Anda di halaman 1dari 21

Makalah Psikologi Pendidikan

DESAIN PEMBELAJARAN

O
L
E
H:

KELOMPOK VII

CHINTYA MARETTI P (41533210


EBEN TOGATOROP (45133210
DINA AGUSTINA (45133210
SARI PAGANDA S (4513321033)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolonganNya saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Psikologi
Pendidikan. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini. Dan penulis juga menyadari pentingnya akan sumber
bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang
akan menjadi topik pembahasan.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "Desain
Pembelajaran", yang disajikan berdasarkan referensi artikel/ jurnal juga buku – buku
lainnya. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca khususnya para guru dan seluruh tenaga kependidikan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini
sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
penyempurnaan makalah ini. Penulis mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat
banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan
kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga tulisan ini dapat bemanfaat bagi
kita semuanya.

Medan, April 2018


Penyusun

Kelompok VII

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sekolah merupakan lembaga dimana para penerus bangsa didik dengan baik. Di
sekolah hal yang perlu dikembangkan bukan hanya dari segi pengetahuan, melainkan
dari segi sikap dan ketrampilan. Dalam pengembangan peserta didik dari ranah
kognitif, afektif, dan ketrampilan dapat dikembangkan melalui proses belajar
mengajar yang dilakukan guru di dalam kelas. Namun pada kenyataan, ketika terjadi
proses belajar mengajar, kebanyakan siswa merasa tidak tertarik untuk belajar, hal ini
di karenakan guru dalam mengajar hanya menggunakan metode ceramah yang
bersifat TCL. Seharusnya guru membuat desain pembelajaran yang mmenarik dalam
proses belajar mengajar, agar siswa lebih tertarik untuk belajar. Maka dari itu makalah
ini membahas mengenai desain pembelajaran, baik dilihat dari sifat pembelajaran dan
managemen yang dilakukan guru dalam sebuah kelas.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang di bahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa sajakah macam-macam desain pembelajaran disekolah ?
2. Hal apa saja di lakukan seorang guru untuk menciptakan suasana managemen
yang baik dalam proses belajar mengajar ?
C. TUJUAN
Adapun tujuan yang diperoleh yaitu:
1. Mengetahui macam-macam desain pembelajaran disekolah
2. Mengetahu hal apa saja yang dilakukan seorang guru untuk menciptakan
suasana managemen yang baik dalam proses belajar mengajar.
D. MANFAAT
Manfaat yang didapatkan yaitu dapat:
1. Dijadikan sebagai referensi bagi kaum awam untuk penelitan selanjutnya
2. Dapat dijadikan sebagai pedoman bagi guru pemula untuk melakukan desain
pembelajaran yang baik

3
BAB II
ISI

I. PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Perencanaan pembelajaran merupakan penyusunan starategi sistematik dan
tertata untuk melaksanakan pembelajaran. Prosedur penyusunan rencana
pembelajaran diawali dengan aktivitas menetapkan sasaran perilaku, menganalisis
tugas dan menyusun taksonomi instruksional. Sasaran perilaku adalah pernyataan
yang menyatakan perubahan dalam perilaku siswa untuk mencapai tujuan kerja yang
diharapkan. Sasaran ini mengandung 3 bagian yaitu perilaku siswa, kondisi siswa
dimana perilaku terjadi dan kriteria kinerja.
a) Menyusun taksonomi instruksional
Dalam taksonomi Bloom ada tiga domain yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam ranah kognitif mengandung enam sasaran, yaitu pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, analisis, dan sistesis serta evaluasi. Domain afektif terdiri dari taksonomi:
penerimaan, respon, menghargai, pengorganisasian dan menghargai karakteristik.
Domain psikomotorik yaitu gerak refleks, kemampuan, preseptual, kemampuan fisik,
gerakan terlatih, dan perilaku nondiskusif.
Dimensi pengetahuan mengandung 4 kategori diantaranya :
i. Faktual yaitu elemen dasar yang harus diketahui agar dapat menguasai suatu
displin ilmu memecahkan problem didalamnya
ii. Konseptual yaitu kesalingterhubungan antara elemen dasar didalam struktur yang
lebih besar yang membuatnya dapat berfungsi bersama
iii. Prosedural yaitu bagaimana melakukan sesuatu, metode penelitian dan kriteria
untuk menggunakan suatu keahlian
iv. Metakognitif yaitu pengetahuan kognisi dan kesadaran akan kognisi seseorang.
Ada enam kategori dalam taksonomi Bloom dari yang kurang kompleks ke
sangat kompleks. Berikut adalah penjelasannya :
a) Mengingat berhubungan dengan pengetahuan relevan dari ingatan jangka panjang
b) Memahami yaitu mengkontruksi makna dari instruksi yang mencakup interpretasi,
mencontohkan, mengklasifikasi, meringkas, mengambil kesimpulan dan
membandingkan
c) Mengaplikasikan yaitu menggunakan suatu prosedur dalam situasi tertentu

4
d) Menganalisis yaitu memecahkan materi menjadi bagian-bagian komponen dan
menentukan bagian-bagian itu saling berhubungan satu sama lain dan bagaimana
mereka berhubungan dengan keseluruhan atau dengan tujuan
e) Mengevaluasi yaitu membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu
f) Mencipta yaitu menyatukan elemen-elemen untuk membentuk satu kesatuan yang
koheren atau fungsional; mereorganisasi elemen-elemen kedalam pola atau struktur
baru.
Adapun contoh “klasifikasi nilai” yang dapat dilakukan dalam pembelajaran fisika:
a) Tingkat fakta : Apakah hukum Newton itu? Bagaimana hukum Newton
ditemukan? Kapan hukum Newton ditemukan?
b) Tingkat konsep : Demonstrasikan melalui eksperimen di laboratorum mengenai
hukum Newton! Bagaimana hukum Newton dipakai dalam penemuan-penemuan
baru? Temukan sesuatu yang penting dengan cara menerapkan satu atau dua
prinsip hukum Newton!
c) Tingkat nilai : bagaimana hukum Newton ini kalau dikaitkan dengan kehidupan
kamu? Bagaimana pendapatmu terhadap pernyataan-pernyataan berikut ini! Ilmuan
dan penemu memiliki kewajiban untuk melihat bahwa penemuan-penemuan
mereka, seperti mobil, tidak digunakan untuk menyakiti manusia! Salah satu
hukum Newton mengatakan “Setiap aksi memiliki suatu reaksi seimbang dan
berlawanan”. Dapatkah kamu dengan orang lain? Apakah kamu memiliki usulan
lain yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu?

II. PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA GURU


Pada pembelajaran ini, pendekatan yang dilakukan berpusat pada guru dan
pembelajaran ini didesain dalam pengajaran secara langsung guru kepada siswa.
Pendekatan ini terstruktur, dikendalikan dan dikontrol guru, ekspetasi guru yang tinggi
atas kemajuan siswa, maksimalisasi waktu yang dihabiskan siswa untuk tugas-tugas
akademik dan usaha meminimalkan pengaruh negatif terhadap siswa.
Adapun beberapa aktivitas yang dilakukan untuk menerapkan pembelajaran
yang berpusat kepada guru. Dibawah ini merupakan penjelasan dari setiap aktivitas
pembelajaran yang berpusat kepada guru:
a) Orientasi materi baru
Dalam pelaksanaan ini perlu disusun kerangka pembelajaran. Adapun
beberapa tahapan orientasi kepada siswa: review aktivitas sehari sebelumnya,

5
diskusikan sasaran pelajaran dan diberi isntruksi yang jelas dan eksplisit mengenai
tugas yang harus dilakukan dan beri ulasan atas pelajaran yang telah diberikan.
b) Advance organizer
Hal ini dilakukan agar siswa memahami gambaran besar materi yag akan diajarkan
dan bagaimana informasi tersebut memiliki makna yang saling terkait. Ada 2 jenis
advance organizer. Pertama ekspository advance organizer yang memberi siswa
pengetahuan yang baru yang akan mengorientasikan siswa pada mengorientasi
siswa pada materi yang akan datang. Kedua adalah coperative advance organizer
yatu memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah
diketahui siswa.
c) Pengajaran, penjelasan dan demonstrasi
Gur u yang efektif biasanya banyak menggunakan strategi ini untuk menerangkan
dan mendemonstrasikan materi baru. Kadnag-kadang hal ini membosankan tetapi
dapat diupayakan agar siswwa tertarik dengan penjelasan guru dan banyak belajar
dari penjelasan tersebut.
d) Bertanya dan diskusi
Kedua aktivitas ini perlu diintegrasikan kedalam pendekatan berpusat pada guru,
mengingat bertanya dan diskusi merupakan respon yang perlu digunakan dalam
setiap pembelajaran untuk menjaga minat dan perhatian siswa.
e) Mastery learning
Mastery learning adalah pembelajaran konsep secara menyeluruh dan tuntas
sebelum pindah ketopik lain yang lebih sulit. Adapun prosedur untuk
melakukannya: tetapkan pelajaran atau tugas, kembangkan sasaran instruksional
yang tepat, buat standart penguasaan, bagi pelajaran menjadi unit-unit yang
berhubungan dengan sasaran instruksional, rancanglah prosedur instruksional
dengan memasukkan umpan balik korektif kepada siswa jika mereka gagal
menguasai materi pada level yang dapat diterima,. Umpan balik korektif ini dapat
diberikian melalui materi pelengkap, tutoring, dan instruksi kelompok kecil.
Program ini dapat digunakan untuk remidial teaching. Hal ini akan membantu
siswa menyelesaikan tugasnya sesuai dengan tahapan kemajuan dan perkembangan
kemampuan mereka pada pelajaran yang dimaksud sesuai dengan waktu dan
motivasi.
f) Pekerjaan rumah

6
Untuk membuat PR guru harus mempertimbangkan seberapa banyak dan jenis pr
apa yang harus dikerjakan. PR mempunyai efek yang lebih besar pada mata
pelajaran matematika, membaca dan bahasa daripada sains dan IPS.
Untuk pembelajaran sains dan metematik, ada perlu diperhatikan beberapa
pendekatan merencanakan pembelajaran dengan rapi dan menciptakan sasaran
instruksional, memasitikan siswa memiliki waktu yang cukup untuk pembelajaran
akademik yang memadai, orientasi pembelajaran, menggunakan metode kuliah,
penjelasan dan demonstrasi untuk membantu beberapa aspek pembelajaran siswa,
menyuruh siswa mengerjakan LKS atau tugas.
Adapun penggunaan pertanyaan efektif:
a) Mengajukan pertanyaan berbasis fakta sebagai entri untuk masuk ke pertanyaan
berbasis pemikiran.
b) Menghindari pertanyaan ya-tidak
c) Menyediakan waktu untuk siswa dalam memikirkan jawaban
d) Mengajukan pertanyaan dengan jelas, ada tujuan, singkat dan runtut
e) Memantau bagaimana respon guru terhadap jawaban siswa untuk seluruh kelas dan
kapan pertanyaan untuk seorang siswa
f) Mendorong siswa mengajukan pertanyaan.

III. PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA


Pendekatan ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan efektif.
Pendidikan akan baik jika berpusat pada orang yang belajar. Pendekatan ini
memfokuskan perhatian pada empat faktor penting yang memperkuat motivasi dan
prestasi siswa. Empat prinisp penting yang perlu diperhatikan dalam pendekatan ini yaitu
:
(1) Faktor kognitif dan Metakognitif
Faktor utama pendekatan ini adalah siswa sebagai individu yang belajar. Prinsip dasar
kognitif dan metakognitif adalah sebagai berikut :
- Sifat proses pembelajaran. Pelajar yang sukses adalah pelajar yang aktif, punya
tujuan dan mampu mengatur diri sendiri.
- Tujuan proses pembelajaran. Kesuksesan pelajar perlu dibantu dengan pedoman
instruksional, dapat merepresentasi pengetahuan yang bermakna. Untuk itu pelajar
perlu menetapkan tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

7
- Konstruksi pengetahuan. Pengetahuan yang tertata baik akan membantu pelajar
untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah
dimilikinya dengan cara yang mengandung makna tertentu.
- Pemikiran strategis. Pelajar dapat menggunakan dan menciptakan berbagai
strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
- Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi). Pelajar yang sukses adalah pelajar
metakognisi. Mereka merenungkan cara mereka belajar, dan berpikir. Menentukan
tujuan pembelajaran yang rasional. Memilih strategi yang tepat dan memantau
kemajuan mereka menuju tujuan belajar.
- Konteks pembelajaran. Pembelajaran tidak terjadi di ruang hampa, tetapi
dipengaruhi faktor kultur, teknologi, dan praktik instruksional. Guru memainkan
peran penting dalam pembelajaran. Teknologi dan praktik instruksional harus
disesuaikan dengan tingkat pengetahuan, kemampuan belajar.
- Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran. Pelajar yang memiliki
keyakinan dan ekspektasi pemikiran akan memperkuat kualitas pemikiran pelajar.
- Motivasi intrinsik untuk belajar. Rasa ingin tahu, pemikiran mendalam dan
kreativitas adalah indikator motivasi intrinsik pelajar.
- Efek motivasi terhadap usaha. Usaha adalah aspek penting dari motivasi untuk
belajar. Pembelajaran yang efektif membutuhkan banyak waktu, energi dan
ketekunan.
- Pengaruh perkembangan pada pembelajaran. Individu akan belajar dengan baik
apabila pembelajarannya sesuai tingkat perkembangannya.
- Pengaruh sosial terhadap pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi interaksi dan
hubungan interpersonal, komunikasi dengan orang lain.
- Faktor perbedaan individual merupakan landasan pendidikan yang efektif.
Pembelajaran yang berpusat pada siswa fokus pada individu, diversitas dan
standar penilaian.
(2) Strategi Penilaian
Beberapa strategi penilaian instruksioanal yang dapat ditetapkan dalam pendekatan ini
antara lain adalah :
1) Pembelajaran berbasis masalah (problem base learning)
Pembelajaran berbasis problem menekankan pada pembelajaran dunia nyata.
Kurikulum berbasis problem menghubungkan siswa dengan problem autentik.
Pembelajaran ini fokus pada diskusi kelompok kecil daripada pengajaran

8
klassikal. Siswa mengidentifikasi isu yang mereka kaji dan guru bertindak sebagai
pembimbing, membantu siswa memonitor upaya pemecahan masalah mereka.
2) Pertanyaan esensial (Essential Question)
Pertanyaan esensial adalah pertanyaan yang merefleksikan inti dari kurikulum,
yang paling penting dan harus dieksplorasi serta dipelajari siswa. Pertanyaan
esensial adalah pilihan kreatif dan proses berpikir bagi siswa. Pelaksanaan
pemberian pertanyaan esensial ini dilanjutkan dengan menghubungkannya dengan
pertanyaan dalam lingkup kurikulum. Sehingga siswa dapat melihat keterkaitan
atara pertanyaan esensial tersebut dengan materi pelajaran yang akan dibahas.
3) Discovery Learning
Pembelajaran penemuan adalah pembelajaran dimana murid mengkonstruk
pemahaman mereka sendiri. Pembelajaran penemuan didesain agar siswa mau
berpikir sendiri, mengetahui bagaimana pengetahuan disusun untuk memicu rasa
ingin tahu siswa dan memotivasi penelitian. Kebanyakan pendekatan melibatkan
penemuaan yang dibimbing, dimana siswa didorong untuk menyusun pemahaman
mereka sendiri dibantu dengan pertanyaan dan petunjuk dari guru.
4) Teknologi Dan Pendidikan
Revolusi teknologi adalah bagian dari masyarakat informasi tempat tinggal
sekarang dan siswa akan semakin butuh keahlian teknologi. Sekarang ini
teknologi dapat menjadi alat yang baik untuk memotivasi siswa dan membimbing
pembelajaran mereka. Banyak guru belum terlatih menggunakan komputer dan
teknologi lainnya dan sering komputer cepat ketinggalan zaman dan rusak. Hanya
seketika sekolah punya guru ahli teknologi dan sekolah punya teknologi batu,
maka batu revolusi teknogi punya kesempatan untuk mengubah kelas.
Internet secara khusus memberikan siswa akses ke banyak informasi. Guru dapat
memanfaatkan hal ini agar siswa mendapatkan informasi yang berhubungan
dengan pembelajaran. E-mail dapat dipakai secraa efektif di kelas, misalnya dalam
berkomunikasi ataupun dalam menyerahkan tugas – tugas kepada dosen.
Meskipun demikian siswa perlu diingatkan untuk berhati – hati dalam
menggunakan internet karena dapat memberi dampak negatif kepada siswa.
c. Manajemen Kelas
Manajemen kelas merupakan aktivitas memberi perhatian pada kebutuhan
siswa untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan menata diri agar efektif dalam
pembelajarab. Dua dimensi manajemen kelas yaitu pengelolaan fisik tempat belajar dan

9
pengelolaan interaksi edukatif dalam pembelajaran. Dimensi fisik kelas yang efektif
adalah : 1) mengatur kepadatan di area yang banyak digunakan untuk bergerak. 2)
memastikan guru dapat melihat semua siswa dengan mudah. 3) materi yang sering
dipakai dan perlengkapan siswa harus mudah diakses dan 4) memastikan agar semua
siswa dapat melihat presentasi kelas.
1) Menata ruang kelas
Ruang kelas dapat ditata seusia dengan keperluan. Misalnya, gaya ruang auditorium,
gaya tatap muka, gaya seminar, gaya klaster. Pada gaya auditorium, kelas disusun
agar semua siswa dapat duduk menghadap guru. Gaya tatap muka, menyusun kelas
agat dapat saling menghadap. Gaya seminar dimana siswa duduk disusun bentuk segi
empat atau lingkaran. Sedangkan gaya klaster, siswa duduk bekerja dalam kelompok
kecil. Mendesain kelas perlu dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang
nyaman. Beberapa hal yang perlul diperhatikan dalam mendesain kelas yaitu
mempertimbangkan jenis aktivitas yang akan dilakukan di dalam kelas, membuat
rancangan denah susunan mobiler dan perlengkapannya sebelum menata kelas,
libatkan siswa dalam perencanaan tata ruang dan hiasan kelas, mencoba rancangan
yang telah disusun dan dapat mengubahnya sesuai dengan keperluan.
2) Menciptakan suasana positif untuk pembelajaran
Suasana yang dimaksud dalam hal ini adalah gaya yang digunakan guru dalam
manajemen aktivitas kelas secara efektif. Suasana kelas yang positif dapat diciptakan
dengan menerapkan gaya otoratif . Gaya ini beraasal dari gaya parenting/pengasuhan
orangtua. Berbeda dari gaya otoriter yang cenderung memberikan hukuman, gaya
otoratif ini adalah gaya yang memandirikan siswa, mendorong bekerja sama dan tidak
cepat puas dengan prestasi. Strategi otoratif ini akan mendorong siswa terlibat dengan
tugas – tugas, bertanggung jawab, saling memberi dan menerima dan menunjukkan
perhatian kepada orang lain.
Dalam manajemen kelas ditetapkan aturan untuk mengendalikan perilaku siswa.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan terlebih dahulu membuat aturan normatif di
dalam kelas. Semua kesepakatan atau kontrak normatif di dalam kelas dapat
dilakukan bersama dengan siswa sehingga setiap siswa dapat mengajukan usul
tentang aturan yang diperlukan untuk mengendalikan perilaku siswa. Dalam hal ini
guru perlu menegaskan sejumlah aturan dan prosedur yang harus dilakukan di dalam
kelas. Misalnya, pada awal tahun ajaran baru, guru menjelaskan aturan bahwa siswa
harus datang tepat waktu, jika terlambat akan dikenai sanksi. Dengan alasan siswa

10
akan kehilangan materi pelajaran yang penting jika datang terlambat. Aturan harus
jelas dan dipahami siswa. Misalnya, jiak guru mempunyai aturan “siap untuk
belajar”, maka guru harus menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan itu adalh
membaw PR, buku catatan, pensil da pulpen. Aturan dan prosedur harus konsisten
dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran memerlukan konsentrasi
guru melarang murid untuk tidak berinteraksi satu sama lain dan tidak mengizinkan
untuk belajar berkolaborasi dengan teman. Aturan kelas juga harus konsisten dengan
aturan sekolah. Misalnya, guru harus memahami aturan yang boleh dan tidak boleh di
sekolah dan menjelaskannya kepada siswa. Aturan tersebut diantaranya berkenaan
dengan bolos sekolah, menyontek, berkelahi, merokok, tidak menggunakan kata –
kata kasar dan sebagainya.
Guru perlu menjelaskannya pada siswa tentang aturan dalam berkomunikasi.
Misalnya, yang digunakan adalah aturan menghindari “SOK” yaitu menghindari
aktivitas menyalahkan, mengomeli dan mengkritik. Dalam berkomunikasi siswa
dilatih untuk dapat berkomunikasi dengan asertif (tegas). Yaitu salah satu cara
mengendalikan konflik dimana orang mengekspresikan perasaan mereka, meminta
apa yang mereka inginkan, mengatakan apa yang mereka inginkan dan bertindak demi
kepentingan mereka.
Dalam menerapkan gaya otoratif dan komunikasi asertif guru dapat menerapkannya
dalam kebiasaan sehari – hari sehingga semua siswa menyadarinya sebagai
tanggungjawab bersama. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru adalah :
a) Memberi ucapan “halo”, atau ucapan salam yang ramah.
b) Meluangkan waktu untuk bercakap – cakap tentang hal – hal yang terjadi dengan
siswa
c) Menulis catatan ringkas sebagai dorongan untuk siswa
d) Menunjukkan semangat kepada siswa
e) Bersikap lebih terbuka sehingga siswa berani mengungkapkan pikiran dan perasaan
kepada guru
f) Menjadi pendengar yang aktif, menyimak apa yang disampaikan siswa dan memberi
respon yang membangkitkan semangat siswa
g) Ingat bahwa mengembangkan hubungan yang positif memerlukan waktu yang lama,
karena itu perlu konsisten karena jika tidak, siswa akan dapat kehilangan kepercayaan
pada guru.
Pesan “kamu” dan “saya”.
11
Pesan kamu sama seperti menghakimi lawan bicara. Pesan saya membantu
menggeser percakapan kearah yang konstruktif dengan mengekspresikan perasaan anda
tanpa menghakimi orang lain. Monitorlah percakapan murid anda dan bimmbing mereka
untuk lebih menggunakan pesan “aku”.
Bersifat asertif(tegas).
Aspek lain dari komunikasi verbal adalah cara orang menangani konflik, yang
dapat dilakukan dengan empat gaya : agresif, manipulative, pasif, atau asertif. Orang
yang menggunakan gaya agresif cenderung “galak” kepada orang lain. Mereka
cenderung menuntut, kasar, dan bertindak dengan gaya bermusuhan. Individu yang
agresif sering kali tidak peka terhadap hak dan perasaan orang lain. Orang yang
menggunakan gaya manipulative berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan dengan
membuat orang lain merasa bersalah kepadanya. Mereka tidak mau bertanggung jawab
untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi mereka lebih memilih bertingkah sebagai
korban atau martir agar orang lain melakukan sesuatu untuknya. Orang dengan gaya
pasif bertindak tidak tegas dan pasarah. Mereka membiarkan orang lain “menindas”
dirinya. Sebaliknya orang dengan gaya asertif mengekspresikan perasaannya, meminta
apa yang dia inginkan, dan berkata “tidak” untuk apa yang mereka inginkan. Individu
yang asertif bersikeras agar perilaku yang salah harus diperbaiki, dan mereka menolak
dipaksa atau dimanipulatif.
Menurut Sastropoetra berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan
komunikasn sama sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan.
Syarat yang harus diperhatikan oleh guru agar komunikasi berjalan efektif, yaitu:
1. Menciptakan komunikasi yang menggantungkan bagi peserta didik.
2. Menggunakan bahasa yaang mudah ditangkap dan dimengerti oleh peserta didik.
3. Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi para peserta
didik.
4. Pesan dapat menggugah kepentingan para peserta didik yang dapat menguntungkan.
5. Pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi para peserta didik.

Keterampilan mendengar
Mendegar aktif berarti memberi perhatian penuh pada pembicara, memfokuskan diri
pada isi intelektual dan emosional dari pesan. Berikut ini beberapa strategi untuk
mengembangkan keterampilan mendengar aktif:
1. Beri perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara

12
2. Parafrasa. Nyataka apa yang baru saja orang lain katakana dengan kalimat sendiri.
3. Sintesiskan tema dan pola
4. Beri umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten

Berkomunikasi non verbal


Contoh perilaku umum yang dilakukan orang untuk berkomunikasai non verbal :
1. Mengangkat alis sebagai tanda tak percaya
2. Bersedekap untuk melinfdungi diri
3. Mengangkat bahu sebagai tanda tak peduli
4. Mengedipkan satu mata untuk menunjukkan kehangatan atau tanda persetujuan
5. Mengetuk jari sebagai tanda tak sabar
6. Menepuk dahi sebagai tanda lupa sesuatu

Ekspresi Wajah Dan Komunikasi Wajah Dan Komunikasi Mata


Wajah seseorang mengungkapkan emosi dan perhatian mereka. Senyum,
merengut, tatapan kebingungan semua merupakan bentuk komunikasi. Semakin banyak
menggunakan kontak mata, berarti semakin menyukai satu sama lain.
Sentuhan.
Sentuhan dapat menjadi bentuk komunikasi yang kuat. Guru seharusnya
menggunakan sentuhan secara tpat dan sopan dalam bentuk interaksi dengan murid.
i. Menghadapi Perilaku Permasalahan

Evertson (2003) dalam Santrock (2008), membedakan dua bentuk intervensi


dalam menangani perilaku bermasalah, yaitu intervensi minor dan intervensi moderat.
Beberapa problem yang ditangani dengan intervensi minor adalah perilaku yang biasanya
mengganggu aktivitas kelas dan proses belajar-mengajar. Misalnya, rebut sendiri,
meninggalkan tempat duduk tanpa izin, bercanda sendiri, atau makan permen di kelas.
Strategi intervensi minor yang efektif dapat dilakukan dalam bentuk:

 isyarat nonverbal, seperti kontak mata, meletakkan telunjuk jari di bibir, menggeleng
kepala atau isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.
 terus lanjutkan aktivitas belajar, terkadang transisi antar-aktivitas berlangsung terlalu
lama atau terjadi kemandekan aktivitas saat siswa tidak melakukan apa-apa. Dalam
situasi ini, siswa mungkin meninggalkan tempat duduknya, bercanda, dan mulai rebut.

13
Strategi yang baik adalah bukan mengoreksi tindakan siswa, tetapi lebih baik memulai
aktivitas baru dengan segera.
 dekati siswa, saat mulai bertindak menyimpang, guru cukup mendekatinya, maka
biasanya dia akan diam.
 arahkan perilaku.
 beri instruksi yang dibutuhkan.
 suruh siswa berhenti dengan nada tegas dan langsung.
 beri siswa pilihan.

Sedangkan beberapa perilaku yang salah lainnya membutuhkan intervensi yang


lebih kuat (intervensi moderat). Misalnya, ketika siswa mengganggu aktivitas, keluar
dari kelas, atau mengganggu pelajaran. Berikut ini beberapa intervensi moderat untuk
mengatasi problem jenis ini:

 Jangan berikan privilise atau aktivitas yang mereka inginkan, seperti diperbolehkan
berjalan keliling kelas atau mengerjakan tugas dengan teman.
 Buat perjanjian behavioral, merujuk pada perjanjian yang telah disepakati atau aturan
kelas.
 Pisahkan atau keluarkan siswa dari kelas, mencabut penguatan positif dari siswa dan
melakukan time out.
 Kenakan hukuman atau sanksi, bisa dalam bentuk perintah mengerjakan tugas
berkali-kali, diberi soal tambahan, atau disuruh berlari lebih lama. Namun, masalah
yang perlu diantisipasi bahwa hukuman dapat membahayakan sikap siswa terhadap
pokok persoalan.

J. Menggunakan sumber daya lain.

Diantara orang orang yang dapat membantu agar anak murid berbuat sesuai
aturan adalah teman sebaya, orang tua, kepala sekolah dan mentor.

1. Mediasi teman sebaya


Teman se usia terkadang sangat efektif untuk mengajak murid-murid berperikalu
lebih tepat
2. Konferensi guru -orang tua
Cukup dengan memberi tahu orang tua, biasanya perilaku murid bisa berubah

14
3. Kepala sekolah atau konselor
Biarkan kepala sekolah atau konselor yang menangani masalah
4. Cari mentor
Seorang mentor dapat memberi dukungan yang mereka butuhkan untuk mengurangi
perilaku bermasalah.

K. Menghadapi Agresi

A. Perkelahian
Pakar manajemen kelas Caralyn Everston dan rekan rekannya memberikan
rekomendasi untuk mengatasi murid yang berkelahi. Di sekolah dasar jika
perkelahian tidak beresiko mencederai, cukup lerai dengan melalkukan interverensi
perintah verbal dengan bahasa dengan nada keras. Jika menangani SMP atau SMA,
mungkin butuh bantuan guru lain untuk melerainya. Umumnya kana lebih baik
mendinginkan pihak yang bertengkar sehingga mereka bisa tenagn dulu.

B. Bullying
Banyak murid menjadi korban bullying atau penghinaan. Dalam survey
nasional terhadap lebih dari 15.000 murid dari grade satu hingga sepuluh, hamper satu
sampai tiga murid mengatakan bahwa mereka pernah menjadi korban dalam tindak
bullying. Dalam studi ini, bullying didefenisikan sebgai tindak verbal atau fisik yang
dimaksudkan untuk menggangu orang lain yang lebih lemah.
Berikut grafik dampak bullying yang terjadi di Indonesia

15
H. PEMBANGKANGAN ATAU PERMUSUHAN TERHADAP GURU
Edmund Emmer dan rekan-rekannya mendiskusikan strategi untuk menghadapi murid
yang membangkang atau memusuhi guru. Cobalah untuk menangani murid itu secara
individual. Jika pembangkangan tidak ekstrim terjadi saat pembelajaran, cobalah untuk
mendepersonalisasikannya dan katakana bahwa anda akan membalasnya nanti setelah
pembelajaran lalu temui murid pada waktu yang tepat dan jelaskan konsekuensi dari
tindakan pembangkanyannya itu. Dalam kasus yang ekstrim dan jarang, murid mungkin
akan tidak mau bersikap kooperatif sama sekali. Jika ini kasusnya, anda harus minta
bantuan.
Dalam mengendalikan perilaku siswa bermasalah perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
a) Masalah ringan, misalnya berbicara di dalam kelas, keluar tanpa izin. Dalam hal ini
guru dapat mengendalikannya dengan memberi isyarat non verbal. Terus melanjutkan
kegiatan, mendekati siswa dan mengarahkannya, memberi isntruksi yang diperlukan
dan menghentikan perilaku yang tidak dikehendaki tersebut dengan tegas dan
memberi pilihan pada siswa untuk bertindak benar atau konsekuensi negatif.
b) Masalah sedang, misalnya bolos, mengganggu teman, guru dapat mengendalikan
perilaku mereka dengan cara mengurangi ruang gerak kebebasan mereka di dalam
kelas, membuat perjanjian, memisahkan siswa dari dalam kelas, menggunakan sanksi.
Selain itu guru juga dapat meminta bantuan kepala sekolah, guru lain, konselor, teman
sebaya siswa untuk membantu mengendalikan perilaku siswa tertentu di dalam kelas.
c) Menghadapi kekerasan. Menghadapi tindakan agresif siswa dengan tenang, hoindari
berbantahan atau konfrontasi emosional. Dalam menghadapi siswa yang berkelahi
guru dapat menghentikannya dengan suara keras “hentikan” atau dapat meminta
kepala sekolah atau guru lain untuk melerai. Ajak siswa ke ruangan untuk
mendinginkan situasi. Kemudian ajak mereka berdamai dengan menghadirkan saksi.
d) Kasus penghinaan diantara sesama siswa sering juga terjadi di sekolah, untuk ini guru
perlu menguranginya dengan cara: membuat sanksi dan menyampaikannya kepada
seluruh kelas, bentuk kelompok persahabatan untuk anak yang sering mendapat
hinaan, adakan pertemuan kelas regular untuk mendiskusikan hal ini dengan para
siswa, membuat program sekolah untuk membuat anak menjadi lebih baik, masukkan
pesan program anti penghinaan kepada organisasi siswa, rumah ibadah, orangtua dan
komunitas anak lainnya, mengajarkan siswa dan orangtua sebagai pemantau dan
mengendalikan jika terjadi kasus penghinaan ini.

16
d. Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran
Gaya Otoritatif. Gaya ini berasal dari gaya parenting. Strategi manajemen kelas
otoritatif akan mendorong murid untuk menjadi pemikir yang independen tetapi
strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring murid. Guru yang otoritatif
melibatkan murid dalam kerjasama dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka.
Guru yang otoritatif akan menjelaskan aturan dan regulasi, menentukan standar
dengan masukan dari murid.
Gaya Otoritarian adalahn gaya yang restriktif dan punitif. Focus utamanya adalah
menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter
sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan
dengan mereka. Murid di kelas yang otoritariannini cenderung pasif, tidak mau
membuat inisiatif aktivitas, mengekspresikan kekhawatiran tentang perbandingan
sosial, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk.
Gaya permisif memberi banyak otonomi pada murid tetapi tidak memberi banyak
dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku
mereka. Murid di kelas permisif ini cenderung punya keahlian akademik yang tidak
memadai dan control diri yang rendah.
Secara keseluruhan, gaya otoritatif akan lebih bermanfaat bagi murid ketimbang gaya
otoriter atau permisif. Gaya yang otoritatif akan membantu murid menjadi pembelajar
yang aktif dan mampu mengendalikan diri.

e. mengelola aktivitas kelas secara efektif


pengelolaan kelas efektif diupayakan melalui hal berikut:
1) Menunjukkan seberapa jauh mereka mengikuti. Guru seperti ini akan selalu
memonitor murid secara regular. Ini akan membuat mereka bisa mendeteksi
perilaku yang salah, jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang tidak
mengikuti perkembangan kemungkinan besar tidak akan melihat perilaku salah,
sebelum itu menguat dan menyebar.
2) Mengatasi situasi tumpang-tindih secara efektif. Misalnya, dalam situasi
kelompok membaca, mereka dengan cepat merespon pertanyaan murid dari luar
kelompok yang mengajukan pertanyaan, tetapi dalam merespon hal tersebut, guru
tidak mengubah aliran proses belajar membaca. Ketika berjalan keliling ruanagn
dan memeriksa pekerjaan murid, matanya tetap mengawasi seluruh kelas.

17
3) Menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran. Manajer yang efektif akan menjaga
aliran pelajaran tetap lancer, mempertahankan minat murid dan tidak menjaga
agar murid tidak mudah terganggu. Beberapa aktivitas guru yang tidak efektif
antara lain flip-floppin, meninggalkan aktivitas yang sedang berjalan dengan
alasan yang tidak jelas, dan terlalu lama memaparkan sesuatu yang sudah
dipahami murid. Tindakan lain dari guru yang bisa mengganggu aliran pelajaran
dinamakan “fragmentasi”, di mana guru membagi aktivitas menjadi komponen-
komponen meskipun aktivitas itu bisa dilakukan sebagai satu unit.
4) Libatkan murid dalam berbagai aktivitas yang menantang. Manajer kelas yang
efektif melibatkan murid dalam berbagai tantangan tetapi bukan aktivitas yang
terlalu sulit. Murid sering bekerja secara independen ketimbang diawasi oleh guru.

f. Membuat, Mengajarkan dan Mempertahankan Aturan atau Prosedur


Membedakan Aturan dan Prosedur. Baik aturan maupun prosedur adalah
pernyataan ekspektasi tentang perilaku. Aturan focus pada ekspektasi umum atau
spesifik atau standar perilaku. Contoh aturan umum adalah “Hargai orang lain”.
Contoh aturan yang lebih spesifik adalah “Dilarang mengunyah permen karet di
kelas”.
Mengajarkan Aturan dan Prosedur. Melibatkan murid dalam pembuatan
aturan dengan harapan akan mendorong mereka untuk lebih bertanggungjawab atas
tindakan mereka sendiri. Ada emapt prinsip dalam menyusun aturan dan prosedur di
kelas:
1. Aturan dan prosedur harus masuk akal dan dibutuhkan
2. Aturan dan prosedur harus jelas dan dapat dipahami
3. Aturan dan prosedur konsisten dengan tujuan pengajaran dan pembelajaran
4. Aturan dan prosedur kelas harus konsisten dengan aturan sekolah

Menjalin hubungan positif dengan murid. Sebuah studi menemukan bahwa,


selain membuat aturan dan prosedur yang efektif, manajer kelas, yang efektif juga
menujukkan perhatian pada murid. Lima praktik instruksional dalam hal ini yaitu:
1. Aktivitas pembelajaran kooperatif yang memfasilitasi teamwork
2. Program bahasa multicultural kaya nilai dan berbasis literatur yang mendorong
murid untuk berfikir kritis tentang isu sosial dan etika yang relevan

18
3. Teknik manajemen kelas yang menekankan tindakan pencegahan dan tanggung
jawab
4. Proyek kelas dan sekolah yang melibatkan murid, guru, orangtua., dan anggota
keluarga
5. Aktivitas “rumah”yang meningkatkan komunikasi antara murid dan orangtua,
menjembatani antara sekolah dan keluarga, meningkatkan pemahaman murid tentang
keluarga mereka.

g. Mengajak Murid untuk Berbagi dan Mengembangkan Tanggung Jawab


Beberapa pakar manajemen kelas percaya bahwa berbagi tanggung jawab dengan murid
untuk membuat keputusan kelas akan meningkatkan komitmen atau kepatuhan murid
pada keputusan itu. Ada beberapa pedoman untuk mengajak murid berbagi dan
mengemban tanggung jawab di kelas:
1. Libatkan murid dalam perencanaan dan implementasi inisiatif sekolah dan kelas.
2. Dorong murid untuk menilai tindakan mereka sendiri
3. Jangan menerima dalih
4. Beri waktu agar murid mau menerima tanggung jawab
5. Biarkan murid berpartisipasi dalam pembuatan keputusan dengan mengadakan rapat
kelas

h. Memberi Hadiah terhadap Perilakuy yang tepat


Beberapa pedoman untuk menggunakan imbalan dalam mengelola kelas:
1) Memilih penguatan yang efektif. Sebagian anak, efektif dengan imbalan berupa
pujian namun bagi murid lainnya mungkin dengan pemberian aktivitas tertentu.
2) Gunakan Prompt dan Shaping secara efektif. Beberapa bentuk prompt (dorongan)
bisa berupa isyarat atau pengingat. Pembentukan (shaping) melibatkan pemberian
hadiah kepada murid jika bisa melaksanakan perilaku.
3) Gunakan hadiah untuk memberi informasi tentang penguasaan, bukan untuk
mengontrol perilaku murid. Imbalan yang mengandung informasi tentang
kemampuan penguasaan murid bisa menaikkan motivasi intrinsic dan rasa tanggung
jawabnya. Namun, imbalan yang digunakan untuk mengontrol perilaku murid kecil
kemungkinannya bisa menaikkan rasa tanggung jawab dan regulasi diri.
i. Menjadi Komunikator yang Baik
Tiga aspek utama komunikasi adalah keterampilan berbicara, mendengar dan
komunikasi nonverbal.

19
 Keterampilan Berbicara. Beberapa strategi untuk berbicara secara jelas
dengan kelas , yaitu:
1. Menggunakan tata bahasa dengan benar
2. Memilih kosakata yang mudah dipahami dan tepat bagi level murid
3. Menerapkan strategi untuk meningkatkan kemampuan murid dalam
memahami apa yang dikatakan guru, seperti menekankan pada kata-
kata kunci, mengulang penjelasan, atau memantau pemahaman murid
4. Berbicara dnegan tempo yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu
lambat
5. Tidak menyampaikan hal-hal yang kabur
6. Menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar untuk
berbicara secara jelas di kelas.

20
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. adapun beberapa macam desain pembelajaran yang dilakukan di
sekolah yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru (TCL) dimana
dalam pembelajaran ini baik pelaku dalam pembelajaran banyak
dilakukan oleh seorang guru, dan ada pembelajaran yang berpusat pada
siswa (SCL) dimana pembelajaran yang aktif merupakan siswa
tersebut, baik dari segi penyampaian materi

21