Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID DALAM REMISI

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kelulusan Kepaniteraan Klinik Bagian Penyakit
Jiwa di RSUD Salatiga

Disusun Oleh :

Tommy Akroma
NIPP. 20174011023

Pembimbing:
dr. Iffah Qoimatun, Sp. KJ, M. Kes

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RSUD KOTA SALATIGA
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan, presentasi kasus dengan judul

SKIZOFRENIA PARANOID DALAM REMISI

Disusun Oleh :

Tommy Akroma

NIPP. 20174011023

Telah dipresentasikan

Hari/tanggal: Kamis, 29 Maret 2018

Disahkan oleh:

Dokter pembimbing,

dr. Iffah Qoimatun, Sp. KJ, M. Kes

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................................................i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................................................... 1
KASUS PSIKIATRI.............................................................................................................................. 1
I. IDENTITAS PASIEN ............................................................................................................... 1
II. ANAMNESIS ......................................................................................................................... 1
III. GENOGRAM ........................................................................................................................ 6
IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL ................................................................................ 7
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA ................................................................................ 9
VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL............................................................................................. 9
VII. TERAPI ................................................................................................................................ 10
BAB II .................................................................................................................................................. 11
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................................................... 11
I. Pengertian Skizofrenia............................................................................................................ 11
II. Epidemiologi ........................................................................................................................ 11
III. Etiologi ................................................................................................................................. 12
IV. Patofisiologi .......................................................................................................................... 15
V. Gejala Klinis Skizofrenia ........................................................................................................ 16
VI. Perjalanan penyakit ............................................................................................................ 18
VII. Jenis skizofrenia .................................................................................................................. 18
VIII. Kriteria Diagnostik Skizofrenia ..................................................................................... 21
IX. Penatalaksanaan .................................................................................................................. 22
X. Differential Diagnose............................................................................................................... 26
XI. Komplikasi ........................................................................................................................... 27
XII. Prognosis .............................................................................................................................. 27
BAB III ................................................................................................................................................. 28
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN ............................................................................................. 28
Pembahasan ..................................................................................................................................... 28
Kesimpulan ...................................................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 29
DOKUMENTASI ................................................................................................................................ 30

ii
BAB I

KASUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Autoanamnesis
Nama : Ny. T
Umur : 59 tahun
Jenis kelamin : Wanita
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Penjahit
Status pernikahan : Belum menikah
Alamat : Jl. Hasanudin
Alloanamnesis pada saudara pasien
Nama : Ny. I
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Wanita
Agama : Kristen
Pekerjaan : tidak ada
Status Pernikahan : belum menikah
Alamat : Jl. Hasanudin

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama

Pasien tidak ada keluhan

Riwayat Penyakit Sekarang

Home visite 21/03/2018 pukul 15.00 riwayat penyakit pasien diperoleh dari
autoanamnesis dan alloanamnesis dari saudara jauh pasien yang merupakan tetangga
pasien.

Autoanamnesis

Pasien diasuh oleh ayah dan ibu kandung pasien dan tumbuh kembang seperti
pada anak pada umumnya, dengan ekonomi yang menengah kebawah pasien dapat
sekolah sampai SMP. Ayah pasien meninggal saat pasien duduk dikelas 4 SD, ibu
1
pasien tidak sanggup menyekolahkan pasien pada akhirnya pasien hanya sekolah
sampai SMP.

Pada tahun 1975 pasien merantau ke Jakarta dirumah saudara


pasienpun mencari kesibukan pada akhirnya pasien bekerja jadi tiket sales di ancol
sejak tahun 1975, beberapa tahun kerja menjadi tiket sales pasien merasa kecurigaan
bahwa pasien selalu dicurangkan oleh temen sales yang lain karena nombok uang
pembayaran karcis terus ke bos yang dirasa selalu kurang setiap harinya. Pasien
curgiga teman sales dengan sengaja mengambil keuntungan dan pada akhirnya pasien
yang diminta nombok uang tersebut. Pada akhirnya pasien memutuskan untuk tidak
lagi bekerja menjadi sales. Selama pasien menjadi sales pasien pernah pacaran 6
tahun, pada 1983 pasien ditinggal pergi oleh kekaksihnya. Pasien sebelumnya
mengatakan sudah mempunyai planning jika tidak mau hidup tergantung sama pacar
dan harus memiliki penghasilan sendiri. Pada tahun 1991-1992 pasien kursus menjahit
di Jakarta dan sambal kerja di garmen. Pada tahun 1995 pasien membuka jahit sendiri.
pada tahun 2003 ibu pasien meninggal dunia. Pada tahun 2004 pasien kembali ke
Salatiga menjalani kehidupan menjadi penjahit.

Pasien menceritakan bahwa pada tahun 2006 tepatnya pada bulan februari
anjing pasien mati tiba tiba 2 ekor. Sebelumnya pasien memiliki lima ekor anjing yang
sangat pasien sayangi. Jika anjingnya sakit pasien selalu langsung telfon dokter hewan
untuk mengobatinya, anjing pasien pernah di diagnosis epilepsy oleh dokter hewan
pasien. Pasien mengakui dirinya sangat sayang dan mencintai anjing anjingnya,
sebelumnya pasien sudah memiliki kecurigaan bahwa ada seseorang atau bahkan
sekelompok orang atau warga yang ingin mencelakakan anjing anjing pasien. Pasien
memiliki kecurigaan tersebut sebelum beberapa hari kejadian tersebut. Pasien juga
mengeluhkan cemas, khawatir, merasa ada tekanan dari tetangga dan memiliki
kecurigaan bahwa ada orang ingin menyerang anjing anjingnya dan mencekik anjing
anjing pasien. Pasien pun beberapa hari sebelum kejadian hidup terasa tidak tenang,
sering tidak bisa tidur, dan selalu merasa ada fikiran kecurigaan terhadap orang yang
ingin menyerang anjingnya. Pasien juga merasa mendengar suara suara tetangga
berisik yang ingin mencelakakan anjing pasien.

Setelah kejadian pada hari dimana dua ekor anjing yaitu atas nama ciko dan
lesi mati. Pasien seperti tidak ikhlas dan terus memeluk anjing anjingnya da merasa
tidak terima atas perbuatan orang yang telah membunuh anjingnya. Malam harinya
pasien pada pukul 22.00 langsung dibawa oleh kelurga ke salah satu tempat rehabilitas
2
di magelang. Saat dibwa pasien hanya membawa pakaian seadanya, keluarga pasien
yang membawa yaitu keluarga pasien yang tinggal di Jakarta. Saat sampai disuatu
tempat rehabilitas di magelang, pasien langsung ditinggal dan dijanjikan akan di
jemput esok harinya. Pasien merasa sangat sedih, cemas, khawatir, terhadap anjing
anjing yang ditinggalkan dirumah. Pasien juga merasa ditipu oleh saudara yang
ditinggal dijakarta tersebut. Pasien tidak mengetahui bahwa pasien kenapa dibwa ke
tempat rehabilitas tersebut sampai akhirnya pasien tinggal di tempat rehabilitas
tersebut selama 1,5 tahun.

Pasien juga menceritakan bahwa hubungan pasien dengan keluarga tidaklah


seharmonis dan saling mendukung. Pasien mengatakan hanya dekat dengan kakak
kandung pasien yang rumahnya sebelah rumah pasien, sebelumnya pasien empat
bersaudara, kakak pasien yang nomor dua sudah meninggal. Pasien mengatakan
pernah ingin menjual rumah pasien ketika anjing pasien sakit dan mau di operasi.
Bahkan rumah tersebut sudah dijual kepada pembeli. Mengetahui hal itu keluarga
pasien marah kepada pasien dan pasien merasa sangat tidak di pedulikan karena terlalu
sayang kepada anjing, menjual rumah tanpa sepengatahuan oleh keluarga.

Singkat cerita setelah pasien pulang dari rehabilitas magelang, pasien kembali
ke rumah lama, meskipun rumah tersebut sudah dijual, tetapi pemiliknya mengizinkan
untuk pasien tinggal seumur hidup dirumah tersebut beserta anjingnya. Pasien disuruh
oleh pendeta setempat untuk berobat ke poli jiwa untuk kesehatannya, dan pada
akhirnya diantar oleh pendeta setempat untuk berobat. Pasien merasa semakin hari
semakin enakan, kecurigaan tentang orang-orang sekitar yang ingin membunuh
anjingnya mulai berkuang, dan suara suara berisik dari tetangga yang ingin mencekik
anjingnya juga sudah berkurang. Kini pasien hidup mendapatkan dana dari pak (M)
saudara dari Jakarta yang mengirimkan pasien uang sekitar 1 juta perbulan dan
mendapatkan uang dari pembeli jahitannya sekitar 700 ribu. Pasien menjalani
kehidupan dengan setiap harinya pagi pagi memberi makan anjing yaitu ati ayam, ke
pasar, dan menjahit. Keseharian pasien tidak pernah bersosialisasi dengan orang
sekitar, hanya terkadang mengunjungi kakaknya disebelah rumahnya. Pasien selama
setahun kebelakang ini tidak pernah lagi aktivitas keagamaan ke gereja, dikarenakan
lagi males. Pasien sejak diantar oleh pendeta ke poli jiwa sampai sekarang pasien tetap
rutin danmgnkonsumsi obat dari poli.

Kondisi pasien sekarang pasien merasa sudah lumayan dan bisa hidup tentram
dengan anjingnya sambal menekuni profesi sebagai penjahit. Pasien mengatakan jika
3
sekitar jam 19.00 pasien sudah mulai ngantuk dan tidur setelah minum obat dari poli.
Pasien juga mengatakan orang-orang sekitar rumah, pasien merasa mereka tidak
pernah bersosialisasi dan bagaikan hidup sendiri-sendiri dari padangan pasien.

Alloanamnesis

Apa yang telah diceritakan pasien saudara pasien membenarkan apa yang terjadi
seperti itu. Sekarang pasien hidup ditemani oleh anjing-anjingnya dan menekuni
profesi sebagai penjahit. Keseharian pasien sangat jarang bersosialisasi oleh
lingkungan sekitar, jarang untuk pergi ke gereja, ikut organisasi kampong belum
pernah, bahkan untuk tegur sapa sama sanak saudarapun jarang. Tetapi saudara pasien
mengatakan bahwa hasil jahitan pasien memang sering dibeli sama orang luar, karena
hasil jahitannya sangat rapid an detail dengan harga yang lumayan tinggi. Pasien dapat
hidup dengan hasil kerjanya sebagai penjahit dan uang dari saudara di Jakarta.

Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien pada saat tahun 2006 tersebut sering
halusinasi, sikap pasien berubah menjadi sering dirumah, sering merasa takut dibunuh
anjing-anjingnya oleh orang sekitar, karena pasien sangat menyayangi anjingnya
melebihi apapun. Tetapi karena kurang dukungan keluarga, keluarga pasien jarang
untuk melihat dan mensupport pasien saat pasien mengalami gejala tersebut. Pada
akhirnya pasien dibawa ke rehabilitas di magelang oleh kerluarga.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien telah terdiagnosis skizofrenia sejak tahun 2006, pasien pernah di rawat
di Budiasih Magelang sekitar 1,5 tahun. Setelah dari rehabilitas pasien kembali ke
Salatiga. Pasien mengatakan tidak pernah memiliki sakit seperti diabetes mellitus,
hipertensi, ginjal, jantung, dan hati.

Riwayat Penyakit Keluarga

Anggota keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan serupa seperti
pasien. Riwayat seperti diabetes mellitus, hipertensi, ginjal, jantung, dan hati
disangkal oleh pasien.

Riwayat Pribadi

1. Pranatal dan perinatal

4
Pasien merupakan anak keempat dari 4 bersaudara. Didapatkan data bahwa
saat pasien lahir menangis seperti anak biasanya. Riwayat kehamilan tidak
dapat dijawab dengan baik dikarenakan pasien tidak mengetahui.
2. Masa kanak-kanak awal (sampai usia 3 tahun)
Masa kanak-kanak pasien normal seperti kehidupan anak-anak seusianya dan
tidak ditemukan adanya kelainan. Pasien memiliki banyak teman dan suka
bermain dengan siapa saja.
3. Masa kanak-kanak pertengahan (usia 3-11 tahun)
Pasien bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ia memiliki banyak teman
dan bersosialisasi dengan sebayanya. Pasien mampu mengikuti pelajaran
disekolah dan tidak pernah berkelahi dengan teman sekelasnya ataupun
bermasalah dengan guru di sekolah.
4. Masa kanak-kanak akhir (pubertas hingga remaja)
Kehidupan sekolah di SMP dialui cukup baik dan tidak memiliki masalah
pelajaran atau tidak memiliki masalah dengan teman dan gurunya.
5. Masa dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai tiket sales diancol pada tahun 1975. 1991-
1992 pasien kursus menjahit di Jakarta sambal bekerja di garmen. 1995
pasien membuka usaha penjahit sendiri di Jakarta.
b. Riwayat hubungan dan perkawinan
Pasien pernah berhubungan dekat dengan lawan jenis dalam kurun waktu
yang lama 6 tahun dan tahun 1983 ditinggal nikah oleh pacarnya.
c. Riwayat militer
Riwayat pernah menjalani pendidikan militer disangkal.
d. Riwayat pendidikan
Pendidikan pasien dimulai dari SD, SMP.
e. Agama
Dari lahir hingga sekarang agama pasien masih sama Kristen protestan
f. Aktivitas sosial
Pasien lebih sering menghabiskan waktunya dirumah yaitu bersama
anjing dan menjahit. Pasien sangat jarang berkomunikasi dan bersosia
dengan tetangga sekitar. Pasien hanya terkadang ke rumah kakak
kandungnya disebelah rumahnya. Pasien tidak pernahmengikuti
organisasi kampung.
5
g. Situasi kehidupan terkini
Pasien tinggal di rumah bersama 2 anjingnya. Keseharinnya memberi
makan anjing, ke pasar, dan menjahit.
h. Riwayat pelanggaran hukum
Tidak pernah mengalami kasus di dalam hokum.
i. Riwayat seksual
-
j. Mimpi dan fantasi
Pasien pernah ingin menjadi seorang sekretaris yang kerja di kantor.

III. GENOGRAM
21 MARET 2018

KELUARGA TRI WARNI

Keterangan:

Pasien Meninggal

Laki-Laki Tinggal Serumah


Perempuan bercerai

6
IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan status mental dilakukan pada saat home visite

Deskripsi Umum

1. Penampilan : seorang wanita, berusia 59 tahun, berpakaian rapi dan bersih, tampak
sesuai dengan usianya, kondisi fisik tampak sehat.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : normoaktif, kontak mata adekuat, tidak ada
kelainan.
3. Sikap terhadap pemeriksa : menjawab pertanyaan dengan baik, cenderung terbuka
dan kooperative.

Mood dan afek

1. Mood : eutimik.
2. Afek : appropriate, luas, pasien sering mengekspresikan mood nya dengan baik.

Pembicaraan

1. Kualitas : menjawab beberapa pertanyaan dan jawaban relevan dengan pertanyaan,


intonasi baik, volume suara cukup dan artikulasi jelas.
2. Kuantitas : inkoheren dan tidak relevan, logorhoe (-), remming (+), blocking (-
),mutisme (-)
3. Kecepatan produksi : spontan

Persepsi

1. Halusinasi (+) : halusinasi auditorik (pasien sering mendengar adanya suara


yang berbisik sesuatu namun tidak jelas suara tersebut pasien
mengatakan dari tetangga ),
Waham (+) : waham curiga ( pasien mencurigai ada orang
atau tetangga sekitar yang ingin mencelakakan anjing-
anjingnya)
2. Depersonalisasi (-) : tidak ada
3. Derealisasi (-) : tidak ada

Pikiran

1. Bentuk pikir : nonrealistik


2. Isi pikir :
 Waham (+) Paranoid.
7
 Pikiran obsesi (-) kompulsi (-)
 Fobia (-)
 Ide bunuh diri (-)
3. Progresi pikir : inkoheren (+), flight of ideas (+), asosiasi longgar (+)

Sensorium dan kognisi

1. Kesadaran : compos mentis


2. Orientasi :
a. Waktu : dapat membedakan antara siang dan malam.
b. Tempat : dapat menyebutkan bahwa pasien berada dirumahnya
c. Orang : dapat menyebutkan siapa anak-anaknya
3. Memori :
a. Jangka pendek : dapat menyebutkan apa yang dimakan saat sarapan
b. Daya ingat segera : dapat menghitung urut angka 1 sampai 5 dan berhitung
mundur dari 5 sampai 1.
c. Jangka panjang : dapat mengungkapkan memori waktu masa dirumah sakit
jiwa.
4. Konsentrasi dan perhatian :
a. Konsentrasi : konsentrasi baik karna pasien dapat berkonsentrasi pada masalah
yang ditanyakan.
b. Perhatian : perhatian baik, pasien dapat menyebutkan benda berawalan huruf A
5. Pikiran abstrak : baik, pasien dapat menyebutkan persamaan dari jeruk dan mangga.
6. Informasi dan intelegensia : baik
7. Daya nilai :
a. Norma sosial : Penilaian pasien tentang norma – noma sosial baik
b. Realita : Penilaian pasien tentang realita di lingkungan sekitarnya
kurang baik, karena pasien berpendapat orang sekitar / tetangga sekitar
cenderung kurang bersosialisasi dan cenderung diam.
c. Uji daya nilai : dapat membuat kesimpulan atau penilaian kapabilitas
penilaian sosial.
8. Tilikan : tilikan diri jelek, karena pasien tidak menyadari bahwa dirinya sedang
sakit.

8
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Telah diperiksa seorang wanita berinisial T, berusia 59 tahun, belum menika, saat ini
tinggal sendiri dirumah beserta kedua anjingnya. Menurut keluarga pasien semasa sekolah
dikenal sebagai pribadi yang ceria, punya banyak teman, dan juga pintar. Gejala sering
mencurigai orang mulai muncul ketika pasien bekerja sebagai sales tiket di ancol, pasien
mencurigai bahwa teman sales yang lain sengaja untuk menghabiskan uangnya untuk
menutup kerugian kepada bos. Sewaktu ibu pasien meninggal ditahun 2003 lalu pasien pulang
ke Salatiga dan menetap di Salatiga dengan kelima anjingnya. Gejala halusinasi muncul pada
tahun 2006 ketika merawat anjingnya yang kena sakit epilepsy dan mulai mencurigai bahwa
ada orang atau tetangga dengan sengaja ingin mencelakakan anjingnya. Pasien juga
mengtakan sering mendengar suara berisik dari luar namun tak begitu jelas yang ingin
mencelakakan anjingnya. Pasien sangat sayang kepada anjingnya melebihi apapun. Pasien
cenderun mengurung diri dan sikapnya berubah dengan penuh halusinasi.

Pada pemeriksaan status mental didapatkan kesan umum terlihat baik, perawatan diri
baik, keadaan terlihat sehat, volume pembicaraan cukup, intonasi tepat dan jelas. kecepatan
produksi suara cukup, mood eutimik, dan afek luas. Bentuk pikir pasien nonrealistik dan
terdapat halusinasi auditik. Pasien memiliki waham paranoid jenis curiga kecenderungan dan
kecurigaan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman dengan menyalahkan artikan
tindakan orang lain/tetangga untuk mencelakakan anjingnya.

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

- Axis I : Skizofrenia paranoid (20.0)


Diagnosis banding:
o Skizofrenia Lainnya (F20.8)
o Skizofrenia tak terinci (F20.3)
- Axis II : Gangguan kepribadian paranoid
- Axis III : Tidak didapatkan diagnosis Axis III.
- Axis IV : Masalah berkaitan dengan keluarga.
- Axis V : GAF Scale 61-70= beberapa gejala ringan & menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik.

9
VII. TERAPI
1. Farmakoterapi
Risperidon 2 mg x 2
Clozapine 1 x 25 mg
2. Psikoterapi
- Edukasi pasien tentang penyakitnya dan pengobatan yang sedang dijalankan.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu schizo yang berarti
“terpotong‟ atau “terpecah‟ dan phrēn yang berarti “pikiran”, sehingga skizofrenia
berarti pikiran yang terpecah. Arti dari kata-kata tersebut menjelaskan tentang
karakteristik utama dari gangguan skizofrenia, yaitu pemisahan antara pikiran, emosi,
dan perilaku dari orang yang mengalaminya (Maramis W, 2009).
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab
(banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
"deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan
pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh
penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh
afek yang tidak wajar (inappropiate) atau tumpul (bluntted). Kesadaran yang jernih
(clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun
kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Maslim R, 2013).
Skizofrenia ialah merupakan suatu sindroma klinis yang bervariasi, tetapi
sangat destruktif, psikopatologinya mencakup aspek-aspek kognisi, emosi, persepsi
dan aspek-aspek perilaku lainnya. Ekspresi dari manifestasi gangguan ini bervariasi di
antara pasien, tapi efeknya selalu berlangsung lama dan berat. Gangguan ini biasanya
dimulai sebelum usia 25 tahun, dapat mengenai siapa saja dari kelompok sosial
ekonomi manapun (Sadock dan Sadock, 2007; Fatemi, 2008; Pesold, Roberts dan
Kirkpatrick, 2004).

II. Epidemiologi
Skizofrenia cukup banyak ditemukan di Indonesia, sekitar 99% pasien rumah
sakit jiwa di Indonesia adalah orang dengan skizofrenia. Prevalensi orang dengan
skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dan biasanya dialami pada usia sekitar 18-45
tahun, bahkan ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah mengalami skizofrenia
(Mueser & Gingerich, 2006).

11
Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di
berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir
sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan
biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa remaja. Skizofrenia pada
laki-laki biasanya pada usia 15-25 tahun sedangkan pada perempuan sekitar usia 25-35
tahun. Insidensi lebih tinggi terjadi pada laki-laki dan lebih banyak terjadi didaerah
urban.

III. Etiologi
Skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab skizofrenia telah
diselidiki dan menghasilkan beraneka ragam pandangan. Sebagian besar ilmuwan
meyakini bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang disebabkan oleh faktor–
faktor genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak, atau abnormalitas dalam
lingkungan prenatal. Berbagai peristiwa stress dalam hidup dapat memberikan
kontribusi pada perkembangan skizofrenia pada mereka yang telah memiliki
predisposisi pada penyakit ini. Penyebab munculnya skizofrenia terbagi
menjadiberbagai pendekatan seperti pendekatan biologis, teori psikogenik, dan
pendekatan gabungan atau stree-vulnerability model.

a. Pendekatan biologis
Pada pendekatan biologis menyangkut faktor genetik, struktur otak, danproses
biokimia sebagai penyebab skizofrenia.
1. Teori genetik
Teori ini menekankan pada ekspresi gen yang bisa
menyebabkangangguan mental. Hasil dari beberapa penelitian menunjukan
bahwa faktorgenetik sangat berperan dalam perkembangan skizofrenia,
dimana ditemukanhasil bahwa skizofrenia cenderung menurun dalam
keluarga. Hal inidibuktikan dengan penelitian yang dilakukan National
Institute of Mental10Health (NIMH) pada keluarga penderita skizofrenia
yang menyatakan bahwa skizofrenia muncul pada 10% populasi yang
memiliki keluarga dengan riwayat skizofrenia seperti orang tua dan saudara
kandung. BerdasarkanAmerican Journal of Medical Genetic, menyatakan
bahwa apabila keduaorang tuanya mengidap skizofrenia, maka kemungkinan
anaknya mengalami skizofrenia adalah sebesar 40%. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa semakin dekat hubungan biologis dengan individu yang

12
sakit, maka semakin besar juga kemungkinan seseorang menderita
skizofrenia.
Beberapatahun terakhir telah diteliti mengenai gen yang spesifik
berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia. Gen-gen tersebut di antaranya
adalah Disrupted inSchizophrenia (DISC), G-Protein Signalling-4 (RGS4),
ProlyneDehidrogenase (PRODH), dan Neuregulin-1 (NRG-1). Dengan
adanya kelainan gen-gen tersebut maka akan berpengaruh terhadap sintesis
protein, misalnya akan menyebabkan disfungsi protein yang membentuk
kompleks reseptor NMDA. Tentu saja hal ini akan menyebabkan hipofungsi
reseptor NMDA yang pada akhirnya akan menyebabkan timbulnya gejala-
gejala psikosis.
Hasil penelitian lain menunjukkan proporsi yang tinggi dari orang-
orangskizofrenia mengalami masalah dengan suatu gen khusus pada
kromosom 5. Hal ini menjadi logis karena gen ini mempengaruhi
dopamindan reseptor dopamin yang berperanan penting dalam timbulnya
symptom skizofrenia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lebih dari satu gen
dapat menyebabkan gangguan skizofrenia. Pengaruh genetik tidak
sesederhana itu, lingkungan individu merupakan faktor penting yang
berpengaruh terhadapproses perkembangan skizofrenia. Ada kemungkinan
jika individu-individu yang hubungannya lebih erat memiliki lingkungan
yang sama. Dengan begitu,tidak bisa disimpulkan dengan pasti mengenai satu
dasar genetik pada skizofrenia. Selain itu juga, faktor-faktor genetik tidak
dapat menjelaskan semua kasus skizofrenia. Dapat dikatakan jika gen-gen
tersebut hanya meningkatkan kerentanan seseorang untuk menjadi seorang
dengan skizofrenia.
2. Teori neurostruktural
Berdasarkan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dan
Acomputed tomography (CT) scan otak pada orang-orang dengan
skizofreniamenunjukkan ada tiga tipe abnormalitas struktural, yaitu
pembesaran padaventrikel otak, atrofi kortikal, dan asimetri serebral yang
terbalik (reversedcerebral asimetry).
a) Pembesaran pada ventrikel otak
Ventrikel adalah rongga atau saluran otak tempat cairan serebro spinal
mengalir, diperkirakan pada pasien skizofrenia terjadinya pembesaran
pada daerah ini hingga 20 hingga 50%. Kerusakan pada ventrikel
13
berhubungan dengan skizofrenia kronis dan simptom negatif (Semiun,
2006). Struktur otakyang tidak normal seperti pembesaran ventrikel otak
diyakini menyebabkan tiga sampai empat orang yang mengalaminya
menderita skizofrenia. Pembesaran ventrikel otak ini menyebabkan otak
kehilangan sel–selotak, sehingga otak akan mengecil ukurannya
dibandingkan otak yang normal.
b) Atrofi kortikal
Pendapat lain menyatakan bahwa skizofrenia dapat terjadi pada
seseorangyang kehilangan jaringan otak yang bersifat degeneratif atau
progresif, kegagalan otak untuk berkembang normal, dan juga karena
infeksi virus padaotak ketika masa kandungan (Nevid, 2012). Atrofi juga
menyebabkan kerusakan suci yang menutupi selaput otak atau
pembesaran celah antarabagian-bagian otak. Sebanyak 20 hingga 35%
orang dengan skizofrenia mengalami kelainan ini.
c) Asimetri serebral yang terbalik (reversed cerebral asimetry)
Pada orang normal, sisi kiri otak lebih besar daripada sisi kanan,
tetapikondisi yang terbalik terjadi pada orang-orang dengan skizofrenia.
Padahalotak kiri bertanggung jawab dalam kemampuan bahasa,
sedangkan otak kanan bertanggung jawab dalam kemampuan spasial. Hal
ini menyebabkan perbedaan dalam memahami masalah-masalah kognitif
pada pasien skizofrenia.
3. Teori biokimia
Pada teori biokimia, dikenal hipotesis dopamin dan serotonin-
glutamat.Overaktivitas reseptor dopamin saraf pada jalur mesolimbik bisa
menyebabkan timbulnya gejala positif, sedangkan penurunan aktivitas
dopamin neuron pada jalur mesokortek di dalam kortek prefrontalis
bisamenyebabkan gejala negatif. Pada teori glutamat disebutkan bahwa,
penurunan kadar glutamat akan menyebabkan penurunan regulasi reseptor
Nmethyl-D-aspartate (NMDA) dan menyebabkan gejala-gejala psikotik serta
defisit kognitif. Banyak literatur yang menyatakan hubungan peningkatan
aktivitas dari neurotransmiter dopamin dengan skizofrenia. Tingginya
konsentrasi dopamine yang ditemukan di daerah korteks pada lobus frontalis
berperan dalam mengintegrasikan fungsi manusia. Konsentrasi dopamin
yangtinggi menyebabkan aktivitas neurologis yang tinggi dalam otak,
sehinggamemunculkan simptom-simptom skizofrenia. Tingginya aktivitas
14
dopamine menyebabkan rangsangan yang tinggi pada daerah khusus pada
otak, rangsangan tersebut mengganggu fungsi kognitif yang
kemudianmengakibatkan halusinasi dan delusi. Penjelasan ini yang
mengemukakanhubungan antara faktor biokimiawi dan faktor kognitif.
Ada tiga faktor yang mungkin menjadi penyebab tingginya aktivitas
dopamin :
1. Konsentrasi dopamin yang tinggi
2. Sensitivitas yang tinggi dari reseptor dopamine
3. Jumlah reseptor dopamin yang terdapat pada sinapsis
Pada orang dengan skizofrenia ditemukan memiliki jumlah
reseptordopamin yang lebih banyak daripada orang normal. Penurunan
drastis jumlahreseptor dopamin pada laki-laki terjadi pada usia antara 30-
50 tahun,sedangkan pada perempuan penurunan jumlah reseptor terjadi
perlahanperlahan.Teori ini dapat menjadi penjelasan mengenai perbedaan
onset yangterjadi pada laki-laki dan perempuan.
4. Teori psikogenik
Teori psikogenik, yaitu skizofrenia sebagai suatu gangguan fungsional
danpenyebab utama adalah konflik, stress psikologik dan hubungan antar
manusiayang mengecewakan.
5. Stress-Vulnerability Model
Pendekatan ini meyakini bahwa orang – orang tertentu yang
memilikikerentanan genetis terhadap skizofrenia akan memunculkan gejala
skizofreniajika mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan stres.
Peristiwa dalam hidup dapat memberikan kontribusi pada
perkembanganskizofrenia pada mereka yang telah memiliki predisposisi pada
penyakit ini.

IV. Patofisiologi
Patofisiologi skizofrenia diduga berhubungan dengan ketidakseimbangan
neurotransmitter. Ketidakseimbangan neuriotransmitter tersebut terjadi pada dopamin,
serotonin, norephinefrin, asam amino gamma-aminobutyric (GABA). Penurunan dari
ketiga neurotransmitter serotonin, norepinefrin dan GABA pada akhirnya akan
mengakibatkan peningkatan dopamin.

15
Terdapat empat jalur dopamin dalam otak, yaitu:
a. Jalur Nigrostriatal: sistem nigrostriatal mengandung sekitar 80% dari
dopamin otak. Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra ke basal ganglia
atau striatum (kauda dan putamen). Jalur ini berfungsi menginervasi sistem
motorik dan ekstrapiramidal. Dopamin pada jalur nigrostriatal
berhubungan dengan efek neurologis (Ekstrapiramidal / EPS) yang
disebabkan oleh obat-obatan antipsikotik tipikal / APG-I (Dopamin D2
antagonis).
b. Jalur Mesolimbik: berproyeksi dari area midbrain ventral tegmental ke
batang otak menuju nucleus akumbens di ventral striatum. Jalur ini
memiliki fungsi berhubungan dengan memori, indera pembau, efek viseral
automatis, dan perilaku emosional. Hiperaktivitas pada jalur mesolimbik
akan menyebabkan gangguan berupa gejala positif seperti waham dan
halusinasi;
c. Jalur Mesokortikal: berproyeksi dari daerah tegmental ventral ke korteks
prefrontal. Berfungsi pada insight, penilaian, kesadaran sosial, menahan
diri, dan aktifitas kognisi. Hipofungsi pada jalur mesokortikal akan
menyebabkan gangguan berupa gejala negatif dan kognitif pada
skizofrenia;
d. Jalur Tuberoinfundibular: dari hipotalamus ke anterior glandula
pituitari. Fungsi dopamin disini mengambil andil dalam fungsi endokrin,
menimbulkan rasa lapar, haus, fungsi metabolisme, kontrol temperatur,
pencernaan, gairah seksual, dan ritme sirkardian. Obat- obat antipsikotik
mempunyai efek samping pada fungsi ini dimana terdapat gangguan
endokrin.

V. Gejala Klinis Skizofrenia


Bleuler membagi gejala – gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok (Kaplan &
Saddock, 2002) :
1. Gejala Primer
a) Gangguan proses berpikir
b) Gangguan emosi
c) Gangguan kemauan
d) Autisme

16
2. Gejala Sekunder
a) Waham
b) Halusinasi
c) gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain
Pada skizofrenia juga terdapat gejala-gejala positif dan negatif yaitu :
1. Gejala positif, terdiri dari :
a. Delusi/waham, yaitu keyakinan yang tidak masuk akal. Contohnya
berpikir bahwa dia selalu diawasi lewat televisi, berkeyakinan bahwa dia
orang terkenal, berkeyakinan bahwa radio atau televisi memberi pesan-
pesan tertentu, memiliki keyakinan agama yang berlebihan.
b. Halusinasi, yaitu mendengar, melihat, merasakan, mencium sesuatu yang
sebenarnya tidak ada. Sebagian penderita, mendengar suara/ bisikan
bersifat menghibur atau tidak menakutkan. Sedangkan yanng lainnya
mungkin menganggap suara/bisikan tersebut bersifat negatif/ buruk atau
memberikan perintah tertentu.
c. Pikiran paranoid, yaitu kecurigaan yang berlebihan. Contohnya merasa
ada seseorang yang berkomplot melawan, mencoba mencelakai atau
mengikuti, percaya ada makhluk asing yang mengikuti dan yakin dirinya
diculik/ dibawa ke planet lain.
d. Katatonia
e. Peningkatan pembicaraan
f. Perilaku yang sangat kacau
2. Gejala negatif
a. Motivasi rendah (low motivation). Penderita akan kehilangan
ketertarikan pada semua aspek kehidupan. Energinya terkuras sehingga
mengalami kesulitan melakukan hal-hal biasa dilakukan, misalnya
bangun tidur dan membersihkan rumah.
b. Menarik diri dari masyarakat (social withdrawal). Penderita akan
kehilangan ketertarikan untuk berteman, lebih suka menghabiskan waktu
sendirian dan merasa terisolasi.
c. Ekspresi efektif tumpul atau datar
d. Ketidakmampuan merawat diri
e. anhedonia
3. Gejala kognitif

17
a. Mengalami problema dengan perhatian dan ingatan. Pikiran mudah
kacau sehingga tidak bisa mendengarkan musik/ menonton televisi
lebih dari beberapa menit. sulit mengingat sesuatu, seperti daftar
belanjaan.
b. Tidak dapat berkosentrasi, sehingga sulit membaca, menonton televisi
dari awal hingga selesai, sulit mengingat/ mempelajari sesuatu yang
baru.
c. Miskin perbendaharaan kata dan proses berpikir yang lambat. Misalnya
saat mengatakan sesuatu dan lupa apa yang telah diucapkan, perlu
usaha keras untuk melakukannya.

VI. Perjalanan penyakit


Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu.
Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa
fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodormal, fase aktif dan keadaan residual.
Pola gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala
skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan
diikuti dengan perkembangan gejala prodormal yang berlangsung beberapa hari
sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodormal skizofrenia dapat berupa cemas,
gaduh (gelisah), merasa diteror atau depresi.
Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis,
yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien
skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri brurk sampai tidak ada.
Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis skizofrenia. Yang
tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, yaitu
dapat berupa penarikan diri atau perilaku aneh.

VII. Jenis skizofrenia


Adapun jenis-jenis dari skizofrenia adalah :
Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia Paranoid ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau
lebih waham atau halusinasi dengar yang sering, dan tidak ada perilaku lain yang
mengarahkan pada tipe katatonik. Pasien skizofrenia paranoid biasanya berumur
lebih tua daripada pasien skizofrenik terdisorganisasi atau katatonik jika mereka

18
mengalami episode pertama penyakitnya. Kekuatan ego pasien paranoid cenderung
lebih besar dari pasien katatonik (Kaplan & Sadoock, 2002).
Skizofrenia paranoid tipikal adalah tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah. Kadang dapat menempatkan diri mereka sendiri secara adekuat didalam
situasi sosial. Kecerdasan mereka tidak dipengaruhi oleh kecenderungan psikosis
mereka (Kaplan & Sadock, 2002).
Gejala Klinis Skizofrenia Paranoid :
1. Waham (delucion) kejar atau waham kebesaran, misi atauutusan sebagai
penyelamat bangsa dunia atau agama, misikenabian atau mesias, atau perubahan
tubuh. Waham cemburuseringkali juga ditemukan.
2. Halusinasi yang berisi kejaran atau kebeseran.
3. Gangguan alam perasaan dan perilaku, misalnya kecemasanyang tidak menentu,
kemarahan, suka bertengkar dan berdebatkekerasan. Seringkali ditemukan
kebingungan tentang identitasjenis kelamin dirinya (gender identity) atau
ketakutan bahwadirinya diduga sebagai seorang homoseksual atau merasadirinya
didekati oleh orang-orang homoseksuaL.
Pedoman diagnostic skizofrenia paranoid menurut PPDGJ III :
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Sebagai tambahan :
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol :
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau member
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi
suara tawa (laughing)
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan, dipengaruhi atau passivity, dan keyakinan
dikejar-kejar.
- Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejala katatonik secara relative tidak nyata/tidak menonjol.

19
Skizofrenia Hebefrenia
Tipe ini disebut juga disorganized type atau kacau balau yang dimulaidengan gejala-
gejala antara lain :
1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapatdimengerti apa maksudnya.
Hal ini dapat dilihat dari katakatayang diucapkan tidak ada hubungannya satu
dengan yanglain.
2. Alam perasaan (mood, effect ) yang datar tanpa ekspresi sertatidak serasi
(incongrose) atau ketolol-tololan ( silly ).
3. Perilaku dan tertawa kekanak-kanakan ( giggling ), senyumyang menunjukan rasa
puas diri atau senyum yang hanyadihayati sendiri .
4. Waham ( delusion ) tidak jelas dan tidak sistimatik ( terpecahpecah) tidak
terorganisir suatu satu kesatuan.
5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidakterorganisir sebagai satu
kesatuan.
6. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkangerakan-gerakan aneh,
berkelakar, pengucapan kalimat yangdiulang-ulang dan kecenderungan untuk
menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial
Skizofrenia Katatonia
Jenis skizofrenia yang ditandai dengan berbagai gangguan motorik,termasuk
kegembiraan ekstrim dan pingsan. Orang yang menderita bentukskizofrenia ini akan
menampilkan gejala negatif: postur katatonik danfleksibilitas seperti lilin yang bisa di
pertahankan dalam kurun waktuyang panjang.
Skizofrenia Tanpa Kriteria / Golongan yang jelas Jenis
Skizofrenia dimana penderita penyakitnya memiliki delusi, halusinasi danperilaku
tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofreniaparanoid, tidak teratur,
atau katatonik.
Skizofrenia Residual
Skizofrenia residual akan di diagnosis ketika setidaknya epsiode dari salah satu dari
empat jenis skizofrenia yang lainnya telah terjadi. Tetapi skizofrenia ini tidak
mempunyai satu pun gejala positif yang menonjol.Tipe ini merupakan sisa-sisa
(residu) dari gejala skizofrenia yang tidak begitu menonjol. Misalnya alam perasaan
yang tumpul dan mendatar serta tidak serasi (innappropriate), penarikan diri dari
pergaulan sosial, tingkah laku eksentrik, pikiran tidak logis dan tidak rasional atau
pelonggaran asosiasi pikiran.

20
VIII. Kriteria Diagnostik Skizofrenia
Adapun kriteria diagnostik skizofrenia meliputi
1. Gangguan pada isi pikiran
Delusi atau kepercayaan salah yang mendalam merupakan gangguanpikiran yang
paling umum dihubungkan dengan skizofrenia. Delusi inimencakup delusi
rujukan, penyiksaan, kebesaran, cinta, kesalahan diri,kontrol, nihil atau doss dan
pengkhianatan. Delusi lain berkenan dengankepercayaan irasional mengenai suatu
proses berpikir, seperti percaya bahwapikiran bisa disiarkan, dimasuki yang lain
atau hilang dari alam pikirannyakarena paksaan dari orang lain atau objek dari
luar. Delusi somatik meliputikepercayaan yang salah dan aneh tentang kerja tubuh,
misalnya pasienskizofrenia menganggap bahwa otaknya sudah dimakan rayap.
2. Gangguan pada bentuk pikiran, bahasa dan komunikasi
Proses berpikir dari pasien skizofrenia dapat menjadi tidak terorganisasi dan tidak
berfungsi, kemampuan berpikir mereka menjadi kehilangan logika,cara mereka
mengekspresikan dalam pikiran dan bahasa dapat menjadi tidakdapat dimengerti,
akan sangat membingungkan jika kita berkomunikasidengan penderita, gangguan
pikiran. Contoh umum gangguan berpikir adalahinkoheren, kehilangan asosiasi,
neologisms, blocking dan pemakaian kata-katayang salah.
3. Gangguan persepsi halusinasi
Halusinasi adalah salah satu simpton skizofrenia yang merupakan kesalahan dalam
persepsi yang melibatkan kelima alat indera kita walaupunhalusinasi tidak begitu
terikat pada stimulus yang di luar tetapi kelihatanbegitu nyata bagi pasien
skizofrenia. Halusinasi tidak berada dalam kontrolindividu, tetapi tejadi begitu
spontan walaupun individu mencoba untukmenghalanginya.
4. Gangguan afeksi (perasaan)
Pasien skizofrenia selalu mengekspresikan emosinya secara, abnormal
dibandingkan dengan orang lain. secara umum, perasaan itu konsisten
denganemosi tetapi reaksi ditampilkan tidak sesuai dengan perasaannya.
5. Gangguan psikomotor
Pasien skizofrenia kadang akan terlihat aneh dan cara yang berantakan, memakai
pakaian aneh atau membuat mimik yang aneh atau pasienskizofrenia akan
memperlihatkan gangguan katatonik stupor (suatu keadaan dimana pasien tidak
lagi merespon stimulus dari luar, mungkin tidakmengetahui bahwa ada orang di
sekitarnya), katatonik rigid (mempertahankansuatu posisi tubuh atau tidak
mengadakan gerakan) dan katatonik gerakan(selalu mengulang suatu gerakan
21
tubuh) menonjol adalah afek yangmenumpul, hilangnya dorongan kehendak dan
bertambahnya kemunduransosial.
IX. Penatalaksanaan
Psikofarmakologi
Pengobatan medis utama untuk skizofrenia adalah Psychopharmacology.Di
masa lalu, terapi yang digunakan adalah terapi electroconvulsive, terapi kejutinsulin,
dan psychosurgery, tapi karena terciptanya chlorpromazine (Thorazine)pada tahun
1952, terapi lainnya telah tidak digunakan lagi. Obat antipsikotik, juga dikenal sebagai
neuroleptik, diresepkan untuk keberhasilan dalam mengurangi gejala
psikotik.Semakin tua, atau konvensional, obat antipsikotik merupakan antagonis
dopamin. Yang lebih baru, atau atipikal, obat antipsikotik ada dua yaitu dopamindan
serotonin antagonis. Para antipsikotik konvensional menargetkan tanda-tanda positif
skizofrenia, seperti delusi, halusinasi, pikiran terganggu, dan gejala psikotik lainnya,
tetapi tidak memiliki efek pada tanda-tanda negatif. Para antipsikotik atipikal tidak
hanya mengurangi gejala positif tetapi juga, mengurangi tanda-tanda negatif
kurangnya kemauan dan motivasi, penarikan sosial, dan anhedonia.
Kategori obat: Antipsikotik – memperbaiki psikosis dan kelakuan agresif.
Nama Obat
Haloperidol Untuk manajemen psikosis. Juga untuk saraf motor dan suara pada
(Haldol) anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan, tetapi
diseleksi oleh competively blocking postsynaptic dopamine (D2)
reseptor dalam sistem mesolimbic dopaminergic; meningkatnya
dopamine turnover untuk efek tranquilizing. Dengan terapi subkronik,
depolarization dan D2 postsynaptic dapat memblokir aksi antipsikotik.
Risperidone Monoaminergic selective mengikat lawan reseptor D2 dopamine
(Risperdal) selama 20 menit, lebih rendah afinitasnya dibandingkan reseptor 5-
HT2. Juga mengikat reseptor alpha1-adrenergic dengan afinitas lebih
rendah dari H1-histaminergic dan reseptor alpha2-adrenergic.
Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian
pada efek ekstrpiramidal.
Olanzapine Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi sistem
(Zyprexa) reseptor (seperti serotonin, dopamine, kolinergik, muskarinik, alpha
adrenergik, histamine). Efek antipsikotik dari perlawanan dopamine
dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk pengobatan psikosis

22
dan gangguan bipolar.
Clozapine Reseptor D2 dan reseptor D1 memblokir aktifitas, tetapi nonadrenolitik,
(Clozaril) antikolinergik, antihistamin, dan reaksi arousal menghambat efek
signifikan. Tepatnya antiserotonin. Resiko terbatasnya penggunaan
agranulositosis pada pasien nonresponsive atau agen neuroleptik klasik
tidak bertoleransi.
Quetiapine Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu
(Seroquel) melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal
antipsikotik termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia,
parkinsonism, dan tardive diskinesia.
Aripiprazole Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia. Mekanisme
(Abilify) kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari antipsikotik
lainnya. Aripiprazole menimbulkan partial dopamine (D2) dan
serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).

Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran


Haloperidol (Haldol) Tab. 2 – 5 mg 5 – 15 mg/hari
Risperidone
Tab. 1 – 2 – 3 mg 2 – 6 mg/hari
(Risperdal)
Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 – 10 mg 10 – 20 mg/hari
Clozapine (Clozaril) Tab. 25 – 100 mg 25 – 100 mg/hari
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 – 100 mg
50 – 400 mg/hari
200 mg
Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 – 15 mg 10 – 15 mg/hari

Efek samping obat anti-psikosis dapat berupa:


 Sedasi dan inhibisi psikomotor (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang,
kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun).
 Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik: mulut kering,
kesulitan miksi&defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler
meninggi, gangguan irama jantung).
 Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut,akathisia, sindrom parkinson: tremor,
bradikinesia, rigiditas).

23
 Gangguan endokrin (amenorrhoe, gynaecomastia), metabolik (jaundice),
hematologik (agranulocytosis), biasanya pada pemakaian panjang.

Efek samping ini ada yang dapat di tolerir pasien, ada yang lambat, ada yang
sampai membutuhkan obat simptomatik untuk meringankan penderitaan pasien.Efek
samping dapat juga irreversible : Tardive dyskinesia (gerakan berulang involunter
pada: lidah, wajah, mulut/rahang, dan anggota gerak, dimana pada waktu tidur gejala
tersebut menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian jangka panjang (terapi
pemeliharaan) dan pada pasien usia lanjut. Efek samping ini tidak berkaitan dengan
dosis obat anti-psikosis.
Pada penggunaan obat anti-psikosis jangka panjang, secara periodik harus
dilakukan pemeriksaan laboratorium: darah rutin, urin lengkap, fungsi hati, fungsi
ginjal, untuk deteksi dini perubahan akibat efek samping obat.
Obat anti-psikosis hampir tidak pernah menimbulkan kematian sebagai akibat
overdosis atau untuk bunuh diri. Namun demikian untuk menghindari akibat yang
kurang menguntungkan sebaiknya dilakukan “lacage lambung” bila obat belum lama
dimakan.

Pengobatan Psikososial
Selain pengobatan farmakologis, banyak mode lain dari pengobatan untuk
membantu orang dengan skizofrenia. Terapi individu atau kelompok, terapi keluarga,
pendidikan keluarga, dan pelatihan keterampilan sosial dapat dilembagakan untuk
klien baik rawatinap dan pengaturan masyarakat. Sesi terapi individu dan kelompok,
memberikan klien kesempatan untuk kontak sosial dan berhubungan dengan orang
lain. Kelompok yang fokus pada topik yang menjadi perhatian seperti manajemen
obat-obatan, penggunaan masyarakat untuk mendukung klien, dan kekhawatiran
keluarga juga telah bermanfaat bagi klien dengan skizofrenia.
Klien dengan skizofrenia dapat meningkatkan kompetensi sosial mereka
dengan pelatihan keterampilan sosial, yang diterjemahkan ke dalam fungsi yang lebih
efektif di masyarakat. Pelatihan keterampilan sosial dasar melibatkanperilaku sosial
yang kompleks menjadi langkah-langkah sederhana, berlatih melalui role-playing, dan
menerapkan konsep-konsep pengaturan dalam masyarakat atau dunia nyata. Pelatihan
adaptasi kognitif digunakan untuk mendukung lingkungan yang dirancang untuk
meningkatkan fungsi adaptif dalam pengaturan rumah. Individual disesuaikan

24
mendukung lingkungan seperti tandatanda, kalender, perlengkapan kebersihan, dan
wadah pil isyarat klien untuk melakukan tugas-tugas yang terkait.
Sebuah terapi baru, cognitive enhancement therapy (CET), menggabungkan
pelatihan kognitif berbasis komputer dengan sesi kelompok yang memungkinkan klien
untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan sosial. Pendekatan ini dirancang
untuk memulihkan atau memperbaiki defisit sosial dan neurokognitif klien, seperti
perhatian, memori, dan pengolahan informasi. Latihan pengalaman membantu klien
untuk mengambil perspektif orang lain, daripada fokus sepenuhnya pada diri. Hasil
positif dari CET meliputi peningkatan stamina mental, aktif bukan pasif pengolahan
informasi, dan negosiasi spontan dan tepat tantangan sosial tanpa latihan.
Pendidikan keluarga dan terapi yang dikenal untuk mengurangi dampak negatif
dari skizofrenia dan mengurangi tingkat kekambuhan. Meskipun masuknya keluarga
merupakan faktor yang meningkatkan hasil bagi klien, keterlibatan keluarga sering
diabaikan oleh para profesional perawatan kesehatan. Keluarga sering memiliki waktu
yang sulit menghadapi kompleksitas dan konsekuensi dari penyakit klien. Hal ini
menciptakan stres di antara anggota keluarga yang tidak menguntungkan bagi anggota
klien atau keluarga. Pendidikan keluarga membantu untuk membuat anggota keluarga
bagian dari tim pengobatan.
Terapi Psikososial
- Pelatihan keterampilan sosial
Peatihan keterampilan sosial kadang-kadang disebut sebagai terapi
keterampilan perilaku. Terapi ini secara langsung dapat mendukung dan berguna
untuk pasien bersama dengan terapi farmakologis. Selain gejala yang biasa
tampak pada pasien skizofrenia, beberapa gejala yang paling jelas terlihat
melibatkan hubungan orang tersebut dengan orang lain, termasuk kontak mata
yang buruk, keterlambatan respons yang tidak lazim, ekspresi wajah yang aneh,
kurangnya spontanitas dalam situasi sosial, serta persepsi yang tidak akurat atau
kurangnya persepsi emosi pada orang lain. Pelatihan keterampilan perilaku
diarahkan ke perilaku ini melalui penggunaan video tape berisi orang lain dan si
pasien, bermain drama dalam terapi, dan tugas pekerjaan rumah untuk
keterampilan khusus yang dipraktekkan.
- Terapi kelompok
Terapi kelompok untuk oragn dengan skizofrenia umumnya berfokus pada
rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok dapat
berorientasi perilaku, psikodinamis atau berorientasi tilikan, atau suportif.
25
- Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif telah digunakan pada pasien skizofrenia untuk
memperbaiki distorsi kognitif, mengurangi distraktibilitas, serta mengoreksi
kesalahan daya nilai. Terdapat laporan adanya waham dan halusinasi yang
membaik pada sejumlah pasien yang menggunakan metode ini. Pasien yang
mungkin memperoleh manfaat dari terapi ini umumnya aalah yang memiliki
tilikan terhadap penyakitnya.
- Psikoterapi individual
Pada psikoterapi pada pasien skizofrenia, amat penting untuk
membangun hubungan terapeutik sehingga pasien merasa aman. Reliabilitas
terapis, jarak emosional antaraterapis dengan pasien, serta ketulusan terapis
sebagaimana yang diartikan oleh pasien, semuanya mempengaruhi pengalaman
terapeutik. Psikoterapi untuk pasien skizofrenia sebaiknya dipertimbangkan
untuk dilakukan dalamm jangka waktu dekade, dan bukannya beberapa sesi,
bulan, atau bahakan tahun.
Beberapa klinisi dan peneliti menekankan bahwa kemampuan pasien
skizofrenia utnuk membentuk aliansi terapeutik dengan terapis dapat
meramalkan hasil akhir. Pasien skizofrenia yang mampu membentuk aliansi
terapeutik yang baik cenderung bertahan dalam psikoterapi, terapi patuh pada
pengobatan, serta memiliki hasil akhir yang baik pada evaluasi tindak lanjut 2
tahun. Tipe psikoterapi fleksibel yang disebut terapi personal merupakan bentuk
penanganan individual untuk pasien skizofrenia yang baru-baru ini terbentuk.
Tujuannya adalah meningkatkan penyesuaian personal dan sosial serta
mencegah terjadinya relaps. Terapi ini merupakan metode pilihan menggunakan
keterampilan sosial dan latihan relaksasi, psikoedukasi, refleksi diri, kesadaran
diri, serta eksplorasi kerentanan individu terhadap stress.

X. Differential Diagnose
Gangguan Psikotik Lain

Penegakan skizofrenia terkadang akan berbeda pada tiap episode kejadian pada
paasien. Tiap individu memunculkan gejala-gejala berbeda-beda sesuai dengan
karakteristik masing pasien. Selain itu, episode aktif skizofrenia pada pasien bisa
berbeda tiap hari, bulan ataupun tahun. Gejala yang muncul terkadang juga tidak
begitu menonjol namun ada yang sangat menonjol.

26
Gangguan psikotik pada skizofren dapat identik dengan gangguan psikotik
singkat, dan gangguan skizoafektif. Gangguan psikotik singkat merupakan diagnosis
yang sesuai bila gejala berlangsung setidaknya 1 hari tapi kurang dari 1 bulan dan bila
pasien tidak kembali ke keadaan fungsi pramorbidnya dalam waktu tersebut. Jika
suatu sindrom manik atau depresif terjadi bersamaan dengan gejala utama skizofrenia,
Gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang tepat.

XI. Komplikasi
Beberapa individu yang mengalami skizofrenia dapat terkena stroke dan
mengalami kerusakan otak, yang tidak disadarinya. Kurangnya kesadaran tentang
skizofrenia dan penyakit manik-depresi merupakan keadaan biasa dialami penderita
yang tidak memperhatikan pengobatannya. Terdapat pula komplikasi sosial, dimana
penderita dikucilkan oleh masyarakat. Setelah itu dapat juga menjadi korban
kekerasan dan melukai diri sendiri.

Pada komplikasi depresi, penderita dapat melakukan tindakan bunuh diri.


Disamping bunuh diri karena depresi dan halusinasi, penderita skizofrenia yang
tadinya tidak merokok, banyak menjadi perokok berat ini diperkirakan karena faktor
obat, yang memblok satu reseptor dalam otak (nikotin). Reseptor nikotin yang
menimbulkan rasa senang, pikiran jernih, mudah menangkap sesuatu. Akibatnya
penderita skizofrenia mencari kompensasi dengan mengambil nikotin dari luar, dari
rokok. Dan resiko dari perokok memperpendek usia, karena adanya penyakit saluran
pernapasan, kanker, jantung, dan penyakit fisik lainnya.

XII. Prognosis
Sejumlah studi menunjukkan bahwa selama periode 5 sampai 10 tahun setelah
rawat inap psikiatrik yang pertama untuk skizofrenia, hanya sekitar 10-20% persen
yang dapat dideskripsikan memiliki hasil akhir yang baik. Lebih dari 50% pasien
dapat digambarkan memiliki hasil akhir yang buruk, dengan rawat inap berulang,
eksaserbasi gejala, episode gangguan mood mayor, dan percobaan bunuh diri. Namun,
skizofrenia tidak selalu memiliki perjalanan penyakit yang memburuk dan sejumlah
faktor dikaitkan dengan prognosis yang baik.

27
BAB III

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN


Pembahasan
Skizofrenia adalah diagnosis kejiwaan yang menggambarkan gangguan mental dengan
karakter abnormalitas dalam persepsi atau gangguan mengenai realitas. Pada pasien
didapatkan bahwa pasien memiliki halusinasi auditorik seperti mendengar bisikan dari luar,
pasien mengatakan kemungkinan bisikan dari tetangga atau orang yang ingin mencelakakan
anjingnya. Pasien juga memiliki waham yaitu waham paranoid dengan jenis waham curiga
kecenderungan dan kecurigaan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman dengan
menyalahkan artikan tindakan orang lain/tetangga untuk mencelakakan anjingnya. Menurut
PPDGJ III gejala tersebut telah memenuhi kriteria skizofenia. Untuk diagnostik pada pasien
ini lebih mengarah pada skizofenia paranoid karena gejala halusinasi dan waham cukup
menonjol dibanding gejala lainnya dan gangguan mood yang tidak begitu menonjol.

Pada pasien ini diberikan Risperidon 2 x 2 mg. Risperidon golongan benzisoxazale


adalah antipsikotik golongan atipikal yang potensial tinggi, digunakan untuk menghilangkan
gejala positif dan negative. Obat ini memiliki gejala efikasi yang lebih baik dan efek samping
minimal. Clozapine 1 x 25 mg golongan dibenzodiazepin merupakan juga obat antipsikosis
atipikal. Kedua obat inimemiliki mekanisme kerja sebagai serotonine – dopamine receptor
antagonist (SDA). Obat ini berafinitas terhadap dopamine D2 receptors dan serotonin 5HT2
receptors sehingga bermanfaat untuk gejala positif dan negative.

Kesimpulan
Pada pasien ini didiagnosis sebagai skizofrenia paranoid dimana halusinasi dan
waham pada pasien masih muncul dan mendominasi. Penatalaksanaannya sudah tepat dengan
diberikan obat anti psikotik atipikal untuk mengontrol gejala positif dan negative serta efek
samping minimal dibandingkan obat anti psikosis tipikal.

Mengingat belum bisa diketahui penyebab pastinya, jadi skizofrenia tidak bisa
dicegah. Lantaran pencegahannya sulit, maka deteksi dan pengendalian dini penting, terutama
bila sudah ditemukan adanya gejala. Dengan pengobatan dini, bila telah didiagnosis dapat
membuat penderita normal kembali, serta mencegah terjadinya gejala skizofrenia
berkelanjutan.

28
DAFTAR PUSTAKA

Amir N. Skizofrenia. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, penyunting. Buku ajar psikiatri.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h.170-94.

Amir N. Skizofrenia. Semijurnal farmasi & kedokteran Feb 2006;24:31-40.

Maramis W. & Maramis A. 2009. Catatan ilmu kedokteran jiwa edisi 2. Surabaya.: airlangga
university press. P 260-64.

Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University
Press; 2009.h.195-277.

Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Ringkasan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT. Nuh
Jaya, 2013. P 46-51

Mueser, K.t. & Gingerich, K. 2006. Co-morbidity of schizophrenia and substance abuse:
Implication for treatment. Journal of counseling and clinical psychology. P.60, 845-856.

Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA.
Kaplan & sadock’s concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2010.h.147-75.

Safitri A, penyunting. Obat antipsikosis. Dalam: Neal MJ. Medical pharmacology at a glance.
Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006.h.60-1.

Sobell JL, Mikesell MJ, Mcmurray CT. Genetics and etiopathophysiology of schizophrenia.
Mayo Clin Proc Oct 2005;77:1068-82.

The Four Dopamine Pathways Relevant to Antipsychotics Pharmacology. Guzmán, Flavio.


Psychopharmacolgy Institute. Diunduh dari :http://psychopharmacologyinstitute.com/

29
DOKUMENTASI

30