Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PEMBENIHAN IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS)

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH TEKNIK


PRODUKSI BENIH IKAN

Disusun oleh :
Kelompok 6/ Perikanan B

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pembenihan Ikan Nila”. Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Teknik Produksi Benih Ikan.
Demikianlah harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kami dan juga pembaca tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca
untuk perbaikan makalah selanjutya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.

Jatinangor, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI
BAB Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................i
I. PENDAHULUAN....................................................................................4
1.1 Latar Belakang.....................................................................................4
1.2 Tujuan..................................................................................................5
1.3 Manfaat................................................................................................5
II. ISI..............................................................................................................6
2.1 Biologi Ikan Nila..........................................................................6
2.1.1 Klasifikasi Ikan Nila........................................................................6
2.1.2 Morfologi Ikan Nila.........................................................................7
2.1.3 Habitat Ikan Nila..............................................................................8
2.1.4 Reproduksi Ikan Nila.......................................................................9
2.2 Pembenihan Ikan Nila......................................................................10
2.2.1 Teknik Pembenihan Ikan Nila...........................................................10

III. PENUTUP................................................................................................15
3.1 Kesimpulan..........................................................................................15
3.2 Saran....................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA…................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar
yang sering kita temui di Indonesia, salah satunya di Lampung. Ikan nila
termasuk ikan yang mempunyai kemampuan toleransi yang tinggi terhadap
lingkungan, sehingga menyebabkan ikan nila dapat dipelihara di dataran rendah
yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Nila
dapat dikatakan berprospek cerah dan lebih mudah diterima masyarakat luas,
karena pertumbuhannya begitu cepat, dapat dipelihara pada kepadatan tinggi serta
dapat menerima pakan alami dan pakan buatan (Arie 2000).

Ikan nila tersebar di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis yang pada
awalnya ikan ini berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Pada tahun
1969 secara resmi bibit ikan nila didatangkan ke Indonesia oleh Badan Penelitian
Perikan Air Tawar dan setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, ikan ini mulai
disebarluaskan ke petani ikan Indonesia untuk dibudidayakan. Ikan nila
merupakan nama khas yang kemudian diberikan Pemerintah melalui Direktur
Jenderal Perikanan (Rahardi, 1993).

Permintaan konsumen terhadap ikan nila menduduki posisi yang cukup


tinggi, di Pasar Internasional Amerika Utara (Amerika Serikat dan Canada) serta
Eropa yaitu adanya peningktan permintaan ikan nila setiap tahunnya (Fish
Farming Intl., 2005;2006). Permintaan yang tinggi ini harus segera disikapi
secara positif terhadap usaha peningkatan hasil budidaya agar dapat terpenuhinya
permintaan konsumen. Upaya pemenuhan kebutuhan permintaan ikan nila untuk
kebutuhan ekspor dan dalam negeri dapat dicapai dengan pelaksanaan usaha
peningkatan teknik budidaya ikan nila terutama saat pembenihan. Pada saat
proses pembenihan harus diperhatikan faktorfaktor yang akan memberikan
pengaruh pada ikan. Faktor lingkungan dan pakan akan memberikan pengaruh
pada pertumbuhan benih ikan nila. Pakan yang diberikan harus mampu
4
memenuhi kebutuhan gizi ikan sehingga ikan mampu tumbuh dan berkembang.
Menurut Mudjiman (2001), ikan nila termasuk jenis ikan pemakan segala
(omnivora) yang mampu tumbuh dengan berbagai jenis makanan baik jenis
hewani dan ataupun nabati. Ikan nila membutuhkan sumber protein yang tinggi
untuk perkembangannya.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui teknik-teknik

pembenihan ikan nila (Oreochromis niloticus)

1.3. Manfaat Penelitian

Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai teknik-teknik


pembenihan ikan nila (Oreochromis niloticus).

5
BAB II
ISI
2.1 Biologi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu jenis ikan konsumsi air
tawar yang telah lama dibudidayakan di Indonesia bahkan telah dikembangkan di
lebih dari 85 negara sebagai komoditi ekspor. Ikan ini berasal dari kawasan
Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Saat ini ikan nila telah tersebar
ke negara beriklim tropis maupun subtropis, sedangkan pada wilayah beriklim
dingin ikan nila tidak dapat hidup dengan baik (Kemal 2000). Pertumbuhan ikan
nila secara umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal meliputi
genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan
dengan pakan dan lingkungan. Faktor lingkungan tersebut diantaranya kuantitas
dan kualitas air yang meliputi komposisi kimia air, temperatur air, agen penyakit,
dan tempat pemeliharaan (Hepper dan Prugnin 1990).

2.1.1 Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)


Menurut Khairuman (2013) Ikan nila dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichtyes
Subkelas : Acanthopterygii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Gambar 1. Ikan Nila

6
(Sumber: Anjani 2014)

2.1.2 Morfologi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)


Ikan nila memiliki ciri morfologis yaitu berjari-jari keras, sirip perut
torasik, letak mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda
lainnya yang dapat dilihat dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak
keputihan. Bagian tutup insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih
agak kehitaman bahkan kuning. Sisik ikan nila berukuran besar, kasar dan
tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi sisi bagian depan. Ikan nila
memiliki tipe sisik stenoid. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang terputus
antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang mulai
dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip ekor.
Ukuran kepala relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai
mata yang besar (Kottelat et al. 1993).
Bentuk badan ikan nila (Oreochromis niloticus) ialah pipih ke samping
memanjang. Mempunyai garis vertikal pada badan sebanyak 9–11 buah,
sedangkan garis-garis pada sirip berwarna merah berjumlah 6–12 buah. Pada sirip
punggung terdapat juga garis-garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif
besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar
dibandingkan ikan mujair. Garis lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan
dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah (Susanto 2007).
Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang
genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping
lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai
saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih
gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh,
sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar (Suyanto 2003).
Perbedaan ciri morfologis antara ikan nila jantan dengan ikan nila betina dapat
dilihat pada Gambar 2.

7
Gambar 2. Perbedaan morfologi ikan nila jantan dan betina
(Sumber : Suyanto 2003)
Ikan nila ukuran kecil relatif lebih cepat menyesuaikan diri, terhadap
kenaikan salinitas dibandingkan dengan nila ukuran besar. Secara umum ikan nila
sangat tahan terhadap serangan penyakit, yang disebabkan oleh virus, bakteri,
jamur dan kelebihan ikan nila dengan sistem intensif sangat menjamin ikan nila
tidak terserang penyakit, mengingat penggantian air kontinyu dilakukan setiap
hari minimal 20 % (Pullin et al. 1992).
2.1.3 Habitat Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Ikan nila umumnya hidup di perairan tawar, seperti sungai, danau, waduk,
rawa, sawah dan saluran irigasi, tetapi toleransi yang luas terhadap salinitas
sehingga ikan nila dapat hidup dan berkembang biak pada perairan payau dengan

8
salinitas yang disukai antara 0-35. Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan
diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Ikan ini memiliki toleransi yang
tinggi terhadap lingkungan hidupnya, sehingga bisa dipelihara di dataran rendah
yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah
(Trewavas 1982). Ikan nila mampu hidup pada suhu 14 - 38oC dengan suhu
terbaik adalah 25-30oC dan dengan nilai pH air antara 6 - 8,5. Hal yang paling
berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0
– 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski nila bisa hidup
dikadar garam sampai 35% namun ikan sudah tidak dapat tumbuh berkembang
dengan baik (Suyanto 2003).

2.1.4 Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)


Reproduksi merupakan suatu proses biologi mulai dari differensiasi
seksual hingga dihasilkannya individu baru (larva) yang melibatkan kinerja dari
beberapa jenis hormon (Bernier et al. 2009). Gonad adalah bagian dari organ
reproduksi pada ikan yang menghasilkan telur pada ikan betina dan sperma pada
ikan jantan. Ikan pada umumnya mempunyai sepasang gonad dan jenis kelamin
umumnya terpisah (Sukiya, 2005). Perkembangan gonad ikan nila dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti hormon, makanan dan faktor lingkungan. Stickney
(2006) mengemukakan bahwa ikan nila pada kondisi budidaya (terkontrol) lebih
cepat matang gonad dibandingkan dengan ikan nila yang hidup di perairan alami.
Menurut Darwisito (2006), bahwa pada salinitas 10 ppt ketahanan tubuh
ikan nila menjadi lebih baik serta merupakan kondisi lingkungan terbaik yang
mempengaruhi reproduksi pada induk ikan nila seperti fekunditas, nilai GSI
(gonad somatik indeks), perkembangan embrio dan waktu inkubasi telur.
Watanabe dan Kuo (1988), mengemukakan bahwa penampilan dan reproduksi
ikan nila lebih baik pada salinitas 5-15 ppt dari pada di air tawar dan air laut 30
ppt. Selain faktor lingkungan, keberadaan hormon, seperti tiroksin juga
memegang peranan penting dalam pengaturan fisiologi tubuh ikan nila seperti
osmoregulasi, metabolisme dan reproduksi. Hormon tiroksin berperan dalam
mengontrol adaptasi salinitas, meningkatkan konsumsi oksigen, laju metabolisme

9
protein dan lemak sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap
reproduksi ikan nila (Handayani 1997).

2.2 Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)


Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pembenihan ikan nila adalah
lahan yang dipakai kegiatan pembenihan dengan air yang tersedia sepanjang
tahun, kondisi kolam baik, dan air tidak tercampur oleh bahan-bahan yang
berbahaya.
2.2.1 Teknik Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
a. Persiapan kolam
Menurut Wiryanta et al. (2010), kolam yang digunakan berlokasi diatas
permukaan laut (0 – 1000 mdpl), bebas banjir / pengaruh pencemaran, tekstur
tanah liat berpasir, pH tanah 5-8, mempunyai sumber air cukup melimpah dan
tidak tercemar. Kolam yang digunakan yaitu kolam indukan, kolam pemijahan,
kolam penampungan larva, kolam pendederan. Letak kolam atau lahan
pendederan dekat dengan kolam induk.
1. Pengeringan.
Kolam dikeringkan selama minimal 1 minggu untuk mencegah adanya
hama, penyakit, dan jamur. Pengeringan juga dapat mempermudah dalam
perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam dan pembuatan kemalir.
Umumnya pengeringan dilakukan selama 2-4 hari sampai pengeringan dianggap
cukup dengan kondisi tanah dasar yang sudah terlihat retak-retak. Kemudian
mencangkul lahan untuk membantu mematikan hama diseluruh bagian, khususnya
dasar kolam yang berlumpur.
2. Perbaikan Pematang
Jika perbaikan tidak dilakukan akan timbul masalah seperti kesulitan
dalam mempertahankan tinggi air dan benih dapat terbawaarus ke luar kolam.
Perbaikan pematang dilakukan dengan penutupan sisi bagian dalam pematang
dengan tanah dasar kolam.
3. Pengapuran

10
Untuk menetralkan pH tanah serta membunuh hama dan penyakit yang
ada di kolam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur tohor (CaO) dengan dosis
20 gram/m atau 100 gr per m2. Pengapuran dilakukan dengan menebarkan kapur
secara merata ke seluruh dasar kolam. Setelah pengapuran dilakukan, kemudian
kolam dapat diairi dengan ketinggian yang berbeda pada setiap kolam. Kemudian
didiamkan selama 3-5 hari untuk memberi kesempatan tumbuhnya pakanalami
dalam kolam.
4. Pemupukan
Untuk menyuburkan tanah dasar kolam sehingga organisme sebagai pakan
alami dapat tumbuh dengan baik. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk
kandang dari kotoran sapi, ayam, atau puyuh dengan dosis 250 gram per m 2.
Pupuk ditebar di lahan, lalu dicangkul hingga mendapatkan ketebalan lumpur
sekitar 20 cm.

b. Pemilihan induk
Pemeliharaan induk yang bertujuan untuk menghasilkan benih yang
berkualitas baik dan jumlah telur yang banyak. Menurut Wiryanta (2010), syarat
indukan ikan nila yang baik yaitu:
- Induk jantan dan betina harus sehat dan matang gonad. Cirinya berumur 4-5
bulan, tubuuh tidak cacat, tidak ada kelainan bentuk, organ tubuh lengkap, sisik
teratur, perilaku normal, tubuh bebas parasit, insang bersih, tutup insang normal,
berlendir normal, serta pada betina perutnya membesar dan urogenitalnya
berwarna merah.
- Bobot tubuh induk jantan minimum 250 gram dan betina minimum 200
gram/ekor. Panjang standar indukan jantan 25 cm, betina 22 cm.
- Kondisi sisik besar dan kasar (ctenoid), pola sisik yang normal.
- Perbandingan tinggi terhadap panjang standar indukan 1 : 2,1 hingga 1 : 2,7.
Amri dan Khairuman (2003) menyebutkan ciri-ciri induk ikan nila jantan
dan betina dapat dilihat pada tabel berikut ini.

11
Tabel 1. Ciri-Ciri Induk Nila Jantan dan Induk Nila Betina

c. Pemeliharaan Induk
Untuk pematangan gonad, ikan nila bisa dipelihara dalam kolam terpisah
dengan padat tebar 1-3 ekor/m2. Pernyataan ini didukung oleh Murtidjo (2001),
induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk secara
terpisah untuk menghindari terjadinya pemijahan liar selama pemeliharaan serta
mengistirahatkan induk setelah masa pemijahan. Induk diberi pakan dengan
kandungan protein 20 - 30%. Setelah 20-30 hari lebih dari 75% ikan sudah
matang gonad siap pijah.
d. Pemijahan induk
- Pemijahan Alami
Sebelum memijah ikan Nila jantan selalu membuat sarang berupa lekukan
berbentuk bulat di dasar perairan. Diameter lekukan setara dengan ukuran ikan
Nila jantan. Sarang itu merupakan daerah teritorial ikan Nila jantan. Ketika masa
birahi, ikan Nila jantan kelihatan tegar dengan warna 20 cerah dan secara agresif
mempertahankan daerah terotorialnya tersebut. Sarang tersebut berfungsi sebagai
tempat pemijahan dan pembuahan telur. Proses pemijahan ikan Nila berlangsung
sangat cepat. Setelah telur terbuahi, induk betina akan menangkap telur-telur
tersebut untuk dierami di dalam mulutnya. Selama mengerami telur-telurnya
induk betina tidak makan (puasa). Telur ikan Nila berdiameter kurang lebih 2,8
mm, berwarna abu-abu, kadang-kadang berwarna kuning, tidak lengket, dan

12
tenggelam di dasar perairan. Telur-telur yang telah dibuahi dierami di dalam mulut
induk betina kemudian menetas setelah 4-5 hari. Telur yang sudah menetas
disebut larva. Panjang larva 4-5 mm. Larva yang sudah menetas diasuh oleh induk
betina hingga mencapai umur 11 hari dan berukuran 8 mm. Larva yang sudah
tidak diasuh oleh induknya akan berenang secara bergerombol di bagian perairan
yang dangkal atau di pinggir kolam (Amri & Khairuman, 2002: 20-21).
- Pemijahan buatan
Ikan nila dapat menggunakan hormon ovaprim maupun oksitosin.
Ovaprim digunakan karena dapat memicu proses pematangan akhir dan ovulasi
telur ikan sehingga baik digunakan saat pemijahan semi-alami dan buatan.
Hormon oksitosin berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding
rahim/uterus yang dapat memper mudah dalam membantu proses kelahiran
(Caldwell dan Young 2006). Penggunaan hormon oksitosin untuk menginduksi
dalam proses pemijahan pernah diteliti pada beberapa spesies ikan seperti ikan
lele sangkuriang (Clarias sp.) dengan volume total penyuntikan hormon 0,2
mL/kg (Mayyanti 2013), dan ikan synodontis (Synodontis eupterus) dengan
volume total penyuntikan 0,8 mL/kg (Ramad 2013). Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa hormon oksitosin memiliki keterlibatan pada pemijahan dan
proses melahirkan di induk betina. Menurut Viveiros et al. (2003), pada proses
reproduksi ikan peran oksitosin tidak sepenuhnya diketahui seperti pada kelas
vertebrata lainnya, karena oksitosin tidak pernah dievaluasi pada spesies ikan.
e. Pemeliharaan Larva
Pendederan merupakan proses memelihara larva hingga memenuhi kriteria
benih sesuai ukuran yang diinginkan. Kolam pendederan dapat menggunakan
kolam untuk pembesaran atau bekas kolam pemijahan.
- Pendederan I
Pendederan I merupakan pemeliharaan larva sampai berumur 21-28 hari
dan menghasilkan benih nila dengan ukuran 3-5 cm. Selama pendederan I benih
ikan nila diberi pakan sebanyak 3 kali sehari pagi, siang, sore, berupa pellet halus
dengan protein 10-15% dari bobot biomassa. Pemanenan benih dilakukan
menggunakan jaring/hapa, lalu dilakukan grading berdasarkan ukuran. Panen

13
dilakukan pada benih ukuran 3-5 cm, yang lainnya dibiarkan di kolam untuk
dibudidayakan sesuai ukurang yang diinginkan.
- Pendederan II
Pendederan II merupakan pemeliharaan larva selama 21-28 hari setelah
P1, untuk menghasilkan ukuran benih 5-7 cm. Diberikan pakan 3x sehari sehari
pagi, siang, sore, berupa pellet yang mengandung protein 7,5 – 10 % dari bobot
biomassa. Menurut Wiryanta (2010) presentase mortalitas pada pendederan II
biasanya sekitar 20%.
- Pendederan III
Pendederan III / terakhir merupakan pemeliharaan larva selama 21-28 hari
setelah P2, untuk menghasilkan ukuran benih gelondongan atau 10-12 cm.
Diberikan pakan 3x sehari sehari pagi, siang, sore, berupa pellet yang
mengandung protein 5 % dari bobot biomassa. Menurut Wiryanta (2010) benih ini
dapat ditebar di kolam jaring apung atau tambak air payau.

f. Pemanenan
Pemanenan dilakukan dengan pengambilan benih yang telah siap tebar
untuk selanjutnya dapat di lakukan pembesaran dengan membuka saluran outlet
wadah pemeliharaan larva atau dengan cara mengambil larva dengan
menggunakan serokan. Waktu yang baik untuk memanen benih adalah pada pagi
hari sekitar jam 6 dan sore hari sebelum magrib. Menurut Mahyuddin (2009)
metode yang digunakan yaitu menyurutkan air kolam sedikit demi sedikit sampai
air hanya tersisa di kemalir atau kowen (kobakan/lubang kecil di sudut kolam).
Benih yang terkumpul ditangkap secara hati-hati dan dimasukkan ke ember,
kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara berupa hapa atau waring
yang dipasang di kolam. Lalu dilakukan sortis dan dimasukkan ke wadah
pengangkutan. Benih terlebih dahulu diberokan / dipuasakan sebelum dikirim.

BAB III

14
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pembenihan ikan nila meliputi dari mulai seleksi induk, pemeliharaan


induk, pemijahan induk, pemeliharaan larva dan pemanenan larva. Factor yang
paling penting dalam pemijahan ikan nila adalah tergantung pada kualitas saat
pada seleksi induk, dan pemeliharaan induknya. Dan ikan nila betina
menggunakan teknik mouthbreeding atau merawat larva pada mulut induk betina.

3.2 Saran

Lebih memperhatikan pada saat seleksi induk dan pada saat pemeliharaan
induk untuk mencapai hasil pemijahan yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

15
Arie, U. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya. Jakarta.
Cahyono, B. 2002.Budidaya Ikan Air Tawar, Kanisius. Yogyakarta.

Effendie, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan


Lingkungan Perairan.. Kanisius : Yogyakarta.

Judantari, Sri., Khairuman dan Amri. 2008. Nila Nirwana Prospek Bisnis dan
Tekhnik Budidaya Nila Unggul.Gramedia. Jakarta. Jangkaru,

Zulkifli. 1995. Pembesaran Ikan Air Tawar dan Berbagai Lingkungan


Pemeliharaan. PT. Penebar Swadaya, anggota IKAPI : Jakarta.

Khairuman dan Khairul, A 2003.Budidaya ikan Nila secara Intensif. Agromedia


Pustaka. Jakarta. Pauji, A. 2007.Beberapa teknik Produksi Induk Unggul
ikan nila dan ikan Mas.Disampaikan pada pelatihan tenaga teknis sewilayah
timur Indonesia.BBAT Tatelu, Manado.

Sucipto, A. dan Prihartono, E. 2007.Pembesaran Nila Merah Bangkok. Penebar


Swadaya, Jakarta. Sucipto, 1. 2009. Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis
sp.). Balai Budidaya Air Tawar : Sukabumi.

Sutrisno. 2007. Budi Daya IkanTawar.Ganecaexact.Jakarta.74hlm


Reahardi,F.1993.Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya.Jakarta. 150hlm.
Riyanto,B. 1993.Dasar-DasarPembelajaranPerusahaan.UniversitasGajah
Mada.Yokyakarta.126hlm.

16