Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI HIDROGEOLOGI PADA DAERAH TAMBANG BATUBARA

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Batubara merupakan salah satu komoditas utama yang menunjang kebutuhan energi
dunia. Meningkatnya permintaan pasokan batubara di berbagai belahan dunia,
menimbulkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi batubara yang meningkat pesat.
Kegiatan eksploitasi batubara di Indonesia lebih banyak dilakukan dengan metode
penambangan tambang terbuka (surface mining). Teknik penambangan yang
dilakukan secara terbuka memberikan dampak perubahan bentang alam yang
signifikan. Berubaahnya bentang alam mengakibatkan dampak lingkungan yang
cukup signifikan pula. Salah satu dampak lingkungan dalam penambangan batubara
yaitu mengenai kelestarian airtanah, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Selain itu dalam teknik pertambangan batubara juga harus memperhatikan
keberadaan airtanah, untuk menunjang kelancaran dalam kegiatan penambangan.
Dengan demikian diperlukan studi yang detail mengenai airtanah dalam kegiatan
pertambangan batubara. Studi hidrogeologi harus menjadi prioritas utama dalam
persiapan dan pelaksanaan kegiatan pertambangan batubara baik itu tambang
terbuka (surface mining) maupun tambang tertutup (Undergound mining).

Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dalam penulisan ilmiah aplikasi hidrogeologi pada daerah
tambang batubara ini untuk mengetahui metode hidrogeologi apa saja yang dapat
diterapkan dalam pertambangan batubara dan implikasinya terhadap proses
penambangan batubara. Metode hidrogeologi yang dimaksud untuk menunjang
studi hidrogeologi dengan tujuan menjaga kelestarian airtanah baik dari segi
kualitas dan kuantitas, serta studi hidrogeologi yang memperlancar kegiatan
penambangan batubara.

KAJIAN PUSTAKA

Hidrogeologi didefiniskan sebagai studi berbagai ilmu dengan interaksi ekstensif


antara air dan kerangka kerja geologi (Maxey, 1964). Air yang dimaksud dalam

1|Page
studi hidrogeologi adalah airtanah. Airtanah adalah air yang berada di bawah
permukaan tanah (di dalam tanah) dan mengisi rongga atau pori-pori tanah dan
batuan, pada zona jenuh air yang gerakan atau alirannya dipengaruhi oleh gaya
gravitasi. Keberadaan lapisan tanah atau batuan yang mampu meresapkan dan
meluluskan air yang muncul di permukaan disebut kawasan resapan (recharge
area). Kemunculan lapisan tersebut tidak selalu ada di setiap wilayah
permukaan. Apabila suatu wilayah yang bagian permukaannya tertutup oleh
lapisan kedap seperti lempung yang cukup tebal maka daerah tersebut bukan
merupakan kawasan resapan (discharge area). Discharge area merupakan vektor
resultan dari aliran airtanah, energi (head) airtanah paling kecil sehingga adanya
penumpukan aliran airtanah dan dicirikan adanya muka airtanah dangkal (kurang
dari 5 m), sehingga adanya mata air (springs) seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 1. Airtanah berasal dari sumber utama ialah air meteorik. Sumber lainnya
relatif sedikit, misalnya air juvenil (air magma) dan air konnat (air yang
terperangkap di sedimen pada saat pembentukannya). Sehubungan dengan itu,
airtanah sangat tergantung dari jumlah air hujan yang meresap ke dalam tanah.
Proses peresapan akan sangat tergantung dari laju turun hujan, zona saturasi,
kandungan awal dari dalam airtanah, porositas, permeabilitas dan vegetasi di
permukaan tanah (Bell, 1980).
Penambangan batubara harus memperhatikan system airtanah yang bekerja di
daerah penambangan. Hal ini untuk mengetahui daerah penambangan batubara
termasuk di daerah resapan air tanah (recharge area) atau termasuk kedalam daerah
lepasan airtanah (discharge area), ataupun keduanya. Dengan mengetahui system
airtanah yang bekerja dapat digunakan untuk menunjang kegiatan penambangan
batubara, diantaranya untuk mengetahui teknik penyaliran penambagan batubara
yang sesuai.
Penyaliran tambang batubara dititikberatkan pada metode atau teknik
penanggulangan air pada tambang terbuka. Penyaliran bisa bersifat pencegahan
atau pengendalian air yang masuk ke lokasi penambangan. Hal yang perlu
diperhatikan adalah kapan cuaca ekstrim terjadi, yaitu ketika air tanah dan air
limpasan dapat membahayakan kegiatan penambangan, oleh sebab itu kondisi
cuaca pada tambang terbuka sangat besar efeknya terhadap aktifitas penambangan.

2|Page
Apabila hal ini sudah diperhitungkan sebelumnya, maka kegiatan penambangan
akan terhindar dari kondisi yang membahayakan tersebut.

Gambar 1. Pola aliran tanah dari daerah imbuhan air tanah hingga daerah lepasan air
tanah.

3|Page
Proses penyaliran tambang terbuka harus mengetahui persebaran muka airtanah dan
pola aliran airtanah di lokasi penambangan. Untuk mengetahui pola aliran air tanah
dilakukan dengan pemetaan hidrogeologi dengan pengukuran muka air tanah pada
sumur-sumur bor di sekitar lokasi pertambangan batubara.

METODOLOGI

Studi hidrogeologi dalam kegiatan penambangan batubara yang berkaitan dengan


kelestarian airtanah daerah tambang batubara dan proses penyaliran air pada
tambang terbuka dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :
a. Penyelidikan geometri akuifer serta batas hidrogeologi dengan metode
geofisika
b. Pemetaan hidrogeologi untuk mendapatkan persebaran muka airtanah dan
pola aliran airtanah.
c. Permodelan airtanah dengan software mudflow untuk mengetahui pola
penyebaran kontaminan air asam tambang
d. Mine Dewatering untuk penyaliran air tambang batubara.

HASIL DAN DISKUSI

Geometri akuifer airtanah tambang batubara

Geometeri sebuah akuifer dapat diketahui dengan interpretasi data penyelidikan


geolistrik. Batas vertikal suatu akuifer dapat diketahui dengan mengkorelasikan
data geolistrik dan data logging pengeboran. Data pengeboran diperoleh dari data
log bor. Data log bor tersebut menunjukkan dapat menunjukkan urutuan lapisan
batuan yang menyimpan air tanah ataupun yang kedap air.
Prinsip dasar penyelidikan geolistrik ialah dengan cara mengalirkan arus listrik
searah ke dalam bumi melalui dua buah elektroda arus tertentu, di mana potensial
yang ditimbulkan oleh arus ini diukur di permukaan tanah dengan menggunakan
dua buah elektrode potensial tak terpolarisasikan, selanjutnya dilakukan
penghitungan nilai tahanan jenis semu batuan. Pengukuran dilakukan dengan
Metoda Schlumberger dengan membuat beberapa lintasan yang mewakili. Metode
pengukuran tersebut diharapkan dapat mewakili konfigurasi akuifer daerah
penyelidikan, artinya penempatan titik-titik duga geolistrik ini didasarkan pada
pertimbangan yang bersifat teknis bahwa penampang-penampang pendugaan

4|Page
tahanan jenis yang dibuat dapat menggambarkan secara rinci konfigurasi sistem
akuifer daerah penyelidikan secara vertikal/tegak maupun penyebarannya secara
horizontal.
Pengolahan data dilakukan dengan menghitung data pengukuran lapangan dari
berbagai nilai setengah jarak bentangan elektroda, yang kemudian berdasarkan atas
data tersebut dibuat kurva antara jarak bentangan elektroda arus dengan tahanan
jenis, di mana teknik penafsiran data lapangan dilakukan dengan
memperbandingkan antara kurva lapangan dengan kurva-kurva baku (standard)
yang telah dihitung secara matematis. Dengan demikian akan diketahui perkiraan
harga tahanan jenis dan ketebalan dari masing-masing lapisan, setelah dilakukan
penghalusan (smoothing) terlebih dahulu. Hasil dari penafsiran tahap pertama ini
selanjutnya dijadikan model untuk dimasukkan ke dalam program komputer
sehingga diperoleh hasil penafsiran yang lebih akurat dengan persentase kesalahan
sekecil mungkin. Dalam hal ini, informasi geologi dan hidrogeologi yang berkaitan
dengan sifat fisik batuan seperti tahanan jenis, porositas, permeabilitas batuan,
kandungan mineral serta larutan garam dan sebagainya dirasakan sangat membantu
dalam hal penafsiran data.

Gambar 2. Geometri zona jenuh airtanah/akuifer hasil pendugaan geolistrik


Dengan mengetahui keberadaan zona jenuh air tanah dalam penambangan batubara
dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan rencana bukaan tambang. Apabila
5|Page
zona jenuh letaknya yang relatif dekat dengan lereng bukaan tambang wilayah
tersebut sangat beresiko mengalami penurunan zona jenuh air tanah, dimana air
tanah akan mengalir karena gravitasi kedalam bukaan tambang melalui batuan yang
terpotong oleh lereng tambang, sehingga diperlukan pelaksanaan dewatering air
agar air tanah dalam batuan berkurang. Pada tambang terbuka batubara dilakukan
pemotongan batuan untuk bukaan tambang, akibatnya air yang ada di dalam batuan
akan masuk ke dalam bukaan tambang (pit) dalam bentuk rembesan. Seperti
ilustrasi (Gambar .3) sebagai berikut:

Gambar 3. Air tanah dalam batuan akuifer dan akuiklud/lapisan kedap air tidak terganggu
(a), Air tanah dalam batuan akuifer dan akuiklud/lapisan kedap air terganggu (b)

Pola aliran air tanah di daerah tambang batubara


Pola aliran air tanah didapatkan dengan metode Pemetaaan hidrogeologi.
Pengukuran muka air tanah pada objek sumur bor di sekitar lokasi penambangan
salah satu kegiatan pemetaan hidrogeologi. Hasil dari pengukuran muka air tanah
tersebut kemudian dibuat kontur arah persebaran aliran airtanah. Dengan
mengetahui arah pola persebaran aliran air tanah maka dapat direncanakan bukaan
tambang dengan menghindari arah aliran airtanah. Arah aliran air tanah tersebut
dikombinasikan dengan keberadaan zona jenuh air berdasarkan pendugaan
geolistrik, sehingga bukaan tambang dapat dibuat dengan tepat agar tidak terjadi
rembesan airtanah.

6|Page
Gambar 4. Contoh kontur pola aliran airtanah

Kontaminan Asam Tambang


Kawasan tambang batubara sangat rawan terjadinya kontaminasi airtanah oleh
asam tambang. Apabila lapisan-lapisan jenuh air dekat dengan lereng bukaan
tambang maka mempunyai potensi kontaminan asam tambang yang tinggi.
Permodelan air tanah diperlukan untuk mengetahui seberapa jauh kontaminan asam
tambang berpengaruh pada kualitas air tanah, terutama apabila kawasan tambang
dekat dengan pemukiman masyarakat.
Dalam tahapan pemodelan aliran airtanah berikut ini hanya ditekankan pada
pemodelan airtanah dengan metode numerik. Semakin komplek suatu model yang
disusun, maka semakin banyak parameter yang ditinjau dan dipakai dalam
pemodelan, sehingga hasil model akan semakin mendekati kenyataan sebenarnya.
Langkah-langkah yang umum ditempuh pada proses pemodelan airtanah seperti
terlihat pada gambar dibawah ini. Langkah tersebut secara umum ada tiga bagian
utama yakni akuisisi data, pengembangan konseptual model serta pelaksanaan
pemodelan secara numerik.
Kebutuhan data untuk pemodelan airtanah terdiri dari kerangka hidrogeologi /
hydrogeological framework dan data hidrologi. Kerangka hidrogeologi yang
dibutuhkan meliputi sifat fisik dari kondisi geologi meliputi topografi, litologi serta
karakteristik sistem akuifer seperti ketebalan, porositas, transmissivitas,

7|Page
konduktivitas hidrolika serta parameter lain yang tidak berubah menurut waktu,
sedangkan data hidrologi meliputi data hidrolika air yang bersifat dinamis dan data
klimatologi serta penggunaan lahan.

Gambar 5. Skema Tahapan Pemodelan Air Tanah


Permodelan air tanah saat ini banyak menggunakan software Modflow.
MODFLOW adalah model aliran air tanah yang berbasis pada persamaan beda
hingga mampu melakukan simulasi untuk semua jenis akuifer, seperti akuifer
tertekan, akuifer tidak tertekan, akuifer semi tertekan, mauoun akuifer campuran.
Kelebihan MODFLOW yang lain adalah mampu menerima data masukan yang
beragam, baik dari jenis akuifer, ketebalan lapisan maupun karakteristik
transmisivitasnya. MODFLOW memperhitungkan sistem tiga dimensi seperti pada
rangkaian lapisan material yang porus. Pada grid arah horizontal, umumnya
menggunakan grid arah sumbu X dan sumbu Y. Sebagai grid beda hingga, grid
horisontalnya harus sama pada setiap lapisannya. Model ini tidak memerlukan
masukan ▲z, sebagai penggantinya adalah konduktivitas hidraulik dikalikan
ketebalan lapisan. Adapun alternative lainnya yaitu memberikan nilai
konduktivitas hidraulik pada elevasi atas (top) dan dasar (bottom) dari lapisan yang
ada. MODFLOW merupakan suatu model terapan dengan beberapa kondisi
spesifik, yaitu :

8|Page
a. MODFLOW merupakan model yang berbasis pada persamaan beda hingga
tiga dimensi, tetapi dengan catatan, bahwa tidak secara eksplisit
membutuhkan besaran nilai (dimensi grid) pada arah vertical (sumbu z).
b. Untuk mendapatkan harga transmisivitas pada lapisan yang lebih dari satu,
cukup memberikan nilai konduktivitas hidraulik dan ▲z. Selanjutnya
MODFLOW akan menghitung harga transmisivitas, yaitu dengan
mengalikan antara konduktivitas hidraulik dengan ▲z.
c. Dapat digunakan untuk pemodelan dengan kondisi laposan yang lebih dari
satu lapis (multi layer), dengan memperhitungkan transmivitas vertical
yang diistilahkan VCONT.

Gambar 6. Contoh Tampilan Dua Dimensi Modflow

9|Page
KESIMPULAN
Kegiatan penambangan batubara baik yang dilakukan secara terbuka (Surface
Mining) ataupun yang dilakukan secara tertutup (Underground Mining) sangat
memerlukan studi hidrogeologi. Beberapa studi hidrogeologi yang sangat
diperlukan dalam penambangan batubara yaitu penyelidikan zona jenuh airtanah,
penyelidikan pola aliran airtanah, mine dewatering, dan kontaminan asam tambang.

DAFTAR PUSTAKA
Endriantho, M., Ramli, M., Hasanuddin, T.P.U., Hasanuddin, T.G.U., 2013.
Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang Terbuka Batubara. Fak. Tek.
Pertamb. Univ. Hasanudin.
Rahayu, S., Pujianto, E., Iryanti, M., 2014. Pendugaan Perubahan Zona Jenuh Air
Tanah di Sekitar Tambang Terbuka Batubara di Kalimantan Selatan
menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner. Fibusi J.
Online Fis. 2.

10 | P a g e