memberikan kontribusi terhadap
penyerapan tenaga kerja rata rata sebesar 96,66% terhadap total keseluruhan tenaga
kerja nasional sedangkan UB hanya memberikan kontribusi rata rata 3,32% terhadap
tenaga kerja nasional. Tinggi kemampuan UKM dalam menciptakan kesempatan kerja
dibanding usaha besar mengindikasikan bahwa UKM memiliki potensi yang cukup
besar untuk dikembangkan dan dapat berfungsi sebagai katub pengaman permasalahan
tenaga kerja (pengangguran).

2.4.2. Kontribusi UKM terhadap PDB

Dari perkembangan kontribusi PDB pada usaha mikro, kecil dan menengah terlihat
peningkatan perkembangan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, PDB usaha mikro,
kecil dan menengah meningkat 0,59% dari 56,53% pada tahun 2009 menjadi 57,12%
pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2011 meningkat sebesar 0,83% menjadi 57,94%
dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan sebesar 1,14% menjadi 59,08%. Ini
menunjukkan terjadi pertumbuhan UMKM secara berkelanjutan di Indonesia. Dengan
demikian perlu dilakukan stabilitas kebijakan pemerintah agar kondisi tersebut dapat
terjaga sehingga terjadi pertumbuhan yang berkesinambungan.

2.5 Otonomi Daerah Dan Peluang Bagi Ukm Daerah

12
Menurut UU No. 22 Tahun 1999 otonomi daerah adalah kewenangan daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik kuar negeri, pertahanan
keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain (Pasal
7 UU No. 22 Tahun 1999). Disamping pemerintah daerah juga dituntut untuk memiliki
kewajiban dalam mengembangankan bidang-bidang koperasi, industri dan
perdagangan, penanaman modal, tenaga kerja, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan,
pertanian, perhubungan, pertanahan, lingkungan hidup (Pasal 11).
Dalam kaitannya dengan pengembangan koperasi dan UKM dalam kerangka
otonomi daerah, diatur sebagai suatu kewajiban kepala pemerintah daerah dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti yang ditegaskan dalam penjelasn
pasal 43 UU No. 22. Secara lengkap disebutkan bahwa dalam upaya meningkatkan taraf
kesejahteraan rakyat kepala daerah berkewajiban mewujudkan demikrasi ekonomi
dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi, usaha kecil dan
menengah, yang mencakup permodalan, pemasaran, pengembangan teknologi,
produksi, dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia.
Untuk melaksanakan peran dan kewajibannya pemerintah daerah menggunakan
sumber pendanaan pembagunan daerah yang diatur dalam UU No. 25 tahun 1999.
Sumber pendanaan tersebut antara lain akan diperoleh dari pendapatan asli daerah, dan
aperimbangan, pinjaman daerah, dan lain-lain penerimaan yang sah. Pendapatan asli
daerah (PAD) merupakan sumber keuangan daerah yang digali dari dalam wilayah
daerah yang bersangkutan. Saat ini, daerah mengandalkan sumberdaya alam sebagai
sumber utama PAD di samping berbagai pajak daerah dan sumber penghasilan lainnya.
Dalam era otonomi daerah ini, kewenangan pemerintah pusat dalam hal
pengelolaan sumberdaya berdasarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun
2000 tentang Kewenanga Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagai daerh otonom,
dinyatakan hanya terbatas pada kebijakan yang bersifat norma, standar, kriteria, dan
prosedur dengan ketentuan pelaksanaannya :
a) Mempertahankan dan memelihara identitas dan integritas bangsa dan negara,
b) Menjamin kualitas pelayanan kualitas umum karena jenis pelayanan tersebut
dan skala nsional,

13
c) Menjamin keselamatan fisik dan non-fisik secara sentra baggi semua warga
negara,
d) Manjamin supermasi hukum nasional.
Perubahan sistem nasional ini, akan memiliki implikasi terhadappelaku bisnis kecil
dan menengah. Beberapa daerah dalam rangka meningkatkan otonomi daerah, berbagai
pungutan-pungutan baru dikenakan pada UKM, sehingga biaya transaksi menjadi
meningkat. Jika kondisi ini tidak segera dibenahi, maka akan menurunkan daya saing
UKM. Permasalahan lainnya, semangat kedaerahan yang sempit, kadang menciptakan
kondisi yang kurang menyenangkan bagi pengusaha yang berhasil dari luar daerah
tersebut.
Kebijakan pemerintah di dalam pengembangan pemerintahan daerah atau otonomi
daerah juga merupakan suatu peluang besar bagi UKM di daerah karena salah satu
syarat utama menjadi otonom adalah bahwa daerah yang bersangkutan harus punya
pendapatan daerah yang cukup untuk membiayai roda perekonomian. Ini berarti perlu
lembaga-lembaga ekonomi lokal, termasuk UKM yang akan memberikan pendapatan
daerah. Jadi, peranan UKM di daerah tidak hanya sebagai salah satu instrumen
kebijakan pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan pendapatan / pembangunan
antarwilayah, tetapi juga sebagai alat pengembang ekonomi daerah.

2.6 Peluang Dan Tantangan Bagi Ukm Dalam Liberalisasi Perdagangan


Diakui secara luas bahwa pengusaha dan UKM memainkan peran penting dalam
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, serta memberikan kontribusi bagi
pengentasan kemiskinan, misalnya, melalui pekerjaan mereka hasilkan. Pada saat yang
sama, sifat dan tingkat kontribusi ini bervariasi antar negara, yang mencerminkan
perbedaan dalam ekonomi, sosial dan kondisi institusional, dan akhirnya daya saing
sektor UKM. Dalam konteks ini, banyak transisi dan negara-negara berkembang,
khususnya, menghadapi kebutuhan untuk mempromosikan dan memperkuat
pembangunan jangka panjang dari sektor UKM, yang membutuhkan akses ke peluang
pasar, serta manajemen teknologi baru dan know-how, sering di situasi kelangkaan
sumber daya yang cukup.
Pengembangan UKM sangat penting dan vital sebagai kesuksesan dalam upaya-
upaya kolektif dan individu akan pergi jauh di daerah dan mengurangi kesenjangan
pendapatan domestik dan dalam menciptakan keseimbangan antara pendapatan dan
lapangan kerja dan mengamankan manusia yang lebih berkelanjutan dan jaminan sosial

14
di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam pendapatan dan output.
Untuk mencapai hal ini, ada kebutuhan untuk meningkatkan UKM 'daya saing
internasional melalui kebijakan promosi UKM, sistem keuangan dan sistem pajak
untuk UKM. Mereka bisa dipertajam dalam kemampuan mereka untuk bersaing
melalui peningkatan daya saing karena R & D, peningkatan pengawasan mutu,
peningkatan keterampilan dan lain-lain kebijakan promosi UKM juga dapat membantu
untuk memperlancar keluar tidak tersedianya sistem keuangan yang efektif bagi UKM
dan memfasilitasi proses modernisasi.
Perdagangan internasional dan kebijakan investasi telah mengalami perubahan
mendasar di Indonesia selama dua dekade. Liberalisasi perdagangan yang signifikan
mulai pada tahun 1986 dan sejak tahun 1994 Indonesia telah diterapkan secara
signifikan mengurangi MNF unweighted tarif dari rata-rata sekitar 20% pada 1994
menjadi 9,5% pada tahun 1998. Pada tahun 1998, tarif pada makanan dikurangi menjadi
maksimal 5%. Selain tarif, Indonesia telah dilakukan untuk menghapus semua
hambatan non tarif dan pembatasan ekspor. Sejak awal tahun 1997/98 krisis keuangan
Asia, Indonesia juga diregulasi dengan rezim perdagangan komoditas pertanian utama
(kecuali beras, untuk alasan sosial), produksi dan perdagangan dihentikan monopoli di
beberapa industri intermediate (semen, kayu lapis, rotan) dan mengurangi pajak ekspor
kayu.
Secara teoritis, reformasi menuju liberalisasi perdagangan internasional dapat
mempengaruhi (secara positif atau negatif) individu perusahaan lokal dalam empat cara
utama:
a) dengan meningkatkan persaingan: menurunkan tarif impor, kuota dan
hambatan non-tarif memiliki efek meningkatkan persaingan asing di pasar
domestik, dan ini diharapkan akan mendorong tidak efisien / tidak produktif
perusahaan lokal untuk mencoba meningkatkan produktivitas dengan
menghilangkan pemborosan, pemanfaatan eksternal skala ekonomi dan ruang
lingkup, dan mengadopsi teknologi yang lebih inovatif, atau untuk menutup.
Keterbukaan ekonomi perdagangan internasional juga dilihat sebagai tanaman
meningkatkan ukuran (skala yaitu efisiensi), sebagai perusahaan lokal yang
efisien mengadopsi teknologi, manajemen, organisasi, dan metode produksi
b) dengan menurunkan biaya produksi lebih murah karena impor input:
perusahaan lokal mendapatkan keuntungan dari biaya input yang lebih rendah,

15
sehingga memungkinkan mereka untuk bersaing lebih efektif baik di pasar
domestik terhadap impor dan pasar ekspor;
c) dengan meningkatkan peluang ekspor: membuka kompetisi internasional tidak
hanya akan menyebabkan peningkatan efisiensi di perusahaan domestik tetapi
juga akan merangsang ekspor mereka;
d) dengan mengurangi ketersediaan input lokal: menghilangkan pembatasan
ekspor bahan baku diproses akan meningkatkan ekspor dari item pada biaya
industri lokal.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Di Indonesia, Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) dikenal dengan nama
microfinance. Microfinance adalah penyediaan layanan keuangan untuk kalangan
berpenghasilan rendah, termasuk konsumen dan wiraswasta, yang secara tradisional
tidak memiliki akses terhadap perbankan dan layanan terkait.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar
dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian
nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca
krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap
pembangunan nasional, Usaha Mikro Kecil dan Menengah juga menciptakan peluang
kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu
upaya mengurangi pengangguran.

17
DAFTAR PUSTAKA

Baswir, Revrisond. 2000. Koperasi Indonesia. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.


Sitio, Arifin dan Halomoan Tamba. 2001. Koperasi Teori dan Praktek. Jakarta:
Erlangga
Sumantri, Bambang Agus; dan Permana, Erwin Putera. 2017. Manajemen Koperasi dan
Usaha mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kediri. Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Nusantara PGRI.

18