Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

SEPSIS

I. DEFINISI
Sepsis adalah adanya mikroorganisme patogenik atau toksinnya di dalam darah atau
jaringan lainnya (Dorland, 2011). Sepsis adalah SIRS ditambah tempat infeksi yang
diketahui (ditentukan dengan biakan positif terhadap organism dari tempat tersebut).
SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) adalah pasien yang memiliki kriteria
dua atau lebih sebagai berikut:
1. Demam (Suhu >38 ºC) atau hipotermi (<36ºC)
2. Takikardi / frekuensi denyut jantung > 90x/menit
3. Takipnea / frekuensi nafas lebih > 24/menit atauPaCO2 <32 mmHg
4. Leukositosis (hitung leukosit > 12.000 /mm3) atau leukopeni (< 4000 sel/ul)
atau > 10 % sel imatur)
Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisikan sebagai infeksi bakteri pada
aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan (Bobak, 2004). Sepsis
neonatorum adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan
ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, sumsum tulang atau air kemih.
Sepsis berat adalah sepsis yang berkaitan dengan disfungsi organ, kelainan
hipoperfusi atau hipotensi. Kelainan hipoperfusi meliputi (tetapi tidak terbatas) pada
asidosis laktat, oliguria, atau perubahan akut pada status mental (Sudoyo Aru, dkk. 2009).
Syok sepsis terjadi apabila bayi masih dalam keadaan hipotermi walaupun telah
mendapatkan cairan adekuat. Sindroma disfungsi multi organ terjadi apabila bayi tidak
mampu lagi mempertahankan homeostasis tubuh sehingga terjadi perubahan fungsi dua
atau lebih organ tubuh.
1
II. KLASIFIKASI

Dari waktu terjadinya, sepsis dibagi menjadi sepsis awitan dini dan lanjut.
a. Awitan Dini
• usia bayi < 72 jam
• Didapat saat persalinan
• Penularan vertikal dari ibu ke bayi
• Jenis Bakteri: basil gram negative(E.coli, klebsiella, enterococcus, Group B
streptococcus, coagulase negative staphylococci)
b. Awitan Lanjut
• usia bayi > 72 jam
• Didapat dari lingkungan
• Didapatkan secara nosokomial atau dari rumah sakit
• Jenis Bakteri: basil gram negative (pseudomonas,klebsiella, staph.aureus, coagulase
negative staphylococci, coagulase negative)
Selain perbedaan waktu paparan kuman, kedua bentuk infeksi juga berbeda dalam
macam kuman penyebab infeksi. Selanjutnya baik patogenesis, gambaran klinis ataupun
penatalak sanaan penderita tidak banyak berbeda dan sesuai dengan perjalanan sepsisnya
yang dikenal dengan cascade sepsis.
Berdasarkan waktu timbulnya:
1. Early Onset (dini) : terjadi pada 5 hari pertama setelah lahir dengan manifestasi
klinis yang timbulnya mendadak, dengan gejala sistemik yang berat, terutama
mengenai system saluran pernafasan, progresif dan akhirnya syok.

2. Late Onset (lambat) : timbul setelah umur 5 hari dengan manifestasi klinis sering
disertai adanya kelainan system susunan saraf pusat.
3. Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang terjadi pada neonatus tanpa resiko infeksi
yang timbul lebih dari 48 jam saat dirawat di rumah sakit.

III. ETIOLOGI

Etiologi terjadinya sepsis pada neonatus adalah dari bakteri.virus, jamur dan protozoa (
jarang ). Penyebab yang paling sering dari sepsis awitan awal adalah Streptokokus grup B
dan bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu. Sepsis awitan lanjut dapat
disebabkan oleh SGB, virus herpes simplek (HSV), enterovirus dan E.coli. Pada bayi

2
dengan berat badan lahir sangat rendah, Candida dan Stafilokokus koagulase-negatif
(CONS), merupakan patogen yang paling umum pada sepsis awitan lanjut.
Jika dikelompokan maka didapat:
* Bakteri gram positif
° Streptokokus grup B → penyebab paling sering.
° Stafilokokus koagulase negatif → merupakan penyebab utama bakterimia nosokomial.
° Streptokokus bukan grup B.
* Bakteri gram negatif
° Escherichia coli Kl penyebab nomor 2 terbanyak.
° H. influenzae.
° Listeria monositogenes.
° Pseudomonas
° Klebsiella.
° Enterobakter.
° Salmonella.
° Bakteria anaerob.
° Gardenerella vaginalis.
Walaupun jarang terjadi, terhisapnya cairan amnion yang terinfeksi dapat
menyebabkan pneumonia dan sepsis dalam rahim, ditandai dengan distres janin atau
asfiksia neonatus. Pemaparan terhadap patogen saat persalinan dan dalam ruang
perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir.
Terdapat perbedaan patogenesa antara sepsis neonatus yang early onset/awitan awal
dengan yang late onset/awitan lanjut.early onset didapat secara transmisi vertikal dalam
uterus atau intra partus,sedangkan late onset biasanya secara transmisi horisontal dan intra
partus.
1. Early onset / awitan dini
Hal yang paling penting faktor resiko terjadinya infeksi adalah pada saat
persalinan dimana keberadaan mikroorganisme dalam saluran genito urinarius.Bakteri
pada saluran genito urinarius naik secara asending dan mencapai cairan amnion
setelah terjadi ruptur pada membran prematur ( PROM ). Infeksi secara asending juga
dapat terjadi pada saat kontak dengan membran korioamnetik dalam uterus yang
berdampak lahir hidup atau mati beberapa jam setelah lahir. Altematif lain adalah
pada saat neonatus kontak dengan mikroorganisme selama melalui jalan lahir. Ketika
fetus menghisap/aspirasi cairan amnion yang terkontaminasi.mikroorganisme
3
mencapai bagian bawah saluran sistem pemapasan dan menyebabkan kerusakan sel
epitel dari paru- paru.sebagai hasilnya adalah pnemonia dan distres pemapasan yang
terlihat pada beberapa jam setelah kelahiran. Sepsis neonatal yang berat terjadi jika
bakteri menginvasi melalui intravaskular dan adanya kegagalan dari tuan rumah untuk
mengeliminasi mikroorganisme patogen.
Secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Transplasenta (antepartum).
b. Asenderen kuman vagina ( partus lama,ketuban pecah sebelum waktunya).
c. Waktu melewati jalan lahir (kuman dari vagina dan rektum).

2. Late onset /awitan lanjut


Transmisi secara horisontal memegang peranan yang besar,kontak yang erat
dengan ibu yang menyusui,dan penularan transmisi secara nosokomial.Yang paling
utama penyebab faktor resiko didapatkannya nosokomial sepsis adalah penggunaan
lama kateter plastik intravaskuler, penggunaan prosedur invasif, pemakaian antibiotik,
perawatan yang lama di rumah sakit,kontaminasi dari peralatan laboratorium
pendukung, cairan intravena atau enteral,dan peralatan yang terkontaminasi.
Bagaimanapun, situasi yang meningkatkan paparan neonatus terhadap
mikroorganisme menghasilkan peningkatan yang tinggi terhadap infeksi nosokomial
dalam perawatan.
Secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Akibat tindakan manipulasi (intubasi,kateterisasi,pemasangan infus.dll).
b. Defek kongenital (omfalokel,meningokel,labioskizis,labiopalatoskizis,dll).
c. Koloni kuman beasal dari saluran napas atas, konjungtiva, membran mukosa,
umbilikus dan kulit yang menginvasi / menyebar secara sistemik.
Faktor - faktor resiko untuk terjadinya sepsis neonatus perlu juga diketahui. Faktor
resiko dari sepsis neonatus terdiri faktor pejamu, sosio-ekonomi, riwayat persalinan,
perawatan bayi baru lahir, dan kesehatan serta keadaan gizi ibu, merupakan faktor-
faktor resiko terpenting pada sepsis neonatal.
Berikut ini akan dibahas sebagian dari faktor-faktor yang telah disebut diatas.
a. Berat lahir.
Berat lahir memegang peran penting pada terjadinya sepsis neonatal. Dilaporkan
bahwa bayi dengan berat lahir rendah mempunyai resiko 3 kali lebih tinggi terjadi
sepsis daripada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram.Makin kecil berat lahir
4
makin tinggi angka kejadian sepsis. Masalah sepsis bukan saja terjadi dekat setelah
lahir,tetapi seringkali seorang bayi berat lahir rendah setelah dapat mengatasi masalah
prematuritasnya selama 5 hari pertama kehidupan ,meninggal setelah mendapat sepsis
dikemudian hari(late onset sepsis neonatal). Walaupun angka kematian sepsis onset
lambat mempunyai prognosis yang lebih baik daripada sepsis onset dini.
b. Perawatan di Unit Perawatan Intensif Neonatus ( UPIN ).
Neonatus yang dirawat di ruang rawat intensif mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya infeksi. Hal ini dapat dimengerti oleh karena pada umumnya pasien yang
dirawat di ruang intensif adalah pasien berat.Pada umumnya infeksi merupakan
penyebab kematian pada bayi kecil
c. Respon imun penjamu.
Kerentanan bayi baru lahir terhadap terjadinya sepsis diduga disebabkan oleh karena
sistem imunologi baik humoral maupun selular yang masih imatur.Para peneliti
banyak melaporkan mengenai pengaruh jenis kelamin pada kejadian sepsis
neonatal.Dikemukakan bahwa sepsis neonatal lebih banyak dijumpai pada anak laki-
laki daripada bayi perempuan.Bayi lelaki juga lebih rentan terhadap infeksi basil
enterik gram negatif sedangkan bayi perempuan lebih rentan terhadap infeksi bakteri
kokus gram positif.Angka kejadian bayi lelaki lebih rentan menderita sepsis daripada
perempuan dengan rasio 7:3. Dugaan penyebabnya adalah peran faktor sex-linked
pada kerentanan penjamu terhadap infeksi. Telah disepakati bahwa gen yang terletak
pada kromosom x mempengaruhi fungsi kelenjar thymus dan sintesis
imunoglobulin.Perempuan mempunyai dua gen x mungkin hal ini yang menyebabkan
lebih tahan terhadap infeksi. Beberapa peneliti membuktikan bahwa bayi perempuan
lebih jarang menderita sindrom distres pemapasan. Peneliti lain melaporkan bahwa
rasio lecithin:sphingomyelin dan konsentrasi saturated phosphatidylcholine serta
kortisol dalam cairan amnion pada kehamilan 28-40 minggu bayi perempuan lebih
tinggi daripada bayi lelaki.
d. Faktor geografi.
Jenis bakteri penyebab berbeda antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lain atau
antara negara satu dengan negara lain.Hal ini disebabkan karena perbedaan fasilitas
pelayanan kesehatan, budaya setempat termasuk sexual-practices, pelayanan
perawatan, dan pola penggunaan antibiotik.Hal tersebut akan menyebabkan pola
etiologi sepsis neonatal berbeda pada tiap negara. Spesies Salmonella dan
Enterobacteriacae lainnya serta Streptococcus pneumonia di samping E.coli di daerah
5
tropis banyak dilaporkan sebagai penyebab utama sepsis neonatal. Faktor lain adalah
jenis kolonisasi bakteri pada ibu hamil-pun berbeda di setiap negara.
e. Faktor sosio-ekonomi.
Pola gaya hidup ibu,termasuk kebiasaan.kondisi perumahan, status nutrisi, dan
penghasilan orang tua sangat mempengaruhi resiko terjadinya infeksi pada bayi baru
lahir. Sebenarnya berat bayi lahir rendah dan prematuritas merupakan faktor resiko
terpenting terjadinya sepsis neonatal Kesempatan bayi kontak dengan infeksi akan
meningkat ketika bayi tersebut pulang.Pertemuan dengan anggota keluarga lain
serumah,akan meningkatkan resiko terjadinya infeksi (khususnya infeksi stafilokokus)
akan sangat menular ke anggota keluarga yang lain. Keadaan tersebut akan menjadi
lebih berat bila pada keluarga dengan sosio ekonomi rendah.
f. Perawatan di bangsal bayi.
Dibangsal perawatan bayi baru lahir seringkali infeksi berasal dari orang
dewasa,termasuk ibu,perawat atau keluarga lain yang berkunjung. Transmisi melalui
droplet merupakan sumber infeksi terbanyak, baik berasal dari orang dewasa maupun
dari bayi lahir. Infeksi stafilokokus biasanya dihubungkan dengan transmisi dari
orang dewasa,sedangkan penularan dari alat dan cairan menyebabkan infeksi spesies
Proteus, Klebsiella, Serratia marcescans, Pseudomonas, dan Flavobacterium. Di pihak
lain,penggunaan antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan perubahan pola
resistensi bakteri setempat.Penggunaan preparat ampisilin dan gentamisin atau
kloramfenikol (sebagai pengobatan standar)dalam jangka waktu panjang
menyebabkan resistensi antibiotik tersebut. Akhir-akhir ini dilaporkan peningkatan
resistensi bakteri terhadap golongan sefalosporin generasi ketiga terhadap enterik
gram negatif lebih cepat terjadi dibandingkan dengan pengobatan standar.Pemakaian
obat topikal terutama hexachlorophene sebagai anti septik untuk perawatan talipusat,
dilaporkan sangat efektif menghambat kolonisasi stafilokokus tetapi tidak
menghambat kolonisasi bakteri gram negatif. Walaupun demikian belum pemah
dilaporkan hubungan antara pemakaian hexachlorophene dengan kejadian sepsis
neonatal.
Dari laporan penelitian pada sepsis neonatal yang terjadi segera setelah
lahir,menunjukkan adanya satu atau lebih faktor resiko pada riwayat kehamilan dan
persalinan. Faktor-faktor tersebut adalah kelahiran kurang bulan, berat badan lahir
rendah, ketuban pecah dini, infeksi maternal peripartum, kelahiran aseptik, kelahiran

6
traumatic dan keadaan hipoksia. Pada umumnya sepsis neonatal tidak akan terjadi
pada bayi lahir cukup bulan dengan riwayat kehamilan dan persalinan normal.
Dari faktor-faktor diatas dapat diringkas menjadi dua faktor besar yaitu faktor ibu
anak dan ada juga yang membaginya menjadi faktor mayor-minor.
1. Faktor ibu :
- Ketuban pecah sebelum waktunya.
- Infeksi peripartum.
- Partus lama.
- Infeksi intrapartum.
2. Faktor anak:
- Berat badan lahir rendah.
- Prematuritas.
- Kecil untuk masa kehamilan.
- Defek kongenital.
- Bayi laki-laki lebih banyak dari perempuan.
- Tindakan resusitasi saat melakukan intubasi.
- Kehamilan kembar.
3. Bayi beresiko:
Riwayat kehamilan
 Infeksi pada ibu selama kehamilan antara lain TORCH
 Ibu menderita eklampsia
 Ibu dengan DM
 Ibu mempunyai penyakit bawaan
Riwayat kelahiran
 Persalinan lama
 Persalinan dengan tindakan (ekstraksi cunam/vakum, SC)
Riwayat bayi baru lahir
 Trauma lahir
 Lahir kurang bulan
 Bayi kurang mendapat cairan dan kalori
 Hipotermi pada bayi
Kejadian yang meningkatkan resiko infeksi
 Prematuritas
 Prosedur infeksi
7
 Endotrakheal tube
 Nosokomial
Faktor Resiko
Faktor resiko mayor
 Ketuban pecah > 24 jam
 Ibu demam saat intrapartum (suhu >38ᴼC)
 Chorioamnionitis
 DJJ menetap >160x/menit
Faktor resiko minor
 Ketuban pecah >12jam
 Ibu demam saat intrapartum (suhu >37ᴼC)
 Leukosit ibu >15.000/ul
 Nilai apgar sedang (menit ke 1 <5, menit ke 2 <7)
 BB lahir sangat rendah (<1500 gram)
 Usia gestasi <37 minggu
 Kehamilan ganda
 Lokhea berbau busuk
 Riwayat infeksi streptokokus grup B
Infeksi melalui cara :
Infeksi antenatal
 Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta
 Kuman yang menyerang janin :
o Virus : rubella, poliomyelitis, variola
o Spirochaeta : syphilis
o Bakteri : E. Coli, listeria, monocytogenesis
Infeksi intranatal
 Lebih sering terjadi
 Mikroorganisme dapat masuk kedalam rongga amnion
Contoh :pada kehamilan dengan KPD, partus lama sering dilakukan manipulasi
vagina, kontak langsung dengan jaringan ibu saat janin melewati jalan lahir
Infeksi postnatal
 Terjadi setelah bayi lahir
 Merupakan infeksi yang didapat
 Akibat pemakaian alat yang terkontaminasi atau sebagai infeksi silang
8
Infeksi terjadi dengan cara ;
 Pemberian susu formula (pengolahan tidak hygienis, kontaminasi dari
lingkungan)
 Masuknya mikroorganisme melalui umbilicus, pharynx, telinga, sistem
pernafasan, saluran kemih, gastro intestinal
 Kontaminasi dengan bayi, individu atau lingkungan seperti pemakaian alat
suction, pemasangan infus
 Bakteri disebut water bugs (karena mampu tumbuh dalam air) ditemukan pada :
o Sumber air
o Alat pengatur kelembaban
o Saluran cuci tangan
o Mesin penghisap lendir
o Alat bantu pernafasan
o Daur kateter vena ddan arteri
o Sampel darah
o Alat monitor TTV

IV. PATOFISIOLOGI
Selama dalam kandungan, janin relatif aman terhadap kontaminasi kuman karena
terlindung oleh berbagai organ tubuh seperti plasenta, selaput amnion, khorion dan
beberapa faktor anti infeksi pada cairan amnion. Walaupun demikian kemungkinan
kontaminasi kuman dapat timbul melalui berbagai jalan yaitu :
1. Infeksi kuman, parasit atau virus yang diderita ibu dapat mencapai janin melalui
aliran darah menembus barier plasenta dan masuk sirkulasi janin. Keadaan ini
ditemukan pada infeksi TORCH, Triponema pallidum atau Listeria dll.
2. Prosedur obstetri yang kurang memperhatikan faktor asepsis dan antisepsis misalnya
saat pengambilan contoh darah janin, bahan villi khorion atau amniosentesis.
Paparan kuman pada cairan amnion saat prosedur dilakukan akan menimbulkan
amnionitis dan pada akhirnya terjadi kontaminasi kuman pada janin.
3. Pada saat ketuban pecah, paparan kuman yang berasal dari vagina akan lebih
berperan dalam infeksi janin. Pada keadaan ini kuman vagina masuk ke dalam
rongga uterus dan bayi dapat terkontaminasi kuman melalui saluran pernafasan
ataupun saluran cerna. Kejadian kontaminasi kuman pada bayi yang belum lahir akan
meningkat apabila ketuban telah pecah lebih dari 18-24 jam.
9
Setelah lahir, kontaminasi kuman terjadi dari lingkungan bayi baik karena infeksi
silang ataupun karena alat-alat yang digunakan, bayi yang mendapat prosedur neonatal
invasif seperti kateterisasi umbilikus, bayi dalam ventilator, kurang memperhatikan
tindakan asepsis dan antisepsis, rawat inap yang terlalu lama dan hunian terlalu padat, dll.
Bila paparan kuman pada kedua kelompok ini berlanjut dan memasuki aliran darah, akan
terjadi respons tubuh yang berupaya untuk mengeluarkan kuman dari tubuh. Berbagai
reaksi tubuh yang terjadi akan memperlihatkan pula bermacam gambaran gejala klinis
pada pasien. Tergantung dari perjalanan penyakit, gambaran klinis yang terlihat akan
berbeda. Oleh karena itu, pada penatalaksanaan selain pemberian antibiotik, harus
memperhatikan pula gangguan fungsi organ yang timbul akibat beratnya penyakit.

10
PATHWAY SEPSIS NEONATORUM
Penyakit infeksi yang diderita ibu

Bakteri dan virus

Masuk ke neonatus

Masa Antenatal Masa Intranatal Pascanatal

Kuman dan virus dari ibu Kuman dari vagina dan serviks Infeksi nosokomial dari luar
rahim
Melewati plasenta dan umbilikus Naik mencapai kiroin dan amnion

Melalui alat-alat pengisap lendir,


Masuk ke dalam tubuh bayi Amnionitis dan korionitis selang endotrakeal, selang
nasogastrik, botol minuman atau dot
Melalui sirkulasi darah janin Kuman melalui umbilikus masuk ke
janin

Sepsis

Sistem pencernaan, Sistem pernapasan, dispneu, Ante, intra, postnatal, aktivitas


anoreksia, muntah, diare, takipneu, apneu, tarikan otot, lemah, tampak sakit, menyusu
menyusui buruk, hepatomegali pernapasan, sianosis buruk, peningkatan leukosit darah

Gangguan gastrointestinal Pola napas terganggu


Infeksi

Ketidakefektifan Nutrisi Ketidakefektifan Pola


Napas Inflamasi
< dari kebutuhan tubuh

Hipertermi/Hipotermia

Risiko Syok

11
V. TANDA DAN GEJALA

GEJALA

Bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu
tubuhnyaturun-naik.
Gejala lainnya adalah:

 Gangguan pernafasan
 Kejang
 Jaundice (sakit kuning)
 Muntah
 Diare
 Perut kembung.

Gejalanya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:

 Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari
pusar
 Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma,
kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-
ubun
 Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan
atau tungkai yang terkena
 Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan
dan sendi yang terkena teraba hangat
 Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan
diare berdarah.
Menurut buku pedoman Integrated Management of Childhood Illnesses tahun 2000
mengemukakan bahwa kriteria klinis Sepsis Neonatorum Berat bila ditemukan satu atau
lebih dari gejala-gejala berikut ini:
Variabel Klinis
- Suhu tubuh yang tidak stabil
- Laju nadi > 180 x/mnt atau < 100 x/mnt
- Laju nafas > 60 x/mnt dengan retraksi/desaturasi oksigen
- Letargi

12
- Intoleransi glukosa (plama glukosa > 10 mmd/L)
- Intoleransi minum
Variabel Hemodinamik
- Tekanan darah < 2SD menurut usia bayi
- Tekanan darah sistolik < 50 mmHg (bayi usia 1 hari)
- Tekanan darah sistolik < 65 mmHg (bayi usia < 1 bulan)
Variabel perfusi jaringan
- Pengisian kembali kapiler/capilary refill > 3 detik
- Asam laktat plasma > 3 mmol/L
Variabel inflamasi
- Leukositosis (> 34.000 /ml)
- Leukopenia (< 5000/ml)
- Imatur neotrofil : total neutrofil (IT) ratio > 0,2
- Trombositopenia < 100.000/ml
- CRP > 10/dl atau > 2 SD atas nilai normal
- IL -6 atau IL -8 > 70 mg/ml
- 16 sPCR positif
Manifestasi klinis menurut sistem organ adalah seperti berikut:
1. Keadaan umum : kesadaran menurun, malas minum (poor feeding),
hipo/hipertermia, edema, sklerema.
2. Sistem susunan saraf pusat : hipotonia, irritable, high pitch cry, kejang, letargi,
tremor, fontanella cembung.
3. Sistem saluran pernafasan : pernafasan tidak teratur, napas cepat (>60 x/menit),
apnea, dispnea, sianosis.
4. Sistem kardiovaskuler : takikardia (>160 x/menit), bradikardia (<100 x/menit), akral
dingin, syok.
5. Sistem saluran cerna : retensi lambung, hepatomegali, mencret, muntah, kembung.
6. Sistem hematology : kuning, pucat, splenomegali, ptekie, purpura, perdarahan.
Manifestasi klinis dari early onset biasanya distres pemapasan disertai dengan pneumoni
dan sepsis, tapi untuk late onset menunjukan gejala sepsis,meningitis, dan osteoarthritis.
1. Early onset / awitan awal.
Tanda-tanda klinis muncul semenjak 6 jam kehidupan >50 kasus, mayoritas /
kebanyakan muncul pada 72 jam pertama umur kehidupan.
Tanda awal biasanya sering tidak spesifik dan tidak diketahui.
13
- Hilangnya aktifitas spontan.
- Poor sucking.
- Apnea.
- Bradikardi.
- Suhu tubuh yang tidak stabil.
Tanda-tanda dan gejala lainnya.
- Distres pernafasan.
Kebanyakan neonatus dengan early onset infeksi menunjukkan gejala distres
pernafasan yang sulit dibedakan dengan bentuk HMD, pneumonia, atau
penyebab lain dari kesulitan bernafas,dengan penampilan seperti sianosis,
dispneu, takipneu, apnea, retraksi epigastrium, dan intercostal.Terjadinya gejala
distres pernafasan adalah >80 dari neonatus.Pneumonia dan septikemi
merupakan bentuk manifestasi yang banyak
- Gangguan kardiovaskuler.
Bradikardi, pallor, penurunan perfusi, hipotensi.
- Gangguan metabolik.
Hipotermia,hipertermia,asidosis metabolik (ph <7,25>
- Gangguan neurologik.
Lethargi,hipotonia,penurunan aktifitas,seizures,jittery.
2. Late onset / awitan lanjut
- Gejala dan tanda-tanda klinis muncul >7 hari kehidupan.Transmisi secara
horisontal dapat dari yang lain (dari neonatus yang terinfeksi atau dari perawat
kesehatan) atau secara vertikal (dari ibu yang terlalu sering berdekatan).Tanda-
tanda yang sering biasanya demam,lethargi. Irritable, poor feeding, dan
takipnea.
- Distres pernafasan yang tidak begitu jelas.

Manifestasi klinis juga selalunya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:
 Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari
pusar
 Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma,
kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-
ubun

14
 Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan
atau tungkai yang terkena
 Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan
dan sendi yang terkena teraba hangat
 Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan
diare berdarah.

Tabel Kelompok temuan klinis yang berhubungan dengan sepsis


Kategori A Kategori B

- Gangguan napas (misalnya: - Tremor


apnea, frekuensi napas > 60 atau - Letargi atau lunglai/layuh
<30 kali/menit, retraksi dinding - Mengantuk atau kurang aktif
dada, merintih pada waktu - Iritabel atau rewel
ekspirasi, sianosis sentral) - Muntah (menyokong ke arah
- Kejang sepsis)
- Tidak sadar - Distensi abdomen (menyokong
- Suhu tubuh tidak normal (tidak ke arah sepsis)
normal sejak lahir dan tidak - Tanda mulai muncul sesudah hari
memberi respons terhadap terapi ke 4 (menyokong ke arah sepsis)
atau suhu tidak stabil sesudah - Air ketuban bercampur
pengukuran suhu normal selama mekonium
tiga kali atau lebih, menyokong - Malas minum, sebelumnya
ke arah sepsis) minum dengan baik (menyokong
- Persalinan di lingkungan yang ke arah sepsis)
kurang higienis (menyokong ke
arah sepsis)
- Kondisi memburuk secara cepat
dan dramatis (menyokong ke arah
sepsis)

15
VI. KOMPLIKASI
1. Meningitis bakterialis (peradangan pada selaput otak dan sum-sum tulang belakang).
2. Enterokolitis nekrotikans.
3. Koagulasi intravaskuler diseminata.
4. Syok septik.
5. Syok karena lepasnya toksin kedalam cairan darah, yang dimana gejalanya sukar
untuk dideteksi
6. Gangguan metabolic
7. Pneumonia (penyakit radang paru-paru)
8. Infeksi saluran kemih
9. Gagal jantung kongestif
10. Kematian

VII.TERAPI

Umum

- Rawat dalam ruang isolasi / inkubator.


- Cuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa bayi.
- Pemeriksa harus memakai pakaian ruangan yang telah disediakan.
- Pengaturan suhu dan posisi bayi.

Khusus

- Suportif untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigenisasi jaringan vital.


- Terapi 02 bila ditemukan: sianosis, distres pemapasan ,apnea, dan serangan
kejang.
- Pemberian cairan dan elektrolit. Pada keadaan umum yang jelek, diberikan secara
parenteral sesuai dengan umur dan berat badan bayi. Bila keadaan umum baik
dapat diberikan nutrisi enteral secara bertahap dan parenteral dikurangi sampai
kebutuhan rumatan terpenuhi peroral.
- Atasi kejang
- Atasi hiperbilirubin
- Atasi anemia.syok.
- Antibiotik

16
Sebelum pemberian antibiotik, periksa kultur, dan tes resistensi.Diberikan antibiotik
spektrum luas untuk gram negatif dan positif selama belum ada hasil kultur.

- Terapi awal (sebelum ada kultur dan resistensi) :

Kombinasi ampisilin+aminoglikosida

Ampisillin : 50 mg/KgBB/dosis, >7hari : 3 -4x/hari

Aminoglikosida >2500g : 2,5 mg/KgB/dosis, 2x/hari

Kombinasi sefotaksim + aminoglikosida untuk sepsis yang diduga disebabkan gram


negatif.

Sefotaksim: > 7 hari : 150 mg/KgBB/hari, i.v dibagi 3 dosis

- Terapi lanjutan: observasi setelah 48 jam klinis dan laboratorium.apabila tidak

Ada perbaikan.antibiotik diganti dengan antibiotik altematif sesuai dengan

gambaran klinis penderita.

- Imunoterapi : Imunoglobulin, Infus granulosit, Transfusi ganti

1. Terapi Suportif
Segera berikan cairan secara parentral untuk memperbaiki gangguan sirkulasi,
mengatasi dehidrasi dan kelainan metabolik. Berikan oksigen bila didapat gangguan
respirasi/sodroma gawat napas.bila ditemukan hiperbiliribinemia lakukan foto
terapi/tranfusi tukar. Bila sudah makan per oral beri ASI atau susu formula.
2. Terapi Spesifik
Segera berikan anti biotika polifragmasi :
Tersangka infeksi.
1. Ampisilin, dosis 100 mg/kg BB/ hari.dibagi 2 dosis
2. Gentamisin, dosis 21/2 mg/ kgBB/ 18jam. Im sekali pemberian untuk bayi cukup
bulan.
3. Gentasimin, dosis 21/2 kgBB/24 jam, sekali pemberian, untuk bayi kurang bulan.
4. lama pemberian 3-5 hari dinilai apakah menjadi sepsis. Kalau tidak antibiotika,dapat
dihentikan.

17
Sepsis Neonatorum
1. Pilihan pertama : Ceftazidim 50 mg/kgBB/hari, iv, dibagi 2 dosis.
2. Bila tidak ada perbaikan klunis dalam 48 jam atau keadaan umum semakin
memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotika lain yang lebih paten, misalnya : 20
mg/kg/BB iv, tiap 8jam, atau sesuai dengan hasil resistensi test. Lama pemberian 7-10
hari.
Sepsis Neonatorum Dengan Meningitis
Sama dengan butir dua, dengan catatan : dosis ceftazidim 100 mg/kgBB/hari, dosis
menjadi 40 mg/kgBB/hari, dengan lama pemberian 14-21 hari.

VII.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium pada bayi-bayi sepsis sebagai berikut:

1. Skrining sepsis yang rutin.

- Hitung jenis darah lengkap.


- Kultur darah.
- Apusan bahan dari bagian yang mengalami infalamasi.
- Apusan dari telinga dan tenggorokan (pada early -onset infeksi).
- Urine secara mikroskopis dan kultur.
- Rontgen thoraks.
- C-reaktif protein.

2. Tes rutin tambahan,dari indikasi klinis yang didapatkan.

- DPL dengan hitung jenis (↑ atau ↓ leukosit)


- Kimia serum, bilirubin, laktat serum (meningkat), pemeriksaan fungsi hati
(abnormal) dan protein C (menurun)
- Resistensi insulin dengan peningkatan glukosa darah
- AGD (hipoksemia, asidosis laktat)
- Kultur urin, sputum, luka, darah
- Waktu tromboplastin parsial teraktivasi (meningkat), rasio normalisasi
internasional (meningkat) dan D-dimer (meningkat)
- Lumbal pungsi
- Kultur dan gram dari aspirasi lambung.

18
- Kultur dan gram dari apusan vagina yang lebih tinggi dari ibu.
- Kultur dari endotrakeal tube atau aspirasi dari trakeal.
- Kultur dari drainase dada.
- Kultur dari kateter vaskular.
- Kultur darah kwantitatif atau kultur darah multipel.
- IgG konsentrasi serial untuk spesifik organisme.
- IgM konsentrasi untuk organisme spesifik.
- Buffy coat secara mikroskopik.

4. Tes tidak rutin atau tes baru

- Lateks aglutinasi tes.


- Serum interleukin dan TNFa.
- Immunoelektroforesis.
- Acridin orange leukosit cystopin test.

VIII. PENATALAKSANAAN
 Kaji riwayat maternal, identifikasi bayi terkena infeksi
 Cegah transmisi infeksi dengan :
o Teknik cuci tangan
o Personil dengan penyakit infeksi hindari berhubungan dengan bayi
o Ajarkan pada orang tua/orang lain yang masuk ruang rawat
o Pertahankan teknik terilitas pada tiap tindakan
o Tingkatkan kebersihan lingkungan perawatan
o Observasi bayi
Observasi
 Kelemahan, penurunan aktivitas dan melemahnya tonus otot
 Minum sedikit
 Perubahan TTV
 Kondisi warna kulit
 Perubahan suhu (terutama hipotermi)
 Intake output
 Amati setiap sistem tubuh
Konsisten dalam merencanakan perawatan terhadap bayi (catat pola perilaku)

19
Lapor dokter bila ada gejala
Observasi tanda-tanda komplikasi, seperti :
 Meningitis
 Infeksi saluran perkemihan
 Pneumonia
Observasi adanya sesak nafas dan kenali gejala yang merangsang pernafasan
 Observasi bayi terhadap apnea/tempatkan bayi dengan monitor pernafasan
 Rangsang bayi ketika terjadi apnea
 Laporkan frekuensi apnea pada dokter
 Laporkan lamanya periode apnea dan respon yang timbul
Observasi bayi terhadap kejang yang menyertai sepsis
 Segera lapor dokter bila terjadi kejang
 Bayi jangan ditinggal
 Suction bila ada secret
 Miringkan kepala ke samping berlawanan arah dengan radiasi panas inkubator
 Berikan oksigen bila sianosis atau distress pernafasan , berikan pengobatan yang perlu
jika terjadi kejang
 Catat lama dan tipe kejang, bagian tubuh yang kejang, penampilan sebelum dan
selama kejang, respon setelah diberi terapi
 Pastikan evaluasi tes diagnostik tepat dan benar
o Tes harus lengkap terutama terhadap sensitivitas antibiotika
o Sejak terjadi infeksi (kultur darah untuk mencari antibiotika yang tepat)
o Berikan nutrisi sesuai kebutuhan kalorinya
 Fase akut
Bayi tidak toleransi terhadap makanan oral, monitor pemberian cairan intravena NGT
untuk mencegah distensi abdomen
 Kondisi baik berikan makanan per oral
Pemberian mulai dari jumlah kecil (lihat dari reaksinya : muntah, distensi abdomen,
kemampuan menghisap), ASI, secara teratur tambah jumlah minuman (jangan dipaksa
karena bisa memicu muntah), buat jadwal minum sesuai kemampuan menerima
minuman
 Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal
o Ukur suhu bayi tiap jam
o Pertahankan suhu 36,5-37,5ᴼC
20
o Saat diletakan tempat tidu terbuka tapi tetap diberi selimut
o Lapor jika terjadi hipotermi ataupun hipertermia
o Beri terapi antibiotika untuk kontrol infeksi
 Waspadai pengaruh dan efek samping
 Observasi respon
 Transfusi (jika syok)
 Observasi kejadian sepsis syok
 Monitor denyut nadi perifer
 Monitor output urine tiap jam (untuk mengetahui fungsi ginjal)
 Berikan kehangatan dan kebutuhan emosi pada bayi
 Tempatkan di temapt terang
 Bicara jelas dan tenang saat bayi menangis
 Berikan sentuhan dan tepukan sayang
 Anjurkan orang tua mendampingi bayi sesering
mungkin

Pencegahan
Sepsis neonatarum adalah penyebab kematian utama pada neonatus, tanpa pengobatan
yang memadai, gangguan ini dapat menyebabakan kematian dalam waktu singkat. Oleh
karena itu, tindakan pencegahan mempunyai arti penting karena dapat mencegah
terjadinya kesakitan dan kematian.
Tindakan pencegahan itu dapat dilakukan dengan cara :
1. Pada Masa Antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, iminisais,
pengobatan terhadap infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penangan
segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin, rujukan
segera ketempat pelayanan yang memadai bila diperlukan.
2. Pada Saat Persalinan
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik, dalam arti persalinan
diperlukan sebagai tindakan operasi, tindakan intervensi pada ibu dan bayi
seminimal mungkin dilakukan. Mengawasi keaadan ibu dan janin yang baik selama
proses persalinan, melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan, dan menghindari
perlukaan kulit dan selaput lendir.
3. Pada Masa Sesudah Persalinan
21
Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal,
pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan agar tetap
bersih, setiap bayi menggunakan peralatan sendir. Tindakan invasif harus dilakukan
dengan memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Sebelum dan sesudah memegang
bayi harus mencuci tangan gterlebih dahulu. Dan bayi yang berpenyakit menular
harus diisolasi, dan pemberian antibotik secara rasional, sedapat mungkin melalui
pemantauan mikrobiologi dan tes resistensi.

Berdasarkan Surviving Sepsis Campaigne pada tahun 2004, merekomendasikan


penatalaksanaan sepsis berat dan syok septic sebagai berikut:
1. Early Goal Directed Therapy (EGDT)

Resusitasi cairan agresif dengan koloid dan atau kristaloid, pemberian obat-
obatan inotropik, atau vasopresor dalam waktu 6 jam sesudah diagnosis ditegakkan di
unit gawat darurat sebelum masuk ke PICU. Resusitasi awal 20 ml/kgBB 5-10 menit
dan dapat diulang beberapa kali sampai lebih dari 60 ml/kgBB cairan dalam waktu 6
jam. Pada syok septic dengan tekanan nadi sangat sempit, koloid lebih efektif
daripada kristaloid.

2. Inotropik/vasopresor/vasodilator

Apabila terjadi refrakter terhadap resusitasi volume, dan MAP kurang dari
normal, diberikan vasopresor; Dopamine merupakan pilihan pertama. Apabila
refrakter terhadap pemberian Dopamine, maka dapat diberikan epinephrine atau
norepinephrine. Dobutamin dapat diberikan pada keadan curah jantung yang rendah.
Vasodilator diberikan pada keadaan tahanan pembuluh darah perifer yang meningkat
dengan MAP tinggi sesudah resusitasi volume dan pemberian inotropik.
Nitrovasodilator (nitrogliserin, atau nitropusid) diberikan apabila terjadi curah jantung
yang rendah dan tahanan pembuluh darah sistemik yang meningkat disertai syok.
Apabila curah jantung masih rendah, akan tetapi normotensi dan tahanan
pembuluh darah sistemik meningkat, maka dipikirkan pemberian phosphodiesterase
inhibitor. Vasopresin yaitu ADH, adrenocorticotrophic hormone yang dikeluarkan
oleh hipotalamus, sebagai vasokonstriktor pada otot polos pembuluh darah dosis 0,01-
0,04 u/menit diberikan pada penderita yang refrakter terhadap vasopresor
konvensional dosis tinggi.

22
Extra Corporeal Membrane Oxygenation
ECMO dilakukan pada syok septic pediatric yang refrakter terhadap terapi cairan,
inotropik, vasopressor, vasodilator dan terapi hormone. Terdapat 1 penelitian yang
menganalisis 12 penderita sepsis meningococcus dengan ECMO, 8 hidup dimana 6
dapat hidup normal sampai 1 tahun pemantauan.

3. Oksigen

Intubasi endotrakheal dini dengan atau tanpa ventilator mekanik sangat bermanfaat
pada bayi dan anak dengan sepsis berat/syok septic, karena kapasitas residual
fungsional yang rendah. Volume tidal 6 ml/kgBB dengan permissive hypercapnea dan
posisi tengkurap dapat memberikan oksigenasi jaringan yang baik.

4. Koreksi Asidosis

Terapi bikarbonat untuk memperbaiki hemodinamik atau mengurangi kebutuhan akan


vasopressor, tidak dianjurkan pada keadaan asidosis laktat dan pH&lt; 7,15 dengan
hemodinamik dan kebutuhan akan vasopressor, dan pengaruhnya terhadap keluaran
pada pH rendah.

5. Terapi Antibiotika

Pemberian antibiotika segera setelah satu jam ditegakkan diagnosis sepsis dan
pengambilan kultur darah. Terapi antibiotika empiris spectrum luas dosis inisial
penuh, satu atau beberapa obat berdasarkan dugaan kuman penyebab dan dapat
berpenetrasi ke dalam sumber infeksi. Terdapat hubungan antara pemberian
antibiotika yang inadekuat dengan tingginya mortalitas.
Pada keadaan dimana fokus infeksi tidak jelas, maka antibiotika harus
diberikan pada keadaan penderita mengalami perburukan, status imunologik yang
buruk, adanya kateter intravena berdasarkan dugaan kuman penyebab dan tes
kepekaan. Antibiotika golongan beta-lactams seperti penicillin, carbapenem seperti
meropenem, imipenem, cephalosporin dan aminoglikosida. Extended spectrum
Penicillin yaitu carboxy penicillins dan ureido-penicillins diberikan untuk infeksi
Pseudomonas aeruginosa atau bakteri gram negative lain. Carboxy penicillins

23
termasuk carbenicillin dan ticarcilin dapat diberikan pada infeksi MRSA dan spesies
Klebsiella.
Evaluasi pemberian antibiotika dilakukan sesudah 48-72 jam berdasarkan data
klinis dan mikrobiologi dengan mempergunakan antibiotika spectrum sempit untuk
mengurangi resistensi bakteri, menurunkan toksisitas dan biaya. Lama pemberian
antibiotika 7-10 hari dipandu oleh respon manifestasi klinis. Antibiotik diberikan
sebelum kuman penyebab diketahui.
Waktu/durasi pemberian antibiotik pada sepsis neonatal.
Diagnosis Durasi
Meningitis 21 hari
Kultur darah (+), tanda-tanda sepsis (+) 10 – 14 hari
Kultur darah (-), komponen skrining sepsis (+) 7 – 10 hari
Kultur darah (-), komponen skrining sepsis (-) 5 – 7 hari

6. Terapi kortikosteroid

Beberapa meta-analisis telah menunjukkan secara konsisten bahwa pemberian


glukokortikoid dosis tinggi (lebih dari 42.000 mg equivalen hidrokortison) telah
terbukti tidak bermanfaat dan membahayakan. Pada saat ini pemberian kortikosteroid
pada pasien sepsis lebih ditujukan untuk mengatasi kekurangan kortisol endogen
akibat insufisiensi renal. Kortikosteroid dosis rendah bermanfaat pada pasien syok
sepsis karena terbukti memperbaiki status hemodinamik, memperpendek masa syok,
memperbaiki respon terhadap katekolamin dan meningkatkan survival. Pada keadaan
ini dapat diberikan hidrokortison dengan dosis 2 mg/kgBB/hari.109,114 Sebuah meta-
analisis memperkuat hal ini dengan menunjukkan penurunan angka mortalitas 28 hari
secara signifikan.

7. Anti-inflamasi
Penelitian mengenai terapi anti-inflamasi pada pediatrik masih sangat sedikit, dan
dengan sampel yang kecil.

24
8. Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor (GMCSF)

Sistem granulopoetik pada bayi baru lahir khususnya bayi kurang bulan masih
belum berkembang dengan baik. Neutropenia sering ditemukan pada pasien sepsis
neonatal dan keadaan ini terutama terjadi karena defisiensi G-CSF dan GM-CSF.
Padahal neonatus yang menderita sepsis dengan neutropenia memiliki angka
mortalitas lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengalami neutropenia. G-CSF
merupakan regulator fisiologis terhadap produksi dan fungsi neutrofil. Fungsinya
adalah untuk menstimulasi proliferasi prekursor neutrofil dan meningkatkan aktivitas
kemotaksis, fagositosis, memproduksi superoksida dan bakterisida. Berdasarkan
fungsi tersebut, G-CSF digunakan sebagai terapi adjuvant pada sepsis neonatorum.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa pemberian G-CSF dan GM-CSF dapat
meningkatkan kualitas dan kuantitas imunitas selular serta mencegah infeksi
nosokomial pada neonatus, tetapi preparat ini masih dalam penelitian lebih lanjut dan
membutuhkan biaya yang mahal.

9. Transfusi Tukar

Transfusi tukar adalah prosedur untuk menukarkan sel darah merah dan
plasma resipien dengan sel darah merah dan plasma donor. Tujuan TT pada sepsis
adalah untuk memutuskan rantai reaksi inflamasi sepsis dan memperbaiki keadaan
umum pasien. Dikatakan demikian karena berdasarkan penelitian-penelitian yang
pernah ada telah menunjukkan kesimpulan bahwa TT dapat meningkatkan kadar IgG,
IgA dan IgM dalam waktu 12-24 jam; meningkatkan fungsi granulosit; meningkatkan
aktivitas opsonisasi antibodi dan fungsinya serta jumlah neutrofil; mengeluarkan
endotoksin dan mediator inflamasi; meningkatkan oxygen-carrying capacity darah;
memperbaiki perfusi jaringan; meningkatkan konsentrasi oksihemoglobin di otak;
serta memperbaiki perfusi perifer dan distres pernapasan. Darah yang digunakan
untuk TT adalah darah lengkap. Volume darah yang diperlukan untuk tindakan TT
adalah 80-85 ml/kgBB untuk bayi cukup bulan atau 100 ml/kgBB untuk bayi
prematur dan ditambah lagi 75-100 ml untuk priming the tubing. Metode yang paling
disukai untuk prosedur TT adalah isovolumetric exchange, yaitu mengeluarkan dan
memasukkan darah yang dilakukan bersama-sama melalui kateter arteri umbilikalis
(dipakai untuk mengeluarkan darah pasien) dan kateter vena umbilikalis (dipakai
untuk memasukkan darah donor). Kontraindikasi TT adalah ketidakmampuan untuk

25
memasang akses arteri atau vena dengan tepat, omphalitis, omphalocele/gastroschisis,
necrotizing enterocolitis, bleeding diathesis, infeksi pada tempat tusukan serta kurang
baiknya aliran pembuluh darah kolateral dari arteri ulnaris atau arteri dorsalis pedis.
TT cukup efektif sebagai terapi alternatif pada sepsis neonatorum yang gagal
ditatalaksana secara konvensional.

10. Terapi suportif lainnya

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d minum sedikit atau
intoleran terhadap minuman
2. Ketidakefektifan pola nafas b.d hiperventilasi
3. Resiko syok b.d factor resiko sepsis
4. Hipertermi b.d peningkatan laju metabolisme
5. Resiko infeksi b.d penularan infeksi pada bayi sebelum,selama dan sesudah kelahiran

J. RENCANA KEPERAWATAN (NCP)


No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
keperawatan
NOC NIC

1. Ketidak seimbangan - Nutrional status : Food and Nutrition Management


nutrisi kurang dari fluid intake. - Kaji adanya alergi
kebutuhan tubuh - Nutrional status : nutrient makanan
intake weigh control - Kolaborasi dengan ahli
Kriteria hasil : gizi untuk menentukan
- Adanya peningkatan berat jumlah kalori dan nutrisi
badan sesuai dengan tujuan yang dibutuhkan pasien
- Mampu mengidentifikasi - Anjurkan klien untuk
kebutuhan nutrisi meningkatkan protein, Fe
- Tidak ada tanda tanda dan vitamin C
malnutrisi - Berikan substansi gula bila
- Menunjukkan peningkatan tidak ada riwayat diabet

26
fungsi pengecapan dari - Yakinkan diet yang
menelan dimakan mengandung
- Tidak terjadi penurunan tinggi serat untuk
berat badan yang berarti mencegah konstipasi
- Berikan makanan yang
terpilih sudah
dikonsultasikan dengan
ahli gizi
- Ajarkan klien bagaimana
membuat catatan makanan
harian
- Nutrition Monitoring
- Monitor BB klien apakah
dalam batas normal/ ada
penurunan
- Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
- Monitor interakski dan
lingkugan orang tua
selama makan
- Monitor kulit apakah
kering, perubahan
pigmentasi dan turgor kulit
- Monitor rambut apakah
kekeringan, kusam dan
mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin,
total protein, HB, dan
kadar hematocrit
- Monitor pucat, kemerahan
dan kekeringan

27
konjungtiva
- Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik,
papilla lidah an cavitas
oral
- Catat jika lidah berwarna
magenta, scariet.
2. Ketidakefektifan pola - Respiratory status : Airway Management
napas Ventilation - Buka jalan nafas, guanakan
- Respiratory status : Airway teknik chin lift atau jaw
patency thrust bila perlu
- Vital sign Status - Posisikan pasien untuk
Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
- Mendemonstrasikan batuk - Identifikasi pasien perlunya
efektif dan suara nafas yang pemasangan alat jalan nafas
bersih, tidak ada sianosis buatan
dan dyspneu (mampu - Pasang mayo bila perlu
mengeluarkan sputum, - Lakukan fisioterapi dada
mampu bernafas dengan jika perlu
mudah, tidak ada pursed - Keluarkan sekret dengan
lips) batuk atau suction
- Menunjukkan jalan nafas - Auckultasi suara nafas,
yang paten (klien tidak catat adanya suara
merasa tercekik, irama tambahan
nafas, frekuensi pernafasan - Lakukan suction pada mayo
dalam rentang normal, tidak - Berikan bronkodilator bila
ada suara nafas abnormal) perlu
- Tanda-tanda vital dalam - Berikan pelembab udara
rentang normal (tekanan Kassa basah NaCl Lembab
darah, nadi, pernafasan - Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan
- Monitor respirasi dan status

28
O2
Oxygen Therapy
- Bersihkan mulut, hidung
dan secret trakea
- Pertahankan jalan nafas
yang paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi pasien
- Observasi adanya tanda-
tanda hipoventilasi
- Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
- Catat adanya fiuktuasi
tekanan darah
- Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
- Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR,
sebelurn, selama, dan
setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernapasan
abnormal
- Monitor suhu, warna, dan

29
kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
3. Resiko syok - Syok prevention Syok prevention
- Syok management - Monitor warna kulit,
- Kriteria Hasil : suhu, HR, nadi perifer
- Nadi dalam batas yang dan pernapasan
diharapkan - Monitor input dan
- Irama jantung dalam batas output
yang diharapkan - Pantau nilai
- Frekuensi npas dalam batas laboratorium :
yang diharapkan HB,HT,AGD, dan
- Natrium serum dbn elektrolit
- Kalium serum dbn - Monitor tanda dan
- Klorida serum dbn gejala asites
- Kalsium serum dbn - Monitor tanda awal
- Hidarasi syok
- Indicator : mata cekung dan - Lihat dan pelihara
demam tidak ditemukan, TD kepatenan jalan napas
dan Hematokrit dbn - Berikan caitan iv dan
atau oral yang tepat
Syok management
- Monitor fungsi
neurologis
- Monitor status cairan,
input output
- Catat gas darah arteri
dan oksigen dijaringan

30
- Monitor EKG
4. Hipertermia Thermoregulation Fever treatment
Kriteria Hasil : - Monitor suhu sesering
- Suhu tubuh dalam rentang mungkin
normal - Monitor IWL
- Nadi dan RR dalam rentang - Monitor warna dan suhu
normal kulit
- Tidak ada perubahan warna - Monitor tekanan darah, nadi
kulit dan tidak ada pusing dan RR
- Monitor penurunan tingkat
kesadaran
- Monitor WBC, Hb, dan Hct
- Monitor intake dan output
- Berikan anti piretik
- Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam
- Lakukan tapid sponge
- Kolaborasi pemberian cairan
intravena
- Kompres pasien pada lipat
paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi udara
- Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil
Temperature regulation
- Monitor suhu minimal tiap 2
jam
- Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
- Monitor TD, nadi, dan RR
- Monitor warna dan suhu
kulit

31
- Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
- Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
- Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
- Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
- Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan
- Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
- Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
- Berikan anti piretik jika
perlu
Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan
RR
- Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
- Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
- Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan

32
- Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor.frekuensi dan irama
pernapasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernapasan
abnormal
- Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
5. Resiko Infeksi - Immune status Infection Control ( Kontrol
- Knowledge :: infection infeksi)
control - Bersihka lingkungan setelah
- Risk control dipakai pasien lain
Kriteria hasil : - Pertahankan teknik isolasi
- Klien bebas dari tanda - Batasi pengunjung bila perlu
gejala infeksi - Cuci tanngan setiap sebelum
- Mendeskripsikan proses dan sesudah tindakan
penularan penyakit, factor keperawatan
yang mempengaruhi - Gunakan baju ,sarung
penularan serta tangan sebagai alat
penatalaksanaannya pelindung
- Menunjukkan kemampuan - Pertahankan lingkungan
untuk mencegah timbulnya aseptic selama pemasangan
infeksi alat
- Jumlah leukosit dalam batas - Berikan terapi antibiotic bila
normal perlu
- Menunjukkan perilaku - Monitor hitung granulosit,
hidup sehat WBC

33
- Dorong masukan nutrisi
yang cukup
- Dorong masukan cairan
- Instruksikan pasien untuk
minum antibiotic sesuai
resep

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Aminullah A. Sepsis Pada Bayi Baru Lahir. Dalam: M. Sholeh Kosim, Ari Yunanto.
dkk (editor). Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.

2. The Merck Manuals Online Medical Library. Neonatal Sepsis (Sepsis Neonatorum).
Accessed April 2013. Available from URL:
http://www.merck.com/mmpe/sec19/ch279/ch279m.html

3. hsiswatmo R dr, SpA(K). Tatalaksana Sepsis Neonatorum. Media Aesculapius


no.6/Jan-Feb 2007. Accessed April 2013. Available from URL
http://www.freewebs.com/mediaaesculapius/arsip%20skma%202007/SKMA_revisi_
jan-feb07sudah%20terisi_edit4.pdf

4. Powell KR. Sepsis dan Syok. Dalam: Nelson, Behrman, Kliegman, Arvin (editor).
Ilmu Kesehatan Anak. Vol 2.ed 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.
Hal 869 – 870

5. Rudolph AM, Julien IEH, Colin DR. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 1 Edisi 2.
Jakarta: EGC, 2006.
6. Nurarif AH dan Kusuma H. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose
Medis dan Nanda-NIC-NOC jilid 1 dan 2. Panduan Penyusunan Asuhan
keperawatan professional. Yogyakarta: Media Action, 2013.
7. Bulecheck, Gloria M, et al. Nursing Intervention Classifcation (NIC) Fifth Edition.
USA: Mosbie Elsevier, 2008.
8. Prof.Herry Garna, dr, Sp.A (K), Ph.D. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu
Kesehatan Anak, edisi ke-3. Bandung : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad.
Halaman:109–112.
hon.ch/Dossier/MotherChild/neonatal_problems/sepsis_neonatorum.html
9. http://www.chkd.org/High_Risk_Newborn/sepsis.asp http://www.healthopedia.com
10. http://www.childrenshospital.org
11. https://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/02/sepsis-neonatorum/
12. https://bukusakudokter.org/2012/11/07/sepsis-neonatorum/

35