Anda di halaman 1dari 176

Kementerian

Pekerjaan Umum

VISI PU 2025
“Menjamin Ketersediaan
­Infrastruktur Bidang Pekerjaan
Umum yang Handal untuk
Kehidupan yang Nyaman, Produktif
dan Berkelanjutan”

FAJAR MENYONGSONG JEMBATAN SELAT SUNDA

BUDAYA KERJA
PNS PEKERJAAN UMUM

Kementerian Pekerjaan Umum


2010

Budaya Kerja
i
PNS Pekerjaan Umum
Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Judul Buku:
Budaya Kerja PNS Pekerjaan Umum

Pengarah:
Ir. Agoes Widjanarko, MIP.
Sekjen Kementerian PU

Penanggung Jawab:
Dr. Yadi Siswadi
Ka Biro Kepegawaian dan Ortala, Setjen PU

Tim Penyusun:
Ir. Asep Arofah Permana, MT.
Drs. Suyono Kasim, M.Ed.
Purnomo Sudjarwanto, SH.
B. S. Wibowo, SKM, MARS, CPHR.
M. Apud Kusaeri, S.Pd. M.Si.

Editor:
Sri Ismayati, SE. Ak. M.Si.

Sekretariat:
Gamar Alhamid, S.Sos, M.Si.
Wenny Adriani, S.Sos.

Edisi Kedua April 2010

ISBN: 978-979-8230-14-1

Penerbit:
PT. Mediatama Saptakarya
Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum
Jl. Patimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12110.
Telp. (021) 7394647

Budaya Kerja
ii
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Nara Sumber Wawancara


• Dr. Ir. Suyono Sosrodarsono

• Ir. Joelianto Hendro Moeljono

• Drs. Gembong Prijono, M.Sc

• Ir. Boediman Arif

• Ir. Soenarno, M.Sc

• Hendropranoto Susilo

Serta sumber dari tokoh-tokoh PU lainnya yang
tidak disebutkan secara rinci di halaman ini

Budaya Kerja
iii
PNS Pekerjaan Umum
Budaya Kerja
iv
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Saya minta kepada


kamu orang sekali lagi,
supaya betul-betul
bekerja keras dengan
tekad, semangat yang
sehebat-hebatnya.
Presiden Soekarno
sambutan pada karyawan komando
proyek CONEFO - Ir. Sutami
7 Februari 1966

Budaya Kerja
v
PNS Pekerjaan Umum
Budaya Kerja
vi
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

SAMBUTAN
SEKRETARIS JENDERAL
KEMENTERIAN PU

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalaamu ‘alaikum Warahmatullaahi
Wabarakaatuh

K

ita sebagai generasi penerus patut
mensyukuri segala limpahan Rahmat Tuhan
Yang Maha Kuasa sehingga kita masih
dapat melakukan aktivitas dan melaksanakan
tanggung jawab kita dalam naungan Korps
Pekerjaan Umum, sebagaimana kita ketahui
bersama bahwa Kementerian Pekerjaan Umum
merupakan kementerian tertua karena dilihat
dari kelembagaan dan fungsinya telah ada sejak
zaman Hindia Belanda dengan nama Burgelijke
Openbare Werken yang kemudian diubah
menjadi Departement van Verken en Waterstaat
yang merupakan penggabungan antara
Burgelijke Openbare Werken dan Departement
van Gouvernement Bedrijven kecuali Dienst
der Zourtrege karena digabungkan dengan
Departement Economische Zoken, kemudian
setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu pada
tanggal 19 Agustus 1945 dibentuk Departemen
Pekerjaan Umum dan Perhubungan dan
menetapkan R.M. Abikusno Tjokrosoejoso sebagai
Menteri Pertama yang berkantor di Jakarta, dan Ir.

Budaya Kerja
vii
PNS Pekerjaan Umum
Pangeran Mohammad Noor sebagai Wakil Menteri
yang berkantor di Bandung, dalam beberapa bulan
kemudian tepatnya pada tanggal 14 November
1945 diumumkan Kabinet Syahrir dan sebagai
Menteri Pekerjaan Umum adalah Ir. Putuhena dan
berkantor pusat di Gedung Sate, Bandung.

Pada masa pemerintahan Kabinet Syahrir


tepatnya pada tanggal 3 Desember 1945 Kantor
Pusat Departemen Pekerjaan Umum diserang
oleh tentara Sekutu/Belanda kemudian diduduki
dan dijadikan kantor pendudukan Belanda,
dalam pertempuran tersebut Kantor Departemen
Pekerjaan Umum (Gedung Sate) dipertahankan
oleh 21 (duapuluh satu) orang pemuda pegawai
yang tergabung dalam Angkatan Muda Pekerjaan
Umum dan dalam pertempuran itu 7 (tujuh) orang
dinyatakan hilang/gugur, sehingga pada tanggal 3
Desember dijadikan Hari Bakti Pekerjaan Umum,
makna dari kejadian tersebut dapat ditarik benang
merah bahwa bekerja di Kementerian Pekerjaan
Umum adalah AMANAH, bukan untuk sekedar
mencari nafkah.

Sejak didirikan Kementerian Pekerjaan


Umum telah menghasilkan pembangunan
infrastruktur yang nyata dan manfaatnya
dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia, karena
infrastruktur merupakan urat nadi kehidupan
berbangsa dan bernegara, keberhasilan
pembangunan infrastruktur tidak lepas dari
pengelolaan Sumber Daya Manusia, faktor
ini sangat menentukan keberhasilan dalam
melaksanakan program-program kegiatan, oleh
karena itu pembinaan Sumber Daya Manusia
yang berkualitas merupakan aspek pembinaan

Budaya Kerja
viii
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

yang sangat penting dan perlu dilakukan terus


menerus dan berkesinambungan.

Pembinaan Sumber Daya Manusia


yang didasarkan pada semangat ke-PU-an
dan kebanggaan korps telah dilakukan sejak
berdirinya Kementerian Pekerjaan Umum dan
lebih ditingkatkan lagi sejak Dr. Ir. Sutami
memimpin Kementerian ini dengan motonya yang
sangat sederhana namun sangat bermakna, yaitu
Bekerja Keras, Bergerak Cepat, Bertindak
Tepat. Moto tersebut dijadikan landasan budaya
kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan
diharapkan dapat mengobarkan semangat korps,
oleh karenanya moto tersebut secara eksplisit
tersurat dalam Mars Pekerjaan Umum yang selalu
dinyanyikan dalam upacara bendera.

Dengan mengambil dan memperhatikan
pelajaran dan pengalaman masa lalu, serta
kemampuan memandang positif kemungkinan-
kemungkinan dan peluang yang terbuka di hari
depan. Kami menyusun buku pedoman budaya
kerja ini untuk dapat digunakan oleh generasi
penerus.

Sebagai upaya melengkapi dan
memperkaya buku ini, masukan-masukan dari
nara sumber terkait dalam sistem pembentukan
karakter pegawai Kementerian PU sangatlah
membantu. Terutama dalam upaya pemupukan
dan pembinaan jiwa korps serta semangat juang
Ke-PU-an yang terus menerus dan tetap mengacu
pada peraturan dan perundangan yang terkait.

Budaya Kerja
ix
PNS Pekerjaan Umum
Isi pokok Buku Budaya Kerja PNS
Pekerjaan Umum ini sebagian besar digali
dan dikembangkan dari tulisan dan ide yang
disampaikan oleh para senior Kementerian
Pekerjaan Umum, antara lain Bapak Dr. Ir.
Suyono Sosrodarsono yang mempunyai kiprah
dan kontribusi besar pada Kementerian Pekerjaan
Umum dalam Pembangunan Nasional.

Disamping itu, berbagai rujukan dari


segenap Korps Pekerjaan Umum baik yang
masih aktif maupun yang sudah purna bakti yang
dinilai telah berhasil dalam menuntun dan menata
Kementerian Pekerjaan Umum, lebih memperkaya
dan memperkuat kualitas buku.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan


terima kasih kepada seluruh pihak yang berperan
dalam penerbitan buku ini, semoga Tuhan Yang
Maha Pengasih dan Penyayang memberi ganjaran
yang setimpal. Amin.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi
Wabarakaatuh.

Jakarta, 3 Maret 2010

Ir. Agoes Widjanarko, MIP

Budaya Kerja
x
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PENGANTAR
KEPALA BIRO
KEPEGAWAIAN DAN ORTALA
SETJEN PU

S
ebagai upaya untuk menumbuh-kembangkan
etos kerja, motivasi, tanggung jawab,
produktivitas dan kinerja pelayanan pegawai
Kementerian Pekerjaan Umum khususnya dalam
mendukung penyelenggaraan infrastruk­tur bidang
pekerjaan umum, maka dipandang perlu untuk
mengembangkan nilai-nilai dasar budaya kerja
Kementerian Pekerjaan Umum yang bersumber dari
informasi sejarah, hasil karya serta perilaku para
pendahulu.

Nilai-nilai dasar budaya kerja di lingkungan


Kementerian Pekerjaan Umum, oleh para pendahulu
telah dirumuskan dalam moto yang singkat namun
memiliki makna yang sangat dalam, yaitu: Bekerja
Keras, Bergerak Cepat, dan Bertindak Tepat.

Moto tersebut mengajak setiap pegawai


agar memiliki sikap tanggung jawab, tanggap dan
inovatif dalam melaksanakan tugas berdasarkan
gagasan, perasaan dan informasi yang konsisten
dengan keyakinannya. Sehingga jika moto tersebut
dilakukan secara smart oleh seluruh pegawai
Kementerian Pekerjaan Umum dapat membentuk
budaya kerja.

Untuk itu, agar budaya kerja di lingkungan


Kementerian Pekerjaan Umum dapat bermanfaat

Budaya Kerja
xi
PNS Pekerjaan Umum
dalam mewujudkan kompetensi organisasi sesuai
visi dan misi yang harus dilaksanakan, maka
diperlukan penyiapan strategi program implementasi
budaya kerja.

Ada 3 (tiga) hal yang perlu dikembangkan


dalam mendukung strategi program implementasi
budaya kerja, yaitu:

Pertama; strategi pengembangan produk, adalah


upaya untuk merumuskan formulasi konsepsi budaya
kerja menjadi wujud perilaku yang dapat dilakukan
oleh pegawai Kementerian Pekerjaan Umum, serta
menetapkan program budaya kerja menjadi kebijakan
Kementerian Pekerjaan Umum.

Kedua; strategi komunikasi, adalah upaya untuk


merumuskan strategi komunikasi dalam upaya
memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya kerja
melalui berbagai kegiatan komunikasi dengan
tahapan memberitahu, membujuk, mengingatkan
dan memodifikasi perilaku.

Ketiga; implementasi & evaluasi, adalah upaya


menerapkan konsepsi budaya kerja melalui berbagai
program implementasi dan melakukan evaluasi untuk
penyempurnaannya.

Sehingga untuk mendukung perubahan


kinerja organisasi dalam memberikan pelayanan
publik yang berkualitas perlu disusun Strategi
Program Implementasi Budaya Kerja melalui kegiatan
Penyusunan Pedoman Budaya Kerja Kementerian
Pekerjaan Umum.

Penyusunan Buku Budaya Kerja PNS


Pekerjaan Umum bertujuan untuk mendorong
upaya terwujudnya perilaku pegawai yang sejalan

Budaya Kerja
xii
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

dengan budaya kerja Kementerian Pekerjaan Umum,


sedangkan sasaran yang ingin dicapai secara
keseluruhan adalah untuk:

Pertama; terwujudnya rumusan konsepsi perilaku


budaya kerja Kementerian Pekerjaan Umum yang
dapat diimplementasikan dalam perilaku keseharian
sebagai pegawai Kementerian Pekerjaan Umum.

Kedua; teridentifikasinya kebutuhan produk


pengaturan/ regulasi yang dapat menjamin
terlaksananya strategi program implementasi budaya
kerja Kementerian Pekerjaan Umum.

Ketiga; tersusunnya strategi program dan produk-


produk komunikasi untuk melaksanakan program
implementasi budaya kerja Kementerian Pekerjaan
Umum; dan

Keempat; terlaksananya penerapan kegiatan


prioritas dari strategi program implementasi budaya
kerja Kementerian Pekerjaan Umum.

Kami sampaikan terima kasih dan


penghargaan kepada seluruh Pimpinan Kementerian
PU serta para narasumber, dengan harapan semoga
Buku Budaya Kerja ini bermanfaat bagi kita semua.
Tanggapan, saran serta kritikan yang bersifat
membangun sangat kami harapkan.

Semoga semua kontribusi dan partisipasi


seluruh pihak yang terkait dengan penerbitan buku
ini mendapatkan kebaikan dari Tuhan YME.

Jakarta, 3 Maret 2010


Dr. Yadi Siswadi

Budaya Kerja
xiii
PNS Pekerjaan Umum
Budaya Kerja
xiv
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PRAKATA

P
uji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah
Subhanahu Wa Ta’ala atas segala kesempatan,
nikmat, rahmat, karunia, dan ridha-Nya,
sehingga buku Budaya Kerja PNS Pekerjaan Umum
ini selesai disusun dan dapat diterbitkan.

Berawal dari keprihatinan atas mulai terkikis


dan terlupakannya etos kerja PU yang tertuang dalam
moto bekerja keras, bergerak cepat, dan bertindak
tepat, kami berpikir untuk memperkenalkan kembali
moto tersebut kepada warga PU saat ini. Moto yang
bukan sekadar susunan kata-kata tetapi memiliki
nilai historis panjang dan makna sangat dalam dari
para pelaku sejarah PU, terlebih lagi bila mengingat
PU sebagai kementerian tertua di negeri ini. Maka,
kami pun merasa perlu untuk menelusuri jejak
rintisan nilai-nilai dasar budaya kerja PU yang
bersumber dari informasi sejarah, hasil karya, serta
perilaku pegawai PU. Nilai-nilai dasar budaya kerja
PU yang oleh para pendahulu PU telah dirumuskan
dalam moto yang pendek tetapi memiliki makna
yang sangat dalam: bekerja keras, bergerak cepat,
dan bertindak tepat. Moto yang bila dipahami dan
diimplementasikan secara konsisten oleh seluruh
pegawai PU dan diwariskan kepada generasi
selanjutnya akan dapat membentuk budaya kerja
PU.

Dalam buku ini, pembaca akan menjumpai


beragam bentuk konsep dan implementasi budaya
kerja PU yang digali dari berbagai pengalaman,
pemikiran, ide, serta harapan dari para tokoh dan

Budaya Kerja
xv
PNS Pekerjaan Umum
pendahulu PU. Para tokoh dan pendahulu PU
tersebut adalah Dr. Ir. Suyono Sosrodarsono, Ir.
Joelianto Hendro Muljono, Ir. Boediman Arif, Drs.
Gembong Prijono, M.Sc, Dr. Ir. Mochamad Basoeki
Hadimoeljono, M.Sc, Dr. Ir. Mochammad Amron,
M.Sc , Ir. R. Bambang Goeritno Soekamto, M.Sc,
MPA, Ir. Ismanto, M.Sc, Ir. Mohamad Hasan, Dipl.
HE, Ir. Purnarachman Hadipoerwono, CES, Dr. Ir.
Ruchyat Deni Djakapermana, M.Eng, Ir. Soenarno,
M.Sc, Dr. Ir. R. Pamekas, M.Eng, Ir. Aim Abdurachim
Idris, M.Sc, Karjono, SH. Prof. Dr. Ir. Suprapto,
FPE, M.Sc. dan Hendropranoto Susilo. Namun
karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat
mewawancarai lebih banyak narasumber.

Pengalaman, pemikiran, ide, serta harapan


dari mereka inilah yang ingin dirumuskan kembali
dalam wujud tulisan yang akan diwariskan kepada
generasi penerus PU yang akan melanjutkan cita-
cita bangsa dalam membangun karya-karya besar
seperti Gedung CONEFO (Gedung DPR MPR),
Gelora Bung Karno, Jembatan Semanggi dan
Jembatan Suramadu. Karya-karya yang tidak hanya
menjadi kebanggaan PU melainkan juga memberikan
manfaat bagi rakyat Indonesia karena kita semua
pun tahu bahwa insan yang paling baik adalah insan
yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Dalam perjalanan penyusunan buku ini


tidak mudah. Kami harus beberapa kali mengatur
ulang waktu pertemuan dengan para tokoh yang
memiliki kesibukan tinggi. Namun, hal itu tentu
tidak menyurutkan langkah tim penyusun untuk
merealisasikan niat mulia mendokumentasikan spirit
para tokoh dan pendahulu PU. Sampai akhirnya
wawancara terwujud, kesulitan pun terbayarkan
karena begitu banyak pemikiran yang tergali dan

Budaya Kerja
xvi
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

pelajaran yang terbagi. Semua hal tersebut insya


Allah akan menjadi sumber inspirasi kita semua
dalam mengemban amanah bekerja di PU dan
memberikan pelayan kepada masyarakat dengan
sebaik-baiknya.

Dengan terbitnya buku ini, kami berharap


bisa menggugah pembaca pada umumnya dan warga
PU pada khususnya akan budaya kerja PU yang
telah terbangun sejak lama sehingga warga PU bisa
menumbuhkan kembali etos kerja, tanggung jawab
moral, produktivitas, dan kinerja pelayanan PNS PU
dalam penyelenggaraan infrastruktur PU melebihi
yang pernah dilakukan oleh generasi sebelum kita.
Buku ini pun bisa menjadi media pengingat kembali
untuk warga PU dalam mengimplementasikan moto
bekerja keras, bergerak cepat dan bertindak
tepat.

Selanjutnya kami sampaikan terima kasih


kepada Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian
Pekerjaan Umum, Ir. Agoes Widjanarko, MIP dan
Kepala Biro Kepegawaian dan Ortala, Dr. Yadi Siswadi
atas pengarahan, bimbingan, dan saran-saran dalam
penyusunan buku ini, serta Pusat Komunikasi Publik
yang telah mengijinkan penggunaan foto, dokumen
dan informasi untuk melengkapi buku ini, dan PT.
Mediatama Saptakarya Yayasan Badan Penerbit PU
yang telah menerbitkan buku ini.

Akhir kata, kami mengharapkan segala saran


dan kritik dari pembaca guna memperkaya buku ini.

Jakarta, 03 Maret 2010


Tim Penyusun

Budaya Kerja
xvii
PNS Pekerjaan Umum
DAFTAR ISI
PENGANTAR

BAB 1
KONTRIBUSI SEJARAH KEMENTERIAN PU . . . .3
A. Kontribusi Sejarah
B. Perubahan Kondisi
C. Peran Budaya Kerja dalam Perubahan Kondisi

BAB 2
REFORMASI BIROKRASI . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
A. Visi Pembangunan Nasional 2005 - 2025
B. Misi Pembangunan Nasional 2005 - 2025
C. Rencana Pembangunan SDM
D. Ruang Lingkup Reformasi Birokrasi
E. Reformasi Budaya Organisasi dan Sumber
Daya Manusia

BAB 3
NILAI-NILAI, BUDAYA DAN
KINERJA APARATUR. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .35
A. Jiwa Korps dan Kode Etik Aparatur
B. Nilai Dasar Budaya Kerja Aparatur
C. Penilaian Kinerja Aparatur Pemerintah

Budaya Kerja
xviii
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

MEMBANGUN BUDAYA KERJA


KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

BAB 4
JATI DIRI DAN NILAI-NILAI
KEMENTERIAN PU . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 45
A. Spirit Sapta Taruna
B. Makna dan Nilai Lambang Kementerian
Pekerjaan Umum
C. Nilai–nilai dalam Mars Pekerjaan Umum

BAB 5
RENCANA MASA DEPAN DAN NILAI-NILAI
ORGANISASI KEMENTERIAN PU . . . . . . . . . . . .55
A. Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan
Umum
B. Visi, Misi dan Tujuan Kementerian Pekerjaan
Umum
C. Nilai–nilai Organisasi Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 6
KERANGKA BUDAYA KERJA
KEMENTERIAN PU . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 63
A. Acuan Normatif
B. Masih Relevankah Moto Kementerian
Pekerjaan Umum ke Depan?

BAB7
BUDAYA KERJA DALAM MENCAPAI TUJUAN
KEMENTERIAN PU . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 69
A. Budaya Kerja guna mencapai Tujuan
Organisasi
B. Nilai-Nilai Budaya Kerja dalam Moto
Kementerian Pekerjaan Umum
C. Nilai-Nilai Budaya Kerja dalam Mars
Kementerian Pekerjaan Umum

Budaya Kerja
xix
PNS Pekerjaan Umum
IMPLEMENTASI BUDAYA KERJA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
BAB 8
MODEL SUKSES BUDAYA KERJA . . . . . . . . . . 83
A. Dari Pegawai PU menjadi Orang PU
B. Keteladanan Pemimpin: Model Budaya
C. Pemikiran dan Nasihat Para Pemimpin dan
Tokoh Kementerian Pekerjaan Umum
D. Sapta Pendapat Budaya Kerja PU

BAB 9
ASPEK PENDUKUNG KESUKSESAN
IMPLEMENTASI BUDAYA KERJA . . . . . . . . . . . 99
A. Dukungan Aspek Kepemimpinan
B. Dukungan Aspek Keorganisasian
C. Dukungan Aspek Kepribadian

BAB 10
IMPLEMENTASI BUDAYA KERJA . . . . . . . . . . 105
A. Mengharmonikan Moto dan Nilai
Kementerian Pekerjaan Umum
B. Contoh Nyata Budaya Kerja
C. Implementasi Pribadi
D. Implementasi Hubungan Sosial
E. Implementasi Organisasi

Budaya Kerja
xx
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PENUTUP

BAB 11
PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 127

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 130


• Sumber Peraturan
• Sumber Literatur

LAMPIRAN-LAMPIRAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 133
• Daftar Istilah
• Hak dan Kewajiban PNS (PP No.30 Th 1980
tentang Disiplin PNS)
• Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja/
Organisasi
• Contoh Produk Pendukung Panduan Budaya
Kerja
• Biodata Narasumber

Budaya Kerja
xxi
PNS Pekerjaan Umum
Peringatan Hari Bhakti PU
merupakan penggerak kita untuk
mengaktualisasikan semangat
perjuangan para
Sapta Taruna untuk tetap
bekerja keras, bergerak cepat
dan bertindak tepat dalam
menyelenggarakan infrastruktur PU
yang penuh dengan tantangan di
masa mendatang.

Djoko Kirmanto, Hari Bhakti PU 2008

Budaya Kerja
xxii
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PENGANTAR

Bangsa
yang Besar
tak akan
melupakan
Sejarah.
Presiden Soekarno­­

Budaya Kerja
1
PNS Pekerjaan Umum
BUAH KEBAIKAN
yang terbaik di antara Manusia adalah yang paling
banyak Manfaatnya bagi Orang Lain

Fenomena Gunung Es, Pohon dan Budaya Kerja

Budaya Kerja
2
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 1
KONTRIBUSI SEJARAH
KEMENTERIAN PU

INOVASI
Jembatan Semanggi
menggunakan teknologi pracetak
pertama di Indonesia

Budaya Kerja
3
PNS Pekerjaan Umum
A. KONTRIBUSI SEJARAH

SAPTA TARUNA

T

epatnya tanggal 4 Oktober 1945, kota Bandung
dimasuki tentara Sekutu yang diikuti oleh
serdadu Belanda dan NICA. ­Sejak itu pula
gerakan pemuda pejuang harus berhadapan dengan
tentara Jepang, Belanda dan NICA. Dengan semakin
gawatnya situasi pada waktu itu, para pegawai dari Kantor
Pusat Departemen Pekerjaan Umum di bawah pimpinan
Menteri Muda Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Ir.
Pangeran Noor pada tanggal 20 Oktober telah mengangkat
Sumpah Setia kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Hampir setiap hari kantor Departemen
Perhubungan dan Pekerjaan Umum dikacau oleh tentara
Sekutu/Belanda/NICA, akibatnya para pegawai tidak
dapat melaksanakan tugasnya dengan tenang. Oleh
karena itu, pada mulanya semua pegawai Departemen
Perhubungan dan Pekerjaan Umum diperkenankan
untuk tidak masuk kantor selama situasi belum aman.
Kecuali para pegawai yang memang ditugasi menjaga
barang-barang milik negara yang ada di dalamnya.
Tugas yang berat ini ­mereka terima sebagai suatu
kewajiban yang mulia yang akan dilaksanakan dengan
­taruhan jiwa dan raga.

Terjadinya Peristiwa

Pada tanggal 24 Nopember 1945, dibagian
utara kota Bandung, ­meletus suatu pertempuran

Budaya Kerja
4
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

yang hebat. Penduduk


sekitarnya ­banyak yang
mengungsi ke kota lain
yang keadaannya masih
aman. Waktu itu Gedung
Sate dipertahankan
oleh Gerakan Pemuda
Pekerjaan Umum yang
diperkuat oleh satu Pasukan Badan Perjoangan yang
terdiri lebih kurang 40 orang dengan persenjataan
yang agak lengkap. Tetapi, bantuan yang diberikan itu
tidak lama, karena pada tanggal 29 Nopember 1945,
pasukan tersebut lalu ditarik dari Markas Pertahanan
Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum.

Tanggal 3 Desember 1945, jam 11.00 pagi,
waktu itu ­kantor Departemen Perhubungan dan
Pekerjaan Umum di Jl. ­Diponegoro 22 Bandung yang
dikenal dengan Gedung Sate itu hanya dipertahankan
oleh 21 orang. Tiba-tiba datang menyerbu pasukan
tentara Sekutu/Belanda dengan persenjataan yang
berat dan modern. Walaupun demikian petugas yang
mempertahankan Gedung Sate tak mau menyerah
begitu saja. Mereka mengadakan perlawanan mati-
matian dengan segala kekuatan yang dimiliki tetap
mempertahankan kantor yang akan direbutnya itu.

Mereka dikepung dan diserang dari segala
penjuru. Pertempuran yang tidak seimbang ini baru
berakhir pada pukul 14.00 WIB. Dalam pertempuran
tersebut diketahui 7 pemuda gugur/hilang. Satu orang
luka-luka berat dan beberapa orang lainnya luka-luka
ringan. Setelah dilakukan penelitian ternyata para
pemuda yang hilang itu diketahui bernama: Didi
Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo,
Rio Soesilo, Soebengat, Ranu dan Soerjono.

Budaya Kerja
5
PNS Pekerjaan Umum

Semula memang belum diketahui dengan
pasti, keberadaan jenazah tujuh orang pemuda PU.
Baru pada bulan Agustus 1952 oleh beberapa bekas
kawan seperjuangan mereka dicarinya di sekitar
Gedung Sate, dan hasilnya hanya ditemukan empat
jenazah yang sudah berupa kerangka. Keempat
kerangka syuhada ini kemudian dipindahkan ke
Taman Makam ­Pahlawan Cikutra, Bandung. Sebagai
penghargaan atas jasa-jasa dari tiga orang lainnya
yang kerangkanya belum ditemukan telah dibuatkan
2 tanda peringatan.
Satu dipasang di dalam
Gedung Sate dan lainnya
berwujud sebuah Batu
Alam yang besar ditandai
dengan tulisan nama-
nama ketujuh orang
pahlawan tersebut yang
ditempatkan di belakang
halaman Gedung Sate.

Budaya Kerja
6
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Hari Bakti: Pengabdian Amanah



Pada tanggal 3 Desember 1951 oleh Menteri
Pekerjaan Umum pada waktu itu, Ir. Ukar Bratakusuma,
ketujuh pemuda pahlawan tersebut dinyatakan dan
dihormati sebagai “PEMUDA YANG BERJASA”
dan tanda penghargaan itu telah pula disampaikan
kepada keluarga mereka yang ditinggalkan.

Satu hari menjelang genap Dwi Windu
Usia peristiwa 3 Desember 1945 tepatnya
tanggal 2 Desember 1961, Menteri Pertama Ir. H.
Djuanda (almarhum) telah memberi ­“Pernyataan
Penghargaan” tertulis kepada mereka para pemuda
pegawai yang gugur pada tanggal 3 Desember 1945
dalam mempertahankan Gedung yang pertama dari
Departemen Pekerjaan Umum Republik ­Indonesia,
di Jl. Diponegoro Nomor 22 ­Bandung. Peristiwa
3 Desember 1945 ini telah tercatat dalam sejarah
perjuangan bangsa, dan sejarah perkembangan
Pekerjaan Umum pada khususnya.

Peristiwa kepahlawanan ini telah memberikan


spirit, simbol dan budaya bagi pegawai Kementerian
PU. Peristiwa tersebut setiap tanggal 3 Desember
dikenang sebagai Hari Bhakti PU. Sampai sekarang,
apabila orang PU diberikan AMANAH dengan
target yang jelas, maka mereka akan bekerja keras,
bergerak cepat, bertindak tepat dan ­mengerjakannya
dengan penuh kebanggaan dan kesetiaan.
(sumber: www.pu.go.id dan buku 60 tahun Departemen PU)

GEDUNG DPR/MPR (d/h Gedung CONEFO)

Berdirinya Gedung DPR/MPR dimaksudkan


untuk penyelenggaraan CONEFO (Conference of the

Budaya Kerja
7
PNS Pekerjaan Umum
New Emerging Forces) untuk menggalang kekuatan
di kalangan negara-negara baru untuk membentuk
tatanan dunia baru.

Arsitek bangunan gedung DPR/MPR adalah


Soejoedi Wirjoatmodjo, Dipl. Ing (dibantu oleh Ir.
Sutami) yang terpilih melalui sebuah sayembara
yang diadakan pada 8 Maret 1965. Presiden
Soekarno menyampaikan kriteria dalam merancang
bangunan tersebut antara lain harus memiliki ciri
khas kepribadian Bangsa Indonesia, harus sanggup
menjawab tantangan zaman beberapa tahun ke
depan, harus menampilkan kemegahan, agar bisa
menjadi teladan dan keunggulan karya rancang
bangun teknisi Indonesia.

Keunikan dari
arsitektur Gedung
DPR/MPR RI ini adalah
pada bagian bentuk
atap gedung ruang
sidang utamanya yang
mirip dengan prinsip
struktur sayap pesawat terbang. Memakai prinsip
struktur kantilever dimana yang berfungsi sebagai
badan adalah dua buah busur beton yang dibangun
berdampingan dan akan bertemu pada satu titik
puncak.

Struktur konstruksi berupa sepasang busur


beton yang bertemu pada satu titik puncak tersebut
harus diteruskan masuk ke dalam tanah, agar bisa
menahan beban. Struktur semacam ini merupakan
struktur kesatuan yang sangat kokoh dan stabil
sebagai penahan beban sayap-sayap berukuran dua
kali setengah kubah beton. Penambahan tersebut

Budaya Kerja
8
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

membentuk atap bangunan utama seperti sayap


burung Garuda. Bentuk atap gedung itu sangat unik
dan merupakan rancangan yang memiliki keunggulan
inovatif.

Berikut ini adalah cuplikan pidato Bung Karno


pada ramah tamah dengan karyawan Komando Proyek
CONEFO (KOPRONEF) di Istana Negara, Jakarta, 7
Februari 1966.

“Nah, ini saya


minta kepada kamu
orang sekali lagi, supaya
betul-betul bekerja
keras dengan tekad,
semangat yang sehebat-
hebatnya. Janganlah
kita setengah-setengah.
Sebab, sebagai tadi
dikatakan oleh Pak Bandrio, Conefo itu sebenarnya
adalah satu hal yang mengenai, meskipun tidak
mutlak, mengenai kelanjutan kita punya hidup
sebagai Negara, sebagai bangsa yang merdeka !

Ini, Saudara-saudara, harus dimengerti oleh


kita semuanya, agar kita mengerti pula. Dan terutama
sekali engkau petugas dan karyawan Kopronef,
bahwa engkau itu dikerjakan pada satu pekerjaan
yang bukan saja historis, bersejarah, tetapi hewereld
histories, menyamai seluruh dunia, bersejarah
mondial. Bukan saja bersejarah untuk kita, tetapi
bersejarah untuk seluruh umat manusia di empat
penjuru angin, lima benua, tujuh samudra !

Nah, ini, inilah semangat Conefo, jiwa


Conefo. Jikalau engkau dengan rakyat Vietnam telah

Budaya Kerja
9
PNS Pekerjaan Umum
berasa sebagai, kukatakan berulang-ulang, tat twam
asi. Tat, t-a-t, twam, t-w-a-m, asi, a-s-i, baru engkau
mempunyai jiwa Conefo. Tat twam asi artinya,
engkau adalah aku, aku adalah engkau. Jij bent ik,
ik ben jij. Bersatu, bersatu jikalau engkau sudah tat
twam asi sebagai manusia dengan semua manusia
di dunia ini, dan sebagai bangsa dengan semua
bangsa di dunia ini, barulah engkau mempunyai jiwa
Conefo. Dan hanya jikalau engkau telah mempunyai
jiwa Conefo itu di dalam engkau punya dada, engkau
bisa bekerja untuk membangun gedung Conefo ini
dengan mencucurkan engkau punya keringat dan
dengan semangat yang berkobar-kobar. Oleh karena
terutama sekarang kataku, ke-Conefo-an adalah
mutlak perlu untuk revolusi kita. Bukan saja untuk
tetap mempertegakkan Negara RI, tetapi juga untuk
revolusi kita, yang sekarang ini hendak digerogoti
orang, yang sekarang ini hendak diperkenankan oleh
orang.

Nah ini, Saudara-saudara,


ini adalah sebagian daripada
jiwa Conefo, jiwa persatuan
daripada semua New
Emerging Forces. Tat twam
asi. Satu gerak, satu bangkit,
satu tekad. Saya minta pada
Saudara-saudara sekalian
supaya sadar akan hal ini,
agar supaya Saudara-saudara suka bekerja keras
dan dengan semangat yang berkobar-kobar.

Huuh, gedung Conefo itu besar, tetapi belum


besar sebagai cita-citaku, yang pernah kuucapkan
pada tahun 1926, hamper 40 tahun yang lalu. Pada
waktu itu aku telah mimpi, mimpi artinya dromen,

Budaya Kerja
10
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

mengenangkan, membikin jalan kereta api dari Banda


aceh, namanya dulu Kutaraja, ke selatan Sumatra,
selulup dibawah Selat Sunda, muncul di Anyer, terus
ke timur sampai Banyuwangi, selulup di bawah Selat
Bali, sampai di Gilimanuk terus ke timur, selulup di
bawah Selat Lombok. Sudah Bali apa? Lombok.
Melintasi Lombok, selulup di bawah selat antara
lombok dan Sumbawa. Itu selatnya namanya selat
apa? Ayo pemuda, saya bilang selat sate, tidak. Selat
antara Lombok dan Sumbawa, terus lintasi Sumbawa,
selulup lagi di bawah, sampai nanti menyeberang,
sampai datang di timur.

Nah, belum saya challenge kepadamu, bikin


hal yang demikian itu. Kalau bukan kereta api ya
jalan raya dari Banda Aceh sampai ke timur Kupang.
Dengan tunnel dibawah lautan ataukah dengan
jembatan, tempo hari siapa yang telah memikirkan
membuat jembatan, yang melintasi Selat Sunda. Nah
itulah baru, dat is nou pas iets bagi bangsa kita. Masak
kita kalah dengan bangsa Venezuela, Saudara-
saudara. Venezuela itu mempunyai jembatan yang
panjangnya 23 km. Ya, tetapi dengan uang Amerika
minyak, minyak. Bikin jembatan 23 km. tetapi sebagai
suatu prestasi teknik, saya kagum, kagum! 23 km
diatas laut, Saudara-saudara, ya dengan cagak,
cagak, cagak, tiang, tiang, tiang, beton. Tetapi toh
hebat.

Nah kalau saya challenge kepadamu


bagaimana, hayo umpamanya ada fulusnya sedikit;
hei insinyur-insinyur muda, ini uang, bikin jalan raya
dari Kotaraja Banda Aceh sampai ke timur Kupang.
Tidak boleh berhenti naik auto satu kali masuk Banda
Aceh, turun-turun dengan engkau punya pacar sudah
di timur Kupang.

Budaya Kerja
11
PNS Pekerjaan Umum
Nah, bikin Negara tidak kecil-kecilan,
bikin bangunan tidak kecil-kecilan, bikin cipta
tidak kecil-kecilan, cipta segala cipta.”
(Sumber: Buku Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato
Presiden Soekarno)

JEMBATAN SEMANGGI

Dalam membangun gedung maupun


monumen, Bung Karno saat itu telah menggunakan
konsep yang terpadu. Setiap Proyek dikerjakan
dengan pemrograman yang melibatkan aspek tata
kota, arsitek dan konstruksi serta memperhatikan
semua aspek perancangan, termasuk diantaranya
aspek lingkungan.

Beberapa seniman dan teknokrat yang terlibat


antara lain Prof. Rooseno dan Ir. Sutami (konstruksi/
sipil), Henk Ngantung (pelukis) dan F. Silaban
(Arsitek). Jembatan semanggi di kawasan Senayan
mengundang decak kagum dunia internasional
karena gagasan jalan layang saat itu merupakan ide
brilian dalam mengantisipasi kemacetan lalu lintas di
sekitar stadion Senayan.

Budaya Kerja
12
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Sebagai arsitek kepresidenan, Silaban


ikut pada pertemuan kabinet, untuk menjelaskan
mengenai rencana pembangunan komplek olah raga
di Senayan tersebut. Kebetulan dari pertemuan itu
terdapat pula plusnya. Ir Sutami yang ketika itu Menteri
Pekerjaan Umum mempunyai ide untuk memperkaya
rencana tersebut. Ia mengerti betul kekhawatiran
Silaban akan kemacetan lalu lintas yang timbul kalau
ada kegiatan di Senayan. Ia bilang ia akan membangun
Jembatan Semanggi, sehingga kendaraan yang
keluar dari sebelah kiri kompleks tidak perlu bertemu
dengan kendaraan yang datang dari Kebayoran atau
menuju ke sana. Bisa kita bayangkan sekarang,
Jembatan Semanggi vital untuk melegakan gerakan
arus kendaraan dari empat jurusan, terutama kalau
ada kegiatan di Senayan. Apalagi dengan komplek
yang kemudian dipersempit dengan berbagai hotel
dan tempat pertemuan. Jembatan semanggi adalah
konstruksi pertama di Indonesia yang menggunakan
teknologi beton pracetak sehingga memudahkan dan
mempercepat dalam proses pembuatannya.

B. PERUBAHAN KONDISI

Sejak terjadinya krisis moneter dan krisis


kepercayaan yang mengakibatkan perubahan
dramatis pada tahun 1998, Indonesia telah
memulai berbagai inisiatif yang dirancang untuk
mempromosikan Good Governance, akuntabilitas
dan partisipasi yang lebih luas. Ini sebagai awal
yang penting dalam menyebarluaskan gagasan yang
mengarah pada perbaikan tata kelola pemerintahan
dan demokrasi partisipatoris di Indonesia. Good
Governance dipandang sebagai paradigma baru dan
menjadi ciri yang perlu ada dalam sistem administrasi
publik.

Budaya Kerja
13
PNS Pekerjaan Umum
Secara umum, Governance diartikan sebagai
kualitas hubungan antara pemerintah dan masyarakat
yang dilayani dan dilindunginya, Governance
mencakup 3 (tiga) domain yaitu state (negara/
pemerintahan), private sectors (sektor swasta/dunia
usaha), dan society (masyarakat). Oleh sebab itu, Good
Governance di sektor publik diartikan sebagai suatu
proses tata kelola pemerintahan yang baik, dengan
melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders),
terhadap berbagai kegiatan perekonomian, sosial
politik dan pemanfaatan beragam sumber daya
seperti sumber daya alam, keuangan, dan manusia
bagi kepentingan rakyat yang dilaksanakan dengan
menganut asas: keadilan, pemerataan, persamaan,
efisiensi, transparansi dan akuntabilitas (World
Conference on Governance, UNDP, 1999).

Desentralisasi berpotensi menciptakan
transparansi dan akuntabilitas dan bisa menjadi
modal untuk menumbuhkan demokrasi lokal. Akan
tetapi, pada kenyataannya kebijakan desentralisasi
di dalamnya tidak otomatis mengandung prinsip tata
kelola pemerintahan yang baik. Terselenggaranya
pemerintahan yang efektif dan lebih demokratis
menuntut adanya praktek kepemerintahan lokal
yang lebih baik yang membuka peran serta
masyarakat. Pemerintah lokal memiliki peluang
besar untuk mendorong demokratisasi karena
proses desentralisasi lebih memungkinkan adanya
pemerintahan yang lebih responsif, representatif, dan
akuntabel.

Walaupun komitmen pemerintah untuk


menerapkan strategi anti korupsi dirasakan masih
kurang kuat, namun telah dapat diakui pula oleh
banyak kalangan bahwa sudah mulai ada perubahan

Budaya Kerja
14
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

yang membuat iklim yang ada lebih kondusif bagi


terwujudnya pemerintahan yang bersih. Semua itu
merupakan terobosan dalam upaya membangun
sistem administrasi negara yang lebih transparan
dan bertanggung jawab.

Di masa yang akan datang, masyarakat


membutuhkan pemimpin yang memiliki visi dan
dapat dipercaya, dapat menunjukkan kepada mereka
apa realitas yang ada dan memberi inspirasi dan
komitmen untuk menuju perubahan yang lebih baik.
Dalam era keterbukaan seperti saat ini, semestinya
kesempatan untuk menerapkan pendekatan yang
lebih inovatif juga lebih terbuka. Inovasi seharusnya
tidak boleh dibatasi oleh kekuasaan, kemampuan
bahasa, pendidikan, besarnya organisasi maupun
luasnya jaringan.

Prinsip Good Governance meliputi:


1. Profesionalitas
2. Akuntabilitas
3. Transparansi
4. Pelayanan Prima
5. Demokrasi
6. Efisiensi
7. Efektivitas
8. Supremasi Hukum
9. Diterima Masyarakat

Sejalan dengan berlalunya waktu dan


perubahan ­sosial politik yang ada, Kementerian
Pekerjaan Umum harus terus tumbuh dan
berkembang sesuai dengan kebutuhan. Jika dulu
pembangkit tenaga listrik yang berbasis pada
air masih dalam koordinasi dengan Kementerian
Pekerjaan Umum, kini perkembangan teknologi

Budaya Kerja
15
PNS Pekerjaan Umum
menujukkan jenis pembangkitan tidak hanya dengan
air dan bendungan, sehingga kelembagaannya
dipisahkan.

J i k a
dulu pemerintah
menerapkan
sentralisasi
pengelolaan negara,
sehingga manusia,
program dan sumber
­keuangan diatur
di tingkat pusat. Dampak sistem ini mempengaruhi
model ­pengelolaan keuangan, program, manusia
dan budaya kerja. Dahulu pola karir staf diawali
dari lapangan sampai menjadi Pemimpin Proyek,
kemudian pindah ke pusat menjadi pejabat struktural.
Setelah itu kembali ke daerah sebagai pejabat
perwakilan pusat di daerah (Kanwil). Kemudian
kembali ke pusat menjadi pejabat di pusat dengan
jabatan Direktur, Kepala Biro, Kepala Pusat atau
Inspektur. Promosi karir selanjutnya dapat menjadi
Staf Ahli Menteri hingga menjadi Direktur Jenderal,
Kepala Badan, Inspektur Jenderal dan Sekretaris
Jenderal. Sistem dan budaya penempatan pejabat
Kanwil Pekerjaan Umum di Propinsi ditentukan oleh
Gubernur.

Dengan adanya reformasi dan implementasi


otonomi daerah, Kanwil Pekerjaan Umum telah
dihapus dan yang ada di Pemda adalah Kepala Dinas
Bidang Pekerjaan Umum, maka sistem pola karir di
PU-pun menjadi berubah. Peran Kementerian PU
menjadi pengaturan, fasilitasi/ pembinaan teknis,
pengawasan dan pembangunan untuk program
strategis dan kewenangan nasional.

Budaya Kerja
16
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Arus reformasi menuntut perubahan


pengelola di ­organisasi swasta dan birokrasi
pemerintah untuk penerapan prinsip-prinsip good
corporate governance. Sejalan dengan pemikiran G.
Supriyanto (2005) dari The Institute For Corporate
­Governance dan pandangan Gembong Prijono
(2009), bahwa ke depan dibutuhkan budaya
kerja yang berbasis pada prinsip ”transparansi,
akuntabilitas, tanggung jawab, mandiri dan keadilan”.
Prinsip tersebut harus menjadi bagian dari sistem
dan budaya kerja.

Penataan
sistem merupakan
jembatan untuk
merubah pola pikir,
budaya dan nilai-nilai
organisasi. Dengan
demikian akan tercapai
budaya kerja yang
berorientasi pada kinerja dalam pelayanan publik serta
nilai-nilai yang mencerminkan tata­kelola pemerintahan
yang transparan, partisipatif dan akuntabel.

Dengan demikian, dalam rangka mewujudkan


visi Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2025 yaitu
“Menjamin ­Ketersediaan Infrastruktur Bidang
Pekerjaan Umum yang Handal ­untuk Kehidupan
yang Nyaman, Produktif dan Berkelanjutan”
maka nilai-nilai organisasi yang diperlukan:

• Responsif • Kerjasama
• Inovasi • Kemitraan
• Rasional • Bekerja Keras
• Efisiensi • Bergerak Cepat
• Efektivitas • Bertindak Tepat

Budaya Kerja
17
PNS Pekerjaan Umum
C. Peran Budaya Kerja DALAM
PERUBAHAN KONDISI

K u n c i
Kesuksesan
reformasi birokrasi
dipengaruhi oleh 3
pilar utama, yaitu
kelembagaan,
ketatalaksanaan
dan SDM. Sistem
reformasi birokrasi menekankan pada SDM yang
bekerja dengan target kinerja yang terukur jelas,
akuntabel dan transparan, kondisi inilah yang akan
merubah pola pikir, nilai dan budaya aparatur.

Menurut Widajat (2009), keberhasilan


langkah akan tercermin pada komitmen baru akan
rencana yang telah digariskan. Perubahan komitmen
tercermin ke dalam sikap, nilai dan cara pandang
bersama yang disebut budaya (Widajat, 2009).
Budaya berasal dari kata buddayah yang artinya
budi (hati nurani) dan akal (inteligensi). Bangsa yang
berbudaya tinggi akan tampak dari tingginya “budi
dan akal” serta keanekaragaman “hasil budayanya”
berupa bangunan, kemajuan iptek, seni dll. Dalam
organisasi, tinggi rendahnya budaya dapat dilihat dari
komitmen pemimpin dan para anggotanya terhadap
“nilai-nilai dan keyakinan dasar” (core values and
beliefs). Nilai dan keyakinan dasar tersebut berperan
menjiwai etika, sikap dan perilaku yang dapat
membentuk tabiat. Jadi, budaya organisasi (corporate
culture) adalah dampak dari proses penghayatan dan
pembiasaan budi (hati nurani) dan akal (intelegensi,
rasional) yang berwujud dalam etika, sikap, motivasi,
perilaku dan cara kerja.

Budaya Kerja
18
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Kesuksesan perubahan organisasi yang


dapat membawa perubahan organisasi sangat
ditentukan oleh 5 langkah proses manajemen
perubahan berikut:
1) Team Leader yang mengidentifikasi dan
merumuskan masa depan dan membangun
kesadaran berbudaya organisasi.
2) Leader memulai dengan mensosialisasikan
rencana, memberikan arah dan menjelaskan
urgensi perubahan.
3) Menentukan Strategi dan Sistem yang jelas,
terarah dan dipastikan menuju visi/ target yang
diharapkan.
4) Seluruh komponen (entitas) bekerjasama dengan
komitmen yang kuat menuju tujuan yang telah
digariskan.
5) Secara terus menerus melakukan evaluasi
terhadap kondisi lingkungan organisasi,
pencapaian indikator dan melakukan perbaikan
secara terus menerus.

Agar Kementerian Pekerjaan Umum tetap


dapat berkontribusi dalam mewujudkan “Indonesia
yang mandiri, maju, adil dan makmur” dengan
“menjamin ketersediaan infrastruktur bidang
Pekerjaan Umum yang handal untuk kehidupan yang
Nyaman, Produktif, dan Berkelanjutan”, maka perlu
dibangun budaya kerja yang sangat kuat. Budaya kerja
tidak cukup diajarkan, tetapi dicontohkan. Perubahan
budaya kerja dapat dilihat pada perilakunya, sehingga
dibutuhkan panduan budaya kerja yang jelas, terarah
dan sesuai dengan visi, tujuan dan target organisasi.
Karena dalam pendekatan sistem pengelolaan
program (kegiatan), budaya kerja SDM sangat
berpengaruh kuat baik di level pemimpin, pengelola
dan pelaksana kegiatan.

Budaya Kerja
19
PNS Pekerjaan Umum
PERISTIWA
KEPAHLAWANAN
revolusi dan pembangunan
(Gedung Sate dan Gedung Conefo)
telah menumbuhkan spirit,
simbol dan budaya bagi
pegawai PU

Budaya Kerja
20
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 2
REFORMASI BIROKRASI

Setiap masalah ada jalan keluarnya.


Setiap konflik ada solusinya.
Setiap krisis mengandung peluang.
Penyakit bangsa kita yang paling
parah adalah mentalitas kalau bisa
dipersulit, kenapa d
­ ipermudah.

Presiden SBY

Budaya Kerja
21
PNS Pekerjaan Umum
R
encana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005–2025 yang berisi visi, misi,
dan arah pembangunan nasional merupakan
pedoman bagi pemerintah dan masyarakat di dalam
penyelenggaraan pembangunan nasional 20 tahun
ke depan. RPJPN ini juga menjadi acuan di dalam
penyusunan RPJP Daerah dan menjadi pedoman
bagi calon Presiden dan calon Wakil ­Presiden dalam
menyusun visi, misi, dan program prioritas yang
akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana
­Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) lima
tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

A. VISI PEMBANGUNAN NASIONAL


2005 - 2025
Berdasarkan kondisi saat ini, ­tantangan
yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang ­dengan
memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh
bangsa ­Indonesia dan amanat pembangunan yang
tercantum dalam Pembukaan Undang Undang
Dasar Negara ­Republik Indonesia Tahun 1945, visi
pembangunan nasional tahun 2005–2025 adalah:
INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN
MAKMUR.

Keberhasilan pembangunan nasional dalam


­mewujudkan visi Indonesia yang mandiri, maju,
adil dan makmur perlu didukung oleh
(1) komitmen kepemimpinan nasional yang kuat
dan demokratis.
(2) konsistensi kebijakan pemerintah.

Budaya Kerja
22
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

(3) keberpihakan kepada rakyat.


(4) peran serta masyarakat dan dunia usaha
secara aktif.

Kemandirian

K e m a n d i r i a n
adalah hakikat dari
kemerdekaan, yaitu hak
setiap bangsa untuk
menentukan nasibnya
sendiri dan menentukan
apa yang terbaik bagi diri
bangsanya. Kemandirian
bukanlah kemandirian
dalam keterisolasian.
Kemandirian mengenal
­adanya kondisi saling
ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam
kehidupan bermasyarakat, baik dalam suatu negara
maupun bangsa. Terlebih lagi dalam era globalisasi
dan perdagangan bebas k­etergantungan antar-
bangsa semakin kuat. Kemandirian yang demikian
adalah paham yang proaktif dan bukan reaktif atau
defensif. Kemandirian merupakan konsep yang
dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan
kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah,
baik konstelasinya, perimbangannya, maupun nilai-
nilai yang mendasari dan mempengaruhinya.

Kemampuan untuk berdaya saing menjadi


kunci ­untuk mencapai kemajuan sekaligus
kemandirian. Kemandirian suatu bangsa tercermin,
antara lain, pada ketersediaan sumber daya manusia
yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan
kebutuhan dan kemajuan pembangunannya;

Budaya Kerja
23
PNS Pekerjaan Umum
kemandirian aparatur pemerintah dan aparatur
penegak hukum dalam menjalankan tugasnya;
ketergantungan pembiayaan pembangunan yang
bersumber dari dalam negeri yang makin kokoh
sehingga ketergantungan kepada sumber dari luar
negeri menjadi kecil; dan kemampuan memenuhi
sendiri kebutuhan pokok.

Kemajuan

Tingkat kemajuan suatu bangsa dinilai
dari indikator ­sosial, yaitu kualitas sumber daya
manusianya. Bangsa yang sudah maju ditandai
dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil;
angka harapan hidup yang lebih tinggi; dan kualitas
pelayanan sosial yang lebih baik. Secara keseluruhan
kualitas sumber daya manusia yang makin baik akan
tercermin dalam produktivitas yang makin tinggi.

Kemajuan suatu bangsa juga diukur dari
tingkat ­kemakmurannya yang tercermin pada tingkat
pendapatan dan ­distribusinya. Tingginya pendapatan
rata-rata dan ­ratanya pembagian ekonomi suatu
bangsa menjadikan bangsa tersebut lebih makmur
dan lebih maju. Selain itu, dalam proses produksi
berkembang keterpaduan antar sektor, terutama
sektor industri, sektor pertanian, dan sektor-sektor
jasa; serta pemanfaatan sumber alam yang bukan
hanya ada pada pemanfaatan ruang daratan, tetapi
juga ditransformasikan kepada pemanfaatan ruang
kelautan secara rasional, efisien, dan berwawasan
lingkungan.

Bangsa yang maju juga ditandai oleh adanya
peran serta rakyat secara nyata dan efektif dalam
segala aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, politik,

Budaya Kerja
24
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

maupun pertahanan dan keamanan. Bangsa yang


maju pada umumnya menganut sistem demokrasi,
yang sesuai dengan budaya dan latar belakang
sejarahnya.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang hak-


hak ­warganya, keamanannya, dan ketenteramannya
terjamin dalam kehidupannya. Selain unsur-unsur
tersebut, bangsa yang maju juga harus didukung
oleh infrastruktur yang maju.

Keadilan dan Kemakmuran



Pembangunan bangsa Indonesia bukan
hanya sebagai bangsa yang mandiri dan maju,
melainkan juga bangsa yang adil dan makmur.
Sebagai pelaksana dan penggerak pembangunan
sekaligus obyek pembangunan, rakyat mempunyai
hak, baik dalam merencanakan, melaksanakan,
maupun menikmati hasil pembangunan.
Pembangunan haruslah dilaksanakan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh karena itu,
masalah keadilan merupakan ciri yang menonjol pula
dalam pembangunan nasional.

Keadilan dan
kemakmuran harus
tercermin pada semua
aspek kehidupan. Semua
rakyat mempunyai
kesempatan yang sama
dalam meningkatkan taraf
kehidupan; memperoleh
lapangan pekerjaan; mendapatkan pelayanan
sosial, pendidikan dan kesehatan; mengemukakan
pendapat; melaksanakan hak politik; mengamankan

Budaya Kerja
25
PNS Pekerjaan Umum
dan mempertahankan negara; serta mendapatkan
perlindungan dan kesamaan di depan hukum. Dengan
demikian, bangsa adil berarti tidak ada diskriminasi
dalam bentuk apapun, baik antar individu, gender,
maupun wilayah. Bangsa yang makmur adalah bangsa
yang sudah terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya,
sehingga dapat memberikan makna dan arti penting
bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

B. MISI PEMBANGUNAN NASIONAL


2005 - 2025

Dalam mewujudkan visi pembangunan
nasional tersebut ditempuh melalui 8 (delapan) misi

pembangunan nasional sebagai berikut:


1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia,
bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab
berdasarkan falsafah Pancasila.
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing.
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan
­hukum.
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu.
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan
­berkeadilan.
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan
yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan
kepentingan n­ asional.
8. Mewujudkan Indonesia yang berperan penting
dalam pergaulan dunia internasional.

Budaya Kerja
26
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

C. RENCANA PEMBANGUNAN SDM



Aset SDM adalah pertama dan utama dari
sebuah ­organisasi dan bangsa sehingga keberadaan
SDM harus terus ­ditumbuh-kembangkan.
Pengembangan SDM dalam kontek tujuan
pendidikan dan latihan tetap mengacu pada Rencana
­Pembangunan Jangka ­Panjang (RPJP) yang dirinci
dalam RPJM.

Secara keseluruhan, pembangunan


SDM harus mengacu pada Tujuan pendidikan
nasional pasal 3 UU No 3 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, yaitu: “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”.

Sedangkan arahan pembangunan SDM yang


tertuang di dalam RPJM 1-4 pada ranah karakter
bangsa dan budaya kerja:

1. RPJM ke-1 (2005 – 2009)

Membangun bangsa yang berkarakter


cerdas, adil dan beradab, berkepribadian nasional,
tangguh, kompetitif, bermoral, dan berdasarkan
falsafah Pancasila yang dicirikan dengan watak dan
perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang
beragama, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan

Budaya Kerja
27
PNS Pekerjaan Umum
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur,
toleran terhadap keberagaman, bergotong-royong,
patriotik, dinamis, dan b
­ erorientasi iptek;

2. RPJM ke-2 (2010 – 2014)

Kesejahteraan rakyat terus meningkat


ditunjukkan oleh makin mantapnya nilai-nilai baru
yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan
budaya dan karakter bangsa.

3. RPJM ke-3 (2015 – 2019)

Kualitas sumber daya manusia terus


membaik ditandai oleh mantapnya budaya dan
karakter bangsa.

4. RPJM ke-4 (2020 – 2024)

Menekankan terbangunnya struktur


perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan
kompetitif di berbagai wilayah yang didukung
oleh SDM berkualitas dan berdaya ­saing serta
berkarakter cerdas, tangguh, ­kompetitif, berakhlak
mulia, bermoral berdasarkan falsafah ­Pancasila
yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia
dan masyarakat Indonesia yang beragama, beriman,
dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berbudi
luhur, toleran terhadap
keberagaman, bergotong
royong, patriotik, dinamis
dan ­berorientasi Iptek, juga
kesadaran, sikap mental, dan
perilaku masyarakat yang
makin mantap.

Budaya Kerja
28
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

D. RUANG LINGKUP REFORMASI


BIROKRASI
Reformasi birokrasi merupakan konsistensi
kebijakan pemerintah terhadap implementasi dari UU
no 17 tahun 2007 tentang RPJPN 2005 - 2025. Dengan
birokrasi yang transparan, bersih dan profesional,
maka visi Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan
makmur akan dapat terwujud. Kesuksesan RPJPN
juga membutuhkan komitmen dari kepemimpinan di
setiap level organisasi pemerintah.

Reformasi birokrasi pada hakekatnya


merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan
dan perubahan mendasar terhadap sistem
penyelenggaraan pemerintahan terutama
menyangkut aspek-aspek berikut:
• Kelembagaan (organisasi)
• Ketatalaksanaan (business process)
• Sumber daya manusia aparatur (SDM)

Misi Reformasi Birokrasi



(1) Membentuk dan atau menyempurnakan
peraturan perundang-undangan sebagai
landasan hukum tata kelola pemerintahan yang
baik.
(2) Memodernisasi birokrasi pemerintahan
dengan optimalisasi pemakaian teknologi
informasi dan komunikasi.
(3) Mengembangkan budaya, nilai-nilai kerja dan
perilaku yang positif.
(4) Mengadakan restrukturisasi organisasi
(kelembagaan) pemerintahan.
(5) Mengadakan ­relokasi dan ­meningkatkan
kualitas SDM termasuk perbaikan sistem
­remunerasi.

Budaya Kerja
29
PNS Pekerjaan Umum
(6) ­ Menyederhanakan sistem kerja, prosedur dan
mekanisme kerja.
(7) Mengembangkan mekanisme kontrol yang
efektif.

Tujuan Umum

Membangun profil dan perilaku aparatur
negara yang berintegritas tinggi, produktivitas
tinggi dan bertanggung jawab, serta mampu
memberikan ­pelayanan yang prima kepada
publik/masyarakat.

Tujuan Khusus

Membangun birokrasi yang bersih,


efisien, efektif dan produktif, transparan, serta
akuntabel dan memberikan pelayanan prima
kepada masyarakat.

Sasaran

Secara umum, sasaran reformasi birokrasi
adalah ­mengubah pola pikir (mind set) dan
budaya kerja (culture set) serta sistem manajemen

Budaya Kerja
30
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

pemerintahan. Secara khusus ­mencakup hal-hal


berikut:

AREA HASIL YANG INGIN


No
PERUBAHAN DICAPAI
1 Kelembagaan Organisasi yang tepat
(organisasi) fungsi dan tepat ukuran
(right sizing)
2 Budaya Organisasi Birokrasi dengan
integritas dan kinerja
yang tinggi
3 Ketatalaksanaan Sistem, proses dan
prosedur kerja yang
jelas, efektif, efisien,
terukur dan sesuai
dengan prinsip-prinsip
good governance
4 Regulasi Regulasi yang lebih
– Deregulasi tertib, tidak tumpang
Birokrasi tindih dan kondusif
5 Sumber Daya SDM yang berintegritas,
Manusia kompeten, profesional,
berkinerja tinggi dan
sejahtera.

Output

Reformasi Birokrasi diharapkan dapat


menghasilkan pemerintahan dengan tata kelola yang
baik (Good Governance) dengan indikator sebagai
berikut:
• Bebas dari KKN
• Pelayanan yang prima
• Peningkatan investasi
• Peningkatan APBN
• Tidak ada keluhan masyarakat.

Budaya Kerja
31
PNS Pekerjaan Umum
Outcome

Indikator outcome Reformasi Birokrasi


adalah:
• Aparatur negara yang profesional & bermoral
• Angka kemiskinan dan pengangguran berkurang.
Hasilnya dapat dilihat dengan adanya peningkatan
kesejahteraan umum masyarakat.

Agar mendapatkan hasil tersebut di atas,


maka ­setiap Kementerian, termasuk Kementerian
Pekerjaan Umum harus membuat perencanaan
strategik, manajemen strategik dan manajemen
kinerja.

Untuk dapat menghasilkan pemerintahan yang


memiliki kinerja tinggi (High Performing Government),
maka instansi pemerintah harus memiliki kriteria :

• Visi dan misi organisasi yang jelas


• Perencanaan secara sistematis dan aspiratif serta
berdasarkan kinerja
• Manajemen dan prosedur kerja yang jelas

Budaya Kerja
32
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

• Konsistensi antara perencanaan dengan


­pelaksanaan
• Berorientasi pada hasil kegiatan dan manfaat
kegiatan
• Menjalankan Tupoksi secara konsisten
• Disiplin, loyalitas dan etos kerja yang tinggi
• Kinerja pelayanan publik yang optimal

E. REFORMASI BUDAYA ORGANISASI


DAN SUMBER DAYA MANUSIA
Perubahan Budaya Organisasi dan Sumber
Daya Manusia adalah ­tumpuan penting untuk
implementasi rencana Reformasi ­Birokrasi. ­Karena
dengan Reformasi Budaya Organisasi diharapkan
­Birokrasi dapat menghasilkan integritas dan kinerja
yang tinggi, serta dengan ­reformasi SDM diharapkan
menghasilkan SDM yang berintegritas, kompeten,
profesional, berkinerja tinggi dan ­sejahtera.

Perubahan manusia dimulai dengan
membangun ­sistem nilai (value system) dan jati diri
yang kuat. Karena sistem nilai dan jati diri merupakan
faktor penting bagi ­organisasi dalam ­menjalankan
kegiatannya, agar organisasi tetap berjalan pada
­jalurnya yang benar, serta agar dapat terus tumbuh,
berkembang dan kokoh.

Sistem nilai dapat digali dari sejarah yang
terkait ­dengan organisasi, serta produk organisasi
yang mendasari awal ­pembentukan organisasi
seperti logo, nama, mars dll.

Budaya Kerja
33
PNS Pekerjaan Umum
Saya yakin dengan semangat
“Sapta Taruna”
yang pantang menyerah dan penuh
keikhlasan yang dicontohkan mereka
akan menjadi pendorong bagi kita
untuk terus bekerja lebih baik,
penuh rasa tanggung-jawab, dan
penuh pengabdian yang tulus untuk
meningkatkan kinerja kita dalam
mendukung pembangunan nasional.

Agoes Widjanarko

Budaya Kerja
34
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 3
NILAI-NILAI, BUDAYA DAN
KINERJA APARATUR

Jadilah
Orang PU
bukan sekadar
Pegawai PU !
Budaya Kerja
35
PNS Pekerjaan Umum
P
ada setiap Pegawai Negeri Sipil melekat dua
kategori, yaitu ­sebagai Abdi Masyarakat dan
sebagai Aparatur Negara. Dalam konteks
membangun nilai-nilai, ­budaya kerja, ­kinerja dan
ukuran kinerja harus mengacu kepada ­Peraturan
Pemerintah yang berlaku. Berikut ini beberapa
Peraturan ­Pemerintah yang berkaitan dengan kode
etik, nilai-nilai, budaya kerja dan ukuran kinerja
Pegawai Negeri Sipil sebagai Aparatur Negara.

A. JIWA KORPS DAN KODE ETIK


APARATUR

Dalam PP No 42 tahun 2004 tentang


Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri
Sipil Republik Indonesia ditetapkan bahwa Jiwa Korps
Pegawai Negeri Sipil adalah rasa ­kesatuan dan
persatuan, kebersamaan, kerja sama, tanggung
jawab, ­dedikasi, disiplin, kreativitas, kebanggaan
dan rasa memiliki ­organisasi PNS dalam Negara
Kesatuan ­Republik ­Indonesia. Sedangkan yang
dimaksud dengan Kode Etik PNS adalah pedoman
sikap, tingkah laku, dan perbuatan ­Pegawai Negeri
Sipil dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan
hidup sehari-hari.

Selanjutnya organisasi menyusun


perencanaan ­organisasi meliputi Perencanaan
Strategik, Manajemen ­Strategik dan Manajemen
Kinerja sebagai cermin 3 pilar reformasi ­birokrasi
yang terdiri dari Reformasi Kelembagaan,
Ketatalaksanaan dan Sumber Daya Manusia. Dalam

Budaya Kerja
36
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

kontek pengembangan SDM, secara spesifik salah


satu misi reformasi birokrasi ­untuk mengembangkan
budaya organisasi.

Nilai dan KEMENTERIAN PU BUDAYA


Filosofi ORGANISASI
Perencanaan Strategik
ORGANISASI PU
Manajemen Strategik
PU
Manajemen Kinerja

Nilai & Manajemen Perilaku


Jati Diri Organisasi Organisasi
Dengan Nilai dan Jati diri yang bersatu dalam
­perencanaan organisasi, maka akan terbentuklah
budaya organisasi yang mampu mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Akhirnya, seluruh gagasan
reformasi birokrasi harus dapat dilihat, dirasakan dan
terukur pada perubahan budaya ­organisasi dalam
memberikan pelayanan kepada m ­ asyarakat.

Untuk mendapatkan kinerja dan produktivitas,


maka spirit jiwa korps PNS harus dibangun kuat.
Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk:
Pertama: membina karakter/watak, memelihara
rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan
guna mewujudkan kerja sama dan semangat
pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan
kemampuan, dan keteladanan PNS.
Kedua: mendorong etos kerja PNS untuk
mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar
akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur
negara, dan abdi masyarakat;
Ketiga: menumbuhkan dan meningkatkan semangat,
kesadaran, dan wawasan k­ ebangsaan PNS.

Dalam PP No 42 tahun 2004 tentang


Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Bab III.

Budaya Kerja
37
PNS Pekerjaan Umum
Pasal 6 disebutkan Nilai-nilai Dasar yang harus
dijunjung tinggi oleh PNS meliputi:
• Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
• Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan
Undang-­undang-undang Dasar 1945;
• Semangat nasionalisme;
• Mengutamakan kepentingan negara di atas
kepentingan pribadi atau golongan;
• Ketaatan terhadap hukum dan peraturan
perundang-­undangan;
• Penghormatan terhadap hak asasi manusia; tidak
diskriminatif;
• Profesionalisme, netralitas, dan bermoral tinggi;
semangat jiwa korps.

Ranah implementasi pembinaan jiwa korps


dan kode etik PNS meliputi aspek:
• Etika terhadap diri sendiri
• Etika terhadap sesama PNS
• Etika dalam berorganisasi
• Etika dalam bermasyarakat
• Etika dalam bernegara

B. NILAI DASAR BUDAYA KERJA


APARATUR

Budaya aparatur
pemerintah mengacu pada
Keputusan Menpan no. 25/
Kep/M.Pan/4/2002 tentang
­Pedoman Budaya Kerja
Aparatur. Dalam Modul 4
Pengembangan Budaya
Kerja Aparatur disebutkan
“Dalam konteks aparatur
negara, ­nilai budaya dasar

Budaya Kerja
38
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

kerja terdiri atas 34 unsur nilai atau 17 pasang ­nilai


yang diharapkan dapat dikembangkan oleh setiap
aparatur ­negara, sehingga antara nilai yang diyakini
dan kerja ­sebagai ­bentuk aktualisasi keyakinan
tersebut, akan menumbuhkan ­motivasi dan tanggung
jawab terhadap peningkatan produktivitas kinerja.
Nilai-nilai dasar dimaksud adalah sebagai berikut” :

Tujuh belas pasang Nilai–nilai Dasar Budaya


Kerja Aparatur Negara sebagai pedoman dalam
bersikap dan berperilaku meliputi:
1. Komitmen dan Konsisten; (terhadap visi, misi
dan tujuan o ­ rganisasi)
2. Wewenang dan Tanggung Jawab; (yang jelas,
­tegas dan seimbang)
3. Keikhlasan dan Kejujuran; (yang menumbuhkan
­kepercayaan masyarakat dan kewibawaan
­pemerintah)
4. Integritas dan Profesionalisme; (yang
konsisten dalam kata dan perbuatan serta ahli
dalam bidangnya)
5. Kreativitas dan Kepekaan; (yang dinamis
­mendorong ke arah efisiensi dan efektivitas)
6. Kepemimpinan dan Keteladanan; (yang
mampu ­mendayagunakan kemampuan potensi
bawahan s­ ecara optimal)
7. Kebersamaan dan Dinamika Kelompok; (yang
mendorong agar cara kerjanya tidak bersifat
individual dan pusat kekuasaan tidak pada satu
tangan)
8. Ketepatan dan Kecepatan; (adanya kepastian
waktu, ­kuantitas, kualitas dan finansial yang
dibutuhkan)
9. Rasionalitas dan Kecerdasan Emosi;
(keseimbangan antara kecerdasan intelektual
dan emosional)

Budaya Kerja
39
PNS Pekerjaan Umum
10. Keteguhan dan Ketegasan; (yang tidak mudah
terpengaruh oleh pihak yang merugikan diri dan
­negaranya)
11. Disiplin dan Keteraturan Kerja; (yang mengacu
kepada ­standar operasional prosedur)
12. Kebersamaan dan Kearifan; (yang dihasilkan
dari adanya pendelegasian wewenang)
13. Dedikasi dan Loyalitas; (terhadap tugas
yang bersumber pada visi, misi dan tujuan
organisasi)
14. Semangat dan Motivasi; (yang didorong
oleh keinginan memperbaiki keadaan secara
perorangan ­maupun o ­ rganisasional)
15. Ketekunan dan Kesabaran; (yang didasarkan
­kepada tanggung jawab terhadap tugas yang
diamanahkan)
16. Keadilan dan Keterbukaan; (sesuai dengan
keinginan masyarakat)
17. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi; (sesuai dengan perkembangan
zaman yang semakin maju)

Selain nilai-nilai tersebut di atas seorang


PNS juga terikat dengan PP No. 30 tahun 1980
tentang Disiplin PNS. Pada PP tersebut ada
kewajiban dan larangan PNS. Jika Kewajiban dan
Larangan ini dijalankan dengan konsisten, maka juga
akan membentuk budaya aparatur. Isi kewajiban dan
larangan PNS dapat dilihat pada lampiran.

C. PENILAIAN KINERJA APARATUR


PEMERINTAH

Selama ini penilaian kinerja PNS mengacu
pada PP No 10 TAHUN 1979 tentang Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan PNS. Pada PP tersebut

Budaya Kerja
40
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

disebutan pada BAB II Pasal 4 ayat 2 tentang Daftar


Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) dengan
unsur-unsur yang dinilai adalah:
a. Kesetiaan e. Kejujuran
b. Prestasi kerja f. Kerjasama
c. Tanggung ­jawab g. Prakarsa dan
d. Ketaatan h. Kepemimpinan.

Sejalan dengan implementasi Reformasi
Birokrasi, ­Kementerian Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi akan segera
mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah
­(RPP), pengganti PP 10 tahun 1979 tentang Penilaian
­Pelaksanaan ­Pekerjaan PNS yang sudah dianggap
­tidak ­sesuai lagi dengan perkembangan sekarang.
RPP yang akan diajukan guna memperbaiki penilaian
kinerja PNS yang lebih obyektif, terukur, akuntabel,
partisipasif dan transparan, ­sehingga terwujudnya
pembinaan PNS berdasarkan prestasi kerja dan
sistem karier.

RPP ini bertujuan untuk lebih mendorong


karier PNS, karena instrumen penilaiannya berupa
sasaran kinerja individu, yang melibatkan PNS
yang bersangkutan dalam menyusun SKI mulai
dari perencanaan, pelaksanaan dan output suatu
pekerjaan yang dibebankan kepada PNS yang
bersangkutan.

Penilaian kinerja PNS menurut PP No 10


Tahun 1979 tidak berhubungan dengan pencapaian
tujuan, visi, dan misi ­organisasi sehingga pegawai
tidak mengetahui apa yang diharapkan ­organisasi
dan bagaimana cara memenuhi harapan tersebut.
Penilaian ini tidak menghasilkan informasi untuk
pengembangan PNS dan unit kerja.

Budaya Kerja
41
PNS Pekerjaan Umum
Perubahan yang mendasar di dalam penilaian,
­adalah adanya ­unsur Sasaran Kerja Individu (SKI)
yang mewajibkan ­setiap PNS harus menyusun SKI
berdasarkan Rencana Kerja ­Tahunan. SKI disetujui
dan ditetapkan oleh pejabat penilai yang memuat
­kegiatan tugas pokok jabatan, bobot kegiatan,
sasaran kerja dan target yang harus dicapai. SKI
bersifat nyata dan dapat ­diukur. ­Nilai ­bobot kegiatan
didasarkan pada tingkat kesulitan dan ­prioritas
dengan jumlah bobot keseluruhan 100, kemudian
ditetapkan setiap ­tahun pada bulan Januari.

Penilaian prestasi kerja terdiri dari SKI dan


Perilaku ­Kerja, dengan bobot nilai unsur SKI sebesar
60% dan unsur Perilaku ­Kerja sebesar 40%. Penilaian
SKI meliputi ­aspek :
• Kuantitas • Waktu­
• Kualitas • Biaya.

Sedangkan penilaian perilaku kerja meliputi :


• Orientasi pelayanan • Kerjasama
• Itegritas • Kepemimpinan
• Komitmen • Kejujuran
• Disiplin • Kreatifitas.
(Sumber: http://www.menpan.go.id)

Apapun bentuk penilaian kinerja aparatur


pemerintah yang akan diterapkan, namun
seluruh PNS PU harus mampu mendukung untuk
mewujudkan tugas dan fungsi Kementerian PU, serta
mewujudkan Visi PU 2025. Menurut Djoko Kirmanto
(2008) “Seluruh jajaran PU untuk terus meningkatkan
profesionalismenya dengan terus mengembangkan
kemampuan dan pengetahuannya, seiring dengan
semakin berat dan kompleksnya tantangan tugas ke
depan”.

Budaya Kerja
42
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

MEMBANGUN
BUDAYA KERJA
KEMENTERIAN PU

Sebelum seseorang
dapat meraih
­kehidupan yang
­diinginkannya,
ia harus berpikir,
­bertindak,
berbicara, dan
­bertingkah laku
seperti yang dicita-
citakan
Zig Ziglar

Budaya Kerja
43
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian Pekerjaan Umum
harus dapat menjadi suatu

‘tamansari’
tempat tumbuh suburnya bunga-
bunga kreativitas dan gagasan yang
memproduksi keharuman yang dapat
dinikmati dalam rumah Kementerian
maupun keseluruh taman yang luas
bangsa dan negara Indonesia.

Hendropranoto S.

Budaya Kerja
44
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 4
JATI DIRI DAN NILAI-NILAI
KEMENTERIAN PU

Hendaknya perjuangan kita harus


didasarkan pada kesucian. Dengan demikian,
perjuangan ­merupakan perjuangan antara
jahat melawan suci. Dan kami percaya, bahwa
perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat
pertolongan dari Tuhan. Apabila perjuangan
kita sudah kita dasarkan atas kesucian, maka
perjuangan itupun akan berwujud perjuangan
antara kekuatan lahir melawan kekuatan batin.
Dan kita p
­ ercaya kekuatan batinlah yang menang.
Panglima Besar Jenderal Soedirman

Budaya Kerja
45
PNS Pekerjaan Umum
A. SPIRIT SAPTA TARUNA: AMANAH

A
da sebuah momentum sejarah yang akan selalu
dikenang oleh pegawai Kementerian PU pada
setiap tanggal 3 Desember, yaitu Hari Bhakti
PU. Sebuah peristiwa kepahlawanan dan pengabdian
akan amanah ­negara yang mengakibatkan gugurnya
7 pegawai PU yang umumnya masih berusia muda,
sehingga dikenang dengan Sapta Taruna (Tujuh
Pemuda).

Peristiwa tersebut merupakan simbol


sejarah pegawai PU yang menunaikan AMANAH
untuk menjaga kantor PU di kota Bandung. Mereka
telah menjalankan tugasnya dengan bekerja keras,
bergerak cepat dan bekerjasama. Mereka ­akhirnya
mampu menjalankan amanah tersebut dengan
sukses, sekalipun harus ada yang gugur sebagai
pahlawan.

Peristiwa ini telah mempersembahkan


“Sapta Taruna Kesatrianya” keharibaan Ibu Pertiwi.

Budaya Kerja
46
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Kemudian melahirkan suatu korps Pemuda/ Pegawai


PU yang mampu menjaga AMANAH dan memiliki
spirit :

1. Kesadaran sosial,
2. Jiwa kesatuan (Corp-geest),
3. Rasa kesetiakawanan (Solidaritas)
4. Kebanggaan tugas sebagai abdi masyarakat,
khususnya dalam Bidang PU.

Peristiwa 3 Desember 1945 akan terus


dikenang, ­diperingati dan menjadi simbol jati diri
generasi PU. Saat ini para pegawai Kementerian
PU terus ­berjuang ­untuk melanjutkan pengabdian
mereka terhadap nusa dan bangsa.

Jati Diri Kementerian PU adalah AMANAH


dalam mengemban ­tugas, ini merupakan hasil
telaah dari sejarah, Logo dan Mars PU. Makna yang
terkandung di dalamnya ­didedikasikan ­untuk para
Sapta Taruna, karena mereka telah ­mempertahankan
kantor Pekerjaan Umum di Bandung. Berikut ini
penjelasan makna 7 kata berikut:

Budaya Kerja
47
PNS Pekerjaan Umum
No Jati Diri Kem. PU Gambaran Makna
1 Kepahlawanan Bekerja keras dan pengorbanan
penuh dalam mempertahankan
kantor dan citra Kementerian
Pekerjaan Umum di Bandung.
H
(Bekerja Keras)
2 Kepedulian Berkerja tanpa tugas dan
perintah, tetapi mereka
bergerak atas pemahaman,
kesadaran, inisiatif dan
kepedulian dalam mengatasi
A

persoalan. (Bergerak Cepat)


3 Kesatuan Kompak, solid, dapat
bekerjasama dengan dinamis,
harmoni dan sinergi. (Bekerja
sama)
4 Kejujuran Jujur dengan prinsip, nilai
N

dan keyakinan yang dimiliki,


sehingga rela memberikan
pengorbanan. Pemuda yang
memiliki keteguhan hati. (Jujur
Berlaku)
5 Kesetiaan Rasa cinta dan bangga yang
diwujudkan dalam bentuk setia
A

dan membela kantor, bangsa


dan negara. Bangga dengan
tugas dan cinta kepada kawan.
(Setia kepada Negara)
6 Kecerdasan Bekerja dengan potensi
intelektualnya dan
M

menghasilan strategi
dan inovasi untuk meraih
tujuannya. (Bertindak Tepat)
7 Keseimbangan Menggambarkan makna
logo Kementerian Pekerjaan
Umum berupa baling-baling
yang selalu bekerja, bergerak
A

dan bertindak dengan


dinamis dan stabil. (Bekerja
Keras Bergerak Cepat dan
Bertindak Tepat)

Budaya Kerja
48
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Dari ketujuh kata Jati Diri tersebut


menggambarkan ­sifat Takwa kepada Tuhan YME
sebagaimana disebutkan dalam Mars PU.

B. MAKNA DAN NILAI LAMBANG


KEMENTERIAN PU

Ketetapan resmi Lambang Kementerian


Pekerjaan Umum berdasarkan Keputusan Menteri
P.U. No. 150/A/KPTS/1966 ­Tanggal 10 November
1966. Makna Lambang PU menggambarkan fungsi
dan peranan Kementerian PU dalam pembangunan
dan pembinaan prasarana guna memanfaatkan
bumi dan air serta ­kekayaan alam bagi kemakmuran
­rakyat, berlandaskan P
­ ancasila.

Gambar dan Makna Simbol PU

Lambang PU Makna Nilai-nilai


• Dinamis, Stabil/ Seimbang,
• Penciptaan, Perlindungan,
Pemanfaatan, Kemakmuran,
Pengendalian, Perintis.
• Bekerja Keras, Bergerak
Cepat, Bertindak Tepat.
• Ke-Tuhan-an YME,
Kedewasaan dan
Kemakmuran
• Keadilan Sosial, Keteguhan
hati, Kesetiaan pada tugas
dan ketegasan bertindak.

Sukses dalam menunaikan tugas dan


membangun ­budaya kerja bukanlah semata-
mata hasil, ia merupakan proses yang dilakukan
secara konsisten. Konsistensi dalam bekerja itulah

Budaya Kerja
49
PNS Pekerjaan Umum
menghasilkan budaya yang kuat. Menurut Gembong
(2009): “Setiap perilaku kerja harus didasarkan pada
niat. Karena perilaku kerja adalah proses, maka
proses menurut Orang PU sama dengan percepatan,
arah dan volume. Maknanya bekerja keras itu adalah
kualitas (volume), bergerak cepat (percepatan/ v) dan
bertindak tepat (arah/ target). Perilaku adalah proses
yang dapat mencapai tujuan yang didasari oleh jujur,
mengabdi dan bertaqwa”.

Simbol perilaku kerja dalam menunaikan


amanah tersebut kini dapat dirangkum dalam simbol
PU. Baling-baling yang bergerak dengan dinamis
dan stabil. Arah baling-baling yang ke atas untuk
penciptaan ruang. Tiga baling-baling ­sebagai unsur
kekaryaan Kementerian PU meliputi Tirta (air), Marga
(jalan) dan Wisma (cipta). Warna kuning (warna
dasar) melambangkan keagungan yang mengandung
arti Ke-­Tuhan-an Yang Maha Esa, kedewasaan dan
kemakmuran. Warna biru kehitam-hitaman bermakna
keadilan sosial, keteguhan hati, kesetiaan pada tugas
dan ketegasan bertindak.

Logo secara keseluruhan menggambarkan


fungsi dan peranan
Kementerian PU dalam
menyediakan dan
membina prasarana/
sarana dasar dalam
pembangunan guna
memanfaatkan bumi
dan air serta kekayaan
alam bagi kemakmuran
rakyat, berlandaskan
Pancasila.

Budaya Kerja
50
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

No SIMBOL LOGO PU MAKNA & NILAI

A BENTUK
1 Baling-baling Dinamika
2 Baling-baling berdaun 3 Stabilitas
segi tiga berdiri tegak
3 Baling-baling secara Dinamika yang stabil
keseluruhan dan stabilitas yang
dinamis
4 Bagian daun Penciptaan ruang
baling-baling yang
mengarah ke atas.
5 Bagian lengkungnya Memberikan
dari daun baling-baling perlindungan untuk
ruang kerja tempat
tinggal bagi manusia.
6 Bagian daun baling- Menggambarkan
baling yang mengarah penguasaan bumi dan
ke kiri dengan bagian alam dan pengusahaan
lengkungnya yang untuk sebesar-besarnya
telungkup. kemakmuran rakyat
7 Bagian daun baling- Menggambarkan
baling yang mengarah usaha pengendalian
ke kanan dengan dan penyaluran untuk
bagian lengkungnya dimanfaatkan bagi
yang terlentang. sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
8 Garis Horizontal Bentang jalan/ jembatan
di atas sungai sebagai
usaha untuk pembukaan
dan pembinaan daerah
9 Baling-baling dengan 3 Tiga unsur kekaryaan
daun Kementerian Pekerjaan
Umum. Tirta (air), Wisma
(cipta) dan Marga (jalan).
Trilogi Kementerian PU,
Bekerja keras, Bergerak
cepat, Bertindak tepat.

Budaya Kerja
51
PNS Pekerjaan Umum
B WARNA
1 Warna Kuning Melambangkan
(Warna Dasar) keagungan yang
mengandung arti
KeTuhanan YME,
kedewasaan dan
kemakmuran
2 Warna Biru kehitam- Keadilan sosial,
hitaman keteguhan hati, kesetiaan
pada tugas dan
ketegasan bertindak.
C LAMBANG P.U.
(secara keseluruhan) Menggambarkan
fungsi dan peranan
Kementerian PU dalam
pembangunan dan
pembinaan prasarana
guna memanfaatkan
bumi dan air serta
kekayaan alam bagi
kemakmuran rakyat,
berlandaskan Pancasila.

C. NILAI - NILAI DALAM MARS PU

Nilai-nilai PU juga terkandung di


dalam lagu Mars PU, yang bertujuan untuk
membangkitkan rasa ­kebanggaan sebagai
pegawai di jajaran PU, membangun spirit budaya
kerja PU dan menegaskan bidang kerja PU. Spirit
yang terkandung di dalam Mars PU juga sejalan
dengan makna Logo PU.

Budaya Kerja
52
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

MARS PU
Cipt. Binsar Nainggolan

Kami warga Pekerjaan Umum


Turut mengemban tugas panggilan negara
Merintis pembangunan
Menuju cita bangsa
Adil dan makmur berlandaskan Pancasila
Bekerja keras,
Bergerak cepat,
Bertindak tepat
Jujur berlaku dan mengabdi penuh
setia dalam membela negara
Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kami warga Pekerjaan Umum


Mengolah tirta di bumi tanah persada
Membangun bina marga
Mencipta karya wisma

Untuk kesejahteraan Bangsa Indonesia


Kami warga Pekerjaan Umum abdi bangsa

Mars Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Kepmen PU


No. 426/ KPTS/ 1986 tanggal 16 September 1986

Budaya Kerja
53
PNS Pekerjaan Umum
Makna yang terkandung dalam Mars PU

No Aspek Uraian
1 Tugas • Mengemban tugas panggilan
(Job Desk) negara
• Merintis pembangunan
menuju masa depan
2 Etos Kerja • Jujur berlaku
(Soft Skill) • Mengabdi penuh setia
• Bertaqwa kepada Tuhan YME
3 Budaya Kerja • Bekerja keras
(Hard Skill) • Bergerak cepat
• Bertindak tepat
4 Lingkup Kerja • Mengolah tirta
(Scope) • Membangun bina marga
• Mencipta karya wisma

Secara tersurat, di dalam syair Mars PU
sangat berhubungan ­antara tugas, etos kerja, budaya
kerja, dan lingkup kerja dengan tujuan institusi
Kementerian PU. Budaya kerja Kementerian PU
untuk mewujudkan tujuan Kementerian PU, yaitu:
“Merintis pembangunan menuju cita bangsa”.
Kementerian PU selalu akan menjadi perintis
pembangunan dalam bidang infrastruktur. Menurut
­Basuki (2009), “Dalam ­merintis untuk membuka
daerah baru, maka infrastruktur yang diperlukan
nasional ada 5 aspek ­yaitu: transportasi,
sumber daya air, perumahan dan pemukiman
serta ­energi dan telekomunikasi. Dari kelima
aspek tersebut, ternyata tiga diantaranya ada di
Kementerian PU”.

Mars PU harus sering dinyanyikan beserta


liriknya, serta makna logo juga harus sering
disampaikan karena dapat mengingatkan dan
menggelorakan motivasi p­ egawai.

Budaya Kerja
54
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 5
RENCANA MASA DEPAN DAN
NILAI-NILAI ­ORGANISASI
KEMENTERIAN PU

You can not change the wind


­direction, but you can change the
wings position.

Segera lakukan perubahan


sebelum keadaan memaksa anda
berubah.

Budaya Kerja
55
PNS Pekerjaan Umum
A. RENCANA STRATEGIS
KEMENTERIAN PU

U
ndang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
mewajibkan seluruh kementerian/ lembaga
pemerintah ­untuk menetapkan Rencana Strategis
(Renstra) sebagai bagian dari penjabaran rencana
pembangunan Nasional. Atas dasar itu, Kementerian
PU telah menyusun Renstra Tahun 2010-2014 yang
ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor 02/PRT/M/2010.

Dalam Renstra Tahun 2010-2014 disebutkan


tantangan pembangunan dan isu strategis aspek
kelembagaan dan SDM yaitu sbb :

1. Tantangan pembangunan aspek


kelembagaan dan SDM

• Peningkatan kebutuhan pembangunan


infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman
di berbagai wilayah dan kualitas pelayanannya
kepada masyarakat.
• Reformasi birokrasi dalam rangka mencapai 3
(tiga) strategic goals Kementerian PU, yaitu :
kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi, kontribusi
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan
kontribusi bagi peningkatan kualitas lingkungan.
• Peningkatan koordinasi penyelengaraan
infrastruktur pekerjaan umum antar tingkatan
pemerintahan dan antar pelaku pembangunan.

Budaya Kerja
56
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

• Penyelenggaraan good governance yang


efektif untuk mengimbangi tuntutan masyarakat
yang semakin tingi terhadap transparansi dan
akuntabilitas pelaksanaan pembangunan.
• Pengembangan kapasitas SDM Kementerian
PU untuk mendukung perubahan peran
Kementerian PU ke depan yang diharapkan
berubah dari yang semula lebih dominan
sebagai operator-regulator menjadi dominan
regulator-fasilitator.

2. Isu strategis aspek kelembagaan dan SDM

• Praktik Penyelenggaraan ke-PU-an ke depan


tidak lagi diwarnai oleh sistem yang birokratis,
kurang fleksibel, dengan kapasitas inovasi dan
kreativitas yang masih terbatas.
• Kegiatan pengelolaan infrastruktur masih
terkonsentrasi pada aspek pembangunan,
belum memperhatikan aspek pemanfaatan dan
pengembangan aset.
• Koordinasi dan kerjasama antara Pemerintah
Pusat dengan Pemerintah Daerah ke depan
akan semakin penting dalam menentukan
keberlangsungan pengelolaan infrastruktur
dan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan
infrastruktur di daerah.
• Kapasitas institusi Kementerian PU memiliki
keterbatasan, seperti ukuran organisasi yang
dirasakan masih terlalu gemuk dan struktur
yang belum sepenuhnya efektif.
• Kualitas dan produktivitas SDM Kementerian
PU saat ini belum cukup memadai padahal
secara kuantitas SDM Kementerian PU telah
melampaui kebutuhan saat ini adalah (± 18.000
pegawai).

Budaya Kerja
57
PNS Pekerjaan Umum
B. VISI DAN MISI PU 2025

VISI 2025
“Menjamin Ketersediaan ­Infrastruktur
Bidang PU yang Handal untuk
Kehidupan yang Nyaman, Produktif dan
Berkelanjutan”

MISI 2025
”Memenuhi Kebutuhan dan Mengembangkan
Infrastruktur bidang PU ­secara Profesional,
Partisipatif dan Transparan guna Mewujudkan
Ruang Nusantara yang Nyaman dan
Berkualitas”

C. VISI, MISI DAN TUJUAN PU 2010-2014

VISI 2010-2014
“Tersedianya Infrastruktur Pekerjaan
Umum dan Permukiman yang Andal
untuk Mendukung Indonesia Sejahtera
2025”

MISI 2010-2014
1. Mewujudkan penataan ruang sebagai acuan matra
spasial dari pembangunan nasional dan daerah
serta keterpaduan pembangunan infrastruktur
pekerjaan umum dan permukiman berbasis
penataan ruang dalam rangka pembangunan
berkelanjutan.
2. Menyelenggarakan pengelolaan SDA secara
efektif dan optimal untuk meningkatkan kelestarian
fungsi dan keberlanjutan pemanfaatan SDA serta
mengurangi resiko daya rusak air.

Budaya Kerja
58
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

3. Meningkatkan aksebilitas dan mobilitas wilayah


dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan
penyediaan jaringan jalan yang andal, terpadu
dan berkelanjutan.
4. Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman
yang layak huni dan produktif melalui pembinaan
dan fasilitasi pengembangan infrastruktur
permukiman yang terpadu, andal dan
berkelanjutan.
5. Menyelengarakan industri konstruksi yang
kompetitif dengan menjamin adanya keterpaduan
pengelolaan sektor konstruksi, proses
penyelenggaraan konstruksi yang baik dan
menjadikan pelaku sektor konstruksi tumbuh dan
berkembang.
6. Menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan
serta Penerapan : IPTEK, norma, standar,
pedoman, manual dan/atau kriteria pendukung
infrastruktur bidang PU dan Permukiman.
7. Menyelenggarakan dukungan manajemen
fungsional dan sumber daya yang akuntabel
dan kompeten, terintegrasi serta inovatif dengan
menerapkan prinsip-prinsip good governance.
8. Meminimalkan penyimpangan dan praktik-
praktik KKN di lingkungan Kementerian PU
dengan meningkatkan kualitas pemeriksaan dan
pengawasan profesional.

TUJUAN 2010-2014
Optimalisasi peran (koordinasi, sistem informasi,
data, SDM, kelembagaan dan administrasi) dan
akuntabilitas kinerja aparatur untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pelayanan publik
infrastruktur pekerjaan umumdan permukiman.

Budaya Kerja
59
PNS Pekerjaan Umum
D. NILAI-NILAI ORGANISASI
KEMENTERIAN PU

Guna mewujudkan visi dan mengemban
misi ­Kementerian PU, maka telah dirumuskan nilai-
nilai ­organisasi (organization ­values) yang perlu
dianut dan ­dijunjung tinggi, yaitu:

1. Rasional

Kementerian PU dalam melaksanakan
pembangunan Bidang PU umum selalu
­mengedepankan nilai-nilai yang menekankan
pentingnya tujuan, rencana dan analisis yang jelas,
tidak mengutamakan pertimbangan politis maupun
intuitif.

2. Kerjasama Tim

Kementerian PU sebagai organisasi


pemerintah yang memiliki jumlah sumber daya
manusia yang cukup banyak merupakan potensi
bagi terbentuknya sebuah tim yang sangat besar.
Oleh karenanya di dalam mengemban tugas-tugas

Budaya Kerja
60
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

penyelenggaraan Bidang PU harus mengedepankan


prinsip kerja sama yang utuh dan kompak dengan
menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan
sinkronisasi serta sinergitas. Dalam organisasi
Kementerian PU setiap pegawai memiliki arti ­penting
yang sama, ­tidak ada satu orang pun yang lebih
penting dari yang l­ainnya.

3. Inovasi

Dalam melaksanakan tugas-tugas


pembangunan ­Bidang PU, Kementerian PU ­ selalu
mengutamakan nilai-nilai yang mendorong keinginan
untuk unggul sehingga memunculkan ide dan karya
yang inovatif.

4. Efisiensi dan efektivitas

Menjamin terselenggaranya pelayanan


sarana dan prasarana di Bidang PU kepada
masyarakat yang mengedepankan keseimbangan
pembangunan antar wilayah dengan menggunakan
sumber daya yang tersedia secara optimal dan
bertanggungjawab.

Budaya Kerja
61
PNS Pekerjaan Umum
5. Responsif

Memiliki kepekaan terhadap aspirasi


masyarakat tanpa kecuali, mengenali harapan
dan kebutuhan masyarakat, ­tanggap terhadap
perubahan dan memiliki wawasan ke depan. ­Selalu
­memenuhi janji secara tepat waktu, bertindak cepat
dan tepat ­sasaran serta menunjukkan rasa hormat
kepada semua dan memelihara komitmen yang
sudah disepakati.

6. Kemitraan

Kesediaan bekerjasama berdasarkan


persahabatan, ­kooperatif, kesejajaran dan
kesetaraan dalam melaksanakan ­pengelolaan
dan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum.
­Kemitraan dilakukan baik dengan sektor publik
maupun swasta yang diselenggarakan secara
sistematis dan ­berkesinambungan.

7. Bekerja Keras, Bergerak Cepat,


Bertindak Tepat

Dalam setiap pelaksanaan tugas dan


tanggung jawabnya mengabdi kepada masyarakat,
bangsa dan negara tidak ­mengenal kata lelah,
bekerja dengan keras, bergerak ­dengan cepat
namun disertai dengan tindakan yang tepat perlu
perhitungan yang matang dan ­terukur sehingga
tepat sasaran.

Budaya Kerja
62
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 6
KERANGKA BUDAYA KERJA
KEMENTERIAN PU

Tindakan yang disiplin akan


menghasilkan kebiasaan.
Kebiasaan yang dilakukan secara
terus menerus akan membentuk
Karakter.
Tindakan yang konsisten
membutuhkan nilai, prinsip,
­keyakinan dan kecintaan.

Budaya Kerja
63
PNS Pekerjaan Umum
A. ACUAN NORMATIF

Pengembangan Budaya Kerja Kementerian


PU ini berlandaskan pada:

• UU No. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional
• UU No. 17 Tahun 2007 tantang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) Tahun 2005 – 2025.
• PP No 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.
• PP No 10 Tahun 1979 tentang Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil.
• PP No. 30 tahun 1980 tentang Disiplin PNS.
• Kepmen PAN No. 25/ KEP/M.PAN/4/2002 Tentang
Pedoman Pengembangan Budaya Kerja
Aparatur Negara.
• Permen PU Nomor 02/PRT/M/2010 Tentang
Rencana Strategis Kementerian PU 2010-
2014
• Permen PAN No. PER/ 15/M.PAN/ 7/ 2008 Tentang
Pedoman Umum Reformasi Birokrasi.
• Kepmen PU. No. 150/A/KPTS/1966 Tanggal 10
November 1966 tentang Lambang Kementerian
PU.
• Kepmen PU No. 426/ KPTS/ 1986 tanggal 16
September 1986 tentang Mars PU.
• Permen PU Nomor: 03 /PRT/M/2007 Perubahan
Atas Permen DU No 51/PRT/2005 tentang
Rencana Strategis Kementerian PU tahun 2005
– 2009.
• Permen PU No 04/PRT/M/2009 Tentang Sistem
Manajemen Mutu (SMM) Kementerian PU.

Budaya Kerja
64
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Budaya Kerja
65
PNS Pekerjaan Umum
B. MASIH RELEVANKAH MOTO
KEMENTERIAN PU KE DEPAN?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) moto didefinisikan sebagai kalimat, frasa,
atau kata yg digunakan sebagai semboyan dan
pedoman.

Moto adalah semboyan untuk mengobarkan
semangat dan untuk mengingatkan sikap atau
perilaku dalam menjalankan tugas. Pada moto bukan
cara untuk menjalankan tugas dengan detail.

Moto atau semboyan harus bisa berhasil
mengobarkan ­semangat, kalau sistem manajemen
sudah terbangun konsisten dan ­kemampuan
(kompetensi) SDM-nya memadai serta ­lingkungan
kerja (environment management) yang mendukung
(hubungan kerja dan hubungan pribadi).

Situasi dan keadaan terus berubah, ilmu
pengetahuan terus berkembang, generasi telah
berubah, fokus pembangunan infrastuktur telah
berkembang. Dalam merumuskan moto dan budaya
kerja ada pertanyaan besar, yaitu apakah moto PU
masih relevan dan dapat digunakan pada masa yang
akan datang sesuai Visi Kementerian PU 2025?
Berikut ini komentar dari tokoh senior di Kementerian
PU:

“Moto PU, yaitu : bekerja keras, bergerak


cepat, dan bertindak tepat akan selalu relevan
dalam mengaktualisasikan semangat Sapta Taruna.
Pelaksanaan pembangunan infrastruktur PU harus
tepat waktu, tepat sasaran dan hasilnya harus lebih
berkualitas dalam mendukung pencapaian prioritas
utama pembangunan nasional”. (Djoko Kirmanto
2008)

Budaya Kerja
66
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

“PU memiliki moto bekerja keras, bergerak


cepat, bertindak tepat. Kalau ada tanah longsor
atau musibah bencana alam yang lain di mana saja,
pasti ada orang PU di situ yang pertama kali bekerja.
Sebelum yang lain datang, orang PU sudah ada
di sana. Meskipun bergerak cepat, tindakan yang
diambil tak boleh serampangan. Setiap langkah harus
dipertimbangkan dan dipikirkan dengan matang,
bertindak tepat”. (Agoes Widjanarko, 2009)

“Moto ini masih tetap berlaku, tapi


implementasinya disesuaikan dengan situasi dan
kondisi sekarang. Budaya kerja PU tadi dibuat
menurut situasi dan kondisi abad yang lalu. Moto ini
baik, mendasar dan universal. Sekarang bergantung
implementasinya yang perlu diatur lebih lanjut
oleh para pimpinan Kementerian PU”. (Suyono
Sosrodarsono, 2009)

“Menurut saya nilai-nilai tersebut memang
pas untuk orang yang bekerja di Ke-PU-an, kenapa
begitu, karena PU sebagai penanggung jawab
infrastruktur, jadi kalau kita sudah mau masuk PU
walaupun mungkin awal masuknya dengan berbagai
macam alasan, tapi begitu kita masuk PU, sudah harus
paham bahwa kementerian ini tugasnya menyediakan
infrastruktur. Dan infrastruktur itu harus setiap saat
dimanfaatkan. Jadi seseorang yang masuk ke PU
mestinya harus menjiwai tugasnya. (Boediman Arif,
2009)”.

Sedang menurut Gembong Prijono (2009):
”Kalau soal bekerja keras, bergerak cepat dan
bertindak tepat masih tetap. Menurut saya moto PU
ini relevan, tetapi tidak cukup, karena moto ini ­terlalu
inward looking (melihat ke dalam). Moto ini sangat
berguna dan sangat diapresiasi, termasuk oleh Pak
Wapres. Pak Jusuf ­Kalla mengapresiasi budaya PU

Budaya Kerja
67
PNS Pekerjaan Umum
ini, beliau selalu mengatakan: ”Kalau ingin mencari
orang yang ­bergerak cepat, cari di dua tempat. Satu
di tentara, yang kedua di PU”. Karena ­beliau ­melihat
bahwa di PU ini seluruh pekerjaan dikerjakan dengan
cepat. Namun perlu ­ditambahkan unsur ­transparansi
dan akuntabilitas. ­Karena ­berbicara good governance,
ada pergeseran peran orang PU dari ­engineers murni
menjadi a ­ dministrator.”

Sedang menurut Basuki (2009), “Budaya
bekerja keras, bergerak cepat dan bertindak tepat
itu sudah menjadi trademark kita, namun harus
ditambahkan selalu bekerja teamwork, mission
oriented dan kesetiakawanan”.

“Pada dasarnya harus dikembangkan nilai-


nilai kenapa orang bisa bekerja keras, bergerak cepat.
Sekarang tidak perlu lagi bekerja keras, sekarang
harus bekerja cerdik. Yang namanya kompeten itu
soft dan hard. Jadi kelakuan, integritas, kejujuran,
komunikasi dan kepandaian, sudah itu saja. Jadi
satukan dulu bahasa itu”. (Purnarachman, 2009)

Seiring berjalannya waktu, perubahan


­kebijakan pemerintah dan arah organisasi serta
perkembangan teknologi, maka pengembangan
Budaya PU perlu mengacu pada:

1) Moto Kementerian PU yang selama ini digunakan:


Bekerja Keras, Bergerak Cepat, Bertindak Tepat.
2) Nilai-nilai organisasi untuk mewujudkan visi
Kementerian PU 2025: rasional, kerjasama,
inovasi, efesiensi, efektivitas, responsif, kemitraan,
kerja keras, gerak cepat dan bertindak tepat.
3) Prinsip good corporate governance: transparansi,
akuntabilitas, tanggung jawab, mandiri dan
keadilan.

Budaya Kerja
68
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 7
BUDAYA KERJA
DALAM MENCAPAI TUJUAN
KEMENTERIAN PU

“ Saya amat bergembira sekali bahwa


Komandan Sutami tadi mengatakan
bahwa syarat mutlak untuk
menyelesaikan gedung Conefo ini
bekerja keras, dua bekerja keras,
tiga bekerja keras.“
Presiden Soekarno

Budaya Kerja
69
PNS Pekerjaan Umum
S
aya amat bergembira sekali bahwa Komandan
Sutami tadi mengatakan bahwa syarat mutlak
untuk menyelesaikan gedung Conefo ini bekerja
keras, dua bekerja keras, tiga bekerja keras. Ditambah
Pak Bandrio, modal daripada segala hal sebetulnya
ialah tekad mental, semangat yang hebat. Dan jikalau
kita bekerja demikian, saya kira perintah saya untuk
menyelesaikan pembangunan Conefo pada tanggal
31 Juli itu dapat tercapai”. Demikian arahan Presiden
Soekarno pada Ramah Tamah dengan karyawan
Komando Proyek CONEFO (KOPRONEF) di Istana
Negara, Jakarta, 7 Februari 1966.

Arahan tersebut kemudian dikembangkan


menjadi moto PU yaitu bekerja keras, bergerak
cepat dan bertindak tepat. Moto tersebut
kemudian diabadikan dan dibakukan dalam Mars
PU. Ditegaskan oleh Suyono, bahwa moto tersebut
masih berlaku, tinggal implementasinya. Sedangkan
menurut Gembong ”nilai-nilai itu bukanlah Kitab Suci,
sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan
perkembangan”.

Agar moto dan nilai dapat diimplementasikan


lebih ­nyata dan menjadi budaya yang berwujud nyata,
maka dibutuhkan definisi operasional dan penjelasan
maknanya yang jelas dan komprehensif.

A. BUDAYA KERJA GUNA MENCAPAI


TUJUAN ORGANISASI

Salah satu nara sumber mengatakan bahwa,


“Budaya itu ­paling menentukan untuk mencapai

Budaya Kerja
70
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

tujuan Kementerian dan Pemerintah Republik ini”.


Kebutuhan pengembangan budaya kerja ­organisasi
adalah isu yang sangat relevan sepanjang masa,
karena ­organisasi akan menggunakan manusia untuk
mencapai tujuan organisasi.

Hal ini sebagaimana yang diungkap berikut:


“Semua organisasi mempunyai budaya, beberapa
perusahaan ­mem­punyai ­disiplin tetapi hanya sedikit
perusahaan yang mempunyai budaya disiplin. Kalau
anda mempunyai orang yang ­disiplin, anda tidak
memerlukan hirarki. Kalau anda mempunyai pikiran
yang disiplin, anda ­tidak memerlukan birokrasi.
Kalau anda mempunyai tindakan yang disiplin, anda
tidak memerlukan tindakan yang berlebihan. Kalau
anda menggabungkan budaya disiplin dengan etika
kewiraniagaan, anda mendapatkan ramuan ajaib dari
kinerja yang ­hebat. Secara sederhana, disiplin dapat
diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan baik
lisan maupun tulisan. Penelitian menunjukkan bahwa
pada beberapa orang cenderung memiliki pusat
­pengendalian di dalam dirinya. Pada disiplin diri, pusat
pengendalian berada di dalam diri, tetapi pada disiplin
yang dipaksakan, maka pusat pengendali berada di
luar diri”. Jim Collins (2004): Good to Great.

Secara sekilas, strategi pengembangan


budaya ­kerja ­organisasi harus dilakukan melalui
perubahan tindakan. ­Tindakan yang disiplin akan
menghasilkan kebiasaan (habit), kebiasaan yang
melekat pada seseorang akan membentuk karakter.
Tindakan yang konsisten membutuhkan nilai (value),
prinsip dan keyakinan. Nilai adalah kebenaran yang
diyakini seseorang. Nilai yang disepakati bersama
dalam ­kelompok atau organisasi disebut dengan
norma. Norma yang dilakukan secara bersama-sama

Budaya Kerja
71
PNS Pekerjaan Umum
dalam ­organisasi disebut ­dengan budaya organisasi.
Sukses dunia dan akhirat membutuhkan karakter dan
budaya. Wibowo (2006): Human ­Capacity Building.

Manusia memiliki usia biologis, usia sosial
dan usia ­sejarah. Orang dibatasi oleh usia biologis
sampai pada batas kematian, namun usia sosial
dan usia sejarah ditentukan oleh kualitas amal yang
telah dilakukan. Orang yang paling mulia dan sukses,
yaitu mereka yang paling banyak bermanfaat bagi
orang lain dalam ­sejarah hidupnya. Kemanfaatan
seseorang dalam hidupnya ­dilihat dari sisi karya,
amal dan aktivitas yang telah dilakukannya. Kunci
kesuksesan seseorang terletak pada pembangunan
­karakter positif dalam dirinya. Karena karakter dapat
dibentuk melalui ­tindakan yang rutin dalam waktu
yang lama. Itulah jalan dan cara terpendek untuk
mencapai sukses sejati.

Kerja yang dilakukan oleh sekelompok orang


dan dalam waktu yang lama dalam organisasi disebut
dengan budaya. Budaya yang diwariskan secara
turun-temurun antar generasi akan membentuk
peradaban.

Kementerian PU mengharapkan semua
karyawannya mampu memiliki kebiasaan sebagaimana
motonya, yaitu: bekerja keras, bergerak cepat dan
bertindak tepat. Apabila kebiasaan ini dilakukan dengan
rutin, maka akan terbentuk ­budaya kerja Kementerian
PU.

Agar semua karyawan memiliki budaya kerja


yang dilandasi oleh pengetahuan, sikap mental dan
keterampilan yang sesuai dengan misi dan tujuan
organisasi, maka diperlukan pedoman budaya kerja

Budaya Kerja
72
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

yang sesuai dengan jati diri dan nilai-nilai yang ­dimiliki


oleh Kementerian PU. Berikut ini gambaran skematis
pola hubungan antara tujuan organisasi, budaya
kerja dan kompetensi yang ­harus ­dimiliki agar dapat
melakukan program yang telah ditetapkan.

TUJUAN ORGANISASI Visi dan Misi


RPJPN 2025

Misi dan Visi, Misi


Renstra/ Tujuan dan Tujuan
Program Satminkal Kem. PU

Sumberdaya Budaya
(5M) Kerja
Pedoman PNS
Budaya
Kerja Kem.
SDM: PU
Pengetahuan Pembinaan
Sikap dan Karyawan
Kem. PU
Keterampilan BUDAYA KERJA

Gambar. Hubungan antara Pedoman Budaya Kerja dengan


tujuan organisasi

Manusia yang mulia di hadapan Tuhan dan
manusia, yaitu
Pertama; mereka yang paling banyak bekerja,
beramal, bertakwa dan berderma sosial (sedekah).
Kedua; mereka yang mau dan mampu melakukan
transformasi pengetahuan, sikap mental dan
keahliannya kepada generasi selanjutnya.
Ketiga; mampu menjadi mentor, orang tua, dan
kepemimpinan yang dapat mewariskan dan
menduplikasi amal ketakwaannya kepada keluarga
dan generasi selanjutnya.

Budaya Kerja
73
PNS Pekerjaan Umum

ASPEK POKOK PIKIRAN SUMBER
Misi Utama Merintis pembangunan Mars PU
menuju cita bangsa
Nilai Rasional, kerjasama, RPJP
Organisasi inovasi, efisiensi, Kementerian PU
efektivitas, responsif, 2025
kemitraan, kerja keras,
gerak cepat, bertindak
tepat.
Moto Bekerja keras, Mars PU
Bergerak cepat,
Bertindak tepat
Jati Diri Amanah Falsafah Sapta
(kepahlawanan, Taruna (1945)
kepedulian, kesatuan,
kejujuran, kesetiaan,
kecerdasan,
keseimbangan)
Dinamis, stabil, Logo (1966)
keseimbangan,
Merintis pembangunan. Mars PU (1986)
Bekerja keras,
Bergerak cepat,
Bertindak tepat. Jujur
berlaku, Mengabdi
penuh setia (integritas)
dan bertakwa kepada
Tuhan YME.
Reformasi Transparasi, Good Corporate
Birokrasi akuntabilitas, mandiri, Governance
tanggung jawab,
keadilan
Budaya Budaya pribadi, Implementasi
Kerja budaya hubungan Budaya Kerja
sosial dan tim, budaya
berorganisasi dan
pelayanan publik

Budaya Kerja
74
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Manusia dengan ketiga karakter ketakwaan


tersebut akan menjadi jembatan peradaban. Manusia
yang dapat menjadi jembatan peradaban adalah
manusia yang dapat memperpanjang usia sosial
dan usia sejarahnya. Untuk mencapai tujuan jangka
panjang organisasi, maka banyak membutuhkan
orang yang memiliki ketiga karakter tersebut di
atas.

Negara akan dianggap sukses jika mampu


melayani ­kebutuhan rakyatnya dengan baik.
Organisasi akan berkualitas, jika hubungan antar
orang dalam organsasi itu kompak, solid dan
harmonis. Hubungan antar orang akan baik, jika
kualitas individunya baik dan berkualitas. Semakin
baik budaya kerja organisasi, maka semakin
berkualitas mutu ­pelayanan kepada pelanggan
dan publik. Mulailah dari dirimu sendiri, mulailah
dari yang bisa, serta mulailah perubahan secepat
mungkin sebelum menyesal lebih jauh.

B. NILAI-NILAI BUDAYA KERJA


DALAM MOTO PU

Berikut ini adalah definisi operasional, ciri-


ciri dan ­aspek-­aspek penting dari Budaya Kerja
Kementerian PU.

1. BEKERJA KERAS

• Bekerja Keras menekankan aspek komitmen pada


pencapaian target.
• Bekerja untuk memecahkan persoalan, karena
ingin mendapatkan jawaban ­(pemecahan). Tetap
berusaha untuk memecahkan masalah, betapapun
sulit harus dapat dipecahkan.

Budaya Kerja
75
PNS Pekerjaan Umum
• Ciri bekerja keras yaitu bersedia belajar untuk
memecahkan persoalan yang dihadapi, serta
tidak berhenti bekerja sebelum berhasil, istirahat
dibutuhkan seperlunya.

• Bekerja keras bermakna disiplin melakukan


tugas. ­Makna disiplin itu mau tidak mau harus
dilakukan.
• Pondasi kerja keras adalah tanggung jawab dan
kesehatan fisik.
• Bekerja keras membutuhkan badan sehat, jiwa
tidak stres, sehat lahir dan sehat batin.
• Bekerja Keras adalah kerja yang unik dan istimewa,
sehingga memberikan kepuasan tersendiri dan
menghasilkan prestasi.
• Orang bekerja keras biasanya tidak dibatasi
dengan jam kerja.

2. BERGERAK CEPAT

• Bekerja dengan gerak cepat menekankan aspek


efektifitas dalam mencapai hasil.
• Bekerja merespon kebutuhan dengan cepat.
Melakukan terobosan kreatif dalam menyelesaikan

Budaya Kerja
76
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

­ ersoalan. Jika kondisinya tidak normal, maka


p
gerak cepat seringkali membutuhkan kreativitas
dan inovasi untuk ­menjawab problem yang
dihadapi.
• Kerja berorientasi kepada tindakan nyata,
efektifitas ­pemecahan jangka pendek dan tidak
memprioritaskan ­aspek efisiensi.
• Dalam tugas pekerjaan yang penting, maka tidak
boleh prinsip pelan-pelan asal selamat (alon-alon
asal kelakon).

• Untuk dapat bergerak cepat, maka dibutuhkan


kerapian arsip dan perlengkapan kerja.
• Untuk bisa menggerakkan karyawan dengan
cepat, maka dibutuhkan rasa memiliki (sense of
belonging) kepada institusi, rasa tanggung jawab
(sense of responshibility) dan rasa keterlibatan
(sense of participation).
• Langkah pertama menganalisa situasi
kemudian bergerak cepat untuk merancang dan
melaksanakan.

Budaya Kerja
77
PNS Pekerjaan Umum
3. BERTINDAK TEPAT

• Bekerja dengan bertindak tepat menekankan aspek


efisiensi, kesesuaian perencanaan, peraturan dan
ketepatan prosedur/ SOP (standard operational
procedure) yang sudah dimiliki.
• Bekerja dengan target operasi yang jelas, standar
­proses yang disepakati, bahan yang sudah
ditentukan dan menggunakan alat dengan benar
(jenis dan penggunaannya).

• Makna tepat meliputi aspek waktu, sumber data,


tepat sasaran dan tepat ukuran.
• Bekerja dengan tepat dan disiplin dalam hal waktu,
­kapan mulai dan selesainya.
• Bekerja dengan membuat perencanaan tindakan/
­kegiatan yang baik. Bekerja dengan memiliki
target, baik target pencapaian, maupun target
waktu (mission ­oriented)
• Untuk dapat bertindak dengan tepat, maka
harus ­menguasai pekerjaan dengan detail dan
memiliki kemampuan teknis yang memadai untuk
melakukannya.

Budaya Kerja
78
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

C. NILAI-NILAI BUDAYA KERJA


DALAM MARS PU

Berikut ini adalah definisi operasional dari


Nilai Budaya K
­ erja dalam Mars PU.

1. JUJUR BERLAKU

• Bekerja itu harus dilandasi dengan keyakinan dan


­kejujuran.
• Dalam bekerja harus jujur, karena ”siapa yang
merugikan orang lain maka dia akan dirugikan”.
• Selama bekerja jangan ada pamrih (motif pribadi
yang tersembunyi), kalau ada pamrih jika terpenuhi
tidak ada masalah, jika tidak terpenuhi maka kita
akan kecewa.
• Jujur itu harusnya tidak bohong. Kejujuran sangat
dibutuhkan untuk berkarir jangka panjang, karena
jika ada kasus ketidak-jujuran terungkap, maka
kepercayaan menjadi jatuh dan menjadi catatan
kepegawaian.
• Tidak berambisi dengan kekayaan secara
berlebihan, sehingga mendorong untuk melakukan
tindakan tidak jujur.

2. MENGABDI PENUH SETIA

• Abdi Negara berarti juga melayani masyarakat.


Moto ­Korpri adalah Abdi Negara bukan Abdi
Pemerintah.
• Mengabdi penuh bermakna militansi dan
berdedikasi tinggi.
• Setia itu mengikuti semua keputusan yang telah
ditetapkan. Untuk ketaatan dalam aspek teknis,
maka perlu klarifikasi dan beradu argumentasi.

Budaya Kerja
79
PNS Pekerjaan Umum
3. BERTAKWA KEPADA TUHAN YME

• Bekerja dapat dibingkai dengan ketakwaan, maka


­hidup tidak nggrangsang (semua ingin dimaui
dan dimiliki), serta hidup akan menjadi penuh
­kesederhanaan.
• Bekerja tidak ada ambisi pribadi yang berlebihan,
sehingga tidak ada kekecewaan. Semua usaha
telah dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Tuhan
YME, pasrah, berserah diri dan tawakal.

• Segala sesuatunya diserahkan kepada Tuhan


YME, tugas karyawan Kementerian PU hanyalah
bekerja sebaik-baiknya, serta dengan itu karyawan
akan dinilai baik.
• Dari seluruh alasan dan arahan mengapa
seseorang harus bekerja, sebenarnya ujung-
ujungnya bekerja untuk meningkatkan ketakwaan
kepada Tuhan YME. Aktivitas amal pengabdian
kita dalam bekerja adalah bagian dari ibadah,
sehingga semua ditentukan dengan niatnya.

Budaya Kerja
80
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

IMPLEMENTASI
BUDAYA KERJA

Tidak cukup bagi kita


sekadar tahu,
tetapi harus
mempraktekKannya.
Dan tidak cukup bagi kita
sekadar ingin,
tetapi kita harus
melakukannya.

Budaya Kerja
81
PNS Pekerjaan Umum
Bagaimanapun bagus
formulasi Budaya Kerja,
tetapi yang penting ialah
implementasinya.
Implementasi yang baik
itu tentunya bergantung
dari manusia yang
melaksanakannya
(The Man Behind The Gun),
yaitu manusia-manusia
yang andal, manusia yang
berkualitas.
(Suyono Sosrodarsono)

Budaya Kerja
82
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 8
MODEL SUKSES
BUDAYA KERJA

Para pemimpin menetapkan


standar yang tinggi dan
menginspirasikan orang
untuk mencapainya.
Leaders set high standards
and inspire people to achieve.

Budaya Kerja
83
PNS Pekerjaan Umum
A. DARI PEGAWAI PU MENJADI
ORANG PU

A
da orang berbuat baik di kantor, tetapi begitu
keluar dari kantor sudah berubah pola tindak
dan perilakunya. Ada orang sudah pensiun,
namun masih berperilaku seperti pegawai.

Ada orang pensiunan Kementerian PU, kini sudah


berusia lebih dari 80 tahun, namun masih mengikuti
perkembangan Kementerian PU, masih dapat
berkontribusi untuk Kementerian PU. Orang ini bukan
sekadar bekerja di Kementerian PU, namun telah
menjadi orang PU. Karena orang yang berkarakter
PU telah memiliki pemahaman, kecintaan dan
penghayatan dengan nilai-nilai/ budaya PU dan tetap
dibawa sampai setelah pensiun. Inilah renungan
perbandingan antara orang yang bekerja di
Kementerian PU dengan orang PU. Berikut Karakter
Orang PU yang berada di berbagai tempat.

Budaya Kerja
84
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Orang PU di SDA
Orang PU di SDA, kalau sedang hujan
deras maka dia punya perasaan cemas. Perasaan
kecemasan itu memikirkan: ”Apakah tanggul saya
kuat apa tidak? Jebol apa tidak mendapatkan aliran
yang banyak seperti itu?”. Tapi kalau orang yang
berkerja di Kementerian Pekerjaan Umum atau
orang yang berkerja di SDA begitu banjir, malah
melakukan pekerjaan yang santai atau malah
hanya tinggal dirumah bersama keluarga, atau
malah berpikir, kalau jebol kita bisa mengajukan
anggaran baru. Itulah bedanya orang bekerja di
Kementerian PU dan menjadi orang PU.

Orang PU di Binamarga
Orang PU di Binamarga yang sedang
mengendarai mobil, kemudian dia tidak peka
lagi dengan geometrik pada fast drive-nya
saat menikung dengan kecepatan 120 km/jam,
sehingga penumpang yang dibawanya terbangun.
Seharusnya ia segera menemukan kesalahan
dalam konstruksi jalan. Tapi masih ada atau tidak
orang Binamarga yang mengukur fast drive seperti
itu.
Demikian halnya jika berada di tol Cipularang yang
belokannya ke kanan tapi miring jalannya ke kiri,
dengan kecepatan seperti itu bisa terpental. Kalau
orang Binamarga tidak care lagi dengan kondisi
tersebut, berarti dia bukan orang PU, tapi dia
adalah orang yang berkerja di PU.

Orang PU di Ciptakarya
Misalnya ada kegiatan pembangunan
instalasi air minum untuk daerah rawan air, tapi
yang ­dikerjakan adalah di daerah-daerah yang
banyak airnya. Seharusnya dilakukan di daerah

Budaya Kerja
85
PNS Pekerjaan Umum
yang rawan air, bukan daerah yang banyak airnya
yang dibuat instalasinya. Kasus seperti itu berarti
bukan orang Ciptakarya, tetapi orang yang berkerja
di Ciptakarya.

Orang PU di Penataan Ruang


Orang yang bekerja di Penataan Ruang yang
telah menjadi Orang PU akan segera menemukan
permasalahan yang harus diselesaikan jika melihat
gambar ini. Kemudian jiwanya menjadi tidak
tenang, resah dan gelisah karena tanggung jawab
yang ada dalam dirinya. Namun jika orang yang
bekerja di Penataan Ruang tidak menemukan
permasalahan dan tidak peduli dengan tata letak
rumah dan fungsi sungai pada gambar tersebut,
maka ia hanyalah orang yang bekerja di Penataan
Ruang semata.

Orang PU secara Umum


Inilah pernyataan karyawan PU yang sudah
pensiun ”Saya masih ada ikatan batin, kemudian
ada sence of ­belonging, kesadaran bahwa masuk
Kementerian PU, dibesarkan di PU, mendapatkan
pengalaman di PU, dari pegawai yang paling bawah
sampai menjadi Menteri, itulah karunia ­Tuhan”.

Budaya Kerja
86
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Keresahan Orang PU
Jika diamati akhir-akhir ini, banyak terjadi
bencana alam di Indonesia baik yang disebabkan
oleh kejadian alam maupun kesalahan pengelolaan.
Sebut saja mulai gempa bumi Aceh, Yogyakarta
dan Jawa Barat hingga bencana tanah longsor
dibeberapa wilayah, banjir dan longsor dari gunungan
sampah, jebolnya situ Gintung dan lain-lain, yang
mengakibatkan korban jiwa dan harta benda. Ada
pertanyaan besar pada setiap kejadian bencana
tersebut, salah siapakah ini? Apakah tidak ada
pencegahannya, agar hal tersebut dapat diantisipasi
minimal untuk mencegah adanya korban jiwa dan
harta? Jika hal ini dikaitkan dalam aspek Tata Ruang,
maka harusnya disusun tata ruang berbasis mitigasi
bencana pada daerah rawan bencana.
Tidak sedikit diantara kita yang tidak begitu peduli
terhadap bencana, karena berpikir pasti sudah
ada yang menanganinya dan bukan urusannya.
Jadi jelas penyusunan tata ruang yang dihasilkan
harus dapat menjawab semua aspek pembangunan
dan indikasi pemecahan masalah bencana dalam
mewujudkan ruang yang aman dan berkelanjutan
dalam pemanfaatan ruang.

B. KETELADANAN PEMIMPIN
SEBAGAI MODEL BUDAYA KERJA

Seringkali konsep dan gagasan tidak


berwujud karena terlalu abstrak dan sulit untuk
diwujudkan. Salah satu fungsi efektivitas seorang
pemimpin adalah memberikan keteladaan kepada
bawahannya. Berikut ini aplikasi dari pendekatan
beberapa tokoh yang telah diakui secara publik.
Dengan karakteristik yang dikenali sebagai profil
tokoh di lingkungan PU.

Budaya Kerja
87
PNS Pekerjaan Umum
Profil Sutami
(1964 - 1978)

• Pekerja keras, namun


kurang menjaga
kesehatannya.
• Orangnya sederhana
dan jujur.
• Profesional dan banyak
menghasilkan proyek
multi year yang h­ ebat.
• Menteri yang mulai menggunakan teknologi
­modern, mulai dengan beton pracetak, jembatan
semanggi, b­ angunan gedung dll.

Profil Poernomo Sidi


(1978 - 1983)

• Seorang Doktor
yang sangat cerdas.
Melakukan pembinaan
kepada bawahannya
secara luar biasa
dalam bentuk
ke l o m p o k- ­k e l o m p o k
diskusi rutin.
• Mengembangkan gagasan-gagasannya melalui
diskusi-­diskusi.
• Pernah suatu hari menginspeksi bendung jam
02.00 dini hari di Palopo, kemudian jam 02.00
langsung pulang dari Palopo masuk ke Sinjai.
Sampai di Sinjai jam 06.00 pagi, kemudian beliau
bilang “Jam 08.00 kita rapat”, itu luar b
­ iasa.
• Mengembangkan sistem sarana dan prasarana.

Budaya Kerja
88
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Profil
Suyono Sosrodarsono
(1983 - 1988)

• Di usia 84 tahun
masih sehat dan kalau
diundang ke mana
saja tentang ke-PU-an,
beliau tetap datang.
Jadi Beliau itu sangat
dedicated betul hidupnya
­untuk PU. Ini menunjukkan kecerdasan, perhatian
dan manajemen diri yang baik sekali.
• Sangat bangga sebagai birokratnya. ­Beliau
cenderung sebagai pejabat publik dan cenderung
mengabaikan politik, jadi beliau sangat rasional.
Sehingga ­hubungan dengan staf pun sangat
rasional.
• Walaupun telah pensiun lebih dari 20 tahun yang
lalu sampai saat ini masih mengikuti perkembangan
Ke-PU-an.

Profil Radinal Moochtar


(1988 - 1998)

• Banyak inovasi-inovasi
baru.
• Dengan satu papan tulis
bisa menulis beberapa
macam arahan.
• Pernah bekerja di
Bapenas.
• Dia adalah seorang
teknolog tapi juga mengerti masalah ekonomi.

Budaya Kerja
89
PNS Pekerjaan Umum
Menurut Boediman Arif (2009) ”Bahwa
para Menteri PU itu orang­nya hebat-hebat semua
tidak usah diragukan. Yang beda itu cuma gaya
sama hobinya, kalau Pak Tami itu tidak hobi
makan, Pak Suyono ingatannya luar biasa. Beliau
sampai ingat nama juru pintu air. Pak Rahmadi
juga tidak hobi makan, kalau tidak terpaksa dia
­t idak makan, kalau Pak Radinal hobi makan.
Kalau Pak ­R ahmadi memberikan disposisi seperti
di apotek, semua racikan. ­U ntungnya beliau
sering lupa menagih janji yang ditugaskan. Pak
Soenarno selalu serius, jarang tertawa, Pak Djoko
demokratis dan tidak basa basi”, kenang Pak
Boediman sambil tersenyum.

Menurut Koesngadi yang disampaikan


Hendropranoto S. (2010). “men kan niet onderwijzen
wat men weet, men kan niet onderwijzen wat men
wil, men kan alleen maar onderwijzen wat men
is” (Kita tidak dapat mengajarkan apa yang kita
ketahui, kita pun tidak dapat mengajarkan apa
yang kita inginkan, kita hanya dapat mengajarkan
sesuatu yang sudah menjadikan kita seperti
dapat dilihat sekarang).

Lebih lanjut Hendropranoto S. (2010)


menyatakan bahwa “Budaya kerja unggul
tersebut tidak dapat diajarkan oleh pelatihan atau
lokakarya, ataupun pedoman dan tulisan yang
dimaksudkan sebagai ajaran atau acuan. Hanyalah
insan pimpinan Pekerjaan Umum yang berbudaya
unggul, dapat melahirkan insan penerusnya
yang mampu belajar dari Kementerian Pekerjaan
Umum.

Budaya Kerja
90
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

C. PEMIKIRAN DAN NASIHAT PARA


PEMIMPIN DAN TOKOH PU

Berikut ini petikan pernyataan para tokoh PU


yang berisi dengan nilai-nilai dan dibutuhkan untuk
perubahan bangsa, serta perlu ditiru oleh generasi
muda PU.

• ”Mengaktualisasikan semangat perjuangan para


Sapta Taruna untuk tetap bekerja keras, bergerak
cepat dan bertindak tepat dalam menyelenggarakan
infrastruktur PU yang penuh dengan tantangan
di masa mendatang. Dengan aktualisasi tersebut
kita optimistis dapat melaksanakan percepatan
pembangunan bidang ke-PU-an guna turut
mensukseskan program Pemerintah dalam
mengentaskan kemiskinan, membuka kesempatan
kerja lebih luas lagi, meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi kita, dan sekaligus berkontribusi positif
terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan
hidup.” (Djoko Kirmanto, 2008)

• ”Bekerja haruslah memiliki tujuan yang jelas. dalam


bekerja kita mesti istiqomah, jujur, dan setia dengan
tujuan. saya bekerja di pemerintahan, tujuannya
pasti jelas untuk kemaslahatan bangsa dan negara.
Karena itu, jangan berharap kaya kalau bekerja
di pemerintahan. Maka sebenarnya yang dikejar
dalam tanda kutip adalah karier. Kalau jadi pegawai
negeri maunya menjadi kaya, itu namanya sudah
“keblasuk” duluan.” (Agoes Widjanarko 2009)

• ”Cara manajemen yang mendasar bisa berlaku


di segala zaman, yaitu seorang pemimpin harus
memberikan contoh, ­menganjurkan untuk berani
berinisiatif dan memberikan motivasi kepada
stafnya” (Suyono Sosrodarsono, 2009).

Budaya Kerja
91
PNS Pekerjaan Umum
• Budaya (Kultur Orang PU): ”Orang akan dibentuk
oleh ­lingkungan. Orang di PU itu orang yang melayani
bukan dilayani, bukan orang yang mengedepankan
kekuasaan. Namun lingkungan sangat diperlukan
karena dia bekerja pada lingkungan yang terbuka
­dengan alam, dengan masyarakat sekitarnya
dan jenis pekerjaannya mentransformasikan
semua sumber daya konstruksi menjadi suatu
jenis bangunan. Dia akan tetap terbentuk bahwa
tidak akan berbasis kekuasaan, dia akan target
­oriented, dia akan berpikir secara profesional untuk
mengambil keputusan yang tepat, dia akan bekerja
cepat dan memang begitu. Tanpa sadar dia, apa
pun nama ­kulturnya, mungkin tidak banyak yang
paham dalam rumusan kultur tadi.” ­(Gembong
Prijono, 2009).

• ”Hampir semua Menteri dan Eselon I nya dari


jabatan karir, artinya dari pegawai PU, bahkan
banyak rekan-rekan PU yang dipekerjakan dan
diperbantukan pada ­jabatan eselon I di kementerian
lain, ini berarti pembinaan SDM-nya cukup berhasil
dan lingkungan/suasana kerjanya memungkinkan
seseorang untuk maju”. (­ Boediman Arif, 2009).

• “Kebanggaan saya adalah keberhasilan orang-


orang yang pernah menjadi anak buah saya”
(Soenarno, 2009)

• “Orang bekerja di PU tidak boleh ragu-ragu, dia


harus bekerja sesuai dengan kewenangannya
untuk mengambil keputusan cepat dan tepat. Kalau
ada kondisi darurat dia ­tidak perlu lagi menunggu
petunjuk, jadi harus memutuskan ­dengan segala
resikonya.” (Basuki, 2009).

Budaya Kerja
92
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

• “Bertindak tepat jangan asal bertindak cepat,


jangan asal kerja keras tapi harus ada rambu-
rambu yang harus diikuti agar selamat.” (Karjono,
2009).

• ”Hidup jangan nggrangsang (semua ingin dimaui


dan dimiliki), bekerjalah sebaik mungkin dan
belajar seumur hidup”. (Hendro, 2009)

• ”Budayakanlah bahwa pekerjaan itu kalau secara


teknis maka dia layak, ­secara ekonomis terjangkau,
secara sosial diterima, ­secara ­lingkungan
sustainable dan dikerjakan dengan team ­building”.
(Suprapto, 2009).

• ”Semangat menjaga jati diri dan bangga atas


potensi dan gagasan–gagasan bangsa sendiri
dan pada saat yang bersamaan dapat menjaga
hubungan keakraban dengan rekan kerja di
lembaga internasional merupakan ciri yang
mewariskan kenangan indah budaya kerja di
Kementerian Pekerjaan Umum”. (Hendropranoto
S., 2010).

• ”Untuk membangun budaya awalnya dipaksa,


kemudian terpaksa sampai akhirnya bisa. Setelah
bisa, maka akan menjadi terbiasa. Jika orang
sudah terbiasa dalam waktu yang lama, maka
akan menjadi kebiasaan”. (Yadi Siswadi, 2009).

• ”Tata kelola pemerintahan yang istimewa baiknya


merupakan produk dari pembelajaran dan
pembinaan etos kerja unggul (excellent) yang terus
menerus dan berlangsung sepanjang kita berkarya
dalam lingkup tugas kita”. (Hendropranoto S.,
2010).

Budaya Kerja
93
PNS Pekerjaan Umum
D. SAPTA PENDAPAT
BUDAYA KERJA PU

Berikut ini kontribusi pemikiran dari Bapak


DR. Ir. Suyono Sosrodarsono sebagai model orang
PU dan bukan sekedar orang yang bekerja di
PU. Di usianya yang ke 84 tahun masih mengikuti
perkembangan ke-PU-an dan memberikan 7 poin
atau Sapta pendapat tentang budaya kerja PU.

1. Tiap institusi, baik itu perusahaan ataupun


lembaga pemerintah mempunyai budaya kerja
yang merupakan “landasan arahan” cara bekerja
di jajaran institusi yang bersangkutan, begitu pula
Kementerian Pekerjaan Umum yang berbunyi:

Bekerja Keras, Bergerak Cepat, Bertindak Tepat

Budaya kerja tersebut dicanangkan oleh Bapak
Menteri Pekerjaan Umum Prof. Ir. Soetami
(Alm) pada tahun 1978. Pada waktu itu saya
mendapatkan kehormatan membantu Beliau
sebagai Direktur Jenderal Pengairan sejak tahun
1966.
Formulasi budaya kerja tersebut sangat tepat bagi
Kementerian PU. Suatu kementerian yang tugas
utamanya ialah operasional (baik pelaksanaan
maupun pengaturan) yang perlu didukung oleh
satuan-satuan pendukung yang kuat serta
cekatan. Budaya kerja tersebut adalah:

• Bekerja Keras. Memberi arahan untuk bekerja


keras. Mengingat pembangunan prasarana
(infrastruktur) yang menjadi tanggung jawab
Kementerian PU sangat strategis dalam rangka
pembangunan nasional dan hasilnya sangat

Budaya Kerja
94
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

vital bagi kesejahteraan rakyat. Untuk sukses


pekerjaan dan penanganannya tidak dapat
dilakukan dengan cara seenaknya saja tetapi
dengan cara bekerja keras dengan penuh
dedikasi.
• Bergerak Cepat. Memberi arahan untuk
bergerak cepat dengan sikap tanggap yang
tinggi dan tidak berlarut-larut menyelesaikan
tugas. Bergerak cepat tidak berarti menangani
pekerjaan secara gegabah dengan bersikap:
penyelesaiannya urusan belakang.
• Bertindak Tepat. Bertindak tepat dalam
merencanakan maksud serta tujuan secara
tepat sasaran serta realisasinya tepat sesuai
dengan apa yang direncanakan. Melaksanakan
pekerjaan dengan memegang teguh budaya
tepat waktu, tidak saja pekerjaan pelaksanaan
di lapangan, tetapi juga kegiatan lain seperti
misalnya dimulainya pertemuan, seminar, rapat
dan sebagainya agar sesuai dengan surat
undangan serta tepat waktu.

Budaya Kerja
95
PNS Pekerjaan Umum
2. Agar budaya kerja tidak hanya merupakan sekedar
slogan saja, maka jajaran Kementerian Pekerjaan
Umum hendaknya menghayati serta menyadari
sedalam-dalamnya isi serta makna budaya kerja
itu. Sebab bagaimanapun bagus formulasinya,
tetapi yang juga penting ialah implementasinya.
Implementasi yang baik itu tentunya bergantung
dari manusia yang melaksanakannya (The Man
Behind The Gun), yaitu manusia-manusia yang
andal, manusia yang berkualitas.

3. Manusia yang berkualitas itu mempunyai ciri-


ciri yang terdiri dari 2 (dua) ”komponen” yaitu:
Pertama, berpengatahuan serta terampil
menyelesaikan tugasnya. Sifat-sifat tersebut
diperoleh karena pendidikan dan rajin mengikuti
pelatihan serta pandai belajar dari pengalaman
kerja. Kedua, mempunyai sikap mental sebagai
berikut: Mempunyai etos kerja yang tinggi,
bersedia bekerja keras, melaksanakan tugas
dengan dedikasi untuk mendapatkan hasil
yang optimal, berdisiplin dalam bekerja

Budaya Kerja
96
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

termasuk disiplin waktu, dan berminat untuk


terus belajar. Dua komponen itu merupakan
suatu ”paket” yang tidak terpisahkan komponen-
komponennya.

4. Pengalaman kerja, baik yang pernah dialami sendiri


maupun pengalaman orang lain, merupakan ”guru”
yang baik apabila pandai mengambil hikmahnya.
Pengalaman kerja yang berhasil baik, maupun yang
berupa kesalahan bahkan kegagalan merupakan
pelajaran yang bermanfaat. Oleh karena itu
alangkah baiknya kalau kasus-kasus kegagalan
teknis yang pernah dialami oleh unit-unit dalam
lingkungan Kementerian PU dapat dicatat atau
dibukukan tanpa menyebut atau menyalahkan
pihak-pihak manapun, tetapi menguraikan secara
obyektif kesalahan teknis yang telah dialami.
Catatan atau buku itu, di samping buku-buku
referensi, akan dapat merupakan buku pelajaran
yang bermanfaat, karena mengajarkan untuk
bagaimana tidak melakukan hal-hal yang sama
(How Not To Do) dan menghindari terulangnya
terjadinya kesalahan teknis yang sama.

5. Pengalaman-pengalaman itu juga akan bermanfaat


sebagai bahan kalau ingin mengadakan
perubahan-perubahan. Perubahan tentunya
harus membawa perbaikan, tidak ada gunanya
mengadakan perubahan hanya sekedar mau
merubah tetapi tidak menghasilkan perbaikan.
Perdana Menteri Inggris, Mrs. Thatcher dalam
ceramahnya pada suatu pertemuan Persatuan
Insinyur Indonesia beberapa waktu lalu
mengatakan “Change is a blend of new and old”
Ucapan itu tentunya hasil pengalaman kerja ”The
Iron Lady” yang cukup lama.

Budaya Kerja
97
PNS Pekerjaan Umum
6. Banyak teori ekonomi dan teori manajemen
yang dahulunya diunggulkan telah mengalami
perubahan atau revisi bahkan ditinggalkan sama
sekali. Salah satu contoh adalah teori manajemen
yang dahulu dianggap paling unggul yaitu
”Management By Objective” (MBO), sekarang ini
sudah tidak dikenal lagi.
Akan tetapi ada suatu teori atau bahkan merupakan
suatu manajemen- dasar, terutama bagi para
pemimpin yang menurut saya telah berlaku dari
dulu hingga kini dan seterusnya yaitu:

• Seorang pemimpin hendaknya memberi contoh.


Contoh baik dalam sikap serta cara bertugas
akan memperbesar wibawa si-pemimpin.
Contoh itu merupakan kekuatan tersendiri (The
Power of Example).
• Seorang pemimpin hendaknya memberi
kesempatan dan bahkan dorongan kepada
asisten-asistennya (staf) untuk berinisiatif dan
jangan takut-takut mengajukan saran-saran
(tentu saja keputusan akhir ada pada pemimpin).
• Staf hendaknya dianjurkan untuk tidak bersikap
tunggu perintah (nunggu disuruh). Seorang
pemimpin hendaknya dapat memberi motivasi
kepada bawahannya sehingga mereka bertugas
dengan penuh dedikasi.

7. Seyogyanya kita menyadari bahwa negara masih


menghadapi banyak tantangan dan krisis ekonomi
serta moneter. Kondisi ini masih mengancam negara
kita di tahun-tahun yang akan datang. Oleh karena
itu, seyogyanya kita mempunyai ”sense of crisis”
dan memanfaatkan tiap rupiah secara efektif serta
efisien dengan hasil yang optimal. Kita seyogyanya
menganut budaya hemat yang juga merupakan
unsur dari budaya kerja pada umumnya.

Budaya Kerja
98
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 9
ASPEK PENDUKUNG
IMPLEMENTASI
BUDAYA KERJA PU

Tuhan tidak akan merubah ­nasib ­


sebuah kaum, hingga kaum itu ­
sendiri merubah nasibnya. ­
Perubahan merupakan sebuah
pintu yang kuncinya berasal
dari dalam diri.

Budaya Kerja
99
PNS Pekerjaan Umum
U
ntuk membentuk perilaku yang sesuai dengan
­seting budaya kerja baru yang mungkin bisa
tercapai 1 (satu) sampai dengan 20 (dua puluh)
tahun. Karena itu untuk merubah pola pikir dan pola
perilaku pegawai tidak bisa sim salabim. Misalnya
kita bisa merancang suatu struktur organisasi yang
fungsional dan lebih strategis, hal ini menuntut
kesiapan mental. Karena ini berkaitan ­dengan
anggaran dan banyak hal. Maka untuk membentuk
perilaku pegawai PU diperlukan kajian-kajian atas
konsep-konsep sebelum diimplementasikan.

Aspek-aspek berikut ini perlu menjadi acuan


dalam mendukung suksesnya implementasi
budaya kerja Kementerian PU yang berbasis pada
nilai-nilai yang telah ditetapkan.

A. DUKUNGAN ASPEK KEPEMIMPINAN

Peran Kepemimpinan

Peran pemimpin memiliki peran yang


sangat ­penting dalam membawa perubahan budaya
kerja. Berikut ini ada 3 (tiga) cara manajemen
yang mendasar untuk segala zaman ­(Suyono
Sosrodarsono, 2009):

• Seorang pemimpin hendaknya memberikan


contoh bagi bawahannya, dengan contoh dan
cara tugas yang baik. Bersikap yang baik maka
akan mempengaruhi bawahannya. Wibawa itu
tidak bisa dipaksakan dengan peraturan atau suatu

Budaya Kerja
100
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

kekuasaan tetapi dengan contoh. Ada pepatah


Power of Example. Jadi satu contoh mempunyai
kekuatan. Kalau contoh kurang baik, itu mudah
ditiru oleh anak buah, tapi kalau contoh yang baik
kadang agak sulit ditiru anak buah. Tapi seorang
pemimpin hendaknya terus memberikan contoh
terbaik.

• Seorang pemimpin hendaknya menganjurkan


kepada stafnya untuk berani berinisiatif, tidak
menunggu ­perintah, berinisiatif memberikan saran-
saran kepada atasannya. Pemimpin membutuhkan
saran dari staf, namun yang ­memutuskan adalah
atasan. Staf tidak boleh sakit hati ­kalau ­sarannya
tidak diterima, tapi harus memberikan inisiatif
dalam penyelesaian masalah. Seorang pemimpin
jangan mematikan inisiatif dari para stafnya.
Seorang pemimpin hendaknya memberikan
dorongan kepada stafnya untuk berinisiatif. Itu
juga untuk kepentingan tugas untuk ­pemimpin
tadi.

• Seorang pemimpin hendaknya bisa memberikan


motivasi kepada stafnya untuk bekerja keras,
untuk menjujung tinggi institusinya, agar tetap
mempunyai nama yang baik. Pemberian motivasi
ini hingga anak buahnya mempunyai sense of
belonging, sadar bahwa dia termasuk dalam
institusi. Ada juga sense of responsibility, artinya
kesadaran bertanggungjawab melakukan tugas
demi institusinya dan sense of participation,
artinya ada kesadaran untuk ikut serta di dalam
­kegiatan-kegiatan dan tidak hanya menunggu
perintah, tetapi adanya motivasi untuk memajukan
institusinya.

Budaya Kerja
101
PNS Pekerjaan Umum
Karakter Kepemimpinan

Sedangkan karakter pemimpin lainnya adalah
sebagai berikut:

• Mampu meneruskan tradisi atau budaya kerja ke


juniornya. Hal ini dibutuhkan militansi dalam arti
strong leadership people.
• Bisa mengemban amanahnya dengan baik beserta
­resikonya. Karena kalau tidak ada milintansi
bagaimana dia ditempatkan di perbatasan
Indonesia.
• Sebelum mulai kegiatan (kantor atau rapat), selalu
­menyiapkan diri (catatan tentang yang harus
dilakukan sebagai ­‘first thing in the morning’).
• Mengetahui sifat pribadi anak buah agar bisa
berkomunikasi dengan tepat, serta menghargai
pendapat dan hasil kerja orang lain (terutama anak
buah).
• Tidak merasa berhasil sendirian, jadi perlu kerja
sama. Ia mengatakan ”Kalau unit yang saya pimpin
berhasil, maka itu bukanlah keberhasilan saya
sendiri”, tetapi keberhasilan bersama.
• Dapat memberikan teladan/ contoh yang baik dan
benar, maka anak buah akan tidak enak kalau tidak
melakukan hal yang sama
• Pemimpin yang baik itu abadi dalam pengertian
pemimpin sejati. Kalau pada saat itu tidak ada
pemimpin dalam ­organisasi tetap seolah-olah dia ada.
Karena pada anak buah itu sudah dibentuk suatu jiwa
mencintai pekerjaan, ­sehingga otomatis dia dengan
sendirinya mampu mengendalikan dirinya.
• Sampai pensiunpun dia akan selalu muncul. Akibat
­berjalannya satu sistem kepemimpinannya, sampai
kapanpun ­harus mampu memimpin dirinya dengan
baik.

Budaya Kerja
102
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

B. DUKUNGAN ASPEK
KEORGANISASIAN

• Agar orang dapat tepat bekerja, maka dibuatkan


kejelasan tugas dan fungsinya, prosedur standarnya
dan sistem r­ eward dan punishment.
• Untuk dapat bekerja dengan cepat, rapikan sistem
file dan sistem jejaring informasinya. Buatlah sistem
pangkalan data yang open sources, sehingga semua
orang dapat m ­ engakses dengan cepat.
• Lakukan sosialisasi secara berulang-ulang dengan
­berbagai media yang ada seperti: rapat, sambutan,
training, workshop, seminar dan kampanye melalui
kalender, sticker atau buku.
• Alokasi pembinaan SDM selain untuk aspek
keahlian teknis, juga berikan perhatian pada aspek
keterampilan lunak (softs skills), seperti: rencana
karir, motivasi, karakter, konsep diri, spiritualitas,
komunikasi dan teamwork.
• Dibuat pelatihan yang sistemik dan harmonis untuk
­kebutuhan pengembangan karyawan dalam kontek
dengan Jati Diri, Korpri, Budaya Aparatur dan Budaya
Kerja Internal Kementerian Pekerjaan Umum sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Karena semua
memiliki beberapa irisan kepentingan dan tema.

C. DUKUNGAN ASPEK KEPRIBADIAN

Pengembangan Diri: Belajar Secara Konsisten


• Untuk dapat bekerja sesuai dengan budaya
Kementerian PU, maka pencerahan diri harus terus
dilakukan melalui ­pelatihan, buku, internet, TV dll.
Sekarang kuncinya ­pengembangan diri tidak hanya
intelektualnya, tetapi yang penting justru emosional
dan spiritualnya.

Budaya Kerja
103
PNS Pekerjaan Umum
• Untuk dapat bekerja sebaik mungkin, maka harus
dapat b ­ elajar seumur hidup.
• Generasi muda Kementerian PU yang menjadi
bibit-bibit unggul, ­serta memiliki intelektual luar
biasa yang ditandai dengan ­IPK rata-rata di atas
tiga, tetapi harus terus dibina pada aspek spiritual
dan emosionalnya. Karena aspek spiritual dan
emosional bersifat fluktuatif.

Kesehatan Fisik: Kuat Bekerja Keras

• Kerja keras membutuhkan orang dapat bekerja


setiap saat. Untuk dapat bekerja kapan saja dan
tahan banting, maka harus memiliki badan yang
sehat.
• Untuk menjaga kesehatan, maka perlu olah raga
untuk menghindari stress.
• Untuk menjaga kesehatan rohani, yaitu tidak
menerima tugas yang berlawanan dengan hati
nurani.
• Menjaga kesegaran emosi dengan mudah
senyum, memiliki rasa humor dan tertawa.
Karena orang yang suka tertawa umumnya tidak
stress.

Rumah Tangga: Harmonis dan K


­ erjasama.

• Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga


untuk mendukung pekerjaan di kantor.
• Selalu membimbing keluarga dengan nilai-nilai
mulia.
• Pasangan hidup memberikan dukungan penuh
untuk dapat bekerja di kantor.
• Secara lambat laun hubungan keluarga harus
terwarnai dengan n
­ ilai-nilai universal organisasi.

Budaya Kerja
104
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 10
IMPLEMENTASI
BUDAYA KERJA

BUDAYA KERJA itu


diwariskan melalui contoh,
tidak melalui pendidikan saja,
oleh karena itu ia harus merupakan
bagian dari jati diri kita.

Gembong Prijono.

Budaya Kerja
105
PNS Pekerjaan Umum
A. MENGHARMONIKAN MOTO
DAN NILAI KEMENTERIAN PU

d
alam prakteknya di lapangan, bahwa
implementasi ­budaya harus dilakukan
secara komprehesif dan simultan dengan
menggunakan moto, nilai budaya dan nilai organisasi
tidak terlampau bisa ­dipisahkan, maksudnya seperti
satu nafas begitu maksudnya. Sehingga dapat diolah
sesuai dengan situasi dan kondisinya. (Boediman
Arif, 2009). Berikut contoh dari mengharmonisasikan
moto dan nilai Kementerian Pekerjaan Umum tersebut
di lapangan:

• Kalau bergerak cepat dikaitkan dengan bertindak


tepat, maka kita harus bergerak cepat tetapi
jangan serampangan. Bagaimanapun juga harus
mempunyai perencanaan yang matang. Pada
awalnya penanganan masalah dilakukan dengan
tindakan yang efektif dulu, artinya gerak cepat. “Jadi
kalau ada bencana jangan ditinggalkan, misalnya
ada longsor, mobil sudah nunggu kok nggak ada
orang PU di sana, walaupun cuma melakukan hal
kecil sambil menunggu alat besar, tapi minimal
action jangan ditinggalkan masyarakat itu. Sambil
menunggu perlengkapan yang lebih baik dan
lengkap, maka tindakan akan lebih tepat.”
• Mengharmonikan Bergerak Cepat dan Bertindak
Tepat. ­Tentunya teman-teman di Kementerian
PU ini harus menyelesaikan ­pekerjaan secepat
mungkin. Tapi sekarang secepat mungkin itu
banyak kendalanya. Misalnya dahulu anggaran

Budaya Kerja
106
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

mulai 1 April, waktu tender lama, apalagi dengan


menggunakan sumber dana dari Bank Dunia. Maka
waktu itu kami lobi dengan ­Bapenas, “Bolehkah
1 Juni sudah mulai tender?”. Daftar Isian Proyek
(DIP) itu konsepnya sudah matang, tinggal
ngetiknya, 1 Januari itu ­sudah selesai. Jadi untuk
proyek itu uangnya ada sekian jadi bisa diadakan
tender terlebih dahuli dengan catatan kontrak tidak
boleh ditandatangani dulu. Begitu 1 April baru
tanda tangan. Jadi pengerjaan infrastruktur harus
menjaga kemitraan, kejujuran dan kecerdasan.
• Bergerak cepat itu mencari pemecahan dengan
pendekatan efektif dulu, sedang bertindak
tepat berorientasi efisien. Kedua-duanya harus
dilakukan dengan keseimbangan dan membangun
infrastrukur yang berkualitas.
• Orang bekerja keras karena diberikan tanggung
jawab penuh dan tidak terlalu diintervensi, tetapi
dimintakan tanggung jawab dan tidak dilepaskan.
• Ketika ada gedung kebakaran, keberhasilan
penyelemataan bukan hanya terletak pada
kemampauan bergerak dalam pemadaman, namun
kemampuan dalam bertindak tepat. Tepat dalam
perencanaan dan pembangunan untuk pembuatan
tangga darurat, tepat dalam menyiapkan dan
­merencanakan sumber air untuk pemadaman.

Keberhasilan moto pada waktu dulu karena


organisasi, tata cara dan tata laksana sudah
terbangun, kompetensi personil sudah terbina
dengan baik. Saat ini, semuanya itu ­boleh dikatakan
baru, karena struktur organisasi dan tata laksana
serta tugas dan fungsi ­(tusi) belum lama kembali
seperti masa dulu. Penataan sistem manajemen yang
baik dapat ditunjukkan dalam tusi yang jelas, tidak
tumpang tindih dan tidak ada yang void (kosong).

Budaya Kerja
107
PNS Pekerjaan Umum
Pada umumnya para pemimpin Kementerian
PU mempunyai dedikasi dan kualitas yang dapat
dibanggakan. Dahulu memang pimpinan umumnya
berkualitas semua, sehingga dapat dijadikan contoh
langsung bagi generasi selanjutnya. Jadi perilaku
pimpinan menjadi teladan yang hidup dan diikuti
stafnya. Berikut ini gambaran konkrit dari budaya
kerja yang dapat ­dicontoh dan dikembangkan pada
perilaku pegawai Kementerian PU.

B. CONTOH NYATA BUDAYA KERJA

Berikut ini akan diuraikan contoh-contoh


yang nyata implementasi dari nilai-nilai yang berubah
menjadi budaya kerja di lingkungan Kementerian
PU. Contoh-contoh ini diambil dari pengalaman
para pendahulu di Kementerian PU.

BUDAYA BEKERJA KERAS


• Bekerja keras menuntut seseorang tidak boleh
kerja asal asalan.
• Melakukan tugas yang diembannya tanpa
pamrih.
• Bekerja tidak asal jadi, tidak setengah-setengah,
bekerja sampai tuntas.
• Kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas
­(kerja smart), karena perkembangan teknologi.
Pegawai Kementerian PU harus terus mengikuti
perkembangan teknologi di ­bidangnya dan
mencari cara yang paling baik ­­(best ­practices).
• Bekerja di proyek pembuatan jalan, yaitu
mengaspal ­jalan sampai jam 01.00 dini hari baru
berhenti bekerja.
• “Karena kita sudah bekerja di Kementerian PU,
maka harus melakukan sesuai dengan penugasan
dan peraturan. Bekerja bukan hanya disiplin dalam

Budaya Kerja
108
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

pengertian sempit, masuk jam sekian pulang jam


sekian”. ­” Kalau saya dari segi kehadiran, saya
­selalu melihat kalau atasan belum pulang, saya
nggak mau pulang, ada rasa malu”.
• Bekerja karena beban pekerjaan, sehingga
melembur malam hari, bahkan sampai pagi
adalah hal yang ­biasa.
• Seorang Direktur yang menyiapkan kedatangan
­Presiden, Menteri PU dan Menteri lain, harus
bekerja di Kantor sampai jam 20.00 kemudian
langsung ke lokasi supervisi sampai jam 02.00.
Kemudian pagi hari langsung sibuk dengan acara
penyambutan.
• Disiplin terhadap waktu kerja, bekerja dengan
memanfaatkan teknologi informasi yang ada,
bekerja keras berarti harus smart thinking.
• Karena masih banyaknya permasalahan
yang ­ditemui, maka budaya bekerja keras
sangat diperlukan. ­Banyaknya persoalan dan
permasalahan yang dihadapi hanya dapat
diselesaikan dengan bekerja secara sungguh-
sungguh (all out).
• Karena di Pusdata harus menyiapkan dan
menyediakan sarana dan prasarana pengolahan
data dan informasi yang handal maka operasional
sistem ­jaringan komputer harus disiapkan dengan
sebaik-baiknya untuk itu diperlukan kerja keras.
• Ada pimpinan memberikan perintah penting,
kemudian bawahannya bertanya. “Kapan harus
­selesai Pak?”, dijawab ”Besok sebelum Subuh di
antar ke rumah ya!!”. Karena hasilnya besok pagi
akan dibawa rapat d ­ engan P
­ residen.
• Beberapa orang mengimbangi dengan bekerja
keras ­dengan mengelola model kerja yang
bervariasi dan ­kecerdasan (kerja smart).
• Suatu ketika saya ditugaskan PU ke Propinsi

Budaya Kerja
109
PNS Pekerjaan Umum
Maluku mewakili lembaga KOTOE untuk dapat
bertemu Gubernur. Pada waktu itu tidak mudah
untuk dapat bertemu dengan Gubernur. Kami
harus menunggu beberapa hari sampai suatu saat
di tengah malam, sekitar jam 2 pagi kami diberitahu
bahwa kami harus siap bertemu dengan Gubernur.
Kami langsung menuju kantor Gubernuran untuk
memenuhi panggilan bertemu Gubernur. Suatu
surprise besar bagi kami, bahwa di larut malam
atau subuh itu Gubernur berada di suatu ruang
rapat yang dipenuhi dengan semua staf Dinas-
Dinas dan pejabat lain yang mendampinginya.
(Hendropranoto S., 2010).

BUDAYA BERGERAK CEPAT


• Bekerja dengan berubah-ubah jadwal ­(schedule)
karena menyesuaikan keadaan alam (cuaca dan
­kondisi).
• Kalau ada penugasan jangan ditunda-tunda.
Bersifat cepat tanggap atas segala kejadian.
Sekalipun bergerak cepat, maka tetap lakukan
cek ­dengan teliti dan selesaikan segera dan tidak
nanti-nanti (menunda-nunda).
• Karena banyak persoalan-persoalan yang harus
diselesaikan di bidang PU, sehingga perlu bergerak
cepat agar visi, misi dan tujuan kementerian juga
cepat tercapai.
• Ada ekspresi cara mengungkapkan bagaimana
harus Bergerak Cepat. Ketika seorang atasan
memberikan ­perintah pekerjaan, kemudian staff
bertanya: ”Kapan ­harus selesai Pak?” kemudian
sang atasan menjawab: ”Kemarin!”.
• Untuk bergerak cepat, maka orientasinya harus
kepada action, jadi contohnya kalau ada kejadian
jangan kita terlampau hitung-hitung, yang paling
baik memang efektif, efisien, tapi kalau menunggu
efisien itu lama, kita mesti ­berhitung dulu.

Budaya Kerja
110
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

• Bergerak cepat mementingkan tindakan nyata


dahulu, supaya masyarakat melihat PU itu
ada, walaupun yang kita lakukan itu mungkin
tidak efisien, yang ­penting kita ada di situ. Jadi
mementingkan efektivitas daripada efisiensi
dalam posisi-posisi tertentu.
• Pada waktu terjadi banjir, semua unit kerja yang
­berdekatan dengan lokasi, mengerahkan alat
beratnya.
• Jika terjadi kekeringan, Ditjen Pengairan cepat
memerintahkan unitnya untuk menyiapkan pompa
air, atau mengerahkan tanki air untuk keperluan
­penduduk.
• Bekerja dengan cepat sesuai dengan ritme alam.
­Contoh saat membuat jalan, bila musim hujan
berhenti dan musim kemarau berjalan.
• Mengerjakan tugas tepat waktu, tanggap terhadap
­keinginan masyarakat (complain) dari masyarakat,
bekerja ­dengan memperhatikan perkembangan
teknologi di luar.
• Dalam mengatasi masalah sistem informasi
jaringan komputer saat listrik mati, maka harus
segera diatasi dengan cepat karena hal ini ­sangat
berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan:
­pengolahan data, penyampaian informasi, contoh
E-­procurement.

BUDAYA BERTINDAK TEPAT


• Bekerja dengan tepat rencananya, tepat
penyelesaian, serta rasional.
• Bertindak Tepat harus memahami rambu-rambu/
ketentuan hukum yang terkait dengan tugas yang
diembannya, agar tidak merugikan diri sendiri,
organisasi dan negara.
• Mengambil berkas dan inventaris dari tempatnya,
serta meletakkan atau menyimpan kembali pada
tempatnya.

Budaya Kerja
111
PNS Pekerjaan Umum
• Karena budaya ini yang paling sulit
implementasinya, maka perlu memantapkan tata
laksana dan meningkatkan kompetensi personil.
• Setiap perencanaan harus baik, harus ada ­inovasi
dan jangan hanya yang standar saja, perlu ada
penelitian. Balitbang dibentuk untuk memberi
masukan kepada perencanaan.
• Perlu bertindak tepat karena kepentingan
­profesionalisme dari seorang PNS dan sebagai
bentuk dari tanggungjawab PNS sebagai pelayan
­masyarakat.

• Melakukan pekerjaan sesuai dengan prioritas.


Bekerja sesuai keahlian/ profesi, bekerja ­sesuai
SOP/ prosedur standar, bekerja efektif (mempunyai
tujuan yang jelas), berkomunikasi dengan atasan
dan rekan kerja ­dengan baik.
• Budaya bertindak tepat merupakan hal yang
sangat ­penting, sesuatu yang telah dikerjakan
dengan sungguh-sungguh dan cepat tapi tidak
tepat sasaran, ­kondisi, waktu dan tempat maka
hasilnya akan sia-sia, untuk dapat bertindak tepat
harus dilandasi dengan ilmu dan data yang tepat.
• Tepat dalam memilih teknologi informasi yang
akan ­digunakan di Kementerian PU sesuai dengan
situasi, kebutuhan dari Kementerian PU.
• Tetapi jika ada aspek teknis maka perlu beradu
argumentasi, bisa saja yang muda lebih tepat
karena dia mempunyai argumen yang baik.

Budaya Kerja
112
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BUDAYA JUJUR BERLAKU


• Kebutuhan dalam bekerja nomor satu adalah
”dapat dipercaya”. Apalagi di PU yang saya
kenal, sekali kita berbuat menyimpang, habislah
karir kita, susah sekali dimaafkan karena banyak
saingan dan banyak orang berkualitas.
• “Jujur itu adalah kunci. Jujur itu membuat
seseorang bisa dipercaya. Walaupun menurut
saya kita agak kurang-kurang sedikit dari kualitas
kerja, ­namun kalau bisa dipercaya itu orang akan
kagum”.
• Taat Aturan (SOP). Seorang sopir bercerita kepada
pimpinannya yang menjadi pejabat di Kementerian
PU: ”Pak dulu ada ­Kasubdit di Direktorat Peralatan
Kementerian Pekerjaan Umum. Dulu waktu dia
mau pensiun mobil dinasnya itu diservis, kemudian
­­ke-empat bannya diganti baru kemudian baru
dikembalikan.” ­Diskusi: Apakah sekarang masih
ada pejabat seperti ini?
• Jujur dengan Prosedur. Ada pejabat dimutasi
ke tempat lain. Saat menjabat ia mendapatkan
fasilitas 2 mobil, kemudian saat ­dipindahkan
kedua mobilnya ditinggal. Namun perilaku ini
membuat banyak orang malah bingung, karena
dikiranya marah. Kemudian di tempat yang baru
tersebut dia baru meminta fasilitas kendaraan
yang ada. Sementara di tempat lain ada pejabat
yang pensiun malah mobil dinasnya dibawa dan
tidak dikembalikan, itu perilaku yang tidak benar.

BUDAYA MENGABDI PENUH SETIA


• Bermakna militansi dan berdedikasi tinggi. Contoh
­Militansi diantaranya menggunakan teknologi
dalam Negeri sendiri. Banyak bukti produk kita
dicuri orang karena kita kurang membinanya,

Budaya Kerja
113
PNS Pekerjaan Umum
karena kurang ­menghargai dan tetap bergantung
kepada luar.
• Pengabdian penuh setia adalah militansi, yaitu
dalam arti strong leadership people. Dibutuhkan
orang yang tidak boleh ragu-ragu dalam berkerja
dan memutuskan.
• Energi Positif Kehidupan. “Saya bangga mendapat
penghargaan baik dari Menteri maupun dan
Presiden. Yang lebih membanggakan saya adalah
berhasilnya orang-orang yang pernah menjadi
anak buah saya”.

BUDAYA BERTAQWA KEPADA TUHAN YME


• Jangan sampai kita tidak mampu mempertanggung
­jawabkan semua berkas dan hasil pekerjaan kita
di ­depan auditor dunia, karena kita akan lebih
celaka ­mengikuti proses pemeriksaan di akhirat.
• Ujung dari semua kerja adalah untuk kedekatan
dan i­badah kepada Tuhan YME.
• Menyadari bekerja di Kementerian PU sebagai
jalan hidupnya. Semua yang sudah terjadi adalah
takdir, sehingga bersyukur ­dengan cara bekerja
dengan lebih baik.
• Setiap orang yang bekerja di Kementerian PU,
khususnya ­generasi muda yang baru bergabung di
Kementerian PU, maka harus segera memutuskan
untuk totalitas bekerja dan mampu meniatkan
bekerja dengan lkhlas. Kalau bekerja tidak ikhlas,
maka ­tidak akan bisa berkembang, sehingga
isinya hanya penyesalan, komplen dan marah
(nggrundel). Kerja itu harus ikhlas, ­kalau tidak
ikhlas, maka secara pribadi tidak berkembang dan
­secara organisasi malah membebani, akhirnya
kedua-duanya tidak mendapakan apa-apa.”

Budaya Kerja
114
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BUDAYA INOVASI
• Memperbaiki Citra dan Harga Diri. Setiap
Bulan Ramadhan dibuat tidak ada pemeriksaan
(dari Irjen Kementerian PU), karena kesan,
persepsi dan citra melakukan pemeriksaan di
­bulan Ramadhan adalah “pulang mau lebaran
dan pasti mencari THR. Bukan curiga, tetapi hati
saya sakit”. Maka akhirnya semua staff diikutkan
Diklat di Pasar Jum’at selama 3 minggu di setiap
Ramadhan, sama seperti tahun sebelumnya,
dan mereka akan diberikan uang saku lebih
besar daripada uang yang diterima saat mereka
melakukan pemeriksaan. Itu termasuk di dalam
PP 60 tentang sistem pengendali interen. Ada 2
fungsi, yaitu pengendalian dan pengawasan.
• Boleh salah, tetapi tidak boleh dosa.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Setiap
karyawan didorong untuk maju dan harus
berbicara, mula-mula salah tidak apa-apa.
Siapa bilang salah itu boleh, yang tidak boleh
itu bikin dosa. Kita akan belajar dari kesalahan.
Menemukan kerusakan ­mobil itu jauh lebih mahal
dari pada memperbaikinya. Jadi ­idenya itu yang
mahal, dan bagaimana menghargai bahwa konsep
pikiran dari lembaga umum ini menjadi sesuatu
yang sangat ­penting.
• Mengembangkan Sistem Baru. Saya masuk pertama
kali di PROSIDA (Proyek Irigasi dengan bantuan
International Development Association) sebelum
PIBD (Proyek Irigasi dengan bantuan Bank Dunia). Itu
proyek pertama di Indonesia yang dibantu dari asing.
Jadi pada waktu itu tidak ada aturan di Indonesia
tentang bagaimana ­mengelola proyek bantuan luar
negeri, ­sehingga memberikan saya dorongan untuk
mengembangkan sistem. Sistemnya tentu berbeda
dengan s­ ekarang, tapi awalnya dari situ.

Budaya Kerja
115
PNS Pekerjaan Umum
• Menurut Hendropranoto S. (2010) Gagasan
‘perbaikan kampung’ (KIP), P3KT, air bersih
IKK, konsep Tribina dll, adalah contoh-contoh
gagasan orisinil Indonesia. Pengalaman saya
mengembangkan proyek - proyek dengan Bank
Dunia mengajarkan bahwa kalau kita mampu
berargumentasi secara cerdas dan logis akhirnya
lembaga itu akan mengikuti pola pikir kita.

BUDAYA KERJASAMA
• Kolaborasi Lintas Unit. Pengembangan wilayah
tidak bisa bekerja dengan persepsi sendiri-
sendiri. Mulai dari data tata ruang, jalan, air
termasuk permukiman. Karena pembangunan
ini ujung-ujungnya adalah untuk kesejahteraan
masyarakat, sehingga jangan sampai jalan diaspal
kalau disitu tidak ada orang dan kendaraan
bermotornya, sehingga tidak ada dampaknya
untuk ­kesejahteraan masyarakat, berarti ­tidak
tepat sasaran.
• Kebersamaan untuk Keunggulan Kinerja.
Kementerian Pekerjaan Umum sebagai tempat
pembelajaran terus menerus, yang mampu
berkreasi dan bangga atas pekerjaan dan pemikiran
yang besar, yang mandiri dalam bertindak dan
tidak mudah dikendalikan oleh unsur-unsur luar,
yang menjalin kerjasama horisontal dan vertikal
serta ke dalam dan ke luar dengan semangat
kebersamaan dan keterpaduan, yang dapat
bekerja secara cerdas dan dengan nurani untuk
menghasilkan pekerjaan yang bermutu tinggi
dan mampu menjawab kebutuhan dan tantangan
masyarakat Indonesia di masa yang akan datang
dengan tepat sasaran. (Hendropranoto S., 2010).
• Kerjasama tim untuk mencapai sasaran. Kita ini
selalu bekerja team work, itu harus dan tidak bisa

Budaya Kerja
116
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

kita bekerja sendiri. Dalam rangka pengembangan


wilayah itu tidak bisa pekerjaan berjalan sendiri, baik
Binamarga atau SDA. Pekerjaan dimulai dari tata
ruangnya baru di isi oleh infrastruktur. Infrastruktur
itu ada 5, transportasi, SDA, perumahan dan
pemukiman, energi dan telekomunikasi itu
adalah yang namanya infrastruktur. Dari 5 buah
di atas, 3 buahnya ada di DPU. Jadi corporate
culture DPU selalu bekerja berdasarkan team
work karena pengembangan wilayah tidak bisa
bekerja dengan persektor sendiri-sendiri. Mulai
data dari tata ruangnya, jalannya, airnya termasuk
pemukimannya. Karena pembangunan ini ujung-
ujungnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat.
Ngapain bikin aspal atau jalan beraspal kalau di
situ tidak ada orangnya, tidak ada dampaknya
untuk kesejahteraan masyarakat berarti tidak
tepat sasaran. (Basuki, 2009)..

BUDAYA EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI


• Ini Kementerian PU, bukan PT Pekerjaan
Umum. Sekarang mobil dinas kita berapa? Satuan
jabatan struktural di PU ada 1300, tapi mobilnya
lebih dari 3000 buah, ke mana saja itu?. Itukan
uang Negara semua!!. Sementara yang berhak
tidak dapat, sedangkan yang tidak berhak malah
mendapat, atau yang berhak tapi mendapatkan
jatah yang lebih.
• Ketika recovery pasca tsunami, PU menggunakan
banyak peralatan berat. Hal ini tidak efisien dilihat
dari biaya yang digunakan. Namun efektif untuk
menyelesaikan persoalan dengan cepat.
• Jika pembangunan jalan hanya mementingkan
sisi efisien namun tidak menghitung beban
penggunaan jalan dan kualitasnya, maka seringkali
jalan cepat rusak.

Budaya Kerja
117
PNS Pekerjaan Umum
BUDAYA RESPONSIF
• Inisiatif Untuk Bertindak. Orang yang bekerja
di Pekerjaan Umum ­tidak boleh ragu-ragu, dia
harus berkerja sesuai dengan ­kewenangannya
untuk mengambil keputusan (cepat, ­tepat). Karena
kalau misalnya ada kondisi darurat dia ­tidak perlu
lagi menunggu petunjuk, jadi harus memutuskan
dengan segala resikonya.
• Bertindak cepat sesuai dengan nurani dan
fungsi. Budaya kerja responsif membutuhkan
sifat militansi dalam arti strong leadership people.
Orang yang berkerja di PU tidak boleh ragu-ragu
dia harus berkerja sesuai dengan kewenangannya
untuk mengambil keputusan (cepat, tepat). Karena
kalau misalnya ada kondisi darurat dia tidak perlu
lagi menunggu petunjuk, jadi harus memutuskan
dengan segala resikonya. Jadi strong leadership
people itu bisa mengemban amanahnya dengan
baik beserta resikonya. (Basuki, 2009).

BUDAYA KEMITRAAN
• Pada awalnya waktu saya Dirjen Ciptakarya
mengembangkan “Social Setting Net”, pada
waktu itu saya berpikir bahwa pengembangan
itu jangan ­sekedar ­memberikan pekerjaan pada
orang untuk ­pemeliharaan ­saluran, tetapi harus
mengembangkan kelompok ­masyarakat yang relatif
miskin itu untuk bisa tumbuh, maka dimunculkan
sistem pemberdayaan. ­Pemberdayaan itu artinya
mereka bukan ditumbuhkan tapi mereka dimotivasi
untuk bisa tumbuh sendiri. Jadi mereka kita
berdayakan, hal itu untuk mampu menumbuhkan
dirinya sendiri. (Gembong, 2009).
• ”Saya membuat proposal dan proposal itu
tertulis dalam bentuk buku dan Saya sampaikan

Budaya Kerja
118
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

pada Gubernur. ­Kalau saya mengikuti sebagai


Pemerintah hasil saya nol. ­Pengeluaran saya
begini begitu tanpa ada produksi. Usul saya,
“Pak Gubernur bisa atau tidak menyediakan atau
meminjamkan uang sama saya, nanti saya bayar
dengan Surat Keputusan Otorisasi (SKO)”. Karena
Pemerintah Kalimantan itu ­banyak uang, karena
dia punya Alokasi Devisa Otomatis. Kalau dia
mengekspor kayu dia bisa dapat uang banyak.
Mereka bilang ”setuju Pak Hendro”, ”Bapak saya
beri ­rekomendasi untuk berhubungan dengan
Bank Pembangunan Daerah”, walaupun dengan
bunga 2,5% pertahun, tapi lebih baik daripada
saya tidak kerja kemudian saya ikuti aturan itu,
saya pinjam. Saya bekerja penuh, uang datang,
bayar pinjaman ditambah bunga 2,5% pertahun
dan progam berjalan”. ­(Hendro, 2009).
• Gagasan yang dikenal dengan nama P3KT
(Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu)
pada awalnya menggagas melaksanakan proyek -
proyek pembangunan perkotaan secara terpadu.
Melalui gagasan itu dilakukan pergeseran tata
kelola perencanaan dan penyusunan program
secara nasional dari yang semula ‘terkotak-
kotak’ dan ‘terpusat’ menuju pada sistem yang
‘terpadu’ dan ‘terdesentralisasi’ ke semua
daerah. Mekanisme demikian sangat cocok untuk
pembangunan prasarana perkotaan yang memang
hakekatnya merupakan tugas otonomi pemerintah
daerah. (Hendropranoto S., 2010).

Berikut ini sajian tabel yang menggambarkan


wilayah implementasi baik secara pribadi, hubungan
sosial dan teamwork serta organisasi.

Budaya Kerja
119
PNS Pekerjaan Umum
Tabel Implementasi Budaya Kerja

No Ranah Sub Dimensi ukuran


Budaya Ranah implementasi
1 Dengan Spiritual Keikhlasan, Jujur,
Diri Sendiri Integritas, Bermoral
(Pribadi) tinggi
Emosional Kecerdasan emosi,
Dedikasi, Tanggung
jawab, Komitmen,
Semangat, Motivasi,
Keteguhan dan
Ketegasan,
Keberanian,
Kesabaran,
Intelektual Kreativitas, Inovasi,
Prakarsa, Rasionalitas,
Fisik Sehat, Kuat dan Enerjik
Aktivitas Disiplin, Konsisten,
Ketekunan dan
Keteraturan kerja.
2 Hubungan Keluarga Harmoni, Kerjasama.
Sosial Tim Kerja Kebersamaan,
Dinamika kelompok
kerja, Kerjasama,
Kesetiaan, Kesatuan
dan Persatuan.
Atasan Kepemimpinan,
Bawahan Keteladanan, Ketaatan
Masyarakat Kepekaan, Responsif,
(publik) Pelayanan, Netralitas ,
Keadilan, Keterbukaan
(transparansi),
3 Dalam Organisasi Kuantitas, kualitas,
Organisasi Produktivitas,
Prestasi kerja,
Ketepatan, Kecepatan,
Professional, Efektif,
Efisien, Penguasaan
iptek
Negara Loyalitas, Kesetiaan,
Nasionalisme,
Semangat jiwa Korps
Korpri/ Aparatur.

Budaya Kerja
120
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

C. IMPLEMENTASI PRIBADI

• Beribadah sesuai dengan agamanya dengan baik.
• Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi
yang tidak benar.
• Bertindak dengan penuh kesungguhan dan
ketulusan.
• Memiliki daya juang yang tinggi dalam bentuk
­kesabaran, keuletan dan disiplin.
• Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas
pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap
yang dapat menunjang kelancaran pekerjaan.
• Memelihara kesehatan jasmani dan rohani untuk
dapat bekerja kerjas, bergerak cepat dan bertindak
tepat.
• Mewujudkan pola hidup sederhana.
• Selalu berperilaku efektif dan efisien dalam
penggunaan sumber daya (air, listrik, telepon,
kertas, keuangan dll).
• Selalu mencari cara terbaik dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
• Berpenampilan sederhana, rapih, dan sopan.
• Menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok,
maupun golongan.
• Menjaga citra baik aparatur di manapun
tempatnya.

D. IMPLEMENTASI HUBUNGAN
SOSIAL

Hubungan Dengan Keluarga

• Tidak membawa rizki haram untuk keluarga.


• Seorang istri pimpinan proyek yang dekat dengan
bawahan suaminya dan tidak sombong, bahkan
melayani dengan baik kepada staf suaminya.

Budaya Kerja
121
PNS Pekerjaan Umum
• Nasihat seorang pimpinan kepada istrinya: ”Kamu
­jangan sampai sombong, semena-mena dan
menyakiti istri staf saya, karena bisa jadi suatu
saat suami mereka akan menjadi atasan saya”.
• Mendidik putra-putrinya untuk mandiri dan tidak
merepotkan dan mendukung pekerjaannya.

Hubungan Dengan Sesama Teman Kerja

• Saling menghormati sesama warga negara yang


memeluk agama/ kepercayaan yang berlainan.
• Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama
aparatur.
• Saling menghormati antara teman sejawat, baik
­secara vertikal maupun horizontal dalam suatu
unit kerja, ­instansi, maupun antar instansi.
• Menghargai perbedaan pendapat.
• Menjunjung tinggi harkat dan martabat aparatur.
• Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif
sesama aparatur.
• Menjaga sikap peduli, kerjasama dan
kesetiakawanan untuk mewujudkan solidaritas
dan soliditas semua aparatur.
• Bersifat tanggap terhadap keadaan lingkungan
masyarakat dan segera memberikan respons
positif.

Hubungan Dengan Atasan atau Bawahan

• Menjaga hubungan sesuai dengan tugas,


kewenangan dan tanggung jawabnya.
• Berani memberi masukkan sesuai dengan yang
dimilikinya.
• Memberi masukan kepada atasan, karena
pengetahuan, kompetensi, bidang keahlian dan
tugas/ jabatan yang dimilikinya.

Budaya Kerja
122
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

• Selalu membimbing dan menumbuhkan potensi


setiap aparatur untuk berbagi pengetahuan,
pengalaman dan keahlian, serta selalu
menumbuhkan tradisi pembelajaran bersama.
• Selalu bersikap adil, terbuka dan menjalin
komunikasi.

Hubungan Kepada Masyarakat/ Lembaga

• Memberikan pelayanan dengan empati hormat


dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur
pemaksaan.
• Memberikan pelayanan secara cepat, tepat,
terbuka, dan adil serta tidak diskriminatif.
• Bersifat tanggap terhadap keadaan lingkungan
masyarakat.
• Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan
­masyarakat dalam melaksanakan tugas.
• Membangun kemitraan dan berkolaborasi untuk
­mewujudkan masyarakat dan bangsa menjadi
lebih baik.

E. IMPLEMENTASI ORGANISASI

Pekerjaan

• Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai


ketentuan yang berlaku.
• Menjaga informasi yang bersifat rahasia,
• Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan
oleh pejabat yang berwenang.
• Membangun etos kerja untuk meningkatkan
kinerja organisasi.
• Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit
kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian
­tujuan.

Budaya Kerja
123
PNS Pekerjaan Umum
• Terus belajar agar dapat memiliki kompetensi
dalam pelaksanaan tugas.
• Patuh dan taat terhadap standar operasional dan
tata kerja.
• Mengembangkan pemikiran secara kreatif
dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja
organisasi.
• Berorientasi pada upaya peningkatan kualias
kerja dan pelayanan prima

Negara

• Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan


Undang-Undang Dasar 1945.
• Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan
negara.
• Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
• Menaati semua peraturan perundang-undangan
yang berlaku dalam melaksanakan tugas.
• Akuntabel dan transparan dalam melaksanakan
­tugas penyelenggaraan pemerintahan yang
bersih dan ­berwibawa.
• Bersikap tanggap, terbuka, jujur, dan akurat,
serta ­tepat waktu dalam melaksanakan setiap
kebijakan dan ­program Pemerintah.
• Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber
daya Negara secara efisien dan efektif.
• Tidak memberikan kesaksian palsu atau
keterangan yang tidak benar.

Budaya Kerja
124
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PENUTUP

Kejayaan
adalah buah dari tekad dan
kerja keras.
French Field Marshal Foch.

Budaya Kerja
125
PNS Pekerjaan Umum
Sikap Mental
Manusia Berkualitas Mempunyai
etos kerja yang tinggi,
bersedia bekerja keras,
melaksanakan tugas dengan
dedikasi untuk mendapatkan
hasil yang optimal, berdisiplin
dalam bekerja termasuk disiplin
waktu, dan berminat untuk
terus belajar.
(Suyono Sosrodarsono)

Budaya Kerja
126
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

BAB 11
PENUTUP

Belajar dan mengajar secara


berkesinambungan harus menjadi
bagian dari pekerjaan.
Peter Druker.

Budaya Kerja
127
PNS Pekerjaan Umum
D
iharapkan dengan terbitnya Buku Budaya
Kerja PNS PU, akan dapat menginspirasi
banyak pemikiran baru. Penulisan buku ini
dilakukan dengan menelaah secara mendalam dari
sejarah, tokoh, pejabat, pakar dan produk kebijakan
di lingkungan PU yang akan menjadi pemandu bagi
pembangunan sumber daya manusia PNS PU di
masa akan datang.

Gagasan besar selanjutnya dari misi


penulisan Buku Budaya Kerja PNS PU adalah
melakukan sosialisasi dan internalisasi sehingga
menjadi budaya yang lebih nyata untuk berkarya.
Diharapkan seluruh pihak dapat mengembangkan
produk-produk turunannya untuk kebutuhan
penjelasan yang lebih detail, mengembangkan
contoh-contoh yang lebih nyata di tempat kerja
masing-masing, serta mewariskan pada generasi
selanjutnya.

Kita harus mampu mencetak insan-insan


pekerjaan umum yang mampu menghargai sejarah
dan apa - apa yang unggul dan istimewa baik yang
pernah dicapai dalam masa sebelumnya, serta
memiliki kreativitas dan kemampuan visioner untuk
melihat permasalahan pembangunan yang dituntut
masyarakat yang dilayaninya di masa yang akan
datang.

Semoga dengan sosialisasi dan internalisasi


secara lebih luas melalui berbagai bentuk, maka

Budaya Kerja
128
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

gagasan-gagasan besar dari para pendahulu ini


dapat membuat lebih baik lagi kiprah warga PU di
masa yang akan datang.

Ada pepatah mengatakan bahwa “bukan


aib orang yang tidak tahu, namun aib jika tidak tahu
namun tidak mau tahu atau pura-pura tahu”. Semoga
produk ini dapat menjadi sumber belajar dan rujukan
untuk menggali Budaya Kerja PU, karena faktanya
banyak orang PU yang tidak mengetahui Sejarah
Sapta Taruna, Mars PU dan Makna Logo PU yang
menjadi spirit Budaya Kerja PNS PU.

Diharapkan dengan isi tulisan yang


tervalidasi melalui wawancara banyak tokoh, serta
desain buku yang membuat enak dibaca dapat
mendorong warga PU untuk mengetahui lebih jauh
makna Budaya Kerja PNS PU.

Budaya Kerja
129
PNS Pekerjaan Umum
DAFTAR PUSTAKA
SUMBER PERATURAN

• UU no 17 Tahun 2007 tantang Rencana


Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
Tahun 2005 – 2025.
• PP No 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.
• PP No 10 Tahun 1979 tentang Penilaian
Pelaksanaan P
­ ekerjaan Pegawai Negeri Sipil.
• PP No. 30 tahun 1980 tentang Disiplin PNS.
• Kepmen PAN No. 25/ KEP/M.PAN/4/2002 Tentang
­Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur
­Negara.
• Permen PAN No. PER/ 15/M.PAN/ 7/ 2008
Tentang ­Pedoman Umum Reformasi Birokrasi
beserta lampirannya.
• Kepmen PU. No. 150/A/KPTS/1966 Tanggal 10
Nopember 1966 tentang Lambang Departemen
Pekerjaan Umum.
• Kepmen PU No. 426/ KPTS/ 1986 tanggal 16
September 1986 tentang Mars Departemen
Pekerjaan Umum.
• Permen PU Nomor: 03 /PRT/M/2007 Perubahan
Atas ­Permen DU No 51/PRT/2005 tentang
Rencana Strategis Departemen Pekerjaan Umum
tahun 2005 – 2009 beserta lampirannya.
• Permen PU No 04/PRT/M/2009 Tentang Sistem
­Manajemen Mutu (SMM) Departemen Pekerjaan
Umum.

Budaya Kerja
130
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

SUMBER LITERATUR

• Balitbang PU. 2007. Membangun Balitbang


dengan Kekuatan SDM: Militansi, Konsistensi,
Inovasi. Jakarta: Balitbang PU.
• Biro Kepegawaian dan Ortala Departemen
Pekerjaan Umum, 2008, Kumpulan Ketentuan
Implementasi Reformasi Birokrasi.
• Biro Kepegawaian Departemen Pekerjaan
Umum. 2008. Budaya Kerja: Bekerja Keras,
Bergerak Cepat, Bertindak Tepat. Jakarta: Biro
Kepegawaian PU.
• Budi setiyono & Bonnie Triyana, 2005. Revolusi
Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden
Soekarno, 30 September 1965 - Pelengkap
Nawaksara. Yogyakarta: Ombak & Mesias
• Collins, Jim, Good To Great (Baik Menjadi Hebat).
Batam: Karisma Publishing Group
• Diklat Teknis Manajemen SDM PNS. Departemen
Dalam Negeri dan Lembaga Administrasi Negara
(LAN).
• Enam Puluh Tahun Departemen PU. Jakarta:
Departemen PU 2005
• Hasil Workshop Mentor tentang Budaya Kerja Biro
Kepegawaian Departemen Pekerjaan Umum.
• Internalisasi Good Corporate Governance.
2005. The ­Indonesian Institute for Corporate
Governance.
• Lewis, James P. 1995. Project Planning,
Scheduling and Control. Chicago: Irwin
• Majalah Air, Bulan Desember 2002.
• Majalah ITS Edisi ke tiga

Budaya Kerja
131
PNS Pekerjaan Umum
• Ndraha, Taliziduhu. 2003. Budaya Organisasi.
Jakarta: Rineka Cipta
• Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur
Negara. Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara.
• PPM, Kamus Istilah Manajemen. Jakarta: PPM
• Wibowo, B.S., 2008. Human Capacity Building.
Jakarta: Trustco
• Widajat, Rochmanadji. 2009, Being a great and
­sustainable hospital. Jakarta: PT Gramedia.
• www.menpan.go.id Draft Sasaran Kerja Individu
(SKI) dan Perilaku Kerja.
• www.pu.go.id. Sejarah Sapta Taruna.

Budaya Kerja
132
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Lampiran 01 :
DEFINISI OPERASIONAL
1. Bermoral; perbuatan, sikap atau tindakan yang
menyandarkan pada pertimbangan baik dan
buruk atau kondisi mental yang membuat orang
tetap berani, bersemangat, bergairah, ­berdisiplin
sesuai dengan adat atau hukum yang berlaku.
2. Dedikasi dan Loyalitas; Dedikasi dan loyalitas
adalah ­sifat rela berkorban dan jiwa pengabdian
terhadap ­instansi, ­bangsa, negara, taat dan setia
dalam menjalankan tugas dan ­kewajibannya.
3. Dinamika kelompok kerja; Dinamika kelompok
adalah sikap dan perilaku suatu kelompok yang
teratur yang anggotanya mempunyai kepentingan
dan tujuan yang sama. ­Dinamika ­kelompok ini
merupakan cara kerja kelompok yang ­bersifat
dinamis, kreatif dan sinergi dalam melayani dan
atau m
­ encapai sasaran kerja secara menyeluruh.
4. Disiplin; Disiplin adalah kepatuhan pada
peraturan/ tata ­tertib (Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Disiplin adalah ­tindakan yang
dilakukan seorang atasan atau ­institusi ­untuk
membentuk, memperbaiki dan meningkatkan
pengetahuan, ­keterampilan dan sikap karyawan
dalam melaksanakan ­peraturan dan standar
organisasi. Disiplin lebih menunjuk pada sikap
yang selalu taat pada aturan, norma, dan prinsip-
prinsip tertentu.
5. Dukungan; Dukungan adalah dorongan, sokongan
atau ­bantuan kepada orang lain agar orang tersebut
menjadi lebih memberkan prestasi atau hasil baik
secara kualitas maupun kuantitas. Dukungan
yang diberikan oleh orang –orang ­terdekat seperti
suami atau istri dan anak - anak akan ­berdampak
pada prestasi kerja yang lebih baik.

Budaya Kerja
133
PNS Pekerjaan Umum
6. Efektif; suatu besaran untuk menunjukkan sampai
seberapa jauh sasaran (target) dapat tercapai.
7. Efisien; suatu besaran yang menunjukkan
sampai seberapa jauh sumber daya berhasil
dimanfaatkan.
8. Harmoni; Harmoni adalah adanya keserasian
atau keselarasan dengan orang lain, ketentuan
atau aturan yang berlaku serta lingkungan
sekitar.
9. Inovasi; Inovasi adalah menemukan sesuatu
yang baru yang berbeda dari yang sudah ada atau
sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode dan
alat).
10. Integritas; Integritas adalah keadaan yang
menunjukkan ­kesatuan yang utuh dalam ucapan
dan tindakan sehingga ­menimbulkan potensi yang
memunculkan kewibawaan.
11. Jujur; Kejujuran, adalah ketulusan hati seseorang
dalam ­melaksanakan tugas dan kemampuan
untuk tidak ­menyalahgunakan wewenang yang
diberikan kepadanya. Kejujuran ­berarti pula
keberanian untuk mengatasi dirinya sendiri,
berani menolak dan bertindak melawan segala
kebathilan yang ­bertentangan dengan suara hati
atau kalbunya.
12. Keadilan; Keadilan adalah memperlakukan
orang lain ­sesuai dengan fungsi, peran dan
tanggung jawabnya dengan ­memperhatikan hak
dan kewajiban.
13. Keberanian; Keberanian diartikan sebagai berani
menanggung resiko dalam pembuatan keputusan
dengan cepat dan tepat waktu (peran EQ lebih
besar daripada IQ).

Budaya Kerja
134
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

14. Kebersamaan; Kebersamaan (togetherness)


adalah suatu ­sikap dan perilaku sekelompok
individu yang secara bersama - sama pada suatu
ruang dan waktu yang sama menunjukkan tingkah
laku secara spontan. Kebersamaan dimaksudkan
sebagai suasana hati yang merasakan dirinya
bagian dari satu kelompok kerja tertentu sehingga
tumbuh perasaan bersama dalam kelompok yang
kuat yang melahirkan ­kelompok kerja dan sinergi
dalam melaksanakan tugas bersama.
15. Kecepatan; Kecepatan artinya menggunakan
waktu, kuantitas, kualitas dan finansial yang
sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan
dan pemberian pelayanan ­masyarakat.
16. Kecerdasan Emosi; Kecerdasan emosi
memandang sesuatu dari aspek perasaan (emosi),
matahati (Emotional Quotient/ EQ), terletak
pada otak sisi kanan, bersifat spontan, kreatif,
inovatif, holistik, integratif, komunikatif (perasaan,
kepekaan, bagian dari karakter, ­ketangguhan).
17. Keikhlasan; Ikhlas berarti bahwa seseorang
aparatur negara rela sepenuh hati, dan tidak
mengharapkan imbalan atau balas jasa atas suatu
perbuatan, khususnya yang berdampak positif
pada orang lain, serta semata – mata menjalankan
­tugas/ amanah demi Tuhan (Lillahi ta’ala).
18. Kepekaan; Kemampuan seseorang untuk
merasa atau ­merespon suatu peristiwa atau
kejadian. Respon dapat bersifat reaktif maupun
proaktif. Jika fungsi kepekaan ini dimiliki oleh
aparatur dalam organisasi, mereka akan cepat
­menyesuaikan diri dengan perkembangan yang
terjadi di luar lingkungan organisasi dan peluang
untuk menyelamatkan diri dan organisasi lebih
dini dapat disiapkan.

Budaya Kerja
135
PNS Pekerjaan Umum
19. Kepemimpinan; Kepemimpinan, adalah
kemampuan seorang Pegawai Negeri Sipil
untuk meyakinkan orang lain sehingga
dapat dikerahkan secara maksimal untuk
melaksanakan t­ugas pokok.

20. Kerjasama; Kerjasama, adalah kemampuan


seseorang ­untuk bekerja bersama-sama
dengan orang lain dalam ­m enyelesaikan suatu
tugas yang ditentukan, sehingga mencapai
dayaguna dan hasilguna yang sebesar-
besarnya.

21. Kesabaran; Kesabaran berarti tidak emosional,


­t idak ­tergesa-gesa, asalkan tercapai tujuannya
tanpa ­m engorbankan kepentingan orang lain.
Dalam kesabaran, termuat suasana hati yang
kuat dalam menghadapi tekanan, baik tekanan
berupa target pekerjaan atau godaan ­internal
(korupsi, penyalahgunaan jabatan) dan
eksternal (suap, k­ olusi, dan nepotisme).

22. Kesatuan dan Persatuan; Kesatuan dan


persatuan adalah ­kemampuan seseorang untuk
menggabungkan atau ­m engikatkan dirinya dan
atau sekelompok orang dan ­a khirnya menjadi
sebuah kelompok yang harmonis, saling
membantu atau tolong menolong.

23. Kesetiaan; Kesetiaan adalah tekad dan


kesanggupan mentaati melaksanakan, dan
mengamalkan sesuatu yang ­disertai dengan
penuh kesadaran dan tanggungjawab. Tekad
dan ­kesanggupan tersebut harus dibuktikan
dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta
dalam perbuatan dalam melaksanakan tugas.

Budaya Kerja
136
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

24. Ketaatan; Ketaatan artinya kesanggupan


mematuhi atau menuruti perintah atau aturan
yang telah ditetapkan. ­Misalnya, mentaati
peraturan undang – undang dan atau peraturan
­kedinasan, mentaati perintah kedinasan dan
mentaati ­ketentuan jam kerja.
25. Keteguhan dan Ketegasan; Keteguhan dan
Ketegasan. Keteguhan artinya kuat dalam
berpegang pada aturan, nilai moral, prinsip-prinsip
manajemen dan lain-lain. Ketegasan menunjuk
pada sifat, watak, dan tindakan yang jelas dan
­tidak ragu-ragu.
26. Ketekunan; Ketekunan berarti teliti, rajin
mendalami suatu pekerjaan/ tugas yang secara
konsisten dan berkelanjutan sesuai dengan
komitmen yang disepakati.
27. Keteladanan; Keteladanan berarti kesadaran
diri ­sebagai seorang pemimpin yang ditunjukan
melalui kemampuannya untuk mempengaruhi dan
menjadikan dirinya sebagai ­teladan, serta mampu
memotivasi orang lain terutama bawahannya
agar tergerak mencapai sasaran yang lebih
tinggi berdasarkan nilai-nilai moral, yaitu
integritas, komitmen, ­konsistensi, profesional dan
kemampuan komunikasi.
28. Ketepatan; Ketepatan artinya mengenai sasaran,
mencapai tujuan, ketelitian, dan bebas dari
kesalahan.
29. Keteraturan dalam bekerja; Keteraturan lebih
menunjuk pada perilaku konsisten mengikuti
ketentuan dan prosedur ­tertentu. Keteraturan
kerja berarti mengikuti jadwal dan sistem kerja
yang tersusun dan terencana secara baik.

Budaya Kerja
137
PNS Pekerjaan Umum
30. Keterbukaan (transparansi); Keterbukaan yaitu
seseorang yang dalam menjalankan tugas tidak
melakukan ­kegiatan ­secara sembunyi-sembunyi
dan tidak menimbulkan ­prasangka tidak baik.
31. Komitmen; Komitmen artinya keteguhan hati,
tekad yang ­mantap dan janji untuk melakukan
atau mewujudkan ­sesuatu yang diyakini.
32. Konsisten; Konsisten adalah keadaan yang
tetap dan ­tidak berubah-ubah. Seseorang yang
memiliki konsistensi yang tinggi akan senantiasa
memegang teguh ­prinsip, perbuatan, kata-
katanya sehingga sesuai d­ engan p­ erbuatan.
33. Kreativitas; Kreativitas adalah kemampuan
untuk ­menghasil­kan/ menciptakan sesuatu yang
baru. Ide-ide baru yang muncul harus diolah
menjadi sesuatu yang inovatif sehingga dapat
diaplikasikan pada kerja individu atau organisasi
yang lebih baik atau menguntungkan.
34. Motivasi; Motivasi adalah suatu keadaan internal
yang t­imbul untuk melakukan tindakan, dorongan
secara langsung, dan memelihara dorongan
tersebut untuk tetap melakukan ­aktivitas tertentu.
Motivasi lebih merujuk pada tujuan dari perilaku
yang dasarnya adalah kebutuhan dari perilaku
yang bersangkutan.
35. Nasionalisme; Nasionalisme adalah kecintaan
terhadap bangsa dan negara sendiri. Orang
yang memiliki nasionalisme yang tinggi memiliki
kesadaran untuk mencapai, mempertahankan
dan mengabdikan identitas, integritas, untuk
mewujudkan k­ emakmuran dan kejayaan bangsa.
36. Netralitas; Sikap dan keadaan yang tidak
memihak atau b
­ ebas.

Budaya Kerja
138
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

37. Pelayanan; Pelayanan artinya memberikan


pelayanan yang sebaik–baiknya sesuai dengan
bidang tugasnya.
38. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi;
Ilmu pengetahuan (IP) adalah hasil studi dan
penelitian objek tertentu baik murni maupun
terapan, diolah dengan metode tertentu, ­sehingga
bermanfaat bagi kehidupan individu, instansi dan
masyarakat luas. Teknologi adalah cara atau
metode kerja untuk menghasilkan sesuatu produk
barang dan jasa tertentu yang dibutuhkan oleh
suatu instansi dan masyarakat.
39. Prakarsa; Prakarsa, adalah kemampuan seorang
Pegawai Negeri Sipil untuk mengambil keputusan,
langkah-langkah atau melaksanakan sesuatu
tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan
tugas pokok tanpa menunggu perintah dari
atasan.
40. Prestasi Kerja; Prestasi kerja adalah hasil yang
telah ­diperoleh dari pekerjaan yang dilakukan.
Prestasi kerja meliputi ­kecakapan dan penguasaan
seluk beluk tugas yang ­menjadi ­tanggung jawabnya
dan bidang lain yang berhubungan ­dengan
tugasnya serta hasil pekerjaannya itu sendiri.
41. Produktivitas; Produktivitas adalah kemampuan
untuk ­menghasilkan sesuatu. Seseorang yang
memiliki produktivitas yang tinggi selalu berusaha
untuk menghasilkan sesuatu sebanyak-banyaknya
dengan kulitas yang baik sehingga memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya.
42. Profesionalisme; Profesionalisme adalah
kompetensi ­untuk melaksanakan tugas
dan fungsinya dengan baik dan benar. Inti
profesionalisme adalah kepandaian, keahlian dan
­keterampilan.

Budaya Kerja
139
PNS Pekerjaan Umum
43. Rasionalitas; Rasionalitas artinya berpikir
cerdas, obyektif, ­logis, sistematik, banyak terkait
dengan proses ilmiah atau kemampuan intelektual,
sedangkan kecerdasan memandang sesuatu dari
aspek akal (ratio) yang menentukan nilai benar
atau salah. Fungsi ratio terletak pada otak kiri,
kemampuan logika, matematis, sistematik, sebab
akibat (Intelectual ­Quotient/ IQ).
44. Responsif; kecepatan tergugahnya pikiran dan
hati sebagai bentuk kepekaan dalam memberikan
respon (tidak masa bodoh) pada sebuah
peristiwa.
45. Sehat; Suatu keadaan yang sempurna baik fisik,
mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit
atau kelemahan (WHO).
46. Semangat; Semangat adalah daya/ energi yang
mendorong perilaku sampai pada tingkat yang
tertinggi.
47. Semangat jiwa korps PNS; adalah rasa kesatuan
dan ­persatuan, kebersamaan, kerja sama,
tanggung jawab, dedikasi, disiplin, kreativitas,
kebanggaan dan rasa memiliki organisasi
Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
48. Tanggung Jawab; Tanggung jawab adalah
sebuah ­kesanggupan untuk menanggung segala
dampak atas sikap, ­perbuatan, keputusan
atau pilihan yang diambil. Tanggung jawab itu
mengimplikasikan sikap dapat diandalkan.

Budaya Kerja
140
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Lampiran 02 :
HAK DAN KEWAJIBAN PNS
(PP No.30 Tahun 1980 tentang Disiplin
PNS)

PASAL 2 KEWAJIBAN
Setiap Pegawai Negeri Sipil wajib :
a. Setiap dan taat sepenuhnya kepada Pancasila,
UUD 1945, Negara, dan Pemerintah;
b. Mengutamakan kepentingan Negara di atas
kepentingan golongan atau diri sendiri, serta
menghindarkan segala sesuatu yang dapat
mendesak kepentingan Negara oleh kepentingan
golongan, diri sendiri, atau pihak lain;
c. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat
Negara, Pemerintah, dan Pegawai Negeri Sipil;
d. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai
Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. Menyimpan rahasia Negara dan atau rahasia
jabatan dengan sebaik-baiknya;
f. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan
Pemerintah baik langsung menyangkut tugas
kedinasannya maupun yang berlaku secara umum;
g. Melaksanakan tugas kedinasan dengan
sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian,
kesadaran, dan tanggung jawab;
h. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan
bersemangat untuk kepentingan Negara;
i. Memelihara dan meningkatkan keutuhan,
kekompakan, persatuan, dan kesatuan Korps
Pegawai Negeri Sipil;
j. Segera melaporkan kepada atasannya, apabila
mengetahui ada hal yang dapat membahayakan
atau merugikan Negara/Pemerintah, terutama di
bidang keamanan, keuangan, dan material;

Budaya Kerja
141
PNS Pekerjaan Umum
k. Mentaati ketentuan jam kerja;
l. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang
baik;
m. Menggunakan dan memelihara barang-barang
milik Negara dengan sebaik-baiknya;
n. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya
kepada masyarakat menurut bidang tugasnya
masing-masing;
o. Bertindak dan bersikap tegas, tetapi adil dan
bijaksana terhadap bawahannya;
p. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan
tugasnya;
q. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan
yang baik terhadap bawahannya;
r. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan
prestasi kerjanya;
s. Memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengembangkan kariernya;
t. Mentaati ketentuan peraturan perundang-
undangan tentang perpajakan;
u. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap
dan bertingkah laku sopan santun terhadap
masyarakat, sesama Pegawai Negeri Sipil, dan
terhadap atasan;
v. Hormat menghormati antara sesama warganegara
yang memeluk agama/ kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, yang berlainan;
w. Menjadi teladan sebagai warganegara yang baik
dalam masyarakat;
x. Mentaati segala peraturan perundang-undangan
dan peraturan kedinasan yang berlaku;
y. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang
berwenang;
z. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan
sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima
mengenai pelanggaran disiplin.

Budaya Kerja
142
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

PASAL 3 LARANGAN

(1) Setiap Pegawai Negeri Sipil dilarang:


a. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan
kehormatan atau martabat Negara, Pemerintah,
atau Pegawai Negeri Sipil;
b. Menyalahgunakan wewenangnya;
c. Tanpa izin Pemerintah menjadi Pegawai atau
bekerja untuk negara asing;
d. Menyalahgunakan barang-barang, uang, atau
surat-surat berharga milik Negara,
e. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan,
menyewakan, atau meminjamkan barang-barang,
dokumen, atau surat-surat berharga milik Negara
secara tidak sah;
f. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan,
teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam
maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan
untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak
lain, yang secara langsung atau tidak langsung
merugikan Negara;
g. Melakukan tindakan yang bersifat negatif
dengan maksud membalas dendam terhadap
bawahannya atau orang lain di dalam maupun
diluar lingkungan kerjanya;
h. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa
apa saja dari siapapun juga yang diketahui
atau patut dapat di duga bahwa pemberian itu
bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan
jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan;
i. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan
kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil,
kecuali untuk kepentingan jabatan;
j. Bertindak sewenang-wenang terhadap
bawahannya;

Budaya Kerja
143
PNS Pekerjaan Umum
k. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak
melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat
menghalangi atau mempersulit salah satu pihak
yang dilayaninya sehingga mengakibatkan
kerugian bagi pihak yang dilayani;
l. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
m. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia
Negara yang diketahui karena kedudukan jabatan
untuk kepentingan pribadi, golongan, atau pihak
lain;
n. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu
pengusaha atau golongan untuk mendapatkan
pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi
Pemerintah;
o. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang
kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup
kekuasaannya;
p. Memiliki saham suatu perusahaan yang kegiatannya
tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya
yang jumlah dan sifat pemilikan itu sedemikian
rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut
dapat langsung atau tidak langsung menentukan
penyelenggaraan atau jalannya perusahaan;
q. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara
resmi, maupun sambilan, menjadi direksi, pimpinan
atau komi saris perusahaan swasta bagi yang
berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke atas
atau yang memangku jabatan eselon I.
r. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk
apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk
kepentingan pribadi, golongan, atau pihak lain.
(2) Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat Penata
Tingkat I golongan ruang Ill/d ke bawah yang
akan melakukan kegiatan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf q, wajib mendapat
izin tertulis dari pejabat yang berwenang.

Budaya Kerja
144
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Lampiran 03 :
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERILAKU KERJA/ ORGANISASI
Faktor Ilmu
No Kontribusi
Utama Perilaku
1 Individu Pembelajaran, Psikologi
Motivasi, Kepribadian,
Persepsi, Pelatihan,
Keefektifan
Kepemimpinan,
Kepuasan Kerja,
Pengambilan
keputusan individu
Penilaian kinerja,
Pengukuran sikap,
Seleksi karyawan,
Desain kerja, Stres
kerja
2 Kelompok Dinamika kelompok, Sosiologi
Tim kerja, Komunikasi,
Kekuasaan Konflik,
Perilaku antar pribadi,
Perilaku antar
kelompok
Birokrasi, Teknologi
organisasi Perubahan
organisasi Budaya
organisasi
Perubahan perilaku, Psikologi
Perubahan sikap, Sosial
Komunikasi
Proses kelompok,
Pengambilan
keputusan kelompok
3 Organisasi Budaya organisasi, Antropologi
Lingkungan organisasi
Konflik, Politik antar Ilmu politik
organisasi, Kekuasaan

Budaya Kerja
145
PNS Pekerjaan Umum
Lampiran 04 :
PRODUK PENDUKUNG
PANDUAN BUDAYA KERJA.

Setiap fungsional disarankan membuat buku panduan


SDM Profesional.

Buku: Membangun SDM Balitbang Departemen


Pekerjaan Umum dengan kekuatan SDM: Militansi,
Konsistensi dan Inovasi.

PRINSIP DASAR ETIKA PENELITI


1. Kompetensi
2. Kejujuran
3. Ketelitian
4. Relevansi
5. Tanggung jawab personal
6. Menjamin kerahasiaan
7. Menghindari konflik kepentingan
8. Tanggung jawab sosial

ETIKA PELAKSANAAN PENELITIAN


1. Penentuan sasaran penelitian
2. Pelaksanaan penelitian
3. Pendataan
4. Pelaporan penelitian
5. Pendokumentasian hasil penelitian
6. Sosialisasi hasil penelitian
7. Pemanfaatan hasil penelitian

Budaya Kerja
146
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

Lampiran 05 :
BIODATA NARASUMBER
SUYONO
SOSRODARSONO
lahir di Madiun, Jawa Timur 03
Maret 1926. Alumnus Teknik
Sipil Universitas Indonesia
di Bandung, menyelesaikan
pendidikannya tahun 1955.
Kemudian pada tahun 1987
dianugerahi Doctor Honoris Causa dari Belanda.

Pria beragama Islam yang tinggal di Jl.Hang Tuah


VIII / 77 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12120 ini
memulai karirnya sebagai pegawai negeri sipil pada
tahun 1957 sebagai Kabag Pembinaan Pemeliharaan
Perum. Rakyat, dan mengakhiri pengabdiannya
sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada tahun
1988, kemudian dilanjutkan sebagai anggota Dewan
Pertimbangan Agung sampai tahun 1993.

Bapak 4 orang anak dari istrinya DR. Astoeti


ini beberapa kali menjalani pendidikan informal
di Jakarta, Amerika, Manila serta Belanda.
Dari pengabdiannya selama berkecimpung di
Departemen Pekerjaan Umum, tahun 1975 beliau
mendapatkan penghargaan Anugerah Bintang
Maha Putera Utama Rep.Indonesia, kemudian tahun
1987 mendapatkan penghargaan Anugerah Bintang
Mahaputera Adipradana Rep. Indonesia, kemudian
Bintang Penghargaan dari Pemerintah Jepang beliau
dapatkan tahun 1988.

Budaya Kerja
147
PNS Pekerjaan Umum
JOELIANTO
HENDRO MOELJONO
Tempat tanggal lahir Jakarta, 20
April 1939. Pendidikan terakhir
S1. Teknik Sipil Kering ITB Tahun
1963. Pangkat terakhir Pembina
Utama, IV/e. Setelah pensiun
kini menetap di Bogor.

Karya kerja terbaik yang diakui oleh publik ketika


sebagai Pimpinan Proyek Jalan Tol Jagorawi yang
hasil kemulusan jalannya masih dirasakan sampai
sekarang. Selain itu pernah menjabat sebagai Ka.
Dinas PU Prop. Sulut, Ka. Dinas PU Prop. Sulut,
Ka. Kanwil Dep. PU Prop. Sulut, Ka. Dinas PU
Prop. Sumut, Ka. Kanwil Dep. PU Prop. Sumut,
Kapuslitbang Jalan dan Jabatan terakhir sebagai
Kepala Badan Litbang PU.

Setelah pensiun masih aktf bekerja sebagai Direktur


Teknik Lembaga Advokasi Hukum dan Jasa
Konstruksi Jakarta, Konsultan teknik pada PT. Jasa
Marga (Jalan Tol), Konsultan Teknik pada PT. Marga
Mandala Sakti (Jalan Tol Tangerang-Merak).

Pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI


berupa Satyalancana Pembangunan, Satyalancana
Wira Karya dan Satyalancana Karya Satya 30
Tahun.

Budaya Kerja
148
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

GEMBONG PRIJONO
lahir di Solo 22 September
1946. Memulai pendidikannya
dari SD sampai SMP di Solo,
melanjutkan ke SMA bag C
di Jakarta kemudian kuliah di
Ekonomi Perusahaan UGM
Yogyakarta selesai tahun 1970
dan menyelesaikan S2 nya pada tahun 1981 di
Agricultural Economic Australian National University.

Pria yang beristrikan Kusumo Astuty ini memulai karir


pegawai negeri sipilnya pada tahun 1970 sebagai
Pegawai pada Proyek Prosida Ditjen Air dan karir
tertinggi di PU sebagai Sekjen Departemen PU, dan
terakhir sebagai Sekretaris Jenderal Wakil Presiden.

Bapak yang telah dikaruniai 3 orang anak dan tinggal


di Jl. Dwijaya III/16B Radio Dalam Jakarta Selatan
ini beberapa kali menjalani pendidikan informal dan
Diklat di Jakarta, Korea Selatan serta Inggris. Dari
pengabdiannya selama berkecimpung di Departemen
Pekerjaan Umum, beliau mendapatkan beberapa
penghargaan dari pemerintah diantaranya Piagam
dari Men. PU, Piagam Satya Karya 20 Tahun,
Satyalancana Karya Satya XX Tahun, Satyalancana
Pembangunan dan Piagam Tanda Kehormatan
Bintang Jasa Utama

Budaya Kerja
149
PNS Pekerjaan Umum
BOEDIMAN ARIF
lahir di Kepahiang, Bengkulu
30 Nopember 1944. Memulai
pendidikannya dari SD sampai
SMA di Sumatra kemudian
dilanjutkan dengan kuliah di
Teknik Penyehatan ITB Bandung
dan menyelesaikan S1 nya pada
tahun 1968.

Pria yang beristrikan Sri Utami ini memulai karir


pegawai negeri sipil pada tahun 1969 sebagai
Pimpro Air Bersih Bali, dan jabatan terakhirnya
adalah sebagai Sekretaris Jenderal Departemen
Pemukiman dan Prasarana Wilayah.

Bapak yang telah dikaruniai seorang anak dan tinggal


di Jl Penjernihan II No. 8 Pejompongan Jakarta Pusat
ini beberapa kali menjalani pendidikan informal
dan Diklat di Jakarta, Bandung, Ujung Pandang
Filipina, Jepang, Belanda, Australia, Amerika serta
Spanyol. Dari pengabdiannya selama berkecimpung
di Departemen Pekerjaan Umum, tahun 1975
beliau mendapatkan beberapa penghargaan dari
pemerintah diantaranya Piagam Satya Karya 20
Tahun, Satyalancana Wira Karya, Satyalancana
Karya Satya XX Tahun, Satyalancana Pembangunan,
Satyalancana Karya Satya XXX Tahun

Budaya Kerja
150
PNS Pekerjaan Umum
Kementerian
Pekerjaan Umum

SOENARNO
lahir di Solo 20 Mei 1941. Beliau
memulai pendidikan SD dan
SMP di Wonogiri, SMA di Solo,
melanjutkan ke S1 Teknik Sipil
Basah ITB Bandung selesai tahun
1967, mengambil S2 Irrigation
Engineering Southampton University, Inggris dan
menyelesaikanya pada tahun 1974.

Pria yang beristrikan Neni Chunaeni ini memulai karir


pegawai negeri sipilnya pada tahun 1963 sebagai
Pegawai Tugas Belajar PD ITB, dan terakhir menjabat
sebagai Widyaiswara Utama Pusat Pendidikan dan
Pelatihan, Setjen Dep. PU.

Bapak yang telah dikaruniai 1 orang anak dan tinggal


di Jl. Bango IV No. 9A, Rt.005/03 Pondok Labu,
Cilandak Jakarta Selatan 12450 ini beberapa kali
menjalani pendidikan informal dan Diklat di Jakarta,
Inggris serta Amerika. Dari pengabdiannya selama
berkecimpung di Dep. PU, beliau mendapatkan
beberapa penghargaan dari pemerintah diantaranya
Piagam Penghargaan Atas Jasa Khusus Tek.
Kekaryaan, Piagam Satya Karya 20 Tahun,
Satyalancana Wira Karya, Satyalancana Karya Satya
XXX Tahun dan Satyalancana Pembangunan

Budaya Kerja
151
PNS Pekerjaan Umum
Budaya Kerja
152
PNS Pekerjaan Umum