Anda di halaman 1dari 11

ISSN Cetak 2303-1433

ISSN Online: 2579-7301

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIA ABORTUS


INKOMPLIT DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI TAHUN 2016

Mooren Lia Luthfiana, Triatmi Andri Yanuarini, Mika Mediawati


Prodi DIV Kebidanan Kediri Poltekkes Kemenkes Malang
Email: ytriatmiandri@yahoo.co.id

Abstract
Risk factors originating from the mother are maternal genetic abnormalities, age, parity,
history of abortion, pregnancy interval, hormonal, maternal illness (anemia, infection,
hypertension, kidney disease, liver disease, diabetes mellitus disease) and external influences
such as medicine treatment, cigarettes, and others. The purpose of this study is to determine
the factors that have an impact on the incidence of miscarriage in Gambiran Regional Public
Hospital Kediri. This research used case control design. The population in this study were 198
maternal record data of women who had miscarriage and pregnant mothers until they gave
birth. Sampling was done through simple random sampling and data collection using
recapitulation of research data sheet instrument that was analyzed with Chi Square. The
statistics test using Chi Square obtained χ value2 of 22.673>χ2 table (at α 5% df 1) 3.841 so
that H0 was rejected which means there is age effect on the incidence of miscarriage. On the
parity variable the value was 21.134>χ2 table (at α 5% df 1) 3.841 so that H0 was rejected
which means there is parity influence on miscarriage. At the pregnancy interval variable the
value was 21.569>χ2 table (at α 5% df 1) 3.841 so that H0 was rejected which means there is
influence of pregnancy interval to miscarriage. In the abortion history variable the value was
1.992>χ2 table (at α 5% df 1) 3.841 so that H0 was accepted which means there is no effect of
abortion history on miscarriage. Health workers are expected to share knowledge of the
causes, prevention efforts and improve the quality of services in reducing miscarriage
incidence.

Keyword: Factors, Miscarriage

PENDAHULUAN sepsis (7,3%) terus menjadi penyebab


Kehamilan merupakan hal yang utama kematian ibu (Kemenkes RI, 2014).
fisiologis dialami oleh seorang wanita. Salah satu komplikasi terbanyak pada
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan kehamilan ialah terjadinya perdarahan.
dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia
dengan nidasi atau implantasi (Saifuddin, kehamilan. Kejadian perdarahan pada
2014). Lima penyebab kematian ibu kehamilan muda sering dikaitkan dengan
terbesar yaitu perdarahan, hipertensi dalam abortus.Abortus adalah berakhirnya suatu
kehamilan (HDK), infeksi, partus kehamilan sebelum janin mencapai berat
lama/macet, dan abortus.Kematian ibu di 500 gram atau umur kehamilan kurang dari
Indonesia masih didominasi oleh tiga 22 minggu atau buah kehamilan belum
penyebab utama kematian yaitu perdarahan, mampu untuk hidup diluar
hipertensi dalam kehamilan (HDK), dan kandungan.Abortus spontan adalah abortus
infeksi. Pada tahun 2013penyebab obstetrik yangterjadi dengan tidak didahului faktor-
langsung, terutama perdarahan (30,2%), faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-
penyakit hipertensi kehamilan (27,1%) dan matadisebabkan oleh faktor-faktor
alamiah.Sekitar 15% - 20% terminasi

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 66


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

kehamilan merupakanabortus spontan.Kalau baik.4 Kehamilan dalam keadaan ini perlu


dikaji lebih jauh kejadian abortus diwaspadai karena ada kemungkinan
sebenarnya bisa mendekati 50%.Hal ini pertumbuhan janin kurang baik, mengalami
dikarenakan tingginya angka chemical persalinan yang lama, atau perdarahan
pregnancy loss yang tidak bisa diketahui (abortus).
pada 2-4 minggu setelah konsepsi.Sebagian Usia menjadi indikator dalam
besar kegagalan kehamilan ini dikarenakan kedewasaan dalam setiap pengambilan
kegagalan gamet (misalnya sperma dan keputusan yang mengacu pada setiap
disfungsi oosit) (Prawirohardjo, 2014). pengalaman, usia yang cukup dalam
Secara global 80% kematian ibu mengawali atau memasuki usia perkawinan
tergolong pada kematian langsung dimana dan kehamilan akan membantu sesorang
aborsi berkonstribusi 13 % terhadap Angka dalam kematangan menghadapi kesiapan
Kematian Ibu (AKI) tersebut. Diperkirakan terhadap masalah atau persoalan, dalam hal
terjadi aborsi illegal / tidak aman secara ini menghadapi kehamilan dan perubahan
global sebanyak 20 juta orang/tahun atau 1 psikologis dan fisiologis selama hamil.
antara 10 kehamilan atau 1 aborsi tidak Dimana semakin muda umur wanita maka
aman dengan 7 kelahiran hidup. Lebih dari semakin kurang perhatian serta pengalaman
90% aborsi tidak aman terjadi dinegara yang dimilki wanita usia subur karena
yang sedang berkembang.Di Indonesia ketidaksiapan wanita dalam menerima
aborsi tidak aman merupakan penyebab dari kehamilan dan sistem reproduksi yang
11% kematian ibu (Prawirohardjo, 2014). belum matang. Hal ini berdampak pada
Pada tahun 2014 di Kota Kediri terdapat psikologis wanita tersebut (Yuni, 2010).
106 ibu yang mengalami abortus dan pada Pada proses menua terjadi mutasi gen
tahun 2015 terdapat 117 ibu yang sehingga risiko abortus spontan meningkat
mengalami abortus. Selain itu juga peneliti seiring dengan paritas serta usia ibu dan
mendapatkan data bahwa pada tahun 2016 ayah. Insidensi abortus meningkat apabila
terdapat 119 ibu yang mengalami wanita yang bersangkutan hamil dalam 3
abortus.Dari data tersebut dapat dilihat bulan setelah melahirkan bayi aterm
bahwa kejadian abortus pada setiap tahun (Handono, 2009).
mengalami peningkatan (Dinkes Kota Studi pendahuluan yang dilakukan di
Kediri, 2016). RSUD Gambiran Kota Kediri didapatkan
Menurut Rahmani (2013) dalam data yaitu pada tahun 2015 terdapat 203
Rochmawati (2014) bahwa: “Faktor-faktor kejadian abortus dan pada tahun 2016
yang mempengaruhi terjadinya abortus pada terdapat 227 kejadian abortus. Pada tahun
ibu hamil adalah usia, paritas, riwayat 2015 terdapat 43 kejadian abortus inkomplit
abortus, jarak kehamilan, sosial ekonomi, dan pada tahun 2016 terdapat 58 kejadian
pendidikan, penyakit infeksi, alkohol, abortus inkomplit. Untuk kejadian abortus
merokok, dan status perkawinan”. Jarak spontan lainnya yaitu terdapat 23 kejadian
kehamilan sangat mempengaruhi kesehatan abortus komplit, 17 kejadian abortus
ibu dan janin yang dikandungnya.Seorang imminens dan 20 kejadian abortus
ibu memerlukan waktu selama 2-3 tahun habitualis. Sedangkan untuk tindakan
agar dapat pulih secara fisiologis dari satu penanganan abortus di RSUD Gambiran
kehamilan atau persalinan dan pada tahun 2016 terdapat sebanyak 55
mempersiapkan diri untuk kehamilan curretage. Pada tahun 2015 terdapat 47
berikutnya.Bila jarak kehamilan dengan kejadian HPP dan 7 ibu nifas yang
anak sebelumnya kurang dari 2 tahun, rahim mengalami infeksi sedangkan pada tahun
dan kesehatan ibu belum pulih dengan

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 67


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

2016 didapatkan data 30 kejadian HPP dan dalam penelitian ini adalah kejadian
4 ibu nifas yang mengalami infeksi. abortus.Pengambilan sampel melalui simple
Perlunya penanganan yang baik dan random sampling dan pengumpulan data
tepat terhadap abortus pada ibu hamil, menggunakan instrument lembar
dimana masyarakat khususnya wanita lebih rekapitulasi data penelitian yang dianalisis
mengenal masalah yang berkaitan dengan dengan Chie Square.
abortus, hal – hal yang dapat menyebabkan
terjadinya abortus dan komplikasinya serta HASIL PENELITIAN
bagaimana cara mencegah agar kejadian Berdasarkan rekam medik pasien,
tersebut tidak terjadi atau terulang lagi pada diperoleh data yang terdiri dari kejadian
kehamilan berikutnya dan nantinya abortus inkomplit, usia, paritas, interval
diharapkan anak akan lahir dengan selamat, kehamilan, dan riwayat abortus. Kemudian
sehat serta diharapkan dapat menurunkan data pengaruh usia terhadap kejadian
angka kejadian abortus (Yono, 2011). abortus inkomplit, pengaruh paritas
Sejalan dengan Peraturan Pemerintah terhadap kejadian abortus inkomplit,
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 pengaruh interval kehamilan terhadap
yaitu program Keluarga Berencana (KB) kejadian abortus inkomplit dan pengaruh
merupakan salah satu strategi untuk riwayat abortus terhadap kejadian abortus
mengurangi kematian ibu khususnya ibu inkomplit diuji dengan Chi Square yang
dengan kondisi 4T; terlalu muda melahirkan disajikan dalam bentuk tabel kontingensi
(di bawah usia 20 tahun), terlalu sering atau tabulasi silang.
melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan,
dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 Tabel 4.1 Distribusi frekuensi usia, paritas,
tahun). Selain itu, program KB juga interval kehamilan dan riwayat
bertujuan untuk meningkatkan kualitas abortus pada kejadian abortus
keluarga agar dapat timbul rasa aman, inkomplit di RSUD Gambiran Kota
tentram, dan harapan masa depan yang lebih Kediri periode 1 Juli – 31 Desember
baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir 2016
dan kebahagiaan batin.
Variabel Independen Jumlah Persentase
Dari paparan latar belakang tersebut
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Usia
tentang “Faktor-faktor apa sajakah yang Beresiko 25 69,4
Tidak Beresiko 11 30,6
mempengaruhi kejadian abortus inkomplit
Paritas
di RSUD Gambiran Kota Kediri”. Beresiko 21 58,3
Tidak Beresiko 15 41,7
METODE PENELITIAN Interval Kehamilan
Desain yang digunakan dalam < 2 tahun 26 72,2
penelitian ini adalah Case Control.Populasi >2 tahun 10 27,8
Riwayat Abortus
dalam penelitian ini adalah 198 data rekam Memiliki Riwayat
medic ibu yang mengalami abortus 9 25,0
Abortus
inkomplit dan ibu hamil sampai Tidak Memiliki Riwayat
27 75,0
melahirkan.Sampel dalam peneltian Abortus
sejumlah 95. Sumber: Data Rekam Medik
Variabel independen dalam penelitian Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui
ini adalah faktor-faktor yang berpengaruh, bahwa dari 36 data rekam medik ibu yang
antara lain: usia, interval kehamilan, paritas mengalami abortus inkomplit sebagian
dan riwayat abortus.Variabel dependen besar (69,4%) berada pada rentang usia <20

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 68


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

tahun atau >35 tahun. Dari 36 data rekam Berdasarkan analisis data menggunakan
medik ibu yang mengalami abortus uji statistic dengan chie square pada SPSS
inkomplit sebagian besar (58,3%) seri 19 dengan α 0,05 dan perhitungan
merupakan ibu yang hamil pertama kali secara manual didapatkan hasil bahwa hasil
atau ibu yang telah melahirkan 5 orang anak nilai ρ value adalah 0,001 sehingga bila
atau lebih dengan janin yang mencapai dibandingkan dengan α 0,05 adalah 0,001 <
batas viabilitas. 0,05 artinya H0 ditolak sehingga
menunjukkan bahwa ada pengaruh paritas
Tabel 4.2 Tabulasi silang pengaruh terhadap kejadian abortus inkomplit.
usia terhadap kejadian abortus
inkomplit di RSUD Gambiran Kota Tabel 4.4 Tabulasi silang interval
Kediri periode 1 Juli – 31 Desember kehamilan terhadap kejadian abortus
2016 inkomplit di RSUD Gambiran Kota
Kejadian Abortus Kediri periode 1 Juli – 31 Desember
Abortus Tidak χ2 ρ 2016.
Usia Jumlah
Inkomplit Abortus hitung value
(Kasus) (kontrol) Kejadian Abortus
Interval Abortus Tidak χ2 ρ
25 12 37 22,673 0,001 Jumlah
Kehamilan Inkomplit Abortus hitung value
Beresiko (69,4%) (20,3%) (38,9%)
(kasus) (kontrol)
Tidak 11 47 58 26 14 40 21,569 0,001
Beresiko (30,6%) (79,7%) (61,1%) <2 Tahun
(72,2%) (23,7%) (42,1%)
36 59 95 10 45 55
Jumlah (100%) (100%) (100%) >2 Tahun
(27,8%) (76,3%) (57,9%)
Sumber : Data Rekam Medik Jumlah
36 59 95
Berdasarkan analisis data menggunakan (100%) (100%) (100%)
Sumber : Data Rekam Medik
uji statistic dengan chie square pada SPSS
seri 19 dengan α 0,05 dan perhitungan
Berdasarkan analisis data menggunakan
secara manual didapatkan hasil bahwa hasil
uji statistic dengan chie square pada SPSS
nilai ρ value adalah 0,001 sehingga bila
seri 19 dengan α 0,05 dan perhitungan
dibandingkan dengan α 0,05 adalah 0,001 <
secara manual didapatkan hasil bahwa hasil
0,05 artinya H0 ditolak sehingga
nilai ρ value adalah 0,001 sehingga bila
menunjukkan bahwa ada pengaruh usia
dibandingkan dengan α 0,05 adalah 0,001 <
terhadap kejadian abortus inkomplit.
0,05 artinya H0 ditolak sehingga
menunjukkan bahwa ada pengaruh interval
Tabel 4.3 Tabulasi silang pengaruh
kehamilan terhadap kejadian abortus
paritas terhadap kejadian abortus
inkomplit.
inkomplit di RSUD Gambiran Kota
Kediri periode 1 Juli – 31 Desember
2016
Kejadian Abortus
Abortus Tidak χ2 ρ
Paritas Jumlah
Inkomplit Abortus hitung value
(Kasus) (kontrol)
21 8 29 21,134 0,001
Beresiko
(58,3%) (13,6%) (30,5%)
Tidak 15 51 66
Beresiko (41,7%) (86,4%) (69,5%)
36 59 95
Jumlah
(100%) (100%) (100%)
Sumber : Data Rekam Medik

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 69


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

Tabel 4.5 Tabulasi silang pengaruh berlipat dua dari 12% pada wanita berusia
riwayat abortus terhadap kejadian kurang dari 20 tahun menjadi 26 persen
abortus inkomplit di RSUD Gambiran pada mereka yang berusia lebih dari 40
Kota Kediri periode 1 Juli – 31 tahun. Menurut Mochtar (2013) wanita
Desember 2016. yang hamil pada usia terlalu muda yaitu
Kejadian Abortus χ2 dibawah umur 20 tahun secara fisik alat-alat
Riwayat hit ρ
Abortus
Abortus Tidak Jumlah
un value
reproduksi belum berfungsi dengan
Inkomplit Abortus
(kasus) (kontrol) g sempurna dan belum siap untuk menerima
Memiliki
9 8 17
1, 0,15 hasil konsepsi sehingga bila terjadi
Riwayat 99 8
Abortus
(25,0%) (13,6%) (17,9%)
2
kehamilan dan persalinan akan lebih mudah
Tidak mengalami komplikasi dan secara
Memiliki 27 51 78
Riwayat (75,0%) (86,4%) (82,1%)
psikologis belum cukup dewasa dan matang
Abortus untuk menjadi seorang ibu.
36 59 95 Hal ini dikaitkan juga dengan umur ibu
Jumlah
(100%) (100%) (100%)
Sumber : Data Rekam Medik primipara yang kebanyakan menikah pada
Berdasarkan analisis data menggunakan usia<20 tahun dan langsung hamil anak
uji statistic dengan chie square SPSS seri 19 pertama, pada usia ini organ reproduksi
dengan α 0,05 dan perhitungan secara belum berkembang sempuma (Rahayu,
manual didapatkan hasil bahwa hasil nilai ρ 2010). Wanita dengan usia lebih dari 35
value adalah 0,158 sehingga bila tahun juga memiliki peluang lebih besar
dibandingkan dengan α 0,05 adalah 0,158 > mengalami masalah medis umum yang
0,05 artinya H0 diterima sehingga mungkin juga akan mempengaruhi janin
menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang sedang tumbuh dan berkembang.
riwayat kehamilan terhadap kejadian Beberapa masalah memerlukan pengobatan
abortus inkomplit. yang mungkin tidak sesuai untuk wanita
hamil. Calon ibu juga merasakan cepat
PEMBAHASAN kelelahan dan kekurangan tenaga selama
Menganalisis Pengaruh Usia Terhadap proses melahirkan. Kehamilan juga bisa
Kejadian Abortus Inkomplit memperburuk kondisi-kondisi medis ringan
Hasil penelitian ini sesuai dengan seperti sakit punggung atau anemia, karena
penelitian yang dilakukan oleh Mardiana beban yang ditimbulkan selama sang ibu
dkk (2014) tentang Usia Ibu Hamil hamil. Faktor-faktor resiko lainnya juga
Terhadap Paritas Dengan Kejadian Abortus berpengaruh dalam kehamilan ibu yang
di RSUD dr.Agoesdjam Ketapang berusia lebih dari 35 tahun, diantaranya bisa
menunjukkan bahwa terdapat hubungan menyebabkan keguguran (Nirwana, 2011).
antara usia ibu hamil dengan kejadian Di Indonesia masih tingginya jumlah
abortus dengan nilai x2 hitung = 20,981. perkawinan usia muda kurang dari 20 tahun
Hasil perhitungan OR = 4,304 menunjukkan dan masih banyak yang hamil pada usia
bahwa usia<20 tahun atau >35 tahun diatas 35 tahun. Sehingga mempengaruhi
mempunyai kemungkinan 4,304 kali lebih status biologis wanita itu sendiri, dimana
besar untuk mengalami abortus jika jika wanita hamil dalam usia tersebut maka
dibandingkan dengan ibu yang berusia 20- dapat membahayakan dirinya dan janin
35 tahun. yang dikandungnya (Manuaba, 2010).
Menurut Cunningham (2014) bahwa
keguguran simtomatik meningkat seiring
dengan usia ibu dan ayah. Frekuensi

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 70


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

Menganalisis Pengaruh Paritas Terhadap Hasil penelitian ini sesuai dengan


Kejadian Abortus Inkomplit penlitian yang dilakukan oleh Pitriani, R.
Hasil penelitian ini menunjukkan (2013) tentang faktor- faktor yang
bahwa ada pengaruh paritas terhadap berhungan dengan kejadian abortus di
kejadian abortus inkomplit.Berdasarkan Rumah sakit Umum Daerah Arifin Achmad
hasil penelitian dan melihat penelitian Provinsi Riau yang menyatakan bahwa
sebelumnya, serta berdasarkan pendapat terdapat hubungan antara jarak kehamilan
para ahli maka peneliti menyimpulkan dengan kejadian abortus. Hasil OR = 2,084
bahwa ibu hamil pertama kali atau >4 menunjukkan bahwa interval kehamilan <2
merupakan faktor risiko terjadinya abortus tahun menyebabkan 2,084 kali lebih besar
pada kehamilan, sedangkan ibu yang terjadinya abortus inkomplit daripada
memiliki paritas 1-4 merupakan kondisi interval kehamilan >2 tahun.
aman untuk ibu yang menginginkan Hasil penelitian inipun juga sesuai
kehamilan sehingga dapat mengurangi dengan pendapat yang dikemukakan
risiko terjadinya abortus.Namun karena Krisnadi dalam Vita (2015) bahwa jarak
faktor risiko terjadi keguguran tidak hanya kehamilan dengan anak sebelumnya kurang
ditinjau dari paritas maka dianjurkan untuk dari 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum
ibu yang menginginkan kehamilan untuk pulih dengan baik. Kehamilan dalam
melakukan konseling terhadap petugas keadaan ini perlu diwaspadai karena ada
kesehatan. kemungkinan pertumbuhan janin kurang
Dengan demikian ibu yang memiliki baik, mengalami persalinan yang lama, atau
paritas tinggi atau Grandemultipara perdarahan (abortus).
beresiko terjadinya abortus.Angka kejadian Menurut Saifuddin (2014) mengatakan
pada hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa kehamilan sebelum 2 tahun sering
banyak terdapat abortus pada multipara dan mengalami komplikasi dalam
semakin tinggi kejadiannya pada kehamilan.Kesehatan fisik dan rahim ibu
grandemultipara.Kejadian abortus pada ibu masih butuh cukup istirahat, ada
pada paritas tinggi berkaitan dengan kemungkinan ibu masih menyusui, selain
keadaan endometrium di daerah korpus itu anak tersebut masih butuh asuhan dan
uteri sudah mengalami kemunduran fungsi perhatian orang tuanya. Bahaya yang
dan berkurangnya vaskularisasi.Hal ini mungkin terjadi bagi ibu antara lain
terjadi karena degenerasi dan nekrosis pada perdarahan setelah bayi lahir karena kondisi
berkas luka implantasi plasenta sewaktu ibu masih lemah, bayi premature,bayi
kehamilan sebelumnya di dinding BBLR < 2500 gram, dan bisa juga terjadi
endometrium. Ibu yang sering melahirkan keguguran.
juga akan mengalami kekendoran pada Pada involusi uteri, jaringan ikat dan
dinding parut dan dinding rahim sehingga jaringan otot mengalami proses preteolitik,
dapat menyebabkan keguguran. berangsur-angsur akan mengecil sehingga
pada akhir kala nifas besarnya seperti
Menganalisis Pengaruh Interval semula dengan berat 30 gram. Waktu yang
Kehamilan Terhadap Kejadian Abortus dibutuhkan uterus untuk kembali dalam
Inkomplit ukuran normal biasanya 56 hari dengan
Hasil penelitian menunjukkan ada berat 30 gram.Dimana pada saat itu tinggi
pengaruh interval kehamilan terhadap fundus sudah kembali normal.Sebaiknya
kejadian abortus inkomplit di RSUD masyarakat dianjurkan untuk melakukan
Gambiran Kota Kediri. pemeriksaan postpartum, sehingga alat
repsoduksinya cukup sehat, untuk menjadi

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 71


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

hamil dengan interval yang dikehendaki persalinan dengan kehamilan berikutnya 3


dimana kesehatan reproduksi yang optimal bulan (Cunningham, 2014).
yaitu dengan interval lebih dari 2 tahun Sebagian besar wanita dengan
(Manuaba, 2010). keguguran berulang mengalami kematian
mudigah atau janin dini, dan sebagian kecil
Menganalisis Pengaruh Riwayat Abortus keguguran setelah 14 minggu.Keguguran
Terhadap Kejadian Abortus Inkomplit berulang perlu dibedakan dari keguguran
Pada penelitian ini, didapatkan hasil aporadik.Keguguran aporadik
yang menunjukkan bahwa tidak ada mengisyaratkan bahwa ada kehamilan di
pengaruh riwayat abortus terhadap kejadian antara keguguran yang menghasilkan bayi
abortus inkomplit.Hal ini tidak sesuai sehat.Beberpa penulis membedakan
dengan pendapat yang dijelaskan oleh keguguran berulang primer-belum pernah
Prawirohardjo (2014) bahwa riwayat mengalami kehamilan yang sukses-dari
abortus pada penderita abortus merupakan keguguran berulang sekunder-pernah
predisposisi terjadinya abortus melahirkan bayi hidup-karena kelompok
berulang.Kejadiannya sekitar 3-5%. Data yang terakhir ini tidak mengalami resiko
dari beberapa studi menunjukkan bahwa keguguran berikutnya sebesar 32% sampai
setelah 1 kali abortus pasangan punya setelah 3 kali keguguran (Cunningham,
resiko 15% untuk mengalami keguguran 2014).
lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, Pada satu penelitian menyatakan bahwa
resikonya akan meningkat 25%. Beberapa kariotipe normal teridentifikasi pada
studi meramalkan bahwa resiko abortus separuh dari keguguran berulang tetapi
setelah 3 kali abortus berurutan adalan 30- hanya pada sepermpat dari keguguran
45%. sporadic.Waktu terjadinya keguguran
Dalam pemeriksaan awal kehamilan mungkin memberi petunjuk tentang kausa.
sangat penting untuk dilakukan anamnesa Pada contoh lain, faktor genetik tersering
mengenai riwayat kesehatan yang lalu menyebabkan kematian mudigah dini,
terutama mengenai riwayat kehamilan yang sementara penyakit autoimun atau anatomis
lalu. Dalam KSPR menunjukan bahwa jika lebih besar kemungkinannya menyebabkan
seorang wanita pernah gagal hamil maka keguguran trimester kedua (Schust dan Hill
akan mendapatkan skor 4. Menurut (2002) dalam Cunningham, 2014).
Manuaba (2010) disebutkan bahwa keadaan Menurut Prawirohardjo (2014) bahwa
yang dapat membahayakan saat hamil dan riwayat abortus pada penderita abortus
meningkatkan bahaya terhadap janin yaitu merupakan predisposisi terjadinya abortus
sejarahpersalinan yang buruk : pernah berulang.Kejadiannya sekitar 3-5%. Data
keguguran dan persalinan premature, dari beberapa studi menunjukkan bahwa
kelahiran dengan BBLR dan pernah setelah 1 kali abortus pasangan punya
mengalami persalinan dengan tindakan resiko 15% untuk mengalami keguguran
(Manuaba, 2010). lagi, sedangkan bila pernah 2 kali,
Risiko terjadinya abortus spontan resikonya akan meningkat 25%. Beberapa
meningkat bersamaan dengan peningkatan studi meramalkan bahwa resiko abortus
jumlah paritas, usia ibu, jarak persalinan setelah 3 kali abortus berurutan adalan 30-
dengan kehamilan berikutnya. Abortus 45%.
meningkat sebesar 12% pada wanita usia Pada penelitian ini tidak terdapat
kurang dari 20 tahun dan meningkat sebesar pengaruh abortus sebelumnya tehadap
26% pada usia lebih dari 40 tahun. Insiden kejadian abortus inkomplit.Namun peneliti
terjadinya abortus meningkat jika jarak beramsumsi bahwa ketidak sesuaian hasil

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 72


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

uji analisis karena dari semua ibu yang 4. Tidak ada pengaruh riwayat abortus
mengalami abortus inkomplit ternyata terhadap kejadian abortus inkomplit pada
sebagian besar adalah ibu Primigravida atau ibu hamil di RSUD Gambiran Kota
primipara dimana ibu tersebut hamil Kediri.
pertama kali sehingga tercatat tidak
memiliki riwayat abortus.Hal tersebut yang Saran
mempengaruhi hasil analisis dimana pada 1. Bagi Peneliti
hasil uji Chie Square tidak ada pengaruh Diharapkan dapat lebih
riwayat abortus terhadap kejadian abortus meningkatkan upaya promotif melalui
inkomplit. penyuluhan kesehatan tentang Keluarga
Pada ibu yang memiliki paritas >1 yang Berencana (KB) dan penyuluhan kepada
mengalami abortus inkomplit sebagian masyarakat khususnya wanita tentang
besar memiliki riwayat abortus dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
sebagian kecil tidak memiliki riwayat kejadian abortus inkomplit dengan
abortus.Pada ibu yang tidak mengalami menggunakan leaflet sebagai salah satu
abortus inkomplit bahwa hampir seluruhnya upaya pencegahan terjadinya abortus
tidak memiliki riwayat abortus inkomplit.
sebelumnya.Sehingga peneliti berasumsi 2. Bagi Tenaga Kesehatan
bahwa sebenarnya sesuai dengan pendapat Diharapkan hasil penelitian dapat
beberapa ahli bahwa riwayat abortus menambah pengetahuan dan pemahanan
merupakan faktor terjadinya abortus tentang faktor-faktor yang berpengaruh
inkomplit. terhadap kejadian abortus inkomplit,
Seorang wanita yang memiliki riwayat serta dapat meningkatkan upaya
abortus merupakan suatu keadaan yang pencegahan terjadinya abortus inkomplit
dapat membahayakan saat hamil dan dengan memberikan asuhan kebidanan
meningkatkan bahaya terhadap janin salah sesuai SOP yang berdasarkan evidence
satunya yaitu keguguran. Kariotipe normal based.
teridentifikasi pada separuh dari keguguran 3. Bagi Masyarakat
berulang tetapi hanya pada sepermpat dari Diharapkan hasil penelitian ini dapat
keguguran sporadic.Waktu terjadinya dipahami oleh masyarakat sehingga
keguguran mungkin memberi petunjuk masyarakat mengetahui tentang faktor-
tentang kausa. Pada contoh lain, faktor faktor yang berpengaruh terhadap
genetik tersering menyebabkan kematian kejadian abortus inkomplit, serta
mudigah dini, sementara penyakit autoimun memacu masyarakat untuk memiliki
atau anatomis lebih besar kemungkinannya keinginan untuk mengikuti berbagai
menyebabkan keguguran trimester kedua. penyuluhan tentang abortus inkomplit.

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


1. Ada pengaruh usia terhadap kejadian Anonim. 2013. Buku Saku Pelayanan
abortus inkomplit. Kesehatan Ibu DI Fasilitas Kesehatan
2. Ada pengaruh paritas terhadap kejadian Dasar Dan Rujukan. Jakarta.
abortus inkomplit pada ibu hamil di Anonim. 2015. Profil Kesehatan Indonesia
RSUD Gambiran Kota Kediri. 2015. Jakarta: Kemenkes RI
3. Ada pengaruh interval kehamilan Anonim. 2016. Profil Kesehatan Indonesia
terhadap kejadian abortus inkomplit pada 2016. Jakarta: Kemenkes RI
ibu hamil di RSUD Gambiran Kota
Kediri.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 73


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

Anwar, M. 2014. Ilmu Kandungan Edisi Tahun 2010-2011. Fakultas Kesehatan


Ketiga. Jakarta: P.T. Bidan Pustaka Masyarakat Universitas Sumatra
Sarwono Prawirohardjo. Utara.Diakses pada 11 Juli 2017.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Hardjito, K. 2011. Pengantar Biostatistika.
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Magetan: Forum Ilmu Kesehatan
Rineka Cipta. Hidayat, A. A. A. 2007. Metode Penelitian
Baba.S., dkk.Risk Factor of Early Kebidanan dan Teknik Analisis
Spontaneous Abortion Among Data.Jakarta: Salemba Medika
Japanese: a Matched Case Control Lukitasari, E. 2010.Kejadian Abortus
Study. Human Reproduction.2010 Inkomplitus yang Berkaitan dengan
December 14; Vol.26 pp. 466- Faktor Risiko pada Ibu Hamil di
472.Diakses pada Tangaal 13 Juli RSU.H.M Ryacudu Kotabumi
2017. Kabipaten Lampung Utara Tahun
Chamberlain, G. Dan Morgan, M., 2007-2009.Skripsi Fakultas
2013.Asuhan Antenatal edisi 4. Kesehatan Masyarakat Universitas
Jakarta: Penerbit EGC Indonesia.Diakses pada tanggal 15
Cuningham, Dkk, 2014. Obstetri William. Juli 2017.
Jakarta: EGC Mansjoer. 2010. Kapita Selekta Kedokteran.
Dede, M. 2013. Jurnal.Hubungan Paritas Jakarta: Media Aesculapius
dengan Kejadian Abortusbdi Ruang Manuaba, I. 2010. Ilmu Kebidanan,
Bersalin RSUD dr. H. Moch. Anshari Penyakit Kandungan, dan KB.
Saleh Banjarmasin. Banjarmasin: Jakarta: Penerbit IGC
Dinamika Kesehatan, Vol. 12 No. 17, Manuaba, I. B. G., dkk. 2010. Pengantar
diakses pada tanggal 10 Juli 2017 Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit
Dina. N. L. 2015. Jurnal.Faktor Resiko yang EGC
Berhubungan dengan Kejadian Mardiani, dkk. 2014. Usia Ibu Hamil
Abortus Spontan di RSUD Ungaran Terhadap Paritas Dengan Kejadian
Kabupaten Semarang.A Matched Abortus Di RSUD Dokter Agoesdjam
Case-Control.Humn Reproduction Ketapang.Poltekes Kemenkes
2015 juli.Semarang : Program Study Pontianak Jurusan Kebidanan.Diakses
DIV Kebidanan STIKES Ngudi pada 16 Juli 2017.
Waluyo Ungaran. Diakses pada 10 Marmi, A. R. M. S, dkk. 2011. Asuhan
Juli 2017. Kebidanan Patologi. Yogyakarta:
Fajriya, L. 2013. Analisis Faktor Resiko Pustaka Pelajar
Kejadian Abortus di RSUD Dr. ------------------. 2012. Intranatal Care
M.Djamil Padang.Jurnal Asuhan Kebidanan Pada Persalinan.
Keseperawatan Volume 9, No Yogyakarta: Pustaka Pelajar
2.Diakses pada tanggal 27 Agustus Medforth, J. dan Susan , dkk. 2011.
2017. Kebidanan Oxford: Dari Bidan untuk
Handayani, E. Y. 2015. Hubungan Umur Bidan. Jakarta: EGC
dan Paritas Dengan Kejadian Abortus Mochtar, R. 2011. Sinopsis Obstetric.
Di RSUD Kabupaten Rokan Jakarta: Penerbit EGC
Hulu.Universitas Pasir Pengaraian. Mochtar, R. 2015. Sinopsis Obstetric.
Diakses Pada tanggal 13 Juli 2017. Jakarta: Penerbit EGC
Halim, R., dkk. 2014. Karakteristik Nuraini, D., dkk. 2016. Faktor-faktor Yang
Penderita Abortus Inkomplit Di Berpengaruh Dengan Kejadian
RSUD DR. Pirngadi Kota Medan Abortus Di RSUD Kelet Kabupaten

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 74


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

Jepara Provinsi Jawa Tengah. Rumah Sakit Pusat dr. Soeradji


DIakses pada tanggal 20 Juli 2017. Tirtonegoro Klaten. Jurnal. Diakses
Nirwana, A. 2011.Kapita Selekta pada 10 Juli 2017
Kehamilan. Cetakan I. Yogyakarta: Sari, N. D. P. 2011. Hubungan Paritas dan
Nuha Medika. Usia Dengan Kejadian Abortus di
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Daerah Dr. Soedarso Pontianak.
Rineka Cipta Diakses pada tanggal 14 Juli 2017.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Saifuddin, A. B. 2014. Ilmu Kebidanan
Metodologi Penelitian Ilmu Edisi Keempat. Jakarta: PT Bina
Keperawatan pedoman skripsi, tesis, Pustaka Sarwono Prawirohardjo
dan instrument penelitian Sibagariang, E. E, dkk.2010. Buku Saku
keperawatan. Jakarta: Salemba Metodologi Penelitian Untuk
Medika Mahasiswa Diploma
Oxorn, H & William R. F. 2010.Ilmu Kesehatan.Jakarta: Trans Info Media
kebidanan: Patologi & Fisiologi Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian.
Persalinan. Yogyakarta: Yayasan Bandung: Alfabeta
Essentia Medika Sugiyono. 2014. Metode Penelitian
Pitriani, R. 2013. Faktor-faktor yang Kualitatif Kuantitatif R&D. Bandung:
Berhubungan Dengan Abortus Alfabeta
Inkomplit Di RSUD Arifin Achmad Vita.2015. Jurnal Faktor-Faktor yang
Provinsi Riau.Jurnal Kesehatan Mempengaruhi Terjadinya Abortus di
Komunitas, Vol.2, No.2, Diakses pada Wilayah Kerja Puskesmas di
tanggal 15 Agustus 2017. Kabipaten Gorontalo Utara.Jurusan
Prawirohardjo, S. 2014. Ilmu Kebidanan. Keperawatan Fakultas Ilmu
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Kesehatan dan Keolahragaan
Prawirohardjo Universitas Negeri Gorontalo.Diakses
Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. pada tanggal 15 Agustus 2017.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Wadud, M. 2013. Faktor-faktor yang
Prawirohardjo Berhubungan dengan Kejadian
Pudiastuti, R. D. 2012. Asuhan Kebidanan Abortus Imminens di Instalasi Rawat
Pada Hamil Normal Dan Patologi. Inap Kebidanan Rumah Sakit
Yohyakarta: Nuha Medika Muhamadiyah Palembang Tahun
Rahmani, S. L. 2013. Faktor-faktor Resiko 2011.Poltekkes Kemenkes Palembang
Kejadian Abortus Di RS Prikasih Jurusan Kebidanan.Diakses pada
Jakarta Selatan Pada Tahun 2013. tanggal 13 Agustus 2017.
Jurnal Diakses pada 13 Juli 2017. Wahyulia.N. (2012). Faktor- faktor yang
Rimanto, F. 2015. Hubungan Abortus berhubungan dengan abortus di
Inkomplit dengan Faktor Resiko pada RSUD dr. Zaonal Abidin banda
Ibu Hamil di Rumah Sakit Pindad aceh.Diakses Pada Tanggal 14 Juli
Bandung Periode 2013-2014.Diakses 2017.
pada tanggal 14 Juli 2017. Wahyuni, H. 2012. Faktor-faktor Risiko
Rochjati, P. 2011. Skrining Antenatal dan yang Berhubungan dengan Kejadian
Komplikasi Kehamilan. Surabaya: Abortus di Wilayah Puskesmas Sungai
Airlangga University Press. Kakap Kabupaten Kubu Raya
Rochmawati, P. N. 2014. Faktor-Faktor Kalimantan Barat Tahun 2011.Skripsi
yang MempengaruhiAbortus di Fakultas Kesehatan Masyarakat

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 75


ISSN Cetak 2303-1433
ISSN Online: 2579-7301

Universitas Indonesia.Diakses pada


tanggal 10 Juli 2017.
Wiknjosastro, H. 2008. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1, Nopember 2017 76