Anda di halaman 1dari 28

Asuhan Keperawatan Anak dengan Obesitas & KKP

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak I

Dosen Pengampu: Ns. Rokhaida, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.An

Disusun oleh:

Tessya Deant Eka (1610711070)

Anggryta Putry L (1610711082)

Nessa Ishmah M (1610711083)

Hanifah Eka C (1610711087)

Agatta Surya Wijaya (1610711088)

Adelia Putri F (1610711098)

Bunga Salsabila R (1610711101)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S.1


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul Asuhan
Keperawatan Anak dengan Kecemasan yang ditulis untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Keperawatan Anak I.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa hormat dan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas memberikan bantuan
dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 10 Februari 2018

Kelompok

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...............................................................................................................1


Daftar Isi.......................................................................................................................... 2

Bab I Pendahuluan ...........................................................................................................


A. Latar Belakang ............................................................................................................

Bab II Pembahasan ............................................................................................................


A. Askep Anak Dengan Obesitas .....................................................................................
B. Askep Anak Dengan KKP ...........................................................................................

Bab III Penutup .................................................................................................................

2
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor utama yang diperlukan
untuk melaksanakan pembangunan nasional. Faktor gizi memegang peranan penting
dalam mencapai SDM berkualitas (Depkes RI, 2005). Gizi yang baik akan menghasilkan
SDM yang berkualitas yaitu sehat, cerdas dan memiliki fisik yang tangguh serta
produktif. Perbaikan gizi diperlukan pada seluruh siklus kehidupan, mulai sejak masa
kehamilan, bayi dan anak balita, pra sekolah, anak SD dan MI, remaja dan dewasa sampai
usia lanjut (Heath et al., 2005).

Upaya peningkatan status gizi untuk pembangunan sumber daya manusia yang
berkualitas pada hakekatnya harus dimulai sedini mungkin, salah satunya anak usia
sekolah. Anak sekolah dasar merupakan sasaran strategis dalam perbaikan gizi
masyarakat (Calderón, 2002; Choi et al., 2008). Hal ini menjadi penting karena anak
sekolah merupakan generasi penerus tumpuan bangsa sehingga perlu dipersiapkan
dengan baik kualitasnya, anak sekolah sedang mengalami pertumbuhan secara fisik dan
mental yang sangat diperlukan guna menunjang kehidupannya di masa mendatang, guna
mendukung keadaan tersebut di atas anak sekolah memerlukan kondisi tubuh yang
optimal dan bugar, sehingga memerlukan status gizi yang baik (Depkes RI, 2005; Joshi,
2011).

Pertumbuhan fisik sering dijadikan indikator untuk mengukur status gizi baik
individu maupun populasi. Seorang anak yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai
dengan potensi genetik yang dimilikinya (Bryan et al., 2004). Tetapi pertumbuhan ini
juga akan dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan.
Kekurangan atau kelebihan zat gizi akan dimanifestasikan dalam bentuk pertumbuhan
yang menyimpang dari pola standar.

Pertumbuhan dan perkembangan pada masa sekolah akan mengalami proses


percepatan pada umur 10-12 tahun, dimana pertambahan berat badan per tahunnya
sampai 2,5kg. Aktivitas pada anak usia sekolah semakin tinggi dan memperkuat
kemampuan motoriknya (Taras, 2005). Pertumbuhan jaringan limfatik pada usia ini akan
semakin besar bahkan melebihi orang dewasa. Kemampuan kemandirian anak akan
semakin dirasakan dimana lingkungan luar rumah, dalam hal ini sekolah cukup besar,
3
sehingga beberapa masalah sudah mampu diatasi dengan lingkungan yang ada, rasa
tanggungjawab, dan percaya diri dalam tugas sudah mulai terwujud, sehingga dalam
menghadapi kegagalan maka anak sering kali dijumpai reaksi kemarahan atau
kegelisahan, perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral, dan
spiritual sudah mulai menunjukkan kematangan pada usia ini .

Berdasarkan laporan kasus gizi buruk Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
tahun 2006, terdapat 15.582 anak di Jawa Tengah mengalami kasus gizi buruk. 5.964
sembuh, 48 meninggal dunia dan 9.570 lainnya masih dalam kondisi memprihatinkan.
Data sekunder yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaan kesehatan berkala dan
penjaringan kesehatan tahun 2007 oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan
bahwa dari 48.216 anak SD dan MI yang diperiksa, sebanyak 813 anak mengalami gizi
kurang.

Hasil lain dari studi pendahuluan pada bulan Mei 2010, di SD Negeri Ngesrep 02
Kecamatan Banyumanik Kota Semarang dengan menggunakan indikator BB/U hasil
yang didapat yaitu, dari 62 anak SD kelas 4, 5 dan 6 hanya 11 anak yang bergizi baik
(17,7%), 15 anak (24,2%) bergizi sedang, dan anak yang bergizi kurang sebanyak 36
anak (58,1%).

Pada anak-anak, KEP dapat berdampak dalam menghambat pertumbuhan, rentan


terhadap penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. Anak
disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur
(BB/U) baku WHO-NCHS. Pada umumnya penderita KEP berasal dari keluarga yang
berpenghasilan rendah (Supariasa, et al., 2002).

Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan


gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak
langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan
kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan
ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (Supariasa, et al., 2002;
Mukherjee et al., 2008). Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan
menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status
gizi anak (Lazzeri et al., 2006; Rina, 2008).

4
BAB II

PEMBAHASAN

1. ASKEP ANAK DENGAN OBESITAS


A. Pengertian Obesitas

Obesitas adalah suatu kondisi penyakit kronis dengan karakteristik


kelebihan dari jaringan adipose pada tubuh.

Dalam penilaian ukuran dan tingkat kegemukan, obesitas didefinisikan


apabila body mass index (BMI) 27,8 atau lebih dari pada pria dan 27,3 atau lebih
pada wanita yang kemudian dinilai juga terjadi peningkatan 20% atau lebih dari berat
badan ideal.

B. Etiologi dan Faktor Resiko

Walaupun dengan kemajuan daan penelitian modern, sampai saat ini


penyebab pasti dari obesitas belum diketauhi secara pasti. Secara patofisiologis
kondisi obesitas berhubungan dengan beberapa factor, yaitu factor genetic dan
fisiologi, factor lingkungan, factor sosioekonomi dan factor psikokultural (Camdem,
2009).

 Faktor Genetik dan Fisiologi


Predisposisi genetic menjadi factor penting sejak ditemukannya gen obesitas pada
tahun 1994 (Oeser,1999). Gen obesitas diidentifikasi sebagai leptin protein yang
diproduksi oleh jaringan adipose.
 Faktor Lingkungan
Pengaruh lingkungan adalah factor yang secara signifikan meningkatkan resiko
obesitas. Situasi lingkungan memberikan pengaruh penting terhadap pola
kebiasaan makan dan penurunan akrivitas fisik. Pola hidup yang kurang gerak
memfasilitasi peningkatana resiko obesitas.
 Faktor Sosioekonomi
 Faktor psikokultural

5
C. Tanda dan gejala / manifestasi klinis

Obesitas dapat menjadi jelas pada setiap umur, tetapi obesitas tampak
paling sering pada usia 1 tahun pertama, pada usia 5-6 tahun, dan selama remaja.

 Anak yang obesitasnya karena masukan kalori tinggi secara berlebihan biasanya
tidak hanya lebih berat daripada yang lain pada kelompoknya sendiri tetapi juga
lebih tinggi; dan umur tulang lebih tua.
 Tanda-tanda muka tampak sering sangat tidak sepadan.
 Adipositas di daerah dada laki-laki sering berkesan tumbuh payudara dan
karenanya, mungkin merupakan tanda yang memalukan.
 Abdomen cenderung menggantung, dan sering ada striae putih atau merah
lembayung.
 Genitalia ekterna anak laki-laki tampak kecil tidak sepadan tetapi sebenarnya
paling sering berukuran rata-rata; penis sering terbungkus dalam lemak pubis.
 Pubertas dapat terjadi awal dengan akibat bahwa akhirnya ketinggian anak gemuk
mungkin kurang dari pada tinggi akhir dari sebayanya yang dewasa lebih lambat.
 Perkembangan genitalia ekterna normal pada kebanyakan wanita, dan menarche
biasanya tidak tertunda dan mungkin maju.
 Pada obesitas, ektremitas biasanya lebih besar di lengan atas dan paha dan kadang-
kadang terbatas padanya. Tangan mungkin relative kecil dan jari sedikit demi
sedikit mengecil. Sering ada lutut bengkok (genu valgum).

6
D. Patofisiologi Obesitas

Faktor Faktor predisposisi


predisposisi lingkungan
genetik dan
fisiologis
Penurunan kadar Pola kebiasaan makan dan
leptin di sirkulasi penurunan aktivitas fisik

Ketidakadekuatan
Akumulasi lemak pada program pengobatan
jaringan adiposa

Ketidakseimbangan
nutrisi lebih dari Salah persepsi, sumber
Obesitas
kebutuhan tubuh informasi, penurunan motivasi

Respon Penurunan Peningkatan aliran Kelebihan cairan, Gangguan elastisitas


psikologi pergerakan darah, peningkatan peningkatan kulit
s kebutuhan tekanan arteri Gangguan sirkulasi
metabolisme pulmoner, elevasi integritas kulit
Perubaha Resiko
jaringan. Kerja tekanan intra
n bentuk osteoratritis Keterlambatan
jantung meningkat, abdominal,
badan menekan volume penyembuhan luka,
peningkatan tekanan
tampak pernapasan, dan dermatitis, dan iritasi
Peningkatan arteri sistemik
gemuk menurunkan daya integritas jaringan
berat badan
tahan otot-otot
Akumulasi Resiko gagal
pernapasan
Gangguan lemak pada jantung kongestif Risiko dekubitus
konsep bagian tubuh (ulkus tekan)
Pola napas tidak
diri Tercetusnya Risiko gangguan
efektif
(gambara aktivasi, re-entry integritas jaringan
Hambatan Risiko edema paru
n diri dan otomatisasi kulit
mobilitas
rendah)
fisik
Risiko gagal napas
Aritmia
ventrikular
Kematian mendadak

7
E. Pemeriksaan Penunjang

F. Penatalaksanaan Medis

G. Rencana Asuhan Keperawatan pada Remaja Obesitas


A. Pengkajian
1. Lakukan pengkajian fisik
2. Observasi adanya manifestasi kegemukan
a. Anak tampak kelebihan berat badan
b. Berat badan diatas standar
c. Ketebalan lipatan kulit lebih dari standar
d. Lemak tubuh diatas standar
3. Dapatkan riwayat obesitas pada keluarga dan kebiasaan diet serta
makanan kesukaan
4. Dapatkan riwayat kesehatan termasuk analisa grafik berat badan,
kebiasaan makan dengan aktivitas fisik
5. Wawancarai anak dan keluarga untuk mengetahui faktor psikologis yang
mungkin berperan pada obesitas- standar budaya, penggunaan makanan
untuk penenangan, hubungan sebaya dan interpersonal sosial keluarga,
penggunaan makanan sebagai penghargaan
B. Diagnosa keperawatan
1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
disfungsi pola makan, faktor herediter
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gaya hidup monoton, fisik yang
besar
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak adanya atau
kurangnya olahraga, gizi bruk, kerentanan individu

8
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan persepsi penampilan fisik,
internalisasi dengan umpan balik negatif
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penatalaksanaan remaja
obesitas
C. Intervensi keperawatan/rasional
1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
disfungsi pola makan, faktor herediter
Sasaran pasien/keluarga 1: Pasien (keluarga) mengidentifikasi pola dan
perilaku makan

Intervensi :
a. Bimbing remaja dan kadang-kadang keluarga untuk;
1) Membuat catatan tentang segala sesuatu yang dimakan, temasuk:
a) Waktu makan
b) Jumlah yang dimakan
c) Dimana makanan tersebut dikonsumsi
d) Aktivitas yang dilakukan selama makan
e) Dengan siapa makanan itu dimakan atau di makan sendiri
f) Perasaan pada saat makanan tersebut dimakan (mis marah,
depresi, kesepian , gembira)
2) Identifikasi stimulus makanan karena hal ini sering berperan
dalam obesitas
a) Rasa lapar
b) Iklan televisi
c) Mencium atau melihat makanan
3) Kaji lingkungan makan untuk menentukan kemungkinan efek pada
obesitas
a) Dimana makanan itu dimakan
b) Dengan siapa makanan itu di makan atau dimakan sendiri
c) Perasaan pada saat makan
d) Aktivitas yang dilakukan sambil makan
4) Analisa data sebelumnya untuk pola makan dan hubungan faktor
lain sebagai dasar untuk membuat penlaian

9
Sasaran pasien 2: pasien mendemonstrasikan bagaimana caranya
untuk mengendalikan stimulus makanan
Intervensi keperawatan/rasional:
a. Dorong remaja melakukan hal-hal berikut untuk menurunkan
godaan untuk makan berlebihan
1) Pisahkan aktivitas makan dan aktivitas lain
2) Minimalkan isyarat adanya makanan
3) Jangan mengonsumsi junk food
4) Siapkan dan sajikan makanan hanya dengan jumlah yang
akan dimakan
5) Tempatkan kudapan diluar pandangan
b. Jangan membeli makanan yang bermasalah seperti “fast food”
c. Hidangkan makanan dari pemanggang atau tempat lain diluar
jangkauan dai tempat makan yang ditetapkan

Sasaran pasien 3: pasien mengubah pola makan

Intervensi keperawatan/rasional

a. Dorong remaja untuk melakukan hal-hal berikut karena


perubahan pada pola makan dapat mengurangi resiko makan
berlebihan
1) Makan di tempat khusus yang dipesan hanya untuk makan
2) Makan makanan yang dipesan dengan waktu yang teratur
3) Gunakan piring yang lebih kecil untuk membuat jumlah
makanan tampak lebih besar
4) Makan dengan perlahan
5) Tinggalkan sedikit makanan diatas piring
6) Jangan makan ketika menonton televisi
7) Ganti kudapan “junk food” dengan kudapan sehat seperti
sayuran mentah
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gaya hidup monoton, fisik yang
besar
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24jam, klien
dapat meningkatkan aktivitas fisik
Sasaran pasien 1: pasien meningkatkan aktivitas fisik

10
Intervensi keperawatan/ rasional
a. Kaji pola aktivitas dan minat remaja
b. Atur aktivitas terprogram seperti lari, renang, bersepeda, aerobik, atau
olahraga setelah sekolah
c. Dorong aktivitas rutin seperti berjalan, memanjat tangga
d. Dorong aktivitas yang menekan perbaikan diri bukan kompetisi untuk
menghindari perasaan ditolak
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak adanya atau
kurangnya olahraga, gizi bruk, kerentanan individu
Sasaran pasien 1: pasien mendapatkan dukungan yang adekuat
Intervensi keperawatan/rasional
a. Implementasikan program penurunan berat badan di sekolah untuk
mendorong pencapaian sasaran
1) Terapkan sistem buddy
2) Gunakan teman sebaya sebagai sponsor dan pemberi penguat
positif
3) Lakukan tindakan penimbangan berat badan sebelum melakukan
latihan dengan melibatkan orang dewasa, perawat, guru, instruktur
pendidikan
4) Berikan penguatan untuk perubahan berat badan sosial---pujian
b. Buat grafik perubahan berat badan yang psoitif dan tunjukan grafik
tersebut di mana orang-orang lain yang tergabung program ini dapat
melihatnya
c. Berikan pendidikan tentang nutrisi
d. Izinkan anggota keluarga untuk bertindak sebagai pemantau dirumah
untuk membantu kemajuan ke arah sasaran dan untuk mendorong
remaja dengan pernyataan yang positif setiap hari
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan persepsi penampilan fisik,
internalisasi dengan umpan balik negatif
Sasaran pasien 1: pasien mempunyai kesempatan untuk mendiskusikan
perasaan dan kekhawatirannya
Intervensi keperawatan/rasional
a. Dorong remaja untuk mendiskusikan perasaan dan kekhawatirannya
karena hal ini dapat memfasilitasi koping
11
b. Kuatkan pencapaian sehingga anak tidak berkecil hati dalam
mencapai tujuan

Sasaran pasien 2: pasien mengenali cara-cara untuk memperbaiki


penampilan

Intervensi keperawatan/rasional

a. Anjurkan remaja untuk berdandan, hygine, dan postur untuk


meningkatkan penampilan dan meningkatkan harga diri
b. Bantu dengan menggali aspek positif dari penampilan dan cara-cara
untuk meningkatkan aspek-aspek tersebut

Sasaran pasien 3: pasien menunjukan tanda-tanda perbaikan harga diri

Intervensi keperawatan/rasional:

a. Anggap remaja sebagai individu yang penting dan berguna karena hal
ini akan mendorong perkembangan harga diri remaja
b. Dorong remaja untuk menetapkan tujuan kecil yang dapat dicapai
c. Dorong dan dukung remaja untuk berpikir positif (individu dengan
berat badan berlebih sering mempunyai pikiran yang negatif) untuk
meningkatkan harga diri
d. Dorong untuk beraktivitas untuk mengurangi kebosanan
e. Dorong utnuk berinteraksi dengan teman sebaya karena isolaso dan
perasaan ditolak dapat menurunkan harga diri
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penatalaksanaan remaja
obesitas
Sasaran pasien/keluarga 1 : pasien (keluarga) terlibat dalam program
penurunan berat badan remaja
Intervensi keperawatan/rasional
a. Didik keluarga mengenai program penurunan berat badan, termasuk
nutrisi, hubungan masukan makanan dan latihan, dukungan psikologis
b. Dorong keluarga untuk melakukan hal-hal berikut:
1) Gunakan penguatan yang tepat
2) Ubah makanan dan lingkungan makan
3) Pertahankan sikap yang tepat berkaitan dengan program

12
4) Bantu untul memantau perilaku makan, masukan makanan,
aktivitas fisik, perubahan berat badan
5) Hilangkan makanan sebagai penghargaan karena makanan dapat
menyebabkan obesitas
6) Dorong remaja dengan pernyataan positif untuk meningkatkan
harga diri

13
2. ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA KKP
A. Pengertian KKP

Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain untuk bertahan


hidup, makanan juga berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh akan zat-zat
seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan zat-zat lain. Namun, di zaman
yang sudah modern ini justru banyak orang yang tidak dapat memenuhi zat-zat tersebut.

Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan kalori protein.
Protein yang berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau utama.
Protein berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Kita
memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Jika kita
tidak mendapat asupan protein yang cukup dari makanan tersebut, maka kita akan
mengalami kondisi malnutrisi energi protein.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau
status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan
secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status
gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.

Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Secara umum,


kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu penyakit yag diakibatkan
kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga diartikan sebagai keadaan kurang gizi
yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari
sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat
kekurangan energy protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-
beda. Penyakit KKP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.

Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara


berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya terlihatbahwa berat
badananak tersebut lebih rendah disbanding anak seusianya. Kira-kira berat badannya
hanya sekitar 60% sampai 80% dari berat badan ideal.

14
B. Etiologi dan Faktor Resiko

Kurang kalori protein yang dapat terjadi karena diet yang tidak cukup serta
kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak
terganggu, karena kelainan metabolik, atau malformasi congenital. Pada bayi dapat
terjadi karena tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau
sering diserang diare.

Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa faktor, yang paling
dominan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimana pun KKP
tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.

Berikut beberapa faktor penyebabnya :

1. Faktor sosial.

Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan


pentingnya makana bergizi bagi pertumbuhan anak, sehingga banyak balita tidak
mendapatkan makanan yang bergizi seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal
kenyang. Selain itu, hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi
sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan berlangsung turun-temurun dapat menjad hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.

2. Kemiskinan.

Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-
negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyababkan kebutuhan
paling mendasar, yaitu pangan pun sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi tidak
dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersedian


bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan.

4. Infeksi.

Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi.
Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan
semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada gilirannya akan mempermudah
masuknya beragam penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila
faktor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan pangan yang

15
tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, dan pentingnya
sosialisasi makanan bergizi bagi balita serta faktor infeksi dan penyakit lain.

5. Pola makan.

Protein adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan
berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua
makanan mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang masih
menyusui umumnya mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan
ibunya. Namun, bayi yang tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber lain
(susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan
ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadinya
kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.

6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola pengasuhan balita.
Para ibu kurang mengerti makanan apa saja yang seharusnya menjadi asupan untuk
anak-anak mereka.

7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang merupakan


bagian dari system imun mempengaruhi tingkat kesehatan bayi dan anak-anak.

C. Tanda dan gejala / manifestasi klinis

Secara klinis KKP terdapat dalam 3 tipe yaitu :

1. Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah bentuk gizi buruk yang terjadi pada anak-anak.


Kwashiorkor umum terjadi di daerah yang dilanda kelaparan, kurang persedian
makanan, atau rendahnya tingkat pendidikan (ketika orang tidak mengerti
bagaimana untuk makan diet yang baik).

Kwashiorkor disebabkan oleh rendahnya protein. Hal ini juga dapat


disebabkan oleh infeksi, parasit atau kondisi lain yang mengganggu penyerapan
protein pada saluran pencernaan.

Kwashiorkor, ditandai dengan : edema, yang dapat terjadi di seluruh tubuh, wajah
sembab dan membulat, mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung,
mudah dicabut dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran hati, otot

16
mengecil, bercak merah kecoklatan di kulit dan mudah terkelupas, sering disertai
penyakit infeksi terutama akut, diare dan anemia

2. Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti wasting merusak .

Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat


kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama
kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot.Marasmus adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein.

Marasmus umumnya merupakan penyakit pada bayi (12 bulan pertama),


karena terlambat diberi makanan tambahan.Hal ini dapat terjadi karena penyapihan
mendadak, formula pengganti ASI terlalu encer dan tidak higienis atau sering
terkena infeksi.Marasmus berpengaruh dalam waku yang panjang terhadap mental
dan fisik yang sukar diperbaiki. Penyebab utama marasmus
adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup,
kebiasaan makan yang tidak tepat atau karena kelainan metabolik dan malformasi
kongenital.

Marasmus, ditandai dengan : sangat kurus, tampak tulang terbungkus


kulit, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak
sumkutan minimal/tidak ada, perut cekung, sering disertai penyakit infeksi dan
diare;

3. Edema (oedema) atau sembab adalah meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan
ekstravaskuler) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam sela-sela
jaringan dan rongga serosa (jaringan ikat longgar dan rongga-rongga badan).Edema
dapat bersifat setempat (lokal) dan umum (general).

Edema yang bersifat lokal seperti terjadi hanya di dalam rongga


perut,rongga dada (hydrothorax), di bawah kulit, pericardium jantung atau di dalam
paru-paru. Sedangkan edema yang ditandai dengan terjadinya pengumpulan cairan
edema di banyak tempat dinamakan edema umum (general edema).

Penyebab edema yaitu :

a. Adanya Kongesti

Pada kondisi vena yang terbendung (kongesti), terjadi peningkatan tekanan


hidrostatik intra vaskula (tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskula

17
oleh kerja pompa jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang
interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi pada sela-sela jaringan ikat longgar
dan rongga badan (terjadi edema).

b. Obstruksi Limfatik

Apabila terjadi gangguan aliran limfe pada suatu daerah


(obstruksi/penyumbatan), maka cairan tubuh yang berasal dari plasma darah dan
hasil metabolisme yang masuk ke dalam saluran limfe akan tertimbun

c. Permeabilitas Kapiler yang Bertambah

Endotel kapiler merupakan suatu membran semi permeabel yang dapat


dilalui oleh air dan elektrolit secara bebas, sedangkan protein plasma hanya dapat
melaluinya sedikit atau terbatas.Tekanan osmotic darah lebih besar dari pada limfe.

d. Hipoproteinemia

Menurunnya jumlah protein darah (hipoproteinemia) menimbulkan


rendahnya daya ikat air protein plasma yang tersisa, sehingga cairan plasma
merembes keluar vaskula sebagai cairan edema.

e. Tekanan Osmotic Koloid

Tekanan osmotic koloid dalam jaringan biasanya hanya kecil sekali,


sehingga tidak dapat melawan tekanan osmotic yang terdapat dalam darah.Tetapi
pada keadaan tertentu jumlah protein dalam jaringan dapat meninggi, misalnya jika
permeabilitas kapiler bertambah.Dalam hal ini maka tekanan osmotic jaringan
dapat menyebabkan edema.

Filtrasi cairan plasma juga mendapat perlawanan dari tekanan jaringan.


Tekanan ini berbeda-beda pada berbagai jaringan.Pada jaringan subcutis yang
renggang seperti kelopak mata, tekanan sangat rendah, oleh karena itu pada tempat
tersebut mudah timbul edema.

f. Retensi Natrium dan Air

Retensi natrium terjadi bila eksresi natrium dalam kemih lebih kecil dari
pada yang masuk (intake). Karena konsentrasi natrium meninggi maka akan terjadi
hipertoni. Hipertoni menyebabkan air ditahan, sehingga jumlah cairan ekstraseluler
dan ekstravaskuler bertambah.Akibatnya terjadi edema.

18
D. Patofisiologi KKP(Kekurangan Kalori-Protein)

Gangguan Tidak adekuatnya intake Penyakit kronis, seperti penyakit


perkembangan, gangguan makanan hati dan gastrointestinal
kognitif atau gangguan Tidak adekuatnya sanitasi memberikan dampak yang
psikologis, perubahan lingkungan merugikan pada status nutrisi oleh
respons imun karena gangguan pada fungsi
pencernaan
Ketidakseimbangan antara asupan
Beban peningkatan nutrien dan kalori dengan
respons inflamasi dan kebutuhan tubuh untuk
peningkatan kebutuhan pertumbuhan, pemeliharaan, dan
metabolik dengan fungsi-fungsi spesifik
meningkatnya
penggunaan kalori-
protein Malnutrisi

Salah Penurunan Ketidakseimbangan Penurunan Gangguan elastisitas


persepsi, intake nutrisi kurang dari kekuatan, kulit. Gangguan
sumber makanan kebutuhan tubuh cepat letih, sirkulasi integritas
informasi, tinggi serat, perubahan kulit, keterlambatan
penurunan imobilitas tingkat penyembuhan luka,
motivasi Gangguan
kesadaran dan iritasi integritas
pertumbuhan dan
Ketidakade Konstipasi jaringan
perkembangan Defisit
kuatan anak aktivitas Risiko gangguan
program
pengobatan integritas jaringan kulit
Asupan Risiko ketidak- Gangguan
cairan tidak seimbangan cairan tidak Syok hipovolemik
Peningkatan dapat
seimbang cairan irreversibel
risiko infeksi dikoreksi
kebutuhan
gastrointestin
tubuh
al
Kematian

Diare

19
E. Pemeriksaan Penunjang

F. Penatalaksanaan Medis

G. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Malnutrisi (KKP)


A. Pengkajian
 Identitas klien
Nama, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, agama
pendidikan dan alamat.
 Riwayat pemenuhan Kebutuhan nutrisi anak
 Faktor predisposisi malnutisi seperti:
 Riwayat prenatal, natal dan postnatal
 Dampak hospitalisasi
 Perubahan peran keluarga
 Riwayat pembedahan
 Alergi
 Pola kebiasaan
 Tumbuh-kembang
 Imunisasi
 Psikososial dan psikoseksual
 Kemampuan interaksi anak
 Riwayat Keluarga seperti:
 Mengidentifikasi komposisi keluarga
 Fungsi dan hubungan anggota keluarga
 Kultur dan kepercayaan
 Perilaku yang dapat memengaruhi kesehatan
 Persepsi keluarga tentang penyakit pasien.

20
 Pengkajian Klinik

Defisiensi Mikronutrien Manifestasi Gejala

Besi Lemah dan cepat lelah

Anemia

Penurunan fungsi kognitif

Sakit kepala

Perubahan pada kuku

Iodin Keterlambatan Perkembangan

Penyakit Goiter

Retardasi Mental

Vitamin D Keterlambatan Pertumbuhan

Penyakit Riketsia

Hipokalemi

Vitamin A Buta Malam

Xeroftalmi

Keterlambatan Pertumbuhan

Perubahan Rambut

Asam Folat Anemia

Zinc Anemia

Cebol (dwarfisme)

Hepatosplenomegali

Hiperpigmentasi

Hipogonadisme

Penyembuhan Luka Terlambat

21
 Pengkajian Diagnostik Laboratorium
Darah lengkap, urine lengkap, feses lengkap, protein serum (albumin,
globulin), elektrolit serum, transferin, feritin, profil lemak, fptp toraks dan
EKG.

I. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. tidak adekuatnya
intake makanan, anoreksia
2) Risiko ketidakseimbangan cairan b.d. intake cairan tidak seimbang dengan
pemakaian tubuh, adanya diare.
3) Defisit aktivitas b.d penurunan kekuatan, cepat letih dan perubahan kesadaran.
4) Konstipasi b.d. pola makan yang kurang, imobilitas, efek pengobatan.
5) Risiko gangguan integritas jaringan kulit b.d. gangguan elastisitas kulit, gangguan
sirkulasi integritas kulit sekunder dari penurunan status nutrisi tubuh.
6) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. intake kalori dan protein yang
tidak adekuat.
7) Risiko ketidakadekuatan program pengobatan b.d. salah persepsi, sumber
informasi, penurunan motivasi.

II. Rencana Keperawatan


1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. tidak adekuat
intake makanan, anoreksia.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan Keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
status nutrisi pasien terpenuhi.
Dengan kriteria hasil:
 Pasien mendapatkan status nutrisi yang adekuat.
 Keluarga pasien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami
pasien, kebutuhan nutrisi pemulihan, dan pengolahan makanan sehat seimbang.
 Pernyataan motivasi kuat dari keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

22
Intervensi

 Kaji status nutrisi pasien, turgor kulit, berat badan, derajat pemurunan berat
badan, integritas mukosa, kemampuan menelan, riwayat mual/muntah dan
diare

Rasional: Memvalidasi dan nmenmetapkan derajat masalah untuk menetapkan


pilihan intervensi yang tepat.

 Evaluasi adanya alergi dan kontraindikasi makanan.


 Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai ( sesuai indikasi).

Rasional: Memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki intake


nutrisi.

 Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik
(seminggu sekali)
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jenis diet yang
tepat.

Rasional: Merencanakan diet dengan kandungan nutrisi yang adekuat untuk


memenuhi peningkatan kebutuhan energi dan kalori sehubungan dengan status
hipermetabolik pasien.

2) Risiko ketidakseimbangan cairan b.d. intake cairan tidak seimbang dengan


pemakaian tubuh, adanya diare.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan
perbaikan keseimbangan cairan dan elektrolirt klien dapat terpenuhi.
Dengan kriteria hasil:
 Pasien tidak mengeluh pusing, membran mukosa lembap, turgor kulit
normal
 Ttv normal, CRT<3 detik, urine>600 ml/hari.
 Hasil pemeriksaan Lab: Nilai elektrolit normal, nilai hematokrit dan
protein serum meningkat. BUN/kreatinin menurun.

Intervensi

23
 Monitor status cairan (turgor kulit, membran mukosa, urione output).
 Pemeriksaan tekanan darah
 Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur.

Rasional: Mengetahui adanya pengaruh peningkatan tahanan perifer.

 Lakukan observasi pemberian cairan per infus sesuai program rehidrasi.


 Kolaborasi: pertahankan pemberian cairan secara intravena.

3) Defisit aktivitas b.d penurunan kekuatan, cepat letih dan perubahan


kesadaran.\
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
terjadi peningkatan perilaku dalam perawatan diri.
Dengan kriteria Hasil:
 Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat
kemampuan.

Intervensi

 Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0 – 4 untuk


melakukan ADL.
 Berikan permainan dan aktivitas sesuai dengan usia.
 Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluyarga pasien.

4) Konstipasi b.d. pola makan yang kurang, imobilitas, efek pengobatan


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
keadaan kinstipasi dapat ditoleransi.
Dengan kriteria hasil:
 BAB normal sekali sehari, feses lembek berbentuk.

Intervensi

 Observasi kondisi gastrointestinal, auskultasi bising usus secara periodik.


 Monitor konsistensi feses.

24
 Apabila anak mendapatkan intake melalui jalur makanan per sonde, beri
kesempatan keluarga untuk melakukannya

5) Risiko gangguan integritas jaringan kulit b.d. gangguan elastisitas kulit,


gangguan sirkulasi integritas kulit sekunder dari penurunan status nutrisi
tubuh.
Tujuan: Setelahj dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
sudah tidak terjadi gangguan integritas kulit.
Dengan kriteria hasil:
 Tidak terdapat lesi akibat gangguan integritas kulit.
 Terjadi peningkatan turgor kulit, kulit tidak kering tidak bersisik, elastisitas
normal.

Intervensi

 Monitor kemerahan, pucat, ekskoriasi.


Rasional: mendeteksi adanya gangguan pada sistem integumen yang rentan
mengalami gangguan akibat adanya kondisi malnutrisi.
 Berikan alas tempat tidur yang lembut. Ganti segera pakaian yang lembap atau
basah. Hindari penggunaan sabun yang dapat mengiritasi kulit.
Rasional: Menurunkan stimulus kerusakan integritas kulit.
 Dorong mandi 2x sehari dan gunakan lotion setelah mandi
 Lakukan perubahan posisi baring.

6) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. intake kalori dan protein


yang tidak adekuat.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan
pasien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.
Dengan kriteria hasil:
 Keluarga mengetahui pertumbuhan fisik sesuai standar usia
 Mampu mengidentifikasi perkembangan motorik, bahasa/kognitif dan
personal/sosial sesuai standar usia.

Intervensi

25
 Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan
 Ajarkan kepada orangtua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas
perkembangan sesuai usia anak.
 Lakukan pemberian makanan/minuman sesuai program terapi diet pemulihan.
 Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia anak.
 Beri dukungan psikologis.

7) Risiko ketidakadekuatan program pengobatan b.d. salah persepsi, sumber


informasi, penurunan motivasi.
Tujuan; Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
terjadi peningkatan perilaku dan pengetahuan pasien dan keluarga bertambah.
Dengan kriteria hasil:
 Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup, mengidentifikasi
hubungan tanda dan gejala.

Intervensi

 Tentukan tingkat pengetahuan orang tua pasien.


 Kaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
 Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan intake cairan adekuat.
 Berikan informasi tertulis untuk orang tua pasien.

III. Evaluasi
Evaluasi keperawatan yang diharapkan ada pada pasien dengan malnutrisi setelah
dilakukan asuhan keperawatan adalah:
1) Pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat.
2) Risiko ketidakseimbangan cairan tidak terjadi
3) Terjadi peningkatan aktivitas perawatan diri.
4) Konstipasi tidak terjadi dan frekuensi BAB dalam batas normal.
5) Pasien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.
6) Peningkatan perilaku dan pengetahuan keluarga dan pasien bertambah

26
BAB III

PENUTUP

DAFTAR PUSAKA

BUKU :

Arif Muttaqin, Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi asuhan


Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.Salemba Medika

2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Edisi 4. EGC

Ilmu Kesehatan Anak Nelson vol 1 edisi 15. Jakarta EGC

JURNAL :

Andriani Elisa Pahlevi. 2012. DETERMINAN STATUS GIZI PADA SISWA SEKOLAH
DASAR ISSN 1858-1196. Semarang

27