Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali
sehari), juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses cair). Hal ini biasanya
berkaitan dengan dorongan, rasa tak nyaman pada area perianal, inkontinensia, atau
kombinasi dari faktor ini. Tiga faktor yang menentukan keparahannya : sekresi intestinal,
perubahan penyerapan mukosa, dan peningkatan motilitas. Diare dapat akut atau kronis.
(Baughman, 2000).

Diare akut adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah
cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyakdari pada biasanya lebih dari 200
gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai frekuensi, yaitu buang air besar encer
lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar tersebut dapat / tanpa disertai lendir dan darah.

Diare kronik adalah diare yang berlangsung dari 15 hari. Sebenarnya para pakar di dunia
telah mengajukan berapa criteria mengenai batasan kronik pada kasus diare tersebut, ada
yang 15 hari, 3 minggu, 1 bulan dan 3 bulan, tetapi di Indonesia dipilih waktu lebih 15
hari agar dokter tidak lengah, dapat lebih cepat menginvestigasi penyebab diare dengan
lebih tepat.

Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-
infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang
menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari. Menurut (Suharyono, 2008), diare kronik
adalah diare yang bersifat menahun atau persisten dan berlangsung 2 minggu lebih.

Diare kronis didefinisikan sebagai suatu peningkatan frekuensi defekasi dan keenceran
tinja yang berlangsung selama lebih dari 2 minggu (Schwartz, 2004). Diare kronik ini
disertai kehilangan berat badan atau tidak bertambah berat badannya selama masa
tersebut.
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan : (Sudoyo Aru, dkk 2009)
1. Lama waktu diare :
- Akut : berlangsung kurang dari 2 minggu.
- Kronik : berlangsung lebih dari 2 minggu.
2. Mekanisme patofisiologi : osmotik atau skretorik dll
3. Berat ringan diare : kecil atau besar.
4. Penyebab infeksi atau tidak : infeksi atau non infeksi.
5. Penyebab organik atau tidak : organik atau fungsional.

B. ETIOLOGI
Behrman (1999), menerangkan bahwa penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa
faktor :
1. Faktor infeksi
a. Faktor internal : infeksi saluran pencernaan makananan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi internal sebagai berikut :
1) Infeksi bakteri : vibrio, e.coli, salmonella, campylobacler, tersinia,
aeromonas, dsb.
2) Infeksi virus : enterovirus (virus ECHO, cakseaclere, poliomyelitis),
adenovirus, rotavirus, astrovirus dan lain-lain.
3) Infeksi parasit : cacing (asoanis, trichuris, Oxyuris, Strong Ylokles, protzoa
(Entamoeba histolytica, Giarella lemblia, tracomonas homonis), jamur
(candida albicans).
b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan, seperti : otitis
media akut (OMA), tonsilitist tonsilofasingitis, bronkopneumonia, ensefalitis
dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2
tahun.
2. Faktor malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa),
mosiosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galatosa). Pada bayi dan anak
yang terpenting dan terseirng intoleransi laktasi.
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).
Penyebab diare berdasarkan lamanya diare :
1. Diare akut
Virus, protozoa ; Giardia lambdia, Entamoeba hystolitica; bakteri : yang
memproduksi enterotoksin (S aureus, C perfringens, E coli, V cholera, C difficile)
dan yang menimbulkan inflamasi mukosa usus (Shingella, Salmonella sp, Yersinia),
iskemia intestinal, inflammatory Bowel Disease (acute on chronic), colitis radiasi.
2. Diare kronik
Umumnya diare kronik dapat dikelompokkan dalam 6 kategori patogenesis
terjadinya
- Diare osmotic
- Diare sekretorik
- Diare karena gangguan motilitas
- Diare inflamatorik
- Malabsorbsi
- Infeksi kronik

C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang
tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat
kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik
dan hipoperistaltik.

Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang
mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia). Gangguan
gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah).

Diare disebabkan oleh 4 faktor yaitu infeksi virus, makanan, melabsorbsi dan psikologis.
Virus berkembang di dalam usus halus dan melabsorbsi KH, lemak meningkat tekanan
osmotic sehingga terjadi kelebihan pengeluaran air dan elektrolit dan peningkatan ini
rongga usus, kemudian abdomen menjadi distensi dan menyebabkan diare. Sedangkan
dari faktor makanan dan pesikologi ini menyebabkan gerakan peristaltik yang berlebih di
usus, sehingga makanan tidak dicerna dengan baik yang menyebabkan penurunan
kemumpuan absorbi makanan di dalam usus, kemudian terjadi diare.
Ketika seseorang terkena diare, maka frekuensi BAB menjadi meningkat. Peningkatan
frekuensi BAB ini menyebabkan kekurangan cairan (dehidrasi), dan hipovelemi. Frekunsi
yang meningkat dapat menyebabkan gangguan integritas kulit perianal.
Diare juga menyebabkan distensi abdomen, yang menyebabkan mual muntah, sehingga
nafsu makan menurun. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
(Nurarif, Amin &Kusuma, H., 2013).

D. KOMPLIKASI
Penderita diare dapat sembuh tanpa mengalami komplikasi, namun sebagian kecil
mengalami komplikasi dari dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit atau pengobatan
yang diberikan. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain (Depkes RI, 1999;
Suraatmaja, 2007; Subagyo & Santoso, 2011) :
a. Gangguan Keseimbangan Elektrolit
Gangguan keseimbangan elektrolit dapat terjadi karena elektrolit ikut keluar dalam
tinja cair saat diare terjadi. Gangguan keseimbangan elektrolit akibat diare ada tiga
yang sering terjadi yaitu hipo/hipernatremia dan hipokalemia.

Hiponatremia dapat terjadi pada anak yang diare yang hanya minum air putih atau
cairan yang hanya mengandung sedikit garam. Hiponatremia sering terjadi pada
anak dengan shigellosis dan anak malnutrisi berat dengan oedema. Kejadian
hiponatremia ditemukan sebanyak 44,8% pada diare akut dengan dehidrasi berat.

Hipernatremia biasanya terjadi pada diare yang disertai muntah dengan intake
cairan/makanan yang kurang, atau cairan yang diminum terlalu banyak mengandung
natrium. Ditemukan 10,3% anak yang menderita diare akut dengan dehidrasi berat
mengalami hipernatremia.

Penggantian Kalium selama rehidrasi yang tidak cukup, akan menyebabkan


terjadinya hipokalemia yang ditandai dengan kelemahan otot, ileus paralitik,
gangguan fungsi ginjal dan aritmia jantung. Hipokalemia ditemukan pada sebanyak
62% anak yang menderita diare akut dengan dehidrasi berat (Jurnalis, Sayoeti &
Dewi, 2008)
b. Demam
Infeksi shigella disentriae dan rotavirus sering menyebabkan demam.
Pada umumnya demam timbul bila penyebab diare masuk dalam sel
epitel usus. Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam yang
timbul karena dehidrasi biasanya tidak tinggi dan akan turun setelah
mendapat hidrasi yang cukup. Demam dan muntah ditemukan sebanyak
41,3% pada anak dengan diare akut yang disebabkan oleh rotavirus
(Grace & Jerald, 2010).

c. Oedema atau Overhidrasi


Oedema (penumpukan cairan) dapat terjadi jika pemberian hidrasi tidak
diamati sehingga cairan yang diberikan lebih dari yang seharusnya.

d. Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangnya
basa cairan ekstraseluler. Sebagai kompensasi, terjadi alkalosis
respiratorik, yang ditandai dengan pernapasan kusmaul. Sinuhaji (2007)
menemukan 6,6%-7% bayi/anak yang dirawat dengan diare akut
mengalami asidosis metabolik. Komplikasi diare akut dengan dehidrasi
berat yang ditemukan terbanyak adalah asidosis metabolik sebesar 75,9%
(Jurnalis, Sayoeti & Dewi, 2008) .

e. Ileus Paralitik
Ileus paralitik dapat terjadi akibat penggunaan obat antimotalitas. Ileus
paralitik ditandai dengan perut kembung, muntah, dan peristaltik usus
berkurang atau tidak ada.

f. Kejang
Kejang dapat terjadi pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi
atau selama pengobatan rehidrasi. Kejang tersebut dapat disebabkan oleh
hipoglikemia, kebanyakan terjadi pada anak dengan malnutrisi berat,
hiperpireksia, hipernatremia atau hiponatremia.
g. Gagal Ginjal Akut
Dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat dan syok. Bila pengeluaran
kencing belum terjadi dalam waktu 12 jam setelah hidrasi cukup, maka
dapat didiagnosis gagal ginjal akut.

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Peningkatan frekuansi dan kandungan cairan dalam feses.
2. Kram abdomen, distensi, bising usus (borborigmus), anoreksia dan rasa
haus.
3. Kontraksi spasmodik yang sakit dari anus dan mengejan tak efektif
(tenesmus) mungkin terjadi setiap kali defekasi.
4. Sifat dan awitannya dapat eksplosif dan bertahap. Gejala yang berkaitan
adalah dehidrasi dan kelemahan.
5. Feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus.
6. Feses yang lunak, semipadat berkaitan dengan kelainan kolon.
7. Feses berwarna keabu-abuan menandakan malabsorpsi usus.
8. Mukus dan pus dalam feses menunjukkan enteritis inflamasi atau kolitis.
9. Bercak minyak pada air toilet merupakan diagnostik dari insufisiensi
pankreas.
10. Diare nokturnal mungkin merupakan manifestasi neuropati diabetik.
(Baughman, 2000).

Manifestasi klinis berdasarkan lamanya diare (akut dan kronis) :


1. Diare akut
- Akan hilang dalam waktu 72 jam dari onset
- Onset yang takterduga dari buang air besar encer, gas-gas dalam
perut, rasa tidak enak, nyeri perut.
- Nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi pada
perut.
- Demam
2. Diare kronik
- Serangan lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang.
- Penurunan BB dan nafsu makan.
- Demam indikasi terjadi infeksi.
- Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardia, denyut lemah
(Yuliana elin, 2009).
-
Bentuk klinis diare
Diagnose Didasarkan pada keadaan
Diare cair akut - Diare lebih dari 3 kali sehari berlangsung
kurang dari 14 hari.
- Tidak mengandung darah
Kolera - Diare air cucian beras yang sering dan
banyak dan cepat menimbulkan dehidrasi
berat, atau
- Diare dengan dehidrasi berat selama terjadi
KLB kolera, atau
- Diaredengan hasil kultur tinja positif untuk
V. Cholera 01 atau 0139
Disentri - Diare berdarah (terlihat atau dilaporkan)
Diare persisten - Diare berlangsung selama 14 hari atau
lebih
Diare dengan gizi buruk - Diare apapun yang disertai gizi buruk
Diare terkait antibiotika - Mendapat pengobatan antibiotik oral
(Antibiotic Associated spectrum luas
Diarrhea)
Invaginasi - Dominan darah dan lendir dalam tinja
- Massa intra abdominal (abdominal mass)
- Tangisan keras dan kepucatan pada bayi
(Sumber : buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit hal : 133)
Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare
Klasifikasi Tanda-tanda atau gejala Pengobatan
Dehidrasi Terdapat 2 atau lebih tanda Beri cairan untuk diare
berat : dengan dehidrasi berat (lihat
Letargis/tidak sadar rencana terapi C untuk diare
Mata cekung dirumah sakit di bab
Tidak bisa minum atau dehidrasi)
malasa minum
Cubitan kulit perut
kembali sangat lambat
Dehidrasi Terdapat 2 atau lebih tanda Beri anak cairan dengan
ringan atau : makanan untuk dehidrasi
sedang Rewel,gelisah ringan (lihat rencana terapi B
Mata cekung di bab dehidrsi)
Minum dengan lahap,haus Setelah rehidrasi,nasehati ibu
Cubitan kulit kembai untuk penanganan dirumah
denga lambat dan kapan kembali segera
Tanpa Tidak terdapat cukup tanda Beri cairan dan makanan
dehidrasi untuk diklasifikasikan untuk menangani diare
sebagai dehidrasi ringan dirumah (lihat rencana terapi
atau berat A)
Nasehati ibu kapan kembali
segera
Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak
membaik
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diare akut
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
- Tes darah: hitung darah lengkap; anemia atau trombositosis
mengarahkan dengan adanya penyakit kronis. Albumin yang rendah
bisa menjadi patokan untuk tingkat keparahan penyakit namun tidak
spesifik.
- Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri C.
Difficile ditemukan pada 5% orang sehat; oleh karenanya diagnosis
ditegakkan berdasarkan adanya gejala disertai ditemukannya toksin,
bukan berdasarkan ditemukannya organisme saja.
- Foto polos abdomen: bisa menunjukkan gambaran kolitis akut.
2. Diare kronis
Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan harus dipilih berdasarkan
prioritas diagnosis klinis yang paling mungkin:
- Tes darah: secara umum dilakukan hitung darah lengkap, LED,
biokimiawi darah, tes khusus dilakukan untuk mengukur albumin
serum, vitamin B12 dan folat. Fungsi tiroid. Antibodi endomisial
untuk penyakit siliaka.
- Mikroskopik dan kultur tinja (x3): hasil kultur negatif belum
menyingkirkan giardiasis.
- Lemak dan tinja: cara paling sederhana adalah pewarnaan sampel
tinja dengan Sudan black kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
Pada kasus yang lebih sulit, kadar lemak tinja harus diukur,
walaupun untuk pengukuran ini dibutuhkan diet yang terstandarisasi.
- Foto polos abdomen: pada foto polos abdomen bisa terlihat
klasifikasi pankras, sebainya diperiksa dengan endoscopic
retrograde cholangiopancreatography (ERCP) dan/atau CT
pankreas.
- Endoskopi, aspirasi duodenum, dan biopsi: untuk menyingkirkan
penyakit seliaka dan giardiasis.
- Kolonoskopi dan biopsi: endoskopi saluran pencernaan bagian
bawah lebih menguntungkan dari pada pencitraan radiologi dengan
kontras karena, bahkan ketika mukosa terlihat normal pada biopsi
bisa ditemukan kolitis mikroskopik (misalnya kolistik limfositik,
kolitis kolagenosa).
- Hydrogen breath test: untuk hipolaktasia (laktosa) atau pertumbuhan
berlebihan bakteri pada usus halus (laktulosa).
- Pencitraan usus halus: bisa menunjukkan divertikulum jejuni,
penyakit Crohn atau bahkan struktur usus halus.
- Berat tinja 24 jam (diulang saat puasa): walaupun sering ditulis di
urutan terakhir daftar pemeriksaan penunjang pemeriksaan ini tetap
merupakan cara paling tepat untuk membedakan diare osmotik dan
diare sekretorik.
- Hormon usus puasa: jika ada dugaan tumor yang mensekresi
hormonharus dilakukan pengukuran kadar hormon puasa.

Menurut (Rubebsten dkk, 2007) jika merupakan episode akut tunggal dan
belum mereda setelah 5-7 hari, maka harus dilakukan pemeriksaan
berikut:
a. Pemeriksaan darah lengkap untuk mencari anemia dan kultur darah
untuk Salminella typhi, S. Paratyphi, dan S. Enteritidid, khususnya
bila ada riwayat perjalanan ke luar negeri.
b. Pemeriksaan laboratorium tinja untuk mencari kista, telur, dan
parasit (ameba, Giardia) dan kultur (tifoid dan paratifoid,
Campylobacter, Clostridium difficile).
c. Sigmoidoskopi, khususnya pada dugaan kolistis ulseratif atau
kangkaer (atau kolitis ameba). Biopsi dan histologi bisa memiliki
nilai diasnostik.
G. PATHWAY
Pathway diare

(Nurarif, Amin
&Kusuma, H., 2013)
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis primer diarahkan pada pengontrolan dan
menyembuhkan penyakit yang mendasari (Baughman, 2000).
1. Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan per oral; mungkin
diresepkan glukosa oral dan larutan elektrolit.
2. Untuk diare sedang, obat-obatan non-spesifik, difenoksilat (Lomotif) dan
loperamid (Imodium) untuk menurunkan motilitas dari sumber-sumber
non-infeksius.
3. Diresepkan antimicrobial jika telah teridentifikasi preparat infeksius atau
diare memburuk.
4. Terapi intravena untuk hidrasi cepat, terutama untuk pasien yang sangat
muda atau lansia.

Menurut Supartini (2004), penatalaksanaan medis pada pasien diare meliputi :


pemberian cairan, pengobatan dietetik (cara pemberian makanan) dan
pemberian obat-obatan.
1. Pemberian cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum.
a. Pemberian cairan
Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per oral
berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCl dan glukosa
untuk diare akut dan karena pada anak di atas umur 6 bulan kadar
natrium 90 ml g/L. Pada anak dibawah 6 bulan dehidrasi ringan /
sedang kadar natrium 50-60 mfa/L, formula lengkap sering disebut :
oralit.
b. Cairan parenteral
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan
kebutuhan pasien, tetapi kesemuanya itu tergantung tersedianya
cairan setempat. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL) diberikan
tergantung berat / ringan dehidrasi, yang diperhitungkan dengan
kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
1) Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi.
2) Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral selanjutnya : 125 ml
/ kg BB / hari
3) Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50 – 100 ml / kg BB per oral (sonde)
selanjutnya 125 ml / kg BB / hari
4) Dehidrasi berat
Tergantung pada umur dan BB pasien.
2. Pengobatan dietetik
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang
dari 7 kg jenis makanan :
a. Susu (ASI adalah susu laktosa yang mengandung laktosa rendah dan
asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, al miron).
b. Makanan setengah padar (bubur) atau makanan padat (nasitim), bila
anak tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan susu
dengan tidak mengandung laktosa / asam lemak yang berantai
sedang / tidak sejuh.
3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui
tinja dengan / tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit
dan glukosa / karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras sbb).
a. Obat anti sekresi
Asetosal, dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg.
Klorrpomozin, dosis 0,5 – 1 mg / kg BB / hari
b. Obat spasmolitik, dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin,
ekstrak beladora, opium loperamia tidak digunakan untuk mengatasi
diare akut lagi, obat pengeras tinja seperti kaolin, pektin, charcoal,
tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare sehingg tidak
diberikan lagi.
c. Antibiotik
Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang
jelas bila penyebabnya kolera, diberiakn tetrasiklin 25-50 mg / kg
BB / hari. Antibiotik juga diberikan bile terdapat penyakit seperti :
OMA, faringitis, bronkitis / bronkopneumonia.
I. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
verivikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien. Pengkajian ini
didapat dari dua tipe yaitu data suyektif dan dari persepsi tentang
masalah kesehatan mereka dan data obyektif yaitu pengamatan /
pengukuran yang dibuat oleh pengumpul data (Potter, 2005). Pengkajian
pada pasien gastroenteritis menurut Arif Muttaqin (2011);
a. Dengan keluhan Diare
1. P ( Provoking, presipitasi)
Faktor apa saja yang diketahui pasien atau keluarga yang
memungkinkan menjadi penyebab terjadinya diare.
2. Q (Kualitas, kuantitas)
a) Berapa kali pasien BAB sebelum mendapat intervensi kesehatan
b) Bagaimana bentuk feses BAB? Apakah encer, cair, bercampur
lendir dan darah?
c) Apakah disertai adanya gangguan gastrointestinal (mual, nyeri
abdomen, muntah , anoreksia)?
3. T (waktu, onset)
- Berapa lama keluhan awal mulai terjadi?
- Apakah bersifat akut atau mendadak?
- Durasi dan kecepatan gejala awal mulai terjadi diare
menjadi pengkajian penting dalam memberikan intervensi
langsung penanganan rehidrasi. Intervensi yang akan
dilakukan pada diare yang lebih dari satu bulan akan
berbeda dengan diare yang terjadi kurang dari satu minggu.

b. Dengan keluhan muntah Pengkajian adanya keluhan muntah pada


pasien akan menentukan intervensi selanjutnya. Muntah merupakan
gejala gastroenteritis dengan keterlibatan bagian proksimal intestinal
respons dan inflamasi khususnya dari neurotoksin yang diproduksi
oleh agen infeksi.

c. Dengan keluhan demam Peningkatan suhu tubuh secara umum


merupakan respons sistemik dari ainvasi agen infeksi penyebab
gastroenteritis. Penurunan volume cairan tubuh yang terjadi secara
akut juga merangsang hipotalamus dalam meningkatkan suhu tubuh.
Keluhan demam sering didapatkan pada pasien gastroenteritis.

d. Nyeri abdomen Keluhan nyeri pada abdomen dapat dikaji dengan


pendekatan PQRST.
 P : keluhan nyeri dicetuskan akibat perasaan mules, sering mual/
muntah dan keinginan untuk melakukan BAB.
 Q : keluhan nyeri sulit digambarkan oleh pasien, khususnya pada
pasien anakanak. Ketidaknyamanan abdomen bisa bersifat kolik
akut atau perut seperti dikocok-kocok akibat mules.
 R : keluhan nyeri berlokasi pada seluruh abdomen dengan tidak
ada pengiriman respons nyeri ke organ lain.
 S : skala nyeri pada pasien GE bervariasi pada rentang 1-4 (nyeri
ringan sampai nyeri tak tertahankan)
 T : tidak ada waktu spesifik untuk munculnya keluhan nyeri.
Nyeri pada GE biasanya berhubungan dengan adanya mules dan
keinginan untuk BAB yang tinggi.
 Kondisi feses Keluhan perubahan kondisi feses bervariasi pada
pasien GE. Keluhan yang lazim adalah konsistensi feses yang
encer, sedangkan beberapa pasien lain mengeluh feses dengan
lendir dan darah.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Diare berhubungan dengan proses infeksi
2. ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan diare
3. deficit nutris berhubungan dengan factor psikologis (keenganan untuk
makan)

C. Intervensi Keperawatan

TUJUAN DAN KRITERIA


INTERVENSI RASIONAL
HASIL

Setelah diberikan asuhan NIC Label: Electrolyte  mengetahui


keperawatan selama ….x Monitoring penyebab untuk
diharapkan cairan dan  Identifikasi menentukan
elektrolit klien seimbang kemungkinan intervensi
dengan kriteria hasil : penyebab penyelesaian
ketidakseimban
 mengetahui
Label NOC : Fluid Balance gan elektrolit
keadaan umum
 Monitor adanya pasien
 Turgor kulit kehilangan
elastic ( skala 5 )  mengurangi
cairan dan
risiko
elektrolit
 Intake dan kekurangan
output cairan  Monitor adanya voume cairan
seimbang ( skala mual,muntah semakin
5) dan diare bertambah

 Membrane
mucus lembab (
skala 5 )
Fluid Management  mengetahui
perkembangan
Label NOC : Vital sign  Monitor status rehidrasi
hidrasi (

 Vital signs klien membran

dalam rentang mukus, tekanan


 evaluasi
normal (BP : ortostatik,
keadekuatan intervensi
120/80 mmHg,
RR : 15-20 denyut nadi )
 mengetahui
x/menit, HR : keadaan umum
 Monitor
60-100 x/menit, pasien
keakuratan
suhu klien 36,5-
intake dan
 rehidrasi
37,5
output cairan
optimal
o
C)
 Monitor vital
signs

 Monitor
pemberian
terapi IV

Vital Signs Monitoring

 Monitor vital
sign klien

TUJUAN DAN KRITERIA


INTERVENSI RASIONAL
HASIL

Setelah dilakukan asuhan NIC Label >> Nutrition NIC Label >> Nutrition
keperawatan selama 5×24 management management
jam diharapkan pemenuhan 1. Kaji status nutrisi 1. Pengkajian
kebutuhan pasien tercukupi pasien penting dilakukan
dengan kriteria hasil : untuk mengetahui
2. Jaga kebersihan
status nutrisi
mulut, anjurkan
NOC Label >> Nutritionl pasien sehingga
untuk selalu
status dapat menentukan
melalukan oral
intervensi yang
hygiene.
diberikan.
 Intake nutrisi
tercukupi. 3. Delegatif pemberian
2. Mulut yang bersih
nutrisi yang sesuai
dapat
 Asupan makanan dengan kebutuhan
meningkatkan
dan cairan pasien : diet pasien
nafsu makan
tercukupi diabetes mellitus.
3. Untuk membantu
NOC Label >> Nausea dan 4. Berian informasi
memenuhi
vomiting severity yang tepat terhadap
kebutuhan nutrisi
pasien tentang
yang dibutuhkan
 Penurunan kebutuhan nutrisi
pasien.
intensitas yang tepat dan
terjadinya mual sesuai. 4. Informasi yang
muntah diberikan dapat
5. Anjurkan pasien
memotivasi pasien
 Penurunan untuk
untuk
frekuensi mengkonsumsi
meningkatkan
terjadinya mual makanan tinggi zat
intake nutrisi.
muntah. besi seperti sayuran
hijau 5. Zat besi dapat
NOC Label >> Weight :
membantu tubuh
Body mass NIC Label >> Nausea
sebagai zat
management
penambah darah
 Pasien
sehingga
mengalami 1. Kaji frekuensi mual, mencegah
peningkatan durasi, tingkat terjadinya anemia
berat badan keparahan, faktor atau kekurangan
frekuensi, darah
presipitasi yang
NIC Label >> Nausea
menyebabkan mual.
management
2. Anjurkan pasien
makan sedikit demi 1. Penting untuk
sedikit tapi sering. mengetahui
karakteristik mual
3. Anjurkan pasien
dan faktor-faktor
untuk makan selagi
yang
hangat
menyebabkan
4. Delegatif pemberian mual. Apabila
terapi antiemetik : karakteristik mual
dan faktor
 Ondansentron 2×4
penyebab mual
(k/p)
diketahui maka

 Sucralfat 3×1 CI dapat menetukan


intervensi yang
NIC Label >> Weight diberikan.
management
2. Makan sedikit
demi sedikit dapat
1. Diskusikan dengan
meningkatkn
keluarga dan pasien
intake nutrisi.
pentingnya intake
nutrisi dan hal-hal 3. Makanan dalam
yang menyebabkan kondisi hangat
penurunan berat dapat menurunkan
badan. rasa mual
2. Timbang berat sehingga intake
badan pasien jika nutrisi dapat
memungkinan ditingkatkan.
dengan teratur.
4. Antiemetik dapat
digunakan sebagai
terapi
farmakologis
dalam manajemen
mual dengan
menghamabat
sekres asam
lambung.

NIC Label >> Weight


management

1. Membantu
memilih alternatif
pemenuhan nutrisi
yang adekuat.

2. Dengan
menimbang berat
badan dapat
memantau
peningkatan dan
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan medikal-bedah : buku saku dari


Brunner dan Suddarth. Jakarta : EGC
Djuanda Adhi, Azwar Azrul, dkk. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi
2011/2012 Ed : 11. Jakarta : BIP
NANDA international. 2012. Diagnosa Kperawatan. Jakarta: EGC
Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses,
praktik. Edisi 4. Volume 2. Jakarta: EGC.
Schwartz, M. William. 2004. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta : EGC
Sudoyo Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1,2,3, Ed : 4.
Jakarta : Internal Publishing
Subagyo B dan Santoso. 2011. Diare Akut Pada Anak. Surakarta: UNS
Yuliana elin, Andradjati Retnosari, dkk. 2011. ISO Farmakoterapi 2. Jakarta :
ISFI