Anda di halaman 1dari 17

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………. i


Daftar Isi …………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHUAN ………………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………… 1
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………. 2
2.1 Surat Al-Anfal Ayat 72 ……………………………………………………… 2
2.2 Surat Al-Hujurat Ayat 12 …………………………………………………… 4
2.3 Surat Al-Hujurat Ayat 10 …………………………………………………… 5
2.4 Mujahadah al-Nafs ………………………………………………………… 5
2.5 Ukhuwah ……………………………………………………………………. 8
2.6 Husnuz Zan ………………………………………………………………… 9
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………. 14
Kesimpulan ……………………………………………………………………… 14
Saran ……………………………………………………………………………... 15

ii
BAB I
PENDAHUAN

A. Latar Belakang
Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam Kata islam berarti damai, selamat,
sejahtera, penyerahan diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa
agama islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian,
keselamatan, dan kesejahteraan hidup umat manusia pada khususnya dan seluruh
alam pada umumnya. Agama islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia
pertama, Nabi pertama, yaitu Nabi Adam AS. Agama itu kemudian Allah turunkan
secara berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul-rasul berikutnya.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam
agama. Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragaman agama itu mempunyai
kecenderungan kuat terhadap identitas agama masing- masing dan berpotensi konflik.
Indonesia merupakan salah satu contoh masyarakat yang multikultural. Multikultural
masyarakat Indonesia tidak sauja kerena keanekaragaman suku, budaya,bahasa, ras
tapi juga dalam hal agama. Agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah
agama islam, Katolik, protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu. Dari agama-agama
tersebut terjadilah perbedaan agama yang dianut masing-masing masyarakat
Indonesia. Dengan perbedaan tersebut apabila tidak terpelihara dengan baik bisa
menimbulkan konflik antar umat beragama yang bertentangan dengan nilai dasar
agama itu sendiri yang mengajarkan kepada kita kedamaian, hidup saling menghormati,
dan saling tolong menolong.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama yang
sejati, harus tercipta satu konsep hidup bernegara yang mengikat semua anggota
kelompok sosial yang berbeda agama guna menghindari ”ledakan konflik antarumat
beragama yang terjadi tiba-tiba”.
Makalah ini akan membahas tentang Mujahadah Nafs tentang kontrol diri yang
perlu dimiliki setiap umat muslim.

iii
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Surat Al-Anfal Ayat 72

Artinya :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta
dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan
memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi.
Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada
kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi)
jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka
kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat
perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan." (Q.S. Al-Anfal 18:72)

Kandungan Surat Al-Anfal ayat 72 :


1. Berhijrah dari lingkungan kufur, syirik dan dosa untuk menjaga agama dan
melaksanakan tugas-tugas agama merupakan suatu perkara yang diharuskan.

2. Perjanjian dan perbatasan antara negara tidaklah menghalangi seorang muslim


untuk melakukan tugas-tugas agamanya. Jika ada seorang muslim yang berada di
negara lain dalam kondisi teraniaya dan meminta pertolongan kepada kita, kita sebagai
saudara sesama muslim harus memberikan pertolongan kepadanya.

3. Berpegang teguh pada perjanjian yang dijalin, termasuk dengan kaum kafir sekalipun
adalah sebuah keharusan. Selama pihak lain juga komitmen terhadap janji mereka.

iv
Perilaku Yang Mencerminkan dari Surat Al-Anfal ayat 72 :
1. Rela berkorban demi membela tegaknya syariat Islam meski harus mengorbankan
harta, jiwa, dan tenaga.

2. Lebih mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi.

3. Tolong-menolong antar sesama muslim. Seperti, memberi tempat tinggal kepada


korban bencana, memberikan bantuan berupa harta maupun tenaga, dan memberikan
sedekah kepada fakir miskin di sekitar kita.

4. Membina ukhuwah antar sesama muslim dengan cara mempererat tali silaturahmi.

Hukum Tajwid Surat Al-Anfal ayat 72 :

v
2.2 Surat Al-Hujurat Ayat 12

Artinya :
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan
orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu
yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu
merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Isi Kandungan:

vi
Bahwa sesama muslim tidak bisa berprasangka buruk kepada oarang lain (suzuan) dan
melakukan gibah. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini juga berkenaan
dengan Salman Al-Farisi yang saat itu telah selesai makan maka ia langsung suka tidur
dan mendengkur. Pada waktu itu ada yang mengumpat perbuatannya, maka turunlah
ayat ini yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan aib orang lain.

2.3 Surat Al-Hujurat Ayat 10

Artinya :
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat.
Isi kandungannya:
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya.
Persaudaraan itu di ibaratkan dengan satu tubuh ketika salah satu badan sakit maka
yang lain juga merasakanya. Bhakan ketika perselisihan tida terelakan, maka kita tidak
diperbolehkan sesama muslim selama 3 hari.

2.4 Mujahadah al-Nafs


a. Pengertian
Kontrol diri (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad
melawan ego atau nafsu pribadi. Perjuangan ini dilakukan karena nafsu-diri memiliki
kecenderungan untuk mencari pelbagai kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak
yang harus ditunaikan, serta mengabaikan terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun
yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka
sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya itu. Hal inilah yang
menjadi salah satu alsan mengapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu
lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh (qital).

b. Dapat Melakukan Mujahadah an Nafs hanya karena hidayah Allah


Mujahadah al-nafs merupakan perbuatan yang berat. Meskipun berat Allah
menjanjikan jalan keluar bagi orang beriman yang bersungguh-sungguh berjuang
mengendalikan nafsunya. Sebagaimana firman Allah : : “Orang-orang yang berjihad di

vii
jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS al-Ankabut:
69).
Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad.
Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling
besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan
syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh
dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan
ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang
meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah…”
Di ayat lain, Allah menjelaskan bahwa membebaskan nafsu merupakan karunia
Allah, sebagaimana frimannya: “Dan aku tidak membebaskan nafs-ku, karena
sesungguhnya nafs itu selalu sangat menyuruh kepada keburukan, kecuali nafs yang
dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.” (QS. Yusuf/12: 53).
Kalimat yang bergaris bawah menunjukkan bahwa kita tidak akan sanggup
mengendalikan diri, kecuali mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah

c. Akibat mengikuti nafsu


Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai
narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku mujahadah
diri. Sebaliknya, mereka justru menuruti segala keinginan dan syahwat diri, sehingga
mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang
buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan
adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat dan instan. Na’udzu billah, semoga
kita dihindarkan cara pandang sedemikian.

d. Hikmah mujahadah an nafs


Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari mujahadah an-nafs, yaitu:
a) Dapat meminimalisasi akibat negatif dari perbuatan yang dilakukan, karena
dipertimbangkan dengan matang.
b) Berusaha berbuat yang baik dan terbaik, sebaik perbuatan itu akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah
c) Tidak cepat bereaksi terhadap berbagai permasalahan yang timbul.

viii
e. Cara Mujahadah an nafs
Ada empat cara melakukan mujahadah an-nafs dalam kehidupan sehari-hari,
yaitu:
1) Bersabar atau menyisihkan waktu yang lebih lama untuk mengambil keputusan dari
perbuatan yang akan dilakukan.
Ketika seseorang atau umat Islam dihadapkan kepada banyak tantangan dan
kesulitan atau berposisi minoritas, hendaklah bersabar. Sikap sabar akan membuka
pikiran jernih yang menjadi pembuka ide-ide brilian yang mengambil keputusan.
2) Memikirkan akibat dari perbuatan yang kita lakukan.
Berpikir tentang akibat perbuatan yang akan dilakukan dapat meminimalisasi hal-hal
negatif dan penyesalan yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Bukankah
setiap perbuatan sebenarnya akan kembali kepada pelakunya sendiri? Allah Swt
berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri.
Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra:
7). Sebagian ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Sesungguhnya amal
kebaikan melahirkan cahaya di dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan
pada wajah, keluasan pada rizki, serta kecintaan dari segala makhluk. Sedangkan
kejahatan, sebaliknya, menciptakan kegelapan di hati, keringkihan di badan,
kesuraman di wajah, kesempitan pada rizki, serta kebencian dari hati segala
makhluk.”
3) Berdzikir kepada Allah
Berdzikir merupakan cara untuk menyadarkan diri bahwa segala perbuatan kita
dilihat dan dicatat oleh Allah untuk dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan
berdzikir iman akan bertambah, membentengi godaan setan dan menjadi
penyelamat dari neraka. Sebagaimana sabda Nabi saw:

ِ ‫ان َو ُح ِرزَ ِمنَ النِِّي َْر‬


‫ان‬ ِ ‫ط‬َ ‫ش ْي‬
َّ ‫صنَ ِمنَ ال‬
ِ ‫ق َو ُح‬ ِ ‫ِذ ْك ُر هللاِ ِع ْل ُم اإلي َم‬
ِ ‫ان َوبَ َرائِ ِه ِمنَ النِِّفَا‬
“Dzikirullah itu (dapat membuka) pengetahuan tentang keimanan, pembebasan dari
kemuafikan, benteng dari syetan, dan penyelamat dari neraka.” (Miftah al-Shudur).
Ibnu Atha’illah al-Sakandari dalam al-Hikam-nya memberikan nasehat:
‫ ألن غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره‬،‫ال تترك الذكر لعدم حضورك مع هللا فيه‬
“Janganlah engkau meninggalkan zikir karena engkau tidak hadir bersama Allah (tidak
khusyuk), karena kelalaianmu sambil tidak berzikir itu lebih dahsyat daripada
kelalaianmu sambil zikir kepada-Nya.”
4) Berdoa kepada Allah
Doa menjadi modal spritual ketika dalam kesulitan. Inilah yang dicontohkan
Rasulullah, ketika beliau dilempari batu dan diusir dari Thaif, justru beliau
mendoakan penduduk thaif agar diberi hidayah oleh Allah.

ix
2.5 Ukhuwah
a. Definisi
Kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari “akhun” artinya berserikat atau
persaudaraan. Jika kata ini dirangkai dengan Islamiyyah maka pengertian ukhuwah
Islamiyah adalah persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh
Islam.
b. Bentuk-Bentuk Ukhuwah
Ada 4 macam ukhuwah yang dijelaskan dalam kitab suci Al- Qur’an, yaitu:
1. Ukhuwwah Ubudiyyah adalah persaudaraan karena sesama makhluk yang
tunduk kepada Allah SWT.
2. Ukhuwah Insaniyyah ( basyariyyah ) dalam arti seluruh umat manusia
adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan
ibu.
3. Ukhuwwah Wathaniyyah wa an- nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan
dan kebangsaan.
4. Ukhuwwah fi din Al- Islam, Persaudaraan antarsesama muslim.
c. Hikmah Ukhuwah
Ada beberapa hikmah ukhuwah diantaranya:
1. Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa
negeri yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu
mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang
bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah
keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan
persatuan.
2. Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)
Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa
persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan dan
menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang telah
terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.
3. Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada
akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara se-iman. Yang
dulunya belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan
bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam.

x
d. Cara menciptakan ukhuwah
Berdasarkan QS Al-Hujurat (49): 11-12, dijelaskan bahwa ada enam hal yang
harus kita hindari agar ukhuwah tercipta, yaitu:
1. memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-
kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit
hati, kemarahan dan permusuhan. kita.
2. mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila
kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar.
3. memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai.
4. berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad).
5. mencari-cari kesalahan orang lain,
6. bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu
tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang.
Khusus dalam menciptakan ukhuwah islamiyyah (persaudaraan antar sesama
muslim) dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Menegakkan shalat berjamaah di masjid.
2. Menebarkan salam dan tidak saling acuh
3. Membantu meringankan beban yang sedang menghimpit saudaranya.
4. Saling memaafkan.
5. Menjauhi perbuatan maksiat, seperti minum khamr dan judi.
6. Saling mendo’akan dengan kebaikan.

2.6 Husnuz Zan


a. Husnuz zan kepada Allah
1) Pengertian
Husnudzdzan kepada Allah artinya berprasangka baik terhadap semua keputusan /
takdir Allah. Allah adalah Dzat yang maha Kuasa dan maha Mengetahui atas segala
yang terbaik bagi makhluk-Nya. Allah adalah rabbul alamin yaitu pengatur alam
semesta ( QS Al Fatihah : 1 ). Semua ciptaan-Nya telah diatur sedemikian rupa ,
sehingga tidak ada yang sia-sia ( QS Ali Imran : 191 ). Boleh jadi yang terlihat jelek
justru kenyataannya sangat baik akibatnya bagi manusia. Sebaliknya sesuatu yang
terlihat baik, justru kenyataannya sangat jelek dan buruk akibatnya bagi manusia ( QS
Al Baqarah : 216 ).
2) Contoh Perilaku husnudz dzan kepada Allah
Ada beberapa contoh perilaku husnudz dzan kepada Allah, di antaranya:
a) Rela menerima semua takdir Allah yang diimbangi dengan doa dan usaha
b) Berpikir positif bahwa semua keputusan dan takdir Allah adalah terbaik bagi
manusia

xi
c) Mengembalikan semua
d) Memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya kepada
Allah
3) Hikmah dan Manfaat Husnudzdzan kepada Allah
Orang yang mempunyai sifat husnudz dzan kepada Allah akan melahirkan sikap-sikap
positif lainnya, di antaranya :
a) Kehidupan rohani yang tenang, tentram, tanpa dibayangi rasa takut, was-was
dan khawatir, sebab dia merasa Allah sangat dekat dengannya dan pasti akan
memberikan pertolongan kepadanya. Allah tidak akan menimpakan suatu
masalah diluar batas kemampuan manusia
b) Semua takdir dianggapnya selalu baik bagi dirinya, baik berupa musibah atau
pun nikmat. Setiap masalah yang dihadapi pasti mengandung hikmah demi
kebaikan diri pada masa berikutnya.
c) Menahan diri untuk memberikan reaksi terhadap masalah yang timbul dan terjadi
, baik pada diri sendiri maupun pada lingkungan di sekitarnya, sebab diri
manusia mempunyai daya analisa yang serba terbatas. Boleh jadi sesuatu yang
terlihat jelek, sebetulnya baik akibatnya baik bagi semuanya. Dan boleh jadi
sesuatu yang terlihat jelek, justru menimbulkan manfaat yang besar di kemudian
hari bagi semua pihak.
d) Rendah hati dan selalu evaluasi diri sekaligus menyadari bahwa diri manusia
banyak kesalahan. Ujung-ujungnya manusia akan terdorong untuk memohon
ampun kepada Allah dengan memperbanyak istighfar .
4) Cara Menumbuhkan Sikap Husnudzdzan kepada Allah
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan sikap husnudz dzan., di antaranya :
a) Latihan menerima semua takdir/ keputusan yang ditimpakan Allah kepada diri
kita, baik berupa nikmat ataupun musibah.dengan cara meyakini bahwa semua
yang terjadi pasti ada hikmah yang dapat dipetik dan diambil demi kebaikan di
masa yang akan datang.
b) Latihan menahan diri untuk tidak memberikan reaksi dengan cepat terhadap
semua masalah yang terjadi.
c) Latihan memperbanyak istighfar dan mengakui bahwa diri kita banyak
melakukan kesalahan.

b. Husnuz zan kepada Manusia


1) Pengertian
Husnudz dzan kepada orang lain berarti berprasangka baik terhadap semua
yang dilakukan oleh orang lain. Berprasangka baik artinya menganggap bahwa apa

xii
yang dilakukan orang lain, baik yang terlihat jahat ( kecuali jika jelas bahwa perbuatan
tersebut melanggar syariat ), apalagi yang terlihat baik adalah baik.
2) Pentingnya berlaku husnuz zan terhadap manusia
Hal ini dilakukan mengingat adanya keterbatasan kemampuan manusia untuk
menganalisa perilaku manusia. Banyak perbuatan yang terlihat baik, sebenarnya hanya
sebagai batu loncatan untuk melakukan perbuatan jahat yang lebih parah. Sebaliknya,
banyak perbuatan yang terlihat jahat, justru menimbulkan banyak perbuatan positif.
Semua itu terjadi tergantung dari niat dan tujuan pelaku dalam melakukan perbuatan
tersebut. Hanya Allah dan pelaku perbuatan itulah yang mengetahui niat sebenarnya
dari perbuatan yang dilakukan.
Mengingat keterbatasan pengetahuan manusia terhadap apa yang
tersembunyi dan terjadi dihadapannya, Allah memberikan peringatan dan arahan
kepada orang beriman untuk selalu berbaik sangka terhadap sesama muslim.
3) Contoh Husnuz zan terhadap manusia
Ada beberapa contoh perbuatan husnudz zhan kepada sesama, di antaranya
a. Menjauhi sikap buruk sangka kepada orang lain.
b. Menjauhi sikap mencari kesalahan orang lain
c. Ikut membantu dan berbela sungkawa atas kejadian yang tidak mengenakkan
yang diterima orang lain.
4) Cara menumbuhkan sikap husnuz zan kepada manusia
Ada beberapa cara menumbuhkan sikap husnuz zan kepada manusia, yaitu:
a. Tidak merendahkan orang lain, sebab boleh jadi orang yang direndahkan justru
lebih baik dari orang yang merendahkan ( QS Al Hujurat : 11 ).
b. Tidak mencaci maki atau menghina orang lain, apalagi hinaan tersebut tidak
sesuai kenyataan.
c. Allah melihat perbuatan manusia bukan dari segi dhahirnya ( pelakunya ), tetapi
yang menjadi ukurannya adalah niat yang ada dalam hati.

c. Husnuz zan kepada Diri Sendiri


1) Pengertian
Husnuz zhan terhadap diri sendiri mengandung arti bahwa segala yang melekat
pada diri manusia, baik disukai ataupun tidak, merupakan pemberian Allah yang terbaik
untuk manusia. Sikap husnuz zhan ini akan melahirkan sikap berpikir positif terhadap
diri yang akan memotivasi seseorang untuk mendayagunakan pemberian Allah pada
jalan yang telah ditentukan-Nya ( syariat ).
2) Bentuk Husnuz Zhan terhadap diri
Bentuk husnuz zhan terhadap diri dapat dilakukan dengan bersikap :

xiii
1. Berinisiatif, yaitu memberdayakan daya pikir untuk merencanakan ide menjadi
konsep yang dapat berdaya guna dan bermanfaat.
2. Gigih, yaitu usaha sekuat tenaga dan tidak berputus asa untuk melaksanakan
kebaikan, walaupun harus menghadapi tantangan yang berat.
3. Rela berkorban, yaitu bersedia dengan ikhlas, senang hati dan tidak mengharap
imbalan bahkan rela memberikan apa yang dimiliki ( tenaga, pikiran dan harta )
untuk keperluan orang lain atau masyarakat.
3) Manfaat husnuz zan terhadap diri.
Ketiga sikap yang muncul dari husnuz zan terhadap diri ini merupakan sikap
yang saling terkait dan sangat sulit untuk dipisahkan. Ide yang muncul dari pikiran perlu
direncanakan dan direalisasikan. Realisasi memerlukan kegigihan dan kerelaan diri
untuk mengorbankan apa yang dimiliki demi terwujudnya cita-cita. Cita-cita yang
terwujud melahirkan kepuasan hidup yang tiada bandingannya. Cita-cita yang belum
terwujud bukan berarti penghalang dan beban tapi merupakan keberhasilan yang
tertunda dan sekaligus dijadikan motivasi untuk lebih giat, gigih dengan mendekat
kepada yang Maha Kuasa sebab segala yang terjadi selalu berada di bawah
kekuasaan-Nya..
Memaksimalkan pemberdayaan 3 sikap husnuz zan terhadap diri ini
telahmengantarkan banyak tokoh menjadi orang yang sukses, namanya harum dan
dikenang manusia sepanjang hayat , baik di dunia maupun di akhirat . Bahkan di
akhirat dijanjikan oleh Allah imbalan surga yang penuh dengan kenikmatan, manakala
didasari sikap iman dan niat beribadah kepada Allah
A. Cara menumbuhkan sikap berinisiatif, gigih, dan rela berkorban.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sifat suka
berinisiatif, gigih dan rela berkorban, di nataranya :
1. Sikap inisiatif dapat ditumbuhkan dengan cara menumbuhkan keyakinan bahwa
orang yang berinisiatif dan melakukan perbuatan baik akan mendapatkan pahala
ditambah pahala orang-orang yang mengikuti sesudahnya.
2. Sikap gigih dalam merealisasikan kebaikan dapat ditumbuhkan dengan cara
menumbuhkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan
hidayah kepada orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam
menempuh perjalanan hidup di bawah aturan agamanya. Di samping itu
berupaya menumbuhkan keyakinan bahwa dibalik kesukaran pasti ada
kemudahan.
3. Sikap rela berkorban dapat ditumbuhkan dengan cara menumbuhkan keyakinan
bahwa pengorbanan yang dilakukan baik berupa harta, fisik, pikiran dengan
niatan semata-mata mengharapkan keridlaan Allah pasti mendapatkan
ketenangan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

xiv
2. Hikmah Husnudz dzan
Ada beberapa hikmah husnudz dzan bagi kehidupan manusia, yaitu:
a. Optimis dalam menjalani hidup, sebab Allah pasti akan menolongnya
b. Hidup menjadi tenang dan damai
c. Terhindar dari sifat dengki, iri, riya, takabbur, bermusuhan dan tidak rela dengan
takdir Allah
d. Menumbuhkan sikap peduli, santun, tulus, pemaaf dan tidak emosional.
e. Banyak teman

xv
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mujahadah An-Nafs
Secara umum di dalam Al Quran bermaksud pengertian diri, pribadi, seseorang, individ
u namun ulama Psikologi Islam cenderung mengartikan sebagai jiwa. Mujahadah adala
h kerja keras secara maksimal merupakan tahapan yang harus diupayakan untuk menc
apai suatu keberhasilan. Kita ketahui bahwa sesuatu untuk meraih kesuksesan diperluk
an adanya kerja keras yang tinggi.
Mujahadah AnNafs adalah perjuangan sungguhsungguh atau jihad untuk melawa
n ego atau nafsu pribadi
Jihad atau memerangi hawa nafsu pribadi merupakan salah satu hal yang penting, sa
mpai Nabi menyebutnya sebagai Jihad Akbar yang nilainya bahkan lebih utama dibandi
ngkan dengan jihad memerangi orang-
orang kafir. Karena itu, nafs ini sibuk dengan perbuatan:
a. Introspeksi diri
b. Mendebat diri sendiri
c. Menyesali
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah, bersabda :
"Sesungguhnya seorang mukmin, bila dia melakukan dosa, terdapat noda hitam di dala
m hatinya, bila dia bertaubat benar-benar menyesali, dan minta ampun (atas dosa-
dosanya tadi), dibersihkan hatinya dari dosa-
dosa tersebut, tetapi, bila dia menambah dosanya, maka titik hitam itu semakin bertamb
ah, sehingga memenuhi hatiya. Itulah yang disebut ar-raan" sebagaimana firman-
firmanNya : "Sekali-
kali tidak, bahkan hati mereka telah tertutupi (oleh tabiat buruk), terhadap apa yang mer
eka usahakan" (HR. Muslim).

HUSNUZAN
Husnuzan adalah suatu sikap atau perilaku yang memiliki prasangka baik, Berpikiran P
ositif, berpandangan mulia terhadap sesuatu yang ada di hadapannya. Maksudnya adal
ah selalu berprasangka baik dan berpikiran positif terhadap sesuatu sedang menimpan
ya, baik itu masalah yang berat ataupun yang sangat membebani hidupnya. Perilaku hu
snuzan termasuk akhlak terpuji atau akhlakul karimah karena hal tersebut dapat menda
tangkan manfaat bagi seseorang. Oleh karena itu, perilaku husnuzan sangat dianjurkan
dimiliki bagi setiap pribadi yang muslim. Contohnya orang yang memiliki sikap husnuza
n, tentu tidak mudah menuduh orang lain, apalagi melempar kesalahan pada orang lain
hanya untuk menutupi kelemahan dan kekurangan dirinya sendiri.

xvi
Lawan kata dari husnuzan adalah suuzan yang berarti berprasangka buruk terhadap All
ah swt., Diri sendiri dan sesama manusia..

Bersikap suuzan tidak boleh dimiliki oleh setiap pribadi orang muslim karena perilaku te
rsebut tergolong akhlak mazmumah atau akhlak terceladan akan mendatangkan kerugi
an bagi seseorang. Selain itu Allah swt. juga melarang berperilaku suuzan atau berpras
angka buruk, sebagaimana firman Allah swt.

UKHUWAH
Secara Bahasa Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara istilah
ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah
kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih
sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.
Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak
menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allah
semata.

3.2 Saran
Marilah kita mempelajari sikap husnudzan agar kita selalu berfikiran baik terhadap org
lain dan tidak boleh suudzon

xvii