Anda di halaman 1dari 11

October 12, 2015

Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan datang. Aku masih larut

melihat perkembangan bursa di New Yovrk. Dari tadi siang aku malas

membuka email karena melihat perkembangan pasar yang semakin

memburuk. Kelihatannya hari-hari kedepan tak ada lagi yang bisa

diharapkan kecuali bertahan dalam situasi buruk. Teman mengatakan

dalam gurauan kepadaku bahwa ini saatnya kita surfing diatas gelombang

ganas. Lihatlah tak banyak yang bisa selamat tapi ini tantangan untuk

menguji siapa yang qualified melewati putaran waktu.

SMS datang..

”Sudah baca email dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang

menghadap Raja mereka”

Saya terkejut. Bersegera saya membuka email. Benarlah, email ini datang

dari tadi siang. Terbayang upaya hampir setengah tahun untuk

mendapatkan clients potensial kini peluang terbuka dengan adanya

undangan untuk presentasi. Walau kemungkinan berhasil masih sangat

jauh namun setidaknya ini titik awal untuk sebuah harapan. Akupun

bersegera membuka file presentasi untuk mempertajam materi dan

menambah sedikit bahan sesuai hasil riset mutakhir.


Pagi-pagi aku bersama team sudah berada di Airport untuk terbang

memenuhi undangan. Dijadwalkan, setiba dibandara aku akan dijemput

oleh asisten kerajaan. Kemudian akan diantar ke tempat istirahat kerajaan

sambil menunggu jadwal pertemuan khusus dengan Raja. Setelah

pertemuan dengan Raja, maka keesokan harinya dijadwalkan untuk

menghadiri presentasi dengan pejabat terkait.

Penerbangan first class itu sangat nyaman. Didalam pesawat aku berusaha

membaca indicator mutakhir ekonomi dan sosial Negara yang akan aku

kunjungi itu. Ketika mendarat, cuaca cukup cerah. Pejabat yang

menjemput kami nampak tersenyum ramah membawa kami ke limosine

untuk menuju hotel.

Sesampai di Hotel Kerajaan, pejabat itu memberikan kesempatan kami

untuk istirahat dan dia langsung kembali ke kantornya. Pejabat itu

berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku dengan Raja. Hanya aku saja

tanpa didampingi team. Jam 7 malam jemputan akan sampai di hotel untuk

acara makan malam jam 8 bersama Raja. Aku mengangguk.

Aku bekerja bersama tim sampai mendekati subuh untuk memantapkan


segala persiapan. Setelah sholat subuh aku memilih untuk istirahat dan

tidur. Begitupula dengan team lainnya. Sebelum berangkat tidur, telp

cellularku berdering.

"Pah" suara istriku diseberang.

"Ya," aku menangkap ada sesuatu dirumah. Karena tidak seperti biasanya

istriku menelpon sepagi ini.

"Papa, tenang aja."

"Ya tenang...Ada apa.."

"Bunda, karena serangan jantung ringan."

"Sekarang Bunda ada dimana?"

"Dirumah sakit. Mama dampingi bunda terus. Kata dokter keadaannya

sudah membaik. Papa tenang aja. Adik-adik semua ada disini kumpul.

Bunda dibawah perawatan dokter terbaik. Kita berdoa aja semoga keadaan
Bunda semakin membaik."

Terkesan bagiku, istri berusaha menenangkan aku bahwa keadaan Bunda

baik baik saja tapi diapun tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran akan

keadaan Bunda. Seusai menerima telepon itu, batinku mendesakku untuk

segera pulang. Tapi bagaimana dengan rencana kunjungan ini. Bagaimana

perasaan teamku bila pertemuan ini gagal karena aku harus segera pulang.

Apalagi perjuangan mendapatkan klien ini sudah berlangsung lebih dari

setengah tahun. Namun hatiku tidak bisa tenang dengan segala pemikiran

tentang masa depan usahaku. Aku hanya memikirkan tentang hari ini

dimana bunda sedang sakit dan aku harus ada disampingnya.

"Apakah itu tidak bisa ditunda lusa saja atau besok saja setelah kamu

bertemu dengan raja," kata salah satu timku. Dia dapat memaklumi

sikapku namun dia juga meminta kebijakanku soal kelangsungan business

kami.

"Ibu saya sakit dan ini tidak sederhana. Aku tidak bisa memaafkan diriku

bila aku sampai menunda pulang." Kataku dengan wajah bingung. Aku

terduduk sambil mengusap kepala. Bayanganku terus kepada bunda.


"Tapi bagaimana dengan rencana kita."

"Maafkan aku…" Kataku menatapnya dengan wajah sesal, berharap

teamku dapat memaklumi. Semua anggota team terdiam

Akhirnya salah satu dari mereka berkata, "Kamu benar! Kalau begitu kita

putuskan pulang hari ini." Kata mereka dengan tersenyum seakan berusaha

menutupi keadaan posisiku agar tidak merasa bersalah karena keputusanku

untuk pulang.

Jam 8 pagi aku menelpon pejabat penghubung kami dengan kerajaan dan

menyampaikan alasan kami untuk pulang.

"Yang harus anda ketahui bahwa tidak pernah satu kalipun Raja kami

dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler

istana akan sangat keras."

"Mengapa?"

"Kamu sudah setuju untuk datang dan kini mendadak kamu batalkan
sepihak karena alasan yang tidak masuk akal."

"Ini soal ibu saya."

Pejabat itu hanya terdiam dengan wajah terkesan marah.

"Maafkan kami. Semua akomodasi dan tiket yang sudah kerajaan

keluarkan akan kami ganti. Ini kesalahan kami dan kami akan membayar

kesalahan itu," kataku

"Reputasi anda juga akan hancur," kata pejabat itu dengan nada

mengancam.

"Kami sadar akan itu. Sekali lagi maafkan kami."

Nampak pejabat itu berbicara melalui telepon dengan nada penuh hormat.

"Tadi barusan saja pangeran bebicara dengan saya dan ia sangat marah

karena pembatalan pertemuan ini," kata pejabat itu.


"Apakah aku bisa bicara dengan beliau."

"Tidak perlu," katanya tegas dan kesal.

Aku bersama team berangkat menuju bandara. Rencananya aku langsung

pulang ke Jakarta. Sementara timku kembali ke Hong Kong. Sesampai di

bandara, nampak sekuriti sangat ketat. Supir taksi yang kami tumpangi

mengatakan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami terpaksa turun agak

jauh dari gate keberangkatan. Ketika aku bersama team melangkah menuju

bandara keberangkatan, salah satu pejabat yang mengenal kami bersegera

berlari kearah kami. Dengan ramah pejabat itu berkata,

”Raja ingin bertemu dengan kamu."

Aku mengangguk dengan melangkah agak ragu mengikuti pejabat itu

keruang VVIP.

Ketika melewati kuridor bandara seorang petugas mengambil pasporku

dengan ramah. Aku terus melangkah dalam perasaan penuh tanya. Ada apa

gerangan ini? Ketika pintu ruangan VVIP terbuka, nampak sang Raja

didampingi putra mahkota tersenyum ramah ke arahku. Tanpa sungkan dia


memelukku sambil mencium pipiku.

"Saya mendengar kabar bahwa ibunda anda sakit dan anda harus segera

pulang. Benarkah itu?"

"Maafkan aku ya yang mulia. Bukan bermaksud tidak menghormati

undangan Yang Mulia tapi keadaan ibuku memang memerlukan

kehadiranku disampingnya."

"Pulanglah. Urusan dunia ini tidak penting. Memuliakan ibu adalah

memuliakan Allah. Tak ada ibadah terbaik didunia ini selain berbakti

kepada ibu. Sampaikan salam saya kepada ibu anda. Doa saya akan

menyertainya."

Kata kata itu meluncur begitu sejuknya. Aku sampai terharu. DIhadapanku

ada seorang raja yang kaya raya dan dihormati namun tetap lebih

menghormati seorang ibu.

"Terimakasih ya Yang Mulia."


"Saya yang harus berterimakasih kepadamu. Karena lewat peristiwa ini,

saya bisa memberikan pelajaran berharga kepada putra saya. Bahwa tak

penting berapa peluang bisnis yang akan diraih namun bila saatnya datang

untuk memuliakan orang tua maka itulah yang lebih diutamakan," kata

Raja itu sambil menatap kearah putra mahkotanya.

Usai pertemuan itu , aku bersama pejabat penghubung kerajaan keluar

ruangan VVIP menuju bandara keberangkatan. Pejabat itu berkata,

”Yang Mulia Raja meminta anda pulang dengan jet pribadinya. Sementara

tim anda tetap disini untuk melanjutkan pertemuan dengan pejabat terkait.

Raja juga telah memutuskan untuk memilih perusahaan anda sebagai mitra

kami. Selamat."

Anggota tim saya nampak berlinang air mata ketika mendengar kata kata

itu.

"Bila kita muliakan ibu maka Allah akan memuliakan kita. Tentu yang

sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang. Anda benar dan kami

percaya sikap anda," kata salah satu anggota tim saya sambil memeluk

saya.
Ketika sampai di bandara, aku langsung ke rumah sakit. Setiba dirumah

sakit, istriku sudah menunggu dan membawaku keruangan bunda dirawat.

Kucium kening bunda dan nampak matanya terbuka, Bunda tersenyum,

”Kaukah itu nak?"

"Ya Bunda."

"Siapa yang bilang Bunda sakit. Bunda enggak apa apa."

Bunda menoleh kearah istriku,

"Jangan kau ganggu anakku bekerja. Soal begini tak perlulah dikabarkan.

Kau pikir mudah untuk kembali dari luar negeri ke sini. Lagian disana dia

tidak main main. Dia kerja,“ Bunda mengomeli istriku.

Itulah bunda, dalam keadaan apapun beliau tetap tidak ingin membuat

anaknya repot. Andaikan tangannya masih kokoh, langkahnya masih kuat

itu akan selalu digunakannya untuk membimbing anak anaknya

melangkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya akan terus terdengar


mengantar anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik baik saja, dan

bunda akan selalu ada disampingmu, nak…

Anda mungkin juga menyukai