Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

CA MAMAE

A. TINJAUAN TEORI
1. DEFINISI
Kanker payudara adalah karsinoma yang berasal dari epitel duktus atau lobulus
payudara (Suyatno & Pasaribu, 2014)
Kanker payudara merupakan tumor malignan yang muncul di dalam sel pada
payudara. Tumor malignan adalah sekelompok sel-sel kanker yang tumbuh di dalam
(terinvasi) di seluruh jaringan atau menyebar (metastasis) di beberapa area pada
tubuh (American Cancer Society, 2015).
Kanker payudara adalah pertumbuhan sel yang abnormal pada jaringan payudara
seseorang, yang bersifat buruk, sifat tumbuhnya sangat cepat, merusak, menyebar
dan menyebabkan kegagalan fungsi organ lainnya, bila sudah sampai stadium lanjut,
pengangkatan payudara kadang-kadang dilakukan untuk keselamatan klien (Soemitro
& Aksan, 2012).

2. ANATOMI PLFKISIOLOGI PROSTAT


Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan yaitu jaringan kelenjar dan
jaringan stromal. Jaringan kelenjar meliputi lobus dan duktus. Sedangkan jaringan
stromal meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Payudara terdapat dalam fasia
superfisialis dinding torak ventral yang berkembang menonjol tegak dari
subklavikula sampai dengan costae atau intercostae kelima sampai keenam (Haryono
et al., 2011; Moore et al., 2009). Adapun anatomi payudara tersaji pada gambar 1.

Gambar 1. Anatomi mammae anterior (Sumber: http://www.cancer.gov).

Perdarahan jaringan payudara berasal dari arteri perforantes anterior yang


merupakan cabang dari arteri mammaria interna, arteri torakalis lateralis, dan arteri
interkostalis posterior. Sedangkan, sistem limfatik payudara terdiri dari pleksus
subareola dan pleksus profunda. Pleksus subareola mencakup bagian tengah
payudara, kulit, areola dan puting yang akan mengalir kearah kelenjar getah bening
pektoralis anterior dan sebagian besar ke kelenjar getah bening aksila. Pleksus
profunda mencakup daerah muskulus pektoralis menuju kelenjar getah bening rotter,
kemudian ke kelenjar getah bening subklavikula atau route of Grouzsman, dan 25%
sisanya menuju kelenjar getah bening mammaria interna (Soetrisno, 2010). Sistem
limfatik payudara tersaji pada gambar 2.

Gambar 2. Sistem limfatik mammae (Sumber: http://www.edoctoronline.com).

Persarafan sensorik payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan cabang
saraf interkostalis kedua sampai keenam sehingga dapat menyebabkan penyebaran
rasa nyeri terutama pada punggung, skapula, lengan bagian tengah, dan leher (Moore
et al., 2009).

Secara fisiologi, unit fungsional terkecil jaringan payudara adalah asinus. Sel
epitel asinus memproduksi air susu dengan komposisi dari unsur protein yang
disekresi apparatus golgi bersama faktor imun IgA dan IgG, unsur lipid dalam bentuk
droplet yang diliputi sitoplasma sel. Dalam perkembangannya, kelenjar payudara
dipengaruhi oleh hormon dari berbagai kelenjar endokrin seperti hipofisis anterior,
adrenal, dan ovarium. Kelenjar hipofisis anterior memiliki pengaruh terhadap
hormonal siklik follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
Sedangkan ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron yang merupakan
hormon siklus haid. Pengaruh hormon siklus haid yang paling sering menimbulkan
dampak yang nyata adalah payudara terasa tegang, membesar atau kadang disertai
rasa nyeri. Sedangkan pada masa pramenopause dan perimenopause sistem
keseimbangan hormonal siklus haid terganggu sehingga beresiko terhadap
perkembangan dan involusi siklik fisiologis, seperti jaringan parenkim atrofi diganti
jaringan stroma payudara, dapat timbul fenomena kista kecil dalam susunan lobular
atau cystic change yang merupakan proses aging (Soetrisno, 2010; Sabiston, 2011).
3. ETIOLOGI
Penyebab kanker payudara secara pasti belum diketahui. Penyakit ini adalah
penyakit heterogen yang kemungkinan besar berkembang sebagai hasil dari banyak
faktor (Newton et. al., 2009). Faktor risiko kanker payudara adalah:
a. Jenis kelamin wanita. Insiden kanker payudara pada wanita dibanding pria
lebih dari 100:1. Secara umum 1 dari 9 wanita Amerika akan menderita kanker
payudara sepanjang hidupnya.
b. Usia menurut National Cancer Institute’s Surveillance Epidemiology and End
Result Program, insiden kanker payudara meningkat cepat selama dekade ke-
kehidupan. Setelah menopause insiden terus meningkat tapi lebih lambat,
puncak insiden pada dekade kelima dan keenam dan level terendah pada
dekade keenam dan ketujuh. Satu dari 8 penderita kanker payudara berusia
kurang dari 45 tahun dan berkisar 2/3 penderita kanker payudara berusia lebih
dari 55 tahun.
c. Riwayat keluarga: pasien dengan riwayat keluarga tingkat pertama (ibu dan
saudara kandung) mempunyai resiko 4-6 kali dibanding wanita yang tidak
mempunyai faktor risiko ini. Pasien dengan keluarga tingkat pertama pre
menopause menderita bilateral breast cancer, mempunyai risiko 9 kali. Pasien
dengan keluarga tingkat pertama post menopause menderita bilateral breast
cancer mempunyai risiko 4-5,4 kali.
d. Usia melahirkan anak pertama, jika usia 30 atau lebih risiko 2 kali dibanding
wanita yang melahirkan usia kurang dari 20 tahun.
e. Riwayat menderita kanker payudara, juga merupakan faktor risiko untuk
payudara kontralateral. Risiko ini meningkat pada wanita usia muda.
f. Predisposisi genetikal. Risiko ini berjumlah kurang dari 10% kanker payudara.

4. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Shadine (2012), tanda dan gejala kanker payudara yaitu :
a. Benjolan pada payudara. Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada
payudara. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat
pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting
susu.
b. Erosi atau eksema puting susu. Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke
dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi
oedema, hingga kulit kelihatan seperti jeruk (peau d’orange), mengkerut atau
timbul borok (ulkus pada payudara). Borok itu makin lama makin besar dan
mendalam sehingga dapat menghancurkan payudara, sering berbau busuk, dan
mudah berdarah.
c. Pendarahan pada puting susu.
d. Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah
timbul borok atau kalau sudah ada metastase ke tulang-tulang.
e. Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening ketiak, bengkak pada lengan
dan penyebaran kanker di seluruh tubuh.

5. PATOFISIOLOGI
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-ssel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap insiasi dan promosi. Pada tahap insiasi
terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel menjadi ganas. Perubahan dalam
bahan genetik sel disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa
berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Teteapi tidak
semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik
dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan
terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel
menjadi lebih peka untuk mengalami keganasan.
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah
menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh
promosi. Karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan
(gabungan dari sel peka dan suatu karsinogen) (Shadine, 2012).
Carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada
sistem duktal, mula – mula terjadi hiperplasia sel – sel dengan perkembangan sel-sel
atipik. Sel - sel ini akan berlanjut menjadi carcinoma insitu dan menginvasi stroma.
Carsinoma membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal sampai
menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba (kira – kira berdiameter 1 cm).
Pada ukuran itu kira – kira seperempat dari carsinoma mammae telah bermetastasis.
Carsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan
sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah.
6. PATHWAY

Perubahan genetik Ketidakseimbangan hormon Lingkungan ( radiasi, obesitas, )


estrogen dan progesteron

Mutasi yang mempengaruhi Mempengaruhi epitel payudara Peningkatan Estrogen dalam


proto onkogen dan tubuh
penekanan tomor di epitel
payudara Reseptor hormon berinteraksi
dengan transforming growth faktor
dan pertumbuhan fibroblast

Mempengaruhi mekanisme autokrin


perkembangan tumor

CARCINOMA MAMMAE

1 2 Memerlukan O2 dan nutrisi Kurangnya paparan


untuk perkembangan tumor informasi tentang penyakit

Hipermetabolik Penurunan Aliran


O2 ke seluruh Defisit Klien bertanya-
tubuh tanya tentang
Pemecahan pengetahuan
sumber energi penyakitnya
berlebih Metabolisme anaeorob
terutama protein
Ansietas
Penurunan zat-zat ↓ Albumin, globulin, Penurunan Produksi ATP
pembentuk antibodi fibrinogen untuk menghasilkan energi

Penurunan Sistem Penurunan Berat Intoleransi Aktivitas


imun badan

Resiko Infeksi Ketidakseimbangan


nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
2
1

Infiltrasi pada membran


Penyebaran melalui limfe
basal
dan pembuluh darah

Hiperplasia sel-sel
Pembengkakan Metastase ke
kelenjar getah bening organ sekitar
di aksila Tumor semakin
membesar
Ke paru-paru
Aliran limfe dan
darah tersumbat di
ekstremitas atas Mendesak pembuluh Mendesak ujung- Peningkatan
Infiltrasi tumor ke
ujung saraf bebas konsistensi
jaringan paru darah kulit payudara
mammae
Edema pada tangan
Gangguan Nyeri
ekspansi paru Perfusi disekitar Ukuran
payudara mammae
Klien malu dengan
kondisinya abnormal
Adaptasi tubuh: Penurunan perfusi
hiperventilasi
ke kulit sekitar
Mammae
payudara
asimetrik
Ketidakefektifan
pola nafas Ulkus

Terbukanya Kerusakan
barrier tubuh Integritas Kulit

Perawatan luka
tidak adekuat

Resiko Infeksi

Gangguan Citra
Tubuh
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Mamografi
Ketika sinar-X payudara dibuat untuk melihat adanya kanker, prosesnya
disebut mamografi, hasil fotonya disebut mammogram.Mammogram dapat
menemukan tumor yang sangat kecil sebelum mereka menyebar kejaringan
payudara dan nodul getah bening di sekitanya, bahkan sebelum tumor tersebut
dapat dirasakan sebagai benjolan (Whittaker & Buckman, 2010).
b. Ultrasonografi (USG) Payudara
USG payudara (brest ultrasound) merupakan gambar yang dibuat melalui
gelombang suara sebagai ganti sinar-X. ini tidak digunakan secara rutin dalam
screening payudara karena hasilnya tidak sebaik mammogram dalam mengenali
kanker. Meskipun demikian, ini dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan
dalam beberapa kasus, untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang
abnormalitas yang terlihat pada mammogram.Ultrasound scan sangat baik untuk
menemukan kista, jadi ini dapat digunakan untuk wanita yang lebih muda
(dibawah 35 tahun) yang mempunyai benjolan yang kemungkinan besar adalah
kista (Whittaker & Buckman, 2010).
c. Sitologi
Semua benjolan payudara yang ditemukan dengan mammogram harus
diuji lebih teliti.Ahli patologi melihat sel dari benjolan itu di bawah mikroskop
(ini disebut sitologi) untuk melihat apakah sel itu ganas atau tidak.Sel kanker
tampak berbeda dengan sel normal. Pada pemeriksaan sitologi dengan aspirasi
jarum kecil, sel disedot memakai jarum tipis.Kalau benjolan sangat kecil,
specialis dapat menggunakan ultrasound atau rontgen untuk memastikan bahwa
jarum berada di tempat yang tepat.Aspirasi jarum kecil dapat menunjukkan
apakah benjolan padat atau kista. Kalau kista, cairan yang berada di dalamnya
akan dikeluarkan hingga kistanya hilang. Cairan dalam kista dikirim ke
laboratorium untuk dianalisis, memastikan bahwa tidak ada sel kanker di
dalamnya (Whittaker & Buckman, 2010)..
d. Biopsi
Biopsi payudara (breast biopsy) merupakan tindakan untuk memngambil
contoh jaringan payudara dan dilihat dibawah lensa mikroskop untuk mengetahui
adanya sek kanker payudara.Pelaksanaan biopsy payudara biasanya dilakukan
untuk mengetahui lebih lanjut benjolan payudara yang ditemukan saat
pemeriksaan dengan mammogram atau USG payudara. Hasil biposi payudara
akan memberikan jawaban apakah contoh jaringan payudara pada benjolan
merupakan bersifat kanker ganas (malignant) atau nonkanker jinak (benign).
Dengan demikian, biopsy dilakukan ketika mammogram, tes pencitraan
lainnya, atau pemeriksaan fisik, menemukan sebuah perubahan atau ketidak
normalan payudara yang mungkin mengarah pada kanker. Dengan kata lain,
biopsy menjadi cara untuk menyampaikan bahwa kanker itu benar-benar ada atau
tidak (Pamungkas, 2011).
e. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Scan MRI menggunakan magnet dan gelombang radio sebagai pengganti
dari sinar-X untuk menghasilkan citra tubuh dengan sangat detail dan dari
berbagai posisi. Pengujian MRI yang paling berguna bagi pencitraan payudara
menggunakan material kontras (gadolinium) yang disuntikkan kedalam
pembuluh vena kecil di lenga, sebelum atau selama pemeriksaan.Hal yang
memperbaiki kemampuan MRI untuk secara jelas menunjukkan detail-detail
jaringan payudara.

8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut TimCancerHelps (2010), ada beberapa pengobatan kanker payudara,
antara lain :
a. Pembedahan
Secara umum, semakin kecil ukuran tumor, biasanya dokter akan
menganjurkan untuk melakukan operasi. Berikut ini beberapa jenis
pembedahan yang biasa dilakukan untuk pengobatan kanker payudara :
1) Lumpectomy, yaitu operasi pengangkatan tumor dan jaringan
disekitarnya. Untuk kasus DCIS (Ductal Carsinoma In Situ) dan kenkaer
invasif biasanya akan dilanjtkan dengan tarapi radiasi.
2) Total Mastectomy, yaitu operasi pengankatan seluruh payudara, tetapi
tidak termasuk kelenjar getah bening di bawah ketiak.
b. Kemoterapi Ajuvan
Penelitian telah menunjukkan bahwa kemoterapi ajuvan untuk tahap awal
pengobatan kanker payudara bertujuan untuk membantu mencegah
kekambuhan kanker. Biasanya akan diberikan lebih dari satu jenis obat selama
dilakukan kemoterapi ajuvan. Kemoterapi ini juga dapat menyebabkan efek
samping. Efek samping biasanya disebabkan oleh jenis obat-obatan yang
digunakan dan biasanya terbatas pada bagian tubuh yang aktif melakukan
pembelahan sel. Efek samping yang mungkin dapat terjadi yaitu kerontokan
rambut, sakit mata, luka mulut, mual dan muntah, penurunan hitung sel darah,
diare, dan letargi. Efek samping yang biasanya terjadi adalah mual muntah.
Adapun cara mengurangi rasa mual dan muntah dengan cara makan sedikit
tetapi sering dan dengan mengonsumsi makanan lunak. Mual juga dapat
dikurangi dengan meminum minuman tawar atau berkarbonasi, seperti air
soda, kola, limun, meminum air jahe atau mengonsumsi biskuit atau kue
kering (Andrews, 2010).
c. Terapi Hormon
Terapi ini paling sering digunakan untuk membantu mengurangi resiko
kekambuhan kanker setelah operasi, tetapi dapat juga digunakan untuk
mengobati kanker payudara yang telah menyebar atau kambuh setelah
pengobatan. Pengobatan terapi hormon pada penderita kanker payudara yang
sel-sel kankernya memiliki reseptor estrogen (ER positif) bertujuan untuk
menghambat atau menurunkan kadar estrogen.
d. Target Terapi
Obat-obatan target terapi tidak bekerja seperti obat kemoterapi standar.
Mereka sering memiliki efek samping yang berbeda dan tidak terlalu parah.
e. Radioterapi
Radioterapi biasanya diberikan setelah operasi pembedahan lokal dan
dapat diberikan setelah mastectomy.Bagi wanita dengan resiko tinggi, dokter
dapat menggunakan radioterapi setelah mastectomy untuk membunuh sel-sel
kanker yang mungkin tersisa di jaringan sebelah payudara, seperti dinding
dada atau kelenjar getah bening di dekatnya.

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan
nyeri.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae, kebiasaan
makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga pernah
mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker
lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan
klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat
dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian
posterior.
2) Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
3) Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata
anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
4) Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
5) Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
6) Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
7) Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.
8) Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi
atau tanda-tanda radang.
9) Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.
10) Ekstremitas : biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

e. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon


1) Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
2) Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
3) Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
4) Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
5) Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
6) Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
7) Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
8) Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi social.
9) Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
10) Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.
11) Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang
dada.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
b. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan agens cidera biologis
c. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan invasi sel kanker kedalam jaringan
dermis sekunder
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status
hipermetabolik Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transpor
oksigen sekunder
e. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
f. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan bentuk dan struktur bagian
tubuh
g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
h. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (penurunan
sistem imun).
i. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi terkait
penyakit

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1
2 Nyeri Akut NOC NIC
Definisi : Pengalaman sensori Outcome tambahan untuk  Akupressur
dan emosional tidak Mengukur Batasan  Pemberian analgetik :
menyenangkan yang muncul Karakteristik pemberian analgesik :
akibat kerusakan jaringan  Tingkat kecemasan intraspinal
aktual atau potensial atau yang  Nafsu makan Pemberian anastesi
digambarkan sebagai  Kepuasan klien : Pengurangan
kerusakan (International Managemen nyeri kecemasan
Association for the Study of  Kepuasan klien : Pemberian obat
Pain) : awitan yang tiba-tiba Kontrol gejala  Manajemen nyeri
atau lambat dari intensitas  Status kenyamanan  Manajemen sedasi
ringan hingga berat dengan  Pergerakan  Stimulasi Listrik
akhir yang dapat diantisipasi  Tidur Syaraf
atau diprediksi.
 Keparahan mual dan Transkutaneus
Batasan Karakteristik :
muntah (TENS)
 Bukti nyeri dengan
 Tanda-tanda vital  Pilihan Intervensi
menggunakan standar
Outcome yang Berkaitan tambahan :
daftar periksa nyeri
dengan Faktor yang  Mendengar aktif
untuk pasien yang
Berhubungan atau Output  Peningkatan
tidak dapat
Menengah mekanika tubuh
mengungkapkannya
 Pengetahuan :  Peningkatan koping
 Diaforesis
Menejemen penyakit  Pengalihan
 Dilatasi pupil
akut  Dukungan
 Ekspresi wajah nyeri
 Pengetahuan : emosional
 Fokus menyempit Manajemen nyeri  Peningkatan latihan :
 Fokus pada diri sendiri  Respon pengobatan peregangan
 Keluhan tentang  Status neurologi  Terapi latihan :
intensitas  Keparahan cedera fisik ambulasi
menggunakan standar
 Tingkat stress  Terapi latihan :
skala nyeri
 Integrasi jaringan : kulit keseimbangan
 Perubahan posisi
& membrane mukosa  Terapi latihan
untuk menghindari
 Perfusi jaringan :pergerakan sendi
nyeri
 Penyembuhan luka :  Terapi latihan :
 Perubahan selera
primer kontrol otot
makan
 Penyembuhan luka :  Terapi musik
 Putus asa
sekunder  Terapi oksigen
 Sikap melindungi area
 Terapi relaksasi
nyeri
 Monitor tanda-tanda
vital
3 Kerusakan intergritas kulit NOC : NIC :
Definisi : Perubahan pada Outcome untuk mengukur  Perawatan amputasi
epidermis atau dermis penyelesaian dari diagnosis  Memandikan
Batasan karakteristik :  Integritas jaringan :  Pengurangan
 Benda asing menusuk kulit & membran pendarahan
permukaan kulit mukosa  Perawatan sirkulasi
 Kerusakan integritas  Monitor elektrolit
kulit Outcome tambahan untuk  Peningkatan latihan
mengukur batasan  Perawatan area sayatan
Faktor yang berhubungan : karakteristik  Perlindungan terhadap
Eksternal :  Respon alergi : latex
 Hipertermia atau lokal  Pemberian obat kulit
hipotermia  Penyembuhan luka  Perawatan luka tekan
 Substansi kimia bakar
 Pencegahan luka tekan
 Kelembaban udara  Akses hemodialisis
pengecekan kulit
 Faktor mekanik  Penyembuhan luka  Pembidaian
(misalnya : alat yang primer
 Menjahit luka
dapat menimbulkan  Penyembuhan luka
 Perawatan luka
luka, tekanan, sekunder
 Perawatan tirah baring
restraint)
 Kontrol infeksi
 Immobilitas fisik Outcome yang berkaitan
manajemen nutrisi
 Radiasi dengan faktor yang
 Monitor tanda-tanda
 Usia yang ekstrim berhubungan atau outcome
vital
 Kelembaban kulit menengah

 Obat-obatan  Posisi tubuh

Internal : berinisiatif sendiri

 Perubahan status  Pemulihan luka

metabolik bakar

 Tulang menonjol  Status sirkulasi

 Defisit imunologi  Keseimbangan

 Faktor yang cairan

berhubungan dengan  Keparahan cairan

perkembangan berlebih

 Perubahan sensasi  Konsekuensi

 Perubahan status imobilitas fisiologis

nutrisi (obesitas,  Respon pengobatan

kekurusan)  Status neurologi


 Perubahan status perifer

cairan  Status nutrisi


 Perubahan pigmentasi  Perawatan ostomi
sendiri
 Perubahan sirkulasi  Penuaan fisik
 Perubahan turgor  Kontrol resiko
(elastisitas kulit) hipertermia
 Kontrol risiko
hipotermia
 Kontrol risiko
terpapar matahari
 Perawatan diri
mandi
 Perawatan diri
kebersiahan
 Fungsi sensori taktil
 Termoregulasi
 Termoregulasi bayi
baru lahir
 Perfusi jaringan
 Perfusi jaringan
selular
 Perfusi jaringan
perifer
 Berat badan masa
tubuh

4 Ketidakseimbangan Nutrisi : NOC NIC


Kurang dari Kebutuhan Outcome untuk mengukur  Manejemen diare
Tubuh penyelesaian dari diagnosis  Penahapan diet
Definisi : asupan nutrisi tidak : Manajemen gangguan makan
cukup untuk memenuhi  Status nutrisi bayi  Bantuan sumber
kebutuhan metabolic  Status nutrisi keuangan/pendapatan
Batasan Karakteristik :  Status nutrisi: asupan  Manajemen
 Bising usus hiperaktif nutrisi elektrolit/cairan
 Cepat kenyang setelah Outcome tambahan untuk  Manajemen cairan
makan mengukur batasan  Monitor cairan
 Diare karakteristik :  Konseling laktasi
 Gangguan sensasi rasa  Nafsu makan Manajemen nutrisi
 Kelemahan otot  Eliminasi usus  Terapi nutrisi
pengunyah  Keberhasilan  Konseling nutrisi
 Kelemahan otot untuk menyusui: bayi  Monitor nutrisi
menelah  Pemberian makan  Bantuan perawatan
 Berat badan 20% atau melalui cangkir: bayi diri: pemberian makan
lebih di bawah rentang  Tingkat  Dukungan
berat badan ideal ketidaknyamanan pemeliharaan
 Ketidakmampuan  Pengetahuan : diet kehidupan
memakan makanan sehat  Terapi menelan
 Kram abdomen  Status nutrisi:  Monitor tanda-tanda
 Kurang minat pada pengukuran biokimia vital
makanan  Status nutrisi :
 Membrane mukosa energy Bantuan peningkatan berat
pucat  Status nutrisi: asupan badan
 Penurunan berat badan makanan & cairan  Manajemen berat
dengan asupan  Kesehatan mulut badan
makanan adekuat  Tingkat nyeri
 Sariawan rongga  Fungsi sensori : Pilihan intervensi tambahan
mulut pengecapan &  Manejemen saluran
 Tonus otot menurun pembau cerna
Faktor Yang Berhubungan :  Status menelan  Manejemen alat akses
 Faktor biologis  Perfusi jaringan : vena sentral
 Faktor ekonomi perifer  Manajemen kemoterapi
 Gangguan psikososial  Berat badan: massa  Manajemen demensia
 Ketidakmampuan tubuh  Manajemen energi
makan Outcome yang berkaitan  Pemberian makan
 Ketidakmampuan dengan faktor yang dengan tabung enteral
mencerna makanan berhubungan atau outcome  Pemberian makan
 Ketidakmnampuan menengah:  Intubasi
mangabsorbsi nutrient  Perilaku patuh: diet gastrointestinal
 Kurang asupan yang sehat  Manajemen
makanan  Perilaku patuh: diet hiperglikemia
yang disarankan  Manajemen
 Tingkat depresi hipoglikemia
 Kontrol diri  Perawatan bayi
terhadap kelainan  Pemasangan infus
makan  Terapi intravena
 Kelelahan : efek  Intervensi data
yang mengganggu laboratorium
 Fungsi  Manejemen
gastrointestinal pengobatan
 Kepercayaan  Pengaturan tujuan
mengenai kesehatan saling menguntungkan
 Kepercayaan  Phlebotomi: sampel
mengenai kesehatan darah vena
:sumber-sumber  Pengaturan posisi
yang diterima  Manajemen terapi
 Pengetauan : radiasi
manejemen kelainan  Rujukan
makan  Pengajaran: individu
 Pengetahuan:  Pengajaran : peresepan
manejemen penyakit diet
peradangan usus  Pemberian nutrisi total
 Pengetahuan : diet parentral
yang disarankan
 Pengetahuan :
manejemen berat
badan
 Keparahan mual &
muntah
 Perilaku kesehatan
prenatal
 Perawatan diri :
makan
 Status menelan: fase
oral
 Status menelan :
fase faringeal

5 Intoleransi Aktivitas NOC NIC


Definisi : ketidakcukupan Outcome untuk mengukur Terapi Aktivitas :
energy psikologis atau penyelesaian dari diagnosis  Peningkatan mekanika
fisiologis untuk : tubuh
mempertahankan atau  Toleransi terhadap Perawatan jantung :
menyelesaikan aktivitas aktivitas Rehabilitas
kehidupan sehari-hari yang  Daya tahan Manajemen Energi :
harus atau yang ingin  Energi psikomotor  Manajemen lingkungan
dilakukan. Outcome tambahan untuk  Peningkatan latihan :
Batasan Karakteristik : mengukur batasan latihan kekuatan
 Dispnea setelah karakteristik :  Bantuan perawatan diri
beraktivitas  Keefektifan pompa  Peningkatan tidur
 Keletihan jantung  Pengajaran : peresepan
 Ketidaknyamanan  Status jantung paru latihan
setelah beraktivitas  Tingkat Pilihan Intervensi Tambahan :
 Perubahan ketidaknyamanan  Manajemen lingkungan
elektrokardiogram
 Respon frekuensi  Konservasi energy : kenyamanan
jantung abnormal  Kelelahan : efek  Peningkatan latihan
 Respon tekanan darah yang mengganggu  Terapi latihan :
abnormal terhadap  Tingkat kelelahan ambulasi
aktivitas  Istirahat  Terapi latihan :
Faktor yang berhubungan :  Perawatan diri pergerakan sendi
 Gaya hidup kurang  Tanda-tanda vital  Terapi latihan : kontrol
gerak Outcome yang berkaitan otot
 Imobilitas dengan faktor yang  Terapi music
 Ketidakseimbangan berhubungan atau outcome  Terapi oksigen
antara suplai dan menengah :  Manajemen nyeri
kebutuhan oksigen  Ambulasi  Relaksasi otot progresif
 Tirah baring  Ambulasi kursi roda  Fasilitasi kunjungan
 Partisipasi latihan  Manajemen berat badan
 Pergerakan status
nutrisi : energy
 Status kesehatan
pribadi
 Kebugaran fisik
 Status pernafasan
6 Gangguan Citra Tubuh NOC NIC
Definisi : konfusi dalam Outcome untuk mengukur Intervensi Keperawatan yang
gambaran mental tentang diri penyelesaian diagnostik Disarankan untuk
fisik individu  Citra tubuh Menyelesaikan Masalah :
Batasan Karakteristik : Outcome tambahan untuk  Mendengarkan aktif
 Berfokus pada fungsi mengukur batasan  Pengurangan kecemasan
masa lalu karakteristik Peningkatan Citra Tubuh :
 Berfokus pada  Adaptasi terhadap  Peningkatan koping
penampilan masa lalu disabilitas fisik  Konseling
 Gangguan fungsi  Menahan diri dari  Dukungan emosional
tubuh kemarahan  Manajemen nyeri
 Gangguan pandangan  Identitas  Peningkatan kesadaran
tentang tubuh  Keseimbangan gaya diri
seseorang (mis. hidup  Bantuan perwatan diri
penampilan, struktur,  Kesadaran diri Peningkatan Harga Diri
fungsi)  Harga diri  Peningkatan sosialisasi
 Gangguan struktur  Tingkat kecemasan  Dukungan kelompok
tubuh sosial  Peningkatan sistem
 Persepsi yang Outcome yang berkaitan dukungan
merefleksikan dengan faktor yang  Klarifikasi nilai
perubahan pandangan berhubungan atau outcome  Teknik menenangkan
tentang penampilan menengah  Dukungan pengambilan
tubuh seseorang  Pemulihan terhadap keputusan
 Menghindari melihat kekerasan : emosi  Pencegahan bunuh diri
tubuh  Pemulihan terhadap
 Menghindari kekerasan : fisik
menyentuh tubuh  Pemulihan terhadap
 Menolak menerima kekerasan : seksual
perubahan  Status kenyamanan :
 Menyembunyikan psikospiritual
bagian tubuh  Koping
 Perubahan gaya hidup  Kontrol diri terhadap
 Perubahan lingkungan distorsi pikiran
sosial  Keparahan kesepian
 Pengaturan
psikososial :
perubahan kehidupan
7 Ansietas berhubungan dengan NOC - Intervensi keperawatan yang
perubahan status kesehatan Outcome untuk mengukur disarankan untuk
ditandai dengan nyeri perut, penyelesaian dari diagnosis menyelesikan masalah :
sulit berkonsentrasi. - Tingkat kecemasan - - bimbingan antipastif
- Tingkat kecemasan
social Pengurangan Kecemasan
- Teknik menenangkan
Outcome tambahan untuk
mengukur batasan Peninngkatan Koping
karakteristik - Manajemen demensia
- Tingkat agitasi - Manajemen demensia :
- Control kecemasan diri memandikan
- Kontinensi usus - Manajemen demensia ;
- Konsemtrasi keluyuran
- Tingkat rasa takut - Bantuan pemeriksaan
- Tanda-tanda vital - Menghadirkan diri
- Tidur
- Keparahan mual & Terapi Relaksasi
muntah - Pengurangan stress relokasi
- Peningkatan keamanan
Outcome yang berkaitan - Konseling
dengan faktror yang - Dukungan emosional
berhubungan atau outcome - Imajinasi terbimbing
menengah - Monitor tanda tanda vital
- Keparahan infeksi - Hypnosis
- Controlg gejala
- Penerimaan status
kesehatan
- Adaptasi terhadap
disbilitas fisik
- Status kenyamanan :
lingkungan
- Status kenyamanan fisik
- Status kenyamanan :
psikospiritual
- Tingkat stress
- Kesehatan spiritual

8 Resiko Infeksi NOC NIC

Definisi : Rentan Outcome untuk Menilai Kontrol Infeksi :


mengalami invasi dan dan Mengukur Kejadian
multiplikasi organisme Aktual dari Diagnosis  Kontrol infeksi :
Intraoperatif
patogenik yang dapat
 Keparahan infeksi Perlindungan Infeksi :
mengganggu kesehatan.
 Keparahan infeksi :
baru lahir  Manajemen
Faktor Resiko : pengobatan
Outcome yang
 Peresepan obat
 Kurang pengetahuan Berhubungan dengan
untuk menghindari  Manajemen nutrisi
Faktor Resiko
pemajanan pathogen  Terapi nutrisi
 Maltuntrasi  Pengetahuan :  Monitor nutrisi
 Obesitas Manajemen  Identifikasi resiko
 Penyakit kronis penyakit akut  Perawatan luka
(mis. diabetes  Pengethauan : Pilihan Intervensi
militus) Manajemen Tambahan :
 Prosedur invasif penyakit kronik
 Respon pengobatan  Manajemen jalan
 Status nutrisi nafas
 Status nutrisi :  Manajemen
Asupan nutrisi lingkungan
 Kesehatan mulut  Monitor
pernafasan
 Keparahan cedera
fisik  Monitor tanda-
tanda vital
 Status pernafasan :
kepatenan jalan  Perawatan luka :
nafas tidak sembuh
 Status pernafasan :  Irigasi luka
ventilasi
 Kontrol resiko
 Deteksi resiko
 Penyembuhan luka
: primer
 Penyembuhan luka
: sekunder
9 Defisiensi Pengetahuan

4. Implementasi
Pelaksanaan (implementasi) adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data
berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan,
dan menilai data yang baru. (Nikmatur Rohmah, 2009)

5. Evaluasi
Menurut Nursalam (2011) evaluasi keperawatan terdiri dari dua jenis yaitu:
a. Evaluasi formatif
Evaluasi ini disebut juga evaluasi berjalan dimana evaluasi dilakukan sampai dengan
tujuan tercapai.
b. Evaluasi somatif
Merupakan evaluasi akhir dimana dalam metode evaluasi ini menggunakan SOAP.

DAFTAR PUSTAKA

Andrews, G. (2010). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC

American Cancer Society. (2015).Cancer Facts & Figures 2015. Atlanta: American Cancer
Society.

Buckman R, Whittaker T. (2010). Apa Yang Seharusnya Anda Ketahui Tentang Kanker
Payudara. Yogyakarta: Citra Aji Parama

Haryono SJ, Sukasah C, Swantari N, 2011. Payudara. Dalam: Sjamsuhidayat R, De jong WD.
Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke–3. Jakarta: EGC.

Moore KL, Dalley AF, Agus AM. (2009). Anatomi klinis dasar. Edisi ke–5. Jakarta: Erlangga

Newton, S., Hickey, M., & Marrs, J. (2009). Mosby’s oncology nursing advisor: A
comprehensive guide to clinical practice. Missouri: Mosby Elsevier

Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Rohmah, N. (2009). Pendekatan Pencatatan dan Dokumentasi Keperawatan dengan Asuhan


Keperawatan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Sabiston, David C, 2011. Buku ajar bedah. Jakarta: EGC

Shadine, Mahannad. (2012). Penyakit Wanita. Yogyakarta: Citra Pustaka.


Soemitro, P.Monty & Aksan, Hermawan. (2012). Blak-blakan Kanker Payudara : Temukan
Sedini Mungkin. Bandung : Qanita

Soetrisno E, 2010. Payudara. Dalam: Nasar IM, Himawan S, Marwoto W. Buku ajar patologi
II. Edisi ke–1. Jakarta: Sagung Seto.

Suyatno, Pasaribu E.T. (2014) . Kanker Payudara Dalam : Bedah Onkologi Diagnosis dan
Terapi Edisi 2. Jakarta : Sagung Seto

Pamungkas, Z. (2011). Deteksi Dini Kanker Payudara Ed. 1. Yogyakarta : Buku Biru,

Tim CancerHelps. (2010). Stop Kanker. Jakarta : PT AgroMedia Pustaka.